Semarang, CNN Indonesia -- Sebanyak 30 orang eks narapidana kasus terorisme di Jawa Tengah menyatakan diri siap berdakwah di sejumlah tempat selama masa Ramadan 1442 H.
Lewat dakwah, mereka yang tergabung dalam Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani) akan meluruskan pemahaman jihad yang sesuai dengan akidah agama yang sebenarnya, dan bukanlah jihad sesat dengan melakukan serangan bom yang memakan korban banyak.
"Kami di sini membuka diri, lewat Ramadan kami siap berdakwah melawan terorisme dan radikalisme. Pemahaman agama yang salah harus diluruskan, terlebih pemahaman jihad yang sesat dengan main bom atau senjata api", ungkap Ketua Yayasan Persadani Machmudi Hariono alias Yusuf di Semarang, Senin (12/4).
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol. Irwan Anwar mengaku akan memberikan ruang untuk berbagi kisah dan diskusi secara berkelanjutan bagi para eks napiter tersebut.
"Kita langsung respons, akan kita bawa rekan-rekan eks napiter ke Masjid, Mushola dan Pesantren. Jadi benar-benar dakwah yang menyejukkan, bukan yang memprovokasi untuk melakukan terorisme dan radikalisme," kata dia.
Senada, Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan Polrestabes Semarang AKBP Danang Kuswoyo mengaku akan membukan forum diskusi terkait gagasan ini.
"Nanti kita buatkan forum atau ruang diskusi. Kami terima kasih sekali dengan rekan-rekan Persadani", ujar dia.
Persadani sendiri beranggotakan 70 orang eks napiter yang pernah terafiliasi ke beberapa kelompok seperti Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) maupun kelompok Aceh.
(dmr/arh)