Eks Anggota UNIFIL Yakin Israel Sengaja Serang Prajurit TNI di Lebanon

Rabu, 01 April 2026 18:04
(0 pemilihan)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Mantan anggota Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) tahun 2010-2011, Serma (Purn) Muhtar Efendi, berpendapat serangan Israel terhadap prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL, merupakan kesengajaan.

Sebagai informasi, tiga prajurit TNI yang menjadi anggota pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon gugur pada akhir Maret lalu setelah Israel menggencarkan serangan ke negara tetangganya itu. Muhtar meyakini Israel bukan salah sasaran atau tidak sengaja menembak prajurit TNI.

“Jadi kalau dibilang bahwa Israel tidak sengaja atau salah sasaran, salah besar kalau menurut saya. Penilaian kita salah besar terhadap hal itu. Jelas ini sengaja kok,” kata dia dalam dialog Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Rabu (1/4/2026).

Dia mengatakan serangan Israel terhadap prajurit TNI yang menjadi anggota pasukan penjaga perdamaian di Lebanon, sudah terjadi tiga kali sejak 2009. Dia menyebut Israel tidak menghormati keberadaan pasukan penjaga perdamaian PBB. 

“Karena, mohon izin, Israel melakukan tindakan seperti ini bukan sekali ini saja. Ini kalau saya tidak lupa, ini yang ketiga kali. (Tahun) 2009 sebelum waktu itu saya berdinas aktif di Lebanon, Israel juga pernah menembaki tentara kita,” lanjutnya.

Saat itu, kata Muhtar, tentara Israel menembaki prajurit TNI hanya gara-gara salah menghadap. “Itu hanya gara-gara pada saat itu ada letupan kecil, kemudian mungkin karena tergesa-gesa sehingga anggota TNI ini kontingen dari kita ini salah menghadap,” tuturnya.

Sebagai ‘wasit’ perang, kata dia, pasukan penjaga perdamaian PBB harus menghadap ke arah yang netral, yakni tidak ke Lebanon dan tidak ke Israel.

“Pada saat itu, karena tergesa-gesa yang tadi saya sampaikan itu, anggota kita menghadap ke Israel, padahal yang dikibarkan adalah bendera PBB,” tambahnya.

“Definisi daripada posisi seperti itu seolah-olah kita membela tentara Lebanon atau warga Lebanon, maka kita ditembaki oleh Israel. Itulah yang terjadi kalau kita menjadi wasit perang,” lanjutnya. Pada 2024, kata dia, pasukan Israel juga menembaki markas pasukan penjaga perdamaian dari Indonesia.

“Namun yang terjadi kalau tidak salah tahun 2024 pada saat itu markas kita yang sama di Aadsyid al-Qusayr itu juga ditembak oleh Israel. Kalau tidak salah, waktu itu menggunakan pansernya Israel atau apalah, yang jelas kita pernah ditembak,” kata dia.

Saat itu, lanjut dia, dua prajurit TNI terluka. Serangan ketiga terjadi pada 29 Maret lalu, yang mengakibatkan satu prajurit TNI gugur.

Muhtar menilai personel pasukan penjaga perdamaian di Lebanon memang menjadi sasaran Israel. Karena itu, PBB harus menekan Israel.

“Israel juga harus menghormati eksistensi, karena PBB itu dibentuk oleh seluruh negara yang ada di dunia ini. Tidak saja oleh negara Lebanon, negara-negara yang anti dengan Israel,” tegasnya.

Israel Operasikan Drone

Ia menambahkan, Israel sangat sering mengoperasikan drone ke wilayah Lebanon meski dilarang PBB. “Kedua negara ini (Israel dan Lebanon) harus menghormati apa yang ditetapkan oleh PBB, oleh UNIFIL. Bahwa dua-duanya ini tidak boleh melakukan aktivitas yang satu sama lain memancing untuk terjadinya perang,” ungkapnya.

“Tetapi pada kenyataannya, Israel ini sering menerbangkan drone. Waktu kami di sana pun, 2010-2011, itu banyak sekali aktivitas drone,” tegasnya.

Ia menduga drone yang diterbangkan berfungsi untuk memantau aktivitas masyarakat Lebanon dan melakukan mapping atau pemetaan serta plotting koordinat pasukan UNIFIL.

“Saya meyakini bahwa drone ini juga mapping. Melakukan mapping dan plotting koordinat atau titik-titik di mana pasukan-pasukan UNIFIL itu ditempatkan,” tuturnya.

“Salah satu di antaranya adalah mapping dan plotting terhadap kontingen yang berasal dari Indonesia. Jadi kalau dibilang salah sasaran, salah tembak, itu nol besar kalau menurut saya,” ucapnya menegaskan.

Sebab, kata dia, posisi UNIFIL di Aasyid Al-Qusayr pasti sudah diketahui Israel dan sudah dua kali mereka menyerang lokasi tersebut.

3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Diberitakan KompasTV, jumlah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di bawah UNIFIL, bertambah menjadi tiga orang pada Senin (30/3/2026).

Menurut PBB, seorang prajurit TNI gugur dalam serangan artileri ke pangkalan UNIFIL di Ett Taibe, Lebanon selatan pada Minggu (29/3/2026). Satu penjaga perdamaian lainnya kritis. Prajurit TNI yang gugur tersebut bernama Praka Farizal Rhomadhon. Sehari kemudian, Senin, dua personel TNI lainnya gugur saat konvoi UNIFIL diserang.

"Pagi ini, dua penjaga perdamaian dari Indonesia gugur dalam sebuah ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL, menghancurkan kendaraan mereka, di dekat Bani Hayyan di Sektor Timur. Dua penjaga perdamaian lainnya terluka, salah satunya serius," kata Wakil Sekjen PBB untuk Operasi Perdamaian Jean Pierre Lacroix di New York, Senin waktu setempat, dikutip dari siaran pers PBB.

Dia mengatakan sumber ledakan belum dapat dipastikan. Sementara dilansir Times of Israel, militer Israel mengaku sedang menyelidiki insiden pada Minggu yang membunuh satu anggota TNI.

Serangan terhadap personel UNIFIL terjadi di tengah operasi militer Israel ke Lebanon selatan.

Israel telah menyerang Lebanon selama berbulan-bulan dan semakin mengintensifkan gempurannya sejak kelompok paramiliter Hizbullah menembakkan roket ke wilayahnya sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari.

Israel dilaporkan meluncurkan pengeboman intensif dan serangan darat ke selatan Lebanon sejak awal Maret. Otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 1.200 orang terbunuh akibat serangan Israel sejak awal Maret.

 

Sumber: https://www.kompas.tv/nasional/660206/eks-anggota-unifil-yakin-israel-sengaja-serang-prajurit-tni-di-lebanon?page=all

 

Baca 28 kali Terakhir diubah pada Rabu, 01 April 2026 18:15
Bagikan: