Jakarta, CNN Indonesia -- Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf mengaku siap maju sebagai kandidat calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Muktamar Lampung yang rencananya digelar pada Desember 2021 mendatang.

"Iya betul [maju sebagai Caketum PBNU]," kata Yahya kepada CNNIndonesia.com, Senin (11/10). Yahya bercerita sudah menemui Ketum PBNU Said Aqil Siraj untuk meminta restu dan mengutarakan niatnya untuk maju sebagai Caketum PBNU.

Said, kata Yahya, merespons positif dan mempersilakan Yahya untuk mewujudkan keinginannya tersebut. "Saya sampaikan [ke Said] 'saya mohon restu saya maju sebagai calon ketua umum'. Beliau persilakan "monggo-monggo", iya mempersilakan," kata Yahya.

Yahya lantas menjelaskan bila nanti terpilih, dirinya menawarkan gagasan konsolidasi nasional NU dari tingkat PBNU, PWNU hingga PCNU. Gagasan itu ia bentuk karena melihat selama ini PBNU, PWNU dan PCNU kerap berjalan masing-masing dengan gagasannya sendiri-sendiri.

Dengan konsolidasi, Yahya yakin bisa memperkokoh kepengurusan NU di tingkat pusat hingga cabang. "Dan rupanya ini [gagasan] mudah ditangkap oleh PCNU. Nah saya juga sudah berkomunikasi dengan berbagai pihak yang kita harapkan jadi semacam akselerator atau pihak yang membantu, meski bukan dari NU, tapi mau bekerja sama dengan NU," kata dia.

Tak hanya itu, Yahya juga memiliki gagasan melakukan aktivasi kegiatan ekonomi PCNU yang tersebar lebih dari 500 wilayah di Indonesia. Baginya, PCNU memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi umat Islam saat ini.

"Kalau kita bicara soal cabang-cabang kita punya 500-an lebih cabang. Itu outlet ekonomi, semua orang bisa pakai, pemerintah bisa pakai untuk salurkan agenda-agenda, misalnya investasi, bisa dilakukan memanfaatkan ini. Jadi kita ingin aktivasi cabang-cabang agar bergerak untuk menjalankan agenda-agenda itu," ucapnya.

Muktamar NU ke-34 dihelat pada 23-25 Desember mendatang. Sejumlah nama menyeruak dalam bursa calon ketua umum PBNU. Survei Indostrategic baru-baru ini memunculkan nama KH Marzuki Mustamar sebagai tokoh dengan elektabilitas tertinggi.

Marzuki adalah Ketua PWNU Jawa Timur. Posisi kedua dalam survei Indostrategic ditempati KH Hasan Mutawakkil Alallah dengan elektabilitas 22,2 persen, ditempel KH Said Aqil Siradj 14,8 persen yang juga incumbent Ketum PBNU saat ini.

Selain itu ada nama tokoh muda Bahaudin Nursalim alias Gus Baha. Yahya tak menampik jika pengurus NU di level wilayah dan cabang banyak yang berkeinginan untuk melakukan regenerasi kepemimpinan di tubuh PBNU.

Terlebih lagi, saat ini banyak tokoh-tokoh NU juga diisi oleh banyak kalangan muda. Yahya juga mengatakan kerap menulis dan berbicara di publik soal ide dan gagasannya mengenai NU ke depan.

Ia sendiri tak menyangka bahwa gagasan tersebut disambut positif oleh para pengurus daerah NU saat ini. "Sehingga aspirasi untuk menempatkan mereka dalam kepemimpinan kuat sekali. Yang sangat kuat aspirasinya dan banyak memang soal regenerasi," kata dia.

"Dan ini cepat sekali. Saya terkejut kenapa secepat ini. Saya menyatakan secara eksplisit ke publik awal September," tambahnya.

(rzr/wis)

Diterbitkan di Berita

Lisye Sri Rahayu - detikNews Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta polisi mewaspadai gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang diduga melakukan pembaiatan terhadap puluhan warga Garut, Jawa Barat (Jabar). PBNU menilai gerakan NII itu akan menimbulkan propaganda politik.

"Bagi penegak hukum untuk mewaspadai gerakan-gerakan semacam ini yang bisa menimbulkan kerawanan politik dan propaganda yang bisa mengakibatkan memudarkan persatuan dan kesatuan," kata Ketua PBNU, Marsudi Syuhud kepada wartawan, Rabu (6/10/2021) malam.

Marsudi mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan. Hal itu telah disepakati oleh para pendiri bangsa.

"Kita bangsa Indonesia telah sepakat untuk mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Adapun jika masih ada sekelompok orang yang masih menginginkan bentuk lain seperti NII, DI, Khilafah atau lainnya itu baru merupakan fikrah atau ide," kata dia.

Marsudi mengatakan aktivitas pembaiatan yang dilakukan oleh Negara Islam Indonesia itu melanggar hukum. Baik hukum negara maupun hukum agama.

"Jika ada orang yang masih menginginkan bentuk lain kemudian melakukan aktivitas pembaiatan untuk menanamkan keyakinan agar tidak mengakui NKRI ini maka itu akan berimplikasi hukum, baik itu hukum positif atau hukum (bughot) dalam hukum agama Islam," jelas dia.

Kepada masyarakat, Marsudi mengimbau agar tak tertarik dengan ajakan Negara Islam Indonesia itu. Dia mengatakan ajakan itu dapat menimbulkan perpecahan.

"Dengan demikian saya menghimbau kepada masyarakat untuk tidak terpancing dan ikut-ikutan pada ajakan ajakan orang yang bisa menimbulkan perpecahan," tuturnya.

Marsudi juga mengimbau umat Islam itu menjaga negara. Sebab, menjaga negara, lanjut Marsudi, adalah salah satu keharusan dalam tujuan syariah Islam.

"Bagi umat Islam yang penting harus tetap menjaga negara yang kita sepakat ini, karena Al khifdzu 'alal authony minal maqaashidi adhorury littasyri'i, bahwa menjaga negara adalah salah satu keharusan tujuan syariah," katanya.

Warga di Garut Dibaiat NII

Lurah Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, Suherman mengungkapkan soal pembaiatan NII itu. Berdasarkan pengakuan sejumlah anak yang mengaku dibaiat, salah satu doktrin yang diberikan adalah menganggap pemerintah RI thogut.

"Ajarannya yang diterima ya.... menganggap negara ini thogut," ujar Suherman kepada wartawan, Rabu (6/10). Suherman menjelaskan, informasi mengenai puluhan warga dibaiat masuk NII ini terungkap setelah adanya pengakuan salah seorang anak kepada orang tuanya.

Remaja lelaki itu mengaku telah dibaiat dan disyahadatkan kembali oleh seseorang. Setelah mendapatkan informasi tersebut, pihaknya kata Suherman, langsung melakukan pendataan. Hasilnya, diketahui ada 59 orang yang didominasi remaja mengaku dibaiat masuk NII.

"Ada 59 kalau didata. Ada orang tua, ada anak-anak," katanya.

(lir/dwia)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diusulkan untuk memperkuat ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di ranah publik. Termasuk di wilayah lembaga kenegaraan dan pemerintahan pusat maupun daerah serta di instansi-instansi strategis lainnya.

Hal itu disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jawa Timur M. Mas'ud Said dalam forum rapat Komisi Program Kerja Munas dan Kombes Nahdlatul Ulama di Jakarta, Sabtu, 25 November 2021.

Tokoh yang juga telah menyumbangkan pemikiran Peta Jalan NU Menuju Abad Kedua itu lantas mengingatkan agar proliferasi atau pengembangan ideologi yang dianggap sebagai salah satu penangkal radikalisme dan pemahaman Islam yang lebih damai dan sejuk itu ditopang dengan kodifikasi ajaran melalui penulisan buku Aswaja yang dapat dipelajari di kalangan umum dan sebagai bahan pendidikan keagamaan di masyarakat umum.

"Jadi, pada saat NU sudah memasuki abad kedua usianya, Aswaja yang mengajarkan Islam Wasathiyah dan akhlak keberagamaan yang pas dalam konteks bernegara dan berpemerintahan sudah harus bisa menjadi bagian kurikulum pendidikan kenegaraan dan keagamaan dengan memodernisasi lembaga lembaga pendidikannya," katanya dalam acara yang dibuka oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin dan diikuti oleh pengurus besar, pengurus wilayah NU, pimpinan Banom dan lembaga underbow NU, alim ulama dan cendekiawan kampus termasuk Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Mas'ud Said juga menekankan pentingnya aplikasi mindset atau cara berfikir Aswaja dan akhlak atau cara bertindak Aswaja bagi pengurus dan aktifis NU di jajaran publik pemerintahan, warga NU di kalangan bisnis - korporasi, kader NU di jajaran pimpinan perdagangan dan industri serta cendekiawan di kampus-kampus.

Mereka harus berperilaku sesuai dengan kaidah sebagaimana diajarkan ulama. "Ke depan PBNU bersama ulama dan cendekiawannya seharusnya bisa memimpin dan menguasai mainstream ideologi kenegaraan dan cara keberagamaan yang wasthiyah, membawa keramahan hubungan antar pemeluk agama yang kuat di kancah internasional, terutama pada saat dunia sudah hampir kehilangan keadilan karena ideologi hubungan antar negaranya dan corak keagamaannya cenderung menimbulkan peperangan antar pemeluk agama," pungkas cendekiawan profesional yang hadir sebagai Dewan Pakar PP ISNU ini di acara yang juga dihadiri beberapa peserta dari Sulawesi Selatan, Kaltara dan pengurus Wilayah luar Jawa .

Munas Alim Ulama dan Kombes di Jakarta selama dua hari itu berlangsung khidmat.

Acara itu dihadiri oleh seluruh komponen strategis PBNU, jajaran pimpinan Syuriah, Ketua PBNU dan pimpinan Banom dan Lembaga NU yang memutuskan rekomendasi penting lima tahun ke depan untuk perjalanan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini .

Serta mempersiapkan Muktamar ke-34 pada Desember 2021 dengan beberapa syarat protokol kesehatan yang ketat dan kerja sama Satgas Covid-19 pusat dan daerah.

(rca)
Diterbitkan di Berita

Jakarta, NU Online Youtuber Muhammad Kece berhasil telah berhasil ditangkap Tim Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Bareskrim Polri) atas kasus dugaan penistaan agama Islam.

Kece ditangkap di Bali, pada Rabu (25/8). Menanggapi penangkapan tersebut, Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), HA Helmy Faishal Zaini menyampaikan apresiasi kepada Bareskrim Polri.

Selanjutnya, Sekjen PBNU mengajak semua pihak untuk menghormati proses hukum yang akan berjalan.

“Kami menyampaikan apresiasi (dan) penghargaan kepada Polri dan Bareskrim. Marilah kita hormati proses hukum yang akan berjalan, juga nanti proses pengadilan yang akan berjalan,” terang Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini kepada NU Online, Rabu sore.  

Helmy juga mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, untuk tetap tenang dan tidak terpancing dengan berbagai provokasi. Selain itu, Helmy menegaskan agar asas keadilan bisa ditegakkan.

“Kepada siapa pun yang melakukan tindakan kriminal, terutama ujaran kebencian, baik dari agama Islam (atau) agama mana pun yang melakukan penodaan ini, kami berharap kepolisian juga melakukan tindakan yang sama.

Untuk itu, marilah kita berhati-hati dalam bermedia sosial, karena kita memiliki peraturan perundang-undangan atau hukum yang berlaku yang harus kita tegakkan,” tegas Helmy.

Kemudian, ia lantas mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa menghidupkan spirit moderasi dalam beragama. Caranya dengan saling menghormati, menjaga kerukunan, dan toleransi antarumat beragama.

“Indonesia adalah contoh terbaik dalam kehidupan kerukunan antarumat beragama. Untuk itu, mari kita sepenuhnya taati dan patuh terhadap hukum perundang-undangan yang berlaku,” pungkas Helmy.

Diketahui sebelumnya Polri telah mendapat keterangan saksi pelapor serta tiga saksi ahli, yaitu ahli bahasa, ahli agama, dan ahli teknologi informasi. Kemudian Penyidik Polri menaikkan status perkara Muhammad Kece ke tahap penyidikan setelah mendapat bukti awal yang cukup.

Polri pun kemudian memburu keberadaan Muhammad Kece, lalu memblokir video konten yang bermuatan SARA dan berpotensi memecah belah kerukunan antarumat beragama.

Kasus ini bermula saat Muhammad Kece melakukan ceramah dengan nada merendahkan dan melecehkan Nabi Muhammad atau agama Islam. Video ceramah itu kemudian viral di media sosial.

Dalam video itu, Muhammad Kece mengubah pengucapan salam. Ia juga mengubah beberapa kalimat dalam ajaran Islam yang menyebut nama Nabi Muhammad.   Dalam videonya, Muhammad Kece sering berpenampilan menggunakan peci hitam.

Video-videonya banyak membahas agama. Video unggahannya selalu ditonton ribuan orang dengan rekor terbanyak 24 ribu penonton. Misalnya, dua video yang menuai kontroversi berjudul ‘Kitab Kuning Membingungkan’ dan ‘Sumber Segala Dusta’.

Di antara ucapan Muhammad Kece yang dipersoalkan, yakni; dia menyebut kitab kuning yang diajarkan di pondok pesantren menyesatkan dan menimbulkan paham radikal. Selain itu, dia juga menyebut ajaran Islam dan Nabi Muhammad tidak benar sehingga harus ditinggalkan.

"Karena memang Muhammad bin Abdullah ini pengikut jin," ujarnya dalam tayangan berjudul 'Kitab Kuning Membingungkan' yang diunggah pada 19 Agustus 2021.  

Pewarta: Aru Lego Triono Editor: Fathoni Ahmad

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj meyakini kemenangan Taliban menguasai Afghanistan dijadikan motivasi dan membangkitkan semangat kelompok radikal di Indonesia.

"Taliban menang ini akan pasti, akan dijadikan motivasi, membangkitkan semangat di [kelompok] radikal Indonesia ini," kata Said dalam webinar 'Langkah Nyata Merajut Kebinekaan NKRI' yang disiarkan di NU Channel, Jumat (20/8) malam.

Meski demikian, Said tak merinci kelompok radikal mana yang ia maksud. Ia mengatakan kelompok radikal di Indonesia pasti memiliki klaim bahwa Tuhan telah membantu Taliban menguasai kembali Afghanistan.

"Mereka pasti bilang 'tuh liat Tuhan telah membela Taliban, sekarang bisa menang, mari kita bangkit, Tuhan akan membela kita'. Pasti akan terjadi seperti itu," ujarnya.

Said mengingatkan Indonesia sangat berbeda jauh dengan kondisi Afghanistan. Menurutnya, berbagai pihak luar negeri bahkan memuji kondisi masyarakat Indonesia.

Menurutnya, mereka memandang masyarakat Indonesia bisa hidup berdampingan satu sama lain meski berbeda suku, ras dan agama.

"Afghanistan itu hanya 7 suku, 100 persen muslim. Tapi 40 tahun kerap dilanda perang saudara. Tapi yang namanya hanya karena politik itu perang sampai 40 tahun," kata Said.

Lebih lanjut, Said pun mengingatkan para pelajar Indonesia yang saat ini tengah menimba ilmu di berbagai belahan dunia. Ia berharap para pelajar tersebut hanya membawa ilmu, bukan budaya di tempat negaranya belajar.

"Saya sempat belajar ke Timur Tengah, Gus Dur juga ke Irak dan Mesir, Alwi Shihab ke Mesir. Tapi kita pulang bawa ilmu. Ilmu agama tafsir, hadis. Tapi tak bawa budaya, tak bawa cara berfikir orang Arab," ujarnya.

"Begitu juga silakan yang kuliah di Eropa, Amerika, pulang bawa teknologi, jangan bawa budaya Eropa atau barat atau AS ke Indonesia," katanya menambahkan.

Said menekankan Indonesia memiliki kebudayaan tersendiri yang khas dan harus dipertahankan. Ia menegaskan budaya yang berasal dari negara lain tak akan cocok untuk Indonesia. "Dan saya yakin [budaya Indonesia] lebih baik dari budaya orang Arab dan Eropa," ujarnya.

Sebelumnya, mantan Anggota Jemaah Islamiyah (JI) Nasir Abbas mengatakan keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan menjadi euforia di kalangan jihadis alias pihak yang terkait kelompok teror berbasis agama.

Nasir menyebut para 'jihadis' merasa memiliki misi dan perjuangan yang sama, yakni mendirikan negara berdasarkan agama Islam. Nasir menyebut ada kebanggaan dari JI, Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) atas keberhasilan Taliban.

"Akibat Taliban mendapatkan kemenangan, di sini jelas terjadi euforia di kalangan para jihadis," kata Nasir dalam webinar Kemenangan Taliban di Afghanistan dan Implikasinya yang digelar Lakpesdam PBNU, Kamis (19/8).
(rzr/fra)

Diterbitkan di Berita

Inisiatifnews.com – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD kembali safari dialog virtual dengan berbagai elemen. Hari ini, Sabtu (31/7), Menko Polhukam berbincang membahas penanganan pandemi Covid-19 dengan alim ulama, pengasuh pondok pesantren, pimpinan ormas lintas agama, dan Forkopimda se-Jawa Tengah (Jateng).

Hadir dalam dialog virtual ini jajaran dari BNPB, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Kakanwil Kemenag Jateng, dan puluhan perwakilan ormas keagamaan di Jateng.

Mahfud MD lebih banyak mendengar masukan dan saran dari berbagai tokoh agama dan masyarakat dalam dialog ini.

Masukan muncul beragam, mulai soal vaksinasi Covid-19, penyaluran bantuan sosial (Bansos), masyarakat yang masih abai protokol kesehatan, hingga hoaks yang beredar di media sosial yang makin menyusahkan penanganan Covid-19.

Perwakilan Pengurus Fatayat Jepara, Nanik misalnya, dia mengeluhkan, penyaluran bantuan sosial yang rumit. Tetutama bagi masyarakat yang sudah sepuh dan di pelosok desa yang susah sekali dapat bansos karena administrasi.

“Apakah tertib administratifnya agar dihilangkan dulu. Supaya terakses sampai ke bawah. Apalagi yang di desa, di pelosok. Selain itu, hoaks di media sosial ini meresahkan. Menghancurkan pekerjaan kita semua di lapangan,” kata Nanik.

Serupa, perwakilan PWNU Jateng Musahadi mengingatkan, pandemi ini akan lebih mudah jika ditangani bersama. Masalahnya, musuh saat pandemi tak hanya Covid-19. Tetapi juga kelompok masyarakat yang tidak percaya Corona, dan menebarkan ketidakpercayaannya kepada publik.

“Kita medan pertempurannya dan perang wacananya di media sosial. Hoaks soal Corona ini amat berpengaruh terhadap cara pikir masyarakat, apalagi di desa yang jauh dari sumber informasi. Pemerintah saya kira kurang perhatian dengan hoaks, provokasi di media sosial yang amat merusak ini,” kata dia.

Dikatakannya, masyarakat yang diprovokasi biasanya kelompok yang kurang beruntung saat PPKM berlangsung. Karenanya, harus ada pendekatan budaya kepada kelompok masyarakat ini. Jangan melulu memakai pendekatan hukum. Pendekatan personal perlu kepada orang yang kena pengaruh hoaks.

“Soal Bansos, problem formal yang bikin tidak tersalurkan harus diurai. Ajak tokoh masyarakat dan agama menyalurkan. Agar ada trust. Agar administrasi tetap bisa dilakukan tanpa melanggar,” saran dia.

Mursidi perwakilan dari FKUB Wonogiri mengamini, hoaks di medsos berhasil mematahkan kampanye pemerintah. “Tolong ini diberantas. Kita mati-matian sebarkan info yang benar, sirna karena informasi hoaks di medsos. Surat edaran tidak sampai ke bawah.

Seperti prokes tempat ibadah, masih massif yang melanggar karena hoaks ini,” keluhnya. Sedangkan dari PC Muslimmat NU Sukoharjo Hafidah ingih Pemda merangkul tempat ibadah yang gencar meng-counter instruksi pemerintah.

“Di wilayah saya ada, sangat meresahkan. Ini perlu dikoordinasikan dengan pemerintah daerah. Rangkul mereka, yang enggan prokes di masjid, di pengajiannya, dengan pendekatan yang pas. Turun langsung atasi ini. Kalau yang bilang kami, ada sekat. Kalau aparat, pasti bisa deh,” yakinnya.

Sementara perwakilan ormas lainnya mengungkapkan, telah membantu Pemda dalam penanganan Covid-19. Seperti Tri Wahono dari Parisada Hindu Dharma Indonesia Jateng.

Dia menyatakan, Pura di Jateng sudah ditutup. Kegiatan doa bersama dilakukan di rumah masing-masing. Romo Parso Subroto dari Gereja Salatiga, juga turut melayani vaksinasi untuk warga.

Sementara PW Muhammadiyah juga telah mengerahkan Covid-19 Command Centre dan jajarannya untuk membantu masyarakat.

Sedangkan Moh Jazuli dari Pesantren Pancasila Sakti Klaten, ingin kerja kolosal dilakukan kongkret dengan melibatkan berbagai komunitas secara maksimal dan konsisten. Akses informasi dan koordinasi juga mestinya dipermudah.

Menanggapi berbagai keluhan dan masukan ini, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta warganya melapor jika ada individu atau kelompok masyarakat yang menyebarkan hoaks atau mengajak melanggar aturan. Namun, Ganjar juga meminta dukungan saat dia bertindak tegas.

“Saya online tetus. Saya akan ambil tindakan tegas. Saya ingatkan yang di Sukoharjo, ayo ditutup. Laporkan ke saya. Bapak Ibu, kalau ada tindakan tegas, saya minta dukungan. Saya sudah mendekati satu persatu ulama yang provokatif. Saya telfon ulama yang lagi ngaji untuk stop. Saya ambil risiko loh. Bisa digoreng secara agama,” kata Ganjar.

Dia pun mengingatkan, pandemi ini bisa kelar jika ada kerja bersama seluruh elemen.

“Bangun kelompok dan komunitas. Sepeti Covid Ranger di Rembang, mereka punya data dan bantuin orang yang lagi isoman. Ada komunitas yang khusus beli produk UMKM. Daripada demo di jalanan, mending bantu UMKM. Kalau nunggu pemerintah, nggak akan bisa. Harus bareng-bareng,” ucapnya.

Selain itu, pejabat juga harus memberi contoh. Pemprov Jateng telah mencontohkan memproses para pejabat melanggar prokes dan aturan hingga pengadilan. Soal bansos, kata Ganjar, peran Baznaz dan CSR diperlukan di luar bantuan resmi pemerintah pusat dan daerah.

Sedangkan Menko Polhukam Mahfud MD mengingatkan pentingnya kolaborasi dan kerja kolektif berdasarkan kesadaran bersama. Tidak hanya mengandalkan pemerintah, tidak juga mengandalkan ormas keagamaan, dan berbagai kekuatan masyarakat yang dibiarkan bekerja sendiri.

“Kita perlu dukungan dan perantara alim ulama, pengasuh ponpes, pimpinan agama, untuk mendukung peningkatan implementasi kesehatan dan percepatan vaksinasi pada masyarakat. Mari kolaborasinya diperkuat,” ajaknya.

Soal hoaks di media sosial, Mahfud menyatakan, aparat akan tegas namun tetap berhati-hati.

“Kita sudah punya UU ITE. Tapi memang dilema, kalau dilaporkan, nanti dibilang antidemokrasi. Sehingga lalu Presiden mengatakan, jangan sembarang menindak di medsos saat menggunakan pasal UU ITE. Harus selektif, jangan sampai orang nggak salah jadi korban. Selain itu, kita kedepankan restorative justice dan humanis,” terangnya. (INI)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU
Dalam rangka mewujudkan daya saing santri dalam bidang teknologi, RMI PBNU sebagai Lembaga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang menaungi pesantren NU bekerjasama dengan Amazon Web Service (AWS).

AWS merupakan layanan berbasis Cloud Computing yang disediakan oleh Perusahaan Amazon.com. Kerjasama ini berbentuk pelatihan bagi 20 pesantren terpilih dan telah dilatih langsung oleh para ahli dari AWS.

“Program Laptop for Builders kerjasama Amazon Web Services dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah ini akan membekali para santri tentang keterampilan-keterampilan baru yang dibutuhkan pada saat ini, seperti cloud computing dan complex problem solving skil,” ujar Program Manager Laptop for Builders RMI PBNU Hatim Gazali, kepada wartawan, Minggu (11/7/2021).

Ketua RMI PBNU KH. Abdul Ghaffar Rozin alias Gus Rozin mengungkap program ini telah berjalan sejak bulan Desember 2020 dan diikuti total 100 santri yakni 20 Master Trainer dan 4 Teachers dari masing-masing 20 pesantren peserta.

Para santri peserta dari program ini difasilitasi masing-masing 1 laptop sebagai media belajar. Laptop yang diserahkan ke peserta merupakan program Laptop For Builders dari AWS.

Gus Rozin juga mengatakan santri yang mengikuti program pelatihan ini telah mengenal dasar-dasar dari teknologi cloud computing, pembuatan website, database, publikasi ilmu-ilmu agama dan kajian melalui website serta dikembangkan dengan pembuatan start up terutama yang berkaitan dengan dunia kepesantrenan.

“Untuk menghadapi berbagai tantangan pesantren harus melakukan adaptasi dan mengambil berbagai inovasi dalam pengembangan teknologi,” kata Gus Rozin dalam sambutan Kick Kompetisi Santri 4.0.

Sementara itu, Gunawan Santoso selaku Country Manager AWS Indonesia mengatakan pihaknya dan RMI akan mengadakan Kompetisi Santri 4.0 dengan tema ‘Dari Santri untuk Pesantren dan Umat Islam’.

Melalui kompetisi ini, kata Gunawan, para santri akan membuat proposal proyek untuk pengembangan pesantren dan umat Islam melalui pemanfaatan teknologi pada Amazon Web Service.

Harapannya dari kompetisi ini santri dapat membuat aplikasi atau sistem yang nantinya berguna bagi dunia Pesantren dan Umat Islam.

“Dengan besarnya potensi santri yang ada, kami harapkan akan muncul lebih banyak lagi jagoan teknologi, digital dan cloud dari Pondok Pesantren. Dan kerjasama strategis dengan RMI yang menaungi lebih dari 23.000 pondok pesantren memungkinkan kita dapat berkontribusi untuk menciptakan talenta masa depan,” kata Gunawan Susanto.

Adapun Kick off Kompetisi ini akan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 11 Juli 2021 pukul 12.30 melalui Zoom Meeting. Acara ini dihadiri oleh KH. Abdul Ghaffar Rozin selaku Ketua RMI PBNU dan Bapak Gunawan Santoso selaku Country Manager AWS Indonesia dan diikuti oleh seluruh Master Trainers, Teachers dan terbuka untuk santri umum. (red)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shun mengharapkan, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Said Aqil Siroj dan tokoh-tokoh NU lainnya untuk berkunjung ke Palestina. Ia juga berharap agar ada kunjungan dari Palestina ke Jakarta.

Hal itu disampaikan saat hadir di sela-sela Dialog Eksklusif antara Kiai Said dengan Penasihat Presiden Palestina Bidang Agama dan Hubungan Islam Mahmoud Habbash, yang ditayangkan secara langsung melalui TVNU, pada Kamis (20/5).

Menurutnya, pertemuan antara pemerintah Palestina dengan PBNU tersebut merupakan langkah strategis untuk membangun kesepahaman sebagai wujud harakah insaniyah (gerakan kemanusiaan).

“Kami berharap agar para tokoh-tokoh NU, khususnya Kiai Said, bisa berkunjung ke Palestina dan juga kunjungan dari Palestina ke Jakarta. Pertemuan ini adalah langkah-langkah yang strategis untuk membangun kesepahaman serta kerja sama anak bangsa dan dunia, sebagai kegiatan harakah insaniyah,” kata Zuhair.

Ia mengucapkan banyak terimakasih atas kepedulian yang dilakukan masyarakat Indonesia, terutama PBNU, terhadap perjuangan kemerdekaan bagi bangsa Palestina. Zuhair pun mengabarkan kepada Mahmoud Habbash bahwa bangsa Indonesia sangat cinta pada perjuangan Palestina.

“Saya menginformasikan kepada Mahmoud Habbash bahwa masyarakat Indonesia sangat cinta kepada perjuangan Palestina. Inilah wajah Indonesia yang sangat mulia untuk memberikan dukungan moral kepada Palestina,” ucap Zuhair.

Sementara itu, Kiai Said Aqil Siroj menyampaikan bahwa saat ini Nahdliyin bersama masyarakat Muslim Indonesia akan terus memberikan doa dan bantuan terbaik kepada masyarakat Palestina. Ia lantas meminta Mahmoud Habbash untuk terus menjalin komunikasi intens antara Palestina dan NU.

“Kami meminta agar ada komunikasi yang sangat intens antara Palestina dan NU. Insyaallah kemerdekaan Palestina akan digapai dalam waktu dekat,” harap Kiai Said.

Disampaikan pula bahwa sikap NU terhadap Palestina, sejak dulu hingga saat ini, tidak pernah berubah. Kepada Mahmoud, Kiai Said menyatakan bahwa pada Muktamar NU di Menes, Banten, pada 1938 silam, NU sudah menyatakan sikap untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

“Ketika itu, Pendiri NU Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari telah mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan Nahdliyin untuk memanjatkan doa, Qunut Nazilah, dan memberikan bantuan kepada Palestina yang sedang mengalami persoalan,” terang Profesor Ilmu Tasawuf dari Universitas Umm Al-Qura, Makkah itu. (fqh)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyayangkan kejadian pengusiran terhadap seseorang yang sedang melaksanakan sholat dan i’tikaf di sebuah masjid di Bekasi oleh beberapa pemuda dengan alasan yang bersangkutan menggunakan masker.

Terlebih pengusiran itu didasarkan dengan menggunakan ayat suci Al Qur’an.

“Perlu kami tegaskan bahwa pengggunaan masker (adalah) bukan tindakan kriminal dan menggunakan masker bukan sesuatu yang membatalkan sholat ataupun membatalkan peribadatan,” kata Sekretaris Jenderal PBNU Gus Helmy Faishal Zaini dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (5/3).

Bahkan di Masjidil Haram, Kebijakan dari dua masjid suci Makkah al Mukarramah dan Madinah al Munawwarah, jama’ah diharuskan menggunakan masker dalam peribadatan. Justru yang berbahaya, kata Gus Helmy, mereka yang mengatasnamakan agama, tetapi justru merusak agama.

“Mohon maaf contohnya adalah menggunakan ayat bahwa barang siapa yang masuk ke baitullah akan dijaga keamanan dan keselamatannya, ayat ini benar tapi kita tidak kemudian meletakkannya secara keliru,” ujar Gus Helmy

“Bahwa dalam keadaan pandemi situasi wabah, penggunaan masker ataupun menjaga protokol kesehatan itu bagian dari hifzun nafs yaitu menjaga keselamatan jiwa,” tambahnya.

Kiai Muda kelahiran Cirebon ini mengungkapkan bahwa hifzun nafs dianjurkan dalam beragama. Maka untuk itu mari saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang baik dan jika ada perbedaan, maka selesaikan dengan cara yang baik.

“Saya mendengar para pemuda itu sudah meminta maaf, mari kita maafkan. Mudah mudahan jadi pelajaran kita semua. Dakwah Islam harus dijalankan dengan cara yang ramah, bukan marah.

Mari kita saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang baik, sehingga kita mendapatkan hikmah yang baik,” pesannya.

Kronologis
Beredar video seorang jemaah salat menggunakan masker di dalam masjid justru diusir oleh takmir masjid. Dari informasi yang dihimpun, insiden tersebut terjadi di Masjid Al Amanah, kawasan perumahan Harapan Indah Bekasi, Jawa Barat.

Dalam video berdurasi 2 menit 20 detik tersebut tampak seorang jemaah pria yang baru saja menyelesaikan salat mengenakan masker itu didatangi oleh beberapa takmir masjid. Mereka memarahi jemaah yang salat di dalam masjid mengenakan masker.

“Jangan pakai masker, ada perbedaan masjid dengan pasar,” kata salah seorang takmir, Ahad (2/5/2021).

Pria yang mengenakan jubah berwarna kuning dengan peci itu mengutip Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 96 yang artinya “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam”.

Sang jemaah tetap bersikeras bahwa mengenakan masker di dalam masjid merupakan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19.

Namun, alasan si jemaah terus dibantah oleh takmir masjid. Mereka menyebut masjid memiliki aturan tersendiri yang berbeda dengan pemerintah. (fqh)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Zulfa Mustofa menyebut penganut paham Salafi dan Wahabi hanya berjarak selangkah dari terorisme.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut banyak pelaku terorisme di Indonesia berpaham Wahabi dan Salafi.

Menurutnya, Salafi dan Wahabi memegang doktrin al-wala wal-bara atau ajaran kawan dan lawan. Konsep itu memiliki keyakinan hanya pemahaman Islam versi mereka saja yang benar, sementara yang lain salah.

“Di sana ada konsep Al-Wala Wal-Bara. Konsep ini memposisikan orang itu dia harus mencintai seseorang yang satu paham, dan memusuhi orang yang tak sepaham,” kata Kiai Zulfa dikutip CNNIndonesia, Jumat (30/4).

Kiai Zulfa menjelaskan doktrin tersebut membuat pengikut Salafi dan Wahabi mudah memusuhi atau mengkafirkan orang lain. Bahkan sesama umat Islam sendiri yang tak sepaham dengan ajaran tersebut bisa dimusuhi.

Tak jarang, Wahabi dan Salafi turut memusuhi orang yang dianggap tak mengerti sunah, seperti tak memelihara jenggot dan memusuhi orang yang dianggap mengerjakan bidah.

Doktrin itu pula, kata Kiai Zulfa yang membuat Wahabi-Salafi dekat atau selangkah lagi menuju terorisme.

“Itu dalam ajaran mereka ini orang pelaku bidah lebih berbahaya dari orang kafir. Itu jelas sudah menanamkan permusuhan dan kebencian,” jelasnya.

“Itu selangkah lagi masuk dalam terorisme. Karena sudah ditanamkan kebencian dan permusuhan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kiai Zulfa mengkategorikan paham Wahabi-Salafi dekat dengan paham kaku dalam memahami teks. Meski demikian, tak jarang dari mereka yang masih memiliki sisi ‘moderat’ dalam beragama. “Tapi umumnya kaku,” kata dia.

Sebelumnya, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid mencatat bahwa kebanyakan teroris yang ditangkap merupakan pemeluk Islam serta memiliki latar belakang paham keagamaan wahabi dan salafi yang jihadis.

Meski begitu, Ahmad menegaskan tak semua pemeluk wahabi dan salafi memiliki ideologi sebagai teroris. Ia menyatakan masih banyak pemeluk wahabi dan salafi yang menjalankan perintah agama sesuai ketentuan yang berlaku dan tak menyimpang.

“Mereka semua, mohon maaf dengan segala hormat, mereka bermahzab salafi wahabi. Yang kita tangkap ini salafi wahabi jihadis, yang jadi kombatan,” kata Ahmad. (red)

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 3