PALU, KOMPAS.TVAli Kalora, pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso bersama rekannya Jaka Ramadhan alias Ikrima tewas dalam kontak tembak dengan Satgas Madago Raya, Sabtu (18/9/2021) pukul 18.00 WITA.

Ada nama Rudy Sufahriadi, polisi berpangkat Irjen yang berada di balik tewasnya Ali Kalora lantaran Sang Jenderal adalah Komandan Satgas Madago Raya yang memimpin operasi perburuan kelompok teroris tersebut.

Belum genap sebulan Rudy Sufahriadi memimpin Satgas Madago Raya, atau tepatnya pada 25 Agustus 2021 seiring posisinya yang juga menjadi Kapolda Sulawesi Tengah.

Diketahui, operasi pengejaran Teroris Poso itu sudah berlangsung berlangsung beberapa tahun terakhir. Sandi operasinya sudah mengalami perubahan nama, mulai dari Operasi Camar Maleo, Operasi Tinombala hingga sekarang bernama Operasi Madago Raya.

Sejumlah jenderal Polri pun sudah bergantian memimpin operasi tersebut.

Siapa Jenderal Rudy Sufahriadi? 

Melansir TribunPalu, Minggu (19/9/2021), Rudy Sufahriadi mencetak sejarah dua kali jabat kapolda di Sulawesi Tengah. Dia sebelumnya meninggalkan Sulteng dengan pangkat bintang satu pada tahun 2018.

Lalu kembali menjabat Kapolda Sulteng di tahun 2021 menggantikan Kapolda Sulteng sebelumnya Irjen Pol Abdul Rahkaman Baso.

Sosoknya tinggi besar dan akrab disapa Rudy Gajah. Dia malang melintang di dunia pemberantasan terorisme. Dia pernah tergabung di Densus 88 Mabes Polri dan di BNPT.

Sulteng pun bukan daerah asing bagi Rudy Sufahriady. Dia sempat jadi Kapolres Poso pada 2005 dan sempat alami penembakan. Kemudian pada 2016-2018 dia jadi Kapolda Sulteng. Dan kini, 2021, dia kembali ke Polda Sulteng.

Ia sempat menjadi Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada 2007. Lalu, ia menjadi Kepala Densus 88 Anti-Teror Polda Metro Jaya pada 2007. 

Rudy kemudian diangkat menjadi Kapolres Metro Jakarta Utara pada 2009. Ia menjadi Perwira Menengah Densus 88 Anti-Teror Polri pada 2010.

Terlibat perburuan kelompok Santoso

Foto anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur ( MIT) pimpinan Ali Kalora. (Sumber: Tribunnews.com)

 

Pada 2016 sampai 2018, dirinya menduduki jabatan sebagai Kapolda Sulawesi Tengah. Bahkan, ikut perburuan kelompok Santoso, yaitu Operasi Tinombala.

Operasi Tinombala ini merupakan operasi gabungan yang terdiri dari sejumlah pasukan elite dari Polri dan TNI. Hingga akhirnya, kelompok Santoso yang sembunyi di hutan belantara kawasan pegunungan di Poso itu bisa dilumpuhkan.

Jejaknya dalam menindak kasus terorisme makin dikenal publik saat menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Tengah. Ia memang sudah mengenal seluk beluk Poso sejak menjadi Kapolres Poso. Saat jadi Kapolres Poso, ia bahkan dikabarkan memang pernah jadi sasaran teroris.

Dia sempat menjadi sasaran tembak saat selesai salat subuh dari masjid. Untungnya ia sigap sehingga bisa lolos dari hantaman peluru yang ditembakkan. 

Kesuksesannya di bidang terorisme pun membawa Rudy Sufahriadi menduduki jabatan strategis sebagai Kepala Korps Brimob Polri pada 2018. 

Tahun berikutnya, ia pun diangkat menjadi asisten operasi Kapolri. Setelah itu Akpol Angkatan 1988 itu menjadi Kapolda Jabar pada 26 April 2019. Hingga akhirnya kembali menjadi Kapolda Sulawesi Tengah medio Agustus 2021 lalu.

Penulis : Gading Persada

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Satgas Madago Raya terus melakukan pengejaran terhadap sisa Daftar Pencarian Orang (MIT) anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.

Terkini, mantan tangan kanan pimpinan MIT Santoso, Basri alias Bagong, alias Ayas, alias Opa, meminta Ali Kalora dkk turun gunung dan menyerahkan diri. Pernyataan Bagong itu beredar video yang beredar pesan berantai di media sosial.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, nama saya Basri alias Ayas alias Bagong alias Opa, Alhamdullilah, saya dalam keadaan baik, baik dan sehat sehat, saya turun untuk menyerahkan diri, untuk mempertanggung jawabkan perbuatan saya,” kata Basri dalam video yang diterima, Jakarta, Rabu (25/8/2021).

Terkait video itu, Wakasatgas Humas Ops Madago Raya AKBP Bronto Budiyono membenarkan beredarnya video napi teroris saudara Basri alias Bagong alias Ayas alias Opa.

“Iya benar, telah beredar video dengan durasi 1,53 menit dari narapidana teroris Poso yaitu saudara Basri alias Bagong alias Ayas alias Opa, isi video tersebut adalah ajakan kepada DPO teroris Poso yang masih ada di gunung untuk segera turun dan menyerahkan diri,” kata Bronto.

Menurut Bronto, Basri adalah salah satu pelaku tindak pidana terorisme di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah yang menyerahkan diri dan diperlakukan sebaik-baiknya oleh Kepolisian. “Semoga ajakan Basri dapat didengar oleh Ali Kalora CS,” ujar Bronto.

Mohammad Basri bin Baco Sampe alias Ayas alias Bagong alias Opa yang merupakan tangan kanan Santoso (pimpinan MIT Poso saat itu), telah terbukti melakukan serangkaian kekerasan, pembunuhan dan tindak terorisme di Poso sehingga Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 19 tahun penjara,

Baru menjalani masa pidana 6 tahun, pada April 2013 Basri sempat kabur dari Lembaga Pemasyarakatan kelas II B Ampana, tetapi kemudian tanggal 14 September 2016 menyerahkan diri kepada Satgas Operasi Tinombala.

Berikut pernyataan Basri alias Bagong:

“Adik-adikku, kakak-kakakku yang saya cintai, saya sayangi, marilah turun dari hutan, marilah kita persoalan ini kita duduk bersama, kita selesaikan bersama, ndak usah lagi begitu mari kita hidup tenang, kita bangun kota Poso bersama. Kalau adik-adikku, kakak-kakakku, saudara-saudaraku yang masih ada di hutan, kalau kalian takut untuk turun menyerahkan diri, saya yang akan bertanggung jawab, sayalah yang akan menjemput kalian. Saya akan jemput kalian, bapak-bapak kita dari Polisi memperlakukan saya baik-baik, melebihi saudara mereka sendiri, sekali lagi marilah kita turun, marilah kita turun, sudah tinggalkan perbuatan kita yang melanggar hukum.

Sekali lagi kita bangun-kita bangun Kota Poso seperti dulu lagi. Saya berdoa kepada Allah SWT, Insyaallah adik-adikku mendapatkan hidayah, kekuatan, bisa turun-turun dari gunung untuk menyerahkan diri, apabila kalian takut, sayalah yang akan menjemput kalian, semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Diterbitkan di Berita

VOA — Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Raden Prabowo Argo Yuwono, Jumat (20/8), mengatakan Polri menangkap tiga tersangka yang memberi pendanaan, pelatihan penggunaan media sosial, dan pembuatan bom bagi kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah.

Ketiga tersangka yang diamankan tersebut berinisial RWP, S, dan WS.

Juru bicara Polri Argo Yuwono saat memberikan keterangan pers di Jakarta pada Senin (16/11/2020). (Foto: VOA)
Juru bicara Polri Argo Yuwono saat memberikan keterangan pers di Jakarta pada Senin (16/11/2020). (Foto: VOA)

“RWP ini memberikan bantuan berupa uang dengan cara mengirimkan ke perbankan di kelompok MIT Poso dan kemudian untuk operasional persiapan amaliyah di kelompok MIT,” kata Argo Yuwono dalam konferensi Pers daring yang disiarkan melalui akun YouTube DIV Humas POLRI.

Argo menambahkan pada 12 Agustus-17 Agustus 2021, Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri telah menangkap total 53 tersangka tindak pidana terorisme di 11 Provinsi yaitu Sumatera Utara, Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.

Dari jumlah itu, imbuhnya, 50 orang adalah anggota jaringan Jamaah Islamiyah dari 10 provinsi dan tiga orang dari jaringan Ansharut Daulah di Kalimantan Timur.

 

Baliho berisi Daftar Pencarian Orang (DPO) Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipajang di sisi jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Poso Pesisir, Poso. Jumat (11/12/2020). (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Baliho berisi Daftar Pencarian Orang (DPO) Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipajang di sisi jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Poso Pesisir, Poso. Jumat (11/12/2020). (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Pengejaran MIT

Satuan Tugas (Satgas) Operasi Madago Raya di Sulawesi Tengah masih melakukan pengejaran terhadap sisa kelompok MIT di hutan pegunungan di wilayah Kabupaten Poso, Sigi dan Parigi Moutong.

Anggota kelompok itu kini tersisa enam orang setelah tiga anggotanya tewas dalam penyergapan Satgas Madago Raya pada 11 dan 17 Juli 2021 di Kabupaten Parigi Moutong. Mereka adalah Rukli, Abu Alim alias Ambo, dan Qatar alias Farel alias Anas.

 

Wakil Penanggung jawab Komando Operasi Madago Raya, Brigjen TNI Farid Makruf, mengatakan tewasnya Qatar, teroris asal Bima, Nusa Tenggara Barat, makin melemahkan pergerakan kelompok teroris itu.

“Karena rupanya selama ini, itu lebih dominan Qatar dalam menakhodai gerakan DPO (daftar pencarian orang) teroris ini,” kata Farid kepada para wartawan di Poso, Rabu (11/8).

Dia menambahkan kelompok itu kini hanya punya satu pucuk senjata api laras panjang M-16 dan satu pucuk revolver dengan amunisi yang terbatas.

“Dan M-16 itu senjata paling ringkih, kalau masuk ke hutan. Apalagi dia kena embun, kena air. Saya yakin Ali Kalora itu sudah tidak bisa dipakai M-16nya. Hanya revolver mungkin karena dirawat, itupun pelurunya sangat terbatas,” ujar Farid yang juga Komandan Komando Resort Militer (KOREM) 132 Tadulako.

 

Polisi memeriksa bangunan yang dibakar dalam serangan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/11/2020). (Foto: Courtesy/Humas Po
Polisi memeriksa bangunan yang dibakar dalam serangan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/11/2020). (Foto: Courtesy/Humas Po

Waspadai Paham Radikalisme

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Zainal Abidin mengingatkan pentingnya untuk mewaspadai perkembangan gerakan atau paham radikalisme yang mengarah kepada intoleransi dan terorisme.

“Radikalisme di Sulawesi Tengah, bukan sebatas gerakan dakwah, pemikiran atau ideologi tetapi sudah sampai dalam bentuk tindak teror. Bahkan hingga hari ini kelompok MIT masih eksis,” kata Zainal Abidin saat berbicara dalam Ngobrol Perempuan yang digelar leh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah, Kamis (12/8) pekan lalu.

Menurutnya, seberapa besar potensi perkembangan gerakan atau paham radikalisme di Sulawesi Tengah tergantung kemampuan seluruh elemen masyarakat, termasuk warga, tokoh agama dan pemerintah, untuk mengontrol faktor-faktor penyebab, seperti pemikiran, Pendidikan, dan ekonomi.

 

Selain itu, imbuhnya, masyarakat Sulawesi Tengah rentan disusupi paham radikalisme, terutama mereka atau yang keluarganya pernah menjadi korban tragedi Poso beberapa tahun silam.

“Hal ini dapat dimanfaatkan oleh para propagandis radikalisme dengan dalih menegakkan keadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa napiter (narapidana terorisme) kasus Poso, tidak dimotivasi oleh faktor ideologi-pemikiran keagamaan, tetapi lebih disebabkan oleh dendam pribadi,” jelas Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu itu.

Kondisi geografis Sulawesi Tengah yang dikelilingi oleh pegunungan dan hutan lebat, juga berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikalisme-terorisme sebagai tempat persembunyian yang aman dari jangkauan aparat, seperti yang dilakukan oleh MIT. [yl/ft]

Diterbitkan di Berita

Palu (ANTARA) - Kepolisian berhasil mengidentifikasi dua jasad terduga Daftar Pencarian Orang Mujahidin Indonesia Timur Poso yang tewas dalam kontak tembak baru-baru ini di  pegunungan Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, adalah Qatar dan Rukli

Menurut Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso berdasarkan hasil identifikasi, keduanya adalah Rukli dan Qatar alias Farel.

"Olah DNA dari tiga daftar pencarian orang (DPO) yang terakhir, pertama Qatar, kedua Rukli, dan ketiga adalah Ambo," katanya, Rabu

Kapolda mengatakan salah satu DPO Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso yang tewas, yakni Qatar merupakan DPO yang memimpin aksi pembunuhan di dua Desa di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Poso.

"Hasil analisa intelijen itu Qatar yang melakukan pembunuhan di Lemban Tongoa dan Kalimago, kemudian seperti analisa kita mereka itu terbagi dari beberapa kelompok," katanya.

Sebelumnya pada bulan Juli 2021, selama sepekan terjadi dua kali kontak tembak antara satgas Madago Raya dengan DPO MIT Poso. Insiden Kontak tembak tersebut menewaskan tiga orang DPO MIT.

Insiden pertama terjadi pada Minggu (11/07), di Pegunungan Desa Tanah Lanto Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong yang menyebabkan dua DPO MIT Poso tewas.

Kemudian pada Sabtu (17/07) kontak tembak mengakibatkan satu DPO MIT Poso kembali tewas. Insiden terjadi di Desa Tolai Induk, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong. Tidak jauh dari lokasi kontak tembak yang pertama.

Dari dua lokasi tersebut, Satgas Madago Raya, mengamankan sejumlah barang bukti berupa senjata api jenis revolver, amunisi, bom lontong, kompas, bendera, dan sejumlah barang bukti lainnya yang diduga digunakan tiga DPO MIT Poso yang tewas tersebut.

Ketiga jenazah DPO MIT Poso ini dimakamkan di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Namun, dari tiga jenazah ini baru satu jenazah yang berhasil diidentifikasi kepolisian.

Data kepolisian, saat ini DPO MIT Poso yang masih terus dilakukan pengejaran oleh Tim Satgas Madago Raya berjumlah enam orang.

Pewarta: Rangga Musabar
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Kota Palu (ANTARA) - Satu orang Daftar Pencarian Orang (DPO) Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sulawesi Tengah, yang tewas dalam kontak tembak dengan satgas Madago Raya, Sabtu 17/07 adalah Abu Alim alias Ambo.

Kontak tembak terjadi di wilayah Pegunungan Desa Tolai Induk, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

"Hasil identifikasi DPO MIT Poso berinisial A lias AA alias B," sebut Waka Satgas Humas Operasi Madago Raya AKBP Bronto Budiono di Palu, Sabtu malam.

Menurut Bronto, kontak tembak terjadi sekitar pukul 11:30 Wita. Setelah dinyatakan tewas, jenazah Abu Alim alias Ambo tersebut dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu untuk proses autopsi dan identifikasi.

Tidak hanya itu, Satgas Madago Raya juga mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kontak tembak. Barang bukti tersebut berupa, satu pucuk senjata api jenis revolver, parang, bom lontong, serta barang bukti lainnya.

"Pada saat itu dia dalam posisi sendiri," jelasnya. Setelah diautopsi dan diidentifikasi, jenazah Abu Alim alias Ambo, warga asal Bima, Nusa Tenggara Barat, yang tewas dalam kontak tembak dengan Satgas Madago Raya, dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Proses pemakaman dilakukan pada pukul 21:40 Wita dan dibantu oleh warga sekitar. Proses pemakaman ini dijaga ketat oleh sejumlah aparat Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah.

Bronto mengatakan didapatnya satu DPO MIT Poso ini merupakan pengembangan dari kontak tembak yang terjadi sebelumnya pada Minggu 11/07. Insiden saat itu mengakibatkan dua DPO MIT Poso tewas.

Namun, hingga saat ini pihak kepolisian masih belum berhasil mengidentifikasi identitas kedua DPO MIT Poso tersebut.

Pewarta: Rangga Musabar
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Satgas Madago Raya meminta agar para buron teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso menyerahkan diri untuk menjalani proses hukum.

Saat ini, tersisa enam orang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polda Sulawesi Tengah. Dalam beberapa hari terakhir Satgas telah menembak mati tiga orang DPO.

"Kami menghimbau agar sisa DPO yang ada di pegunungan biru baik di wilayah Poso, Sigi dan Parimono untuk segera menyerahkan diri baik-baik supaya tidak ada jatuh korban lagi," kata Wakasatgas Humas Madago Raya, AKBP Bronto Budiyono kepada wartawan, Minggu (18/7).

Bronto mengatakan para teroris tersebut harus menjalani proses hukum dan ikrar setiap kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam serangkaian kegiatan operasi yang dilakukan, TNI-Polri kembali menembak mati seorang teroris MIT di wilayah Torue, Pagiti Moutong pada Sabtu (17/7) kemarin.

Hasil identifikasi awal, pihak yang tertembak merupakan anggota MIT bernama Budirman alias Abu Alim alias Hanif alias Ambo dia masuk DPO sejak 2015.

Diketahui, pria yang diperkirakan berusia 27 tahun ini bergabung dengan Jamaah Ansharut Tauhid sejak 2012 kemudian beranjak ke Poso untuk bergabung dengan asykari yang dipimpin oleh Santoso alias Abu Wardah.

Jenazah Abu Alim telah dibawa ke RS Bhayangkara Palu untuk dilakukan autopsi dan identifikasi lebih lanjut melalui pengambilan sampel DNA.

"Untuk memastikan kebenaran bahwa DPO teroris yang meninggal tersebut dibutuhkan tes DNA dari keluarganya," ucap Bronto.

Setelah dilakukan autopsi dan pengambilan sampel DNA, jenazah Abu Alin langsung dimakamkan di TPU Poboya, Palu.

Sebelumnya, Satgas Madago Raya juga menembak mati dua anggota MIT Poso pada Minggu (11/7) lalu. Kala itu, evakuasi jenazah sulit dilakukan karena jenazah berada jauh di dalam jurang. Proses evakuasi baru rampung setelah empat hari.

Pasukan TNI di lapangan mengubah rencana evakuasi yang semula melalui udara kini menggunakan rakit untuk menyusuri sungai.

(mjo/agn)


Diterbitkan di Berita
Audrey Santoso - detikNews Jakarta - Satgas Madago Raya kembali terlibat kontak tembak dengan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso di Kelurahan Tanah Lanto, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng). Kontak tembak terjadi sekitar pukul 11.30 WITa.

"Jadi tadi sekitar jam 11.30, Satgas Madago Raya kontak tembak lagi di Desa Tanah Lanto, Parimo," kata Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Didik Supranoto kepada detikcom, Sabtu (17/7/2021).

Didik menyebut satu teroris MIT Poso tertembak dan tewas. Saat ini Satgas Madago Raya masih mengevakuasi jasad teroris tersebut. "Terduga teroris DPO Poso meninggal dunia. Saat ini masih proses evakuasi," ucap Didik.

Didik menyampaikan Satgas Madago Raya juga menyita 1 pucuk senjata api jenis revolver, dua buah bom lontong dan sebilah golok dari teroris tersebut. Selain mengevakuasi jasad teroris tersebut, tim Satgas Madago Raya juga mengejar teroris MIT Poso lainnya yang melarikan diri pasca-kontak tembak.

"Barang buktinya ada satu pucuk revolver, dua bom lontong, satu bilah senjata tajam jenis golok dan baju loreng. Ini masih mengejar kawan-kawannya juga," jelas Didik.

2 Teroris MIT Poso Sebelumnya Juga Tewas Ditembak TNI

Sebelumnya diberitakan Koopsgabssus Tricakti menembak mati dua teroris MIT Poso di Kabupaten Parimo, Sulawesi Tengah (Sulteng), bernama Rukli dan Ahmad Panjang. Polri mengungkapkan kronologi penembakan terhadap dua teroris MIT yang membuat nyawa keduanya melayang.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan menyebut Rukli dan Ahmad Panjang ditembak pada Minggu (11/7) dini hari pukul 03.00 Wita.

Koopsgabssus Tricakti terlibat kontak tembak dengan sejumlah anggota teroris MIT Poso di Pegunungan Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng.

Ramadhan mengungkapkan penembakan itu bermula dari aduan masyarakat yang kehilangan makanan. Ramadhan mengatakan tim melakukan penyisiran dan menemukan jejak berupa bekas makanan para DPO teroris MIT.

"Peristiwa tersebut diawali dengan adanya informasi bahwa seorang warga telah kehilangan sejumlah barang miliknya berupa bahan makanan. Kemudian atas informasi tersebut, tim melakukan penyisiran dan menemukan jejak bekas makanan DPO teroris Poso," tuturnya.

Lebih lanjut, kata Ramadhan, tim berhasil menemukan para DPO sekitar pukul 03.00 Wita. Saat itulah kontak tembak terjadi sehingga mengakibatkan Rukli dan Ahmad Panjang tewas.

(aud/idh)

 

Diterbitkan di Berita

okezone.com JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia (TNI) menghormati lawan atau musuh negara dengan mengevakuasi jenazah dan diperlakukan dengan humanis.

Hal ini dibuktikan oleh aksi heroik prajurit TNI yang tergabung dalam Koospsgabsus Tricakti dengan melakukan evakuasi dua jenazah kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah.

Setelah berjibaku melewati lebatnya hutan dan merubah rencana evakuasi dengan membuat rakit menyusuri beberapa arus sungai deras dan rangkaian air terjun di sekitar Pegunungan Tokasa, Desa Tanalanto, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi, Tim Evakuasi Koopsgabsus Tricakti pada pukul 14.30 WITA akhirnya berhasil membawa jenazah dua teroris Poso keluar dari Tempat Kejadian Perkara (TKP), Rabu (14/7/2021).

Tim evakuasi di lapangan yang dipimpin langsung Wapangkoopsgabsus Brigjen TNI Rafael Granada Baay menyebutkan bahwa hari keempat evakuasi jenazah, tim di lapangan diberikan kelancaran.

“Tiga hari sebelumnya tim evakuasi menghadapi banyak rintangan alam, medan dan cuaca yang sering berubah-ubah mulai dari TKP dan di sepanjang rute evakuasi,” ujarnya.

Koopsgabsus TNI menurunkan 2 Tim Tricakti dan 1 Tim Chandraca, sejak hari Minggu 11 Juli 2021, terus berupaya mengevakuasi jenazah. Informasi di lapangan hari pertama, tim evakuasi hanya dapat bergerak sekitar 600 meter dari TKP menuju titik penjemputan landing zone darurat yang telah disiapkan.

“Kesulitan utama adalah beratnya medan karena vegetasi tumbuhan yang rapat serta banyaknya bebatuan besar di tebing sisi kiri dan kanan sungai, sehingga menyulitkan pasukan menembus rute yang dilewati,” kata Brigjen TNI Rafael.

Tim evakuasi hari kedua pada hari Senin pagi (12/7/2021) dari pukul 06:00 WITA kembali dilanjutkan setelah sempat istirahat tadi malam karena terkendala cuaca hujan deras dan tidak ada jalan sehingga harus merintis rute baru keluar TKP.

Hari ketiga evakuasi pada Selasa pagi 13 Juli 2021, pukul 07.00 WITA, tim evakuasi hampir berhasil mengangkat jenazah menggunakan Heli Caracal TNI AU, namun karena sempitnya medan serta lebatnya hutan menyulitkan manuver heli untuk hover, dengan aman, bila dipaksakan akan sangat beresiko untuk keamanan alutsista.

Brigjen TNI Rafael yang mengkoordinir pergerakan evakuasi siang ini, pukul 12:20 WITA di Poskout Tricakti, menginformasikan evakuasi yang melibatkan masyarakat kembali menemui kendala setelah sempat menggunakan rakit menyusuri sungai sepanjang hampir 500 meter dari posisi sebelumnya, ternyata di depan terdapat air terjun lebih 75 meter yang memaksa tim evakuasi menurunkan jenazah menggunakan tali. 

Rabu (14/7/2021), pukul 13:30 WITA, tim evakuasi berhasil menjangkau landing zone darurat yang aman untuk dilakukan pengangkatan jenazah menggunakah hoist dan basket stretcher dari pesawat Heli Super Puma dukungan operasi Koopsau II Makassar, yang diterbangkan oleh Pilot Mayor Pnb Budiyono dari Lanud Hasanudin Makassar.

Siang ini juga pukul 14:30 WITA, dua jenazah teroris Poso, segera diberangkatkan dari Mayonif 714/SM ke RS. Bhayangkara Polda Sulteng, langsung dipimpin Brigjen TNI Rafael.

Menurut Brigjen TNI Rafael keberhasilan evakuasi jenazah teroris Poso tidak terlepas dari kerja sama semua pihak yang telah mencurahkan semua tenaga dan pemikiran pasca penyergapan  serta penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.

“Setelah melalui semua perjuangan berat tersebut kedua jenazah teroris berhasil di evakuasi, langsung diberangkatkan ke RS. Bhayangkara Polda Sulteng untuk dilaksanakan autopsi dan identifikasi lebih lanjut oleh Tim Inafis Satgas Madago Raya,” katanya.

 

(aky)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Polri mengungkapkan bahwa penembakan dua teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso diawali dari informasi warga sekitar yang mengeluhkan kehilangan makanan.

"Peristiwa tersebut diawali dengan adanya informasi bahwa seorang warga telah kehilangan sejumlah barang miliknya berupa bahan makanan.

Kemudian atas informasi tersebut, tim melakukan penyisiran," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, Senin (12/7).

Ahmad menjelaskan bahwa setelah itu, tim Komando Operasi Gabungan Khusus (Koopsgabssus) Tricakti menyisir wilayah Pegunungan Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Poso.

Dari penyisiran itu, tim menemukan jejak bekas makanan yang mengarah pada lokasi keberadaan buronan MIT Poso pimpinan AliKalora. Tim kemudian berhasil menemukan para DPO sekitar pukul 03.00 WITA.

Saat itulah kontak tembak terjadi. Akibatnya, dua orang tersangka teroris tewas di tempat. "Mengakibatkan 2 orang DPO teroris Poso meninggal dunia atas nama R dan AP," kata dia.

Dua buronan tersebut bernama Rukli dan Ahmad Panjang. Sementara itu, kata Ramadhan, DPO teroris MIT lainnya berhasil kabur dalam penyergapan itu.

Dia menerangkan, jenazah kedua DPO teroris MIT yang tewas itu segera dievakuasi menggunakan helikopter. "Saat ini, 2 DPO yang meninggal dunia akan dievakuasi melalui udara menggunakan helikopter.

Saat ini, tim kopsus masih terus melakukan pengejaran terhadap sisa DPO teroris Poso yang lolos dari penyergapan," kata Ramadhan. Berdasarkan catatan, sejauh ini tersisa tujuh orang DPO kepolisian yang tergabung dalam MIT Poso pimpinan Ali Kalora.

Kepemimpinan kelompok tersebut telah berganti usai Santoso alias Abu Wardah tewas tertembak oleh Satgas Tinombala -- nama sebelum Madago Raya -- pada 18 Juli 2016 lalu.

Polisi selama ini mengakui bahwa MIT sulit ditumpas karena mereka selalu berpindah-pindah. Belum lagi, medan keberadaannya di tengah hutan yang membuat aparat sulit menindak mereka secara cepat.

Kelompok tersebut diduga sering terlihat di wilayah Lembantongoa, Sigi hingga Salubanga, dan Parigi Moutong hingga Poso Pesisir Utara.

(mjs/has)



Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Tugas (Satgas) Madago Raya menembak mati dua orang teroris kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora. Penembakan terjadi saat Satgas terlibat baku tembak, Minggu (11/7) dini hari.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulawesi Tengah Kombes Didik Supranoto mengatakan baku tembak terjadi sekitar pukul 03.00 WIB. Satgas berhasil meredam kelompok teroris dalam baku tembak tersebut.

"Dua meninggal dunia," kata Didik dalam keterangan tertulis, Minggu (11/7). Didik menduga sejumlah anggota MIT Ali Kalora lainnya juga tertembak dalam kejadian itu.

Namun, Satgas tak bisa memastikan karena para teroris itu melarikan diri. Dia mengatakan Satgas Madagor Raya sedang memburu para teroris yang berhasil kabur. Di saat yang sama, Satgas mengurus dua orang teroris yang tewas.

"Akan dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara Palu besok (12/7)," ucapnya. Satgas Madago Raya dibentuk sejak 1 Januari 2021 untuk mengejar terduga kelompok garis keras MIT.

Kelompok tersebut dipimpin oleh Ali Kalora usai Santoso alias Abu Wardah tewas tertembak Satgas Tinombala pada 18 Juli 2016. Baca juga: Gerebek Markas MIT, Satgas Madago Sita Emblem ISIS dan Sajam Awalnya, operasi Satgas Madago Raya hanya sampai 31 Maret.

Namun, operasi diperpanjang hingga 31 Juli. Operasi kembali diperpanjang hingga 30 September. Kepolisian mengakui MIT sulit ditumpas karena selalu berpindah-pindah.

MIT Ali Kalora sering terlihat di wilayah Lembantongoa, Sigi ke Salubanga, Parigi Moutong lalu ke Poso Pesisir Utara, Poso. (dhf/bmw)

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 3