KBRN, Jakarta: Satuan Tugas (Satgas) Operasi Madago Raya melakukan penggerebekan di beberapa lokasi yang merupakan persembunyian kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Qatar di wilayah Manggalapi dan Tagara, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Dalam penggerebekan tersebut, Satgas Madago menemukan sejumlah barang yang diduga milik kelompok MIT, seperti tas ransel, parang (sejenis golok), gergaji, obat-obatan, bahan makanan, bumbu dapur, hingga badge simbol ISIS berukuran kecil.

"Disitanya sejumlah barang-barang tersebut, dipastikan akan menyulitkan pelarian kelompok ini. Mereka akan kekurangan bahan makanan dan perlengkapan pendukung lainnya," terang Irjen Pol Abdul Rakhman Baso, Penanggung Jawab Komando Operasi Satgas Madago Raya, melalui keterangan tertulis seperti dilansir CNN Indonesia, Minggu (27/6/2021).

Saat ini, demi keamanan, Satgas telah membatasi masyarakat atau petani untuk menuju ke kebun mereka yang berada di wilayah dekat tempat persembunyian kelompok MIT tersebut.

Sementara itu, Komandan Korem 132 Tadulako, Brigjen TNI Farid Makruf menyampaikan, temuan barang-barang milik MIT untuk menunjukkan bahwa mereka masih memiliki dukungan atau simpati.

Atas dasar itu, Farid mengingatkan masyarakat setempat untuk berhenti menjadi pendukung kelompok bersenjata ini, dengan cara tidak lagi memasok informasi dan logistik apapun kepada kelompok tersebut.

Selanjutnya, Farid memastikan persenjataan kelompok MIT ini sudah tak lagi memadai, ditambah sembilan anggota kelompok Ali Kalora ini dalam keadaan kekurangan makanan dan lainnya.

"Bagi kami sebenarnya mudah melumpuhkan sembilan orang ini bila ditemukan. Kesulitannya adalah mereka dibantu informasi oleh masyarakat. Dibantu pula logistiknya oleh masyarakat yang merupakan simpatisan mereka. Pergerakan pasukan dan informasi lainnya mudah mereka ketahui dan bahan makanan mereka pun selalu dipasok oleh simpatisan," tutur Farid.

Karenanya, kata Farid, penting bagi masyarakat untuk menghentikan pasokan logistik dan informasi kepada kelompok MIT agar operasi ini selesai.

"Kalau mereka tidak didukung informasi dan logistik, mereka di atas akan kelaparan sehingga dengan mudah dilumpuhkan. Lalu dibawa untuk diadili demi mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di negara kita," tandas Farid.

Diterbitkan di Berita

Penanggung Jawab Komando Operasi (PJKO) Madago Raya, Irjen Pol Abdul Rakhman Baso mengatakan aparat keamanan berharap bisa menangkap seluruh anggota kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dalam dua bulan ke depan.

Dia optimistis dengan dukungan berbagai pihak, keberadaan MIT dapat tertangani secepatnya.

“Semangat yang diberikan kepada kami oleh tokoh masyarakat, lintas agama, legislatif, pemerintah daerah untuk kita bersama-sama, bersinergi dan bergandengan tangan menyelesaikan masalah ini. Kami dikasihkan target untuk pihak keamanan dua bulan,” kata Irjen Abdul Rakman Baso usai rapat dengar pendapat terkait situasi keamanan di Kabupaten Poso dan sekitarnya di Ruang Sidang Utama DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Rabu (2/6).

 

Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso memberikan keterangan dalam Konferensi Pers di DPRD Sulteng, Rabu (2/6/2021). (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso memberikan keterangan dalam Konferensi Pers di DPRD Sulteng, Rabu (2/6/2021). (Foto: VOA/Yoanes Litha)

 

Irjen Abdul Rahman yang juga Kapolda Sulteng itu menegaskan aparat keamanan TNI-POLRI terus melakukan pengejaran terhadap anggota MIT.

Tidak hanya itu, aparat keamanan juga menata pengamanan di sekitar premukiman masyarakat yang berbatasan dengan gunung biru yang menjadi wilayah pergerakan kelompok itu.

Penanganan Khusus

Daftar Pencarian Orang (DPO) Tindak Pidana Terorisme yang memuat foto dan indentitas sembilan anggota kelompok MIT. (Foto: Humas Polda Sulteng)
Daftar Pencarian Orang (DPO) Tindak Pidana Terorisme yang memuat foto dan indentitas sembilan anggota kelompok MIT. (Foto: Humas Polda Sulteng)

 

Adnan Arsal, Ketua Penasehat Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Poso mengatakan tokoh lintas agama dan masyarakat di Poso mendukung sepenuhnya upaya TNI-POLRI untuk menangani kelompok MIT.

Dalam acara yang sama, Adnan mengatakan perwakilan tokoh lintas agama dan masyarakat menilai perlu ada penanganan khusus persoalan keamanan di wilayah itu.

“Ada Keppres (Keputusan Presiden Indonesia) atau Inpres (Instruksi Presiden) yang menangani secara khusus keamanan Poso dan kesejahteraan masyarakat” kata Adnan Arsal dalam konferensi pers itu.

Hal senada dikemukakan oleh Renaldy Damanik, tokoh masyarakat di Tentena. Menurutnya ada kerinduan masyarakat agar Presiden Joko Widodo dapat hadir di Kabupaten Poso.

 

Konferensi Pers di gedung DPRD Sulteng usai Rapat Dengar Pendapat menyikapi situasi dan kondisi keamanan di Poso, Rabu (2/6/2021). (Foto : VOA/Yoanes Litha)
Konferensi Pers di gedung DPRD Sulteng usai Rapat Dengar Pendapat menyikapi situasi dan kondisi keamanan di Poso, Rabu (2/6/2021). (Foto : VOA/Yoanes Litha)

 

“Bersama-sama mengharapkan perhatian yang kuat dari Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi, untuk memberikan perhatian khusus untuk Kabupaten Poso dan sekitarnya dan sekaligus untuk mendukung seluruh kebutuhan operasi -Madago Raya- ini tentunya,” ujar Damanik

Ribuan Petani Terdampak

Desakan agar Satgas Madago Raya segera menangkap kelompok itu makin menguat menyusul serangkaian aksi teror oleh MIT. Pada November 2020, MIT membunuh empat petani di Desa Lembatongoa.

Kelompok beranggotakan sembilan orang itu mengulangi aksinya pada Mei 2021 dengan membunuh empat petani kopi warga Desa Kalemago, Lore Timur, Kabupaten Poso.

Wakil Bupati Poso Yasin Mangun mengungkapkan aksi teror kelompok itu menyebarkan ketakutan di kalangan warga yang umumnya bertani dan berkebun di sekitar kaki gunung biru, sebagai mata pencaharian.

“Yang terdampak secara sosial ekonomi serta psikologis itu ribuan orang. Masyarakat kita itu menjadi takut untuk ke kebun, takut untuk bersosialisasi, dan takut untuk bekerja melakukan aktivitas keseharian mereka,” ungkap Yasin Mangun.

Kondisi yang telah berlangsung lama itu menurunkan tingkat ekonomi masyarakat. Mereka takut menjadi sasaran MIT saat mengolah lahan kebun mereka.

Berdasarkan data Polda Sulteng kelompok MIT kini tersisa sembilan orang yang bergerak secara gerilya di hutan pegunungan luas yang secara administratif wilayah berada di Kabupaten Poso, Parigi Moutong dan Sigi. [yl/ft]

Diterbitkan di Berita

Tiga tim itu terdiri dari tim pengejar, tim sekat, dan tim kegiatan preventif untuk warga Poso agar tidak terganggu dari kegiatan DPO MIT Poso tersebut.

"Untuk masyarakat ada tim preventif agar masyarakat tidak terganggu dengan kegiatan para teroris ini," kata Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Pol Didik Supranoto, Senin (31/5/2021) seperti dikutip dari Antara.

Hasil analisa pihak Kepolisian, sembilan orang DPO MIT Poso terbagi dari dua kelompok. Satu kelompok berjumlah empat orang dan satu kelompok lagi berjumlah lima orang.

"Karena kemarin ada lima orang, berdasarkan keterangan saksi itu dipimpin oleh DPO MIT Poso, Qatar. Bisa jadi sembilan orang ini terbagi dua, satu kelompok dipimpin Qatar dan satu kelompok lagi dipimpin Ali Kalora," jelasnya

Untuk kekuatan DPO MIT Poso ini, Didik Supranoto menyebutkan pihak kepolisian belum mempunyai data yang tepat.

"Berapa amunisinya dan senjata mereka nanti kita akan sampaikan saat tim satgas Madago Raya punya data yang tepat," sebutnya

Pasca pembunuhan empat korban di Desa Kalimago tersebut, pihak kepolisian mengimbau kepada warga untuk tetap tenang dan tetap melaksanakan kegiatan seperti biasanya.

Selain itu,warga juga diimbau untuk melaporkan kepada aparat kepolisian terdekat jika melihat keberadaan sembilan orang DPO MIT tersebut.

"TNI dan Polri yang tergabung di satgas Madago Raya telah melakukan kegiatan secara maksimal untuk titik yang dicurigai sebagai lintasan para Mujahidin Indonesia Timur di tempat tempat turun terhadap masyarakat," tambahnya. 

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi menyatakan akan tetap memproses hukum pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Ali Kalora apabila menyerahkan diri.

Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah Kombes Didik Supranoto mengatakan pihak kepolisian seringkali mengimbau para buronan kasus terorisme agar menyerah.

"Kita itu di negara hukum, tentu proses hukum terhadap permasalahan-permasalahan ini terkait pidana tetap kami laksanakan," kata Didik saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (25/5).

Didik mengatakan Kapolda Sulteng Inspektur Jenderal Abdul Rakhman Baso menyatakan kepolisian akan menjamin keselamatan para buronan tersebut apabila menyerahkan diri.

Namun demikian, dia belum mendapatkan informasi lebih lanjut terkait upaya penyerahan diri yang hendak dilakukan oleh Ali Kalora. Kata dia, sejauh ini tim masih berfokus melakukan pengejaran terhadap jejak teror mereka beberapa hari lalu.

"Diimbau oleh Pak Kapolda (jika menyerahkan diri), kami akan jamin keselamatannya," tambah dia lagi.

Dia menjelaskan kepolisian mengirim pasukan untuk menyekat wilayah-wilayah perbatasan yang menjadi akses perjalanan MIT Poso. Hal itu dilakukan pascapenyerangan terhadap empat petani di wilayah Desa Kilimago, Poso, Sulawesi Tengah.

"Tempat-tempat yang mengambil logistik ke kebun-kebun masyarakat ini yang kita antisipasi oleh tim-tim sekat itu," ucapnya.

Sebagai informasi, pembunuhan terhadap empat warga sipil pada Selasa (11/5) lalu diduga dilakukan oleh MIT pimpinan Qatar alias Farel alias Anas.

Dari informasi yang diperoleh dari Satuan Tugas Madago Raya, MIT bertumpu pada dua kelompok utama. Kelompok Ali Kalora berada di wilayah Poso Pesisir Utara dan kelompok Qatar alias Farel alias Anas bergerilya di sekitar Lembah Napu, Lore Timur.

Ali Kalora sendiri digadang sebagai pimpinan MIT Poso dan telah buron lima tahun lamanya. Dia menggantikan posisi Santoso alias Abu Wardah yang tewas ditembak oleh Satuan Tugas Operasi Tinombala pada 18 Juli 2016 dalam sebuah penyergapan.

(mjo/pmg)

Diterbitkan di Berita

Syaiful W Harahap tagar.id Poso, Sulawesi Tengah – Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah Komisaris Besar Didik Supranoto mengatakan Satuan Tugas (Satgas) Madago Raya terus melakukan pengejaran terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) hingga ke hutan-hutan di pegunungan Poso. Kelompok yang berjumlah sembilan orang itu saat ini telah berpencar menjadi dua kelompok. Yoanes Litha melaporkannya untuk voaindonesia.com. []

Menurut Didik, kelompok pertama berjumlah empat orang dan dipimpin Ali Kalora, sementara kelompok kedua berjumlah lima dan orang dipimpin Qatar. Kelompok kedua inilah yang melakukan pembunuhan terhadap empat petani kopi, warga desa Kalemago Lore Timur pada 11 Mei 2021.

 

Aktivitas Personel TNI-Polri

Aktivitas Personel TNI-Polri di Pos Komando Taktis Satgas Operasi Madago Raya di desa Tokorondo, Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. 12 Januari 2021 Foto: voaindonesia.com/Yoanes Litha)

 

“Kemudian ke mana mereka, ini tentu tim operasi yang lebih tahu. Tapi yang jelas, sekarang ini tim mengoptimalkan kegiatannya untuk melakukan pengejaran di dua kelompok ini. Jadi personel yang tergabung dalam Madago Raya ini kita optimalkan untuk melakukan tugasnya” jelas Didik Supranoto di Mapolda Sulteng, Kamis (20/5).

Ditambahkan Didik, selain melakukan pengejaran ke dalam hutan, Satgas Madago Raya juga melakukan penyekatan di lokasi-lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan kelompok itu. MIT diduga mencari logistik bahan makanan di perkebunan milik warga di sekitar kaki gunung di wilayah Kabupaten Poso, Sigi dan Parigi Moutong.

 

Warga mengusung

Warga mengusung empat peti mati menuju pekuburan Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. 12 Mei 2021 (Foto: voaindonesia.com/Yoanes Litha)

 

“Kemudian dari Polres-Polres ini juga melakukan monitor di wilayah bawah, di perkampungannya. Jadi saya harapkan masyarakat tidak terlalu takut. Silakan untuk melakukan kegiatannya di perkebunan, persawahan atau ladang mereka,” kata Didik seraya menambahkan belum ada rencana penambahan perkuatan personel Madago Raya yang dikerahkan untuk memburu kelompok MIT.

1. Warga Masih Trauma

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu mengatakan dari pemantauan pihaknya, warga di desa Kalemago masih merasakan trauma setelah empat warga di desa itu menjadi korban kelompok MIT. Menurutnya, warga di desa itu berharap pemerintah dapat memperbaiki saluran irigasi agar warga juga dapat mengolah sawah sehingga mereka memiliki alternatif sumber mata pencaharian selain kegiatan berladang berkebun di sekitar lereng gunung.

“Salah satu yang kami sampaikan kepada Bupati Poso agar mendukung adanya irigasi di daerah perkampungan Kalemago, agar mereka bisa melakukan kegiatan perekonomian selain berladang juga menggarap sawah,” kata Edwin Partogi Pasaribu dihubungi dari Palu, Jumat (21/5).

LPSK bersama perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Polda Sulteng, Selasa (18/5), berziarah ke makam empat warga desa Kalemago yang menjadi korban kelompok MIT. Kehadiran LPSK dimaksudkan untuk memberikan dukungan moril maupun materiil. LPSK juga memberikan santunan kepada perwakilan keluarga korban yang penyerahannya dilakukan di Polda Sulteng.

Edwin berharap kelompok MIT dapat menyerahkan diri kepada aparat keamanan sehingga dapat mengakhiri kekerasan di Sulawesi Tengah.

 

Wakil Ketua Lembaga

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu, dan perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Polda Sulteng, berziarah ke makam empat korban serangan terorisme di Kalemago, Lore Timur, Kabupaten Poso (Foto: voaindonesia.com/Yoanes Litha)

 

“Mereka (MIT) bisa langsung ke aparat penegak hukum atau juga menghubungi LPSK untuk kami fasilitasi penyerahan dirinya agar kekhawatiran mereka diperlakukan secara kasar tidak terjadi," ungkap Edwin.

2. Penyelesaian Secepatnya

Sahir Sampeali, Tokoh Masyarakat Tampo (Tanah) Lore di Kabupaten Poso, menegaskan keinginan masyarakat agar masalah gangguan keamanan yang disebabkan oleh kelompok MIT dapat segera tuntas untuk memulihkan rasa aman masyarakat setempat.

“Yang paling kami rasakan adalah rasa tidak aman, tidak pernah merasakan keamanan. Satu contoh, saya pribadi seorang muslim yang hidup di wilayah Lore, yang hidup di wilayah jalan antara Poso dan Lore, Saya seorang muslim, saya juga merasakan ketidakamanan, apalagi dengan saudara-saudara saya yang kristiani, coba bisa dibayangkan itu,” ungkap Sahir Sampeali, Senin, 17 Mei 2021.

Ditambahkannya, aksi teror oleh MIT turut berdampak pada perekonomian warga yang takut mengolah lahan kebun di lereng gunung biru karena khawatir dengan keselamatan mereka bila sewaktu-waktu bertemu dengan kelompok tersebut (yl/ah)/voaindonesia.com. []

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta Satgas Madago Raya masih melakukan pengejaran terhadap kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora yang menewaskan empat warga di Desa Kalimago, Poso, Sulawesi Tengah.

"Saat ini tim Satgas Madago Raya masih melakukan penyisiran dan pengejaran," tutur Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto saat dikonfirmasi, Rabu (12/5/2021).

Menurut Didik, identitas para korban berinsial MS, S, P, dan L. Jasad mereka ditemukan di areal perkebunan dengan jarak potong kompas 16 kilometer dan jarak tempuh dari Polsek terdekat estimasi 45 menit.

"Waktu kejadiannya Selasa, 11 Mei 2021 sekitar pukul 08.25 Wita," kata Didik

Luka di Leher

Para korban sendiri mengalami luka yang mirip dengan korban-korban MIT sebelum-sebelumnya, yakni luka di bagian leher.

"Salah satu saksi mengaku melihat seorang pelaku yang mirip dengan anggota MIT seperti yang termuat dalam DPO aparat," Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol. Didik Supranoto mengatakan, Selasa petang (11/5/2021).

Didik juga mengungkapkan berdasarkan keterangan warga yang selamat dari aksi kekerasan itu, pelaku berjumlah lima orang dan langsung kabur usai beraksi.

Diterbitkan di Berita

KENDARI, KOMPAS - Jenazah Brigadir Satu Anumerta Herlis Pombili yang gugur dalam kontak tembak dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur di Palu, dimakamkan di kampung halamannya di Kolaka Utara.

Anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah ini dimakamkan tepat di sebelah makam ibunya yang meninggal beberapa tahun sebelumnya. 

Jenazah Briptu Herlis tiba di kampung halamannya, di Kolaka Utara, pada Kamis (4/3/2021) sekitar pukul 12.00 Wita. Anggota Kompi 4 Tolitoli Brimob Polda Sulteng ini diterbangkan dari Palu menuju kampung halamannya di Kecamatan Pakue, Kolaka Utara dengan helikopter.

Komandan Satuan Brimob Polda Sultra Komisaris Besar Adarma Sinaga menuturkan, setelah tiba, jenazah Briptu Herlis dibawa ke pemakaman umum di daerah tempat tinggal almarhum. Hal tersebut sesuai dengan permintaan keluarga untuk dimakamkan di sebelah pusara almarhum sang ibu.

“Dalam pengantaran jenazah, ikut juga sejumlah pejabat dan personel dari Polda Sulteng. Dari kami ada 30 personil Brimob Polda Sultra yang terlibat dalam rangkaian upacara pemakaman kedinasan. Inspektur upacara adalah Bupati Kolaka Utara Nur Rahman Umar,” kata Adarma, di Kendari, Sultra, Kamis siang.

 

Jenazah Briptu Anumerta Herlis Pombili tiba di kampung halamannya di Pakue, Kolaka Utara, Kamis (4/3/2021) siang. Briptu herlis meninggal dunia setelah tertembak oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur di Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 8 kilometer dari permukiman warga, Rabu (3/3/201), 15.30 Wita. BRIMOB POLDA SULTRA

 

Awalnya, tutur Adarma, jenazah Briptu Herlis direkomendasikan untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kendari. Sebab, almarhum termasuk pahlawan yang berkorban hingga meninggal dunia terkait keamanan dan keutuhan bangsa. 

Akan tetapi, oleh pihak keluarga, meminta untuk dimakamkan di pemakaman umum di Kolaka Utara. Mengikuti permintaan itu, pemakaman akhirnya dilakukan di lokasi sesuai permintaan keluarga besar almarhum. 

Brigadir Kepala Aksan, kakak korban menyampaikan, pihaknya menyatakan berterima kasih atas rekomendasi tempat pemakaman di Taman Makam Pahlawan di Kendari.

Akan tetapi, mengingat lokasi Kolaka Utara dan Kendari yang berjarak sekitar 200 kilometer, keluarga memutuskan agar pemakaman dilakukan di lokasi pemakaman umum terdekat. 

“Lokasi Taman Makam Pahlawan itu jauh dari tempat keluarga besar kami, jadi diputuskan untuk dimakamkan di pemakaman umum, itu yang pertama. Yang kedua, ibu kami juga dimakamkan di pemakaman umum, jadi bisa dimakamkan berdekatan,” katanya. 

 

 
Jenazah Briptu Anumerta Herlis Pombili tiba di kampung halaman di Pakue, Kolaka Utara, (4/3/2021) siang. Briptu herlis meninggal dunia setelah tertembak oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur di Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 8 kilometer dari permukiman warga, Rabu (3/3/201), 15.30 Wita. BRIMOB POLDA SULTRA

 

Meninggalnya Briptu Herlis, kata Aksan, menjadi duka yang dalam untuk keluarga. Sebab, sang adik adalah sosok pendiam yang punya perhatian besar terhadap keluarga. Bahkan, sebelum masuk hutan untuk bertugas sehari sebelumnya, almarhum sempat menelepon sang ayah untuk mengabarkan kondisi dan situasi. 

Meski demikian, ia melanjutkan, pihak keluarga ikhlas akan kejadian yang terjadi, dan menyerahkan semuanya ke yang kuasa. Ia berharap tidak ada lagi korban selanjutnya dari operasi yang digelar di wilayah Sulawesi Tengah. 

Sebelumnya, kontak senjata terjadi di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Rabu (3/3/2021), antara aparat Satuan Tugas Operasi Madago Raya dan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Dalam kejadian ini, Briptu Herlis tewas tertembak. 

 

Warga membuka laman yang menampilkan Daftar Pencarian Orang (DPO) teroris Poso di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (4/4/2018). Polda Sulteng kembali merilis sisa DPO Teroris Poso dari 41 menjadi 29 orang yang tergabung dalam kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Jumlah tersebut berkurang karena 10 di antaranya tewas tertembak dan dua ditangkap hidup-hidup. ANTARA/BASRI MARZUKI

 

Baku tembak tersebut pecah di pegunungan Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 8 kilometer dari permukiman warga, pukul 15.30 Wita. Baku tembak bermula saat anggota Satuan Tugas Operasi Madago Raya berpatroli dan bertemu dengan anggota kelompok MIT.

”Telah gugur salah satu personel Brimob Polda Sulteng atas nama Brigadir Satu Herlis. Jenazahnya telah berada di RS Bhayangkara untuk divisum,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sulteng Komisaris Besar Didik Supranoto, di Palu.

Didik memastikan kontak senjata tersebut terjadi antara aparat dan kelompok MIT yang dipimpin Ali Kalora. Baku tembak masih serangkaian dengan kontak senjata pada Senin (1/3/2021) di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Namun, Didik tidak bisa memastikan kelompok itu orang yang sama yang terlibat baku tembak pada Senin, yang dipastikan ada Ali Kalora di dalamnya.

 

 

Kepala Polda Sulteng Inspektur Jenderal (Pol) Abdul Rakhman Baso di Palu, Sulteng, Selasa (2/3/2021) memperlihatkan gambar dua anggota Mujahidin Indonesia Timur yang tewas ditembak di Poso, Senin (1/3/2021). KOMPAS/VIDELIS JEMALI

 

Sebelumnya, kontak senjata terjadi pada Senin yang menewaskan dua anggota MIT dan satu anggota TNI. Dua orang tersisa dari kelompok itu kemudian dikejar aparat. Salah satu dari dua orang tersebut dipastikan Ali Kalora, pemimpin kelompok MIT.

”Satuan Tugas Operasi Madago Raya masih mengejar kelompok MIT,” katanya. Operasi Madago Raya digelar untuk mengejar anggota MIT di Poso. Operasi digelar sejak 2016 yang sebelumnya bernama Operasi Tinombala.

Sejak Januari 2021 operasi itu berganti sandi menjadi Operasi Madago Raya. Tinombala merujuk nama gunung di timur Kabupaten Parigi Moutong, kabupaten tetangga Poso.

Sementara madago, kata dalam bahasa Pamona, bahasa yang dipakai suku Pamona, salah satu suku di Poso, berarti ’baik hati’.

Operasi berpusat di pegunungan berhutan lebat di Kabupaten Poso, Parigi Moutong, dan Sigi. Wilayah itu merupakan medan gerilya kelompok Ali Kalora, yang diperkirakan tersisa 9 orang setelah dua orang tewas pada Senin (Kompas, Rabu, 3 Maret 2021).

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) terus diburu oleh Satgas Madago Raya, tak terkecuali oknum penyuplai bahan makanan kelompok tersebut.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Pori, Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, saat baku tembak terakhir, Satgas Madago Raya menyergap kelompok yang turun hutan untuk mengambil bahan makanan.

"Kami mendalami pihak-pihak yang memberi logistik pada kelompok ini," kata Rusdi Mabes Polri Jakarta Selatan, Rabu (3/3/2021).

Rusdi mengaku, juga akan melakukan pengamanan hingga proses pemakaman dua anggota MIT yang tertembak. Pasalnya, salah satu teroris yang tertembak adalah menantu petinggi MIT Santoso.

Untuk diketahui, di Poso sebelumnya terjadi arak-arakan terhadap jenazah anggota MIT yang mati tertembak.

"Semua akan diamankan. Setelah TNI dan Polri banyak di sana, jadi aktivitas mereka semakin terjepit. Mudah-mudahan bisa segera diselesaikan," tutur Rusdi.

Sebelumnya, Satgas Madago Raya melakukan penembakan terhadap dua anggota kelompok teroris MIT pimpinan Ali Kalora.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulteng, Kombes Didik Supranato mengatakan, dua teroris yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) itu ditembak hingga tewas. Sebelum ditembak, Satgas Madago Raya dan kelompok MIT terlibat baku tembak.

"Iya (dua tewas). Atas nama Alvin dan Khairul," kata Didik saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (2/3/2021). (Ccp)

 

Oleh: Immanuel Christian

Editor: Rachmad Zein

Diterbitkan di Berita

Raja Adil Siregar - detikNews Pekanbaru - Praka Dedi Irawan gugur saat baku tembak dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Keluarga bercerita soal komunikasi terakhir dengan Dedi.

"Saat di hutan kemarin pukul 11.00 WIB, itu ada video call sama keluarga. Terakhir kita pihak keluarga komunikasi itu," kata kakak kandung Praka Dedi, Heru, di rumah duka, Selasa (2/3/2021). 

Dalam komunikasi terakhir itu, Praka Dedi menyampaikan bakal memasuki hutan di Poso. Dia meminta keluarga tak khawatir. "Dia bilang mau masuk hutan kurang lebih 5 hari, tidak ada sinyal. Ya kalau tidak ada kabar, jangan khawatir, itu katanya," ujar Heru.

Heru menyebut Praka Dedi berangkat ke Poso 2 bulan lalu. Sebelum berangkat, Dedi sempat cuti 10 hari dan pulang ke rumah orang tuanya di Jalan Kusuma, Bukit Raya, Pekanbaru.

Setelah disemayamkan di rumah duka, jenazah dibawa ke Pemakaman Taman Bahagia, tepat di sebelah Taman Makam Pahlawan (TMP) Pekanbaru. Dandim 0301 Pekanbaru Kolonel Inf Edi Budiman memimpin upacara pemakaman.Praka Dedi gugur meninggalkan seorang istri bernama Nana dan satu orang putri, Naira, yang masih berusia 2 tahun. Praka Dedi selama ini tinggal di Jakarta.

 

(ras/haf)

Diterbitkan di Berita

PALU, KOMPAS.com - Pengejaran terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur ( MIT) pimpinan Ali Kalora masih terus dilakukan satuan tugas (satgas) Madago Raya.

Di pekan terakhir Februari 2021, Satgas Madago Raya sempat kontak tembak dengan kelompok Ali Kalora di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso mengatakan, kontak tembak terjadi pada Selasa (23/2/2021).

Dari kontak tembak tersebut, dua orang DPO tertembak, namun berhasil kabur ke hutan. "Pengejaran masih dilakukan Satgas Madago Raya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kelompok ini bisa kita tangkap," kata Kapolda Abdul Rakhman Baso, Senin (1/3/2021).

Dia menambahkan, kelompok MIT saat ini tidak tengah kelaparan. Selain itu, persenjataan yang dimiliki tinggal dua pucuk pistol dan satu pucuk senjata api laras panjang. "Itu yang sementara terdata. Dan kita juga berusaha untuk tidak bertambah," ujarnya.

Terkait dengan Operasi Madago Raya, kata dia, operasi ini bukan semata mengejar kelompok yang hanya menyisakan 11 orang ini. Tetapi, bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada aparat dan pemerintah.

Penulis : Kontributor Palu, Erna Dwi Lidiawati
Editor : Dony Aprian

Diterbitkan di Berita
Halaman 2 dari 3