Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Kesehatan meminta pemerintah, terutama Kementerian Keuangan agar menaikkan gaji dua kali lipat untuk para tenaga kesehatan yang bertugas di daerah-daerah terpencil.

Daerah ini sering disebut juga dengan 3T yakni Terdepan, Terpencil dan Tertinggal. Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes Abdul Kadir, berharap Kementerian dalam Negeri, Kementerian Pendayaan Aparatur Negara dan Kementerian Keuangan bisa mempertimbangkan hal tersebut.

"Untuk itu kami meminta kepada mereka yang bertugas di daerah pedalaman mungkin kalau di sini ada Mendagri dan mudah-mudahan ada juga MenPAN, dan mudah-mudahan Kementerian Keuangan, memberikan penghasilan yang lebih daripada saudara-saudara kita yang bekerja di kota-kota besar," ujar Kadir, dalam pernyataan sikap Asosiasi Puskesmas se-Indonesia secara virtual, Sabtu (25/9).

Kadir menuturkan nakes yang berada di kawasan terpencil dapat diberikan gaji dua kali lipat sebagai bentuk penghargaan terhadap mereka. Ia tak bisa membayangkan bagaimana para dokter dan tenaga kesehatan berjuang naik perahu atau kapal kecil untuk bisa ke Puskesmas tujuan.

Khususnya, kata dia, ke Puskesmas di Kiwirok, Papua yang jika ditempuh dengan jalan kaki dari distrik bisa menghabiskan waktu selama dua hari. Kadir juga menyatakan keprihatinannya dan mengecam atas serangan yang dilakukan KKB tersebut.

Ia lalu mendorong para pihak terkait agar memberikan keselamatan dan keamanan kepada para tenaga kesehatan khususnya yang bertugas di daerah-daerah termasuk di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Sebelumnya, terjadi serangan dan pembakaran di Puskesmas di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang oleh KKB pada Senin (13/9) lalu. Sebanyak dua nakes dikabarkan hilang, usai dilakukan pencarian, aparat menemukan dua nakes di jurang.

Satu nakes dinyatakan meninggal dunia yakni Gabriella Meilan, sementara yang satu lagi, Kristina Sampe ditemukan dalam keadaan hidup. 

Realisasi Insentif Nakes 

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan realisasi insentif tenaga kesehatan (nakes) cair Rp10,6 triliun ke 1,29 juta orang per akhir Agustus 2021. Jika dirinci, penyaluran insentif nakes pusat mencapai Rp6,5 triliun ke 941,4 ribu orang dan daerah Rp4,1 triliun ke 357 ribu orang.

"Kami monitor terus, terutama di daerah-daerah di mana kemarin realisasi (insentif) nakes agak terlambat. Kami coba dorong terus bersama Kementerian Dalam Negeri," ujar Ani, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers APBN KiTa edisi September 2021, Kamis (24/9).

(isa/asa)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id -- Institut Teknologi Bandung (ITB) menghibahkan 20 unit produk inovatif Powered Air-Purifying Respirator (PAPR) untuk tenaga kesehatan/medis ke beberapa rumah sakit di Indonesia.

Hibah ini dilakukan untuk mendukung penanganan pandemi Covid-19 yang masih terjadi hingga saat ini. PAPR dengan nama VitaFlo ini dibuat di Laboratorium Energi Terbarukan, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB dengan ketua tim penelitinya Dr. Yuli Setyo Indartono.

Alat versi kedua ini akan diberikan ke Rumah Sakit di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dan Kalimantan (masih konfirmasi).

Pengembangan alatnya didukung oleh Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB.

 

 

Dr. Yuli mengatakan, ada dua komponen utama di alat tersebut yaitu box blower dan filter untuk mengalirkan dan memfilter udara, serta penutup wajah atau full-face protector. Udaranya disalurkan melalui selang (grade medis) dari blower ke full-face protector.

"Aliran udara yang masuk ke dalam full-face mask menyebabkan tekanan udara lebih tinggi di dalam face mask dibandingkan yang di luar. Sehingga mencegah kontaminasi bakteri/virus dari luar," ujarnya.

 

 

Untuk penggunaannya sendiri, VitaFlo sudah menggunakan baterai dan mampu bertahan 5 jam 30 menit. Dengan menggunakan VitaFlo, tenaga kesehatan tidak perlu lagi memakai masker, goggle, dan face shield, namun APD lain tetap digunakan.

"Setelah ada alat ini, nakes tidak perlu lagi memakai APD di bagian wajah. InsyaAllah cukup dengan VitaFlo," jelasnya.

 

 

Mampu Filtrasi Virus Sekitar 97 Persen

Dijelaskan Dr. Yuli, VitaFlo merupakan alat pelindung diri jenis PAPR (Powered-Air Purifying Respirator) yang mengintegrasikan fungsi masker, pelindung wajah, dan kacamata pelindung.

Fungsi alat VitaFlo ini sudah melalui beberapa pengujian. Pertama telah dilakukan pengujian di laboratorium di SITH untuk dilihat bagaimana kemampuan alat dalam memfilter bakteri dan virus. "Hasilnya sangat baik," ujarnya.

Efektivitas filtrasi bakteri sebesar 99,9 persen untuk ukuran bakteri 0.5-2 um, dan 97 persen untuk partikel <0.1 um (ukuran virus), berdasar pengujian di laboratorium di SITH ITB.

 

 

Pengujian lainnya dilakukan di Lab Energi Terbarukan FTMD untuk pengecekan laju aliran fluida masuk ke dalam full-face mask. Hasil pengujian sudah memenuhi standar.

Ide Awal Pembuatan Alat

Dr. Yuli bercerita, ide awal pembuatan alat ini berawal dari keprihatinan saat menyaksikan tenaga kesehatan memakai APD berlapis-lapis di bagian wajah. Hal itu terlihat tidak praktis, pengap, dan tidak nyaman. Dari situlah muncul ide membuat VitaFlo yang lebih mudah digunakan dan sederhana. "Saya terinspirasi membuat facemask, namun apabila tidak dilengkapi blower akan terjadi kebocoran dari samping karena tekanan udaranya tidak positif. Makanya kami buat suplai udara menggunakan blower filter," jelasnya.

Ke depannya, alat ini tidak hanya berguna untuk tenaga kesehatan saja, tetapi juga bisa dipakai oleh para pekerja industri yang sering terpapar debu dan partikel berbahaya. VitaFlo bisa menyaring partikel-partikel berukuran kecil dengan baik.

"Filternya kita pilih yang versi industri, sehingga tidak mengalami kelangkaan saat banyak kebutuhan tenaga medis. Kemampuan filtrasinya sama, hanya versinya saja yang industri supaya ketersediaannya lebih terjamin. Pembeliannya mudah karena ada di toko-toko online," ucapnya.

Sementara itu, hasil riset inovasi ini akan dikerjasamakan dengan PT Rekayasa Inovasi ITB, untuk dicarikan partner industri agar VitaFlo bisa diproduksi secara massal oleh industri.

 

 
 
Diterbitkan di Berita

Suara.comKetua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jakarta Utara Maryanto berterima kasih kepada keluarga korban kasus suntikan vaksin kosong di Pluit, Penjaringan, berinisial BLP.

Maryanto mengapresiasi karena perawat berinisial EO yang bertugas menjadi relawan penyuntik vaksin akhirnya berdamai dengan keluarga BLP.

"Kami juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak dari keluarga BLP dan EO," ujar Maryanto bertemu Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara Kombes Pol Guruh Arif Darmawan di Markas Polres Metro Jakarta Utara, Kamis.

Ia pun mengapresiasi langkah Kepolisian yang telah mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus EO terkait vaksin kosong di kawasan Pluit, Penjaringan.

Kasus dihentikan lantaran antara perawat EO dan peserta vaksinasi berinisial BLP telah sepakat berdamai. Polres Metro Jakarta Utara (Jakut) telah memfasilitasi mediasi di antara mereka.

Adanya mediasi ini mengakhiri kasus yang melibatkan kedua belah pihak yang sempat viral di media sosial tersebut.

"Kami kemari untuk silaturahim ke Kapolres Metro Jakarta Utara. Mengapresiasi kepada pihak kepolisian karena sejak awal kami (PPNI Kota Jakarta Utara) mendukung langkah Polri dalam mengungkap kasus ini," ujar Maryanto.

Dia bersama DPD PPNI Jakarta Barat pun kemudian mengunjungi kediaman EO untuk memberikan dukungan moril.

Maryanto pun memastikan DPD PPNI Jakarta Utara tidak menjatuhkan sanksi kode etik terhadap EO lantaran telah mencapai kesepakatan damai.

Perlindungan hukum diberikan apabila instansi klinik EO bekerja menjatuhkan hukuman kepadanya.

"Kami akan berikan advokasi kepada EO apabila itu terjadi. Kami pastikan EO tetap bekerja dan berkarya sebagai perawat yang membantu Pemerintah, TNI, Polri dan masyarakat dalam penanggulangan pandemi COVID-19 (Corona Virus Disease 2019)," katanya. (Antara)

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemberian vaksin untuk dosis ketiga (booster) untuk tenaga kesehatan (nakes) bisa mencampurkan dua jenis vaksin berbeda.

"Dicampur (jenis vaksin)-nya bisa," kata Budi saat ditemui tengah meninjau Sentra Vaksinasi Ikatan Alumni Taruna Nusantara (IKASTARA) di Ancol Beach City (ABC) Mall, Pantai Carnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Sabtu.

Ia mengatakan pemerintah sedang bekerja keras untuk mencapai target vaksinasi pada Agustus sebanyak 70 Juta per bulan.

Sedangkan, jumlah dosis yang datang dalam kurun waktu tujuh bulan, dari Januari hingga akhir Juli 2021, baru 90 juta. Adapun vaksin yang Pemerintah Republik Indonesia dapat saat ini sekitar 140 juta dosis vaksin Covid-19.

"Jadi harus di vaksinnya, betul-betul kerja keras. Dan enggak mungkin pemerintah melakukan sendiri, kalau tidak berkolaborasi dengan seluruh unsur masyarakat. Harus kita bangun Gerakan Vaksinasi Nasional lah, jangan hanya diprogram pemerintah," kata Budi.

Ia percaya kalau semua komponen bangsa sudah datang bergotong royong dan bekerja sama, seharusnya pandemi ini bisa diatasi dan menjadi hadiah paling bagus untuk menyambut Hari Kemerdekaan nanti.

"Vaksin booster itu jangan dulu, masih 140 juta baru dapat. Jadi vaksin booster baru buat nakes saja dulu ya," kata Menkes RI menjelaskan.

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Pamekasan, CNN Indonesia -- Ketua Tim Penanganan Pasien Covid-19 RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo Pamekasan Syaiful Hidayat mengonfirmasi setidaknya ada 50 tenaga kesehatan (Nakes) dan 10 dokter yang terpapar Covid-19 varian Delta.

Sedangkan tiga dokter di antaranya meninggal dunia. "Rata-rata mereka tertular Covid-19 varian Delta," kata Syaiful kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (31/7). Menurutnya data tersebut terhitung sejak Bulan Juli.Sementara data bagi pasien Covid-19 yang meninggal berjumlah 154 pasien.

Data tersebut terhitung sejak pandemi Covid-19 secara keseluruhan. "Saat ini mereka sedang menjalani perawatan intensif di RSUD, dan sebagian pula ada yang melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumahnya," ungkapnya.

Dokter yang akrab dipanggil Yayak itu mengatakan, tiga dokter yang meninggal itu belum diketahui klasternya. Sebab, mobilitas dokter dan perawat sangat tinggi. Meski begitu Yayak meminta kedisiplinan protokol kesehatan jadi hal yang utama untuk disadari masyarakat.

"Harus disiplin, jangan selalu bergantung pada pemerintah. Karena kesadaran ini yang bisa meminimilisir penyebaran Covid-19, bila semuanya sudah patuh protokol," ujarnya. Sebelumnya, Yayak menyampaikan, dalam sepekan rumah sakit sudah banyak menerima pasien rujukan.

Dari sekian banyaknya, hingga memicu kamar pasien melebihi muatan. "Daftar antrean di rumah sakit, sehari bisa mencapai dua belas sampai delapan belas pasien," kata Syaiful.

Akibatnya, lanjut Syaiful, rumah sakit terpaksa harus membuka tenda darurat di halaman untuk menampung pasien. Padahal rumah sakit sudah menyediakan lima ruang isolasi, ditambah satu ruang instalasi gawat darurat (IGD).

Ia menyampaikan ke belakang bila pasien terus menanjak datang, bukan tidak mungkin rumah sakit akan membuka rumah sakit lapangan. Sebab sebagai institusi pelayanan kesehatan, rumah sakit tidak bisa menolak pasien yang datang.

"Rumah sakit rujukan pun, banyak kamar isolasinya sudah penuh. Jadi arahnya nanti, kami rasa perlu ada rumah sakit lapangan," ujarnya. 

(nrs/chs)

Diterbitkan di Berita
sindonews.com JAKARTA - Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Dedy Permadi dalam keterangan persnya di akun YouTube Sekretariat Presiden menyebutkan bahwa kedatangan vaksin Moderna hari ini akan diutamakan untuk perlindungan para nakes.
"Kita bersyukur siang tadi baru menerima 3 juta lebih vaksin moderna dari Amerika Serikat yang sudah disetujui penggunaannya oleh WHO dan BPOM," ujar Dedy Permadi, Minggu (11/7/2021).
 
Ia mengungkapkan vaksin tersebut diperuntukkan khusus untuk menjamin keselamatan nakes yang setiap hari harus berinteraksi dengan pasien Covid-19 baik yang bergejala ringan, sedang, hingga berat.
"Dan kebijakan Kementerian Kesehatan adalah memberikannya kepada yang paling membutuhkan yakni tenaga kesehatan yang sedang merawat 376.015 saudara kita yang sedang berjuang melawan Covid-19 per hari ini," tambah Dedy Permadi.

Ia berharap kehadiran vaksin tersebut diharapkan dapat meningkatkan semangat dan daya juang nakes. "Meskipun 100% tenaga kesehatan sudah menerima dosis lengkap, namun perlindungan tambahan ini membuat mereka akan semakin semangat meningkatkan angka kesembuhan," tandas Dedy Permadi. [Carlos Roy Fajarta]
 
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Nasional Gusdurian Network Indonesia (GNI), Alissa Wahid mengusulkan agar pemerintah membangun Rumah Sakit Khusus Covid-19 untuk merawat para tenaga kesehatan ketimbang membangun RS Covid-19 khusus untuk pejabat.

Usul itu ia sampaikan merespons permintaan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN), Rosaline Irene Rumaseuw yang agar pemerintah membuat rumah sakit Covid-19 khusus pasien dari kalangan pejabat negara.

"Kalaupun ada RS khusus, itu sebaiknya untuk nakes," kata Alissa kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/7).

Alissa menegaskan pihaknya tak setuju dengan usulan pembangunan RS Covid-19 khusus pejabat. Menurutnya, hal demikian pasti menabrak rasa keadilan bagi masyarakat secara luas.

Terlebih, saat ini masih banyak masyarakat yang membutuhkan perawatan di Rumah Sakit imbas melonjaknya penularan virus corona. "Nanti pejabat semakin jauh dari realita RS yang sesungguhnya," kata dia.

Rosaline Irene sebelumnya mengusulkan pemerintah untuk menyediakan fasilitas kesehatan Covid-19 khusus untuk pejabat negara. Dia menilai pejabat negara seharusnya diistimewakan karena bekerja memikirkan negara dan rakyat. (rzr/gil)

 

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Komando Daerah Militer Jayakarta (Kodam Jaya) mengerahkan sedikitnya 200 tenaga kesehatan dari TNI untuk melayani vaksinasi COVID-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).

"Ada 200 nakes (tenaga kesehatan) dari TNI yang siap melayani vaksinasi COVID-19 di GBK hari ini," kata Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Jaya, Letkol Arh Herwin BS, di Stadion GBK, Jakarta, Sabtu.

Herwin menambahkan target peserta penerima vaksinasi COVID-19 di Stadion Utama GBK tersebut sekitar 10 ribu orang.

"Targetnya delapan sampai sepuluh ribu peserta hari ini," ujar Herwin.

Herwin mengatakan para peserta yang ikut vaksinasi COVID-19 di Stadion Utama GBK wajib memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI Jakarta.

"Mereka daftar melalui aplikasi JAKI," tutur Herwin. Sebelumnya Pemprov DKI menggelar program "Serbuan Vaksin" yang diperuntukkan bagi warga DKI Jakarta saja yang dimulai pada pukul 08.00 WIB - 12.00 WIB.

"Kuota terbatas, khusus ber-KTP DKI Jakarta," tulis pengumuman dalam Instagram Dinkes DKI Jakarta.

Untuk warga ber-KTP DKI Jakarta, dapat melakukan pendaftaran melalui aplikasi JAKI yang bisa diunduh di .

Pada aplikasi tersebut pada pilihan tempat vaksinasi, pilih lokasi Kelurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang.

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Dian Utoro Aji - detikNews Jepara - Kabupaten Jepara, Jawa Tengah masuk zona merah penyebaran virus Corona atau COVID-19. Satgas Penanganan COVID-19 menyebutkan ada 300 tenaga kesehatan (nakes) terkonfirmasi positif COVID-19.

"Kita saat ini tengah rekrutmen tenaga nakes, karena perawatnya habis. Banyak yang positif juga, ada nakes 300-an," kata Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Kabupaten Jepara, Muh Ali saat dihubungi detikcom lewat sambungan telepon, Minggu (20/6/2021).

Ali menjelaskan ratusan nakes tersebut saat ini ada yang sedang menjalani isolasi mandiri namun juga ada yang tengah dirawat di rumah sakit. Namun Ali tidak merinci secara pasti.

"Ada dirawat dan ada yang isolasi mandiri. Kita tidak mungkin mendeteksi satu-satu," ungkap dia.

Dia mengatakan pemerintah daerah tengah mengadakan rekrutmen tenaga kesehatan. Menurutnya pemkab membutuhkan nakes sebanyak 70 sampai 100 nakes. Namun saat ini baru mendapatkan 30 nakes.

"Pemkab disediakan anggaran untuk nakes, cuma kita rekrutmen tidak cepat, dapatnya baru 30 an, butuhnya 70 sampai 100 nakes," ungkap Ali.

Ali menambahkan kebutuhan nakes tersebut nantinya akan diperbantukan rumah sakit di Jepara. Terlebih rumah sakit di Jepara tengah menambah ruang untuk pasien COVID-19 yang mencapai 50 persen lebih.

"RS Kartini lebih dari 50 persen disiapkan untuk itu (ruang pasien COVID-19) yang di Kelet juga perintah Gubernur harus lebih dari 50 persen. Saat ini, semalam tempat tidurnya penuh. Kemarin sore update terakhir, sedangkan nakes kita banyak yang kena," tambah Ali.

Dari data kasus COVID-19 di Jepara per Minggu (20/6) konfirmasi aktif ada sebanyak 2.567 orang. Dirawat di rumah sakit ada 327 orang dan 2.240 menjalani isolasi mandiri.

Berikutnya kasus sembuh ada 8.738 orang, lalu kasus meninggal dunia ada 609 orang. Secara keseluruhan ada sebanyak 11.914 orang terkonfirmasi positif Corona.

(mbr/mbr)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
  
Kondisi tenaga kesehatan (nakes) di Kudus, Jawa Tengah, yang sempat terpapar COVID-19 akibat menangani pasien di fasilitas pelayanan kesehatan kini telah berangsur pulih.
 
Hingga 12 Juni 2021, 308 nakes terkonfirmasi positif COVID-19, 277 tenaga kesehatan dalam perawatan isolasi mandiri, dan 193 lainnya sudah dinyatakan sembuh.
 
“Namun, hari ini (Kamis, 17/6), 90% nakes yang isolasi mandiri sudah bisa mulai masuk kerja dan kembali melayani masyarakat. Ini sebuah berita yang menggembirakan. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa vaksin yang diberikan kepada mereka benar-benar efektif melindungi dari kondisi terburuk,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Badai Ismoyo dikutip dari situs Kemenkes, Jumat (18/6).
 
Vaksin Ampuh! 90% Nakes di Kudus yang Terpapar Corona Sudah Sembuh (1)
Warga menutup lingkungnya untuk penanganan COVID-19 di Kudus. Foto: Akhmad Nazaruddin Lathif/ANTARA
 
Jumlah tenaga kesehatan di Kudus sendiri saat ini mencapai kurang lebih 6.000 orang. Dengan perlindungan yang diberikan melalui program vaksinasi bagi nakes yang dimulai periode Januari-Maret 2021 lalu, nakes di Kudus tidak terlalu banyak terpapar COVID-19.
 
“Hampir 100% nakes di Kudus yang berjumlah sekitar 6.000 orang telah menerima vaksinasi dosis satu dan dua. Dari jumlah tersebut, hanya 308 nakes yang terpapar atau sekitar 5,13% dari jumlah keseluruhan nakes dan sebagian besar di antaranya sudah sembuh dan mulai bekerja kembali,” ujar Badai.
 

Data RSUD Kudus

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr. Loekmono Hadi, dr. Abdul Aziz Achyar menyampaikan data terbaru pada Kamis (17/6), bahwa dari total 153 nakes yang terkonfirmasi kasus positif COVID-19 di rumah sakit tersebut, hanya 11 orang (7,1%) yang dirawat inap, 86 (56%) sisanya melakukan isolasi mandiri.
 
Vaksin Ampuh! 90% Nakes di Kudus yang Terpapar Corona Sudah Sembuh (2)
Suasana di Kudus, Jawa Tengah, pada Senin (7/6) pagi, usai pemberlakuan di rumah saja. Foto: Indra Subagja/kumparan
 
Kemudian dari 153 kasus konfirmasi COVID-19 tersebut 59 (38,5%) nakes RSUD dr. Loekmono Hadi sudah dinyatakan sembuh. Hal ini menunjukkan bahwa vaksinasi COVID-19 bagi nakes efektif mengurangi gejala kesakitan dan risiko kematian.
 
Hingga Kamis (17/6), nakes dan tenaga penunjang kesehatan di Kudus yang telah divaksinasi dosis pertama mencapai 6.085 orang dan yang telah mendapatkan dosis kedua sebanyak 5.888 orang.
  

Menggencarkan Vaksinasi di Kudus

Untuk mengantisipasi dan melakukan intervensi kesehatan di Kudus, Kementerian Kesehatan telah mengalokasikan vaksin COVID-19 sejumlah 50 ribu dosis khusus guna mempercepat cakupan vaksinasi di Kudus.
 
Hal ini merupakan upaya melindungi masyarakat Kudus dari COVID-19 karena terbukti vaksinasi memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang sudah mendapatkannya lebih dahulu.
 
 
Vaksin Ampuh! 90% Nakes di Kudus yang Terpapar Corona Sudah Sembuh (3)
Bupati Kudus Hartopo saat tinjau penanganan corona. Foto: kumparan
 
“Untuk saat ini kita sudah menggencarkan vaksinasi secara masal di Kudus, supaya nanti bisa melandaikan penularan COVID-19,” ujar Bupati Kudus H.M Hartopo, Kamis (10/6) lalu.
 
Diakui Hartopo, lonjakan kasus COVID-19 berawal dari pemudik yang pulang ke Kudus.
 
“Perlu kita informasikan bahwa masyarakat jangan abai dengan protokol kesehatan meski sudah divaksinasi. Vaksinasi sendiri sebetulnya hanya sarana meningkatkan imunitas. Supaya seandainya terpapar COVID-19 tidak bergejala berat,” terangnya.
 
 
Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2