Jakarta, CNN Indonesia -- Adanya mutasi Covid-19 varian Delta disebut dapat mempersulit kekebalan komunal atau Herd Immunity. Hal itu diakui langsung oleh pengembang vaksin AstraZeneca dan Oxford.

Di hadapan parlemen Inggris, Sir Andrew Pollard, seorang profesor infeksi pediatrik dan immunity di Universitas Oxford, mengatakan bahwa mencapai kekebalan komunal tidak mungkin terjadi sekarang, lantaran varian Delta.

"Kami tahu sangat jelas dengan virus corona bahwa varian saat ini, varian Delta, masih akan menginfeksi orang yang telah divaksinasi," kata Pollard.

Terlebih ia menjelaskan tidak mungkin herd immunity akan tercapai, jika virus bermutasi dan menghasilkan varian virus corona baru. Hal itu juga disebut berpotensi lebih menular pada populasi yang sudah divaksin.

Orang yang divaksinasi masih bisa tertular varian Delta, meskipun sebagian kasus ditemukan dengan gejala lebih ringan. Beberapa ahli berharap herd immunity bisa tercapai seperti halnya campak yang juga sangat menular.

Banyak negara telah mencapai kekebalan komunal pada penyakit campak, dengan memvaksinasi 95 persen populasinya, seperti Amerika Serikat (AS), di mana penularan endemik berakhir pada tahun 2000. Hasilnya jika seseorang divaksinasi campak, mereka tidak dapat menularkan virus.

Meski demikian dengan masih menyebarnya virus Corona, vaksin masih memenuhi peran utamanya yaitu melindungi dari gejala parah.

Dikutip The Guardian, konsep kekebalan komunal atau populasi bergantung pada seberapa besar populasi yang memperoleh kekebalan baik melalui vaksinasi atau sebelumnya sudah terinfeksi.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit CDC AS, orang yang divaksinasi yang terkena varian Delta 25 kali lebih kecil kemungkinannya memiliki gejala parah atau meninggal. Mayoritas yang tertular bergejala ringan atau tidak sama sekali.

Tetapi semakin banyak bukti menunjukkan bahwa dengan adanya varian Delta, orang yang divaksinasi dosis lengkap masih dapat menularkan virus. "Kami tidak memiliki apa pun yang akan menghentikan penularan itu ke orang lain," kata Pollard seperti dikutip Science Alert.

Data dari studi React yang baru dilakukan oleh Imperial College London, menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh berusia 18 hingga 64 tahun memiliki risiko 49 persen lebih rendah terinfeksi, dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh memiliki sedikit kemungkinan positif, meskipun setelah melakukan kontak dengan orang yang terpapar virus Corona.

Israel adalah contoh yang baik dalam kekebalan komunal. Kasus positif paparan corona dilaporkan turun, setelah memvaksinasi sekitar 80 persen orang dewasa.

Hal itu mendorong beberapa orang berharap bahwa capaian itu telah melampaui herd immunity, tetapi varian Delta sejak itu membawa lonjakan kasus lain.

(can/DAL)

Diterbitkan di Berita

Anadolu Agency JAKARTA Indonesia akan menerima tiga juta dosis vaksin Covid-19 dari pemerintah Prancis.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan pemberian bantuan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasinya dengan Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian pada 22 Juli lalu.

“Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada pemerintah Prancis,” kata Menlu Retno dalam konferensi pers daring, Kamis. 


Berdasarkan informasi sementara dari Kementerian Luar Negeri RI, vaksin yang akan diberikan Prancis yakni AstraZeneca.

Nantinya, pengiriman pertama dijadwalkan pada akhir Agustus sebanyak 1,3 juta dosis vaksin.

Indonesia memiliki lebih dari 3,53 juta kasus Covid-19, termasuk penambahan 35.867 pasien baru pada Rabu.

Indonesia sekaligus melaporkan tambahan 1.747 kasus kematian Covid-19 pada kemarin sehingga totalnya mencapai 100.636.

 

 

 

 

 

 

 

Diterbitkan di Berita

VIVA – Saat ini total ada 11 vaksin COVID-19 yang disetujui untuk digunakan di berbagai belahan dunia. Namun, menurut penelitian terbaru, satu-satunya vaksin yang terbukti paling efektif adalah Oxford-Astrazeneca atau Covishield.

AstraZeneca, yang merupakan vaksin yang paling populer digunakan di seluruh dunia, menjanjikan tingkat kemanjuran yang tinggi. Namun, diliputi kumpulan kontroversi, karena ada laporan munculnya efek samping yang tidak biasa akhir-akhir ini.

Tetapi, evaluasi kritis yang lebih baru telah membuktikan bahwa vaksin Covishield benar-benar telah melakukan tugasnya dengan baik, dengan memberikan lebih banyak antibodi pelindung, terutama dalam melawan varian Delta. 

Dilansir Times of India, studi yang dilakukan oleh ICMR dan NIV bernama 'Netralisasi varian Delta dengan serum vaksin Covishield dan individu yang divaksinasi COVID-19 yang pulih' menetapkan bahwa Covishield atau AstraZeneca yang menjadi vaksin utama di India, sangat efektif terhadap varian Delta. 

Melalui penelitian tersebut diamati bahwa vaksin vektor virus yang dibangun dengan menggunakan teknologi vaksin tradisional itu, mampu menghasilkan lebih banyak antibodi penetralisir yang dapat bekerja melawan virus corona. 

Vaksin yang pertama kali disetujui untuk digunakan di India itu memiliki tingkat kemanjuran hingga 70 persen dan meningkat menjadi 91 persen, setelah dosis kedua diberikan dengan jarak 8-12 minggu. Vaksin ini juga meningkatkan respons antibodi yang lebih tinggi sehingga mencegah COVID-19 yang parah. 

Studi lebih lanjut juga telah memastikan bahwa AstraZeneca lebih efektif pada orang-orang yang reinfeksi atau pernah tertular sebelumnya.

Diamati bahwa orang yang telah pulih dari COVID-19 dan telah mendapat dosis penuh vaksin ini, memiliki lebih banyak antibodi dan respons penetralisir dibanding individu yang belum pernah terinfeksi COVID-19 sebelumnya. Namun, studi investigasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengonfirmasi hal yang sama.

Para ahli menyatakan, mereka yang telah sembuh dari COVID-19 memiliki konsentrasi sel memori-B dan T yang lebih tinggi, sehingga dapat mengingat infeksi dan meningkatkan respons antibodi yang lebih tahan lama dan efektif dengan vaksin ini. 

Ini juga bisa menjadi alasan mengapa seseorang yang telah sembuh dapat mengalami efek samping yang lebih parah dibanding seseorang yang tidak memiliki riwayat COVID-19

Diterbitkan di Berita
Nafilah Sri Sagita K - detikHealth Jakarta - Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) mengungkap hasil autopsi pemuda Jakarta Timur, Trio Fauqi Virdaus yang meninggal usai vaksinasi AstraZeneca. Disebutkan, tidak ada indikasi pembekuan darah yang dikhawatirkan timbul dari vaksin AstraZeneca.

"Kami turut berduka cita dengan kejadian ini. Berdasarkan permintaan pihak Dinas Kesehatan DKI Jakarta, tim forensik RSCM telah melakukan otopsi klinis terhadap almarhum Trio Fauqi Virdaus. Autopsi klinis dilakukan dengan sangat teliti, oleh karena itu diperlukan waktu yang cukup panjang," jelas Prof Dr dr Hindra Irawan Satari, Ketua Komnas KIPI dalam rilis Kemenkes RI, dikutip Selasa (3/8/2021).

"Selain itu, autopsi klinis dilakukan oleh tim dokter profesional dan independen. Kesimpulannya, tidak cukup bukti sampai dengan saat ini untuk mengaitkan KIPI yang terjadi dengan imunisasi yang diberikan. Hasil otopsi klinis juga tidak menunjukkan adanya pembekuan darah, atau blood clot, yang selama ini diduga dapat ditimbulkan karena vaksin AstraZeneca," sambungnya.

Dr dr Ade Firmansyah Sugiharto, SpFM(K), Ketua Tim Autopsi Klinis, menyampaikan otopsi memakan waktu lama dikarenakan jenazah sudah dimakamkan sekitar 2 minggu sebelum akhirnya diperiksa.

Dari pemeriksaan, ditemukan adanya kelainan di paru tetapi tidak bisa dipastikan sebagai penyebab pasti meninggalnya yang bersangkutan karena jenazah sudah dalam kondisi membusuk.

"Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh secara makroskopik dan mikroskopik serta laboratorium dengan melibatkan ahli kedokteran forensik dan medikolegal, patologi anatomik, patologi klinik, mikrobiologi, dan ilmu penyakit dalam," sebut Dr Ade.

"Dari hasil autopsi klinis ditemukan kelainan di paru, namun tidak adekuat untuk ditetapkan sebagai penyebab kematian karena jenazah telah membusuk lanjut saat diotopsi," sambungnya.

Prof Hindra mengaku kejadian tersebut akan menjadi catatan laporan KIPI serius untuk terus memantau pelaksanaan vaksinasi ke depan, meskipun bukti yang ada belum bisa menunjukkan apakah vaksin AstraZeneca benar menjadi penyebabnya.


(naf/up)

Diterbitkan di Berita
 
Indra menjelaskan, vaksinasi adalah cara selain terinfeksi untuk membentuk kekebalan. Memang, infeksi atau penularan adalah cara alami untuk membentuk kekebalan, namun cara ini memiliki risiko kematian yang tinggi.

Untuk menghindari risiko tersebut, satu-satunya cara adalah vaksinasi.

 
Peneliti AstaZeneca Indra Rudiansyah. Foto: Popbela
Peneliti AstaZeneca Indra Rudiansyah. Foto: Popbela

“Melalui virus natural kita biarkan saja terinfeksi virus SARS-COV-2, kemudian kita sakit, sembuh kemudian memiliki kekebalan. Atau melalui vaksinasi,” ujar Indra dilansir dari detik.com, Jumat (30/7/2021).

“Saya bisa bilang bahwa semua vaksin yang sudah dilisensi ini aman dan sangat efektif. Jadi mau vaksin mana pun, kita terima tetap vaksin tersebut efektif dan aman,” tutur Indra.

“(Dengan vaksinasi) ketika virus bertransmisi menyebar ke semua orang itu sudah mempunyai kekebalan sehingga virus itu tidak memiliki inangnya lagi dan pada akhirnya, virus itu hilang dari permukaan bumi atau tidak aktif untuk waktu yang lama sehingga masyarakat memiliki kekebalan secara kelompok,” paparnya.

Dirinya membenarkan bahwa efek samping vaksin AstraZeneca memang banyak, bahkan mungkin tak sebanyak vaksin Covid-19 lainnya. Namun menurutnya, laporan-laporan tersebut adalah normal.

Dengan begitu, ia menegaskan, masyarakat tak perlu pusing soal jenis vaksin mana yang diterima.

“Meskipun vaksin itu banyak jenisnya dan yang masuk Indonesia tidak hanya 1 vaksin, saya bisa bilang bahwa semua vaksin yang sudah dilisensi ini aman dan sangat efektif. Jadi mau vaksin mana pun, kita terima tetap lakukan vaksinasi dan vaksin tersebut efektif dan aman,” pungkas Indra.

 
Diterbitkan di Berita

LONDON, KOMPAS.TV - Penelitian Public Health England di Inggris memastikan bahwa dosis lengkap atau dua dosis vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan buatan AstraZeneca efektif melawan virus Corona varian Delta yang lebih menular seperti halnya terhadap varian Alpha.

Para peneliti mengatakan vaksin tersebut sangat efektif melawan varian Delta, yang sekarang menjadi varian dominan di seluruh dunia.

Walau begitu penelitian tersebut menegaskan kembali, satu suntikan vaksin tidak cukup untuk perlindungan secara maksimal.

Studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine ini memastikan temuan awal yang diumumkan oleh Public Health England pada bulan Mei lalu tentang kemanjuran vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech dan Oxford-AstraZeneca, berdasarkan data dunia.

Simak hasil penelitiannya disini

Penelitian itu pada Rabu (21/7/2021) menemukan dua dosis suntikan Pfizer 88 persen efektif mencegah infeksi bergejala dari varian Delta, dibandingkan dengan 93,7 persen terhadap varian Alpha, secara umum sama seperti yang dilaporkan sebelumnya.

 

Vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan BioNTech. Penelitian itu hari Rabu, (21/07/2021) menemukan dua dosis suntikan Pfizer 88 persen efektif mencegah infeksi bergejala dari varian Delta, dibandingkan dengan 93,7 persen terhadap varian Alpha, secara umum sama seperti yang dilaporkan sebelumnya (Sumber: BioNTech via Xinhua)

 

 

Sementara, dua suntikan vaksin AstraZeneca 67 persen efektif melawan varian Delta, naik dari 60 persen yang dilaporkan semula, dan 74,5 persen efektif terhadap varian Alpha, dibandingkan dengan perkiraan awal sebesar 66 persen.

"Hanya perbedaan kecil dalam efektivitas vaksin yang dicatat dengan varian Delta dibandingkan dengan varian Alpha setelah menerima dua dosis vaksin," tulis peneliti Public Health England dalam penelitian tersebut.

Data dari Israel memperkirakan efektivitas suntikan Pfizer lebih rendah terhadap infeksi bergejala, meskipun perlindungan terhadap penyakit parah tetap tinggi.

Penulis : Edwin Shri Bimo | Editor : Gading Persada

Diterbitkan di Berita

LONDON, KOMPAS.com - Ada andil pemuda Indonesia di balik terciptanya vaksin Covid-19 AstraZeneca, yaitu hasil kerja Indra Rudiansyah (29) mahasiswa di Universitas Oxford.

Indra tergabung bersama tim Jenner Institute pimpinan Profesor Sarah Gilbert, ilmuwan Inggris yang mendapat standing ovation saat hadir di laga pembuka kejuaraan tenis akbar Wimbledon 2021.

Sejak 20 Januari 2020, tim Jenner Institute dan Oxford Vaccine Group bekerja sama menguji coba vaksin virus corona di Pusat Vaksin Oxford.

"Saya tentunya sangat bangga bisa tergabung dalam tim untuk uji klinis vaksin Covid-19 ini, meskipun ini bukan penelitian utama untuk thesis saya," ujar Indra Rudiansyah kepada ANTARA London, 23 Juli 2020.

Mahasiswa S3 Clinical Medicine di Universitas Oxford itu mengungkapkan, penelitian utamanya untuk thesis sebenarnya adalah vaksin malaria.

Namun, keikutsertaannya di tim Jenner Institute merupakan real case dari penelitian vaksin untuk menyelamatkan banyak orang.

 

Ilustrasi vaksin AstraZeneca(Shutterstock/Dimitris Barletis)

 

Ketika wabah Covid-19 mengalami eskalasi menjadi pandemi, semua aktivitas di kampus tutup kecuali untuk bidang yang terkait Covid-19. Lab kemudian kekurangan orang, padahal penelitian tentang Covid-19 membutuhkan banyak sumber daya manusia.

Saat itulah project leader-nya membuka pintu bagi siapapun yang ingin bergabung, dan Indra Rudiansyah masuk ke tim untuk membantu uji klinis.

Di tim, mahasiswa yang mendapat beasiswa dari LPDP ini bertugas menguji antibody response dari para relawan yang sudah divaksinasi. Ia memiliki pengalaman terlibat dalam pengembangan vaksin rotavirus dan novel polio di Biofarma setelah lulus dari ITB.

Bekerja cepat Pemuda asal Bandung lulusan S1 Mikrobiologi ITB itu bercerita, dia dituntut selalu bekerja dengan baik, cepat, dan siap dengan perubahan rencana karena kondisi yang serba dinamis.

Proses pengembangan vaksin AstraZeneca pun sangat cepat, karena dalam enam bulan sudah menghasilkan data uji preklinis dan inisial data untuk safety, serta imunogenitas di manusia.

"Biasanya untuk vaksin baru paling tidak memerlukan waktu lima tahun hingga tahapan ini," terang alumnus S2 Bioteknologi ITB dengan Fast Track Program tersebut.

 

Indra Rudiansyah

Indra Rudiansyah(Dok. Pribadi)

 

Dalam prosesnya, studi dilakukan terhadap 560 orang dewasa yang sehat, termasuk 240 orang berusia di atas 70 tahun. Hasilnya, vaksin virus corona AstraZeneca lebih dapat ditoleransi pada orang yang lebih tua daripada orang dewasa muda.

Lebih dari 600 juta dosis vaksin AstraZeneca kini telah dipasok ke 170 negara di seluruh dunia, termasuk 100 negara lebih yang tergabung dalam COVAX.

Meski harganya termurah, efikasi atau kemanjuran vaksin AstraZeneca cukup tinggi, termasuk mencegah infeksi Covid-19 varian Delta hingga 92 persen.

Baca juga: Mengenal Vaksin AstraZeneca yang Diklaim Efektif Lawan Varian Delta Pesan untuk Indonesia Saat dihubungi Kompas.com pada 17 Januari 2021, Indra Rudiansyah menyampaikan pesan kepada Indonesia yang sedang dalam proses vaksinasi nasional.

“Jadi, sebenarnya vaksin yang ada sekarang ini (dan sudah mulai diberikan pada masyarakat) kan bisa dikatakan sebagai emergency used ya sehingga clinical trial itu masih terus berjalan," jelas pemuda kelahiran 1 September 1991 tersebut.

"Pasien yang sudah divaksinasi akan terus dipantau. Menurut data yang diumumkan, (semua jenis) vaksin ini memiliki efektivitas hingga enam bulan,” imbuhnya.

Indra Rudiansyah juga sedikit memberikan pandangannya terhadap vaksin Sinovac yang digunakan di Indonesia.

Ia menyebut, vaksin Sinovac memang benar dapat melindungi seseorang dari gejala berat Covid-19 seperti halnya vaksin Pfizer dan AstraZeneca, tetapi belum menjamin kebal dan tidak akan terinfeksi.

 

Ilustrasi Vaksin Sinovac

Ilustrasi Vaksin Sinovac(SHUTTERSTOCK/Shan_shan )

 

“Bisa terhindar dari penyakit akibat virus corona. Meski begitu, (masyarakat) tetap harus waspada. Sebab, sampai saat ini belum ada data apakah semua vaksin bisa mencegah seseorang dari terinfeksi," tutur Indra.

Artinya, sambung Indra, seseorang yang divaksin masih bisa terinfeksi dan dapat menularkan ke orang lain.

Selain itu, Indra juga mengingatkan kepada masyarakat Indonesia untuk tetap taat pada protokol kesehatan yang berlaku, dan yang bisa bekerja dari rumah sebisa mungkin jangan keluar untuk keperluan tidak mendesak.

“Indonesia ini kan dibangun dari mikroekonomi. Banyak dari mereka adalah pedagang dan harus keluar rumah mencari uang. Tidak bisa disalahkan karena mereka tetap harus menyambung hidup."

"Nah, yang bekerja dari rumah ini kan sebenarnya privilege (hak istimewa). Jadi, sebisa mungkin jangan egois ingin keluar rumah dengan alasan bosan atau ingin hiburan,” pungkas Indra Rudiansyah alumnus Beswan Djarum 2011-2012.


Editor : Aditya Jaya Iswara

 

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - AstraZeneca telah merealisasikan pengiriman 14,7 juta dari total 50 juta dosis vaksin COVID-19 untuk Indonesia sesuai dengan perjanjian bilateral kedua belah pihak dalam upaya penanggulangan pandemi.

"Kami siap untuk terus melanjutkan kerja sama dengan pemerintah dan berbagai pihak di Indonesia dalam mendukung misi memulihkan Indonesia," kata Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia Sewhan Chon melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Sewhan mengatakan AstraZeneca hari ini mengirimkan 1.041.400 dosis vaksin COVID-19 untuk Indonesia sebagai bagian dari perjanjian bilateral antara AstraZeneca dan Pemerintah Indonesia untuk pengiriman 50 juta dosis vaksin ke Indonesia.

Pengiriman ini menambah jutaan dosis vaksin AstraZeneca yang telah diterima Indonesia melalui COVAX dan donasi dari berbagai negara.

"Sampai saat ini, sekitar 14,7 juta dosis vaksin AstraZeneca telah dikirimkan ke Indonesia. AstraZeneca juga akan mengirimkan jutaan dosis vaksin lagi dan mendukung pengiriman dosis tambahan melalui COVAX maupun donasi secara nirlaba," katanya.

Dalam keterangan tertulis itu juga disampaikan bahwa vaksin tersebut akan mendukung Program Imunisasi Nasional yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan RI dan akan mempercepat rencana pemerintah untuk memvaksinasi masyarakat luas secepat mungkin demi mengendalikan angka penularan COVID-19 yang saat ini tengah meningkat di Indonesia.

Sewhan menambahkan AstraZeneca terus mengadakan pasokan vaksin ke seluruh dunia secara merata dengan prinsip nirlaba selama masa pandemi, melalui COVAX dan pengiriman langsung melalui Perjanjian Bilateral dengan berbagai pemerintah.

AstraZeneca adalah perusahaan farmasi global pertama yang bergabung dengan COVAX pada Juni 2020 dan sejauh ini telah memasok lebih dari 90 persen vaksin yang didistribusikan COVAX secara global.

Saat ini hampir 45 juta dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca telah dikirimkan ke seluruh negara ASEAN dan lebih dari 700 juta dosis vaksin AstraZeneca telah dipasok ke 170 negara di seluruh dunia.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Kedatangan vaksin hibah dari Jepang ini menjadikan jumlah vaksin AstraZeneca yang sudah diterima Indonesia menjadi 9.226.800 dosis. Sedangkan total vaksin COVID-19 dari semua merek telah diterima Indonesia meningkat menjadi 99.226.800 dosis.

Dalam jumpa pers secara virtual menyambut kedatangan vaksin AstraZeneca sumbangan dari Jepang itu, Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengatakan kedatangan 998.400 dosis vaksin AstraZeneca ini merupakan pengiriman pertama dari rencana dua kali pasokan vaksin AstraZeneca donasi dari Jepang.

 

Wamenlu Mahendra Siregar (Foto: Dokumentasi Humas Setkab)
Wamenlu Mahendra Siregar (Foto: Dokumentasi Humas Setkab)

 

Mahendra menambahkan Indonesia berterima kasih kepada pemerintah dan rakyat Jepang yang telah berbagi vaksin COVID-19 dan mendukung secara konkret penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia.

Dia menegaskan Jepang merupakan mitra strategis bagi Indonesia dan kerjasama kedua negara terus berkembang meski di masa pandemi COVID-19.

Menurut Mahendra, di awal pandemi COVID-19 kerjasama bilateral terlihat dari sokongan pemerintah Jepang dalam memulangkan 69 warga Indonesia merupakan kru kapal pesiar Diamond Princess.

"Jepang juga telah menyalurkan berbagai bantuan penanganan COVID-19 melalui berbagai organisasi internasional serta memberikan dukungan pengadaan obat Avigan dan mobil sinar X," kata Mahendra.

 

Seorang perempuan menerima satu dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca dalam program vaksinasi massal untuk Kawasan Wisata Hijau di Sanur, Bali, 23 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Nyimas Laula)
Seorang perempuan menerima satu dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca dalam program vaksinasi massal untuk Kawasan Wisata Hijau di Sanur, Bali, 23 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Nyimas Laula)

 

Mahendra mengatakan dukungan Jepang terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia diyakini dapat membantu mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Hal ini penting bagi kerjasama bilateral Indonesia-Jepang.

Mahendra menegaskan Jepang tahun lalu adalah mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia dan termasuk investor terbesar di tanah air.

Menkes Berharap Tambahan Hibah Vaksin

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan secara keseluruhan Jepang akan memberikan bantuan sebanyak 2,1 juta dosis vaksin AstraZeneca. Dia mengharapkan hibah vaksin dari Jepang akan ditambah lagi.

 

Menkes Budi Gunadi Sadikin. (Biro Press)
Menkes Budi Gunadi Sadikin. (Biro Press)

 

"Vaksin AstraZeneca ini akan kita distribusikan, tadi baru diputuskan oleh Bapak Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Luhut Binsar Pandjaitan), semua vaksin yang kita peroleh (dari Jepang hari ini), 50 persen akan didistribusikan ke kabupaten/kota yang masuk ke level 3 dan 4 dari laju penularan, sisanya akan dibagi ke seluruh Indonesia," ujar Budi Gunadi.

Pada jumpa pers tersebut, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Keni Kanasugi menyampaikan pesan dari Perdana Menteri Yoshihide Suga untuk Presiden Joko Widodo yang dia bacakan dalam Bahasa Indonesia.

Pesan itu mempertegas persahabatan erat Jepang-Indonesia lewat bantuan hampir satu juta dosis vaksin AstraZeneca.

Dalam pesan singkat yang dibacakan oleh Kanasugi itu, Perdana Menteri Suga menekankan Jepang ingin terus bekerjasama dengan Indonesia yang merupakan mitra strategis Jepang untuk mengatasi COVID-19.

Kanasugi juga menyoroti melonjaknya kasus harian COVID-19 Indonesia yang melonjak tinggi sehabis lebaran Idul Fitri.

"Pemerintah Indonesia dan para tenaga kesehatan selama ini telah berupaya menangani COVID-19 dengan sungguh-sungguh, namun ada banyak orang yang meninggal dunia. Saya ingin menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya untuk kasus kematian akibat COVID-19. Saya juga ingin menyampaikan apresiasi terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan tenaga kesehatan," ujar Kanasugi.

Kanasugi berharap 998.400 dosis vaksin AstraZeneca pemberian Jepang hari ini dapat mendukung upaya pemerintah Indonesia dan tenaga kesehatan dalam menangani pandemi COVID-19.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito menjelaskan vaksin AstraZeneca hibah dari Jepang itu akan diproses lewat jalur yang sama dengan vaksin-vaksin merek lain untuk mendapatkan izin penggunaan darurat dari BPOM. [fw/em]

Diterbitkan di Berita
Khadijah Nur Azizah - detikHealth Jakarta - Laporan terbaru menunjukkan vaksin AstraZeneca efektif melawan varian Delta, varian Corona yang disebut sangat cepat penularannya dan ditemukan pertama kali di India. Kemanjuran vaksin terhadap Kappa, varian lain yang ditemukan di India, juga telah terbukti.

Hasil tersebut didapatkan dari penelitian terbaru Universitas Oxford terhadap kemampuan antibodi monoklonal dalam darah seseorang yang pulih, dan dari mereka yang divaksin untuk menetralkan varian tersebut.

"Hasil studi Oxford dibangun berdasarkan analisis terbaru oleh Public Health England (PHE)," kata perusahaan merujuk otoritas kesehatan di Inggris tersebut, dikutip dari Reuters, Rabu (23/6/2021).

 
 
Tak Boleh Lagi Pakai Nama Negara! Ini Daftar Nama Baru Varian Corona
Tak Boleh Lagi Pakai Nama Negara! Ini Daftar Nama Baru Varian Corona Foto: infografis detikHealth

 

Pekan lalu, PHE juga mengeluarkan hasil riset yang menunjukkan AstraZeneca menawarkan perlindungan tinggi terhadap varian Delta. Vaksin memberikan 92 persen perlindungan ke penerimanya, dari risiko rawat inap ke rumah sakit akibat varian Delta.

Pembuat obat di seluruh dunia bergegas untuk menguji kemanjuran vaksin terhadap varian yang muncul dari COVID-19 yang terbukti lebih mudah menular daripada varian aslinya.

Varian Delta juga telah menjadi varian yang mendominasi secara global, membuat para ahli menyarankan mempercepat program vaksinasi yang telah berlangsung di banyak negara di dunia.


(kna/up)

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 3