Refleksi Hari Jumat Ketika Masjid Megah dan Indah Hanya Menjadi Latar Swafoto Pilihan

Jumat, 09 Oktober 2026 22:35
(0 pemilihan)

Suara azan Dhuhur ala Masjid Nabawi mengalun merdu dari sebuah masjid megah dengan menara menjulang, kubah raksasa, marmer berkilau, dan taman tertata indah. 

Di halaman masjid kebanggaan pemerintah daerah itu, sejumlah jamaah masih sibuk mengambil gambar dengan ponsel. Ada yang berfoto di depan kubah, mencari sudut terbaik, atau mengunggah hasil jepretannya ke media sosial.

Tentu, tak ada yang salah dengan aktivitas tersebut. Keindahan masjid memang layak dinikmati dan disyukuri.

Mengabadikannya melalui swafoto atau selfie pun tidak otomatis berarti mengabaikan makna ibadah. 

Fenomena menjamurnya masjid megah dan indah di negeri ini bahkan dapat dimaknai sebagai wujud kecintaan umat terhadap agamanya.

Meski demikian, ada pertanyaan yang mengusik nurani: apakah kemegahan fisik masjid-masjid itu telah berjalan seiring dengan kemakmuran spiritualnya? 

Sebab, kemegahan bangunan semestinya berbanding lurus dengan fungsi utamanya, yakni menjadi sarana manusia beriman untuk mendekatkan diri kepada Rabb-nya.

**

Sebuah masjid tentu sangat boleh menjadi bangunan yang mengagumkan. Namun, akan jauh lebih mengagumkan jika ia juga menjadi tempat belajar, berdialog, membaca, bersedekah, menyelesaikan persoalan sosial, dan menemukan kembali ketenangan batin.

Apa artinya kubah menjulang jika tradisi ilmu di bawahnya tidak ikut menjulang? Apa artinya ruang yang luas jika hanya sedikit orang yang duduk di dalamnya untuk mengaji? 

Begitu juga apa artinya masjid menjadi ikon daerah jika keberadaannya belum cukup dirasakan oleh mereka yang hidup dalam kesulitan di sekitarnya?

Di sinilah budaya swafoto menjadi salah satu gejala dari persoalan yang lebih luas: kita hidup pada zaman ketika pengalaman keagamaan semakin mudah berubah menjadi pengalaman visual. 

Sesuatu dianggap menarik jika bisa dipotret, tempat dianggap istimewa jika layak diunggah ke media sosial, bahkan pengalaman spiritual kadang terasa belum lengkap sebelum didokumentasikan.

**

Masjid pun berpotensi terjebak dalam logika serupa. Ia menjadi destinasi untuk dikunjungi, difoto, dan dibagikan. 

Hal itu tidak selalu buruk. Media sosial dapat memperkenalkan masjid sekaligus mengundang orang untuk datang. 

Namun, jangan sampai popularitas visual membuat kita melupakan fungsi yang lebih sunyi: masjid sejatinya merupakan ruang untuk mendidik hati dan mencerdaskan pikiran.

Karena itu, ukuran kemakmuran masjid mungkin perlu diperluas. Bukan sekadar besarnya bangunan, indahnya arsitektur, atau banyaknya unggahan foto, melainkan seberapa banyak kehidupan yang disentuhnya. 

Berapa banyak anak yang tumbuh mencintai ilmu? Berapa banyak orang miskin yang merasa tidak sendirian?

Berapa banyak anak muda yang leluasa bertanya tanpa takut dihakimi? Dan berapa banyak orang yang pulang dengan hati lebih tenang serta perilaku lebih baik?

Kemakmuran masjid tidak selalu diukur dari ramainya kegiatan. Terkadang, ia hadir dalam hal sederhana: pintu yang terbuka bagi siapa saja, pengurus yang bersedia mendengar, jamaah yang saling menyapa, dan suasana yang membuat orang tidak takut kembali setelah lama menjauh. 

**

Masjid yang hidup ialah masjid yang menumbuhkan kebiasaan salat, tradisi membaca, forum keilmuan, kepedulian sosial, dan akhlak yang lebih baik.

Masjid seperti itu mungkin bukan yang paling terkenal. Namun, pengaruhnya tumbuh diam-diam melalui keluarga yang lebih rukun, anak muda yang lebih percaya diri, dan warga yang lebih ringan menolong sesamanya.

Di tengah kebutuhan masyarakat yang terus berubah, masjid perlu berani membaca zaman. Perpustakaan kecil, ruang konsultasi keluarga, pelatihan keterampilan, layanan bagi musafir, hingga kegiatan yang merangkul penyandang disabilitas dan kelompok rentan dapat menjadi wujud nyata kepedulian.

Dengan demikian, masjid tidak sekadar menjadi tempat yang dikunjungi pada waktu-waktu tertentu, tetapi hadir sebagai tetangga yang peduli setiap hari.

Allahu a’lam.***

 

Baca 11 kali Terakhir diubah pada Jumat, 09 Oktober 2026 22:38
Bagikan: