Puisi Budhiana Kartawijaya Pilihan

Budhiana Kartawijaya Senin, 21 April 2025 14:37
(8 pemilihan)

Perempuan Baja

Di pinggir jalan kota yang letih,
aku temukan wajah mereka,
perempuan-perempuan gagah,
menggendong anak dan karung-karung luka,
mengais sisa, menambal hidup dari serpih dunia.

"Aku bawa anak karena tak ada siapa-siapa,"
katanya,
“Suamiku dibui”
"Suamiku telah mati..."
"Suamiku hilang ingatan..."
"Suamiku terbaring sakit..."
"Suamiku, entah ke mana..."

Ada yang janda oleh nasib,
ada yang dibuang tanpa kata cerai,
ada yang hidup setengah-tak-hidup,
menjadi kepala rumah tangga
tanpa rumah,
tanpa tangga.

Mereka bukan sekadar bertahan—
mereka bertarung.
tangan mengumpulkan rongsokan,
punggung memanggul dunia,
Tapi mata menyimpan cahaya kecil
di ujung lorong nasib.

Ada yang merayapi tidurnya kota,
menjual tubuh kepada malam,
bukan karena ingin,
tetapi karena lapar tak sabar.
Orang pintar mencibir.
Tapi lupa, perlu kenyang untuk pintar.
Ada yang menatap menara—
menjadi guru, buruh pabrik, pedagang asongan,
menjadi ibu dan ayah dalam satu pelukan.

Dan ya,
ada yang berhasil—
membesarkan anak jadi sarjana,
membangun usaha dari nol,
menjadi direktur yang disegani,
menjadi pejabat yang bersih dan rendah hati,
tapi tak satu pun lupa
bagaimana rasanya
menghitung receh di lindung temaram.

Di desa, perempuan tanam harapan
pada tanah gersang dan janji tipis.
Di kota, mereka menanam hari
pada keramaian yang tak peduli.
Namun di mana pun,
mereka tetap
akar bumi.

Dan di balik wajah lelah,
ada ketabahan
tak pernah dimuat di koran,
tak pernah dipuji pejabat,
tapi jadi pondasi
mengapa negeri masih bisa berjalan.

Budhiana Kartawijaya.

Catatan:
Sajak ini saya buat sebelum Covid. Saat itu saya harus melakukan penelitian akademis tentang PEKKA, atau perempuan kepala keluarga di Jawa Barat.
Agat terkejut juga, waktu itu angkanya cukup tinggi.
Setelah Covid juga tinggi. Pada 2023 ada 13.273.294 rumah tangga. Dari jumah itu, sekitar 19,6% rumah tangga dikepalai perempuan. Atau, ada 2.621.420 perempuan yang menjadi kepala rumah tangga. Mereka menjadi tulang punggung nafkah karena suami tak menafkahi karena alasan seperti saya lukiskan di sajak.

Selamat hari Kartini.
Bangsa ini masih ada karena perempuannya kuat.

 

Baca 435 kali
Bagikan: