Udara di Hastinapura tidak lagi terasa segar. Wangi bunga dan dupa yang seharusnya menyambut kemenangan Pandawa justru tertutup oleh bau asap dan kesedihan. Yudistira memang sudah menjadi raja, tahta itu sudah kembali padanya. Tapi rasanya dingin dan sepi. Kemenangan ini terasa seperti luka yang perih, bukan hadiah yang indah. Hal pertama yang harus mereka lakukan bukanlah mengadakan pesta, melainkan membersihkan diri. Membersihkan debu perang, membersihkan dosa, dan menenangkan jiwa mereka yang telah pergi. Maka, pergilah para Pandawa, Ibu Kunti, dan Drupadi ke tepi Sungai Gangga. Air sungai itu dipercaya bisa menghapus kesedihan dan dosa. Mereka memulai ritual Tarpana, yaitu upacara mempersembahkan air genggaman tangan untuk para arwah. Air sungai terasa dingin di kaki mereka yang lelah. Yudistira berdiri paling depan. Bahunya tampak turun, seolah memikul beban berat yang tak terlihat mata. Satu per satu nama disebut. Drona, guru mereka. Bhishma, kakek mereka. Abimanyu, anak kesayangan Arjuna. Setiap kali Yudistira menyiramkan air ke sungai, rasanya seperti ia sedang menangis, tapi air matanya sudah habis. Setelah mendoakan keluarga dan teman sendiri, mereka mendoakan pihak musuh, para Kurawa. Nama Duryodhana dan adik-adiknya disebut. Dulu mereka memang saling membenci, tapi sekarang kematian sudah menghapus rasa benci itu. Mereka tetaplah saudara sepupu yang berhak mendapatkan doa. ** Kunti berdiri agak di belakang. Wajahnya pucat dan sedih. Ia menatap Yudistira dengan perasaan bersalah yang luar biasa. Ia menyimpan sebuah rahasia besar rahasia yang seandainya ia bongkar lebih dulu, mungkin perang mengerikan ini tidak perlu terjadi. Saat ritual hampir selesai, Yudistira mengangkat cawan air terakhirnya. Ini untuk mendoakan para prajurit tanpa nama yang gugur di medan perang. Namun, tiba-tiba terdengar suara Kunti menghentikannya. “Tunggu, Nak.” Suara itu terdengar rapuh dan bergetar. Semua orang menoleh. Yudistira menurunkan tangannya. Kunti melangkah maju dengan berat. “Masih ada satu orang lagi yang belum kau sebut namanya,” bisik Kunti pelan, tapi cukup jelas terdengar di tengah kesunyian sungai. “Ada satu ksatria lagi yang harus kau doakan, Yudistira.” Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa saling pandang bingung. Siapa lagi? Bukankah semua keluarga sudah disebut? Kunti menatap air sungai yang mengalir deras, membayangkan masa lalunya. Air matanya mulai menetes. “Karna,” ucap Kunti. Satu nama itu membuat suasana menjadi tegang. Yudistira terkejut. Bima dan Arjuna mengerutkan kening. Karna adalah musuh terbesar mereka. Mengapa dia harus didoakan secara khusus? “Ibu… kenapa Karna?” tanya Yudistira heran. “Kami sudah mendoakan semua musuh. Karna sudah termasuk di dalamnya. Kenapa aku harus memberinya persembahan khusus?” Tangis Kunti pecah. Ia tidak kuat lagi menahan beban ini. Tubuhnya merosot duduk di tanah berlumpur. “Bukan sebagai musuh, Nak,” isak Kunti. “Tapi sebagai kakak sulungmu. Dia adalah kakak kandungmu sendiri, Yudistira. Dia adalah kakak tertua kalian berlima!” ** Suasana hening seketika. Rasanya seperti waktu berhenti berputar. Namun, di dalam kepala para Pandawa, suasana justru menjadi sangat bising. Ingatan mereka melayang mundur, kembali ke tengah debu dan darah di padang Kurukshetra. Tiba-tiba, potongan-potongan kejadian aneh selama perang itu menjadi masuk akal. Bima, yang badannya paling besar namun hatinya kini terasa paling kecil, gemetar hebat. Ia teringat kejadian beberapa hari lalu. Saat itu, ia sudah kalah dan terkapar di hadapan kereta perang Karna. Ujung panah Karna sudah mengarah padanya. Tapi apa yang dilakukan Karna? Ia hanya memukul pelan kepala Bima dengan ujung busurnya dan mengejeknya. Dulu, Bima mengira itu penghinaan. Sekarang ia sadar, Karna tidak membunuhnya karena Karna tidak sanggup membunuh adiknya sendiri. Ejekan itu hanyalah alasan agar Bima pergi menjauh dan selamat. Nakula dan Sadewa pun saling berpegangan tangan, wajah mereka pucat pasi. Mereka ingat saat pedang Karna sudah berada di leher mereka. Karna bisa saja menghabisi si kembar dalam satu kedipan mata. Tapi Karna justru menurunkan pedangnya dan membiarkan mereka pergi. Mereka selamat karena belas kasih musuh yang ternyata adalah darah daging mereka sendiri. Namun, hantamam yang paling keras dirasakan oleh Arjuna. Sang Pahlawan Pemanah itu menatap kedua tangannya sendiri dengan tatapan ngeri. Tangan yang sama yang menarik tali busur Gandiva. Tangan yang sama yang melepaskan panah Anjalika yang memenggal leher Karna. Ingatannya berputar kembali ke momen fatal itu. Ia ingat Karna yang sedang tak berdaya, turun dari kereta untuk mengangkat roda yang terperosok lumpur. Ia ingat Karna berteriak meminta keadilan, "Jangan bunuh aku saat aku tak bersenjata!" Dan apa yang Arjuna lakukan? Didorong oleh perintah Krishna, ia tetap melepaskan panah itu. Ia membunuh kakaknya sendiri yang sedang tidak memegang senjata. “Aku membunuhnya...” bisik Arjuna, suaranya gemetar, kakinya lemas hingga ia jatuh berlutut. “Dia mengampuni nyawa Bima, Nakula, dan Sadewa... Tapi aku? Aku justru membunuhnya saat dia sedang membetulkan rodanya...” Rasa bangga atas kemenangannya seketika berubah menjadi racun. Gelar ksatria terbaik terasa seperti ejekan. Tidak ada kemenangan dalam membunuh kakak kandung. Yang ada hanyalah noda darah abadi yang tidak akan pernah bisa dicuci oleh air Sungai Gangga sekalipun. ** Melihat kehancuran di wajah anak-anaknya, Kunti menambahkan dengan suara lirih, “Sebelum perang, aku menemuinya. Aku memohon padanya untuk kembali. Tapi dia menolak karena kesetiaannya pada Duryodhana. Namun, dia berjanji satu hal padaku...” Kunti menelan ludah, suaranya tercekat. “Dia berjanji tidak akan membunuh kalian berempat. Dia berkata, 'Anakmu akan tetap berjumlah lima, Ibu. Jika aku membunuh Arjuna, maka aku yang hidup bersama empat saudaraku. Jika Arjuna membunuhku, maka kelima Pandawa tetap utuh.' Dia memilih untuk mati di tangan adiknya, daripada membunuh adik-adiknya.” Mendengar itu, pertahanan Yudistira runtuh sepenuhnya. Mereka baru sadar bahwa kemenangan mereka bukanlah karena kehebatan strategi perang semata. Mereka masih bernapas hari ini semata-mata karena Karna telah menjaga nyawa mereka diam-diam. Kakak yang mereka benci, kakak yang mereka hina sebagai anak kusir, ternyata telah menjadi pelindung mereka di medan perang. Yudistira tidak berteriak marah-marah, tapi suaranya berubah menjadi dingin dan menakutkan, matanya menatap tajam ke arah ibunya. “Kapan?” tanya Yudistira. “Kapan Ibu memutuskan untuk menceritakan ini? Setelah dia mati? Setelah kami membunuhnya? Setelah kami berdosa besar karena membunuh kakak sendiri?” Kunti memohon ampun, “Itu dosa masa mudaku, Nak. Aku malu. Aku takut…” “Malu?” potong Yudistira, suaranya meninggi. “Rasa malu Ibu itu telah menyebabkan perang besar! Jika kami tahu Karna adalah kakak kami, kami akan memberikan tahta ini padanya dengan senang hati! Tidak akan ada perang, tidak akan ada darah yang tumpah! Kami membunuh saudara kami sendiri demi kerajaan yang sebenarnya adalah hak miliknya!” Hati Yudistira yang lembut kini terbakar amarah dan penyesalan. Ia merasa dibohongi oleh wanita yang paling ia hormati. Dalam puncak kemarahannya, Yudistira berdiri tegak, menatap ibunya dan seluruh wanita yang ada di sana. “Karena rahasia yang disimpan Ibu telah menghancurkan duniaku,” ucap Yudistira dengan suara lantang yang menggelegar, “Maka mulai hari ini, aku mengutuk seluruh kaum wanita di dunia! Tidak akan ada wanita yang mampu menyimpan rahasia lagi! Apapun rahasianya, mulut mereka akan menceritakannya! Dunia tidak boleh lagi hancur hanya karena seorang wanita menyembunyikan kebenaran!” ** Kunti menangis tersedu-sedu mendengar kutukan putranya sendiri. Burung-burung terbang menjauh karena takut mendengar suara sang Raja Dharma yang murka. Setelah emosinya keluar, tenaga Yudistira habis. Ia duduk lemas di tepi sungai. Dengan tangan gemetar, ia mengambil air sungai Gangga lagi. Kali ini, ia menyebut nama itu dengan penuh hormat dan kasih sayang. “Untukmu, Karna, putra Kunti, kakak sulungku. Maafkan kami. Semoga jiwamu tenang.” Air itu tumpah ke sungai. Akhirnya, Karna diakui sebagai saudara. Beberapa hari kemudian, pekerjaan berat lainnya dimulai. Padang Kurukshetra harus dibersihkan. Ribuan mayat prajurit yang gugur harus dikremasi atau dibakar secara layak. Di padang luas yang dulunya tempat perang itu, kini dibangun ribuan tumpukan kayu bakar. Pandawa memimpin upacara itu. Mereka tidak lagi membedakan mana kawan mana lawan. Semua jenazah diperlakukan hormat. Drona, Bhishma, bahkan Duryodhana, semua mendapat upacara yang layak. Dan tentu saja, jenazah Karna dibakar dengan upacara khusus yang dipimpin langsung oleh adik-adiknya yang baru ia miliki setelah ia mati. Api pemakaman menyala di mana-mana, menerangi langit sore hingga malam hari. Asap membubung tinggi, membawa pergi arwah-arwah para ksatria. Yudistira menatap api itu dengan tatapan kosong. Perang sudah selesai. Musuh sudah habis. Ia adalah Raja sekarang. Tapi hatinya terasa berat. Ia sadar, mahkota yang ia pakai sekarang dibayar dengan darah saudaranya sendiri. Era baru telah dimulai, tapi dimulai dengan air mata dan penyesalan yang tak akan pernah hilang.*** (Al-Hilal Hamdi adalah alumnus ITB 1973). #KutukanYudistira #RahasiaKunti #Mahabharata #KarnaPandawa #KemenanganPalingPahit