Melongok Inggris 1986: Syok Budaya dan Jurnalistik yang "Tidak Sopan" Pilihan

Melongok Inggris 1986: Syok Budaya dan Jurnalistik yang "Tidak Sopan" express.co.uk
Witan Odakar Gea ITB ‘73 Selasa, 30 September 2025 20:29
(10 pemilihan)

Tahun 1986, saya, seorang anak manusia dari bumi pertiwi, mendarat di Inggris Raya. Bukan untuk bertemu Ratu (jelas), tapi untuk, ya, mencari ilmu dan pencerahan. Dan benar saja, pencerahan itu datang, bukan dari buku tebal, tapi dari kotak ajaib bernama TV.

Jujur saja, pertama kali nonton acara di BBC atau ITN, saya nyaris tersedak teh. Ada acara namanya Spitting Image. Bayangkan, keluarga Kerajaan Inggris—simbol kemuliaan, kehormatan, dan jaminan pariwisata—diolok-olok! Politisi-politisi berwibawa disindir habis-habisan lewat film animasi/boneka yang temanya diambil dari situasi aktual.

Boneka Margaret Thatcher (Perdana Menteri saat itu) dibuat jadi tukang bully, dan Keluarga Kerajaan dibikin jadi karikatur yang... ah, sudahlah. Dengan kacamata Orde Baru yang saya bawa dari rumah, saya cuma bisa berbisik dalam hati, "Ini orang-orang gila, ya? Kok berani banget? Di Indonesia, kritik sedikit, besok paginya kantor redaksi bisa digeledah, atau yang lebih parah, redakturnya bisa jadi 'penghuni baru' Hotel Prodeo—atau malah lenyap tanpa jejak."

Rupanya, setelah diinvestigasi (investigasi sambil ngopi-ngopi), ada "aturan mainnya." Selama tokoh-tokoh yang diolok-olok itu tidak dipersonifikasi secara harfiah (artinya, ya itu boneka, bukan orang aslinya), ya boleh-boleh saja. Itulah, Saudara-saudara, cara media TV Inggris menyampaikan kritik sosial mereka—dengan humor yang menggigit, tapi tetap dalam bingkai hukum (yang, sungguh-sungguh, sangat longgar untuk ukuran saya waktu itu).

Debat Keras vs. Kebebasan yang "Kebablasan"

Tak hanya itu. Ada lagi acara yang namanya Question Time. Di sini, Anda akan melihat tontonan langka: perdebatan antara menteri dari partai berkuasa (Konservatif) melawan menteri bayangan dari oposisi (Partai Buruh). Mereka beradu argumen, saling potong, saling serang data—keras, brutal, tapi anehnya, masih dalam koridor etika yang entah bagaimana caranya, tetap baik.

Melihat ini, sekali lagi saya bergumam, "Wah, kalau acara semacam ini ada di Indonesia zaman Orba, dijamin besoknya studio sudah kosong melompong. Produser, pembawa acara, sampai tukang kopi di sana bisa jadi 'saksi bisu' reformasi yang belum datang."

Lompat ke masa kini. Sekarang, acara semacam itu menjamur di stasiun TV kita. Terima kasih (atau mungkin... terkutuklah) reformasi yang menjanjikan kebebasan pers. Tapi, kebebasan pers kita ini, entah mengapa, terasa seperti kebebasan pers yang salah kaprah dan kebablasan.

Suasananya? Jauh lebih liar dan, maaf, vulgar dari sekadar boneka Thatcher yang nyebelin di TV Inggris tahun '80-an.

Kritik sudah bercampur dengan hujatan, debat sudah berubah jadi teriakan tanpa substansi, dan yang lebih parah, saya jadi bertanya-tanya: Apakah ini benar-benar semangat kritis yang murni? Atau jangan-jangan, semua kegaduhan, kejar-kejaran rating yang bisa dikonversikan menjadi rupiah "kakap" itu, ada dalangnya? Entah itu sponsor politik yang haus kekuasaan, atau sekadar nafsu stasiun TV untuk meraih angka tertinggi di layar people meter mereka.***

Yang jelas, tontonan sekarang sudah jadi taman bermain bebas di mana batas antara kritik dan caci maki itu tipis sekali, seolah-olah etika tinggal kenangan. Dulu saya kagum dengan "keberanian" Inggris. Sekarang, saya malah ngeri dengan "kebebasan" kita. Mana yang lebih gila, boneka yang mengkritik, atau orang sungguhan yang teriak-teriak tanpa isi?

 

Baca 341 kali Terakhir diubah pada Selasa, 30 September 2025 20:33
Bagikan: