Dulu, markas organisasi mahasiswa lebih pantas disebut rumah daripada kamar kos yang kami bayar tiap bulan. Di sana ada tikar yang hafal bentuk punggung kami, kopi yang tak pernah benar-benar habis, gorengan yang lenyap sebelum rapat usai, dan mi instan yang naik pangkat menjadi menu perjuangan. Malam adalah universitas yang sesungguhnya. Kami berdebat sampai dini hari tentang revolusi, demokrasi, kelas, kebebasan; tentang Marx, Gramsci, Ali Shariati, buku-buku kiri baru dan sosial kritis yang berpindah tangan lebih sering daripada kembali ke sang pemilik. Tak semua kami pahami. Sering kami mengangguk penuh keyakinan, padahal maknanya baru tiba bertahun-tahun kemudian. Begitulah masa muda: keberanian berlari lebih cepat daripada pemahaman. Pagi datang bersama lembaran poster. Kami mencampur cat dan gagasan, menulis kemarahan dan harapan dengan huruf-huruf besar, seolah dunia bisa berubah hanya dengan satu spanduk. Jalanan menjadi ruang kuliah. Kami memimpin barisan, berorasi dan baca puisi di tengah massa, menjadikan kata-kata sebagai pengeras suara bagi mereka yang dibungkam. Ada masa ketika tank berdiri di depan kami. Kami takut—tentu saja. Lutut gemetar, dada berdebar. Namun langkah tetap maju. Sebab keberanian bukan ketiadaan takut, melainkan kesediaan berjalan bersama rasa takut. Kuliah? Ah, jangan ditanya. Kami lebih hafal jadwal konsolidasi daripada jadwal mata kuliah. Ujian diselamatkan oleh ritual keramat belajar sistem kebut semalam. Ajaibnya, IPK masih cukup untuk menenangkan orang tua. Kini poster-poster itu telah lenyap, markas telah berganti penghuni, dan wajah-wajah kami berubah oleh waktu. Namun aroma kopi, diskusi hingga fajar, dan puisi yang pernah menggema di jalan, selalu membawa kami pulang pada masa ketika kami percaya sejarah masih bisa diajak bicara. Kepulangan yang bukan sekadar kenangan, melainkan pantulan harapan bagi generasi mendatang: rawatlah keberanian berpikir, jaga api tradisi kritis, dan pastikan republik tetap berjalan dengan nurani yang berpihak pada keadilan dan kemanusiaan. Sebab mahasiswa bukan sekadar penghuni kampus, melainkan penjaga nurani zaman. https://www.instagram.com/p/DbwS0orz58o/?igsh=MXV6bnpqYngxcTB6Yw==