Masa Merah Muda Pilihan

Sabtu, 08 Agustus 2026 22:41
(0 pemilihan)

Dulu, markas organisasi mahasiswa lebih pantas disebut rumah daripada kamar kos yang kami bayar tiap bulan.

Di sana ada tikar yang hafal bentuk punggung kami,

kopi yang tak pernah benar-benar habis,

gorengan yang lenyap sebelum rapat usai,

dan mi instan yang naik pangkat

menjadi menu perjuangan.

Malam adalah universitas yang sesungguhnya.

Kami berdebat sampai dini hari

tentang revolusi, demokrasi, kelas, kebebasan;

tentang Marx, Gramsci, Ali Shariati,

buku-buku kiri baru dan sosial kritis

yang berpindah tangan

lebih sering daripada kembali ke sang pemilik.

Tak semua kami pahami.

Sering kami mengangguk penuh keyakinan,

padahal maknanya baru tiba

bertahun-tahun kemudian.

Begitulah masa muda:

keberanian berlari lebih cepat

daripada pemahaman.

Pagi datang bersama lembaran poster.

Kami mencampur cat dan gagasan,

menulis kemarahan dan harapan

dengan huruf-huruf besar,

seolah dunia bisa berubah

hanya dengan satu spanduk.

Jalanan menjadi ruang kuliah.

Kami memimpin barisan, berorasi dan baca puisi di tengah massa,

menjadikan kata-kata

sebagai pengeras suara

bagi mereka yang dibungkam.

Ada masa ketika tank berdiri di depan kami.

Kami takut—tentu saja.

Lutut gemetar, dada berdebar.

Namun langkah tetap maju.

Sebab keberanian bukan ketiadaan takut,

melainkan kesediaan berjalan

bersama rasa takut.

Kuliah?

Ah, jangan ditanya.

Kami lebih hafal jadwal konsolidasi

daripada jadwal mata kuliah.

Ujian diselamatkan oleh ritual keramat

belajar sistem kebut semalam.

Ajaibnya, IPK masih cukup

untuk menenangkan orang tua.

Kini poster-poster itu telah lenyap,

markas telah berganti penghuni,

dan wajah-wajah kami berubah oleh waktu.

Namun aroma kopi, diskusi hingga fajar,

dan puisi yang pernah menggema di jalan,

selalu membawa kami pulang

pada masa ketika kami percaya

sejarah masih bisa diajak bicara.

Kepulangan yang bukan sekadar kenangan,

melainkan pantulan harapan bagi generasi mendatang:

rawatlah keberanian berpikir,

jaga api tradisi kritis,

dan pastikan republik tetap berjalan 

dengan nurani yang berpihak

pada keadilan dan kemanusiaan.

Sebab mahasiswa bukan sekadar penghuni kampus,

melainkan penjaga nurani zaman.

               https://www.instagram.com/p/DbwS0orz58o/?igsh=MXV6bnpqYngxcTB6Yw== 

 

Baca 33 kali Terakhir diubah pada Sabtu, 08 Agustus 2026 22:59
Bagikan: