Jakarta, CNN Indonesia -- Vaksin Covid-19 AstraZeneca diklaim mampu melawan pengaruh dari varian mutasi virus SARS-CoV-2 yang saat ini juga mulai bermunculan di Indonesia.

Direktur AstraZeneca Indonesia Rizman Abudeiri meyakini vaksin pihaknya yang sudah disetujui peredarannnya di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) itu telah melalui banyak tahapan penelitian, mulai aspek keamanan, efikasi, dan kualitas.

"Kita juga harus percaya bahwa proses vaksinasi yang dilakukan hari ini tidak hanya bisa mencegah terjadinya penularan Covid-19, atau menuju herd immunity yang bermanfaat untuk pencegahan Covid-19. Tapi juga varian-variannya, kita harus percaya itu," kata Rizman dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Lawan Covid 19 ID, dikutip Jumat (4/6).

Risman menegaskan, kesepakatan untuk menggunakan vaksin buatan perusahaan farmasi Inggris itu di Indonesia telah melalui banyak kajian saintifik yang mendalam. Sehingga, pemerintah menurutnya telah mempertimbangkan baik-buruknya suatu vaksin.

Risman sekaligus menginformasikan saat ini sebanyak 400 juta dosis vaksin AstraZeneca telah diproduksi dan didistribusikan ke 165 negara.

Dari jumlah itu, AstraZeneca menurutnya juga mengedarkan vaksin melalui skema kerjasama multilateral Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI) COVAX Facility sebanyak 66 juta dosis ke 120 negara.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapat jatah vaksin dari skema COVAX Facility. Terhitung, saat ini Indonesia sudah kedatangan sebanyak kurang lebih 6 juta dosis vaksin AstraZeneca.

"Pemerintah dalam melakukan keputusan tidak main-main. Dan kami sebagai industri farmasi, data yang kita sampaikan sangat luar biasa. Dikaji sangat mendalam, sangat cermat, sehingga keputusan ini terjadi," ujarnya.

Masih di acara yang sama, Pemerhati Imunisasi, Julitasari Sundoro mengatakan mutasi merupakan hal lumrah yang terjadi sebagai respons kehidupan dari virus. Oleh sebab itu, Julitasari meminta masyarakat untuk tidak panik bahwa kegunaan vaksin akan sia-sia.

Julitasari memastikan sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang secara gamblang menegaskan hubungan pada mutasi virus yang menurunkan efikasi dan efektivitas vaksin. Ia meminta publik menunggu riset peneliti ihwal mutasi dan vaksin ini.

"Sebetulnya sampai saat ini belum ada bukti bahwa mutasi mengganggu kerja vaksin," kata dia.

Sebelumnya, hasil penelitian lembaga kesehatan di Inggris (PHE) menyatakan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca 66 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian Covid-19 B117. Sementara satu dosis vaksin AstraZeneca 50 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian B117 setelah 3 minggu disuntikkan.

Penelitian yang dilakukan oleh PHE dalam rentang waktu 5 April hingga 16 Mei 2021 ini juga mengemukakan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca 60 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian B1617 asal India. Pun dilaporkan pemberian satu dosis vaksin AstraZeneca 33 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian B1617 pasca 3 minggu vaksin tersebut disuntikkan.

(khr/ain)
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman mengungkapkan untuk sementara ini setidaknya ada 59 kasus mutasi virus corona (SARS-CoV-2) yang tergolong 'Variant of Concern (VoC)' atau varian yang perlu diwaspadai, berhasil teridentifikasi di Indonesia.

Puluhan kasus yang terdeteksi berdasarkan hasil Whole Genome Sequence (WGS) it terdiri atas tiga varian, yakni virus corona B117, B1617, dan B1351.

Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio menjelaskan, teknik pencarian strain virus baru WGS dilakukan bersama antara pihaknya dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan serta beberapa Universitas di Indonesia.

Amin juga menyebut Indonesia telah melaporkan temuan itu ke lembaga Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). GISAID adalah sebuah lembaga bank data yang saat ini menjadi acuan untuk data genom virus corona SARS-CoV-2.

"Data terakhir di beberapa hari yang lalu, kita sudah mendapatkan 23 virus dari B117, kemudian B1617 ini sudah ada 32 isolat yang diidentifikasi.

Kemudian yang dari Afrika Selatan B1351 ini ada 4 isolat sudah berhasil diidentifikasi," kata Amin dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Mikrobiologi FK-KMK UGM sebagaimana dikutip CNNIndonesia.com, Senin (31/5).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kata dia, sebelumnya sudah menetapkan ada empat varian yang masuk dalam kategori VoC atau varian yang perlu diwaspadai, yaitu B117 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan, B1617 dari India dan P1 dari Brasil.

VoC merupakan varian yang memiliki peningkatan penularan atau perubahan yang merugikan dalam epidemiologis, memiliki peningkatan virulensi atau perubahan presentasi penyakit klinis, bahkan mampu menurunkan efektivitas vaksin. 

Hanya saja masih sedikit bukti sehingga perlu penelitian lebih lanjut.

 
Infografis fakta mutasi covid-19 B117 Inggris masuk RI
Infografis fakta mutasi Covid-19 B117 Inggris masuk RI. (CNN Indonesia/Fajrian)

 

Lebih lanjut, Amin juga menyoroti perkembangan mutasi VoC di Indonesia mulai terlihat sejak awal 2021. Tapi menurut dia, puncaknya mulai terlihat pada April 2021 lalu.

"Puncaknya terjadi bulan April yang lalu, B1617 ini meningkat tajam, ini karena memang ada beberapa visitor yang berasal dari India sana datang ke Indonesia," ungkap Amin.

Amin sebelumnya juga menilai eksistensi mutasi VoC tersebut dikhawatirkan mampu mempengaruhi target herd immunity atau kekebalan kelompok terhadap virus corona di Indonesia.

Kendati demikian, ia menyebut hingga saat ini target capaian herd immunity masih belum bisa diprediksi dengan akurat, lantaran masih perlu dipastikan melalui serangkaian zero surveillance test.

(khr/nma)

Diterbitkan di Berita

Seorang Anak Buah Kapal (ABK) asal Philipina meninggal di RSUD Cilacap pada 11 Mei 2021 lalu. Kasus ini menjadi pintu gerbang masuknya varian baru virus COVID-19 dari India ke Jawa Tengah.

Kapal MV Hilma Bulker yang mengangkut gula berangkat dari India pada 14 April dan tiba di Pelabuhan Cilacap, Jawa Tengah, pada 25 April. Setelah pemeriksaan kesehatan, diketahui 14 dari 20 ABK positif terinfeksi COVID-19.

Salah satunya, berinisial DRA bahkan kondisinya cukup buruk hingga harus dirawat intensif sejak 30 April, dan kemudian meninggal pada 11 Mei.

 

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. (Foto: dok)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. (Foto: dok)

 

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memastikan, seluruh kontak erat korban sudah dilacak. Hasilnya kemudian diketahui, penularan sudah terjadi di lingkungan tenaga kesehatan RSUD Cilacap.

“Dilakukan whole genome sequencing, dan akhirnya semua positif ini varian baru dari India. Dan pada saat mereka dirawat di rumah sakit, di Cilacap, langsung kita tracing kontak erat dan kontak dekat.

Ternyata, nampaknya varian baru ini masuk ke perawat. Hari ini rumah sakit ditutup dan kita membuat isolasi,” papar Ganjar dalam acara yang diselenggarakan Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama), Minggu 23 Mei.

 

Kepastian mengenai varian baru diperoleh dari keteragan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan. Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji, hari Sabtu (22/5) dalam keterangan resmi di kantornya mengutip hasil pemeriksaan tersebut. Dijelaskan, bahwa 13 ABK Kapal MV. Hilma Bulker terkonfirmasi positif COVID-19 varian B.1617.2.

Sementara Direktur Utama RSUD Cilacap, dr. Moch. Ichlas Riyanto dalam kesempatan sama mengatakan, telah memeriksa 179 tenaga kesehatan, di mana 32 di antaranya diketahui melakukan kontak langsung dengan ketigabelas ABK itu.

 

Bupati Cilacap didampingi Satgas Covid-19 memastikan masuknya varian baru ini dalam keterangan resmi Sabtu 22 Mei 2021. (Foto: Dok Humas Pemkab Cilacap)
Bupati Cilacap didampingi Satgas Covid-19 memastikan masuknya varian baru ini dalam keterangan resmi Sabtu 22 Mei 2021. (Foto: Dok Humas Pemkab Cilacap)

 

Mutasi Ubah Skenario Pandemi

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr Riris Andono Ahmad menyebut, mutasi virus adalah cara dia beradaptasi dengan lingkungan. Dalam kasus ini, upaya virus untuk tetap bertahan hidup, memang akan merugikan jika dilihat dari sisi manusia. Sayangnya, itu adalah proses evolusi yang tidak dapat dihindari.

 

Karena itulah, setidaknya kini sudah ada empat varian baru, yaitu dari Inggris, Amerika Selatan, Afrika Selatan dan India. Kehadiran varian yang terus memperkuat diri ini, diyakini akan mengubah skenario pandemi COVID-19.

 

Epidemiolog UGM, Riris Andono Ahmad. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)
Epidemiolog UGM, Riris Andono Ahmad. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

 

“Karena dua dari mutasi virus tersebut menyebabkan kemampuan penularannya semakin meningkat, derajat keparahan meningkat, dan salah satu mutasi tersebut diperkirakan bisa menurunkan efektivitas dari vaksin. Nah kalau efektivitas vaksin semakin menurun, tentu akan sulit untuk menghentikan laju pandemi ini,” kata Riris.

Vaksin memang disebut-sebut sebagai penentu akhir pandemi. Di sejumlah negara yang telah berhasil melakukan vaksinasi, kebijakan pengetatan dalam bersosialisasi bahkan sudah dilonggarkan.

Namun, pandemi dalam skala dunia membutukan kondisi herd immunity atau kekebalan komunitas dalam skala dunia juga. Kondisi itu, disamping terkait cakupan skala vaksinasi, juga bergantung pada kecepatannya. [ns/ab]

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Kasus varian corona baru yang termasuk varian of concern (diwaspadai) semakin banyak ditemukan di Indonesia. Kini sudah ada 54 kasus, terdiri dari varian Inggris B117, varian Afrika Selatan B1351, dan varian India B1617.1 serta B1617.2
"Total kasus Variant of Concern sampai saat ini adalah 54 kasus, 18 kasus B117, 4 kasus B1351, dan 32 kasus adalah B1617," kata Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Vivi Setiawaty, dilihat kumparan di Youtube Pusdalops BNPB, Senin (24/5).
 
54 kasus ini dibawa oleh pihak dari luar negeri. Baik Warga Negara Asing (WNA) maupun Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Dari 54 kasus itu, terdapat 25 kasus yang baru dilaporkan tiap daerah per 20 Mei 2021. Terbanyak varian India yang dibawa oleh WN India di berbagai daerah.
 
Corona Baru Makin Merajalela di RI: Ditemukan 54 Kasus, Terbanyak Varian India (1)
Update kasus varian corona diwaspadai di Indonesia. Foto: Pusdalaops BNPB
 
Berikut data lengkap 54 varian baru corona yang perlu diwaspadai:
  • Arab Saudi: 4 kasus B117 terdiri dari 2 kasus PMI di Karawang, 1 kasus PMI di Balikpapan, dan 1 kasus PMI di Tangerang
  • Ghana: 1 kasus B117 dari PMI di Bogor
  • Kongo: 1 kasus B117 dari TNI di Mojokerto
  • Taiwan: 1 kasus B117 berasal dari WNA masuk via Jakarta.
  • Singapura:1 kasus B1617 berasal dari WNA masuk via Jakarta.
  • India: 1 kasus B117 dan 22 kasus B1617. Berasal dari 13 WNA masuk via Cilacap, 3 WNA masuk via Samarinda, 5 WNA masuk via Jakarta, dan 1 WNA masuk via Dumai.
  • Malaysia: 1 kasus B117 dari PMI masuk Bangkalan via Surabaya, 1 kasus B1351 dari PMI masuk Jember via Surabaya, dan 1 kasus B1617.2 dari Medan via Jakarta.
Diterbitkan di Berita

KOMPAS.com - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, varian baru virus corona B.1.617 telah menular secara transmisi lokal di Indonesia.

Diberitakan Kompas.com, Kamis (20/5/2021), penularan varian mutasi ganda asal India ini kini tidak hanya terjadi karena imported case (dibawa dari luar negeri) saja. Meski demikian, Nadia menegaskan kejadian transmisi lokal ini bukan merupakan fakta baru.

Kasus penularan akibat varian B.1.617 satu WNI di Jakarta sudah terdata oleh Kemenkes. "Benar memang ada penularan secara transmisi lokal varian B.1.617 terhadap WNI di Jakarta. Tetapi ini bukan kasus baru," ujar Nadia, saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (20/5/2021).

"Ini masuk data dua kasus penularan Covid-19 mutasi B.1.617 yang tercatat di Jakarta. Satu kasus adalah WNA India dan 1 kasus WNI," lanjutnya.

Hingga saat ini, Kemenkes mencatat ada 10 kasus positif Covid-19 di Indonesia yang tertular virus corona varian B.1.617. Data ini berdasarkan pemantauan Kemenkes sejak Januari 2021 hingga 19 Mei 2021.

Nadia menegaskan, transmisi lokal yang menjangkiti satu WNI di Jakarta itu masuk ke dalam 10 kasus yang dicatat Kemenkes tersebut. B.1.617 variant of concern WHO Sebelumnya pada Senin (10/5/2021), WHO resmi mengklasifikasikan B.1.617 sebagai variant of concern yang menjadi perhatian dunia.

Ini karena sejumlah riset telah menunjukkan bahwa varian yang menjadi pemicu tsunami Covid-19 di India ini menyebar lebih banyak dari virus asli dan punya kemungkinan dapat menghindari perlindungan vaksin.

Dilansir dari The Straits Times, Senin (10/5/2021), WHO menyampaikan suatu varian Covid-19 dapat diklasifikasikan sebagai variant of concern jika menunjukkan setidaknya satu dari kriteria berikut:

  1. Lebih mudah menular
  2. Menyebabkan penyakit yang lebih parah
  3. Secara signifikan mengurangi netralisasi oleh antibodi
  4. Virus dapat mengurangi efektivitas pengobatan, vaksin atau diagnosis.

Gejala B.1.617 Dilansir The Independent, Rabu (19/5/2021), meski varian B.1.617 menyebar lebih cepat dari varian Covid-19 lain, hingga saat ini belum ada bukti yang memastikan bahwa varian tersebut lebih berbahaya dan vaksin dipastikan tidak efektif melawannya.

Demikian juga gejala utama terkait infeksi B.1.617 disebut mirip dengan gejala Covid-19 umumnya, yakni:

  1. Batuk terus menerus
  2. Suhu tinggi
  3. Anosmia, kehilangan indra penciuman dan perasa

Memang, orang yang sudah divaksinasi akan lebih terlindungi dari jenis virus corona yang menyebar lebih cepat.

Namun, jika masih banyak orang yang belum divaksin atau menolak untuk vaksin, varian yang lebih menular berpotensi mendatangkan bencana.

Penulis : Gloria Setyvani Putri


Diterbitkan di Berita

Firdaus Anwar - detikHealth Jakarta - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi menjelaskan kasus harian COVID-19 Indonesia beberapa pekan terakhir cenderung stagnan.

Namun, angka kematian COVID-19 menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Secara lebih rinci Nadia menjelaskan saat ini ada 3,16 persen peningkatan angka kematian.

Mengapa kematian bisa meningkat sementara kasus Corona di Indonesia sedang landai atau stagnan masih perlu diselidiki lebih lanjut.

Hanya saja salah satu faktor yang dicurigai adalah karena kehadiran varian Corona dari luar negeri. Setidaknya sudah ada tiga varian yang dikonfirmasi di Indonesia yaitu B117 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan, dan terakhir B1617 dari India.

"Salah satu yang bisa timbul sebagai adanya varian atau mutasi ini adalah meningkatkan tingkat keparahan penyakit.," kata Nadia dalam konferensi pers yang disiarkan Kementerian Kesehatan RI, Selasa (4/5/2021).

"Dalam keadaan ini, walaupun harus kita lihat lebih lanjut, tetapi angka kematian yang terus meningkat secara signifikan ini tentunya menjadi kewaspadaan kita untuk berhati-hati apakah varian atau mutasi virus inilah yang menyebabkan terjadinya hal ini," lanjutnya.

Nadia kembali mengimbau agar masyarakat patuh terhadap aturan pemerintah terkait larangan mudik. Berkaca dari pengalaman sebelumnya dan yang terjadi di negara tetangga, kasus COVID-19 bisa meledak dengan cepat apabila terdapat pelonggaran protokol kesehatan.


(fds/up)

Diterbitkan di Berita

Waspada Varian Baru Covid-19

Minggu, 14 Maret 2021 10:11

katadata.co.id

Varian baru virus Covid-19 ini lebih cepat menular dibanding varian virus Covid-19 sebelumnya. Penularannya bisa mencapai 40 hingga 70 persen. Mutasi virus Corona B117 kini telah ditemukan di Indonesia, yakni dua kasus di Karawang, Jawa Barat.

Adapun varian baru ini pertama kali muncul di Inggris. Menurut Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman, varian baru virus Covid-19 ini lebih cepat menular dibanding varian virus Covid-19 sebelumnya. Penularannya bisa mencapai 40 hingga 70 persen. 

"Ada potensi pada event super spreader atau keramaian akan sangat efektif (menular) itu. Karena 40 sampai 70% cepat menular," ujar Dicky mengutip Kompas (3/3).

Sementara itu, menurut data terakhir New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (NERVTAG), varian B117 memiliki potensi peningkatan gejala dan peningkatan mortalitas.

Kelompok penasihat pemerintah Inggris soal varian baru telah mencatat adanya peningkatan dengan persentase maksimal 35 persen.

"Data terakhir dari New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (NERVTAG), jadi grup yang memberikan nasihat kepada pemerintah Inggris terkait dengan varian baru, secara umum menunjukkan peningkatan gejala dan peningkatan mortalitas, tapi ini potensinya sebanyak maksimal 35 persen," kata peneliti geomik molekuler dan anggota Konsorsium Covid-19 Genomics Inggris, Riza Arief Putranto mengutip CNBC (10/3).

Untuk itu, pemerintah Indonesia mengimbau masyarakat tetap waspada dan tetap menjalankan protokol kesehatan. Sejumlah tindakan mitigasi pun diambil oleh pemerintah, terutama melakukan pembatasan perjalanan luar negeri.

"Pemerintah memastikan bahwa penyaringan di pintu-pintu masuk Indonesia telah dilakukan, dan sudah diatur mengenai kedatangan perjalanan luar negeri dalam surat edaran Satgas nomor 8/2021, tentang karantina selama lima hari setelah perjalanan dari luar," ujar Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito. Dia menegaskan langkah ini adalah upaya pengawasan untuk mencegah penyebaran varian baru Covid-19 agar tidak menyebar di Indonesia.

Penulis: Arofatin Maulina Ulfa
Editor: Arie Mega Prastiwi

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Otoritas kesehatan sekarang menghadapi rintangan besar baru seiring ditemukannya varian baru virus corona yang lebih menular yakni B117 yang pertama kali muncul di Inggris lalu menyebar ke negara lain termasuk Indonesia seperti yang diungkapkan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono pada Selasa (2/3).

Dia mengofirmasi dua kasus COVID-19 dengan mutasi B117. Para peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine seperti dikutip dari ABC News, Rabu, memperkirakan varian ini 56 persen lebih menular.

Sebuah studi pracetak terpisah dari para peneliti di Imperial College London menemukan varian baru meningkatkan reproduksi virus dengan jumlah rata-rata orang yang terinfeksi orang yang positif antara 0,4 dan 0,7.

Apa yang membuatnya lebih menular? Kecepatan penyebaran B117 menunjukkan varian ini membawa fitur biologis tertentu atau mutasi dalam genomnya yang membuatnya lebih menular.

Mutasi genetik sebenarnya bagian normal dan diharapkan dari evolusi virus, tetapi terkadang virus memperoleh mutasi menguntungkan yang memungkinkan mereka untuk mengungguli varian lain yang beredar, kata pakar virologi di University of Sydney, Prof. Eddie Holmes.

Ada juga bukti awal yang menunjukkan varian B117 menghasilkan viral load (tingkat replikasi virus dalam tubuh) yang lebih tinggi. Ini artinya, ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, mereka cenderung menyebarkan lebih banyak virus.

 

Kiat melindungi diri dari varian B117

Varian ini menyebar dengan cara yang sama seperti virus corona. Anda kemungkinan besar tertular virus jika Anda menghabiskan waktu di ruang tertutup untuk menghirup udara orang yang terinfeksi.

Protokol kesehatan yang melindungi Anda dari COVID-19 akan membantu melindungi Anda dari varian ini, meskipun Anda mungkin perlu lebih teliti misalnya mengenakan dua atau tiga lapis masker.

Selain itu, jangan menghabiskan waktu di dalam ruangan dengan orang yang tidak tinggal serumah, hindari keramaian, dan menjaga jarak. Cucilah tangan Anda sesering mungkin, dan hindari menyentuh wajah Anda.

"Hal pertama yang saya katakan kepada orang-orang ini bukanlah virus yang berbeda. Semua hal yang telah kami pelajari tentang virus ini masih berlaku," kata Dekan Brown University School of Public Health, Dr. Ashish K. Jha, seperti dikutip dari The New York Times.

Pakar kesehatan mengingatkan Anda jangan lengah setelah setahun hidup dalam pandemi. Mungkin menghabiskan waktu di dalam ruangan dan membuka masker saat bersama teman atau makan di restoran. 

"Semakin banyak saya mendengar tentang varian baru, semakin saya prihatin. Saya pikir tidak ada ruang untuk kesalahan atau kecerobohan dalam mengikuti tindakan pencegahan," tutur profesor lingkungan di Virgnia Tech, Linsey Marr.

 

Perlukah upgrade masker?

Anda harus mengenakan masker berkualitas tinggi saat berada di luar rumah misalnya berbelanja atau berada dalam situasi di dalam ruangan dengan orang yang tidak tinggal serumah dengan Anda.

Marr dan timnya baru-baru ini menguji 11 bahan masker dan menemukan masker kain yang tepat, dipasang dengan benar bisa menyaring partikel virus yang menyebabkan infeksi.

Masker terbaik memiliki tiga lapisan yakni dua lapisan kain dengan saringan diapit di antaranya. Masker juga harus dipasang di sekitar pangkal hidung dan terbuat dari bahan yang fleksibel untuk mengurangi celah. Ikat kepala pada masker membuat lebih pas daripada loop telinga.

Apabila Anda tidak ingin membeli masker baru, kenakan masker tambahan saat Anda berada di dekat orang lain. Menambah lapisan masker yakni masker bedah sekali pakai dan menutupinya dengan masker kain dapat Anda terapkan.

Anda tidak memerlukan tingkat perlindungan tinggi seperti yang dibutuhkan para tenaga medis sehingga N95 tidak direkomendasikan.

Di sisi lain, mendapatkan vaksin adalah cara terbaik untuk mengurangi risiko. Para ahli optimistis vaksin saat ini sebagian besar akan efektif melawan varian baru virus corona yang muncul.

Awal bulan ini, Pfizer dan BioNTech mengumumkan vaksin COVID-19 buatan mereka bekerja melawan salah satu mutasi utama yang ada di beberapa varian.

Tetapi beberapa data juga menunjukkan varian dengan mutasi tertentu, terutama yang pertama kali terlihat di Afrika Selatan, mungkin lebih resisten terhadap vaksin.

Meskipun datanya mengkhawatirkan, para ahli mengatakan vaksin saat ini menghasilkan tingkat antibodi yang sangat tinggi, dan kemungkinan besar setidaknya dapat mencegah penyakit serius pada orang yang diimunisasi dan terinfeksi.

"Alasan saya sangat optimis adalah dari apa yang kita ketahui tentang cara kerja vaksin, bukan hanya satu antibodi yang memberikan semua perlindungan. Divaksin menghasilkan antibodi dan ini membuat kecil kemungkinan terjadi mutasi," kata profesor penyakit menular di University of Michigan, Dr. Adam Lauring.

Tetapi sampai tiba giliran Anda divaksin, tetap perhatikan aktivitas Anda dan coba kurangi waktu dan jumlah eksposur ke orang lain.

Misalnya, apabila Anda sekarang pergi ke toko dua atau tiga kali seminggu, kurangi menjadi seminggu sekali. Lalu, apabila biasanya Anda menghabiskan 30-45 menit di toko bahan makanan, kurangi waktu Anda menjadi 15 atau 20 menit. 

Apabila toko sedang ramai, kembali lagi nanti. Jika Anda sedang mengantre, jagalah jarak setidaknya satu meter dari orang-orang di depan dan di belakang Anda.

"Varian baru ini membuat saya berpikir dua kali tentang rencana saya untuk mengajar secara langsung, yang tentunya dengan masker dan dengan ventilasi yang baik," tutur Marr.

Anak-anak tampaknya terinfeksi varian dengan kecepatan yang hampir sama dengan strain aslinya. Sebuah studi besar di Inggris menemukan, anak-anak hanya memiliki kemungkinan sekitar setengah dari orang dewasa untuk menularkan varian tersebut kepada orang lain.

Meskipun itu kabar baik, sifat varian baru yang sangat menular berarti lebih banyak anak-anak yang akan tertular virus.

Lalu, apabila Anda sudah terkena COVID-19, artinya memiliki tingkat kekebalan yang sama terhadap varian baru? Sebagian besar ahli setuju pada penyintas COVID-19 memiliki tingkat kekebalan alami tertentu untuk membantu melawan infeksi kedua meskipun tidak diketahui berapa lama perlindungan tersebut bertahan.

Varian yang beredar di Brazil dan Afrika Selatan tampaknya memiliki mutasi yang memungkinkan virus menghindari antibodi alami dan menginfeksi kembali seseorang yang telah terinfeksi virus.

Kekhawatiran tersebut didasarkan pada tes laboratorium yang menggunakan antibodi dari orangorang dengan infeksi sebelumnya. Di sisi lain, pengaruh vaksin terhadap varian ini juga belum diketahui.

Tetapi, meski semua ini terdengar menakutkan, para ilmuwan berharap meskipun vaksin tidak sepenuhnya melindungi dari variasi baru virus, antibodi yang dihasilkan oleh vaksin tetap akan melindungi orang dari penyakit yang lebih serius.

Oleh Lia Wanadriani Santosa

Editor: Maria Rosari Dwi Putri

COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita