Danar Widiyanto YOGYA, KRJOGJA.com – Covid-19 varian B.1617.2 atau delta belum terdeteksi di DIY sejauh ini, namun bukan berarti varian tersebut belum ada.

Hal inilah yang perlu ditekankan kepada masyarakat DIY bahwasanya virus Corona varian delta belum terdeteksi bukan berarti tidak ada.

Selanjutnya ditindaklanjuti dengan melakukan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) terutama sampel kasus Covid-19 di DIY yang sedang tinggi-tingginya pada Juni 2021 ini.

“Kita diminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar fokus membantu kasus Covid-19 di Kudus. Kemudian kita berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY untuk sampel-sampel kasus Covid-19 yang melonjak tajam di DIY pada Juni 2021 ini.

Virus Corona varian delta belum terdeteksi sampai saat ini, tapi bukan berarti belum ada, itu yang ditekankan lagi ke masyarakat,” papar Ketua Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM dr Gunadi Sp BA PhD di Yogyakarta, Jumat (25/6/2021).

Gunadi menyatakan pihaknya mengambil dan me-running sampai ada bukti pemeriksaan WGS dari sampel ini. Jika belum ada hasil bukti pemeriksaan WGS tersebut, pihaknya belum bisa menyatakan varian delta sudah masuk di DIY.

Terlebih dengan mobilitas yang sulit dikendalikan saat ini, dipastikan meningkatkan.

“Dari sampel-sampel itu mungkin kita bisa ambil, kita running dulu sampai ada bukti Genome Sequencing. Belum ada, ya kita belum bisa mengatakan sudah masuk atau belum,,” tegasnya.

Perihal WGS ini, Gunadi menyampaikan terdapat sekitar 30 sampel di DIY yang diperiksa. Sampel tersebut akan dites bersamaan dengan 20 sampel Corona kasus anak-anak dari Solo, Jawa Tengah sehingga pihaknya masih menunggu sampel dari Solo Raya.

“Kalau running 48 sampel maka yang diperlukan sampling 20 tapi sisanya kan sayang tetapi habis itu tidak bisa dipakai langsung hilang. Pemeriksaan WGS membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu setelah semua sampel diterima dan peluang terjadinya transmisi lokal,” imbuhnya.

Covid-19 yang sudah ada mempunyai empat varian alpha, beta, gamma dan delta, sedangkan varian yang sudah ada di Indonesia adalah alpha, beta dan delta.

Tetapi sekarang yang mendominasi adalah varian delta yang sudah terdeteksi terutama di DKI Jakarta, Bangkalan, Kudus dan Karawang karena sudah terjadi transmisi lokal dan mobilitas sulit dibatasi serta bed occupancy rate (BOR) meningkat. (Ira)

Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyebut varian delta hanya menjangkiti Kabupaten Kudus. Dari beberapa sampel yang dikirim dari sejumlah daerah, semua hasilnya negatif varian delta.

“Sampai hari ini, baru yang ada di Kudus. Maka saya minta nanti report terakhir evaluasinya seperti apa. Kemarin sampel untuk genome sequencing hampir semua wilayah di Jateng diambil. Dan yang sudah jadi, hasilnya negatif. Tidak ada varian baru,” kata Ganjar ditemui usai gowes pagi di rumahnya, Jumat (25/6/2021).

Meski beberapa daerah lanjut Ganjar, ada yang belum keluar hasilnya. Namun sebagian besar yang dikirim, hasilnya negatif varian delta.

“Kita masih menunggu, tapi mudah-mudahan tidak,” imbuhnya.

Untuk penanganan kasus varian baru di Kudus, Ganjar mengatakan sudah dilakukan dengan ketat. Masyarakat Kudus dan sekitarnya juga diharapkan membantu sekaligus berjaga-jaga.

“Kudus harus dikunci, agar tidak ada penyebaran. Untuk itu, penanganan di sana kita optimalisasi. Istilahnya ada penebalan, baik tenaga kesehatan, layanan kesehatan, alat kesehatan termasuk penebalan TNI/Polri,” terangnya.

Meski varian delta hanya ada di Kudus, namun Ganjar tetap meminta semua daerah untuk siaga. Masyarakat diminta tetap tertib menjalankan 5 M dan pemerintah diminta meningkatkan 3 T.

“Digenjot saja, kalau semua daerah merah bisa melakukan itu, maka akan cepat. Begitu ketahuan, segera mikrozonasi. Lockdown tingkat RT harus dilakukan. Sebanyak-banyaknya RT dilockdown tidak apa-apa, laporkan ke kami nanti akan kami bantu, termasuk bantuan Babinsa/Bhabinkamtibmas untuk menjaga. Sehingga efektivitasnya bisa optimal,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo mengatakan, hampir semua daerah di Jateng sudah mengirimkan sampel genome squencing. Namun hasil yang dinyatakan positif varian delta baru Kudus.

“Ada banyak, seperti Semarang, Magelang, Solo, Brebes, Sragen dan lainnya. Yang positif varian delta sementara baru di Kudus. Memang belum semua hasilnya keluar, termasuk kemarin kami kirim 40 sampel lagi. Waktu pemeriksaannya kan cukup lama, sekitar dua minggu. Jadi kami masih menunggu,” katanya.

Editor : Kholistiono

Diterbitkan di Berita

Delhi, REQNews.com -- India mengumumkan temuan baru varian virus korona setelah hampir dua lain kasus terdeteksi di seluruh negeri, dan berpotensi memicu gelombang ketiga.

Resminya, bernama AY.1, tapi dokter dan pengamat kesehatan di India lebih suka menyebutnya Delta Plus. Varian ini kali pertama ditemukan di Eropa, dan kini diduga menyebar di negara bagian Maharashtra, Kerala, dan Madhya Pradesh.

Kementerian Kesehatan India mengakan Delta Plus menunjukan kemampuan menular lebih tinggi, dan menyarankan tiga negara bagian itu meningkatkan pengujian.

"Berdasarkan temuan Indian SARS-CoV-2 Genome Consortia (INSAGO), Kementerian Kesehatan memperingatakan dan memberi tahu Maharahtra, Kerala, dan Madhya Pradesh," demikian pernyataan resmi pemerintah India.

INSAGOC adalah konsorsium badan medis dan ilmiah India. Di dalamnya terdapat Dewan Penelitian Medis India dan Dewan Penelitian Ilmiah dan Industri.

Konsorsium bertugas mengurutkan selurun genome virus dan memberi masukan tepat waktu serta langkah-langkah respon kesehatan masyarakat untuk dijalankan setiap negara bagian.

Al Jazeera melaporkan pejabat kesehatan India telah mengidentifikasi tiga karakteristik varian Delta Plus.

"Pertama, meningkatkan transmisibilitas. Kedua, lebih mengikat reseptor sel paru-paru. Ketiga, ada potensi pengurangan respon antibodi," kata pejabat itu.

Varian Delta Plus terbentuk karena mutasi strain Delta atau varian B.1.617.2 yang kali pertama ditemukan di India, dan diyakini sebagai penyebab gelombang kedua pandemi ganas di negara itu.

Pakar kesehatan memperingatkan varian Delta Plus dapat memicu gelombang ketiga Covid-19 di India.

Sementara itu India, Rabu 23 Juni, melaporkan 50.848 infeksi dengan 1.38 kematian dalam 24 jam terakhir. Data Kementerian Kesehatan India menunjukan total infeksi mencapai 30 juta dengan jumlah kematian 390.660.

Ditemukan di AS

Kementerian Kesehatan India juga mengatakan varian Delta Plus juga ditemukan di delapan negara; Inggris, AS, Jepang, Rusia, Portugal, Swiss, Nepal, dan Cina.

Di AS, varian Delta Plus mewakili 20 persen infeksi baru di AS, yang membuat Paman Sam berpotensi mengikuti Inggris. Saat ini, varian Delta Plus mendominasi laporan infeksi di Inggris, dengan penyebaran super cepat di kalangan anak muda.

Dr Anthony Fauci, pakar penyakit menular AS, memperingatkan Gedung Putih mengenai kemungkinan negaranya mengikuti jalur Inggris.

Varian ini menyumbang setengah dari infeksi baru di wilayah Iowa, Kansas, Missouri, Nebraska, Colorado, Montana, North Dakota, South Dakota, Utah, dan Wyoming.

Diterbitkan di Berita
Khadijah Nur Azizah - detikHealth Jakarta - Laporan terbaru menunjukkan vaksin AstraZeneca efektif melawan varian Delta, varian Corona yang disebut sangat cepat penularannya dan ditemukan pertama kali di India. Kemanjuran vaksin terhadap Kappa, varian lain yang ditemukan di India, juga telah terbukti.

Hasil tersebut didapatkan dari penelitian terbaru Universitas Oxford terhadap kemampuan antibodi monoklonal dalam darah seseorang yang pulih, dan dari mereka yang divaksin untuk menetralkan varian tersebut.

"Hasil studi Oxford dibangun berdasarkan analisis terbaru oleh Public Health England (PHE)," kata perusahaan merujuk otoritas kesehatan di Inggris tersebut, dikutip dari Reuters, Rabu (23/6/2021).

 
 
Tak Boleh Lagi Pakai Nama Negara! Ini Daftar Nama Baru Varian Corona
Tak Boleh Lagi Pakai Nama Negara! Ini Daftar Nama Baru Varian Corona Foto: infografis detikHealth

 

Pekan lalu, PHE juga mengeluarkan hasil riset yang menunjukkan AstraZeneca menawarkan perlindungan tinggi terhadap varian Delta. Vaksin memberikan 92 persen perlindungan ke penerimanya, dari risiko rawat inap ke rumah sakit akibat varian Delta.

Pembuat obat di seluruh dunia bergegas untuk menguji kemanjuran vaksin terhadap varian yang muncul dari COVID-19 yang terbukti lebih mudah menular daripada varian aslinya.

Varian Delta juga telah menjadi varian yang mendominasi secara global, membuat para ahli menyarankan mempercepat program vaksinasi yang telah berlangsung di banyak negara di dunia.


(kna/up)

Diterbitkan di Berita

Bandung, CNN Indonesia -- Tim riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan 72 persen atau 44 dari total 61 sampel klinis pasien Covid-19 telah terinfeksi varian Delta.

Sebelumnya, LIPI sebagai salah satu institusi dalam konsorsium surveilans genom SARS-CoV-2 telah menerima 104 sampel klinis pasien COVID-19 dari Balitbangkes (Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan)

Kementerian Kesehatan RI untuk dilakukan analisis whole genome sequencing (WGS). Sebagian sampel itu berasal dari Karawang.

Hingga 21 Juni 2021, LIPI sudah selesai mengidentifikasi 61 sampel dimana 44 di antaranya mengandung virus SARS-CoV-2 varian Delta.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI Anik Budhi Dharmayanthi berharap sisa sampel sebanyak 38 sampel bisa selesai diidentifikasi dalam beberapa minggu ke depan.

"Dua jenis variant of concern (VoC) telah berhasil diidentifikasi yaitu B.1617.2 atau varian Delta sebanyak 44 sampel dan B.1.1.7 atau varian alpha sebanyak 3 sampel," kata dalam keterangannya, Senin (22/6).

Sementara sisa 14 sampel lain menurut Peneliti bidang mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI,Sugiyono merupakan varian lama yang tidak masuk dalam VoC.

Lebih lanjut Anik menyebut hasil tersebut pun sudah dimasukkan dalam data internasional yang mengumpulkan data varian virus influenza, Global initiative on sharing all influenza data (GISAID).

Saat ini, kasus Covid-19 di Indonesia kembali mengalami peningkatan yang signifikan. Selain itu, beberapa wilayah seperti Jakarta, Kudus, dan Bangkalan melaporkan adanya varian baru virus corona dalam pasien yang teridentifikasi sebagai virus korona varian Delta.

Terbaru, varian Delta juga telah terdeteksi di Karawang, Jawa Barat.

Identifikasi varian Delta ini menjadi yang pertama ditemukan di Jawa Barat, namun hal tersebut tidak serta merta mengimplikasikan bahwa varian ini baru saja muncul di daerah ini.

"Proporsi kemunculan varian Delta memang cukup besar dari sampel-sampel yang sudah dianalisa genomnya, yaitu sekitar 72 persen dari 61 sampel.

Namun, perlu hati-hati juga menginterpretasikan karena belum tentu sebanyak itu pula proporsi di lapangan terkait varian yang beredar," ujar Peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Anggia Prasetyoputri menambahkan.

 

 Foto: AP/Sakchai Lalit
 

Anggia menjelaskan bahwa awal mula kemunculan varian Delta di Jawa Barat belum dapat dipastikan, sehingga diperlukan pemantauan terhadap pasien, penelusuran kontak, dan investigasi kasus lebih mendalam.

Virus corona varian Delta atau SARS-CoV.2 B.1.617.2 merupakan mutasi dari Covid-19 yang selama ini mewabah (SARS-CoV.2 B.1.617).

Virus ini pertama kali terdeteksi di India pada akhir 2020, dan resmi dinamakan varian Delta oleh World Health Organization (WHO) pada 31 Mei 2021, serta dikategorikan sebagai Variant of Concern (VOC).

"Saat ini ada empat VOC, yaitu Alpha (B.1.1.7), Beta (B.1.351), Gamma (P.1) dan yang terbaru adalah Delta (B.1.617.2)," kata peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI yang juga merupakan Ketua Tim Riset Whole Genome Sequencing (WGS) LIPI Sugiyono Saputra.

Sugiyono menyebutkan varian Delta yang termasuk dalam VOC ini memiliki tingkat infeksi yang cenderung lebih tinggi.

"Variant of concern (VOC) merupakan bagian dari variant of interest (VOI) yang melalui penilaian komparatif, mampu menyebabkan peningkatan penularan (transmisi), peningkatan virulensi atau gejala klinis, atau dapat menurunkan efektivitas dalam upaya penanggulangan seperti vaksin dan terapi," katanya.

Menyikapi beredarnya surat dari Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI untuk civitas pusat penelitian tersebut, terkait imbauan untuk bekerja dari rumah,

Pelaksana Harian Kepala LIPI Agus Haryono menegaskan surat tersebut dibuat untuk kalangan internal agar memperketat protokol kesehatan demi mencegah penyebaran virus.

"LIPI mendukung pola kerja fleksibel, terlebih selama masa pandemi," ujar Agus.

Untuk pencegahan ekstra, Agus menyebutkan, lakukan disinfeksi ruangan lebih sering.

"Publik juga harus terus menjalankan protokol kesehatan secara lebih ketat dengan memakai masker dua lapis, menjaga jarak, rajin mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan keluar rumah untuk urusan yang penting saja," tuturnya.

(hyg/eks)

Diterbitkan di Berita

voi.id JAKARTA - Pengembang virus COVID-19 Sputnik lansiran Rusia, mengklaim vaksin tersebut mampu melindungi penerimanya dari berbagai jenis virus corona yang diketahui ada di dunia saat ini.

Kepala pengembangan vaksin, Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya, Alexander Gintsburg mengatakan, hal ini dimungkinkan seiring dengan antibodi yang dikembangkan oleh pihaknya. 

"Anti-bodi sebagai hasil penggunaan Sputnik V melindungi terhadap semua jenis varian COVID-19 yang dikenal saat ini, mulai dari jenis Inggris hingga jenis Delta Indian," kata Gintsburg kepada Rossiya-1 seperti dikutip dari TASS, Senin 21 Juni.

Lebih jauh Gintsburg menjelaskan, varian Delta COVID-19 yang pertama kali ditemukan di India, merupakan varian yang menyebabkan transisi lebih cepat dari gejala ringan ke jenis penyakit yang lebih serius. 

"Ini (strain India) lebih agresif, mengurangi waktu transisi dari gejala ringan ke bentuk penyakit yang serius, sehingga memotong waktu kemungkinan munculnya antibodi sendiri," ungkap Gintsburg.

Vaksin Sputnik V tidak hanya digunakan di Rusia, melainkan juga di berbagai negara di belahan dunia. Akhir bulan lalu, Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) menandatangani kesepakatan dengan Dana Darurat Anak Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), terkait pasokan vaksin COVID-19.

Total ada 220 juta dosis vaksin Sputnik V yang akan disiapkan untuk UNICEF. Sebelumnya, RDIF mengumumkan telah melamar ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk registrasi dan prakualifikasi Sputnik V pada Oktober 2020. Keputusan WHO diharapkan terbit dalam waktu dekat.

RDIF juga akan melakukan pembicaraan dengan Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI), untuk membahas kemungkinan memasukkan Sputnik V ke dalam portfolio COVAX vaksin virus corona. 

Untuk diketahui, Rusia mencatat 5.316.826 kasus COVID-19, sementara 4.869.972 orang telah pulih dan 129.361 meninggal sejak pandemi tahun lalu.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Varian Delta menyebar dengan cepat di Inggris dan menyebabkan kasus Covid-19 melonjak sekali lagi. Mungkinkah negara-negara lain bernasib sama?

Di mana saja varian Delta menyebar?

Laboratorium di seluruh dunia yang menganalisis materi genetik virus telah membagikan temuan mereka ke basis data global. Saat ini, Inggris sepertinya memiliki lebih banyak kasus varian Delta daripada sebagian besar negara lain di dunia.

 

WHO

Selain cegah stigma, penggunaan alfabet Yunani untuk varian Covid-19 disebut WHO akan permudah masyarakat membicarakan turunan virus corona. GETTY IMAGES

 

Sebanyak 75.953 kasus varian Delta ditelusuri di Inggris hingga 16 Juni, naik nyaris dua kali lipat dari 42.323 kasus pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, hingga 14 Juni, 2.853 kasus varian Delta telah diidentifikasi di AS, 747 di Jerman, 277 di Spanyol dan 97 di Denmark, menurut situs web pemantauan global GISAID.

Adapun di Indonesia, telah ditemukan 107 kasus varian Delta per 13 Juni, menurut data Kementerian Kesehatan.

Tapi ini bukan catatan pasti tentang berapa banyak jumlah kasus yang ada - ini catatan berapa banyak yang terlihat, dan Inggris memiliki sistem yang sangat baik untuk mendeteksi varian virus corona.

Jadi kemungkinan angka-angka ini menyamarkan insiden varian yang jauh lebih besar di beberapa negara yang melakukan lebih sedikit pengurutan analisis genetik virus (whole genome sequencing).

Misalnya, ada 875 kasus varian Delta yang diidentifikasi di India pada 3 Mei ketika virus sedang berkecamuk, dan tercatat hanya 142 kasus varian Delta dalam empat pekan terakhir.

Kendati negara itu mencatat antara setengah juta hingga dua juta kasus baru sejak awal Mei, dengan varian Delta diyakini sebagai varian dominan.

 

Usulan nama-nama baru untuk varian virus Covid-19

 

Di Inggris, 38.000 kasus varian Delta tercatat dalam 28 hari terakhir. Pemerintah Skotlandia mengatakan varian tersebut bertanggung jawab atas "sebagian besar" kasus baru.

Pemerintah Irlandia Utara telah memperingatkan bahwa varian tersebut kemungkinan akan menjadi jenis yang dominan dan pemerintah Wales mengatakan varian Delta mendorong peningkatan kasus dan kini negara itu berada dalam fase awal gelombang ketiga virus corona.

Mengapa Inggris sangat terdampak dibanding negara lain?

Para pakar meyakini faktor utama yang membuat lonjakan kasus di Inggris dalam waktu singkat disebabkan oleh volume perjalanan.

Merujuk data pemerintah Inggris, varian itu masuk ke Inggris melalui setidaknya 500 pelancong.

Dr Jeffrey Barrett dari Sanger Institute, yang menganalisis materi genetik dari tes swab Covid-19 untuk mengetahui mutasi virus corona, mengatakan angka sebenarnya kemungkinan lebih dari 1.000.

Ini penting karena cara penyebaran virus yang tidak teratur.

Kita berbicara tentang angka reproduksi virus yang berarti bahwa, tanpa langkah-langkah pembatasan jaga jarak atau pengendalian infeksi, satu orang kemungkinan menginfeksi rata-rata tiga orang.

Namun pada kenyataannya, tak setiap orang menginfeksi tiga orang lainnya.

 

Perbandingan angka R berbagai varian Covid-19, dibandingkan penyakit lain.

 

Sebaliknya, satu orang mungkin menginfeksi 30 orang lain, sedangkan yang lain tidak menginfeksi siapa pun - baik karena perbedaan dalam biologi, perilaku, atau kondisi kehidupan mereka.

Ada unsur kebetulan - jika lima orang tiba di Inggris membawa varian ini, bisa jadi Anda beruntung ketika tidak ada dari mereka yang menularkannya.

Jika 500 kasus varian Delta sudah tercatat sejauh ini, kemungkinan besar setidaknya satu orang yang terinfeksi varian Delta akan menularkan infeksi mereka, atau bahkan menjadi penyebar super.

Jadi perbedaan antara lima dan 500 pelancong yang masuk dengan varian Delta tidak akan persis 100 kali infeksi.

Selain itu, varian Delta memasuki Inggris pada saat pembatasan sedang dilonggarkan dan dalam cuaca dingin.

Cuaca dingin akan membuat lebih banyak orang di dalam ruangan, dan di sisi lain, virus bisa bertahan lebih lama di luar ruangan.

 

Scientist holds a sample tube

GETTY IMAGES

 

Apakah negara lain akan bernasib sama?

Para pakar meyakini beberapa negara mungkin sudah menuju ke arah yang sama seperti Inggris - tetapi mereka memiliki program pengurutan genetik lebih sedikit dan lebih lambat, yang berarti kita belum dapat melihatnya dalam data.

Dan di beberapa negara seperti AS, varian tersebut baru terdeteksi tak lama kemudian - mungkin karena lebih sedikit orang yang memiliki hubungan langsung dengan India - sehingga varian ini diperkirakan baru akan meningkat dalam beberapa pekan mendatang.

Dr Muge Cevik, seorang spesialis penyakit menular di Universitas St Andrews, mengatakan, pada waktunya, kita mungkin melihat lonjakan kasus serupa di negara lain.

Dia juga menambahkan prospek seperti itu "jauh lebih mengkhawatirkan di negara-negara dengan tingkat vaksinasi rendah".

 

pekerja migran

Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) antre untuk melakukan pengecekan dokumen perjalanan di Pelabuhan Internasional Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (29/04) ANTARA FOTO/TEGUH PRIHATNA

 

Varian Delta sangat mungkin menjadi varian dominan di negara lain, dan mungkin di seluruh dunia, katanya.

Varian ini jauh lebih menular dan kita tahu - termasuk dari varian Alfa yang pertama kali diidentifikasi di Kent, Inggris - bahwa virus akhirnya menemukan cara untuk menyebar.

Mungkinkah itu bisa dicegah?

Menurut Otoritas Penerbangan Sipil INggris , 42.406 orang melakukan perjalanan dua arah antara India dan Inggris pada bulan April.

Lebih sedikit perjalanan berarti lebih sedikit peluang bagi varian untuk masuk.

Pada bulan Januari, Sage, badan ilmiah pemerintah, telah memperingatkan bahwa: "Tidak ada intervensi, selain penutupan perbatasan yang lengkap, atau karantina wajib bagi semua pengunjung pada saat kedatangan di fasilitas yang ditunjuk, terlepas dari riwayat pengujian, yang dapat hampir sepenuhnya mencegah impor kasus atau varian baru."

Pemerintah Inggris menempatkan India dalam daftar merah - yang berarti orang yang datang dari negara itu harus melakukan karantina mandiri di hotel - pada 23 April.

Ini terjadi setelah Organisasi Kesehatan Dunia mengklasifikasikan Delta sebagai "variant of interest" dan setelah diketahui berada di Inggris, tetapi sebelum ditetapkan sebagai "variant of concern" oleh otoritas kesehatan Inggris.

Meskipun hingga kini belum jelas varian apa saja yang menyebabkan masalah di India, tapi semakin jelas bahwa banyak orang menjadi korban dari varian virus tersebut.

 

testing centre at airport

GETTY IMAGES

 

Tetapi Dr Cevik mengatakan "pada akhirnya itu akan terjadi" di Inggris, meskipun sejumlah upaya untuk mengurangi kasus impor dilakukan.

Dia menunjukkan bahkan Australia, yang memiliki salah satu kontrol perbatasan paling ketat di dunia, telah mengalami wabah varian Delta, meskipun jumlahnya relatif kecil.

Dan, tambahnya, ancaman negara-negara "daftar merah" mungkin mendorong mereka untuk menghentikan pengujian dan pengurutan.

"Kita tidak akan dapat sepenuhnya menghentikan varian yang datang," katanya, dan solusi terbaik adalah memvaksinasi sebanyak mungkin orang di dunia.

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Covid-19 varian Delta yang pertama kali ditemukan di India bakal mendominasi kasus penularan secara global. Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengatakan, adanya varian Covid-19 baru yang lebih menular meningkatkan kebutuhan akan vaksin yang efektif.

Inggris melaporkan lonjakan kasus infeksi yang tajam akibat varian Delta, memaksa Perdana Menteri Boris Johnson untuk memperpanjang pembatasan hingga akhir Juli.

Pejabat kesehatan Jerman memperkirakan Delta bisa dengan cepat menjadi varian dominan di negaranya meskipun jumlah warga yang menerima vaksin sudah terbilang banyak.

Di Rusia, pemerintah menyebut lonjakan kasus infeksi harian sebagian besar dipicu varian Delta. Negara itu berada di ambang gelombang ketiga wabah virus corona setelah penambahan kasus harian mencetak rekor lagi, terutama di Moskow.

Pemerintah Rusia juga menyalahkan warganya yang enggan mendapatkan vaksin Covid-19.

"Delta dalam perjalanan untuk menjadi varian dominan secara global karena peningkatan transmisibilitasnya," kata Swaminathan, dalam pernyataan dari Jenewa, Swiss, dikutip dari Reuters, Sabtu (19/6/2021).

Dilansir ABC varian Delta pertama kali terdeteksi di India pada Oktober tahun lalu. Saat ini strain dominan di Inggris, menurut angka Kesehatan Masyarakat Inggris. 

Pihak berwenang Inggris memperkirakan varian Delta 40 persen lebih menular daripada varian Alpha yang membuat Inggris memberlakukan lockdown pada awal tahun. 

Sedangkan, daftar gejala terbaru menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), yaitu kelelahan, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau pilek, mual atau muntah, dan diare sebagai kemungkinan gejala infeksi. 

Pada Rabu (16/6/2021) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan varian Delta telah terdeteksi di lebih dari 80 negara dan terus bermutasi saat menyebar.

 

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Kasus corona di Jakarta begitu cepat meningkat. Diduga kuat, penyebabnya adanya varian baru corona yang sudah mulai menyebar di Jakarta alias adanya transmisi lokal.
 
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, setidaknya ada 2 varian baru corona yang harus diwaspadai. Pertama varian Delta B1617.2 dari India dan varian Beta B1351 dari Afrika Selatan.
 
“Varian baru ini cukup merepotkan karena mereka memiliki kemampuan tersendiri untuk menginfeksi kita, seperti kita ambil contoh varian Delta B1617.2 yang amat mudah menyebar," kata Widyastuti, dikutip dari PPID, Selasa (15/6).
 
Varian Baru Corona Sudah Menyebar di Jakarta, Dampaknya Mematikan (1)
Ilustrasi virus corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
 
Sementara itu, varian lain yang juga perlu diwaspadai yakni varian Beta B1351 dari Afrika Selatan. Dia menjelaskan, varian ini sangat mematikan.
 
"Varian Beta B1351 yang amat mudah membuat gejala menjadi berat atau lebih mematikan. Meskipun menurut penelitian terakhir, seluruh varian masih dapat diantisipasi dengan vaksin, tetapi ini benar-benar harus kita waspadai bersama,” tegasnya.
  
Saat ini, Jakarta juga tengah meminta untuk penambahan petugas tracer guna identifikasi kasus. Harapannya dengan tracing yang lebih baik, penularan kasus bisa dicegah.
 
"Pemprov DKI Jakarta juga tengah mengusulkan kepada Pemerintah Pusat untuk menambah tracer (petugas yang akan melakukan pelacakan) di mana para tracer inilah yang nantinya memegang peran penting untuk melakukan deteksi dini. Sehingga, pengendalian dapat dilakukan dengan baik," tuturnya.
 

Varian Corona India di Jakarta

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan varian baru corona delta atau India sudah mulai mendominasi di Jakarta. Ada sejumlah daerah lain juga yang sudah terkontaminasi varian ini.
 
"Untuk DKI Jakarta, Kudus, Bangkalan memang sudah terkonfirmasi varian Delta atau B1617.2 atau varian India mendominasi. Karena ini penularan lebih cepat walaupun tidak lebih mematikan," kata Budi dalam jumpa pers virtual, Senin (14/6).
 
Varian India ini menurut riset di Inggris terbukti meningkatkan risiko perawatan. Apabila seseorang terpapar varian ini, kemungkinan ia dirawat di rumah sakit sampai 2,61 kali lipat.
Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, KUDUS – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memastikan adanya penularan Covid-19 varian B16172 Delta atau varian India di Kudus. Varian Covid-19 ini memiliki ciri penularan yang sangat cepat.

Ganjar mengatakan, kepastian ditemukannya varian Covid-19 Delta itu setelah dilakukan uji Genome Sequencing pada sampel pasien COVID-19 di Kudus. Di wilayah lain, kata Ganjar, juga akan dilakukan Genome Sequencing.

“Maka ini serius untuk semuanya, jangan pernah melepas masker apalagi ketika kita berkerumun banyak orang,” ujar Ganjarusai meninjau meninjau dan memastikan kondisi penanganan COVID-19 di Kabupaten Kudus, Minggu (13/6).

Soal varian ini, Ganjar mencurigai juga jadi faktor cepatnya penyebaran yang menyebabkan peningkatan kasus COVID-19 di wilayahnya dalam 3 minggu terakhir, khususnya di Kudus. Untuk itu, Ganjar mengusulkan gerakan Kudus 5 hari di rumah saja.

“Artinya kenapa penularannya cepat sekali maka masyarakat musti sadar betul. Saya mengusulkan kalau perlu lima hari sekua di rumah saja,” tegas Ganjar.

Ganjar mengatakan, pihaknya butuh dukungan dari masyarakat terutama untuk mengurangi mobilitas mengingat varian baru COVID-19 sudah ditemukan.

“Saya butuh dukungan masyarakat, kalau masyarakat tidak mendukung ini nanti kucing-kucingan terus. Ingat varian baru sudah masuk di Kudus. Catat itu, sudah masuk di Kudus,” kata Ganjar.

Ganjar berharap, selama 5 hari tersebut para orangtua atau lansia hingga anak-anak tidak bepergian. Perkantoran juga mesti memperbanyak persentase karyawan yang Work From Home.

“Ini betul-betul kita harus bareng-bareng memotong COVID (di Kudus) ini agar bisa kita stop. Kita akan membantu, pusat juga akan membantu jangan kuatir, dan saya juga berkomunikasi dengan yang di sekitar Kudus, ada yang di Grobogan, ada yang di Demak, Pati, kita sampaikan semua,” ujarnya.

Ganjar mencontohkan kegiatan di rumah saja yang digencarkan di Kabupaten Grobogan. Ganjar berharap, pada pelaksanaannya benar-benar maksimal dan masyarakat hanya akan keluar jika memang keperluannya penting.

“Hari ini Grobogan juga sama, sehari ini di rumah saja mereka sepi. Maka kalau kita lihat, saya nggak tau anda wawancara aja orang-orang itu mau ke mana. Itu contoh-contoh saja menurut saya mereka tidak taat dan inilah yang musti kita lakukan operasi justisi,” tandasnya.

Editor: Suwoko

Diterbitkan di Berita