voi.id JAKARTA - Pengembang virus COVID-19 Sputnik lansiran Rusia, mengklaim vaksin tersebut mampu melindungi penerimanya dari berbagai jenis virus corona yang diketahui ada di dunia saat ini.

Kepala pengembangan vaksin, Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya, Alexander Gintsburg mengatakan, hal ini dimungkinkan seiring dengan antibodi yang dikembangkan oleh pihaknya. 

"Anti-bodi sebagai hasil penggunaan Sputnik V melindungi terhadap semua jenis varian COVID-19 yang dikenal saat ini, mulai dari jenis Inggris hingga jenis Delta Indian," kata Gintsburg kepada Rossiya-1 seperti dikutip dari TASS, Senin 21 Juni.

Lebih jauh Gintsburg menjelaskan, varian Delta COVID-19 yang pertama kali ditemukan di India, merupakan varian yang menyebabkan transisi lebih cepat dari gejala ringan ke jenis penyakit yang lebih serius. 

"Ini (strain India) lebih agresif, mengurangi waktu transisi dari gejala ringan ke bentuk penyakit yang serius, sehingga memotong waktu kemungkinan munculnya antibodi sendiri," ungkap Gintsburg.

Vaksin Sputnik V tidak hanya digunakan di Rusia, melainkan juga di berbagai negara di belahan dunia. Akhir bulan lalu, Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) menandatangani kesepakatan dengan Dana Darurat Anak Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), terkait pasokan vaksin COVID-19.

Total ada 220 juta dosis vaksin Sputnik V yang akan disiapkan untuk UNICEF. Sebelumnya, RDIF mengumumkan telah melamar ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk registrasi dan prakualifikasi Sputnik V pada Oktober 2020. Keputusan WHO diharapkan terbit dalam waktu dekat.

RDIF juga akan melakukan pembicaraan dengan Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI), untuk membahas kemungkinan memasukkan Sputnik V ke dalam portfolio COVAX vaksin virus corona. 

Untuk diketahui, Rusia mencatat 5.316.826 kasus COVID-19, sementara 4.869.972 orang telah pulih dan 129.361 meninggal sejak pandemi tahun lalu.

Diterbitkan di Berita

Agustus, RI Akan Terima Vaksin Pfizer

Minggu, 20 Jun 2021 12:17

VOA Indonesia Pemerintah, Sabtu (19/6), mengatakan akan menerima 50 juta dosis vaksin COVID-19 dari Pfizer/BioNTech dan batch pertama diharapkan tiba di Tanah Air pada Agustus.

"Vaksin Pfizer akan mulai masuk pada Agustus, dengan pengiriman antara 7,5 juta hingga 12 juta dosis per bulan," kata Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, seraya menambahkan pasokan tersebut merupakan hasil pembelian langsung pemerintah.

Indonesia sedang bergulat dengan peningkatan infeksi virus corona dalam beberapa pekan terakhir. Pada hari Jumat (18/6), pemerintah mencatat adanya angka infeksi harian tertinggi yang terjadi sejak Januari dengan 12.990 kasus.

Indonesia mencatat hampir 2 juta infeksi virus corona sejak pandemi dimulai dengan 54.291 kematian, suatu angka yang tertinggi di Asia Tenggara.

Pemerintah menargetkan untuk memvaksinasi sekitar 181,5 juta orang pada tahun depan. Pada hari Sabtu (19/6), 12,2 juta orang dilaporkan telah menerima dua dosis vaksin virus corona. [ah]

Diterbitkan di Berita
 
KBRN, Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan, tingkat efikasi vaksin COVID-19 yang kini sudah beredar dalam menghadapi COVID-19 varian baru mengalami penurunan. 
Ketua Ikatan Dokter Indonesia Dr Daeng M. Faqih mengatakan, meski mengalami penurunan efikasi, vaksinasi tetap harus dilakukan karena masih bermanfaat untuk proteksi dari penularan virus. Hal tersebut disampaikan Dr Daeng dalam diskusi virtual pada Sabtu (19/06/21) mengenai lonjakan kasus COVID-19 usai libur Lebaran. 

"Laporan dari para peneliti, termasuk saya terakhir melihat dari Inggris, memang ada sedikit penurunan (tingkat efikasi). Misalnya Pfizer, kalau dengan varian lain itu 90 persen, untuk varian baru yang Delta yang diperhatikan betul itu sedikit turun tapi masih bagus di angka 70 persen. Termasuk Astrazeneca juga mengalami penurunan," jelas Daeng. 

Hanya saja, Daeng berujar, meski ada penurunan tingkat efikasi, vaksinasi masih sangat dibutuhkan untuk proteksi dari penularan virus. 

"Tapi masih efektif untuk melakukan proteksi, sehingga masih sangat bermanfaat untuk dilakukan upaya proteksi dengan vaksinasi," ujar Daeng menambahkan. 

Sebelumnya, Fisikawan dan peneliti Boghuma Titanji melalui akun Twitter @boghuma mengungkapkan, efikasi tiap-tiap vaksin Covid-19 yang sudah digunakan di berbagai negara terhadap beragam varian Virus Corona hasil mutasi. Dalam tabel yang diunggah Boghuma Titanji yang terpantau pada Sabtu (19/06/21), tampak vaksin Sinovac yang digunakan Indonesia memiliki efikasi terhadap varian awal Corona sebesar 65 persen, dan 50 persen terhadap varian P1 yang berasal dari Afrika Selatan.

Sayangnya, dalam data tersebut vaksin Sinovac tercatat tidak memiliki efikasi terhadap varian Delta atau B.1.617.2 yang berasal dari India yang kini dikabarkan menjadi salah satu penyebab kasus positif di Indonesia melonjak tajam. Hanya empat vaksin yang tercatat memiliki efikasi terhadap varian Delta yaitu: Pfizer 87,9 persen, AstraZeneca 65,5 persen, dan Covishield serta Covaxin dengan 65 persen masing-masing.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, bahwa jika berdasarkan data tersebut, didasarkan pada vaksinasi yang dilakukan di Inggris dan AS yaitu hanya menggunakan AstraZeneca dan Pfizer. Namun, jika dilihat secara keseluruhan, WHO merekomendasikan semua jenis vaksin yang telah mendapatkan izin penggunaan darurat.

 
Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
  
Kondisi tenaga kesehatan (nakes) di Kudus, Jawa Tengah, yang sempat terpapar COVID-19 akibat menangani pasien di fasilitas pelayanan kesehatan kini telah berangsur pulih.
 
Hingga 12 Juni 2021, 308 nakes terkonfirmasi positif COVID-19, 277 tenaga kesehatan dalam perawatan isolasi mandiri, dan 193 lainnya sudah dinyatakan sembuh.
 
“Namun, hari ini (Kamis, 17/6), 90% nakes yang isolasi mandiri sudah bisa mulai masuk kerja dan kembali melayani masyarakat. Ini sebuah berita yang menggembirakan. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa vaksin yang diberikan kepada mereka benar-benar efektif melindungi dari kondisi terburuk,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Badai Ismoyo dikutip dari situs Kemenkes, Jumat (18/6).
 
Vaksin Ampuh! 90% Nakes di Kudus yang Terpapar Corona Sudah Sembuh (1)
Warga menutup lingkungnya untuk penanganan COVID-19 di Kudus. Foto: Akhmad Nazaruddin Lathif/ANTARA
 
Jumlah tenaga kesehatan di Kudus sendiri saat ini mencapai kurang lebih 6.000 orang. Dengan perlindungan yang diberikan melalui program vaksinasi bagi nakes yang dimulai periode Januari-Maret 2021 lalu, nakes di Kudus tidak terlalu banyak terpapar COVID-19.
 
“Hampir 100% nakes di Kudus yang berjumlah sekitar 6.000 orang telah menerima vaksinasi dosis satu dan dua. Dari jumlah tersebut, hanya 308 nakes yang terpapar atau sekitar 5,13% dari jumlah keseluruhan nakes dan sebagian besar di antaranya sudah sembuh dan mulai bekerja kembali,” ujar Badai.
 

Data RSUD Kudus

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr. Loekmono Hadi, dr. Abdul Aziz Achyar menyampaikan data terbaru pada Kamis (17/6), bahwa dari total 153 nakes yang terkonfirmasi kasus positif COVID-19 di rumah sakit tersebut, hanya 11 orang (7,1%) yang dirawat inap, 86 (56%) sisanya melakukan isolasi mandiri.
 
Vaksin Ampuh! 90% Nakes di Kudus yang Terpapar Corona Sudah Sembuh (2)
Suasana di Kudus, Jawa Tengah, pada Senin (7/6) pagi, usai pemberlakuan di rumah saja. Foto: Indra Subagja/kumparan
 
Kemudian dari 153 kasus konfirmasi COVID-19 tersebut 59 (38,5%) nakes RSUD dr. Loekmono Hadi sudah dinyatakan sembuh. Hal ini menunjukkan bahwa vaksinasi COVID-19 bagi nakes efektif mengurangi gejala kesakitan dan risiko kematian.
 
Hingga Kamis (17/6), nakes dan tenaga penunjang kesehatan di Kudus yang telah divaksinasi dosis pertama mencapai 6.085 orang dan yang telah mendapatkan dosis kedua sebanyak 5.888 orang.
  

Menggencarkan Vaksinasi di Kudus

Untuk mengantisipasi dan melakukan intervensi kesehatan di Kudus, Kementerian Kesehatan telah mengalokasikan vaksin COVID-19 sejumlah 50 ribu dosis khusus guna mempercepat cakupan vaksinasi di Kudus.
 
Hal ini merupakan upaya melindungi masyarakat Kudus dari COVID-19 karena terbukti vaksinasi memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang sudah mendapatkannya lebih dahulu.
 
 
Vaksin Ampuh! 90% Nakes di Kudus yang Terpapar Corona Sudah Sembuh (3)
Bupati Kudus Hartopo saat tinjau penanganan corona. Foto: kumparan
 
“Untuk saat ini kita sudah menggencarkan vaksinasi secara masal di Kudus, supaya nanti bisa melandaikan penularan COVID-19,” ujar Bupati Kudus H.M Hartopo, Kamis (10/6) lalu.
 
Diakui Hartopo, lonjakan kasus COVID-19 berawal dari pemudik yang pulang ke Kudus.
 
“Perlu kita informasikan bahwa masyarakat jangan abai dengan protokol kesehatan meski sudah divaksinasi. Vaksinasi sendiri sebetulnya hanya sarana meningkatkan imunitas. Supaya seandainya terpapar COVID-19 tidak bergejala berat,” terangnya.
 
 
Diterbitkan di Berita
Deutsche Welle (DW) - detikNews Jakarta - Abida Ahmed, 27, mantan mahasiswa Universitas Muslim Aligarh (AMU) kehilangan tiga anggota keluarganya sejak gelombang COVID-19 melanda India pada April lalu.

Terlepas dari duka yang mendalam, Abida memberanikan diri untuk mendaftarkan suntikan vaksin pertamanya melalui aplikasi CoWIN yang dikelola pemerintah.

"Ribuan orang India sekarat setiap hari hanya karena mereka sulit mendapatkan oksigen. Banyak lagi yang bahkan tidak bisa dimakamkan dengan layak," kata Abida kepada DW.

"Bagaimana Anda menghibur atau memberi harapan kepada kami? Mengapa kami percaya kepada pemerintah ketika mereka tidak dapat berbuat apa-apa di saat orang-orang sekarat?" dia bertanya.

Amna Khatoon, seorang karyawan swasta, juga kehilangan pamannya karena COVID-19. "Banyak orang yang wafat akibat gelombang kedua, meskipun sudah disuntik vaksin. Tidak ada informasi yang jelas dari pihak berwenang tentang kemanjuran vaksin," kata Khatoon kepada DW.

"Ada ketakutan terhadap keraguan vaksin, karena orang berpikir itu akan menyebabkan efek buruk. Kecemasan ini adalah sesuatu yang perlu kita hilangkan," kata Ali Jafar Abedi dari departemen kedokteran komunitas kepada DW.

Keraguan terhadap vaksin COVID-19

Selama dua bulan terakhir, sebagian komunitas muslim merasa was-was terhadap inokulasi, terutama setelah kematian Maulana Wali Rahmani, Sekretaris Jenderal Dewan Hukum Pribadi Muslim Seluruh India.

Dia menerima suntikan pertama vaksin corona kurang dari seminggu sebelum dinyatakan positif.

Kematian Rahmani semakin menimbulkan keraguan di masyarakat tentang kemanjuran vaksin. Untuk mengatasi kesalahpahaman tersebut, beberapa pemimpin muslim pun meluncurkan kampanye untuk membujuk masyarakat agar mau disuntik vaksin COVID-19.

Wilayah yang dilanda krisis kesehatan parah

Infrastruktur kesehatan di Kota Aligarh dengan populasi lebih dari 1,2 juta penduduk, kebanjiran pasien sejak April dan Mei lalu. Penduduk di sejumlah kota tetangga seperti Kasganj, Hathras, dan Iglas juga mendatangi fasilitas medis di Aligarh untuk mendapatkan perawatan.

"Kondisi itu adalah mimpi buruk, pemerintah tidak membantu kami. Warga saling membantu, tetapi tidak ada tempat tidur di rumah sakit," Asha Devi, seorang ibu rumah tangga dari Hathras, mengatakan kepada DW.

Perlu meredam informasi yang tidak jelas

Wakil Rektor AMU Tariq Mansoor mengatakan keraguan terhadap vaksin telah berkontribusi pada penyebaran virus corona di kampus.

"Keraguan akan vaksin memainkan peranan penting dalam sejumlah besar kasus COVID-19 di antara karyawan universitas dan keluarga mereka," kata Mansoor dalam surat terbuka kepada komunitas AMU bulan lalu.

"Vaksinasi diperlukan untuk mengendalikan situasi saat ini, serta mencegah potensi gelombang ketiga di masa depan," katanya. Beberapa percaya bahwa keraguan vaksin juga merupakan akibat dari komunikasi yang buruk.

"Sejak awal, seharusnya ada pesan yang jelas untuk mengatakan bahwa vaksinasi akan melindungi warga dari penyakit serius, dan ini tidak pernah dicoba," kata seorang anggota fakultas senior kepada DW.

"Ada banyak desas-desus tentang vaksin, tetapi salah satu yang beredar di kalangan muslim adalah bahwa vaksinasi itu adalah taktik untuk mengendalikan populasi muslim," tambahnya.

Menghilangkan rumor dan teori konspirasi semacam itu sangat sulit, tetapi beberapa orang merasa bahwa masalah yang lebih besar adalah ketidakpercayaan mendasar terhadap pihak berwenang.

Dokter Saira Mehnaz mengatakan masyarakat bisa mengatasi masalah keragu-raguan vaksin. "Tetapi, yang sangat kami butuhkan adalah peluncuran vaksin yang cepat sehingga orang dapat disuntik dan aman." (ha/gtp)

(ita/ita)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Tenaga kesehatan (nakes) merupakan kelompok penerima vaksinasi Sinovac paling awal sejak awal 2021, karena pekerjaan dengan risiko penularan corona tinggi. 
Meski hampir seluruh nakes sudah mendapat vaksinasi lengkap, ternyata dalam hitungan bulan ada saja ditemukan kasus nakes yang terinfeksi corona.
 
Di Kudus misalnya, jumlah nakes yang terpapar bahkan mencapai ratusan orang, tepatnya 358 orang. Juga di Cilacap, 49 nakes juga terpapar meski sudah divaksin 2 dosis.
Para nakes divaksin lengkap sekitar Februari 2021. Lantas, apakah masa kekebalan vaksin Sinovac sudah habis di bulan Juni? Atau berarti kurang dari 6 bulan.
 
Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, vaksin memang tak bisa menjamin 100 persen aman dari potensi penularan.
 "Enggak (bukan karena masa kekebalan vaksin Sinovac), karena prokes dan risiko tertular kan tetap ada karena vaksin tidak yang 100% (memberi) perlindungan penularan," jelas Nadia saat dimintai penjelasan oleh kumparan, Rabu (9/6).
 
Ratusan Nakes Corona Meski Sudah Divaksin, Kekebalan Sinovac Kurang 6 Bulan? (1)
Sejumlah tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri (APD) berjalan menuju ruang perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
 
Menurutnya, walaupun masih terdapat kemungkinan tertular COVID-19, para nakes yang telah divaksinasi masih mendapat perlindungan dari potensi infeksi dengan gejala berat hingga kematian.
"Tapi untuk gejala berat dan kematian itu perlindungannya lebih dari 95%," tambahnya. 
 
Untuk itu, Nadia mengimbau agar para nakes tetap menjalankan protokol kesehatan (prokes) pada saat sedang bertugas maupun usai bekerja dan kembali ke rumah.
Pasalnya, risiko penularan corona bisa saja terjadi saat nakes tidak bekerja atau dari lingkungan tempat tinggalnya.
 
"Kan yang baru 100 persen (menjalankan protokol kesehatan) hanya di kalangan nakes (saat bekerja). Nakes kan enggak tinggal sendiri," tutup Nadia.
 
Ratusan Nakes Corona Meski Sudah Divaksin, Kekebalan Sinovac Kurang 6 Bulan? (2)
Sejumlah tenaga kesehatan mendapatkan vaksinasi dosis pertama vaksin COVID-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
 
Vaksinasi memang menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mengendalikan pandemi corona. Hal ini bertujuan untuk mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity.
Kondisi ini perlu dicapai untuk melindungi komunitas dari penyakit menular, hingga orang yang tidak bisa divaksinasi ikut terlindungi.
 
Jubir Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito pernah menyatakan upaya mempercepat vaksinasi demi herd immunity harus dibarengi dengan kedisiplinan masyarakat mematuhi prokes.
 
"Disiplin prokes adalah cara utama untuk mengurangi peluang peningkatan penularan maupun mutasi virus. Kedua, mendukung program vaksinasi dan ikut serta vaksinasi dengan pertimbangan kondisi kesehatan dan memenuhi kriteria peserta vaksin, dukungan masyarakat akan mempercepat cakupan masyarakat yang tervaksinasi," ucapnya, Kamis (28/1).
 
Ratusan Nakes Corona Meski Sudah Divaksin, Kekebalan Sinovac Kurang 6 Bulan? (3)
Infografik jika terjadi reaksi usai vaksinasi corona. Foto: kumparan
Diterbitkan di Berita

Menanti Vaksinasi Covid-19 untuk Anak

Selasa, 08 Jun 2021 16:45

katadata.co.id

Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia terus berjalan dan penerimanya mulai menyasar berbagai kelompok masyarakat.

Dimulai dari tenaga kesehatan, kemudian lansia, lantas untuk pekerja di sektor swasta dimulai beberapa pekan lalu. Namun sampai sejauh ini program vaksinasi virus corona masih belum menyentuh ke anak-anak.

Hal ini perlu menjadi perhatian mengingat pemerintah berencana memulai kembali pembelajaran tatap muka pada Juli 2021.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, saat ini mereka menunggu rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), dan beberapa organisasi lainnya terkait vaksinasi anak. 

"(Vaksinasi) anak-anak masih menunggu rekomendasi dari IDAI, ITAGI, dan organsisasi lainnya. Mereka akan melihat vaksin mana yang akan digunakan untuk anak-anak," kata Nadia di acara bertajuk Mengenal Varian Baru Covid-19 dan Efektivitas Vaksin beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, selain itu perlu dipastikan juga jenis vaksin yang sudah melalui uji klinis tersedia di Indonesia. "Kalau harus mencari jenis vaksin baru, berarti pemerintah harus nego lagi. Belum tentu produsen vaksinnya punya stok," tambahnya.

Sejauh ini vaksin yang sudah beredar dan digunakan di Indonesia seperti Sinovac, Pfizer, dan Astrazeneca belum bisa dipastikan apakah bisa digunakan untuk anak. Sejauh ini vaksin-vaksin tersebut baru direkomendasikan untuk mereka yang berusia di atas 16 tahun.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dokter Yogi Prawira menjelaskan kalau anak selalu menjadi kelompok yang paling terakhir mendapat vaksin.

“Karena kalau anak ini mengalami efek samping, maka yang kita khawatirkan itu jangka panjangnya, tumbuh kembang dia,” ujarnya pada kesempatan terpisah. Isu keamanan menjadi sangat penting.

Oleh sebab itu harus dipastikan dulu vaksinasi pada orang dewasa tidak menimbulkan efek samping yang parah. “Kalau memang aman (untuk orang dewasa) maka kita akan uji coba ke kelompok usia anak,” tambahnya.

Dia juga menjelaskan kalau di beberapa negara proses uji klinik ke anak-anak usia remaja sudah dilaksanakan.

Sementara di Indonesia proses uji kliniknya sedang dipersiapkan. Prosesnya pun nanti akan menyasar dari anak remaja, baru perlahan turun ke kelompok usia di bawahnya.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) fokus dengan program vaksinasi guru dan tenaga kependidikan.

Dilansir dari CNN Indonesia, Mendikbudristek Nadiem Makarim menargetkan, paling lambat program ini akan selesai Agustus 2021. Molor dari rencana awal yang ditargetkan rampung pada pekan kedua Juni.

Sampai sejauh ini, menurut Nadiem sudah sekitar 28 persen guru dan tenaga kependidikan secara nasional mendapat vaksinasi dosis pertama.  

 

 

Melihat kondisi seperti ini menjadi sangat penting protokol kesehatan diterapkan dengan sangat ketat jika sekolah nantinya sudah kembali beroperasi.

Dokter Yogi mengingatkan, bukan hanya di lingkungan sekolah, nantinya dari berangkat hingga sampai kembali ke rumah, semua pihak harus berkolaborasi untuk melindungi anak dari paparan virus. 

“Semua pihak harus berkontribusi; dari orang tua, sekolah, pemerintah. Pemerintah juga bukan hanya dinas pendidikan, tapi juga dinas kesehatan, mungkin (bahkan) harus ada satpol pp misalnya,” ujarnya lagi.

Dia juga mengingatkan untuk orang tua agar tetap menerapkan Gerakan 3M: mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Serta menghindari 3K: kamar tertutup, keramaian, dan kontak erat. 

Hal ini untuk menjadi bekal bagi anak nantinya. Penerapan secara konsisten dan berulang setiap hari penting dilakukan karena anak adalah peniru yang ulung.

Sehingga orang tua dan anggota keluarga di rumah harus memberi contoh melalui praktik penerapan protokol kesehatan sehingga anak dapat menirunya ketika nanti harus keluar pergi ke sekolah. 


Penulis: Alfons Yoshio
Editor: Anshar Dwi Wibowo

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia pada Sabtu, 5 Juni 2021, pukul 18.00 WIB kedatangan 313.100 dosis vaksin AstraZeneca melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Kedatangan vaksin AstraZeneca dari COVAX tidak lepas dari kerja keras pemerintah yang sejak Oktober 2020 telah menjajaki kerjasama multilateral COVID-19 COVAX. Sebuah inisiatif global yang ditujukan untuk akses memeroleh vaksin COVID.

Melalui mekanisme Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI), COVAX Advance Market Commitment (COVAX AMC), Indonesia memeroleh jatah vaksin Corona sebesar tiga hingga 20 persen dari jumlah penduduk.

Di tengah gencarnya pemerintah meningkatkan akselerasi pelaksananaan vaksinasi COVID, menjaga ketersediaan vaksin menjadi hal yang sangat krusial.

Dengan kedatangan 313.100 vaksin AstraZeneca, jumlah vaksin COVID-19 di tanah air saat ini menjadi 92,2 juta dosis. Kombinasi antara vaksin jadi dan bahan baku (bulk), dengan rincian sebagai berikut:

- 3 juta dosis vaksin jadi Sinovac

- 6,7 juta dosis vaksin jadi AstraZeneca

- 1 juta dosis vaksin jadi Sinopharm

- 81,5 juta dosis vaksin Sinovac dalam bentuk bulk.

Indonesia Punya 76,2 Juta Dosis Vaksin Jadi, Bisa untuk 37,6 Juta Jiwa

 

Bahan baku vaksin diolah di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat. Keseluruhan vaksin jadi yang sudah dimiliki berjumlah 76,2 juta dosis, yang cukup untuk 37,6 juta jiwa, seperti dikutip dari keterangan resmi Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) yang diterima Health Liputan6.com pada Minggu, 6 Juni 2021.

Seiring dengan target vaksinasi rata-rata 1 juta per hari mulai Juni 2021, dalam upaya mencapai kekebalan kelompok  (herd immunity), berbagai upaya percepatan terus dilakukan, di antaranya:

- Memersingkat alur vaksinasi dari empat meja menjadi dua meja

- Mulai memvaksinasi populasi berusia 50 tahun ke atas di DKI Jakarta dan Bali

- Mulai pilot program vaksin tahap III.

Jumlah Penduduk di Indonesia yang Sudah Menerima Vaksin

 

Per 4 Juni 2021, Satuan Tugas Penanganan COVID-19 di Indonesia melaporkan bahwa sebanyak 17,3 juta orang sudah memeroleh vaksin dosis pertama. Dan, jumlah orang yang sudah menerima dosis penuh baru sebanyak 11.1 juta orang.

Sementara, realisasi vaksinasi gotong royong sampai 30 Mei 2021 adalah 49 ribu jiwa yang telah menerima vaksin dosis pertama menggunakan vaksin Sinopharm.

Mereka adalah pekerja dari 36 badan usaha atau badan hukum. Dan, hingga saat ini, telah terdistribusi 86 ribu dosis vaksin ke wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Maluku Utara untuk vaksinasi Gotong Royong. 

 
Infografis Perbandingan Vaksin Sinovac dengan AstraZeneca
Diterbitkan di Berita

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta - China telah menyetujui izin penggunaan darurat vaksin Sinovac Biotech untuk usia 3-17 tahun. Indonesia masih menunggu rekomendasi pakar untuk menggunakannya pada anak-anak.

Izin penggunaan vaksin Sinovac untuk mencegah COVID-19 pada anak-anak diungkap oleh pimpinan Sinovac Biotech Yin Weidong dalam wawancara televisi. Kapan mulai diberikan, Yin menyebut tergantung strategi pemerintah China.

Yang pasti, anak-anak punya prioritas lebih rendah dibanding lansia berdasarkan tingkat kerentanan.

Hasil awal uji klinis fase 1 dan 2 menunjukkan vaksin Sinovac bisa memunculkan respons imun pada umur 3-17 tahun. Sebagian besar efek sampingnya adalah ringan.

Sementara itu, vaksin Sinopharm yang menggunakan teknologi serupa yakni inactivated virus telah mengirimkan data sebagai bagian dari pengajuan izin. Vaksin ini juga tengah menjalani uji klinis pada anak 3-17 tahun.

Sementara itu, vaksin Cansino juga sudah memasuki uji klinis fase 2 pada anak usia 6-19 tahun.

Indonesia bagaimana?

Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan tidak akan serta merta memberikan vaksin Corona pada anak.

Pihaknya masih menunggu rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), organisasi profesi, dan Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Ketua ITAGI Prof Dr Sri Rezeki, SpA(K) menyebut ada kemungkinan Indonesia bisa menggunakan vaksin Sinovac pada anak. Namun pihaknya masih menunggu data-data ilmiahnya untuk dikaji.

"Kita masih menunggu publikasi ilmiahnya," kata Prof Sri pada detikcom, Sabtu (5/6/2021).

(up/up)

Diterbitkan di Berita
Jakarta, CNN Indonesia -- Vaksin Covid-19 AstraZeneca diklaim mampu melawan pengaruh dari varian mutasi virus SARS-CoV-2 yang saat ini juga mulai bermunculan di Indonesia.

Direktur AstraZeneca Indonesia Rizman Abudeiri meyakini vaksin pihaknya yang sudah disetujui peredarannnya di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) itu telah melalui banyak tahapan penelitian, mulai aspek keamanan, efikasi, dan kualitas.

"Kita juga harus percaya bahwa proses vaksinasi yang dilakukan hari ini tidak hanya bisa mencegah terjadinya penularan Covid-19, atau menuju herd immunity yang bermanfaat untuk pencegahan Covid-19. Tapi juga varian-variannya, kita harus percaya itu," kata Rizman dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Lawan Covid 19 ID, dikutip Jumat (4/6).

Risman menegaskan, kesepakatan untuk menggunakan vaksin buatan perusahaan farmasi Inggris itu di Indonesia telah melalui banyak kajian saintifik yang mendalam. Sehingga, pemerintah menurutnya telah mempertimbangkan baik-buruknya suatu vaksin.

Risman sekaligus menginformasikan saat ini sebanyak 400 juta dosis vaksin AstraZeneca telah diproduksi dan didistribusikan ke 165 negara.

Dari jumlah itu, AstraZeneca menurutnya juga mengedarkan vaksin melalui skema kerjasama multilateral Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI) COVAX Facility sebanyak 66 juta dosis ke 120 negara.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapat jatah vaksin dari skema COVAX Facility. Terhitung, saat ini Indonesia sudah kedatangan sebanyak kurang lebih 6 juta dosis vaksin AstraZeneca.

"Pemerintah dalam melakukan keputusan tidak main-main. Dan kami sebagai industri farmasi, data yang kita sampaikan sangat luar biasa. Dikaji sangat mendalam, sangat cermat, sehingga keputusan ini terjadi," ujarnya.

Masih di acara yang sama, Pemerhati Imunisasi, Julitasari Sundoro mengatakan mutasi merupakan hal lumrah yang terjadi sebagai respons kehidupan dari virus. Oleh sebab itu, Julitasari meminta masyarakat untuk tidak panik bahwa kegunaan vaksin akan sia-sia.

Julitasari memastikan sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang secara gamblang menegaskan hubungan pada mutasi virus yang menurunkan efikasi dan efektivitas vaksin. Ia meminta publik menunggu riset peneliti ihwal mutasi dan vaksin ini.

"Sebetulnya sampai saat ini belum ada bukti bahwa mutasi mengganggu kerja vaksin," kata dia.

Sebelumnya, hasil penelitian lembaga kesehatan di Inggris (PHE) menyatakan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca 66 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian Covid-19 B117. Sementara satu dosis vaksin AstraZeneca 50 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian B117 setelah 3 minggu disuntikkan.

Penelitian yang dilakukan oleh PHE dalam rentang waktu 5 April hingga 16 Mei 2021 ini juga mengemukakan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca 60 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian B1617 asal India. Pun dilaporkan pemberian satu dosis vaksin AstraZeneca 33 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian B1617 pasca 3 minggu vaksin tersebut disuntikkan.

(khr/ain)
Diterbitkan di Berita