Jakarta, CNN Indonesia -- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap satu orang pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diduga berkaitan dengan readyviewed insiden bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Informasi itu dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes Pol E Zulfan. Zulfan mengatakan, total pihaknya telah mengamankan total 33 orang terkait dengan insiden bom itu.

"Benar, sudah 33 orang yang ditangkap guna pemeriksaan oleh penyidik Densus 88," kata Zulfan saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Senin (19/4).

Namun demikian, Zulfan tidak menjelaskan secara rinci terkait peran pegawai BUMN itu dalam insiden bom bunuh diri Makassar.

Diketahui, sepasang suami istri berinisial L dan YSF melakukan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar pada 28 Maret lalu.

Beberapa hari setelah insiden itu, Densus mengamankan tersangka berinisial W yang merupakan otak perakit bom.

Densus juga menangkap sejumlah rekan L dan YSF di kelompok tersebut. Beberapa orang itu diduga kuat memberi motivasi agar L dan YSF menjalankan aksinya. Selain itu, terdapat juga pihak yang ikut survei lokasi pengeboman.

Selain rangkaian operasi di Makassar, polisi juga menangkap sejumlah terduga teroris di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Puluhan terduga teroris yang telah ditangkap itu kini menjalani pemeriksaan intensif oleh tim Densus 88. Dari semua yang diamankan diketahui merupakan jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah atau JAD, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. 

(yoa/pris)

Diterbitkan di Berita

M Iqbal - detikNews Jakarta - Dua narapidana kasus terorisme (napiter) Lapas Cilegon mengikrarkan diri setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pihak Lapas menyebut keduanya melaksanakan ikrar atas kemauan sendiri dan disetujui oleh instansi terkait.

Ikrar setia NKRI dilaksanakan di Lapas Cilegon. Keputusan keduanya untuk mengikrarkan diri setia kepada NKRI sudah mendapat persetujuan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Densus 88 Antiteror, Polisi, dan TNI setempat.

Keduanya melakukan prosesi ikrar diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya kemudian mencium bendera Merah Putih sebagai simbol kembalinya ke pelukan NKRI.

Kedua napiter berinisial MA (38) dan QR (56). MA masuk penjara pada Juni 2020 dan dipidana 5 tahun penjara karena keterlibatannya dalam organisasi teroris. Sementara QR masuk penjara pada November 2019 dan dipidana 3 tahun penjara.

"Dengan hati nuraninya dia meminta ingin berikrar dan menjadi warga negara yang baik. Serta berjanji akan setia terhadap NKRI. Tentu ini sangat baik," katanya Kalapas Colegon, Erry Taruna melalui keterangannya, Jumat (9/4/2021).

Erry menjelaskan, pihaknya sudah melakukan pendekatan sebelum dua napiter ikrar setia NKRI. Kendati begitu, pihaknya memaksimalkan upaya dengan cara humanis di Lapas Cilegon.

"Alhamdulillah hasilnya nampak di hari ini 2 napiter kembali mengakui NKRI dan kecintaannya terhadap tanah air serta setia kepada Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dengan adanya ikrar NKRI oleh napiter ini menjadi achievement tersendiri bagi Lapas di mana proses deradikalisasi telah tercapai sesuai sasarannya", tungkasnya.

Sementara, salah satu napiter, QM mengatakan, ikrar dirinya kembali ke NKRI sebagai bentuk pertobatan dan pengakuan kesalahan atas perbuatannya hingga dia dipenjara.

"Event ini sekali lagi sebagai suatu pertobatan saya sekaligus penyesalan mudah-mudahan pihak terkait bisa menyadari bahwa saya sudah kembali ke NKRI," katanya.

Dia mengajak kepada napiter lain agar bertobat dan mengikrarkan diri kembali ke NKRI. Menurutnya, sistem di Republik Indonesia tidak berseberangan dengan apa yang diyakini selama ini.

"Bagi teman-teman di luar, saya berharap sadar lah bahwa kesalahan ini masih bisa kita perbaiki, mudah-mudahan kesalahan ini bisa memberikan ampunan bagi kita semua karena bagaimana pun juga saya meyakini bahwa kekeliruan bisa (menimpa) siapa saja. Tapi saya yakin teman-teman semakin banyak merenung mudah-mudahan bisa bersama-sama lagi kembali bisa menjalani muslim yang baik karena kita sadar kita adalah berada di wilayah NKRI yang hari ini kita bersama-bersama bahwa apa yang ada di negara ini sejatinya tidak berseberangan dengan yang kita yakini," kata dia.
(knv/knv)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia --  Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mencatat Densus 88 telah menangkap 1.073 terduga teroris di wilayah Indonesia sejak 2018 hingga saat ini.

Juru Bicara Kompolnas, Poengky Indarti mengatakan bahwa dari keseluruhan yang ditangkap, ada beberapa yang dilepas karena kurang bukti. Namun demikian, dia tak dapat merinci data pelepasan tersebut.

"Operasi penangkapan teroris oleh Densus 88 dalam kurun waktu 2018 hingga saat ini telah mampu menangkap 1.073 pelaku teror," kata Poengky kepada CNNIndonesia.com, Senin (5/4).

Salah satu yang dia contohkan ialah istri dari terduga teroris di Cianjur berinisial DK yang dilepas Polri karena tak cukup barang bukti.

"DK, perempuan, istri salah satu terduga teroris Cianjur, yang dibebaskan karena dianggap tidak terbukti," ucap Poengky.

"Untuk data lengkap bisa cek ke Polri. Memang jika dalam pemeriksaan tidak terbukti, akan dibebaskan oleh Densus," tambahnya.

Menurut dia, penangkapan itu sekaligus mengamankan sejumlah kegiatan-kegiatan besar yang terselenggara seperti Pemilu 2019, Pilkada 2018 dan 2021, serta Asian Games 2018 yang terpusat di Jakarta dan Palembang hingga kegiatan IMF/World Bank Meeting di Bali.

"Banyak yang ditangkap karena memang cukup bukti keterlibatan mereka di jaringan teroris," tuturnya.

Kemudian, berselang tiga hari kemudian terjadi aksi penyerangan di Mabes Polri, Jakarta, pada Rabu (31/3). Pelaku sempat mengeluarkan tembakan sebanyak enam kali di area Mabes Polri hingga akhirnya ditembak mati oleh petugas.Sebagai informasi, aksi teroris terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Pertama, pasangan suami istri berinisial L dan YSF meledakan diri di depan Gereja Katedral, Makassar pada Minggu (28/3).

Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku yang berinisial ZA diduga merupakan teroris lone wolf alias pelaku tunggal yang diduga terpapar ideologi ISIS. Polisi juga gencar menangkap terduga teroris di sejumlah daerah. 

(mjo/pris)

Diterbitkan di Berita

Yuda Febrian Silitonga - detikNews Karawang - Sebuah rumah di Desa Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang digeledah tim Densus 88 Anti Teror. Rumah tersebut dihuni terduga teroris berinisial LN (34) yang sudah ditangkap lebih dulu.

Ketua RT, Hamid (50) menuturkan, kejadian tertangkapnya terduga teroris dari hasil keterangan yang didapatkannya dari petugas kepolisian saat penggeledahan rumah LN (34), di Blok C no. 6, Perum Regency Klari, Desa Klari, Kecamatan Klari.

"Jadi saya, dihubungi babinkantibmas, hari Sabtu, kemarin, katanya, suruh ikut dalam penggeledahan diduga teroris di Perum Regency Klari bersama tim Densus," jelasnya saat diwawancarai, Senin (4/4/2021).

Dia menuturkan petugas kepolisian telah menangkap salah satu terduga teroris, namun lokasi penangkapannya di wilayah Johar, Kecamatan Karawang Timur.

"Saya dapat info kata polisi, pelaku ditangkap di Johar, tapi tidak tau penangkapannya seperti apa, saya hanya dihubungi untuk menyaksikan penggeledahan rumah diduga teroris," tuturnya.

Saat penggeledahan, ia menyaksikan polisi membawa barang-barang milik pribadi LN (34) sebagai barang bukti."Jadi saya liat, ada dokumen seperti Kartu Keluarga (KK), BPKB, senjata tajam, laptop, HP, buku tabungan, terus ATM, dan buku-buku agama," tuturnya.

Sementara itu, identitas korban itu inisial LN (34) asal dari Ciamis, namun katanya ia belum pernah mendapatkan laporan terkait nama warga tersebut."Jadi namanya belum ada di kependudukan di RT, karena emang dia tidak melaporkan," terangnya.

Sementara itu, dari keterangan warga sekitar, Ahmad Ngafif (37) mengatakan LN ini warga pindahan baru, sudah berumah tangga, dan tidak pernah berbaur dengan warga sekitar.

"Terduga ini kalau yang saya tau itu warga baru, dia suami istri, tapi tidak pernah bersosialisasi, dia baru 3 bulan menempati rumah," terangnya.

Selain itu, Ngafif juga mengatakan selama 3 bulan, LN ini tidak sering beraktivitas dengan para tetangga rumahnya."Jadi selama 3 bulan itu tidak pernah ngobrol atau aktifitas dengan para tetangga," tuturnya.

Ia juga menjelaskan, sebelum ditempati LN, rumah tersebut ditinggali oleh Zakaria."Jadi dulu itu pak Zakaria, yang memang tinggal, dan suka bebersih di situ, terus selang satu bulan diganti LN," ungkapnya.

Lanjutnya, sewaktu ditinggali Zakaria, rumah tersebut memang kosong."Jadi rumah itu sudah dikontrak sama pak Zakaria, kata pak Zakaria waktu ngobrol saat awal-awal bersih-bersih rumah yang ditempati LN sekarang," katanya.

Dalam pantauan di lapangan, rumah Blok C no 6 Perum Regency Klari yang ditempati terduga teroris ini sudah segel garis polisi, dan di depannya terdapat masjid yang menurut Ngafif tidak pernah menjadi tempat ibadah terduga.

"Padahal di depannya itu ada mesjid, tapi saya belum pernah lihat dia shalat," tandas pria yang aktif juga sebagai DKM Masjid Perum.

Sampai berita ini ditulis, saat dihubungi pihak kepolisian belum memberikan kejelasan apapun. (mud/mud)

Diterbitkan di Berita
Hilda Meilisa Rinanda - detikNews Surabaya - Densus 88 menggeledah Ponpes Ibnul Qoyyim di Berbah, Sleman beberapa waktu lalu. Khatib Syuriah PWNU Jatim KH Safruddin Syarif buka suara soal penggeledahan itu.

"Yang pertama bahwa teroris adalah musuh kita bersama. Maka Densus 88 sangat dibutuhkan dan harus kita dukung langkah-langkahnya.

Karena kalau kita biarkan, Indonesia tidak menutup kemungkinan akan menjadi sarang teroris," kata Kiai Safruddin saat dihubungi detikcom di Surabaya, Minggu (4/4/2021).

Kiai Safruddin menambahkan, tidak menutup kemungkinan memang ada pondok pesantren di Jatim yang memiliki ajaran radikal.

"Oleh karenanya, kalau memang Densus 88 melacak ada salah satu pesantren yang kemungkinan di situ ada ajarannya yang menyebabkan terorisme tumbuh subur, maka itu menjadi satu hal yang memang harus dilakukan Densus 88 untuk menggeledah, termasuk ke pesantren," ungkapnya.

Tak hanya itu, Kiai Safruddin juga menyebut Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BPNT) telah menginformasikan jika Ponpes milik Nahdlatul Ulama di Indonesia tak akan mengeluarkan alumni teroris.

"Kita terus terang di Indonesia tidak semua ponpes milik NU, di mana sudah diinformasikan oleh BNPT jika pondok NU itu adalah tidak akan mengeluarkan alumni yang teroris. Artinya teroris itu tak ada satu pun yang keluaran ponpes milik NU," papar Kiai Safruddin.

"Tetapi kita tidak menutup mata sekarang di Indonesia banyak juga pondok salafi. Yang mengembangkan ajaran Wahabi dan sebagainya, yang kemudian di Jerman sendiri ajaran ini menyebabkan timbulnya ekstrimisme secara meningkat.

Misalnya saja yang sudah terang-terangan dulu pondoknya Abu Bakar Ba'asyir. Sampai mengeluarkan buku bahwa pemerintah Indonesia adalah thogut, polisinya thogut. Tentu ajaran ini menyebabkan santrinya menjadi radikal. Tidak ada toleransi sama sekali," jelasnya.

Kendati demikian, Kiai Safruddin menegaskan jika terorisme bukan hanya dari kesalahan mempelajari agama Islam. Tetapi terorisme muncul dari pemahaman agama yang keliru.

"Saya ingin mengatakan bahwa teroris tidak hanya dari ajaran agama Islam, bahwa itu bisa timbul dari kesalahan mempelajari agama Hindu, misalnya di suku Hindu di India.

Kemudian juga di sana banyak yang menghancurkan masjid, suku Rohingya Muslim dihancurkan oleh lingkungannya yang Buddha. Kemudian juga ada di Eropa penyimpangan dari ajaran Nasrani," ungkapnya.

"Ini artinya kesalahan dalam mempelajari agama itu dapat menyebabkan orang menjadi teroris. Walaupun tidak satu-satunya. Maka kita minta bahwa ulama harus sering mengajarkan agamanya yang benar. Karena semua agama tidak mengajarkan kekerasan," tambah Kiai Safruddin.

Untuk itu, Kiai Safruddin mengajak seluruh pihak untuk bekerja sama dalam memerangi terorisme. "Artinya kita harus kerja sama bila ada orang yang mencurigakan segera dilaporkan, karena paham ini dapat diakses melalui internet dan kita gak mungkin menghalangi.

Kalau melihat orang yang sedang ke arah teroris itu harus segera kita tindak. Yakni ke depannya tentu Densus 88 bisa bergerak dengan adil dan bijaksana. Maksud saya kalau ada pondok yang tidak sesuai ajaran Islam, tentu harus segera ditindak.

Jadi imbauannya kita harus mengajarkan agama yang benar," imbau Kiai Safruddin.

Selain itu, dia juga berharap masyarakat Indonesia yang hendak belajar ilmu agama apapun agar bisa belajar dari guru yang tepat.

"Jadi alangkah baiknya kita mencari guru yang benar dan membantu pemerintah bagaimana supaya teroris ini tidak bisa menjadi pengantin, yakni ngebom sana sini. Kemungkinan laporan dari masyarakat ini dapat menyelamatkan Indonesia dari gerakan teroris.

Serta kita harus menjelaskan kepada Densus 88 yang masuk ke pesantren, bahwa pesantren yang dimaksud itu seperti apa agar masyarakat tidak mencap jelek pada pesantren tersebut," pungkasnya. (sun/bdh)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Jajaran Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri kembali menggelar operasi anti teror di DIY. Kali ini, sebuah kantor bernama Syam Organizer di Jalan Suryodiningratan, Kumendaman, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta digeledah, Minggu (4/4).
 
Pantauan kumparan di lokasi, penggeledahan dilakukan pukul 13.00 WIB hingga sekitar pukul 18.30 WIB. Sementara gerbang depan bangunan diberi garis polisi.
 
Densus 88 Geledah Kantor Syam Organizer di Kota Yogya, Sita Dokumen 1 Truk (1)
Kantor Syam Organizer di Jalan Suryodiningratan, Kumendaman, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta digeledah Densus 88 Mabes Polri. Satu truk dokumen disita. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
 
"Saya tadi diminta untuk kulo nuwun dari Densus 88 untuk menyaksikan penggeledahan di Syam Organizer. Jadi saya hanya seperti kulo nuwun untuk mendampingi Densus 88," kata Ketua RT 30 RW 08, Kumendaman, Setyo Karjono, ditemui di rumahnya.
 
Setyo kemudian turut menyaksikan petugas menggeledah seluruh ruang di kantor dua lantai tersebut. Dari ruang-ruang tersebut, didapati banyak berkas dan peralatan kantor. Saking banyaknya, berkas yang dibawa sampai satu truk.
 
"Isinya apa saja kurang tahu persis karena urusan Densus 88. Terlihat cukup banyak dokumen dan peralatan kantor. Kebanyakan dokumen-dokumen. Sampai satu truk, cukup banyak dari jam 1 sampai malam karena segala dokumen," ujarnya.
 
Densus 88 Geledah Kantor Syam Organizer di Kota Yogya, Sita Dokumen 1 Truk (2)
Kantor Syam Organizer di Jalan Suryodiningratan, Kumendaman, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta digeledah Densus 88 Mabes Polri. Satu truk dokumen disita. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
 
Sementara peralatan kantor yang dimaksud adalah komputer, laptop hingga banyak kaleng yang Setyo tak tahu isi detailnya. Sedangkan untuk senjata tajam, Setyo mengatakan tidak ditemukan di kantor tersebut.
 
"Ada kaleng-kaleng gitu saya kurang tahu (detainya). Ya seperti kaleng donasi, kurang tahu ada uangnya (atau tidak). Kalau dokumen, ya, dokumen keuangan," ujarnya.
 
Ketika penggeledahan itu, Setyo menuturkan ada dua orang di dalam kantor. Orang tersebut kemudian diminta untuk menunjukkan ruangan-ruangan yang ada. Akan tetapi, dia tidak tahu apakah orang tersebut kemudian turut diamankan atau tidak.
 
"Dua orang sudah ada disitu sebelum penggeledahan yang nunggu di situ kayaknya. Setelah apakah kemudian dua orang menunggu di situ, dibawa (petugas) saya kurang tahu. Karena langsung disingkirkan. Dia sempat ikut masuk menunjukkan ruangan siapa saja," ujarnya.
 
Densus 88 Geledah Kantor Syam Organizer di Kota Yogya, Sita Dokumen 1 Truk (3)
Kantor Syam Organizer di Jalan Suryodiningratan, Kumendaman, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta digeledah Densus 88 Mabes Polri. Satu truk dokumen disita. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
 
Aktivitas Kantor Ada Sejak Akhir 2019
 
Setyo menjelaskan Syam Organizer mulai berkantor di bangunan tersebut pada akhir 2019, namun, tidak melapor ke pihaknya. Warga juga tidak tahu aktivitas kantor tersebut karena tertutup.
 
"Saya kurang tahu karen mereka agak tertutup juga,. Sebelumnya kan dipakai untuk percetakan. Hanya tahu sebatas kantor. Setahu kami kantor LSM," ujarnya.
 
"Saya kurang tahu bergerak di apa. Aktivitas di kampung juga kurang. Srawungnya (tegur sapa) kurang," tutur Setyo.
 
Sementara itu, Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Purwadi Wahyu Anggoro saat dikonfirmasi soal penyitaan Densus 88 tidak memberikan jawaban.
Diterbitkan di Berita
Ainur Rofiq - detikNews Bojonegoro - Densus 88 menangkap seorang terduga teroris di Kudus, Jawa Tengah. Rumahnya di Bojonegoro kemudian digeledah dan ditemukan 16 buku paham radikal serta jihad.

Terduga teroris itu berinisial AP (30), warga Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Bojonegoro. Sore tadi, Densus 88 melakukan penggeledahan di rumah istrinya di Desa Ngujung, Kecamatan Temayang.

"Iya tadi saya disuruh ikut menyaksikan proses penggeledahan di rumahnya. Ada ditemukan 16 buku paham radikal dan jihad. Satu buah kaus yang ada tulisannya Laa Ilaha Illallah dan HP," jelas Kades Ngujung, Eko Purwanto kepada detikcom, Jumat (2/4/2021).

Eko menambahkan, tim Densus 88 melakukan penggeledahan sekitar pukul 16.30 WIB. Sebelumnya, petugas juga melakukan penggeledahan di rumah orang tua terduga teroris itu di Desa Kedungsumber.

"Sebelum ke rumah istrinya, penggeledahan dilakukan di rumah orang tuanya," imbuh Eko.

Terduga teroris itu ditangkap saat hendak berangkat kerja. Tepatnya di Jalan Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. AP diamankan Densus 88 sekitar pukul 13.00 WIB. (sun/bdh)

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co

Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror kembali menangkap dua terduga teroris di Jakarta. Sehingga, total terduga teroris yang diamankan hingga hari ini di Jakarta berjumlah tujuh orang.

Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, penangkapan terhadap keduanya itu dilakukan pascabom bunuh diri yang terjadi Gereja Katedral Kota Makassar pada Minggu (26/3) kemarin.

“Untuk penahanan lain di NTB tetap 5, di Jatim ada 2 yang diamankan, di Jakarta sudah 7 yang Condet dan Bekasi. Sekarang jumlahnya sudah 7 yang diamankan Densus 88, dan tentunya kasus-kasus akan terus dikembangkan diusut tuntas. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu bagian bagaimana masalah terorisme di tanah air bisa ditangani,” kata Rusdi di Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (1/4).

Namun, Rusdi belum bisa menyebut termasuk pada jaringan mana tujuh terduga teroris yang sudah ditangkap di Jakarta dan sekitarnya.

“Ini belum diketahui untuk Jakarta jaringan mana, masih didalami oleh Densus. Nanti apabila sudah tuntas tugas Densus, rekan-rekan akan tahu ini jaringan mana dan jaringan mana,” ungkapnya.

Lalu, untuk di Makassar sendiri. Sudah sebanyak 18 terduga teroris yang diamankan pasca kejadian bom bunuh diri. Mereka yang diamankan tersebut, termasuk dalam kelompok Villa Mutiara.

Sehingga, total secara keseluruhan yang sudah diamankan pascabom bunuh diri di Gereja Katedral Kota Makassar berjumlah 32 orang.

“Telah diamankan sampai siang hari ini 18 yang diduga terlibat di dalam kasus Gereja Katedral di Makassar, khususnya ini kelompok Villa Mutiara. Sudah 18 dan salah satu otak pembuat bom yang digunakan untuk meledakkan saudara W ini laki-laki telah turut diamankan. Kasus tetap dikembangkan terus, diusut. Sehingga betul-betul kelompok Villa Mutiara ini bisa dituntaskan,” katanya.

Diterbitkan di Berita

Hasan Kurniawan sindonews.com TANGERANG SELATAN - Seorang terduga terorisme di Jalan Cirendeu Indah IV, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), yakni AJ alias Kijut (47), diciduk Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Kijut diduga terlibat dalam serangan terorisme bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar. Hal yang menarik, saat ditangkap pria berusia sekitar 47 tahun itu mengenakan kaos putih bertuliskan #KamiOposisi.

KM (42), tokoh masyarakat sekitar mengatakan, Kijut merupakan warga asli Cirendeu. Dia tinggal mengontrak bersama istri dan anak-anaknya. Warga sekitar mengenalnya sebagai orang pertama yang membawa bendera Laskar FPI di wilayah Cirendue.

"Enggak nyangka, dia asli orang sini. Dulu bandel, minum dan lain-lain. Tatonya juga banyak. Dia FPI, Laskar," kata KM, saat ditemui SINDOnews, di lokasi kejadian.

Menurut KM, Kijut memang sudah lama hijrah. Bahkan, jauh sebelum menikah Kijut sudah tidak berkecimpung dalam dunia hitam lagi. Dia sudah tidak lagi minum minuman keras. Namun satu hal, dia tidak bisa meninggalkan kebiasaannya merokok kretek.

"Orangnya baik, ramah sama siapa saja. Kalau dulu orangnya kurus, sekarang gemuk. Dia mudanya bergaul, supel. Cuma kalau dulu kenakalan anak-anak remaja, minum dan nongkrong," jelasnya.

Diketahui sebelumnya, warga Kelurahan Cirendue, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, dihebohkan dengan penangkapan seorang warganya karena diduga ikut terlibat dalam jaringan pelaku teroris bom bunuh diri.

Ketua RT setempat, Edi menuturkan, ada beberapa barang yang turut diamankan dari kontrakan AJ. "Saya hanya menyaksikan saja. Petugas ngakunya dari macam-macam, ada Densus, Polda juga," tukasnya.
(thm)

Diterbitkan di Berita

voi.id MATARAM - Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap empat orang terduga teroris di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kabid Humas Polda NTB Kombes Artanto membenarkan informasi penangkapan empat warga terduga teroris di Kota Bima.

"Penangkapannya hari Minggu (28/3), di Kota Bima. Seiring berjalan dengan waktu kejadian (bom bunuh diri) di Makassar," kata Artanto. Kini keempat terduga teroris masih diamankan di Rumah Tahanan (Rutan) Polda NTB.

"Diamankan di Rutan Polda NTB guna pengamanan lebih lanjut," ujarnya. Terkait dengan identitasnya, Artanto hanya menyebutkan inisial mereka. Untuk asal dan lokasi penangkapannya, Artanto enggan sampaikan.

"Jadi apakah ada kaitannya dengan kelompok radikal (Jamaah Ansharut Daulah) atau sebagainya, saya tidak punya kewenangan, karena ini hasil giat dari Densus 88/Antiteror, kewenangan itu ada di Mabes Polri," kata Artanto. 

Salah satu terduga teroris yang ditangkap berinisial BU alias Gozi asal Rite, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima.

Mantan narapidana teroris ini ditangkap di Kelurahan Penatoi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, bersama dua anggota JAD lainnya, berinisial LA alias Guru Mudi dan MU alias Abu Zahiroh

Kemudian RAP alias Abu Ridho yang ditangkap di lokasi berbeda, yakni di Kelurahan Nae, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima.

Sebelum akhirnya diamankan di Rutan Polda NTB, keempatnya sempat diamankan oleh Tim Densus 88/Antiteror di Markas Komando (Mako) Brimob Detasemen Pelopor Bima.

Diterbitkan di Berita