detikNews Jakarta - Beredar video di media sosial mengenai menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 2 Pamekasan berupa lele mentah marinasi. Hal ini turut disoroti oleh pakar sekaligus dosen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK Unair) Patmawati. Patmawati menyatakan, dalam konteks distribusi pangan, produk marinasi memang lazim diberikan pada kondisi siap olah. Dengan begitu, produk ini bisa dimasak kembali sebelum dikonsumsi. Ia mencoba menilai kejadian tersebut secara objektif dan komprehensif. Bila dilihat dari sudut pandang keamanan pangan dan penerima MBG, polemik terkait menu ikan lele marinasi ini bisa terjadi karena kesenjangan komunikasi dan standar distribusi. Kesenjangan komunikasi memunculkan miskomunikasi dalam penyampaian informasi kepada penerima MBG dan masyarakat. Jika mekanisme penyajian dan tujuan pemberian menu dijelaskan secara utuh, ia menilai masyarakat pasti akan mengerti bila makanan tersebut perlu diolah sebelum disantap. "Padahal, program ini pada dasarnya dirancang untuk meningkatkan asupan gizi siswa. Sehingga komunikasi dan edukasi terkait keamanan pangan serta cara pengolahan menjadi sangat penting," tuturnya dikutip dari laman Unair. Sebelumnya, informasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan bahwa lele marinasi ini diberikan kepada siswa sebagai menu berbuka puasa. Dengan begitu, ketika diberikan, bentuknya tidak tersaji dalam kondisi matang. Ikan Mentah Mengandung Mikroorganisme Berbahaya Lebih lanjut, Patmawati menjelaskan keamanan pangan bahan mentah berdasarkan prinsipnya. Dijelaskannya, bahan mentah tidak dianjurkan untuk dikemas dalam satu wadah yang sama dengan makanan lain yang siap dikonsumsi. Alasannya, bila mengacu pada lele marinasi ada cairan dari ikan (drip) yang mengandung bakteri pembusuk dan bakteri patogen. Kedua bakteri ini menyebabkan terjadinya kontaminasi silang. "Ikan mentah secara alami mengandung mikroorganisme patogen dan pembusuk, terutama cairan ikan (drip). Terdapat beberapa jenis mikroorganisme seperti Salmonella, E. coli, V. parahaemolyticus dapat menyebabkan gangguan kesehatan," urainya. Kontaminasi yang terjadi dapat berpotensi memengaruhi kualitas produk lain. Menyeramkannya, jika masuk ke dalam tubuh, bakteri tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti diare, mual, muntah, sakit perut, dan demam. Proses marinasi memang dapat menghambat pertumbuhan bakteri, karena mengandung garam. Namun, efek yang diberikan hanya sedikit. Selain itu, Patmawati menyebut marinasi tidak termasuk dalam proses sterilisasi, dengan begitu bakteri masih bisa bertahan dan berkembang. "Bakteri masih dapat bertahan dan berkembang jika kondisi penyimpanan tidak sesuai, terutama dalam suhu dingin," imbuhnya. Lebih Baik Menyajikan Ikan Siap Konsumsi Alih-alih memaksa memberikan olahan mentah, Patmawati menyarankan agar produk ikan sebaiknya tersaji dalam bentuk siap konsumsi. Bila ingin tetap jadi produk siap olah, ikan bisa dikreasikan jadi produk praktis lain yang pasti disukai siswa. Produk praktis ini, seperti nugget ikan, bakso ikan, dan pepes ikan. Produk ini tetap bergizi dan lebih stabil dalam proses distribusi dibandingkan dengan olahan mentah marinasi. Jika dapur MBG tetap ingin memberikan menu produk olahan mentah, Patmawati menegaskan perlu tertera informasi tentang cara penyimpanan dan pengolahan secara jelas. Ke depan, polemik ini bisa dijadikan bahan evaluasi soal standar operasional, pengawasan kualitas, dan edukasi bagi penerima manfaat. "Oleh sebab itu perlu adanya evaluasi standar operasional, pengawasan kualitas, serta edukasi penerima manfaat agar kejadian serupa tidak terulang," tutur Patma. (det/faz) Sumber: https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8401129/viral-menu-mbg-lele-marinasi-mentah-pakar-unair-menyeramkan-jika-masuk-tubuh