Petasan Maulid Picu Keributan di Jaksel, KH Taufik Damas Ingatkan Tenggang Rasa

Wakil Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta KH Taufik Damas. (Foto : Dok. Pribadi) Wakil Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta KH Taufik Damas. (Foto : Dok. Pribadi)
Selasa, 06 Oktober 2026 17:16
(0 pemilihan)

Jakarta Timur, NU Online Jakarta Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di Jalan Keramat 2, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, berujung keributan. Warga memprotes petasan dan kembang api yang dinyalakan hingga mendekati pukul 01.00 WIB, Sabtu (3/10/2026). Warga mengeluhkan suara ledakan karena mengganggu waktu istirahat di kawasan permukiman.

Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan cekcok antara warga dan sejumlah pihak di lokasi acara. Salah satu warga, seorang ibu, memprotes petasan karena anaknya sensitif terhadap suara bising. Video itu juga memperlihatkan tindakan oknum penyelenggara acara terhadap warga yang memprotes.

Petasan dan kembang api itu dinyalakan dalam acara Maulid dan haul keluarga. Sejumlah warga mendatangi lokasi acara untuk menyampaikan keluhan hingga keributan pecah. Pemerintah Kelurahan Pondok Pinang kemudian memfasilitasi mediasi bersama unsur kepolisian, TNI, Satpol PP, tokoh masyarakat, dan pihak-pihak yang terlibat.

Wakil Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Taufik Damas mengingatkan penyelenggara kegiatan keagamaan agar memperhatikan waktu pelaksanaan acara dan kenyamanan masyarakat sekitar. Ia menyebut sikap tenggang rasa penting, terutama dalam kehidupan masyarakat Jakarta yang tinggal di kawasan padat.

“Penyelenggara acara harus memperhatikan waktu. Jangan sampai pelaksanaan acara justru mengganggu waktu istirahat masyarakat di sekitarnya. Apalagi Jakarta ini kota metropolitan, di mana pemukiman penduduknya cenderung padat. Karena itu, penting sekali untuk memiliki sikap tenggang rasa dan memperhatikan kenyamanan orang lain di sekitar,” kata Kiai Taufik kepada NU Online Jakarta, Senin (5/10/2026).

Kiai Taufik menyatakan petasan bukan bagian penting dalam peringatan Maulid Nabi. Menurutnya, Maulid Nabi semestinya diarahkan pada upaya meneladani akhlak dan kehidupan Nabi Muhammad saw.

“Dalam acara Maulid Nabi, penggunaan petasan itu sebenarnya bukan sesuatu yang penting. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menghidupkan nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad saw, termasuk menjaga kenyamanan dan menghormati orang lain,” ujarnya. Ia juga meminta penyelenggara mempertimbangkan kondisi lingkungan sebelum menggelar kegiatan, terlebih di kawasan permukiman padat.

“Jakarta ini kota metropolitan, masyarakatnya hidup berdampingan dalam kawasan yang padat. Jadi, ketika kita melaksanakan suatu acara, kita juga harus memperhatikan kenyamanan orang lain. Jangan sampai kegiatan yang kita anggap baik justru menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat sekitar,” tuturnya. Kiai Taufik mengingatkan agar teguran masyarakat tidak langsung dibalas dengan kemarahan. Menurutnya, teguran semestinya menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara.

“Ketika ada teguran dari warga, seharusnya kita melakukan koreksi terhadap diri sendiri. Jangan justru teguran itu dibalas dengan kemarahan. Kita harus melihat apakah memang ada yang mengganggu kenyamanan masyarakat dan kemudian memperbaikinya,” katanya. Ia menambahkan, menjaga kenyamanan orang lain juga bagian dari ajaran Islam. Dalam hal ini, ia mencontohkan sikap Nabi Muhammad saw yang pernah menegur orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara keras di masjid karena mengganggu orang lain.

“Bahkan Nabi Muhammad saw pernah menegur orang yang membaca Al-Qur’an terlalu keras di masjid karena mengganggu orang lain. Artinya, dalam beribadah sekalipun kita tetap harus memperhatikan kenyamanan orang di sekitar,” pungkasnya. Peristiwa ini juga mendapat perhatian Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Ia meminta jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ikut menangani persoalan tersebut setelah mengetahui keributan itu.

“Karena bagaimanapun tidak eloklah bahwa sudah jam 01.00 malam masih membunyikan petasan dan sebagainya. Kebetulan anaknya Ibu tadi kan memang sensitif terhadap petasan dan sebagainya,” kata Pramono kepada wartawan di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026).

Pramono meminta penggunaan petasan dan kembang api di kawasan permukiman dibatasi, khususnya pada malam hari. Menurutnya, kegiatan masyarakat tetap boleh dilaksanakan, tetapi tidak boleh mengganggu ketertiban dan kenyamanan warga. “Kalau memang jam masih sore, monggo saja, tapi jangan kemudian mengganggu ketertiban masyarakat. Dan saya minta ini mudah-mudahan tidak terulang kembali,” ujarnya.

 

Sumber: https://jakarta.nu.or.id/jakarta-raya/petasan-maulid-picu-keributan-di-jaksel-kh-taufik-damas-ingatkan-tenggang-rasa-cyfW3

 

Baca 9 kali Terakhir diubah pada Selasa, 06 Oktober 2026 17:20
Bagikan: