JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Hingga kini, ada beda pendapat di kalangan umat Muslim apakah mengucapkan Selamat Natal diharamkan atau tidak. Namun, di tengah polemik itu, dalam catatan sejarah Batavia (kini Jakarta), ternyata ada sepenggal kisah unik tentang asal-usul makanan yang kini diterima menjadi makanan khas di hari Natal maupun Lebaran. Mungkin Anda sudah mengenalnya. Ya, namanya kue kastengel (kaastengels) dan Nastar. Kue Kastengel, merupakan kue kering berbahan dasar keju dan asal-usulnya adalah resep asli Belanda. Kini makanan tersebut sudah tersebar dan sangat populis di Nusantara, menghiasai meja tamu di hari Natal dan Lebaran. Nama asli dari Kastengel adalah kaasstengels yang berasal dari kata kaas (keju) dan stengels (batangan), jadi secara etimologi kastengel berarti kue keju batangan. Di negara asalnya, kastengel berbeda dengan di Indonesia. Bentuknya lebih panjang sekitar lebih dari 30 sentimeter, sedangkan di Indonesia bentuk kastengel ini lebih kecil yaitu seukuran 4 sentimeter. Ukurannya menjadi lebih kecil kemungkinan karena di Indonesia tidak ada oven yang memiliki ukuran besar. Kisah mengenai kastengel secara apik pernah diulas Sejarawan Jakarta, JJ Rizal dalam catatan berjudul “Persaudaraan dalam Kue Lebaran” dan dipublikasikan di Kompas pada “14 Oktober 2006. Dahulu di masa Batavia, “nastar kue natalan bertemu dengan ketupat lebaran di satu meja makan orang Islam di Betawi,” kata JJ Rizal. Bahkan sebenarnya, masyarakat Betawi tak hanya menerima budaya kuliner Belanda saja tetapi juga Portugis hingga China. Semua unsur kemudian berpadu membentuk khas budaya Betawi kini. Berbagai kue Betawi adalah hasil percampuran budaya. Saat Lebaran, “setiap orang akan dapat menemukan kembali ketupat sambel godog dengan semur, manisan buatep, dan kue nastar, kue semprit dan tentu saja dodol!” Ketupat dibelah dan dipotong-potong lalu diguyur dengan sambel godog dan semur. Asal-usul ketupat adalah dari tradisi masyarakat agraris Asia Tenggara, seperti di Malaysia, Brunei, Singapura dan Filipina. Ketupat pun banyak dikenal di kebudayaan makanan aneka masyarakat Nusantara, hanya namanya saja berbeda-beda, seperti tupat, atupato, ketupat, katupek, topat, katopa’. kasipat, dll. Sedangkan sayur kuahnya yang namanya sambel godog tampak merupakan kreasi dapur orang Betawi-Jakarta, tetapi semur dari dapur orang Eropa. Sedangkan kecap yang menjadi bumbu utama semur dari dapur orang Cina. Ada keberagaman yang menyimbol di sini. Sayangnya, “harmonisme” keberagaman yang dulu kental terasa dalam makanan lebaran seringkali tidak langgeng. Kudapan khas lebaran manisan buah papaya dan manisan buah ceremai yang berasal dari dapur orang Cina dan dulu selalu ada saat lebaran, sekarang sudah hampir tidak dapat lagi ditemukan. Untunglah manisan buatep alias kolang-kaling masih dapat ditemukan di meja hidangan lebaran walaupun sudah mulai jarang. Si “mutiara” legit manis yang diolah dalam warna-warni cerah merah, hijau, atau putih ini paling enak kalau daun jeruknya berasa dan disantap dengan potongan-potongan kecil es. Sumbangan dapur Cina lainnya untuk hidangan lebaran yang sudah sulit ditemui lagi adalah kue satu. Kue ini berbahan tepung kacang hijau dicampur gula putih. Kisah sejarah tentang multikulturalisme yang sangat unik adalah ketika saat Lebaran, masyarakat Betawi memasukkan kastengel (kaastengels) sebagai menu hidangan pokok. Padahal, kue ini dahulu banyak menghiasi meja tamu untuk kalangan Indo Kristiani di Batavia. Jadi, bila dirunut, asal-usul makanan khas Betawi kini bisa dikatakan unsur China diserap lebih dulu baru kemudian Belanda. Kaastengels dahulu disebut juga kue kiju karena itu adalah kue orang Belanda atau Indo yang identik dengan keju. Tapi bagaimana kaastengels bisa masuk hidangan lebaran orang Betawi-Jakarta? Banyak cerita yang dituturkan dari orang-orang tua yang hidup di zaman voor de oorlog alias zaman sebelum perang di Jakarta mengungkapkan bahwa orang Betawi setiap Natal dan Tahun Baru datang ke rumah orang Indo. “Biasanya malam hari. Mereka memberi ucapan selamat dan dijamu. Sebaliknya sinyo dan noni ikut merayakan malam lebaran, bermain petasan dan kumpul-kumpul di kampung. Tuan dan nyonya memberi ucapan selamat lebaran kepada tetangganya orang Betawi,” tulis JJ Rizal. Begitulah mulanya. Orang Betawi pun jadi kenal dan doyan kaastengels yang ditemuinya saat Natal. “Bahkan tidak itu saja, dari dapur orang Indo untuk hidangan lebaran mereka tambah dengan memasukkan juga kue ‘orang serani’ (Kristen) lainnya, seperti ananastaart yang dilafalkan menjadi kue nastar dan kue botersprits yang oleh lidah Betawi disebut kue semprit,” imbuh JJ Rizal. Termasuk beralih dari peminum teh menjadi peminum sirup di hari istimewa itu. Sebaliknya orang Indo pun jadi ikutan suka pada si hitam manis alias dodol yang merupakan hidangan utama lebaran. Siapa pula yang tidak akan suka dodol, apalagi kalau itu adalah buatan tangan-tangan ahlinya yaitu mereka yang disebut orang Betawi-Jakarta sebagai orang “Belanda Depok”. Kue kiju, nastar, dodol adalah kue yang selalu dan masih dapat ditemukan sampai lebaran sekarang ini. Selain tape uli khas Betawi-Jakarta dan sumbangan dapur Cina lainnya yaitu kacang goreng yang dulu pernah sangat populer sebagai pelengkap utama rijstaffel. Menengok asal-usul beberapa makanan tersebut, terasa betapa indah persaudaraan. Beberapa makanan itu adalah saksi bisu harmonisme keberagaman kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu. Reporter : Taat UjiantoEditor : Taat Ujianto Sumber: https://www.netralnews.com/ketika-orang-betawi-ucapkan-selamat-natal-dan-nikmati-makanan-kristen-lcd93t