Kebohongan Gus Miftah Dibongkar Keluarga Sendiri, Ternyata Bukan Keturunan Ulama Besar

Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, Gus Miftah menyampaikan keterangan pers di Ponpes Ora Aji, Purwomartani, Kalasan, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat (6/12/2024). Gus Miftah menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan Kabinet Merah Putih serta mengucapkan terimakasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas amanah dan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, Gus Miftah menyampaikan keterangan pers di Ponpes Ora Aji, Purwomartani, Kalasan, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat (6/12/2024). Gus Miftah menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan Kabinet Merah Putih serta mengucapkan terimakasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas amanah dan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. /Antara/Andreas Fitri Atmoko ANTARA FOTO
Rabu, 11 Desember 2024 08:59
(0 pemilihan)

PIKIRAN RAKYAT - Klaim Miftah Maulana Habiburrahman atau yang dikenal sebagai Gus Miftah sebagai keturunan ulama besar Kiai Ageng Hasan Besari dibantah keluarganya sendiri.

Salah satu kerabat mengungkapkan bahwa klaim Miftah Maulana keturunan pendiri salah satu pesantren tertua di Indonesia, Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo, itu merupakan sebuah kebohongan.

Polemik mengenai asal-usul Miftah Maulana itu ramai diperbincangkan, karena menjadi dasar di balik panggilan 'gus' sebelum namanya.

Apalagi, dia menjadi sorotan setelah terlibat kontroversi penghinaan terhadap pedagang es teh.

Setelah pengunduran dirinya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, silsilah keturunan pendakwah kontroversial itu masih menjadi sorotan publik.

Meski PBNU telah menyatakan bahwa Miftah Maulana memang keturunan seorang kiai, banyak pihak tetap meragukan klaim tersebut.

Nur Syahid, warga Desa Mojorejo, Kecamatan Jetis, Ponorogo, yang satu buyut dengan Turut atau Murodhi (bapak Miftah Maulana), dengan tegas membantah hubungan silsilah tersebut.

Menurutnya, Miftah tidak mempunyai silsilah langsung dengan Kiai Ageng Hasan Besari. Dia pun mengaku tak takut dengan kesaksiannya.

Jika nanti Miftah Maulana datang menemuinya, dia dengan tegas berani mengatakan 'Kamu bukan silsilah Tegalsari', karena klaim itu adalah sebuah kebohongan. Miftah Maulana merupakan warga asli Bantengan, Mojorejo, Jetis. Nur Syahid menjelaskan bahwa silsilah keluarga Miftah Maulana berasal dari Mbah Kariman, pendiri kawasan Bantengan, Mojorejo.

Dia menyebutkan bahwa kakek Miftah Maulana, Boniran, memiliki empat anak: Dulsalam, Bakin, Bares, dan Turut atau Murodhi yang merupakan ayah Gus Miftah.

Dia menuturkan bahwa Murodhi kerap mengunjungi Mojorejo terutama sebelum melaksanakan ibadah haji atau umrah.

Keluarga Kiai Ageng Ikut Membantah Keluarga Kiai Ageng Hasan Besari membantah klaim yang menyebutkan bahwa Miftah Maulana merupakan keturunan pendiri Pesantren Tegalsari tersebut.

Klaim itu dipatahkan langsung oleh salah satu keturunan kedelapan Kiai Ageng Besari, Raden Kunto Pramono. Dia menegaskan bahwa tidak ada hubungan nasab antara Miftah Maulana dengan Kiai Ageng Hasan Besari.

"Setelah saya cek, tidak ada nama Miftah Maulana Habiburrahman dalam daftar nasab Kiai Ageng Muhammad Besari," ucap Raden Kunto Pramono.

Dia menambahkan bahwa pengecekan silsilah ini tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan kebenaran.

Dia juga meminta Miftah Maulana memberikan klarifikasi detail jika benar mengklaim sebagai keturunan Kiai Ilyas, salah satu putra Kiai Besari, dengan menyebutkan dari istri mana garis keturunannya.

"Kalau memang dari Kiai Ilyas, itu dari istri keberapa," ujar Raden Kunto Pramono, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari CNA.

Dengan tidak ditemukannya nama Miftah Maulana di buku silsilah keluarga besar Kiai Ageng Besari, dia menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan nasab antara Miftah Maulana dan pendiri Pesantren Tegalsari.

Kenapa Miftah Dipanggil Gus? Gus Miftah, yang memiliki nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman, lahir pada 5 Agustus 1981, di Lampung.

Ia merupakan keturunan kesembilan dari Kiai Ageng Hasan Besari, pendiri Pondok Pesantren Tegalsari di Ponorogo.

Sebagai seorang dai, Gus Miftah dikenal dengan dakwah yang menargetkan kaum marjinal dan berfokus pada pendidikan agama untuk mereka yang kurang terjangkau.

Pendidikan Gus Miftah dimulai di Pondok Pesantren Bustanul I'lum, kemudian ia melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Fakultas Tarbiyah, dengan program studi Pendidikan Islam.

Meskipun tidak menyelesaikan kuliah tersebut, ia akhirnya meraih gelar SPd setelah menjalani sidang skripsi di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) pada 6 Februari 2023.

Pada tahun 2011, Gus Miftah mendirikan Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta. Pondok pesantren ini didirikan untuk menampung kaum marjinal yang ingin mendalami agama.

Ia juga dikenal dengan metode dakwahnya yang kontroversial, seperti berdakwah di lokalisasi dan tempat hiburan malam, yang membuatnya kerap menjadi sorotan media.

Sejarah Panggilan Gus Adapun melansir NU online, Panggilan ‘Gus’ tidak asing di telinga masyarakat terutama di masyarakat Nahdlatul Ulama (NU).

Namun ternyata masih belum banyak masyarakat yang mengetahui sejarah panggilan ‘Gus’ ini. Panggilan ‘Gus’ merupakan panggilan istimewa untuk putra kyai NU khususnya di daerah Jawa.

Memang ada tradisi memanggil anak kyai di daerah lain seperti ‘lora’, ‘ajengan’, ‘buya’, ‘anre’, atau ‘aang’.

Kata ‘Gus’ secara harfiah berasal dari kata Abu Al Ghusun yang bermakna ‘anak yang baik’ atau ‘anak yang mulia’. Dalam bahasa Arab kata ‘Gus’ bermakna ranting pohon yang melambangkan keturunan yang terhormat.

Khususnya di pesantren pulau Jawa panggilan ‘Gus’ merupakan singkatan untuk menyebut anak kyai yang terpandang dan terhormat serta memiliki kedudukan dalam struktur keagamaan maupun sosial.

Sejarah NU menyebutkan bahwa panggilan ‘Gus’ memiliki kedudukan penting, tidak hanya dikenal sebagai keturunan kyai namun juga memiliki kontribusi dalam perkembangan ilmu agama.

Selain itu berkontribusi juga dalam sosial sehingga banyak dari mereka menjadi tokoh yang berpengaruh di dunia pendidikan, dakwah, dan politik.

Kemudian panggilan ‘Gus’ menjadi populer terutama dalam organisasi NU. Anak kyai atau ulama besar yang mengajar di pesantren mendapat panggilan ‘Gus’.

Meskipun terkadang panggilan ‘Gus’ ini untuk menyebut anak laki-laki yang memiliki akhlak yang baik diiringi ilmu agama yang baik pula berapapun usianya.

Contoh ulama yang mendapatkan panggilan ‘Gus’ adalah Gus Dur. Sosok Gus Dur yang memiliki nama Abdurrahman Wahid dikenal sebagai pemimpin NU yang telah berhasil membawa organisasi NU lebih moderat.

Serta memiliki simbol keturunan yang mencerminkan tanggung jawab sosial dan intelektual yang besar. Gus Dur juga dikenal sebagai Presiden RI yang ke-4.

Dalam bidang sosial dan budaya, panggilan ‘Gus’ kerap kali menjadi figur yang dapat diandalkan untuk menyampaikan nilai keislaman.

Melalui cara yang dapat diterima masyarakat sesuai dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai keislaman nya.

Panggilan Gus disematkan kepada seorang laki-laki yang memenuhi syarat-syarat berikut: Keturunan kyai atau ulama · Memiliki kapasitas keilmuan agama Islam (bersanad) yang terlibat dalam pendidikan sebagai pengajar yang menyebarkan ajaran Islam.

Memiliki kepemimpinan yang berintegritas dengan keilmuan pesantren Penggunaan panggilan ’Gus’ ini bukan sembarang panggilan.

Namun mengingatkan pemiliknya akan tanggung jawab besar sebagai keturunan kyai. Juga simbol panutan dalam akhlak, keilmuan, dan perilaku.***

Sumber: https://www.pikiran-rakyat.com/news/pr-018862778/kebohongan-gus-miftah-dibongkar-keluarga-sendiri-ternyata-bukan-keturunan-ulama-besar?page=all

 

 

Baca 430 kali Terakhir diubah pada Rabu, 11 Desember 2024 09:05
Bagikan: