Indonesia Disebut Beli 42 Jet Tempur Bekas J-10 dari China, Harga Terjangkau Jadi Pertimbangan!

Minggu, 08 Jun 2025 12:58
(0 pemilihan)

DISWAYKALTENG.ID - Indonesia dikabarkan tengah dalam proses finalisasi akuisisi 42 unit jet tempur Chengdu J-10 bekas milik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) dari China.

Langkah ini dianggap sebagai solusi cepat untuk memperkuat armada tempur TNI Angkatan Udara yang selama ini dinilai mulai uzur dan minim modernisasi. Informasi ini pertama kali mencuat dari laporan Intelligence Online, yang diterbitkan pada 26 Mei 2025. 

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Indonesia akan menerima J-10 langsung dari skuadron aktif milik China, yang artinya proses pengiriman bisa dilakukan dalam waktu singkat karena tidak perlu menunggu proses produksi baru. 

Rencana pembelian ini tampaknya bukan tanpa alasan. Jet tempur J-10, atau dikenal juga dengan nama "Vigorous Dragon", menjadi sorotan dunia setelah Angkatan Udara Pakistan (PAF) mengklaim sukses besar menggunakan J-10C untuk menembak jatuh enam jet tempur India, termasuk Rafale, Su-30MKI, Mirage 2000, dan MiG-29, dalam sebuah insiden pada Mei 2025.

Meski India belum mengonfirmasi kejadian itu, intelijen Prancis dilaporkan mengakui kemungkinan kehilangan setidaknya satu unit Rafale. 

Keberhasilan tersebut menjadi modal besar China dalam memasarkan pesawat ini ke berbagai negara, termasuk Indonesia yang saat ini tengah gencar memperkuat pertahanan udaranya.

Salah satu daya tarik utama J-10 bagi Indonesia adalah harganya yang lebih murah dibandingkan jet tempur buatan Barat. 

Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto, menyampaikan bahwa Kementerian Pertahanan RI tidak menutup kemungkinan pembelian J-10C asal China jika memang memenuhi kriteria dan sesuai kebutuhan pertahanan nasional.

“Kalau memang kita evaluasi, pesawat ini bagus, ya memenuhi kriteria yang kita tetapkan, apalagi harganya murah, ya kenapa tidak?” kata Donny.

Gagalnya Su-35 dan Siasat Baru Kemenhan

Rencana pengadaan jet tempur ini juga menjadi jawaban atas gagalnya program pembelian Su-35 dari Rusia pada 2015 lalu. Meski Indonesia sempat menandatangani kontrak pembelian 11 unit Su-35 pada 2018, pengirimannya tak kunjung terealisasi.

Akhirnya, pada 2021, program tersebut dibatalkan akibat kekhawatiran terkena sanksi Amerika Serikat di bawah undang-undang CAATSA (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act)

Sebagai gantinya, Indonesia menjalin kerja sama dengan produsen jet tempur Barat. Pada 2022, Indonesia menandatangani kontrak pembelian 42 jet tempur Rafale F4 dari Dassault Aviation (Prancis), serta nota kesepahaman dengan Boeing untuk rencana pembelian 24 jet tempur F-15EX Eagle II (yang akan dinamakan F-15IDN dalam versi Indonesia).

Namun begitu, pengadaan dari Barat dinilai mahal dan berjangka waktu panjang. Hal inilah yang mendorong pemerintah mencari alternatif lain untuk pemenuhan kebutuhan jangka pendek, salah satunya lewat pembelian pesawat tempur J-10 bekas dari China.

Pelatihan di China, Potensi Transfer Teknologi?

Sebagai bagian dari rencana pembelian ini, pilot-pilot TNI AU direncanakan akan dikirim ke China untuk menjalani pelatihan langsung di platform J-10. 

Ini membuka peluang tak hanya untuk operasionalisasi yang cepat, tetapi juga potensi kerja sama teknologi militer lebih erat antara Indonesia dan China.

Pesawat yang dikirim nantinya akan mengalami modifikasi agar sesuai dengan standar ekspor dan operasional Indonesia, sebelum resmi diserahterimakan.

Pengadaan ini juga direncanakan akan diumumkan secara resmi dalam ajang Indo Defence Expo & Forum 2024, yang akan digelar di JIEXpo, Kemayoran, pada 11–14 Juni 2025.

Hubungan Bilateral Makin Erat

Langkah akuisisi J-10 ini pun dinilai tak lepas dari penguatan hubungan bilateral antara Indonesia dan China. Sejak awal 2025, hubungan kedua negara semakin mesra.

Indonesia resmi bergabung dengan blok BRICS pada Januari 2025, dan Presiden terpilih Prabowo Subianto memilih China sebagai negara pertama yang dikunjungi pasca kemenangan pilpresnya.

Selama kunjungan PM China Li Qiang ke Jakarta pada Mei 2025, Prabowo menegaskan pentingnya membangun komunitas dua negara yang kuat di kawasan Asia.

Dari sisi ekonomi, nilai perdagangan Indonesia-China meningkat drastis dari 52,45 miliar USD (2013) menjadi 135,17 miliar USD pada 2024, menjadikan China sebagai mitra dagang terbesar Indonesia.

Evaluasi Alutsista Jadi Kunci

Wamenhan Donny juga menegaskan bahwa meskipun ada ketertarikan terhadap J-10, semua keputusan tetap akan melalui evaluasi menyeluruh.

"Kita termasuk ditawari pesawat itu. Ya termasuk evaluasi kita juga lah untuk apakah bisa kita menggunakan jet tersebut ya untuk alutsista kita," ungkapnya.

Donny menambahkan bahwa Indonesia tidak memihak blok manapun. "Kita itu netral, tidak terikat blok. Jadi kita terbuka dari mana pun asal alutsista itu cocok, bisa digunakan, dan sesuai anggaran," pungkasnya.

 

Sumber: https://kalteng.disway.id/read/341/indonesia-disebut-beli-42-jet-tempur-bekas-j-10-dari-china-harga-terjangkau-jadi-pertimbangan

 

 

Baca 816 kali Terakhir diubah pada Minggu, 08 Jun 2025 13:03
Bagikan: