Rilisrakyat.id– Gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram di wilayah Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kini melonjak tajam hingga menembus angka Rp105.000 per tabung, Minggu (7/6/26). Angka ini lebih dari tiga kali lipat dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp32.000 per tabung berdasarkan Surat Keputusan Bupati Morowali Nomor 100.3.3.2/Kep0372/Ekon-SDA/2025. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, harga setinggi ini ditemukan dijual di sejumlah kios dan warung. Namun persediaan sangat terbatas, tidak semua tempat berjualan memilikinya, hanya sebagian kecil yang menyediakan stok. Dari pengamatan terhadap fisik tabung, terlihat kejanggalan pada segel dan kode wilayah. Sebagian besar gas yang beredar diduga berasal dari luar daerah, bukan dari jalur distribusi resmi yang seharusnya masuk ke wilayah Morowali. Warga mengeluhkan kondisi ini sangat memberatkan. “Sudah keliling cari yang murah tidak ada. Paling rendah yang dijual mulai Rp85 ribu sampai Rp105 ribu. Lihat segelnya saja beda, jelas bukan pasokan resmi sini,” ujar salah satu warga. Diduga, perpindahan pasokan antar wilayah inilah yang membuat biaya menjadi mahal, lalu ditambah keuntungan berlebih oleh oknum pengecer. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi maupun tanggapan dari Dinas Koperasi dan Perdagangan, Pertamina Patra Niaga, maupun aparat berwenang terkait permasalahan ini. Masyarakat berharap ada tindakan cepat untuk mengembalikan harga sesuai aturan dan memastikan pasokan bersubsidi tidak diselewengkan keluar wilayah. Angka ini lebih dari tiga kali lipat dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp32.000 per tabung berdasarkan Surat Keputusan Bupati Morowali Nomor 100.3.3.2/Kep0372/Ekon-SDA/2025. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, harga setinggi ini ditemukan dijual di sejumlah kios dan warung. Namun persediaan sangat terbatas: tidak semua tempat berjualan memilikinya, hanya sebagian kecil yang menyediakan stok. Dari pengamatan terhadap fisik tabung, terlihat kejanggalan pada segel dan kode wilayah. Sebagian besar gas yang beredar diduga berasal dari luar daerah, bukan dari jalur distribusi resmi yang seharusnya masuk ke wilayah Morowali. Warga mengeluhkan kondisi ini sangat memberatkan. “Sudah keliling cari yang murah tidak ada. Paling rendah yang dijual mulai Rp85 ribu sampai Rp105 ribu. Lihat segelnya saja beda, jelas bukan pasokan resmi sini,” ujar salah satu warga Diduga, perpindahan pasokan antar wilayah inilah yang membuat biaya menjadi mahal, lalu ditambah keuntungan berlebih oleh oknum pengecer. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi maupun tanggapan dari Dinas Koperasi dan Perdagangan, Pertamina Patra Niaga, maupun aparat berwenang terkait permasalahan ini. Masyarakat berharap ada tindakan cepat untuk mengembalikan harga sesuai aturan dan memastikan pasokan bersubsidi tetap ada. Sumber: https://rilisrakyat.id/ekonomi/harga-gas-lpg-3-kg-di-bahodopi-tembus-di-atas-angka-100-ribu/