forestinsight Ditengah suasana Offshore Technology Conference 2026 di Houston, Texas AS, 5 Mei 2026, BUMN Migas Indonesia, Pertamina, membuat terobosan baru dengan memulai penyediaan bahan baku etanol dan avtur untuk pesawat terbang menggunakan turunan dari sampah perkotaan. Hari itu, Wakil Dirut Pertamina, Oki Muraza menandatangani kerjasama penerapan teknologi Lanza Tech dengan Direktur Utama Lanza Tech Corp. Jennifer Holmgren. Turut menyaksikan peristiwa ini, Dubes RI di Amerika Serikat, Indroyono Soesilo dan Konsul Jenderal RI di Houston, Ourina Ritonga. Memang, kerja sama ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, yang mendorong sampah diolah menjadi listrik, bioenergi, bahan bakar terbarukan, dan produk turunan lain. Bahkan Menteri Lingkungan Hidup RI yang baru dilantik, Jumhur Hidayat juga menegaskan bahwa urusan penanganan sampah menjadi program prioritasnya. Memang, teknologi yang akan diterapkan dalam penanganan sampah perkotaan ini tergolong unik. Sampah kota dipilah, dicacah, lalu diproses menjadi gas sintesis atau syngas. Gas ini mengandung karbon, terutama CO, CO₂, dan hidrogen. Setelah dibersihkan, gas tersebut dimasukkan ke tangki fermentasi. Di dalamnya, telah tersedia mikroba khusus yang “memakan” gas karbon dan mengubahnya menjadi etanol. Prosesnya mirip seperti membuat tape atau bir, tetapi yang difermentasi bukan gula, melainkan gas dari sampah. Bagi Pertamina, teknologi ini dapat membuka babak baru pengembangan biofuel. Selama ini biodiesel Pertamina banyak bertumpu pada campuran berbasis minyak sawit. Produksi minyak solar Indonesia sudah menuju B 50, artinya 50% bahan baku biodiesel Indonesia berasal dari minyak sawit. Ke depan, etanol dari sampah kota ini dapat menjadi bahan baku alternatif untuk menghasilkan bahan bakar yang lebih berkelanjutan. Selain itu, turunan etanol ini juga dapat diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF), atau lebih dikenal sebagai avtur bahan bakar pesawat rendah emisi. Dengan begitu, sampah perkotaan tidak lagi sekadar masalah lingkungan, tetapi sumber energi baru yang mendukung ekonomi sirkular, transisi energi, dan target Indonesia menuju emisi bersih, atau “green energy”. *** Sumber: https://forestinsights.id/etanol-dari-sampah-kota-untuk-energi-indonesia/