detikJateng Batang - Jumlah korban dugaan keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, bertambah. Hingga hari ini, tercatat 498 orang menjalani pemeriksaan. "Terperiksa itu 498. Dirujuk 159, rawat jalan 319, rawat inap Puskesmas Batang 20. Nah, yang hari ini di Rumah Sakit Batang itu ada 90. Sudah pulang 28, tinggal 62," kata Wakil Bupati Batang, Suyono, saat ditemui di RSUD Kalisari Batang, Jumat (25/9/2026). Di RSUD Kalisari Batang, selama Rabu (23/9) hingga Jumat (25/9), terdapat 90 pasien yang menjalani pemeriksaan dan perawatan. Dari jumlah tersebut, 28 orang telah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik dan masih terdapat 62 pasien yang menjalani perawatan. Dalam penanganan pasien, kata Suyono, sejumlah fasilitas tambahan juga disiapkan karena kapasitas tempat tidur rumah sakit perlu ditambah. Bantuan datang dari BPBD dan PMI. "Tapi semuanya hari ini sudah agak membaiklah, mudah-mudahan cepat pulang. Alhamdulillah tidak ada yang meninggal, semuanya teratasi dengan baik, meskipun harus menambah bed-bed yang ada, ditambah dari BPBD membantu dan PMI," ucap Suyono. Pihaknya juga berharap peristiwa yang memilukan ini tidak terulang kembali. "Saya ikut prihatin, tapi ini jangan sampai terulang lagi. SPPG-SPPG yang ada di Batang khususnya, harus memperhatikan SOP," tegasnya. Ia menilai program MBG merupakan program yang baik karena bertujuan meningkatkan asupan gizi anak-anak sebagai generasi penerus. Namun, pelaksanaan yang tidak sesuai prosedur justru dapat menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. "Ini program yang baik, jangan sampai hasilnya tidak baik, nanti justru masyarakat yang kecewa. Ini program negara yang sangat baik karena meningkatkan gizi untuk masa depan anak-anak kita menjadi generasi penerus bangsa," katanya. Peristiwa keracunan yang banyak dikeluhkan dari olahan telur itu, Suyono telah berkomunikasi dengan koordinator wilayah untuk memperhatikan secara khusus pengolahan menu MBG, termasuk telur. Ia menyarankan agar pengolahan telur dibuat sederhana, seperti direbus atau digoreng mata sapi, tanpa tambahan bumbu yang berlebihan. "Saya sudah telepon Korwil di Kabupaten Batang, SPPG telur cukup direbus atau digoreng mata sapi, itu saja tidak usah ada tambahan bumbu. Nanti kalau bumbunya kedaluwarsa, malah seperti kejadian seperti ini," ujarnya. Sementara itu dampak dari keracunan MBG di Bawang ini, sejumlah sekolah dikabarkan menolak MBG sebagai langkah awal antisipasi keracunan serupa. Suyono meminta masyarakat tidak langsung menolak program MBG akibat kejadian tersebut. Menurutnya, perlu dilakukan edukasi dan pendekatan kepada sekolah agar tidak muncul kekhawatiran berlebihan terhadap program MBG. "Ya, harus ada edukasi baru. Didatangi sekolah, bahwa MBG itu tidak membunuh, MBG itu tidak meracuni. Hanya kesalahan yang tidak sesuai SOP saja yang menjadikan racun," ujarnya. Ia menekankan pentingnya pemeriksaan makanan sebelum disajikan kepada penerima. Menurut dia, kader kesehatan perlu memastikan makanan yang akan diberikan dalam kondisi layak dikonsumsi. "Saya pesan, jangan menolak. Tapi sebelum diberikan, harus dicek dulu oleh kader kesehatan. Makanan ini bisa dimakan atau tidak. Kalau tidak bisa dimakan, ya jangan disajikan," katanya. "Saya di Bawang pernah menyampaikan saat peresmian MBG, sekolah harus memastikan bahwa makanan ini sehat dan bisa dimakan. Siapa yang nyicipi? Ya monggo ahli gizinya atau ahli kesehatan yang di situ, tidak harus gurunya," jelasnya. Terpisah, Direktur Utama RSUD Kalisari Batang, dr Ani Rusdiyani, mengatakan pihaknya mendapat bantuan 20 tempat tidur. "20 bed," kata Ani saat dimintai konfirmasi detikJateng. Sumber: https://www.detik.com/jateng/berita/d-8678438/bertambah-lagi-korban-keracunan-mbg-di-batang-jadi-498-orang