RM.id Rakyat Merdeka - Keberadaan Ikatan Alumni Univeristas Negeri Islam (IKALUIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, sangat penting bagi para alumni. IKALUIN menjadi wadah untuk bersilaturahmi, bertukar pikiran dan bekerjasama para alumninya untuk kemajuan kampus dan bangsa.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum IKALUIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Tb. Ace Hasan Syadzily saat melantik pengurus IKALUIN periode 20202024. Pelantikan dilakukan di Auditorium Utama Harun Nasution, Kampus UIN Jakarta, kemarin.

Pelantikan itu dihadiri secara virtual oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan juga Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas. Selain itu, hadir juga Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Amany Lubis dan para pengurus IKALUIN baik secara off line maupun online.

Dalam prosesi pelantikan yang menerapkan protokol kesehatan ketat ini, juga diluncurkan aplikasi dan website dan aplikasi IKALUIN.

Dalam sambutannya, Ace sapaan akrab Tb. Ace Hasan Syadzily mengatakan, per 20 Mei 2021, usia UIN Syarif Hidayatullah telah genap 64 tahun. Lulusannya pun sudah diakui masyarakat. Lulusannya banyak menduduki jabatan strategis.

Ada yang menjadi cendekiawan muslim terkemuka, pejabat publik, politisi, guru, dosen, pendidik, pendamping masyarakat, artis, seniman, dan profesi lainnya.

Ace berharap, UIN Syarif Hidayatullah terus bertransformasi jadi kampus modern, namun tetap menjaga semangat pembaharuan Islam.

“Kampus kita telah bertransformasi menjadi kampus yang diperhitungkan baik secara nasional maupun internasional,” ujar Wakil Ketua Komisi VIII DPR dari Partai Golkar ini.

Menurut Ace, yang membedakan antara alumni UIN Syarif Hidayatullah dengan Perguruan Tinggi lainnya adalah identitas ke-islamannya.

Menurutnya, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah diajarkan tentang pentingnya menjadikan nilai dan etika ke-Islaman sebagai basis dan fondasi moral kehidupan untuk membangun peradaban bangsa ini.

“Kami semua merasa bangga menjadi Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, karena di kampus inilah, kita mendapatkan ilmu, pergulatan pemikiran, pembentukan karakter kepemimpinan dan idealisme,” ujarnya.

Terakhir, Ace menaruh harapan kepada Rektor UIN Syarif Hidayatullah dan seluruh jajarannya untuk terus meningkatkan kemampuan akademik dan keilmuan di bidang science dalam menghadapi era industry 4.0. Namun, tetap mempertahankan kulturnya sebagai kampus pembaharuan Islam di Indonesia.

Menutup sambutannya, Ace menyampaikan dua pantun. Ke Ciputat Mencari Buku, Lewat Lebak Bulus Mampir Dulu, Alumni UIN Berbekal Ilmu, Membawa Indonesia Menjadi Negara Maju.

Pantun satunya lagi: Untung Berdagang Harta Dijamin, Banyak Mudharat Tiada Berguna, Islam UIN Rahmatan Lil Alamin, Bersikap Moderat Dalam Beragama. [RCH]

Diterbitkan di Berita

tagar.id Jakarta – Keberagaman agama di Indonesia merupakan salah satu wujud kekayaan bangsa yang harus terus dijaga.

Namun, saat ini dunia dihadapkan pada munculnya pemikiran-pemikiran ekstrem dalam memahami ajaran agama, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Untuk itu, moderasi beragama sebagai jalan tengah harus terus dikawal demi menjaga keutuhan bangsa.

“Upaya mengawal moderasi beragama menjadi semakin penting untuk terus dimajukan dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Wakil Presiden (Wapres) RI, KH Ma’ruf Amin, saat memberikan sambutan pada acara Dies Natalis ke-64 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, melalui konferensi video di Kediaman Resmi Wapres, Jakarta Pusat, 20 Mei 2021.

Oleh sebab itu, Wapres berharap UIN Syarif Hidayatullah dapat terus bersinergi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya untuk mengawal moderasi beragama di tanah air, khususnya melalui Pusat Kajian Moderasi Beragama.

“Lembaga ini perlu terus dimaksimalkan peranannya karena saat ini dunia tengah menghadapi 2 (dua) kutub ekstrem pemikiran, yaitu konservatisme dan sekularisme dalam memahami ajaran agama,” pinta Wapres.

Labih lanjut, Wapres mengapresiasi UIN Syarif Hidayatullah yang mengangkat tema Green Starts From Campus for Happier Earth pada dies natalis tahun ini, untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Saya mendukung peran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan dengan menetapkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai kampus yang menerapkan keberlanjutan dan peduli terhadap lingkungan,” dukung Wapres.

Di samping itu, Wapres juga mengajak civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah turut berpartisipasi dalam menangani pandemi Covid-19 dan mempercepat pemulihan perekonomian nasional.

“Saya mengajak civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat ikut berperan aktif bersama pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 melalui kegiatan riset dan kampanye penerapan protokol kesehatan yang ketat di lingkungan sekitar kampus,” ajak Wapres.

Menutup sambutannya, tidak lupa Wapres memberikan ucapan selamat dan harapan kepada UIN Syarif Hidayatullah di hari jadinya yang ke-64.

“Selamat Dies Natalis Ke-64 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semoga UIN Jakarta semakin maju, kompetitif, dan produktif, serta semakin kokoh meneguhkan komitmen keislaman dan kebangsaan,” harap Wapres.

rektor uni jakarta

Rektor UIN Jakarta Prof Dr Hj Amany Lubis (Foto: Twitter @uinjktofficial)

 

Sebelumnya, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis, menyampaikan bahwa UIN akan bertekad memajukan pendidikan Islam di Indonesia dan dunia, serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Di hari kebangkitan nasional ini kita tetap berkomitmen menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, serta memajukan pendidikan Islam di Indonesia dan dunia melalui kiprah UIN sebagai center of excellence,” ujar Amany.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid, Ketua Senat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Abuddin Nata, jajaran pengurus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Ketua Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ace Hasan Shazli.

Sementara, Wapres didampingi oleh Kepala Sekretariat Wapres, Mohamad Oemar, dan Staf Khusus Wapres, Bambang Widianto. (DAS/RJP – BPMI Setwapres)/setneg.go.id. []

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ora Aji Kalasan, Sleman, D.I Yogyakarta, Gus Miftah mendapat tudingan kafir dan sesat lantaran berceramah di gereja.

Tudingan tersebut kemudian diklarifikasi Gus Miftah saat diundang Rosi di KompasTV. “Lalu kemudian ada yang bilang Gus Miftah kafir karena masuk gereja, silakan saja nggak masalah.

Saya meyakini kok InsyaAllah iman saya masih utuh dan (tudingan) itu tidak akan meruntuhkan keimanan saya,” kata Gus Miftah menjawab pertanyaan Pemimpin Redaksi KompasTV Rosianna Silalahi dalam tayangan Rosi.

Banyak tokoh yang memberikan komentar terhadap tudingan tersebut, salah satunya adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijogo, Prof. Muhammad Machasin.

Dalam unggahan di akun FBnya, Machasin merasa bingung karena sekarang orang banyak menaruh curiga kepada agama lain, bahkan mempermasalahkan orang yang pidato atau ceramah di gereja.

Berikut tulisan Muhammad Machasin yang diunggah di akun Facebooknya:

“Perjanjian Nabi dengan Nasrani Najran”

Siang ini khatib di mesjid kami berbicara tentang zalim. Di antara yang dikatakannya adalah zalim kepada sesama. Lalu dia singgung penceramah dai kondang di gereja, yang sekarang beritanya sedang viral. Dia katakan bahwa ceramahnya itu zalim kepada sesama muslim karena membuat bingung.

Kebetulan menjelang berangkat ke mesjid kubaca status mbak Listia Suprobo yang mengunggah pengajian Prof. H. Quraisy Syihab tentang hubungan Muslim-Kristen. Beliau sebut perjanjian Najran. Maka sepulang dari mesjid kucari teks perjanjian itu. Ketemu di dalam kitab Tārīkh al-Madīnah, tulisan ‘Umar Ibn Syaibah (w. 262 H).

Di situ disebutkan bahwa Rasulullah saw. berdamai dengan penduduk Najran dan menulis surat perjanjian kepada mereka untuk mendapatkan perlindungan sebagai ganti pembayaran “semacam” pajak. “Bagi Najran dan kehormatan mereka perlindungan Allah dan jaminan Rasul atas jiwa mereka, tanah, harta, keluarga yang hadir dan yang tidak hadir, keluarga besar serta pengikut mereka; kebiasaan mereka tak akan diganti, hak-hak mereka tak akan diambil, tidak pula agama mereka. Uskup tak akan dicopot dari keuskupannya, rahib dari kerahibannya, penjaga biara dari jabatannya dan semua yang ada dalam kekuasaan mereka, sedikit atau banyak.”

Kok lalu sekarang jadi banyak yang bersikap curiga kepada orang beragama lain? Cuma pidato di gereja saja dipermasalahkan. Pripun niku?
Bingung aku.

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co

Sebanyak 30,16 persen mahasiswa Indonesia memiliki sikap toleransi beragama yang rendah atau intoleran. Hal tersebut merupakan hasil riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Peneliti PPIM UIN Sirojuddin Arif mengatakan, hal tersebut berarti bahwa satu dari tiga mahasiswa di Indonesia memiliki sikap intoleransi beragama.

“Kalau digabung (angka hasil riset), 30,16 persen mahasiswa Indonesia punya sikap toleransi beragama rendah atau sangat rendah,” ujar Sirojuddin dalam webinar bertajuk Toleransi Beragama di Perguruan Tinggi, seperti dikutip dari Kompas TV, Selasa (2/3/2021).

Adapun angka hasil riset itu adalah 24,89 persen mahasiswa memiliki sikap toleransi beragama rendah dan 5,27 persen memiliki toleransi beragama yang sangat rendah. Hasil penggabungan angka-angka tersebut menunjukkan rendahnya mahasiswa Indonesia dalam toleransi beragama di Tanah Air.

Kendati demikian, kata dia, terdapat 69,83 persen mahasiswa di Indonesia yang memiliki sikap toleransi beragama cukup tinggi. Sementara itu, 20 persen lainnya termasuk ke dalam kategori toleransi sangat tinggi terhadap pemeluk agama lain.

“Jika dilihat dari jenis perguruan tinggi, maka mahasiswa intoleran paling banyak ditemukan di perguruan tinggi berbasis agama, swasta, negeri, dan kedinasan,” kata dia. Sirojuddin mengatakan, hasil riset tersebut juga menunjukkan dua hal penting yang berkaitan dengan toleransi beragama di kalangan mahasiswa.

Pertama, soal interaksi sosial dengan kelompok yang berbeda memiliki korelasi positif yang kuat dengan toleransi beragama. “Interaksi antarkelompok ini bisa berlangsung dalam hubungan pergaulan sosial, kerja sama, dan diskusi atau tukar pikiran dengan sesama mahasiswa,” kata dia. Penelitian juga menunjukkan kegiatan-kegiatan keagamaan tertentu, seperti lembaga dakwah kampus berkorelasi negatif dengan toleransi beragama.

Kedua, riset tersebut menunjukkan iklim sosial kampus berkorelasi dengan toleransi beragama mahasiswa. “Kebijakan kampus terhadap kelompok minoritas keagamaan mahasiswa dan sikap toleransi beragama dosen berkorelasi positif dengan toleransi beragama mahasiswa,” kata dia.

Riset PPIM UIN dilaksanakan secara nasional di 34 provinsi dengan metode penelitian berupa survei. Riset dilakukan sejak 1 November sampai 27 Desember 2020 dengan data terkumpul dari 2.866 mahasiswa, 673 dosen, dan 79 perguruan tinggi.

Diterbitkan di Berita