inHarmonia inHarmonia
  In Harmonia   In Harmonia
  • Home
  • Opini
  • Berita
  • Iptek
  • Budaya
  • Saring Informasi
  • Apa Siapa
  • Wawancara
  • InharmoniaTV
inHarmonia inHarmonia
  In Harmonia   In Harmonia
  • Home
  • Opini
  • Berita
  • Iptek
  • Budaya
  • Saring Informasi
  • Apa Siapa
  • Wawancara
  • InharmoniaTV

Anggota DPR Sebut Banyak Mahasiswa dan Dosen di Kampus Besar Terpapar Paham Radikalisme

Jumat, 24 September 2021 12:41

damailahindonesiaku.com Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI Adrianus Asia Sidot mengatakan bahwa ada mahasiswa dan dosen di kampus-kampus besar Indonesia yang terpapar radikalisme.

“Dari hasil penelitian, kampus-kampus besar di Indonesia sudah ada yang terpapar paham radikalisme,” kata Adrianus dalam seminar bertajuk “Pendidikan dan Pembangunan Perdesaan yang Berwawasan Kebangsaan” dikutip Antara, Rabu (21/9/2021).

Ia berpandangan, apabila mahasiswa telah terpapar paham radikalisme, maka masyarakat umum akan menjadi lebih rentan. Apalagi, jika paham radikalisme mulai memengaruhi lapisan masyarakat umum yang berasal dari tingkat pendidikan yang lebih rendah.

“Mahasiswa saja sudah terpapar, dosen juga sudah terpapar. Kalau kita biarkan, akan jadi apa Indonesia?” ujar dia. Berdasarkan pandangan Adrianus, terdapat tren yang sedang meningkat dan memengaruhi semua perilaku penduduk dunia, termasuk memengaruhi perilaku akademisi.

Dalam tren tersebut, kata dia, terdapat pengaruh-pengaruh yang sulit untuk diantisipasi. “Seperti kemenangan Taliban di Afghanistan, pasti akan berpengaruh,” ucap anggota DPR fraksi Partai Golongan Karya (Golkar) ini.

Oleh karena itu, ia meminta kepada mahasiswa agar dapat bertindak lebih kritis guna menghadapi pengaruh-pengaruh tersebut. Adrianus meyakini bahwa Pancasila memiliki peran penting dalam melindungi akademisi saat menghadapi pengaruh radikal.

Untuk itu, ia juga mengatakan bahwa Pancasila tidak boleh diubah atau dihilangkan dari sistem pendidikan Indonesia.

“Kami (Komisi X DPR) mendorong penyempurnaan sistem pendidikan Indonesia melalui perubahan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dengan catatan Pancasila harus tetap menjadi landasan filosofis dan ideologis pendidikan di Indonesia,” tutur Adrianus.

Penyempurnaan sistem pendidikan bertujuan untuk menyesuaikan kebutuhan akademisi Indonesia yang berubah akibat perkembangan zaman.

Di sisi lain, nilai-nilai Pancasila sebagai landasan ideologis dan filosofis pendidikan Indonesia diyakini dapat menjadi acuan bagi para akademisi untuk berlaku kritis dalam menghadapi pengaruh-pengaruh radikal.

“Bagi mereka yang berpikir untuk memasukkan ideologi lain dalam pendidikan, silakan minggir,” kata Adrianus.

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Wapres: Liberalisme dan Radikalisme Yang Tak Sesuai Islam Wasathiyah Mudah Pengaruhi Mahasiswa

Selasa, 07 September 2021 09:51

damailahindonesiaku.com Jakarta – Pemikiran tentang liberalisme, sekularisme, dan radikalisme sangat mudah masuk dan mempengaruhi pola pikir mahasiswa di era kemajuan teknologi dan informasi seperti saat ini.

Karena itu, semua pihak khususnya lingkungan kampus dapat mewaspadai serta mengantisipasi penetrasi ajaran yang tidak sejalan dengan nilai Islam moderat

“Dalam era teknologi informasi saat ini, pemikiran tentang liberalisme, sekularisme dan radikalisme serta ajaran lain yang tidak sejalan dengan nilai Islam yang Wasathiyah sangat mudah masuk dan dapat memengaruhi pola pikir mahasiswa sehingga berpotensi memecah persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin saat menjadi narasumber dalam Rapat Terbuka Senat dan Pembukaan Oshika Maba Unisma 2021 secara virtual, Senin (6/9/2021).

Menurut Wapres, sebagai pengampu nilai Ahlussunnah Wal Jama’ah, Unisma harus mampu membentengi diri dan para mahasiswanya dari paham-paham yang tidak sejalan dengan moderasi Islam. “Hal ini harus diwaspadai dan diantisipasi di lingkungan Unisma,” imbuh Kiai Ma’ruf.

Kiai Ma’ruf berharap agar Unisma terus melakukan penguatan nilai ke Islaman dan keIndonesiaan yang sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.

Selain itu, Wapres juga mengapresiasi Unisma agar tidak hanya menjadi kampus yang mencerdaskan masyarakat dan bangsa saja, tapi juga memberikan keterampilan dan kemandirian.

”Yang penting lagi, Unisma harus bisa memberikan kesejukan dan kedamaian pada masyarakat. Harus membangun harmoni dalam berbangsa dan bernegara,” tutur Wapres.

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Mahasiswa S2 ITB Tewas Bunuh Diri, Pakar Kejiwaan Ungkap Fakta Ini

Senin, 23 Agustus 2021 14:56
Yudha Maulana - detikNews Bandung - Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda, pembaca, merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

 

Civitas akademia Institut Teknologi Bandung (ITB) berduka karena kabar meninggalnya mahasiswa S2 Teknik Sipil, berinisial AN pada Minggu (22/8/2021). Pakar kejiwaan dari RS Melinda 2 Bandung dr Teddy Hidayat mengungkap angka gejala depresi pada mahasiswa terbilang tinggi.

Hal itu berdasarkan Survey Ruang Empati yang bekerja sama dengan FK Unjani terhadap 1.800 mahasiswa dari seluruh Indonesia. Survey yang dilakukan secara daring dengan menggunakan instrumen DASS-21 dari Juni-Agustus 2021 itu muncul angka gejala depresi antara 47-50 persen.

"Kenaikkan angka depresi yang demikian tinggi dibandingkan awal pandemi yaitu 25 persen atau dengan angka Riskesdas Kemenkes RI 2018 yaitu 6,1 persen sudah dapat disebut sebagai krisis kesehatan mental," ujar Teddy dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (23/8/2021).

 Teddy mengatakan kondisi kesehatan mental dan emosional mahasiswa ini memerlukan tanggung jawab dari perguruan tinggi terhadap keamanan dan keselamatan mahasiswanya selama menjalani studi, minimal tersedianya layanan Mental Health First Aid (MHFA) atau pertolongan pertama pada krisis mental dan pencegahan bunuh diri.

"Bila ada mahasiswa yang membutuhkan bantuan dapat segera dengan mudah mendapatkan pertolongan. Bunuh diri seharusnya dapat dicegah yaitu dengan memberi pertolongan. Kemampuan seseorang dalam mendeteksi tanda-tanda peringatan bunuh diri pada individu sangat penting untuk memulai pertolongan pertama bunuh diri," ujar Teddy.

Teddy menjelaskan, dari pengalaman klinik umumnya pasien depresi datang ke klinik sudah dalam kondisi parah. 40 persen mempunyai ide bunuh diri dan 15 persen mencoba melakukannya. Walau demikian, ujar Teddy, bunuh diri bukanlah suatu kelemahan atau karakter tapi suatu penyakit yang dapat dicegah dan diobati.

"Banyak mahasiswa depresi setelah menjalani terapi optimal dapat menyelesaikan studinya dengan baik, ada beberapa mencapai prestasi akademis 'cum laude' dan bahkan mendapat penghargaan internasional," ujarnya.

"Fakta menunjukkan meskipun banyak Perguruan Tinggi memiliki fasilitas layanan seperti Klinik Kampus atau Bimbingan Konseling, namun umumnya masih mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosa dan memberi terapi awal gangguan jiwa, sehingga tidak terdeteksi, tidak diobati, menjadi kronis akhirnya meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Dalam studi prestasi akademis menurun, prestasi akademis rendah, studi terlambat dari yang seharusnya dan terancam drop out," kata Teddy.

Saran Pakar Kejiwaan

Teddy mengatakan, jika ada seseorang yang berbicara tentang keinginan mengakhiri hidup atau mengancam akan mencelakai atau bunuh diri; menulis tentang kematian atau ide bunuh diri, sebaiknya segera menghubungi rumah sakit atau profesional.

"Bunuh diri adalah masalah kemanusiaan yang serius, setiap 40 detik satu orang meninggal karena tindakan bunuh diri (WHO). Angka bunuh diri dengan risiko kematian lebih tinggi terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan," katanya.

Seperti diketahui AN merupakan mahasiswa S2 yang masuk pada tahun 2018. Ia ditemukan menggantung tak bernyawa di sekitar indekosnya yang berada di Jl Cisitu Lama Indah, Bandung.

Berkaca dari kasus meninggalnya AN, Teddy mengatakan kolega terdekat atau siapapun yang mengetahui kondisi psikis korban wajib untuk memberikan pertolongan.

"Karena tidak ada seorangpun yang datang memberi bantuan akhirnya pelaku melakukannya. Setelah peristiwa ini perlu upaya pencegahan dan pengawasan baik dari keluarga atau kampus, karena tidak jarang kasus bunuh diri akan memicu kasus-kasus lainnya, terutama pada kelompok rentan," ujar Teddy.

Ia pun menyarankan sejumlah cara atau pendekatan kepada korban yang rentan melakukan bunuh diri, yaitu :

1. Jangan tinggalkan klien seorang sendiri, tempatkan di tempat yang aman, singkirkan benda yang berpotensi untuk mencelakai diri
2. Dengarkan dan dengarkan, jangan cepat memberi nasihat
3. Berikan empati yaitu memahami pasien, tanyakan apa yang dirasakan dan alasan ingin mengakhiri hidup
4. Jangan menyalahkan atau membandingkan
5. Bantu dan dampingi untuk mendapatkan pelayanan tenaga ahli

(yum/mso)

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Mahasiswa Tertua ITB, Ini Motivasi Rudy Kuliah S3 di Usia 69 Tahun

Rabu, 18 Agustus 2021 13:25

KOMPAS.com - Mencari ilmu dan belajar tak perlu memandang usia seseorang. Bahkan menjadi pembelajar sejati bisa dilakukan sepanjang hayat.

Seperti Rudy Setyopurnomo, di usianya yang tak lagi muda dia tetap bersemangat mengenyam pendidikan Program Doktor pada Program Studi Sains Manajemen, SBM Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dalam tahun ajaran baru ini, Rudy menjadi mahasiswa "tertua" dengan usia 69 tahun. "Saya senang ilmu dan saya senang menyekolahkan anak muda. Karena saya percaya ilmu sangat bermanfaat untuk membimbing bangsa," kata Rudy seperti dikutip dari laman ITB, Rabu (18/8/2021).

Lulusan ITB tahun 1976 Rudy memilih ITB bukan tanpa alasan. Rudy juga merupakan lulusan ITB tahun 1976 silam. Rudy menilai ITB adalah salah satu kampus terbaik di Indonesia, terutama untuk bidang sains manajemen. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email Rudy berhasil lulus dan meraih gelar Insinyur di bidang teknik mesin. Kemudian pada 1990, melanjutkan ke Universitas Indonesia mengambil Master of Management.

Tak hanya mengenyam pendidikan di Indonesia, Rudy juga melanjutkan studi lagi ke Harvard University mengambil Master of Public Administration pada tahun 1991.

Tahun berikutnya, dia kembali kuliah ke Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengambil Master of Science in Management, lalu pada 1994, melanjutkan Post Graduate-sandwich program, di Stanford University.

Mentransformasikan pengalaman ke bentuk 'ilmiah' Salah satu motivasi Rudy untuk berkuliah S3 lantaran keinginannya membuat sesuatu yang "ilmiah" dari pengalaman selama ini dalam mengelola perusahaan.

"Pengalaman saya cukup banyak termasuk membuat perusahaan yang bangkrut menjadi hidup kembali dan kuat, namanya metode turn around perusahaan," terang Rudy.

Dia menjelaskan, metode yang dipakai yaitu EBITDA atau earning before interest, taxes, depreciation, and amortization. Rudy yakin bila melanjutkan pendidikan doktor, ilmu terapan manajemen yang dimiliki bisa menjadi ilmiah dan mampu dipraktikkan semua orang.

"Tujuan utama kuliah kembali adalah menjadikan pengalamannya sebagai metode ilmiah. Sehingga satu-satunya jalan adalah masuk program doktor," papar Rudy.

Sudah memilih topik riset Untuk menyelesaikan program doktor ini, Rudy memilih topik riset yang diajukan sebagai proposal berjudul "Essentials of Strategy Execution System to Manage Business Risks and Operation Profitability: Operation Management by EBITDA Daily Control to minimize operational risks and maximize operation profitability".

"Intinya bukan untuk mencari gelar semata tetapi bagaimana membuat ilmu lapangan menjadi scientific, supaya dipakai banyak orang dan bermanfaat," ungkap Rudy.

Saat ini Rudy juga menjabat menjadi Founder, CEO PT Equiti Manajemen Teknologi dan Founder Direktur Fountain Bali Hydro System Corp. Ltd. Hongkong.

Di tengah kesibukannya yang padat dalam mengurus perusahaan, Rudy mempunyai cara khusus dengan menyisihkan waktu untuk belajar. 

Rudy juga memberi semangat kepada mahasiswa ITB pada khususnya serta generasi muda lainnya di Indonesia. Mereka bisa masuk MIT dan juga Harvard.

Berdasarkan pengalamannya, tingkat kesulitan di perguruan tinggi tersebut tidak lebih sulit dari di ITB.

"Jangan pernah takut daftar ke universitas terbaik di dunia setelah lulus dari ITB, pasti bisa. Coba diukur IQ-nya, kalau di atas 130 sebaiknya mengambil PhD," beber Rudy.

Penulis : Mahar Prastiwi
Editor : Dian Ihsan


Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: 
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

11 Mahasiswa Wakil Indonesia di Olimpiade Matematika Dunia, Anak UI-ITB

Jumat, 06 Agustus 2021 09:30
Rahma Indina Harbani - detikEdu Jakarta - Indonesia siap untuk bersaing di olimpiade matematika dalam kancah internasional. Hal ini dinyatakan langsung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan merilis 11 nama mahasiswa terbaik yang tersebar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Olimpiade yang akan diikuti oleh tim Indonesia bernama International Mathematics Competition (IMC) 2021 dan negara Bulgaria yang akan menjadi tuan rumahnya. Namun, mengingat kondisi masih pandemi, olimpade ini diselenggarakan secara daring pada 2 Agustus hingga 7 Agustus 2021 besok.

"#SahabatDikbud, mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia tengah berkompetisi di ajang International Mathematics Competition (IMC) 2021 yang diselenggarakan pada tanggal 2 s.d. 7 Agustus 2021 di Bulgaria secara daring," tulis Kemendikbudristek melalui akun resmi Instagramnya, dikutip Jumat (6/8/2021).

Peserta yang akan diturunkan dalam olimpiade matematika adalah peraih medali dalam Kompetisi Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (KNMIPA) di bidang matematika. Berikut ini 11 nama yang dirilis Kemendikbudristek,

Daftar wakil Indonesia di olimpiade matematika IMC:

- Akeyla Pradia N: Intstitut Teknologi Bandung (ITB)

- Rizma Yudatama: Universitas Sebelas Maret (UNS)

- Nabil Mahatir: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

- Waffiw Maaroja: Universitas Gadjah Mada (UGM)

- M. Reza Ardhana: Institut Pertanian Bogor (IPB)

- Bramantya Arya D: Institut Pertanian Bogor (IPB)

- Andry Wijaya: Universitas Indonesia (UI)

- Kevin Tenata: Universitas Indonesia (UI)

- Syaifullah Hi Nurdin: Universitas Hasanudin (Unhas)

- Alvian Alif H: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

- Rofiud Darojad: Universitas Negeri Malang (UM).

Sebagai informasi, kompetisi internasional International Mathematics Competition (IMC) merupakan olimpiade matematika internasional yang selalu diadakan setiap tahun. Biasanya ajang olimpiade besar ini diadakan sekitar bulan Juli sampai dengan Agustus.

Wah, hebat ya Indonesia bisa menurunkan 11 mahasiswa untuk berlaga di olimpiade matematika berskala dunia. Yuk, kita beri semangat, detikers!
(rah/row)

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Inovatif! Mahasiswa ITB Ciptakan Listrik dari Gelombang Laut

Rabu, 28 Juli 2021 17:08

energibaik.id - Di tengah kebutuhan energi terbarukan yang ramah lingkungan semakin meningkat, tim yang terdiri dari tiga mahasiswa ITB berinovasi ciptakan teknologi pembangkit listrik tenaga gelombang laut bernama Double Turbine Wave Energy.

Ketiga mahasiswa ITB tersebut adalah Larasita, Irfan Muhammad Yusuf, dan Rizky Duanita. 

Pada dasarnya, gelombang laut yang menyimpan energi kinetik dalam jumlah besar dapat dikonversi menjadi energi listrik.

Muka air laut yang selalu mengalami osilasi (gerakan naik turun) juga dapat dimanfaatkan untuk menggerakan generator. 

Prinsip kerja teknologi pembangkit listrik tenaga gelombang laut double turbine wave energy adalah saat diletakkan di permukaan laut, alat ini akan mendapat tekanan dari permukaan gelombang laut yang naik. Akibatnya udara di sekitar alat akan terdorong masuk kedalam.

Hal ini dapat terjadi karena double turbine wave energy memanfaatkan sistem oscillating water column yang menggunakan sistem kedap udara didalamnya.

Selanjutnya, udara yang masuk kedalam alat akan menggerakkan turbin. Turbin tersebut telah dihubungkan dengan generator yang dapat menghasilkan energi listrik.

Hal yang membedakan double turbine wave energy dengan pembangkit listrik tenaga gelombang laut yang pernah ada sebelumnya adalah terdapat di jumlah turbin yang digunakan.

Alat ini menggunakan dua buah turbin, sedangkan kebanyakan alat lainnya hanya menggunakan satu turbin. 

Penggunaan dua turbin inilah yang menjadi inovasi yang diciptakan tim mahasiswa ITB dengan double turbine wave energy.

Teknologi ini dapat meminimalisir kehilangan energi yang terjadi pada alat-alat yang telah ada sebelumnya. Hal tersebut membuat perolehan energi listrik menjadi lebih besar. 

Pembangkit listrik tenaga gelombang laut ini dapat menghasilkan energi hingga 9,3 juta Megawatt hour apabila digunakan di perairan yang memiliki gelombang laut cukup tinggi. 

Kelebihan lainnya dari pembangkit tenaga gelombang laut double wave energy juga terletak pada keramahan lingkungannya karena lebih sedikit menghasilkan polutan dibanding pembangkit listrik dari batubara. 

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Indra Rudiansyah, Pemuda Indonesia di Balik Terciptanya Vaksin AstraZeneca

Senin, 19 Juli 2021 10:34

LONDON, KOMPAS.com - Ada andil pemuda Indonesia di balik terciptanya vaksin Covid-19 AstraZeneca, yaitu hasil kerja Indra Rudiansyah (29) mahasiswa di Universitas Oxford.

Indra tergabung bersama tim Jenner Institute pimpinan Profesor Sarah Gilbert, ilmuwan Inggris yang mendapat standing ovation saat hadir di laga pembuka kejuaraan tenis akbar Wimbledon 2021.

Sejak 20 Januari 2020, tim Jenner Institute dan Oxford Vaccine Group bekerja sama menguji coba vaksin virus corona di Pusat Vaksin Oxford.

"Saya tentunya sangat bangga bisa tergabung dalam tim untuk uji klinis vaksin Covid-19 ini, meskipun ini bukan penelitian utama untuk thesis saya," ujar Indra Rudiansyah kepada ANTARA London, 23 Juli 2020.

Mahasiswa S3 Clinical Medicine di Universitas Oxford itu mengungkapkan, penelitian utamanya untuk thesis sebenarnya adalah vaksin malaria.

Namun, keikutsertaannya di tim Jenner Institute merupakan real case dari penelitian vaksin untuk menyelamatkan banyak orang.

 

Ilustrasi vaksin AstraZeneca(Shutterstock/Dimitris Barletis)

 

Ketika wabah Covid-19 mengalami eskalasi menjadi pandemi, semua aktivitas di kampus tutup kecuali untuk bidang yang terkait Covid-19. Lab kemudian kekurangan orang, padahal penelitian tentang Covid-19 membutuhkan banyak sumber daya manusia.

Saat itulah project leader-nya membuka pintu bagi siapapun yang ingin bergabung, dan Indra Rudiansyah masuk ke tim untuk membantu uji klinis.

Di tim, mahasiswa yang mendapat beasiswa dari LPDP ini bertugas menguji antibody response dari para relawan yang sudah divaksinasi. Ia memiliki pengalaman terlibat dalam pengembangan vaksin rotavirus dan novel polio di Biofarma setelah lulus dari ITB.

Bekerja cepat Pemuda asal Bandung lulusan S1 Mikrobiologi ITB itu bercerita, dia dituntut selalu bekerja dengan baik, cepat, dan siap dengan perubahan rencana karena kondisi yang serba dinamis.

Proses pengembangan vaksin AstraZeneca pun sangat cepat, karena dalam enam bulan sudah menghasilkan data uji preklinis dan inisial data untuk safety, serta imunogenitas di manusia.

"Biasanya untuk vaksin baru paling tidak memerlukan waktu lima tahun hingga tahapan ini," terang alumnus S2 Bioteknologi ITB dengan Fast Track Program tersebut.

 

Indra Rudiansyah

Indra Rudiansyah(Dok. Pribadi)

 

Dalam prosesnya, studi dilakukan terhadap 560 orang dewasa yang sehat, termasuk 240 orang berusia di atas 70 tahun. Hasilnya, vaksin virus corona AstraZeneca lebih dapat ditoleransi pada orang yang lebih tua daripada orang dewasa muda.

Lebih dari 600 juta dosis vaksin AstraZeneca kini telah dipasok ke 170 negara di seluruh dunia, termasuk 100 negara lebih yang tergabung dalam COVAX.

Meski harganya termurah, efikasi atau kemanjuran vaksin AstraZeneca cukup tinggi, termasuk mencegah infeksi Covid-19 varian Delta hingga 92 persen.

Baca juga: Mengenal Vaksin AstraZeneca yang Diklaim Efektif Lawan Varian Delta Pesan untuk Indonesia Saat dihubungi Kompas.com pada 17 Januari 2021, Indra Rudiansyah menyampaikan pesan kepada Indonesia yang sedang dalam proses vaksinasi nasional.

“Jadi, sebenarnya vaksin yang ada sekarang ini (dan sudah mulai diberikan pada masyarakat) kan bisa dikatakan sebagai emergency used ya sehingga clinical trial itu masih terus berjalan," jelas pemuda kelahiran 1 September 1991 tersebut.

"Pasien yang sudah divaksinasi akan terus dipantau. Menurut data yang diumumkan, (semua jenis) vaksin ini memiliki efektivitas hingga enam bulan,” imbuhnya.

Indra Rudiansyah juga sedikit memberikan pandangannya terhadap vaksin Sinovac yang digunakan di Indonesia.

Ia menyebut, vaksin Sinovac memang benar dapat melindungi seseorang dari gejala berat Covid-19 seperti halnya vaksin Pfizer dan AstraZeneca, tetapi belum menjamin kebal dan tidak akan terinfeksi.

 

Ilustrasi Vaksin Sinovac

Ilustrasi Vaksin Sinovac(SHUTTERSTOCK/Shan_shan )

 

“Bisa terhindar dari penyakit akibat virus corona. Meski begitu, (masyarakat) tetap harus waspada. Sebab, sampai saat ini belum ada data apakah semua vaksin bisa mencegah seseorang dari terinfeksi," tutur Indra.

Artinya, sambung Indra, seseorang yang divaksin masih bisa terinfeksi dan dapat menularkan ke orang lain.

Selain itu, Indra juga mengingatkan kepada masyarakat Indonesia untuk tetap taat pada protokol kesehatan yang berlaku, dan yang bisa bekerja dari rumah sebisa mungkin jangan keluar untuk keperluan tidak mendesak.

“Indonesia ini kan dibangun dari mikroekonomi. Banyak dari mereka adalah pedagang dan harus keluar rumah mencari uang. Tidak bisa disalahkan karena mereka tetap harus menyambung hidup."

"Nah, yang bekerja dari rumah ini kan sebenarnya privilege (hak istimewa). Jadi, sebisa mungkin jangan egois ingin keluar rumah dengan alasan bosan atau ingin hiburan,” pungkas Indra Rudiansyah alumnus Beswan Djarum 2011-2012.


Editor : Aditya Jaya Iswara

 

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Jokowi Ajak Mahasiswa Jadi Relawan COVID-19

Sabtu, 10 Juli 2021 15:23
JAKARTA (VOA) — Presiden Joko Widodo mengajak berbagai lapisan masyarakat, salah satunya mahasiswa, untuk menjadi relawan COVID-19, dalam mengantisipasi lonjakan kasus virus corona yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini.

“Saya ingin mengajak kepada para mahasiswa, para pemuda-pemudi, kepada ibu-ibu PKK, kepada kader-kader Posyandu untuk bersama-sama bahu-membahu bergotong-royong menjadi sukarelawan, menjadi relawan dalam penanganan pandemi COVID-19 ini,” ujarnya dalam peresmian Rumah Sakit Darurat Wisma Haji di Jakarta, Jumat (9/7).

Jokowi mengatakan sejak penanganan pandemi pada Maret 2020, seluruh tenaga kesehatan, aparatur sipil negara (ASN), TNI dan Polri, sudah bekerja keras setiap waktu.

Maka dari itu dengan adanya bantuan relawan dari berbagai komunitas masyarakat ini akan sangat berguna dalam upaya menekan perebakan wabah virus corona.

 

Seorang petugas medis mendorong tangki oksigen yang akan digunakan untuk merawat pasien di tenda darurat yang didirikan untuk menampung lonjakan kasus COVID-19, di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Minggu, 4 Juli 2021. (AP Photo/Kalandra)
Seorang petugas medis mendorong tangki oksigen yang akan digunakan untuk merawat pasien di tenda darurat yang didirikan untuk menampung lonjakan kasus COVID-19, di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Minggu, 4 Juli 2021. (AP Photo/Kalandra)

 

“Dokter, tenaga kesehatan, ASN, TNI dan Polri sudah bekerja keras pagi, siang, malam, sejak bulan Maret 2020 yang lalu sampai saat ini. Dan saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tapi akan lebih bagus lagi apabila ada tambahan relawan-relawan dari seluruh komponen masyarakat sehingga penanganan COVID-19 ini bisa kita tangani dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Tanggapan Mahasiswa

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) Leon Alvinda Putra mengaku belum bisa merespons ajakan Presiden Jokowi. Ia mengatakan belum mengetahui secara jelas terkait jenis relawan COVID-19 apa yang dibutuhkan pemerintah.

Meski begitu, ia menjelaskan sejak pandemi COVID-19 terjadi mulai Maret 2020 lalu, pihaknya sudah melakukan banyak kegiatan-kegiatan untuk membantu penanganan perebakan wabah virus corona ini.

“Pada prinsipnya BEM UI selalu siap hadir di tengah masyarakat. Hal ini sebenarnya kami dari BEM UI sudah banyak melakukan terkait membantu penanganan pandemi COVID-19 sejak 2020. Misalnya BEM UI 2020 memberikan bantuan sembako kepada masyarakat sekitar UI yang terdampak pandemi COVID-19, kami juga membuat konten edukasi terkait COVID-19, dan membuat kajian yang tahun lalu diaudiensikan langsung ke gugus tugas,” ungkapnya kepada VOA.

Pada tahun ini, BEM UI ujarnya juga melakukan hal yang serupa. Yang terbaru, menurut Leon, pihaknya sedang berkoordinasi dengan rektorat UI untuk melaksanakan program vaksinasi massal COVID-19 bagi kalangan mahasiswa.

Selain itu, aliansi BEM UI juga sedang membuat kajian yang berisikan evaluasi dan rekomendasi yang akan ditujukan kepada pemerintah dalam penanganan pandemi COVID-19 ini.

 

Presiden mengatakan RS Darurat Wisma Haji digunakan untuk menampung pasien COVID-19 dengan gejala sedang hingga berat. (Foto: Courtesy/Biro Pers)
Presiden mengatakan RS Darurat Wisma Haji digunakan untuk menampung pasien COVID-19 dengan gejala sedang hingga berat. (Foto: Courtesy/Biro Pers)

 

Peresmian Rumah Sakit Darurat Wisma Haji

Kasus COVID-19 di Tanah Air memang terus meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir ini seiring dengan menyebarnya varian delta. Guna mengantisipasi hal ini, pemerintah terus menambah tempat tidur di berbagai tempat untuk menampung pasien COVID-19.

Sebelumnya pemerintah sudah mengkonversi Rusun Pasar Rumput dan Rusun Nagrak di wilayah DKI Jakarta untuk bisa menampung ribuan pasien COVID-19 dengan gejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG).

Yang terbaru, Jokowi meresmikan operasional Rumah Sakit Wisma Haji, di Pondok Gede, Jakarta Timur , pada Jumat (9/7). Rencananya rumah sakit ini akan menampung pasien COVID-19 yang bergejala sedang hingga berat mulai Sabtu (10/7).

 

Presiden didampingi Menteri Agama meninjau Persiapan RS Darurat Wisma Haji. (Foto: Courtesy/Biro Pers)
Presiden didampingi Menteri Agama meninjau Persiapan RS Darurat Wisma Haji. (Foto: Courtesy/Biro Pers)

 

Rumah Sakit Wisma Haji Pondok Gede ini dilengkapi dengan 900 tempat tidur isolasi, 50 tempat tidur perawatan intensif (ICU), dan 40 tempat tidur perawatan ketat (HCU).

“Saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Menkes, Menteri PUPR beserta seluruh jajarannya yang telah bekerja keras dalam waktu lima hari untuk menyiapkan Wisma Haji dikonversi menjadi rumah sakit," ujar Presiden.

"Saya tadi sudah cek ke dalam peralatan rumah sakit, kemudian pergantian AC, kemudian pembangunan lift untuk para pasien, saya lihat semuanya dalam keadaan 99 persen siap sehingga besok pagi rumah sakit wisma haji ini sudah bisa dioperasionalkan,” ungkap Jokowi. [gi/ah]

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Mahasiswa IAIN Kudus Juara Nasional Olimpiade Numerasi dan Literasi Indonesia

Rabu, 09 Jun 2021 08:22

Kudus (Kemenag) --- Mahasiswa Tadris Matematika IAIN Kudus Afi meraih medali emas Olimpiade Numerasi dan Literasi Indonesia (ONLI) Session 2 Tahun 2021 Level 5 Tingkat  Mahasiswa, Siswa, Guru, Jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK Se-Indonesia.

Selain Asfi, mahasiswa Tadris Matematika IAIN Kudus lainnya, Herdiyanti Putri Mu’asaroh juga berhasil meraih medali perunggu pada ajang dan tingkat yang sama.

Ajang ini diselenggarakan oleh Pelatihan Olimpiade Sains Indonesia (POSI) pada 29-30 Mei 2021. Khusus bidang matematika tingkat mahasiswa, ada dua mahasiswa IAIN Kudus yang meraih medali perak, yaitu: Herdiyanti Putri Mu’asaroh dan  Faisal Ulin Alamsyah. Sementara Mustofa meraih medali perunggu bidang matematika kategori mahasiswa. 

“Melalui Mathematic Olimpiade Club (MOC) di Tadris Matematika IAIN Kudus saya bisa sharing soal-soal olimpiade dan secara mandiri memperdalam kembali soal-soal tersebut,” tutur Asfi di Kudus, Senin (7/6/2021).

Keberhasilan ini tidak lepas dari usaha Asfi dalam belajar. Medali emas ini menjadi pelecut semangatnya untuk mengikuti kompetisi lainnya. “Dengan adanya ini saya lebih semangat dalam mengikuti event-event lomba dan menambah pemahaman dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade,” ucapannya.

Ketua Prodi Tadris Matematika Arghob Khofya Haqiqi turut bangga atas prestasi yang diperoleh mahasiswanya. “Kerja keras dan semangat yang maksimal membuahkan hasil sehingga mampu bersaing dengan mahasiswa di tingkat Nasional, bahkan internasional,” katanya.

Arghob berharap mahasiswa akan terus meningkatkan prestasinya, baik di bidang akademik maupun non akademik. “Prestasi di masa mahasiswa akan bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi dan pengalaman kelak setelah lulus," ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Ihsan, mengapresiasi prestasi yang diraih mahasiswa  Tadris Matematika IAIN Kudus. Ihsan mengatakan bahwa capaian tersebut adalah wujud komitmen mahasiswa dan bidang kemahasiswaaan untuk terus mendorong seluruh mahasiswa berprestasi melalui home based masing-masing.

“Tidak ada yang tidak mungkin bagi mahasiswa yang berniat dan sungguh-sungguh ingin berprestasi. Terutama berprestasi sesuai dengan program studi yang sudah dipilih dan diambil sebagai bidang studi yang ditekuni untuk benar-benar berkompetensi," kata Alumni IAIN Semarang ini.

Dukungan lembaga, dosen pembimbing, utamanya keseriusan Kaprodi dalam mendampingi mahasiswa mengikuti moment-moment nasional bahkan internasional menjadi keniscayaan terutama untuk mendongkrak prestasi mahasiswa ke taraf internasional.

“Ini awal dan mula yang sangat baik dan inspiratif terhadap seluruh mahasiswa untuk terus mengukir prestasi ke depan yang lebih hebat,” terang Ihsan. (Yusi/RB)

Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...

Mahasiswa Fasilkom UI kembangkan "CardiWatch" aplikasi pemeriksa kesehatan jantung

Minggu, 30 Mei 2021 14:03

 

Depok (ANTARA) - Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) mengembangkan "CardiWatch" yang merupakan aplikasi pemeriksaan khusus kesehatan jantung dan penyakit kardiovaskular.

"Dengan teknologi semua orang dapat ikut serta dalam pencegahan, mendeteksi, dan meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan jantung," kata Clouddian Fazalmuttaqin dalam keterangannya, Minggu.

Aplikasi ini dikembangkan oleh mahasiswa Fasilkom UI yaitu Clouddian Fazalmuttaqin, Nathasya Eliora Kristianti, Douglas Raevan Faisal, dan Adam Maulana. Aplikasi bernama CardiWatch ini merupakan aplikasi low-cost dengan layanan tindakan pencegahan.

Screening awal berbasis photoplethysmograph (PPG) digunakan untuk monitoring detak jantung, dengan melihat perubahan volume darah dalam pembuluh darah, dan konsultasi seputar kesehatan jantung dan penyakit kardiovaskular langsung dengan dokter spesialis jantung.

Penciptaan aplikasi ini berawal dari keinginan tim untuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di bidang teknologi kesehatan dengan memuat teknologi yang ramah pengguna, khususnya masyarakat awam. 

Selain itu, adanya fakta bahwa penyakit jantung adalah penyebab kematian nomor satu di Indonesia, bahkan di dunia, juga melatarbelakangi pembuatan aplikasi ini.

Fitur utama aplikasi ini adalah screening Arrhythmia, yaitu kondisi gangguan pada irama jantung. Untuk dapat melakukan screening, pengguna hanya meletakkan salah satu jari mereka pada gawai pintar yang telah ter-install di aplikasi CardiWatch dengan posisi menutupi kamera belakang dan flash.

Setelah itu, hasil screening akan ditampilkan kepada pengguna yang berisi beats per minutes (bpm) jantung dan indikator Arrhythmia atau tidak.

Berkat inovasi tersebut, Clouddian bersama tim berhasil mengamankan posisi mereka sebagai finalis di ajang Imagine Cup 2021 yang diselenggarakan oleh Microsoft.

Kompetisi ini melibatkan para ahli teknologi muda dari seluruh dunia untuk mempromosikan adaptasi platform, memperluas akses pasar, dan mencari talenta terbaik.

Pada kompetisi peserta membuat proyek baru dan inovatif yang menonjolkan bakat dan minat mereka, dan akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan para profesional, memperoleh keterampilan baru, memenangkan pendanaan untuk memaksimalkan penerapan ide-ide mereka, dan menerima bimbingan dari para pemimpin teknologi.

Melalui beberapa putaran kompetisi online dan tatap muka, para peserta memperebutkan gelar kejuaraan berhadiah uang tunai dan program mentoring.

Imagine Cup menitikberatkan pada inovasi yang mengubah cara hidup manusia, tentang solusi, dan aplikasi yang bisa menyelamatkan nyawa manusia.

Kompetisi ini menjadi wadah bagi peserta untuk mengembangkan jawaban yang efektif guna meningkatkan gaya hidup masyarakat di seluruh dunia, melalui ide-ide teknologi yang mereka ciptakan.

“Pencapaian para mahasiswa kami ini menunjukkan bahwa materi pengajaran di bangku kuliah dapat memberi solusi terhadap permasalahan di masyarakat,” kata Pejabat Dekan Fasilkom UI, Dr. Petrus Mursanto.

Petrus menambahkan Fasilkom UI, mendukung talenta-talenta berbakat di bidang teknologi, untuk terus berinovasi guna menjawab permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat.

 
Pewarta : Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2021
Diterbitkan di Berita
Baca selengkapnya...
  • Awal
  • Sebelum
  • 1
  • 2
  • Berikut
  • Akhir
Halaman 1 dari 2
  In Harmonia   In Harmonia
  • Tentang Kami
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Login
Copyright © 2020 InHarmonia.co All rights reserved.