Nafilah Sri Sagita K - detikHealth Jakarta - Jerman diserang gelombang keempat COVID-19, sempat mencatat rekor kasus 50 ribu sehari. Tiga Menteri Kesehatan di negara bagian Jerman mendesak strategi pengendalian COVID-19 lebih ketat seperti lockdown hingga penutupan sekolah.

Insiden kasus COVID-19 selama tujuh hari di Jerman mencapai rekor tertinggi selama pandemi. Jumlah orang yang terinfeksi naik menjadi 277,4 per 100 ribu penduduk berdasarkan data Robert Koch Institute per Sabtu (13/11/2021), di beberapa wilayah bahkan meningkat menjadi 500.

Kepala asosiasi dokter terbesar di Jerman, Marburger Bund mengatakan kepada grup media Jerman Funke Mediengruppe beberapa ruangan intensif atau perawatan ICU kemungkinan perlu memindahkan pasien antarwilayah, mencari tempat tidur dalam beberapa minggu mendatang, imbas kapasitas nyaris penuh.

Beban rumah sakit

Pemerintah federal dan para pemimpin dari 16 negara bagian Jerman akan membahas langkah-langkah pandemi baru pekan depan. Menteri kesehatan negara bagian Baden-Wuerttemberg, Hessen dan Brandenburg berpendapat bahwa sejumlah wilayah perlu tetap membuka opsi kebijakan darurat seperti jam malam, lockdown, atau penutupan sekolah, jika situasinya terus memburuk.

"Menghadapi beban rumah sakit yang di beberapa daerah hampir melebihi batas absolut, status epidemi harus diperpanjang di tingkat nasional," kata ketiga menteri kesehatan itu dalam pernyataan bersama, Sabtu, dikutip dari Channel News Asia.

Kanselir Jerman Angela Merkel mendesak orang yang tidak divaksinasi untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka dalam sebuah pesan video yang disebarkan Sabtu kemarin.

Dia juga menyerukan penegakan aturan yang lebih kuat terkait testing, vaksinasi, atau bukti 'bebas COVID-19' sebelum berkunjung ke tempat tertutup, dan mendesak vaksin booster dilakukan lebih cepat.

"Minggu-minggu yang sulit terbentang di depan kita, dan Anda dapat melihat bahwa saya sangat khawatir," kata Merkel, berbicara dalam podcast video mingguannya. "Saya segera meminta semua orang yang belum divaksinasi, tolong pertimbangkan kembali."

Tentara Jerman sedang bersiap membantu layanan perawatan kesehatan, lapor surat kabar Spiegel, dan akan memberikan vaksinasi dan tes booster di panti jompo dan rumah sakit.

(naf/up)

Sumber: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5810417/jerman-diserang-gelombang-ke-4-covid-19-rs-mulai-kewalahan?single

Diterbitkan di Berita

alinea.id Politisi Jerman menyatakan keterkejutannya atas pembunuhan seorang pekerja pompa bensin yang meminta pelanggan untuk mengenakan masker. Penyangkal virus corona yang bersedia menggunakan kekerasan tidak akan ditoleransi.

Pembunuhan pada Sabtu malam di kota barat Idar-Oberstein telah menjadi berita utama nasional. Jaksa mengatakan kasir pompa bensin, 20, telah meminta seorang pria berusia 49 tahun yang ingin membeli bir untuk mematuhi aturan dan mengenakan masker.

Pelanggan menolak dan pergi tetapi kembali kemudian mengenakan topeng, yang ditariknya ketika dia mendekati kasir yang kembali mengacu pada aturan.

“Kemudian pelaku mengeluarkan pistol dan menembak kepala kasir dari depan. Korban jatuh ke lantai dan langsung tewas," kata jaksa Kai Fuhrmann kepada wartawan.

Tersangka kemudian menyerahkan diri di kantor polisi, mengatakan aturan pencegahan virus corona membuatnya stres, kata Furhmann. Dia sedang ditahan.

Pembunuhan itu terjadi seminggu sebelum pemilihan federal di mana Alternatif sayap kanan untuk Jerman (AfD) telah mencoba merayu pemilih dengan kampanye anti-lockdown dan anti-vaksin.

Partai tersebut, dengan sekitar 11 persen dalam jajak pendapat, menampung banyak penyangkal virus corona.

Pada hari Selasa, politisi menanggapi pesan yang beredar di media sosial dari kelompok sayap kanan dan apa yang disebut "Querdenker" (pemikir lateral) yang menyangkal virus corona dan yang menunjukkan simpati terhadap si pembunuh.

“Kebencian dan hasutan yang datang dari orang-orang yang tidak bisa diajari ini memecah komunitas kami dan membunuh orang. Mereka tidak memiliki tempat di masyarakat kita, ”tweet Menteri Luar Negeri Heiko Maas yang mengatakan Querdenker merayakan pembunuhan itu.

Menteri Kehakiman Christine Lambrecht mengatakan itu menjijikkan bagaimana pembunuhan itu telah disalahgunakan untuk memicu kebencian. "Negara harus melawan radikalisasi penyangkal virus corona yang bersedia menggunakan kekerasan dengan segala cara yang mungkin," katanya.

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Pemerintah Jerman, Rabu (5/5), menyatakan sebuah organisasi Muslim yang dituduh mendukung terorisme secara global melalui sumbangan-sumbangannya sebagai organisasi terlarang.

Polisi menggerebek gedung-gedung yang terkait dengan Ansaar International di 10 negara bagian Jerman, kata Kementerian Dalam Negeri Jerman dalam sebuah pernyataannya.

Kementerian itu menuduh bahwa dana yang dikumpulkan organisasi tersebut, yang seolah-olah digunakan untuk proyek-proyek kesejahteraan, sesungguhnya ditujukan untuk membantu mendanai kelompok-kelompok seperti afiliasi Al-Qaeda Suriah yang dikenal sebagai Front Nusra, kelompok Palestina Hamas dan al-Shabab di Somalia.

 

Polisi menyegel markas organisasi muslim Ansaar International di Duesseldorf, Jerman, setelah dinyatakan sebagai organisasi terlarang, 5 Mei 2021. (REUTERS/Erol Dogrudogan)
Polisi menyegel markas organisasi muslim Ansaar International di Duesseldorf, Jerman, setelah dinyatakan sebagai organisasi terlarang, 5 Mei 2021. (REUTERS/Erol Dogrudogan)

 

“Organisasi Ansaar International dan anak-anak organisasinya merupakan jaringan terlarang. Jaringan tersebut mendanai terorisme secara global melalui sumbangan-sumbangannya,'' cuit Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri di Twitter.

Lebih dari 1.000 petugas polisi menggerebek gedung-gedung dan ruang-ruang kantor Ansaar International di berbagai penjuru Jerman dan menyita sekitar 150.000 euro atau sekitar 180.000 dolar.

“Sewaktu memerangi terorisme, kita perlu mengeringkan sumber-sumber pendanaannya, '' kata Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer. Ia menuduh Ansaar International menyebarkan pandangan Salafi tentang dunia dan mendanai teror di berbagai penjuru dunia dengan berpura-pura memberikan bantuan kemanusiaan.

Seorang pria yang menjawab panggilan telepon ke kantor pusat organisasi di kota Duesseldorf, Jerman barat, segera menutup telepon ketika kantor berita Associated Press menelepon untuk meminta komentar. [ab/uh]

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Jerman hari Minggu (18/4) melangsungkan upacara untuk mengenang hampir 80.000 korban pandemi virus corona, di mana President Frank-Walter Steinmeier menyerukan kepada seluruh warga Jerman untuk mengesampingkan perpecahan tajam tentang pembatasan sosial terkait COVID-19 untuk berbagi rasa duka dengan keluarga-keluarga korban.

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Frank-Walter Steinmeier mengikuti kebaktian ekumeni di Kaiser Wilhelm Memorial Church di Berlin, yang merupakan lokasi mengenang perang dan kehancuran, sebelum menghadiri upacara di Konzerthaus, Berlin.

“Hari ini, sebagai masyarakat, kami ingin mengenang mereka yang meninggal dalam kesepian dan kerap menghadapi kematian yang menyiksa pada masa-masa kelam ini,” ujar Steinmeier.

Ditambahkannya, “saya punya kesan bahwa kita sebagai masyarakat tidak menyadari bahwa di balik setiap angka itu ada nasib orang. Penderitaan dan kematian mereka kerap tidak terlihat oleh publik.”

Upacara peringatan itu disiarkan langsung oleh televisi secara nasional mengingat masih berlakunya pembatasan sosial terkait COVID-19 yang juga membatasi jumlah orang yang dapat hadir dalam upacara itu.

Ketika terjadi perdebatan sengit di Jerman tentang kebijakan pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintahan Merkel, termasuk pembatasan kontak sosial untuk mencegah perebakan, Steinmeier mengatakan “ada kebenaran yang pahit” bahwa pembatasan sosial semacam itu “juga mengakibatkan penderitaan.”

Selain rasa sakit karena kehilangan orang-orang yang dicintai, pembatasan yagn diberlakukan juga menyebabkan kerabat seringkali tidak dapat memegang tangan anggota keluarga mereka yang terbaring sekarat. Lainnya dibiarkan berduka sendiri karena pembatasan upacara peringatan atau pemakaman.

“Kita telah membatasi hidup kita demi menyelamatkan jiwa. Ini adalah konflik di mana tidak ada jalan keluar tanpa kontradiksi di dalamnya,” demikian pengakuan Steinmeier.

Tetapi ia juga membela tindakannya dengan mengatakan “politisi harus membuat keputusan sulit – dan bahkan tragis – untuk mencegah terjadinya bencana yang lebih besar lagi.”

Sejumlah pemimpin di kawasan itu telah menyerukan kepada warga untuk ikut dalam peringatan itu dengan menyalakan lilin di depan jendela mereka dari hari Jumat (16/4) hingga Minggu (18/4).

Upacara hari Minggu berlangsung ketika otorita kesehatan memperingatkan kemungkinan lebih banyak lagi orang meninggal karena virus itu.

Jerman, negara dengan tingkat perekonomian kedua terbesar di Eropa, telah berhasil keluar dari gelombang pertama pandemi virus corona, tetapi masih berjuang untuk mengambil tindakan tegas guna mengakhiri gelombang baru yang kali ini utamanya disebabkan varian Inggris yang lebih menular.

Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Jerman RKI, dalam 24 jam terakhir ini ada lebih dari 19.185 kasus baru COVID-19, sementara jumlah yang meninggal kini mencapai 79.914 orang. [em/lt]

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia 

Para pejabat kesehatan Jerman, Jumat (12/3) memperingatkan negara itu menghadapi gelombang ketiga infeksi virus corona, dan virus yang disebut sebagai varian Inggris mungkin menjadi penyebabnya.

Pada konferensi pers di Berlin, Lothar Wieler Presiden Robert Koch Institute for Infectious Diseases mengatakan kepada wartawan bahwa varian COVID-B117, yang awalnya diidentifikasi di Inggris, menyebar dengan cepat di negara itu, dan mungkin menggerakkan lonjakan terbaru, dengan kasus baru pada hari Jumat merupakan yang tertinggi di Jerman dalam satu bulan ini.

Wieler mengatakan vaksinasi dapat membantu virus itu terkendali tetapi masyarakat harus tetap mempraktikkan social distancing dan langkah-langkah lainnya. Ia mengatakan, “virus tidak akan menghilang lagi, tetapi kita telah memiliki tingkat imunitas dasar di tengah masyarakat, kita dapat mengontrol virus.”

 

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn (kanan) dan Lothar H. Wieler (kiri) presiden Robert-Koch-Institute, dalam konferensi pers di Berlin, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021. (AP Photo / Michael Sohn)
Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn (kanan) dan Lothar H. Wieler (kiri) presiden Robert-Koch-Institute, dalam konferensi pers di Berlin, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021. (AP Photo / Michael Sohn)

 

Pada konferensi pers yang sama, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn mengatakan negara itu harus bersiap untuk “menghadapi beberapa pekan mendatang yang sangat menantang.”

Spahn menyatakan penyesalan karena beberapa negara tetangga telah menghentikan penggunaan vaksin virus corona AstraZeneca menyusul laporan penggumpalan darah pada sejumlah penerima vaksin itu, meskipun masih kurang bukti bahwa vaksin itu penyebabnya.

Spahn mengatakan meskipun Jerman menerima laporan mengenai kemungkinan efek samping akibat itu vaksin itu “dengan sangat, sangat serius,” Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) dan badan pengawas vaksin Jerman sendiri telah menyatakan mereka tidak memiliki bukti mengenai peningkatan penggumpalan darah yang berbahaya, yang ada kaitannya dengan vaksin.

 

Warga mengenakan masker saat menunggu kereta di stasiun kereta bawah tanah di Frankfurt, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021, di tengah meningkatnya kasus infeksi COVID-19. (Foto AP / Michael Probst)
Warga mengenakan masker saat menunggu kereta di stasiun kereta bawah tanah di Frankfurt, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021, di tengah meningkatnya kasus infeksi COVID-19. (Foto AP / Michael Probst)

 

Denmark, Kamis (11/3) mengumumkan tentang penghentian sementara penggunaan vaksin AstraZeneca setelah ada laporan mengenai penggumpalan darah pada beberapa orang. Austria melakukan hal yang sama sebelumnya pekan ini. Setelah menyelidiki kasus-kasus di Austria, EMA mengeluarkan pernyataan hari Rabu yang menyebutkan tidak menemukan indikasi bahwa vaksin itu penyebab kondisi tersebut.

EMA menyatakan “manfaat vaksin terus melampaui risikonya dan vaksin dapat terus diberikan” sementara evaluasi yang lebih cermat terhadap kasus-kasus penggumpalan darah berlanjut. [uh/ab]

Diterbitkan di Berita

Berlin, ARRAHMAHNEWS.COM – Otoritas Jerman melarang dan membubarkan kelompok Islam radikal (Salafi, Wahabi dan Khilafah) di Ibu Kota Berlin. Menyusul pelarangan tersebut, sekitar 800 polisi menggerebek 26 lokasi di Berlin dan negara bagian Brandenberg pada Kamis, 25 Februari. Larangan tersebut merupakan salah satu upaya untuk melawan ekstremisme.

Departmen Dalam Negeri Senat Berlin mengatakan, pihaknya telah melarang Jama’atu Berlin, sebuah asosiasi Salafi-Jihad yang dianggap sangat radikal. Kelompok yang juga dikenal sebagai Tauhid Berlin itu dinilai menganjurkan serangan teror.

Dalam konferensi pers, Senator Dalam Negeri Berlin, Andreas Geisel, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengawasi kelompok itu selama dua tahun. Ada 19 anggota kelompok tersebut yang menjadi fokus penggerebekan. Namun, tidak ada penangkapan yang dilaporkan.

Disebutkan juga, kelompok tersebut menolak Konstitusi Jerman dan mendukung ideologi Negara Islam (Khilafah), serta mempropagandakan ‘Jihad’, dan menyerukan syariah sebagai satu-satunya hukum yang sah.
 
Kata Akmann, pihaknya belum mengetahui secara persis apakah kelompok tersebut merencanakan serangan yang konkret. Namun, dia mengaku bahwa penyelidikan masih berlangsung.

Berdasarkan pernyataan Senat, dilansir Reuters, anggota kelompok yang tidak terdaftar tersebut -baik laki-laki maupun perempuan- bertemu secara rutin di taman dan rumah pribadi.

Mereka menyebarkan ideologi kelompok tersebut dengan membagikan selebaran di ruang publik dan melalui internet.  Dilansir DW, kelompok Jama’atu Berlin diyakini memiliki sekitar 20 anggota.

Beberapa di antara telah menarik perhatian di masa lalu setelah membagikan selebaran di beberapa daerah Berlin. Beberapa merupakan anggota kelompok Islamis lainnya yang pernah dilarang pada 2017 lalu.

Mereka telah melakukan kontak dengan Anis Amri, seorang pencari suaka dari Tunisia yang berhubungan dengan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Pada 2016, Amri pernah membajak sebuah truk dan kemudian menabrakkannya di Pasar Natal di Berlin.

Kejadian itu menewaskan 12 orang. Berdasarkan data yang dirilis Badan Intelijen Domestik, jumlah kelompok Salafi di Jerman meningkat ke level tertinggi hingga mencapai 12.150 orang pada 2019. Angka tersebut lebih dari tiga kali lipat sejak 2011. (ARN)

Diterbitkan di Berita

detiknews Berlin - Penceramah terkenal asal Irak, Abu Walaa dijatuhi hukuman penjara 10 tahun 6 bulan penjara oleh pengadilan Jerman pada Rabu (24/2). Abu Walaa dijatuhi hukuman setelah dituduh sebagai pemimpin de facto kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Jerman.

Seperti dilansir AFP, Rabu (24/2/2021) pria berusia 37 tahun itu diadili bersama tiga pria lainnya dalam persidangan berpengamanan tinggi yang dimulai pada 2017 di kota Celle, Jerman utara.

Abu Walaa didakwa atas keanggotaannya di ISIS, sementara tiga terdakwa lainnya didakwa mendukung organisasi teroris itu.

"Putusan itu menandai akhir dari 'kasus khusus' yang sangat panjang dan sangat kompleks", kata hakim Frank Rosenow saat dia menjatuhkan putusan setelah 245 hari pemeriksaan. Tiga rekan terdakwa dijatuhi hukuman penjara mulai dari empat hingga delapan tahun karena mendukung ISIS.
Abu Walaa memiliki nama asli Ahmad Abdulaziz Abdullah Abdullah dan dituduh menjadi "perwakilan ISIS di Jerman". Ia disebut melakukan radikalisasi kaum muda di Eropa dan membawa mereka untuk berangkat ke Irak dan Suriah.Sebelumnya, jaksa menuntut hukuman penjara 11,5 tahun untuk Abu Walaa.

Namun pihak pembela menuntut pembebasannya. Abu Walaa sendiri menolak untuk membuat pernyataan penutup minggu lalu.

Tuduhan terhadap Abu Walaa didasarkan atas kesaksian seorang informan dinas keamanan Jerman. Informan itu menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan bukti. Ia dibebaskan dari kesaksian langsung di depan pengadilan guna menghindari bahaya yang mengancam dirinya.

Informan kunci lainnya adalah seorang bekas militan yang setuju bekerja sama setelah kembali ke Jerman dari wilayah yang dikuasai ISIS. Ia memberi tahu penyidik bagaimana dia telah menjadi bagian dari jaringan Abu Walaa sebelum melakukan perjalanan ke Suriah.

Pengacara Abu Walaa, Peter Krieger, bersikeras bahwa kesaksian dua informan itu tidak dapat dipercaya. Dia mengatakan kepada pengadilan bahwa saksi kunci adalah seorang "pembohong terkenal".

'Penceramah Tanpa Wajah'

Abu Walaa tiba di Jerman sebagai pencari suaka pada 2001, dan ditangkap pada November 2016 setelah penyelidikan panjang oleh Dinas Keamanan Jerman.

Berbasis di sebuah masjid di Hildesheim, Lower Saxony, dia diduga telah merekrut sedikitnya delapan orang - kebanyakan dari mereka "masih sangat muda" - ke ISIS, termasuk sepasang saudara kembar Jerman yang melakukan serangan bunuh diri di Irak di 2015.

Ia dijuluki "penceramah tanpa wajah" karena semua video ceramahnya dilakukan dengan membelakangi kamera. Abu Walaa juga dituduh menggaungkan jihad di masjid Hildesheim, yang sejak saat itu ditutup.

Teroris terkenal lainnya yang diduga terkait dengan Abu Walaa adalah Anis Amri, warga Tunisia yang menewaskan 12 orang ketika dia mengendarai truk ke pasar Natal Berlin pada tahun 2016. Amri terbunuh oleh polisi di Italia saat melarikan diri.

Abu Walaa diduga dibantu oleh satu dari tiga remaja yang dihukum karena serangan bom tahun 2016 di sebuah kuil Sikh di Essen, Jerman barat.

Meski begitu, hubungan antara Amri dan Abu Walaa masih belum terbukti. Menurut Kementerian Dalam Negeri Jerman, pasukan keamanan telah mencegah 17 serangan ISIS sejak 2009, mayoritas sejak serangkaian serangan yang berhasil pada 2016.

(izt/ita)

Diterbitkan di Berita

COPENHAGEN, KOMPAS.com - Empat belas orang telah ditangkap di Denmark dan Jerman karena dicurigai mempersiapkan satu atau beberapa serangan di kedua negara tersebut, kata polisi Denmark pada Jumat (12/2/2021).

Dalam penggerebekan itu polisi menemukan bendera ISIS, yang mengindikasikan para tersangka “memiliki hubungan atau simpati dengan organisasi teror tersebut."

“Temuan itu mengkhawatirkan. Tetapi menurut penilaian kami tidak ada bahaya yang akan terjadi," kata Flemming Drejer, Kepala Operasi Badan Keamanan dan Intelijen Denmark melansir AP.

Dreyer mengatakan tujuh orang pertama yang ditangkap di Denmark telah memperoleh beberapa senjata laras panjang. Pihaknya juga menemukan hal-hal yang dapat digunakan untuk membuat bom.

Namun, dia tidak dapat memberikan rincian lebih lanjut tentang kasus Denmark atau hubungannya dengan Jerman. "Kami sekarang dalam tahap awal penyelidikan dan kami perlu menyimpan “kartu” kami sebagai informasi rahasia," kata Dreyer.

Baca juga: Arkeolog yang Kepalanya Dipenggal ISIS karena Lindungi Kota Kuno Palmyra Ditemukan

Semua kecuali satu dari 14 penangkapan terjadi di Denmark. Tiga dari tersangka adalah warga negara Suriah, berusia 33, 36 dan 40 tahun. Satu orang ditangkap akhir pekan lalu di Jerman menurut pejabat negara itu.

Otoritas Denmark mengumumkan delapan penangkapan pada Kamis, dan polisi mengatakan enam orang lainnya ditahan Jumat (12/2/2021). Sidang penahanan di Denmark akan diadakan dalam mekanisme “pintu tertutup ganda.

” Artinya kasus tersebut diselimuti kerahasiaan dan hanya sedikit detail yang bisa dipublikasikan. Pejabat tidak mengidentifikasi tersangka.

Pada Kamis (11/2/2021), Dinas Keamanan Denmark (Denmark PET) mengatakan tujuh orang pertama, yang ditangkap di Denmark, diduga telah “memperoleh bahan dan komponen untuk pembuatan bahan peledak, kepemilikan senjata, atau berpartisipasi dalam hal ini" Mereka dicurigai "telah merencanakan satu atau lebih serangan teroris atau berpartisipasi dalam percobaan terorisme".

Sebelumnya, otoritas Jerman mengumumkan tiga penangkapan pertama, dua di Denmark dan satu di Jerman. Para tersangka diduga telah membeli beberapa kilogram bahan kimia pada Januari, yang dapat digunakan untuk membuat bahan peledak.

“Sebuah pencarian tempat tinggal di kota Dessau-Rosslau Jerman, barat daya Berlin, menemukan 10 kilogram bubuk hitam dan sekering,” kata jaksa penuntut Jerman. Dilaporkan lebih banyak bahan kimia disita di Denmark.

Baca juga: Pemimpin Sayap Kanan Perancis Hadapi Ancaman Penjara Setelah Sebar Gambar Kekejaman ISIS

Kantor berita DPA Jerman melaporkan bahwa ketiganya bersaudara. Sementara dua orang telah memasuki Jerman untuk pertama kalinya pada 1998 dan menerima status pengungsi kemudian.

Bahan kimia yang diduga mereka dapatkan berasal dari sumber di Polandia, dikirim ke Dessau-Rosslau, dan kemudian dibawa ke Denmark, DPA melaporkan.

Menteri Kehakiman Denmark Nick Haekkerup dalam kicauan di Twitter pada Kamis malam (11/2/2021) menulis "kasus tersebut menunjukkan bahwa ancaman teroris terhadap Denmark tetap serius."

Negara Skandinavia berpenduduk 6 juta itu telah mengkhawatirkan kemungkinan serangan ekstremis sejak September 2005. Tepatnya ketika sebuah surat kabar Denmark menerbitkan 12 kartun yang menampilkan Nabi Muhammad.

Kartun tersebut menyebabkan kemarahan dan protes di dunia Muslim, di mana penggambaran Muhammad secara umum dianggap menghujat. Surat kabar tersebut mengatakan ingin menguji apakah kartunis akan menerapkan sensor diri ketika diminta untuk memerankan Muhammad.

Tidak ada hukum Denmark yang dilanggar dengan publikasi kartun tersebut.

Diterbitkan di Berita