sindonews.com JAKARTA - PT Indofarma tbk bekerja sama dengan PT Achiko Medika Indonesia akan meluncurkan alat test diagnostik Covid-19 dengan harga di bawah Rp50.000. Senior VP Operation Asia Achiko, Windaprana menerangkan, alat test ini nantinya akan menggunakan teknologi DNA Aptamer untuk hasil yang akurat serta nyaman untuk digunakan.
 
"Jadi kita punya semangat bersama yaitu kita tahu bahwa untuk supaya semua orang bisa terlindungi kita harus bisa menguji sebanyak mungkin orang jadi kita punya semangat bersama tidak ada yang tertinggal," ujarnya pada acara acara webinar, Kamis (26/8).
Widaprana menjelaskan, Aptamex ini sudah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan tertanggal 13 Agustus 2021 dan akan mulai produksi di bulan September mendatang.

"Diharapkan pada bulan Oktober dan November ke depan kita sudah bisa mencoba produk Aptamex ini dan meng-incrase produksinya dan hal yang paling penting tadi selalu dibilang harga terjangkau harganya kami akan coba pasarkan di bawah Rp50.000 dengan akurasi sangat akurat dan nyaman digunakan," sambungnya.
 
Sedangkan menurut Dirut PT. Indofarma Tbk, , Arief Pramuhanto mengungkapkan, semakin tinggi mobilitas seseorang, maka seharusnya harus melakukan testing yang lebih sering. Indofarma sendiri menetapkan, kriteria 3A untuk sebuah peluncuran alat testing covid 19.
Arief menjelaskan, utamanya adalah akurat dari sisi sensitivitas yang harus diatas 70-80%.
 
Kemudian kedua adalah aksesible, jadi alat tes itu harus mudah dijangkau masyarakat, dan ketiga adalah Affordable atau memiliki harga yang terjangkau.

"Kalau kita harus bayar 300-400 ribu untuk yang harga baru (PCR) ya berat juga, apalagi kalau harus melakukannya setiap minggu, kalau harga yang affordable itu pasti sangat terjangkau," ujarnya. Semakin murah harga test, akan menyebabkan jumlah testing semakin banyak, sehingga tracingnya lebih banyak juga, dan juga hasil dari testing dan tracing tadi juga akan lebih akurat.
 
"dan Aptamex ini masuk dalam 3 kriteria itu, terutama affordable, sehingga diharapkan masyarakat nantinya mudah menggunakan ini," tuturnya.
 
 
 
Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: 11 juta orang di Wuhan, China, dilaporkan telah menyelesaikan pengujian covid-19.

Hal tersebut dilakukan setelah munculnya varian terbaru yakni Varian Delta di sejumlah negara. Test ini juga ditargetkan pada seluruh warganya terkecuali anak-anak di bawah usia enam tahun dan siswa pada liburan musim panas mereka.

"Wuhan mencatat 37 kasus Covid-19 yang ditularkan secara lokal dan menemukan 41 pembawa asimptomatik lokal dalam putaran pengujian massal terbaru," ungkap Pejabat Senior Wuhan Li Tao dikutip AFP, Senin (9/8/2021).

Selain itu, pejabat kota juga mengumumkan bahwa tujuh infeksi menular lokal telah ditemukan di antara pekerja migran di Wuhan.

Bahkan, memecahkan rekor selama setahun tanpa kasus domestik setelah menekan wabah awal dengan penguncian yang belum pernah terjadi sebelumnya pada awal 2020.

Pihak berwenang setempat juga mengatakan jika mereka dengan cepat memobilisasi lebih dari 28.000 petugas kesehatan di sekitar 2.800 lokasi untuk kampanye pengujian covid-19.

Sebelumnya diketahui, bahwa China menurunkan kasus domestik menjadi hampir nol setelah virus corona pertama kali muncul di kota itu pada akhir 2019. Pencegahan penyebaran virus corona memungkinkan ekonomi untuk pulih dan kehidupan sebagian besar kembali normal.

Tetapi wabah baru telah merusak rekor itu, karena varian Delta yang menyebar cepat mencapai puluhan kota setelah infeksi di antara petugas kebersihan bandara di Nanjing memicu rantai kasus yang telah dilaporkan di seluruh negeri.

Maka dari itu, China sejak itu membatasi penduduk di seluruh kota di rumah mereka, memutus jaringan transportasi domestik dan meluncurkan pengujian massal saat memerangi wabah yang terbesar dalam beberapa bulan.

Diterbitkan di Berita