damailahindonesiaku.com Jakarta – Satgas Madago Raya terus melakukan pengejaran terhadap sisa Daftar Pencarian Orang (MIT) anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.

Terkini, mantan tangan kanan pimpinan MIT Santoso, Basri alias Bagong, alias Ayas, alias Opa, meminta Ali Kalora dkk turun gunung dan menyerahkan diri. Pernyataan Bagong itu beredar video yang beredar pesan berantai di media sosial.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, nama saya Basri alias Ayas alias Bagong alias Opa, Alhamdullilah, saya dalam keadaan baik, baik dan sehat sehat, saya turun untuk menyerahkan diri, untuk mempertanggung jawabkan perbuatan saya,” kata Basri dalam video yang diterima, Jakarta, Rabu (25/8/2021).

Terkait video itu, Wakasatgas Humas Ops Madago Raya AKBP Bronto Budiyono membenarkan beredarnya video napi teroris saudara Basri alias Bagong alias Ayas alias Opa.

“Iya benar, telah beredar video dengan durasi 1,53 menit dari narapidana teroris Poso yaitu saudara Basri alias Bagong alias Ayas alias Opa, isi video tersebut adalah ajakan kepada DPO teroris Poso yang masih ada di gunung untuk segera turun dan menyerahkan diri,” kata Bronto.

Menurut Bronto, Basri adalah salah satu pelaku tindak pidana terorisme di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah yang menyerahkan diri dan diperlakukan sebaik-baiknya oleh Kepolisian. “Semoga ajakan Basri dapat didengar oleh Ali Kalora CS,” ujar Bronto.

Mohammad Basri bin Baco Sampe alias Ayas alias Bagong alias Opa yang merupakan tangan kanan Santoso (pimpinan MIT Poso saat itu), telah terbukti melakukan serangkaian kekerasan, pembunuhan dan tindak terorisme di Poso sehingga Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 19 tahun penjara,

Baru menjalani masa pidana 6 tahun, pada April 2013 Basri sempat kabur dari Lembaga Pemasyarakatan kelas II B Ampana, tetapi kemudian tanggal 14 September 2016 menyerahkan diri kepada Satgas Operasi Tinombala.

Berikut pernyataan Basri alias Bagong:

“Adik-adikku, kakak-kakakku yang saya cintai, saya sayangi, marilah turun dari hutan, marilah kita persoalan ini kita duduk bersama, kita selesaikan bersama, ndak usah lagi begitu mari kita hidup tenang, kita bangun kota Poso bersama. Kalau adik-adikku, kakak-kakakku, saudara-saudaraku yang masih ada di hutan, kalau kalian takut untuk turun menyerahkan diri, saya yang akan bertanggung jawab, sayalah yang akan menjemput kalian. Saya akan jemput kalian, bapak-bapak kita dari Polisi memperlakukan saya baik-baik, melebihi saudara mereka sendiri, sekali lagi marilah kita turun, marilah kita turun, sudah tinggalkan perbuatan kita yang melanggar hukum.

Sekali lagi kita bangun-kita bangun Kota Poso seperti dulu lagi. Saya berdoa kepada Allah SWT, Insyaallah adik-adikku mendapatkan hidayah, kekuatan, bisa turun-turun dari gunung untuk menyerahkan diri, apabila kalian takut, sayalah yang akan menjemput kalian, semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Tiga jenderal turun langsung ke lapangan untuk melakukan pencarian 6 orang sisa Daftar Pencarian Orang (DPO) teroris Poso . Bahkan ke tiganya rela bermalam di pos sekat yang biasa ditempati personil TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Madago Raya.

Tiga jenderal tersebut adalah Irjen Polisi Abdul Rakhman Baso yang juga Kapolda Sulteng, Brigjen TNI Farid Makruf Danrem 132 Tadulako dan Brigjen Polisi Reza Arief Dewanto selaku Kepala Operasi (Kaops) Satgas Madago Raya.

Yang menarik, kolaborasi dua pucuk pimpinan TNI-Polri di Sulteng itu menunjukkan kepiawaiannya memasak santapan malam menu ala pasukan di medan tugas di pos sekat.

Wakasatgas Humas Ops Madago Raya AKBP Bronto Budiyono mengungkapkan, sebelum bergerak ke lapangan ketiga jenderal itu memberikan arahan kepada personel Satgas Madago Raya. Selanjutnya mereka turun kelapangan dengan menunggangi motor trail.

Patroli bermotor ini menyisir beberapa perkampungan di wilayah Kecamatan Poso Pesisir Selatan (PPS). "Sambil mencari keberadaan 6 orang sisa DPO teroris Poso pimpinan Ali Kalora mereka juga menyapa warga sepanjang perjalanan," ungkap Bronto, Rabu (11/8/2021).

Dia menerangkan upaya pencarian meyusuri hutan belantara. Setiap menemui pos sekat, rombongan berhenti untuk memberikan arahan sekaligus semangat kepada para personel. Rombongam akhirnya beristirahat di Pos Sekat Kelapa Dalam Desa Pantangolemba untuk bermalam.

"Disetiap pos rombongan berhenti untuk memberikan dorongan moril agar anggota tetap semangat dalam tugas. Bekerja tanpa pamrih untuk merah putih. pesan tersebut yang selalu disampaikan kepada pasukan yang bertugas," ungkap Broto.

Selain memberikan semangat rombongam juga selalu memberikan bantuan sembako disetiap pos yang dikunjungi. "Hal kecil yang selalu menjadi perhatian untuk anggota," tutup Bronto.

(ymn)

Diterbitkan di Berita

Palu (ANTARA) - Kepolisian berhasil mengidentifikasi dua jasad terduga Daftar Pencarian Orang Mujahidin Indonesia Timur Poso yang tewas dalam kontak tembak baru-baru ini di  pegunungan Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, adalah Qatar dan Rukli

Menurut Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso berdasarkan hasil identifikasi, keduanya adalah Rukli dan Qatar alias Farel.

"Olah DNA dari tiga daftar pencarian orang (DPO) yang terakhir, pertama Qatar, kedua Rukli, dan ketiga adalah Ambo," katanya, Rabu

Kapolda mengatakan salah satu DPO Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso yang tewas, yakni Qatar merupakan DPO yang memimpin aksi pembunuhan di dua Desa di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Poso.

"Hasil analisa intelijen itu Qatar yang melakukan pembunuhan di Lemban Tongoa dan Kalimago, kemudian seperti analisa kita mereka itu terbagi dari beberapa kelompok," katanya.

Sebelumnya pada bulan Juli 2021, selama sepekan terjadi dua kali kontak tembak antara satgas Madago Raya dengan DPO MIT Poso. Insiden Kontak tembak tersebut menewaskan tiga orang DPO MIT.

Insiden pertama terjadi pada Minggu (11/07), di Pegunungan Desa Tanah Lanto Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong yang menyebabkan dua DPO MIT Poso tewas.

Kemudian pada Sabtu (17/07) kontak tembak mengakibatkan satu DPO MIT Poso kembali tewas. Insiden terjadi di Desa Tolai Induk, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong. Tidak jauh dari lokasi kontak tembak yang pertama.

Dari dua lokasi tersebut, Satgas Madago Raya, mengamankan sejumlah barang bukti berupa senjata api jenis revolver, amunisi, bom lontong, kompas, bendera, dan sejumlah barang bukti lainnya yang diduga digunakan tiga DPO MIT Poso yang tewas tersebut.

Ketiga jenazah DPO MIT Poso ini dimakamkan di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Namun, dari tiga jenazah ini baru satu jenazah yang berhasil diidentifikasi kepolisian.

Data kepolisian, saat ini DPO MIT Poso yang masih terus dilakukan pengejaran oleh Tim Satgas Madago Raya berjumlah enam orang.

Pewarta: Rangga Musabar
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

VIVA – Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Abdul Rakhman Baso turun langsung memimpin Satgas Madago Raya melakukan perburuan sisa teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sulawesi Tengah yang masih buron atau masuk daftar pencarian orang (DPO). 

Bersama beberapa pejabat satgas Madago Raya, dengan menunggangi motor trail, Kapolda Sulteng bertolak dari Poskotis Tokorondo Poso menuju wilayah Poso Pesisir Selatan, wilayah Lore bersaudara dan Kabupaten Sigi, pada Rabu, 21 Juli 2021.

Setidaknya ada delapan pos sekat, poskotis dan pos pengamanan daerah rawan yang menjadi sasaran untuk dikunjungi rombongan Kapolda Sulteng,

"Kapolda Sulteng selaku penanggung jawab kebijakan operasi (PJKO) satgas Madago Raya tidak ingin berlama-lama menuntaskan pencarian sisa DPO teroris Poso," kata Wakil Kasatgas Humas Operasi Madago Raya, AKBP Bronto Budiyono pada Kamis, 22 Juli 2021.

Menurut AKBP Bronto, patroli skala besar kembali dikerahkan untuk mempersempit ruang gerak DPO teroris Poso dan mencegah para simpatisan yang ingin memberikan suplai logistik atau bahan makanan, paska dilumpuhkannya tiga DPO teroris Poso dalam sepekan terakhir.

Selain itu, pasukan yang berada di Pos perlu diberikan motivasi, suplai logistik dan bahan makanan agar lebih bersemangat dalam bertugas menuntaskan sisa DPO teroris yang belum berkeinginan untuk menyerahkan diri.

"Kekuatan logistik untuk pasukan yang berada di medan operasi perlu diperhatikan, karena itu adalah kunci keberhasilan dalam tugas operasi, tanpa logistik yang cukup mustahil operasi akan berhasil," ungkapnya

 

 

Hari pertama penyisiran dari wilayah Poso Pesisir, Poso Pesisir Selatan sampai dengan wilayah Lore Utara atau Napu Kapolda Sulteng menyempatkan untuk beristirahat dan bermalam di Poskotis IV Napu.

Kamis pagi, rombongan kembali akan menyisir wilayah Napu atau Kecamatan Lore Utara sampai dengan wilayah Kabupaten Sigi. 

Kapolda Sulteng, lanjut Bronto, meminta kepada sisa-sisa DPO teroris Poso untuk segera menyerahkan diri dengan baik-baik. Apalagi, keluarga juga sudah menunggu kepulangan para DPO teroris.

"Selanjutnya diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku dan kembali kepangkuan NKRI seeta masih ada kesempatan untuk bertobat, memperbaiki kesalahan dan berkumpul kembali dengan keluarga yang sudah lama merindukan kepulangan kalian," ujarnya.

Laporan: Firman

Diterbitkan di Berita

Kota Palu (ANTARA) - Satu orang Daftar Pencarian Orang (DPO) Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sulawesi Tengah, yang tewas dalam kontak tembak dengan satgas Madago Raya, Sabtu 17/07 adalah Abu Alim alias Ambo.

Kontak tembak terjadi di wilayah Pegunungan Desa Tolai Induk, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

"Hasil identifikasi DPO MIT Poso berinisial A lias AA alias B," sebut Waka Satgas Humas Operasi Madago Raya AKBP Bronto Budiono di Palu, Sabtu malam.

Menurut Bronto, kontak tembak terjadi sekitar pukul 11:30 Wita. Setelah dinyatakan tewas, jenazah Abu Alim alias Ambo tersebut dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu untuk proses autopsi dan identifikasi.

Tidak hanya itu, Satgas Madago Raya juga mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kontak tembak. Barang bukti tersebut berupa, satu pucuk senjata api jenis revolver, parang, bom lontong, serta barang bukti lainnya.

"Pada saat itu dia dalam posisi sendiri," jelasnya. Setelah diautopsi dan diidentifikasi, jenazah Abu Alim alias Ambo, warga asal Bima, Nusa Tenggara Barat, yang tewas dalam kontak tembak dengan Satgas Madago Raya, dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Proses pemakaman dilakukan pada pukul 21:40 Wita dan dibantu oleh warga sekitar. Proses pemakaman ini dijaga ketat oleh sejumlah aparat Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah.

Bronto mengatakan didapatnya satu DPO MIT Poso ini merupakan pengembangan dari kontak tembak yang terjadi sebelumnya pada Minggu 11/07. Insiden saat itu mengakibatkan dua DPO MIT Poso tewas.

Namun, hingga saat ini pihak kepolisian masih belum berhasil mengidentifikasi identitas kedua DPO MIT Poso tersebut.

Pewarta: Rangga Musabar
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Satgas Madago Raya meminta agar para buron teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso menyerahkan diri untuk menjalani proses hukum.

Saat ini, tersisa enam orang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polda Sulawesi Tengah. Dalam beberapa hari terakhir Satgas telah menembak mati tiga orang DPO.

"Kami menghimbau agar sisa DPO yang ada di pegunungan biru baik di wilayah Poso, Sigi dan Parimono untuk segera menyerahkan diri baik-baik supaya tidak ada jatuh korban lagi," kata Wakasatgas Humas Madago Raya, AKBP Bronto Budiyono kepada wartawan, Minggu (18/7).

Bronto mengatakan para teroris tersebut harus menjalani proses hukum dan ikrar setiap kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam serangkaian kegiatan operasi yang dilakukan, TNI-Polri kembali menembak mati seorang teroris MIT di wilayah Torue, Pagiti Moutong pada Sabtu (17/7) kemarin.

Hasil identifikasi awal, pihak yang tertembak merupakan anggota MIT bernama Budirman alias Abu Alim alias Hanif alias Ambo dia masuk DPO sejak 2015.

Diketahui, pria yang diperkirakan berusia 27 tahun ini bergabung dengan Jamaah Ansharut Tauhid sejak 2012 kemudian beranjak ke Poso untuk bergabung dengan asykari yang dipimpin oleh Santoso alias Abu Wardah.

Jenazah Abu Alim telah dibawa ke RS Bhayangkara Palu untuk dilakukan autopsi dan identifikasi lebih lanjut melalui pengambilan sampel DNA.

"Untuk memastikan kebenaran bahwa DPO teroris yang meninggal tersebut dibutuhkan tes DNA dari keluarganya," ucap Bronto.

Setelah dilakukan autopsi dan pengambilan sampel DNA, jenazah Abu Alin langsung dimakamkan di TPU Poboya, Palu.

Sebelumnya, Satgas Madago Raya juga menembak mati dua anggota MIT Poso pada Minggu (11/7) lalu. Kala itu, evakuasi jenazah sulit dilakukan karena jenazah berada jauh di dalam jurang. Proses evakuasi baru rampung setelah empat hari.

Pasukan TNI di lapangan mengubah rencana evakuasi yang semula melalui udara kini menggunakan rakit untuk menyusuri sungai.

(mjo/agn)


Diterbitkan di Berita

okezone.com JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia (TNI) menghormati lawan atau musuh negara dengan mengevakuasi jenazah dan diperlakukan dengan humanis.

Hal ini dibuktikan oleh aksi heroik prajurit TNI yang tergabung dalam Koospsgabsus Tricakti dengan melakukan evakuasi dua jenazah kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah.

Setelah berjibaku melewati lebatnya hutan dan merubah rencana evakuasi dengan membuat rakit menyusuri beberapa arus sungai deras dan rangkaian air terjun di sekitar Pegunungan Tokasa, Desa Tanalanto, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi, Tim Evakuasi Koopsgabsus Tricakti pada pukul 14.30 WITA akhirnya berhasil membawa jenazah dua teroris Poso keluar dari Tempat Kejadian Perkara (TKP), Rabu (14/7/2021).

Tim evakuasi di lapangan yang dipimpin langsung Wapangkoopsgabsus Brigjen TNI Rafael Granada Baay menyebutkan bahwa hari keempat evakuasi jenazah, tim di lapangan diberikan kelancaran.

“Tiga hari sebelumnya tim evakuasi menghadapi banyak rintangan alam, medan dan cuaca yang sering berubah-ubah mulai dari TKP dan di sepanjang rute evakuasi,” ujarnya.

Koopsgabsus TNI menurunkan 2 Tim Tricakti dan 1 Tim Chandraca, sejak hari Minggu 11 Juli 2021, terus berupaya mengevakuasi jenazah. Informasi di lapangan hari pertama, tim evakuasi hanya dapat bergerak sekitar 600 meter dari TKP menuju titik penjemputan landing zone darurat yang telah disiapkan.

“Kesulitan utama adalah beratnya medan karena vegetasi tumbuhan yang rapat serta banyaknya bebatuan besar di tebing sisi kiri dan kanan sungai, sehingga menyulitkan pasukan menembus rute yang dilewati,” kata Brigjen TNI Rafael.

Tim evakuasi hari kedua pada hari Senin pagi (12/7/2021) dari pukul 06:00 WITA kembali dilanjutkan setelah sempat istirahat tadi malam karena terkendala cuaca hujan deras dan tidak ada jalan sehingga harus merintis rute baru keluar TKP.

Hari ketiga evakuasi pada Selasa pagi 13 Juli 2021, pukul 07.00 WITA, tim evakuasi hampir berhasil mengangkat jenazah menggunakan Heli Caracal TNI AU, namun karena sempitnya medan serta lebatnya hutan menyulitkan manuver heli untuk hover, dengan aman, bila dipaksakan akan sangat beresiko untuk keamanan alutsista.

Brigjen TNI Rafael yang mengkoordinir pergerakan evakuasi siang ini, pukul 12:20 WITA di Poskout Tricakti, menginformasikan evakuasi yang melibatkan masyarakat kembali menemui kendala setelah sempat menggunakan rakit menyusuri sungai sepanjang hampir 500 meter dari posisi sebelumnya, ternyata di depan terdapat air terjun lebih 75 meter yang memaksa tim evakuasi menurunkan jenazah menggunakan tali. 

Rabu (14/7/2021), pukul 13:30 WITA, tim evakuasi berhasil menjangkau landing zone darurat yang aman untuk dilakukan pengangkatan jenazah menggunakah hoist dan basket stretcher dari pesawat Heli Super Puma dukungan operasi Koopsau II Makassar, yang diterbangkan oleh Pilot Mayor Pnb Budiyono dari Lanud Hasanudin Makassar.

Siang ini juga pukul 14:30 WITA, dua jenazah teroris Poso, segera diberangkatkan dari Mayonif 714/SM ke RS. Bhayangkara Polda Sulteng, langsung dipimpin Brigjen TNI Rafael.

Menurut Brigjen TNI Rafael keberhasilan evakuasi jenazah teroris Poso tidak terlepas dari kerja sama semua pihak yang telah mencurahkan semua tenaga dan pemikiran pasca penyergapan  serta penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.

“Setelah melalui semua perjuangan berat tersebut kedua jenazah teroris berhasil di evakuasi, langsung diberangkatkan ke RS. Bhayangkara Polda Sulteng untuk dilaksanakan autopsi dan identifikasi lebih lanjut oleh Tim Inafis Satgas Madago Raya,” katanya.

 

(aky)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Polri mengungkapkan bahwa penembakan dua teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso diawali dari informasi warga sekitar yang mengeluhkan kehilangan makanan.

"Peristiwa tersebut diawali dengan adanya informasi bahwa seorang warga telah kehilangan sejumlah barang miliknya berupa bahan makanan.

Kemudian atas informasi tersebut, tim melakukan penyisiran," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, Senin (12/7).

Ahmad menjelaskan bahwa setelah itu, tim Komando Operasi Gabungan Khusus (Koopsgabssus) Tricakti menyisir wilayah Pegunungan Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Poso.

Dari penyisiran itu, tim menemukan jejak bekas makanan yang mengarah pada lokasi keberadaan buronan MIT Poso pimpinan AliKalora. Tim kemudian berhasil menemukan para DPO sekitar pukul 03.00 WITA.

Saat itulah kontak tembak terjadi. Akibatnya, dua orang tersangka teroris tewas di tempat. "Mengakibatkan 2 orang DPO teroris Poso meninggal dunia atas nama R dan AP," kata dia.

Dua buronan tersebut bernama Rukli dan Ahmad Panjang. Sementara itu, kata Ramadhan, DPO teroris MIT lainnya berhasil kabur dalam penyergapan itu.

Dia menerangkan, jenazah kedua DPO teroris MIT yang tewas itu segera dievakuasi menggunakan helikopter. "Saat ini, 2 DPO yang meninggal dunia akan dievakuasi melalui udara menggunakan helikopter.

Saat ini, tim kopsus masih terus melakukan pengejaran terhadap sisa DPO teroris Poso yang lolos dari penyergapan," kata Ramadhan. Berdasarkan catatan, sejauh ini tersisa tujuh orang DPO kepolisian yang tergabung dalam MIT Poso pimpinan Ali Kalora.

Kepemimpinan kelompok tersebut telah berganti usai Santoso alias Abu Wardah tewas tertembak oleh Satgas Tinombala -- nama sebelum Madago Raya -- pada 18 Juli 2016 lalu.

Polisi selama ini mengakui bahwa MIT sulit ditumpas karena mereka selalu berpindah-pindah. Belum lagi, medan keberadaannya di tengah hutan yang membuat aparat sulit menindak mereka secara cepat.

Kelompok tersebut diduga sering terlihat di wilayah Lembantongoa, Sigi hingga Salubanga, dan Parigi Moutong hingga Poso Pesisir Utara.

(mjs/has)



Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi menyatakan akan tetap memproses hukum pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Ali Kalora apabila menyerahkan diri.

Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah Kombes Didik Supranoto mengatakan pihak kepolisian seringkali mengimbau para buronan kasus terorisme agar menyerah.

"Kita itu di negara hukum, tentu proses hukum terhadap permasalahan-permasalahan ini terkait pidana tetap kami laksanakan," kata Didik saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (25/5).

Didik mengatakan Kapolda Sulteng Inspektur Jenderal Abdul Rakhman Baso menyatakan kepolisian akan menjamin keselamatan para buronan tersebut apabila menyerahkan diri.

Namun demikian, dia belum mendapatkan informasi lebih lanjut terkait upaya penyerahan diri yang hendak dilakukan oleh Ali Kalora. Kata dia, sejauh ini tim masih berfokus melakukan pengejaran terhadap jejak teror mereka beberapa hari lalu.

"Diimbau oleh Pak Kapolda (jika menyerahkan diri), kami akan jamin keselamatannya," tambah dia lagi.

Dia menjelaskan kepolisian mengirim pasukan untuk menyekat wilayah-wilayah perbatasan yang menjadi akses perjalanan MIT Poso. Hal itu dilakukan pascapenyerangan terhadap empat petani di wilayah Desa Kilimago, Poso, Sulawesi Tengah.

"Tempat-tempat yang mengambil logistik ke kebun-kebun masyarakat ini yang kita antisipasi oleh tim-tim sekat itu," ucapnya.

Sebagai informasi, pembunuhan terhadap empat warga sipil pada Selasa (11/5) lalu diduga dilakukan oleh MIT pimpinan Qatar alias Farel alias Anas.

Dari informasi yang diperoleh dari Satuan Tugas Madago Raya, MIT bertumpu pada dua kelompok utama. Kelompok Ali Kalora berada di wilayah Poso Pesisir Utara dan kelompok Qatar alias Farel alias Anas bergerilya di sekitar Lembah Napu, Lore Timur.

Ali Kalora sendiri digadang sebagai pimpinan MIT Poso dan telah buron lima tahun lamanya. Dia menggantikan posisi Santoso alias Abu Wardah yang tewas ditembak oleh Satuan Tugas Operasi Tinombala pada 18 Juli 2016 dalam sebuah penyergapan.

(mjo/pmg)

Diterbitkan di Berita

Syaiful W Harahap tagar.id Poso, Sulawesi Tengah – Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah Komisaris Besar Didik Supranoto mengatakan Satuan Tugas (Satgas) Madago Raya terus melakukan pengejaran terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) hingga ke hutan-hutan di pegunungan Poso. Kelompok yang berjumlah sembilan orang itu saat ini telah berpencar menjadi dua kelompok. Yoanes Litha melaporkannya untuk voaindonesia.com. []

Menurut Didik, kelompok pertama berjumlah empat orang dan dipimpin Ali Kalora, sementara kelompok kedua berjumlah lima dan orang dipimpin Qatar. Kelompok kedua inilah yang melakukan pembunuhan terhadap empat petani kopi, warga desa Kalemago Lore Timur pada 11 Mei 2021.

 

Aktivitas Personel TNI-Polri

Aktivitas Personel TNI-Polri di Pos Komando Taktis Satgas Operasi Madago Raya di desa Tokorondo, Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. 12 Januari 2021 Foto: voaindonesia.com/Yoanes Litha)

 

“Kemudian ke mana mereka, ini tentu tim operasi yang lebih tahu. Tapi yang jelas, sekarang ini tim mengoptimalkan kegiatannya untuk melakukan pengejaran di dua kelompok ini. Jadi personel yang tergabung dalam Madago Raya ini kita optimalkan untuk melakukan tugasnya” jelas Didik Supranoto di Mapolda Sulteng, Kamis (20/5).

Ditambahkan Didik, selain melakukan pengejaran ke dalam hutan, Satgas Madago Raya juga melakukan penyekatan di lokasi-lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan kelompok itu. MIT diduga mencari logistik bahan makanan di perkebunan milik warga di sekitar kaki gunung di wilayah Kabupaten Poso, Sigi dan Parigi Moutong.

 

Warga mengusung

Warga mengusung empat peti mati menuju pekuburan Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. 12 Mei 2021 (Foto: voaindonesia.com/Yoanes Litha)

 

“Kemudian dari Polres-Polres ini juga melakukan monitor di wilayah bawah, di perkampungannya. Jadi saya harapkan masyarakat tidak terlalu takut. Silakan untuk melakukan kegiatannya di perkebunan, persawahan atau ladang mereka,” kata Didik seraya menambahkan belum ada rencana penambahan perkuatan personel Madago Raya yang dikerahkan untuk memburu kelompok MIT.

1. Warga Masih Trauma

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu mengatakan dari pemantauan pihaknya, warga di desa Kalemago masih merasakan trauma setelah empat warga di desa itu menjadi korban kelompok MIT. Menurutnya, warga di desa itu berharap pemerintah dapat memperbaiki saluran irigasi agar warga juga dapat mengolah sawah sehingga mereka memiliki alternatif sumber mata pencaharian selain kegiatan berladang berkebun di sekitar lereng gunung.

“Salah satu yang kami sampaikan kepada Bupati Poso agar mendukung adanya irigasi di daerah perkampungan Kalemago, agar mereka bisa melakukan kegiatan perekonomian selain berladang juga menggarap sawah,” kata Edwin Partogi Pasaribu dihubungi dari Palu, Jumat (21/5).

LPSK bersama perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Polda Sulteng, Selasa (18/5), berziarah ke makam empat warga desa Kalemago yang menjadi korban kelompok MIT. Kehadiran LPSK dimaksudkan untuk memberikan dukungan moril maupun materiil. LPSK juga memberikan santunan kepada perwakilan keluarga korban yang penyerahannya dilakukan di Polda Sulteng.

Edwin berharap kelompok MIT dapat menyerahkan diri kepada aparat keamanan sehingga dapat mengakhiri kekerasan di Sulawesi Tengah.

 

Wakil Ketua Lembaga

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu, dan perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Polda Sulteng, berziarah ke makam empat korban serangan terorisme di Kalemago, Lore Timur, Kabupaten Poso (Foto: voaindonesia.com/Yoanes Litha)

 

“Mereka (MIT) bisa langsung ke aparat penegak hukum atau juga menghubungi LPSK untuk kami fasilitasi penyerahan dirinya agar kekhawatiran mereka diperlakukan secara kasar tidak terjadi," ungkap Edwin.

2. Penyelesaian Secepatnya

Sahir Sampeali, Tokoh Masyarakat Tampo (Tanah) Lore di Kabupaten Poso, menegaskan keinginan masyarakat agar masalah gangguan keamanan yang disebabkan oleh kelompok MIT dapat segera tuntas untuk memulihkan rasa aman masyarakat setempat.

“Yang paling kami rasakan adalah rasa tidak aman, tidak pernah merasakan keamanan. Satu contoh, saya pribadi seorang muslim yang hidup di wilayah Lore, yang hidup di wilayah jalan antara Poso dan Lore, Saya seorang muslim, saya juga merasakan ketidakamanan, apalagi dengan saudara-saudara saya yang kristiani, coba bisa dibayangkan itu,” ungkap Sahir Sampeali, Senin, 17 Mei 2021.

Ditambahkannya, aksi teror oleh MIT turut berdampak pada perekonomian warga yang takut mengolah lahan kebun di lereng gunung biru karena khawatir dengan keselamatan mereka bila sewaktu-waktu bertemu dengan kelompok tersebut (yl/ah)/voaindonesia.com. []

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2