sindonews.com JAKARTA - Meningkatnya pasien Covid-19 dalam beberapa minggu terakhir ini menyebabkan sejumlah rumah sakit di Indonesia kekurangan oksigen.

Kelangkaan oksigen ini juga pernah melanda India yang pada bulan Mei lalu mengalami tsunami Covid-19. "India juga pernah mengalami kekurangan oksigen yang banyak diberitakan," kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama dalam keterangan yang diterima, Kamis (8/7/2021).

Tjandra mengungkapkan sedikitnya ada 5 kunci yang dilakukan India ketika itu untuk mengatasinya. Pertama, sementara melarang penggunaan oksigen cair untuk kepentingan non kesehatan.

"Pelaksanaannya pernah amat ketat dan industri lain memang tidak boleh menggunakan oksigen, bahkan disebutkan tanpa kecuali, no industry will be exempt from this order," kata Tjandra.

Kedua, menginisiasi pemasangan "Medical Oxygen Generation Plants" di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di negara itu. Ketiga, mempercepat distribusi, seperti dengan "Oxygen Express trains".

Keempat, kata Tjandra, peran aktif berbagai LSM, misalnya "Hemkunt Foundation" dengan 150 relawan, melayani sekitar 15.000 panggilan telepon, semacam pelayanan oksigen "drive-through". "Sewa International, menyediakan oxygen concentrator," katanya.

Kelima, menerima bantuan oksigen dari negara lain, termasuk dari Indonesia. "Amerika Serikat pernah menyumbang 1.100 silinder oksigen, Perancis juga menyumbangkan oksigen cair dan Inggris menyumbangkan oxygen concentrator. Japan juga mengirimkan oxygen concentrator," kata Tjandra.

Ia mengatakan dapat disampaikan juga bahwa ada negara bagian tertentu yang sudah sejak awal-awal menyiapkan kemungkinan kasus.

"Di Kerala misalnya, cukup banyak rumah sakit yang sudah menyiapkan liquid oxygen processing unit yang amat memudahkan mereka pada masa kekurangan oksigen melanda berbagai rumah sakit di India. Jadi memang persiapan dan antisipasi sejak awal akan amat membantu ketika masalah sudah di depan mata," katanya.

Selain itu, Tjandra menegaskan hal yang paling penting untuk mengatasi kekurangan oksigen adalah menangani masalah di hulunya, yaitu menekan jumlah penduduk yang sakit.

"Kita tahu bahwa cukup banyak negara bagian di India (juga kota besar seperti New Delhi, Ibu Kota india dan Mumbai pusat industri film Bollywood) yang melakukan lockdown cukup ketat, sehingga mobilitas penduduk jadi amat dibatasi, seperti foto saya di salah satu jalan utama New Delhi yang sangat sepi waktu lockdown tahun yang lalu di New Delhi," paparnya.

Negara bagian lain, kata Tjandra juga menggunakan pembatasan sosial yang bervariasi sesuai pola epidemiologisnya masing-masing dan akibatnya penularan di masyarakat juga dapat amat ditekan.

"India juga meningkatkan jumlah tesnya amat tinggi menjadi sekitar 2 juta orang per hari, dan jumlah vaksinasi sampai 8 juta orang per hari, jumlah yang amat besar," katanya.

Diketahui, pada 8 Mei 2021 kasus baru Covid-19 per hari di India adalah 403.405 orang dan pada 8 Juni sebulan kemudian turun menjadi 92.596, jadi turun jadi seperempatnya.

Bahkan pada 5 Juli 2021 angkanya hanya 34.703, jadi turun lebih dari 10 kali lipat lebih rendah dalam waktu tidak sampai 2 bulan saja.

"Kita tentu mengharapkan agar angka pasien baru Covid-19 di negara kita yang di tanggal 7 Juli 2021 sudah hamper 35.000 kasus baru per hari dapat segera diturunkan pula," papar Tjandra.
(abd)

Diterbitkan di Berita

Kerjha ― Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi PT Pertamina (Persero) yang bergerak cepat dan siap menyalurkan 21 tangki oksigen dengan kapasitas masing-masing 20 ton oksigen untuk kebutuhan rumah sakit yang menangani pasein Covid-19.

Dengan datangnya 21 ISO Tank atau tangki untuk oksigen dari Morowali Sulawesi Tenggara, tentu akan sangat membantu pasien Covid-19 yang membutuhkan oksigen di rumah sakit.

Menkes Budi menuturkan, dengan tersedianya 21 tangki oksigen tersebut, maka kapasitas oksigen yang dapat disalurkan akan naik menjadi 400 ton atau sekitar 50 persen dari kapasitas saat ini.
“Sekali lagi saya berterima kasih atas dukungannya. Saya percaya kita dapat bekerja sama untuk bangsa ini dan dengan bersama kita pasti bisa,” ucap Budi.

Sementara itu, Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina Mulyono menjelaskan, Pertamina selalu hadir melayani masyarakat Indonesia. Tidak hanya dari sisi penyediaan energi, namun juga dalam mendukung pemerintah menyalurkan oksigen ke rumah sakit untuk mempercepat penanganan Covid-19.

Sebanyak 21 tangki oksigen beserta truk pengangkutnya ini merupakan sinergi Pertamina dengan anak usahanya yaitu Subholding Gas (PGN, Pertagas) dan Subholding Commercial & Trading (Patra Niaga, Patra Logistik) serta berkolaborasi dengan beberapa pihak lainnya seperti IMIP (PT Indonesia Morowali Industrial Park).

Selanjutnya, truk tangki oksigen akan disalurkan Pertamina ke lima provinsi di Pulau Jawa masing-masing empat unit di DKI Jakarta, tiga unit untuk Jawa Barat, lima unit akan diantar ke Jawa Tengah, dua unit untuk DI Yogyakarta, serta lima unit diperuntukkan bagi rumah sakit di Jawa Timur. Adapun sebanyak 11 unit akan dikelola pemerintah pusat.

Dari 21 tangki oksigen tersebut, sebanyak tiga tangki sudah terisi oksigen dan telah disalurkan di wilayah DKI Jakarta sebanyak satu unit, Jawa Tengah satu unit dan DI Yogyakarta satu unit.

Menurut Mulyono, untuk mekanisme pendistribusian, Pertamina bekerja sama dengan instansi terkait seperti Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kesehatan.

“Kami mengikuti instruksi dari Kementerian Kesehatan ke mana truk tangki oksigen Ini akan digerakkan untuk seluruh rumah sakit yang memerlukan,” ungkapnya.

Selanjutnya, rencana tahap kedua akan datang lagi enam unit tangki oksigen dari Balikpapan pada 9 Juli 2021 mendatang.

“Harapannya, apa yang dilakukan Pertamina Group Ini dapat mendukung pemerintah serta bermanfaat bagi bangsa dan masyarakat Indonesia. Kita berharap Pandemi Covid-19 bisa segera berakhir sehingga kita bisa beraktivitas seperti sediakala,” pungkas Mulyono. (AJI)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Koordinator PPKM Darurat Jawa-Bali Luhut Pandjaitan bergerak cepat mengatasi sejumlah masalah penanganan corona. Salah satunya terkait kebutuhan tabung oksigen yang terus melonjak. "Suplai oksigen yang tidak mencukupi untuk kebutuhan medis, betul. Tapi setelah 3 hari terakhir kami mobilisasi ambil dari mana-mana," kata Luhut dalam jumpa pers virtual, Selasa (6/7).
 
Ia menambahkan, terbaru ada kiriman 21 tank pembawa tabung oksigen sudah sampai DKI Jakarta hari ini dan langsung didistribusikan. "Kemudian juga oksigen dari Cilegon, oksigen di Batam, dan sekarang kita arahkan 100 persen oksigen dari industri untuk membantu dulu kesehatan karena kita lihat 2 minggu ke depan," ungkapnya.
 
Kebutuhan Oksigen Melonjak, RI Pesan 10 Ribu Tabung ke Singapura (1)
Ilustrasi anak menggunakan masker oksigen. Foto: Shutter stock
 
"Sementara itu kita arahkan supaya oksigen ini murni menolong orang di isolasi dan rawat intensif. Sementara yang ringan akan diarahkan ke oksigen konsentrator. Ini ambil dari udara biasa, diproses, dan bisa dihirup," tambah dia. 
Selain itu, pemerintah juga telah memesan tabung oksigen juga ke Singapura. Semua demi perawatan yang lebih baik untuk pasien corona.
 
"Sekarang kita pesan 10 ribu dan sebagian datang pakai pesawat Hercules dari Singapura dan akan ambil dari tempat-tempat lain bila dirasakan masih ada kekurangan," jelas Luhut.
Diterbitkan di Berita

Pemerintah mengambil sejumlah langkah untuk menyediakan lebih banyak pasokan oksigen medis. Meninggalnya puluhan pasien akibat krisis oksigen di RSUP dr Sardjito Yogyakarta akhir pekan lalu menjadi pemicunya.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Oksigen COVID-19 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Tri Saktiyana, mengakui krisis akhir pekan lalu karena lonjakan kebutuhan yang luar biasa.

“Kebutuhan oksigen meningkat drastis. Sebagai contoh, RSUP dr Sardjito itu kebutuhan oksigen-nya meningkat lima kali lipat dari kebutuhan oksigen di masa normal, sehingga perlu upaya ekstra, upaya darurat,” kata Saktiyana di Yogyakarta, Senin (5/7).

 

Para petugas mendorong tangki oksigen di RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta, Minggu, 4 Juli 2021. (Foto: Kalandra/AP Photo)
Para petugas mendorong tangki oksigen di RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta, Minggu, 4 Juli 2021. (Foto: Kalandra/AP Photo)

 

Menurut Saktiyana, setidaknya ada tiga faktor teknis di lapangan, tetapi cukup menganggu dan butuh penyelesaian. Faktor pertama adalah karena tangki oksigen cair di setiap rumah sakit, memiliki merek sesuai perusahaan penyedianya.

Jika sebuah rumah sakit memiliki tabung oksigen cair berkapasitas besar milik perusahaan A, kata Saktiyana, ada kesulitan ketika pasokan ketika harus menerima oksigen dari perusahaan B.

“Di situasi normal, tidak etis merek A kosong kemudian diisi merek B, seperti botol Coca-Cola yang diisi Pepsi, kan enggak boleh. Ini memang harus merubah pola pikir yang cepat terkait kondisi darurat,”

Kondisi ini sebenarnya telah diatasi dengan kesepakatan antarperusahaan penyedia oksigen. Namun, kata Saktiyana, pelaksanaan kesepakatan itu di lapangan masih menemui hambatan.

 

Medical workers treat patients inside an emergency tent erected to accommodate a surge in COVID-19 cases, at Dr. Sardjito General Hospital in Yogyakarta, Indonesia, July 4, 2021.
Medical workers treat patients inside an emergency tent erected to accommodate a surge in COVID-19 cases, at Dr. Sardjito General Hospital in Yogyakarta, Indonesia, July 4, 2021.

 

Faktor kedua adalah alat angkut, dalam hal ini truk tangki oksigen yang terbatas. Tidak hanya itu, meskipun alat angkut ada, untuk menjadi sopir tangki oksigen ternyata dibutuhkan sertifikasi sehingga tidak dapat dilakukan oleh setiap pengemudi truk.

Masalah ketiga adalah karena Yogyakarta tidak memiliki pabrik oksigen. Pabrik paling dekat ada di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, yang juga terbebani dengan kebutuhan di daerah itu sendiri.

Saktiyana menjelaskan, dalam kondisi normal di luar pandemi, DIY membutuhkan oksigen rata-rata 20 ton per hari. Saat ini, kebutuhannya adalah sekitar 55 ton oksigen per hari.

“Ini tentu harus bekerja sama karena kita tidak punya pabrik, harus menjalin hubunan baik dengan Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur,” tambahnya.

Dalam pernyataan pada Minggu (4/7) sore, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga menyebut persoalan ketersediaan dan distribusi oksigen yang terkendala ini.

Dia mengakui, kekurangan oksigen tidak hanya di RSUP dr Sardjito. Akibat lonjakan penderita, seluruh 27 rumah sakit rujukan COVID-19 di DIY perlu tambahan jatah oksigen.

 

Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono menanggapi opsi PSBB di Yogyakarta, Selasa (29-12). (Foto: Courtesy/Humas DIY)
Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono menanggapi opsi PSBB di Yogyakarta, Selasa (29-12). (Foto: Courtesy/Humas DIY)

 

“Bagaimana kita bisa mendistribusikan oksigen, dari pabrik-pabrik yang di Yogya tidak ada. Adanya hanya di Jawa Tengah, dan kita harus berebut dengan Jawa Tengah, sehingga tidak bisa. Kami minta dari Jakarta dan Jawa Timur,” kata Sultan.

Pasokan oksigen di berbagai rumah sakit di Yogyakarta pada Senin (5/7) terpantau stabil. Maria Vita Puji, Humas RS Panti Rapih kepada VOA mengatakan pasokan oksigen di rumah sakit tersebut lancar.

“Kami menggunakan sistem oksigen sentral dan cadangan berupa tabung-tabung,” ujarnya.

Hari Minggu (4/7) sore, truk tangki oksigen PT Samator juga terpantau mengisi pasokan oksigen sentral di RS PKU Muhamamdiyah Yogyakarta.

 

Mobil tangki oksigen PT Samator mengisi pasokan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Minggu (4/7). (Foto: VOA/Nurhadi)
Mobil tangki oksigen PT Samator mengisi pasokan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Minggu (4/7). (Foto: VOA/Nurhadi)

 

Pusat Janjikan Lancar

Hari Senin (5/7), dalam keterangan kepada media, Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan juga menyebut soal lonjakan kebutuhan oksigen ini.

“Oksigen pun sebenarnya, ini karena peningkatan kebutuhan sampai 3-4 kali lipat jumlah yang dibutuhkan, jadi sempat distribusinya agak tersendat. Memang ada sedikit kekurangan, tetapi sekarang dengan pengaturan dari lima produsen oksigen, kita minta seratus persen sekarang dikasihkan kepada kesehatan,” kata Luhut.

 

Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan dalam telekonferensi pers di Jakarta, Kamis (1/7) menargetkan PPKM Darurat bisa turun kasus harian covid di bawah 10.000 kasus. (Foto: VOA)
Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan dalam telekonferensi pers di Jakarta, Kamis (1/7) menargetkan PPKM Darurat bisa turun kasus harian covid di bawah 10.000 kasus. (Foto: VOA)

 

Luhut juga mengakui, memang ada masalah terkait oksigen, tetapi dia meminta seluruh pihak untuk tidak panik karena dia menilai semua terkendali.

“Sekarang kita bekerja sepanjang waktu untuk mengatasi kekurangan oksigen,” janjinya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pihaknya sudah mengidentifikasi kebutuhan oksigen di masing masing rumah sakit.

“Kita sudah membuat Satgas Oksigen di masing-masing provinsi. Kita akan menggerakkan agar Satgas ini bisa menyesuaikan supply yang ada dengan demand di masing-masing rumah sakit, dan juga transportasi logistiknya, ke masing-masing rumah sakit, dari produsen yang ada,” kata Budi.

 

Budi juga menggarisbawahi perintah Menkomarves yang menegaskan bahwa jika terjadi kekurangan, Kementerian Perindustrian diminta mengkonversi alokasi oksigen industri ke oksigen medis untuk rumah sakit.

“Dan juga kalau perlu mengimpor oksigen,” tambah Budi. [ns/ab]

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Juru Bicara Menko bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Jodi Mahardi meminta masyarakat agar tidak menimbun obat-obatan dan alat kesehatan yang dibutuhkan untuk perawatan pasien Covid-19.

Dia menyatakan, penimbun obat-obatan dan alat kesehatan pada situasi darurat ini akan mendapatkan hukuman. "Ini masa genting.

Bukan saatnya mengambil kesempatan pribadi. Hukuman pasti menanti bagi mereka yang melanggar hukum dan mengeksploitasi masa darurat untuk kepentingan pribadi," kata Jodi dalam konferensi pers yang disiarkan Youtube BNPB, Minggu (4/7/2021).

Jodi mengimbau masyarakat yang tidak menangani pasien Covid-19 kritis, tidak perlu menimbun oksigen. Ia mengingatkan agar masyarakat saling peduli terhadap sesama. "Jangan menimbun oksigen. Kita prioritaskan untuk menyelematkan nyawa saudara kita saat ini," ucapnya.

Ia pun mengatakan, saat ini Kementerian Kesehatan telah berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian, Badan POM, dan LKPP untuk melakukan percepatan pemenuhan kebutuhan nasional melalui industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri pada masa PPKM darurat.

Menurut Jodi, Koordinator PPKM Darurat sekaligus Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan telah meminta Kejaksaan Agung dan BPKP mengawasi program percepatan tersebut.

"Koordinator PPKM Darurat juga meminta Kejaksaan Agung dan BPKP agar mengawasi program percepatan pengadaan produk farmasi dan alat kesehatan pada masa PPKM darurat," ujarnya.

Penulis : Tsarina Maharani
Editor : Dani Prabowo


Diterbitkan di Berita
Jauh Hari Wawan S - detikNews Sleman - Sebanyak 63 pasien di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, dikabarkan meninggal dampak krisis stok oksigen di rumah sakit rujukan pasien COVID-19 tersebut.
Pihak RSUP Dr Sardjito tak menampik soal adanya 63 pasien yang meninggal itu, namun tidak semuanya karena kekurangan oksigen.

Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan mengatakan, jumlah 63 pasien meninggal tersebut adalah akumulasi dari hari Sabtu (3/7) pagi sampai Minggu (4/7) pagi. Sedangkan yang meninggal karena dampak krisis stok oksigen sebanyak 33 pasien.

"Dari data kami (Sabtu, 3/7) jam 20.00 WIB sampai (Minggu, 4/7) tadi pagi, meninggal sekitar 33 pasien, jadi 33 pasien yang meninggal karena oksigen habis," kata Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Banu Hermawan, saat dihubungi wartawan, Minggu (4/7/2021).

Banu melanjutkan, 33 pasien yang meninggal itu pun sudah dalam kondisi tersuplai oksigen dari tabung. Mereka tak tertolong karena memang kondisinya sudah berat atau masalah klinis.

"Pertama, mereka kondisinya sudah berat, kedua mereka tetap tersuplai oksigen meskipun dengan oksigen tabung. Yang meninggal karena dengan kondisi ventilator itu hanya sekitar 4 pasien. Kemudian yang meninggal itu 15 ada di UGD," jelasnya.

Banu menambahkan, pada pukul 03.40 WIB tadi, truk oksigen liquid pertama sudah masuk dan mengisi tabung utama, sehingga oksigen sentral di RSUP Dr Sardjito sudah berfungsi kembali. Disusul truk kedua pada pukul 04.45 WIB masuk pula mengisi tabung sentral oksigen.

Terpisah, anggota Komisi D DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Muhammad Yazid mengungkapkan adanya 63 pasien di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, yang meninggal, Sabtu (3/7) kemarin. Diduga kondisi itu terkait dengan krisis stok oksigen yang dialami RSUP Dr Sardjito.

"Hari kemarin 63 (pasien yang meninggal). Yang jelas Sardjito krisis oksigen kemarin (Sabtu, 3/7). Mulai dari pagi sampai malam sehingga yang di ICU terjadi lonjakan kematian yang luar biasa," kata Yazid saat dihubungi wartawan, Minggu (4/7).

Berdasarkan informasi yang ia terima, lanjut Yazid, 63 kasus kematian di RSUP Dr Sardjito itu bukan hanya disebabkan oleh kekurangan oksigen. Namun, juga karena kondisi klinis pasien tersebut.

"63 ya tidak semua (meninggal) kekurangan oksigen. Secara klinis ya meninggal, meskipun COVID-19 itu ya," ungkapnya.

Yazid mengatakan hal ini bukan hanya jadi tanggung jawab RSUP Dr Sardjito. Pemerintah daerah juga punya andil. Ia pun berharap ke depan tidak akan ada lagi kelangkaan oksigen.

"Mestinya tidak hanya Sardjito yang tanggung jawab. Pemda juga tanggung jawab, apalagi dua hari lalu dibentuk satgas oksigen. Ke depan jangan sampai terulang kedua kalinya. RS lain jangan sampai kekurangan oksigen," katanya.

Diberitakan sebelumnya, RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, mengalami krisis stok oksigen. Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Rukmono Siswishanto mengajukan surat kepada

Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dalam surat itu berisi laporan kekosongan oksigen dan permohonan dukungan oksigen kepada Menteri Kesehatan dan sejumlah pejabat terkait.

"Kami mengajukan permohonan dukungan agar kebutuhan oksigen dapat terpenuhi mengingat RSUP Dr Sardjito Yogyakarta termasuk RS rujukan dalam penanganan COVID-19 sampai tingkat critical," kata Rukmono dalam suratnya, Sabtu (3/7).

Rukmono melaporkan bahwa Direktur RSUP Dr Sardjito telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan pasokan oksigen dari penyedia maupun tempat lain. Tetapi sampai saat ini masih mengalami kendala.

"Pasokan oksigen diperkirakan paling cepat akan datang ke RS pada Minggu, 4 Juli 2021, pukul 12.00 WIB," kata Rukmono.

Persediaan oksigen sentral RSUP Dr Sardjito, lanjutnya, mengalami penurunan mulai hari Sabtu (3/7) pukul 16.00 WIB sampai dengan kehabisan persediaan oksigen pada pukul 18.00.

"Sehingga berisiko pada keselamatan pasien yang dirawat, baik pasien COVID-19 maupun non COVID-19," katanya.

Rukmono menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan upaya antisipasi maksimal dan penghematan seoptimal mungkin.

(rih/mbr)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Angka COVID-19 yang saat ini melonjak drastis, menyebabkan permintaan tabung oksigen melonjak naik. Hingga saat ini tabung oksigen merupakan peranti alat kesehatan yang langka dalam kurun waktu sepekan ini.

Khususnya daerah perkotaan seperti Jakarta yeng mengalami kelonjakan COVID-19 ini, Hingga pemerintah melakukan aksi cepat tanggap dengan mengadakan PPKM darurat, guna untuk meningkatnya angka penyebaran yang tinggi.

Setelah kelonjakan tabung oksigen yang menyebabkan kelangkaan, saat ini berganti, banyak warga masyarakat yang mengeluhkan dan sulit untuk mencari ketersediaan dan isi ulang tabung oksigen.

Tingginya permintaan tidak hanya dari kalangan rumah sakit saja, tak kecuali warga perseorangan juga ikut mencari dan memesan tabung oksigen.

Di beberapa tempat, warga masyarakat bahkan sampai rela menunggu sejak pagi hingga sampai menutup ruang jalan untuk mendapatkan jatah di depot pengisian ulang tabung oksigen.

Berikut ini terdapat suatu situs yang bisa menjadi refrensi masyarakat mengenai seputar informasi pembelian, pengisian, penyewaan alat tabung oksigen yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Situs ini bernama https://oksigen.carrd.co/. Situs ini merangkup toko-toko, supplier dan juga depot tabung oksigen. Anda bisa menggunakan akses situs ini baik melalui handphone, laptop maupun komputer.

Informasi ini dinilai cukup lengkap dikarenakan terlampir nama tempat, nomor telpon dan juga alamat yang dituju secara rinci.

Tak hanya itu saja situs tersebut juga melampirkan link nya bagi Anda yang ingin mencari informasi lebih lanjut seputar toko, suppliar dan depot pengisian tabung gas yang Anda cari.

Tidak hanya sekedar menginformasikan saja tetapi situs ini juga bisa membantu masyarakat luas yang kesulitan untuk mencari dan membeli tabung oksigen.

Selain itu, bagi Anda yang tau, paham dan mengerti lebih lanjut mengenai tempat depot tabung oksigen, Anda juga bisa membagikan dengan mengapload informasi yang terdapat pada situs tersebut.

Dengan harapan situs ini memberikan informasi luas dan tersebar ke semua kalangan warga masyarakat. Tidak hanya membantu saja tetapi saling bergotong royong untuk bersama-sama berantas melawan kelangkaan.

(wur)
Diterbitkan di Berita
rmol.id Kelangkaan oksigen yang mulai nampak seiring lonjakan kasus positif Covid-19 setiap harinya direspon secara cepat oleh Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB). Ketua Umum IA ITB, Gembong Primadjaja menerangkan, pihaknya sudah mencanangkan program bantuan oksigen usai melihat angka pasien Covid-19 yang meningkat pesat dan ketersediaan tempat tidur isolasi semakin menipis.

Karena itu pada hari ini, IA ITB membuka posko peminjaman tabung oksigen secara gratis di wilayah Jakarta dan sekitarnya, hingga di wilayah Bandung dan sekitarnya.
 
"IA ITB menyediakan tabung oksigen bagi Alumni ITB yang kesulitan mencari tabung oksigen untuk kebutuhan dalam perawatan Covid-19," ujar Gembong dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Sabtu (3/7).

Melalui pendaftaran yang dibuka secara online, Gembong memastikan alumni ITB yang membutuhkan tabung oksigen bisa meminjam 1 set lengkap tabung oksigen beserta isinya.
"(Bisa meminjam) secara gratis dengan persyaratan mengisi formulir dan fotocopy KTP," imbuhnya.

Gembong melanjutkan, nantinya tabung oksigen yang dipinjam wajib dikembalikan dan diisi ulang kembali, karena akan dimanfaatkan kembali untuk alumni lainnya yang membutuhkan.
"Semoga gerakan ini dapat bermanfaat dan sedikit berkontribusi dalam usaa kita turut serta mengatasi pandemi ini bersama," demikian Gembong.

Untuk cara pendaftaran meminjam tabung oksigen dari IA ITB ini, alumni ITB yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya bisa mengakses 
Sementara, untuk alumni ITB wilayah Bandung dan sekitarnya, bisa mengakses link pendaftaran, 
IA ITB menamakan aksi peduli ini sebagai Gerakan Tabung Oksigen Untuk Kemanusian Ganesha Peduli.
 
EDITOR: AHMAD SATRYO
 
Diterbitkan di Berita

voi.id JAKARTA - Sebuah tim khusus dibentuk oleh Polda Metro Jaya untuk mengawasi peredaran dan penjualan tabung oksigen di wilayah Jakarta. Polda ingin mengantisipasi penimbunan tabung oksigen.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, dengan pengawasan ini ia berharap pasokan tabung oksigen di Jakarta aman. Yusri juga mengancam pihak-pihak yang bermain curang.

"Kami sudah bentuk tim untuk mengawasi mereka semuanya, jangan sampai terhambat atau coba-coba menimbun," kata Yusri, Kamis, 1 Juli.

"Ini sebagai satu ketegasan yang kita sampaikan bahwa tolong yang coba akan bermain kami akan proses kalau memang kita temukan. Kami akan lakukan tindakan yang tegas kepada mereka semua."

Selain penimbun, Polda Metro Jaya juga akan menindak pemilik ritel yang menjual tabung oksigen dengan harga tinggi. Ancaman itu diungkap Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Auliansyah Lubis.

"Saya mengimbau khususnya kepada ritel-ritel ini jangan sampai ada bermain-main untuk mencoba-coba menyimpan atau mencoba-coba menaikkan harga kami akan pantau," kata Auliansyah, Rabu, 30 Juni.

Polda, menurut Auliansyah telah berkoordinasi dengan produsen dan distributor tabung oksigen. Hasil koordinasi itu menyepakati tak akan ada kenaikan harga tabung oksigen di tengah tingginya permintaan.

"Kami dari Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, khususnya di wilayah hukum Polda Metro Jaya akan menindak apabila kami temukan di wilayah," tambah Auliansyah.

Diterbitkan di Berita
Halaman 2 dari 2