Rachmatunnisa - detikInet Jakarta - Website dan akun media sosial (medsos) jadi aset digital yang penting buat universitas-universitas di Indonesia di tengah industri 4.0, dan juga situasi pandemi yang menuntut semua sektor go digital.

Baik website maupun akun medsos universitas, dimanfaatkan untuk memastikan ratusan, bahkan ribuan mahasiswa aktif dan juga para calon mahasiswa bisa tetap up to date mengetahui apa yang saat ini sedang terjadi di kampus mereka.

Nah, startup teknologi edukasi (edutech) RevoU melakukan riset dengan mengurutkan universitas di Indonesia yang memiliki website dan medsos terbaik di Q1 2021.

Dalam risetnya, RevoU mengumpulkan 30 universitas besar di Indonesia, terdiri dari universitas negeri dan swasta. Dari sana, RevoU mengumpulkan dan membandingkan jumlah pengunjung website bulanan (SimilarWeb), jumlah pengikut di medsos (Instagram, Twitter, LinkedIn, dan YouTube), jumlah konten di masing-masing medsos, strategi konten di medsos universitas.

RevoU juga melihat strategi apa saja yang dilakukan di masing-masing aset digital yang setiap universitas miliki. Ini dia hasilnya, apakah kampus kamu termasuk?

Website paling banyak dikunjungi

Universitas Gadjah Mada (UGM) menempati urutan teratas website kampus terbaik. Pengunjung bulanan website UGM tercatat sebesar 6,1 juta. Dalam posisi 5 besar, di belakangnya masing-masing menyusul Universitas Indonesia (UI) dengan pengunjung bulanan 5 juta, Binus University 4,3 juta, Institut Teknologi Bandung (ITB) 3,9 juta, dan Universitas Brawijaya sebanyak 3,5 juta pengunjung.

Dalam infografis berikut ini ditampilkan urutan lengkap website universitas paling banyak dikunjungi.

website dan medsos kampus terbaik

Di Instagram

UGM memiliki jumlah follower terbanyak di Instagram dengan total 750 ribu follower. Salah satu strategi konten yang dilakukan adalah membuat konten seperti UGM Sepekan untuk merangkum apa saja informasi-informasi terpenting di kampusnya.

 

website dan medsos kampus terbaik

Berdasarkan data Socialblade, selain memiliki followers yang cukup banyak, rata-rata interaksi di akun Instagram UGM juga cukup tinggi. Rata-rata likes 10 ribu dan komentar 46. Rata-rata kenaikan jumlah followers di akun UGM juga tinggi yaitu sebesar 220 followers setiap harinya. UI mengekor di belakangnya dengan 680 ribu follower, diikuti Brawijaya (272 ribu), ITB (266 ribu), dan Universitas Padjadjaran (UNPAD) dengan 254 ribu follower. 

Di Twitter

UI dan UGM memiliki lebih dari satu juta follower di Twitter. Selain UI dan, di posisi berikutnya ada UNPAD (973 ribu), ITB (922 ribu), dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan 741 ribu follower.

ITS menjadi universitas yang paling banyak nge-tweet dengan total 84 ribu kicauan. Diikuti oleh UI, Telkom University, dan Universitas Airlangga dengan jumlah rata-rata tweet di atas 26 ribu. UI menggunakan Twitter untuk menyampaikan update terkait kegiatan civitas akademika UI. Selain itu, Twitter juga menjadi media untuk menjawab pertanyaan follower.

UGM menggunakan Twitter sebagai salah satu media promosi portal berita https://ugm.ac.id/id/berita/ yang informasinya juga dapat dinikmati masyarakat umum. Di posisi nomor lima, ada IPB yang memiliki beberapa content pillar di Twitter yang terwakili dengan hashtag #BeritaIPB, #MasukIPB, #SpotIPB, #IPBTips.

website dan medsos kampus terbaik

Di YouTube

ITB menempati posisi pertama sebagai kampus dengan jumlah YouTube subscriber terbesar, yakni 100 ribu (silver play button) dan total video view sebesar 8.5 juta. Salah satu strategi konten yang dilakukan ITB adalah membuat seminar atau Stadium Generale dengan mengundang para ahli di bidangnya.

Berdasarkan data dari Socialblade, Universitas Udayana memiliki channel YouTube paling aktif dengan jumlah video sebanyak 2.618 dan total video views sebesar 1.5 juta. Berikut ini daftar lengkap kampus dengan total subscriber dan video terbanyak.

website dan medsos kampus terbaik


Di LinkedIn

Ada tiga universitas yang memiliki follower terbanyak di LinkedIn, yaitu UGM, ITB, dan UI. Namun tampaknya hanya UGM yang cukup aktif untuk memproduksi konten di jejaring sosial profesional ini.

website dan medsos kampus terbaik

*Artikel ini berdasarkan riset RevoU tentang "Peta Digital Universitas di Indonesia"

(rns/fay)

Diterbitkan di Berita
Adam Prawira sindonews JAKARTA - Keberadaan website yang berisi konten-konten radikal intoleran sudah sangat meresahkan. Konten radikal intoleran telah merusak sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia, baik dari sisi sosial kemasyarakat maupun keagamaan.

Oleh karena itu, website berisi konten-konten radikal harus ditertibkan, bahkan kalau perlu ditutup bila konten-kontennya jelas-jelas mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kalau pun harus dilakukan penutupan atau pemberangusan, pertimbangannya harus fokus pada kontennya. Ini penting agar langkah itu tidak menimbulkan gelombang penolakan,” tutur Wakil Direktur Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Khariri Makmun di Bogor, Jawa Barat, Rabu 3 Maret 2021.

Dia menjelaskan penutupan atau take down website bisa dilakukan apabila tidak sesuai dengan konten-konten yang toleran. ”Apalagi dengan perkembangan teknologi saat ini tidak ada satu orang pun, otoritas mana pun yang bisa mengatasi munculnya situs-situs baru (konten radikal-red). Yang bisa kita lakukan sebetulnya ya cyber police atau polisi siber yang ada sekarang itu diefektifkan saja,” kata Khariri.

Dia mengilustrasikan keberadaan polisi siber seperti polisi di jalan raya. Jika ada kendaraan yang melanggar kemudian ditilang. Kalau di lalu lintas siber ditemukan konten yang tidak sesuai dengan kultur Indonesia, maupun nilai-nilai keberagaman yang toleran, bisa langsung ditindak.

Kalau pun nanti ada website baru, tinggal dibersihkan saja, jadi langsung dilakukan tindakan saja yang tegas. ”Ini mirip dengan lalu lintas, mereka akan terus membuat dan menciptakan website meskipun sudah di-take down. Itu tidak apa-apa, yang penting pemerintah harus punya sistem yang kuat untuk mengantisipasi itu,” kata anggota Komisi Dakwah MUI Pusat itu.

Menurut Khariri, dengan adanya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang penanggulangan terorisme, website dengan konten radikal intoleran bisa ditindak jika sudah dianggap melakukan radikalisme atau terorisme di dunia maya.

Dengan melakukan identifikasi maka bisa diketahui pemilik domain website sehingga bisa langsung dilakukan penangkapan. ”Harus melibatkan banyak stakeholder, khususnya untuk melatih kawan-kawan milenial dalam pencegahan, agar mereka juga bisa membahasakan narasi-narasi moderat dalam bahasa milenial. Saya kira itu cukup efektif,” katanya.
 
Diterbitkan di Berita