Puti Yasmin - detikEdu Jakarta - Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menjalin kerja sama dalam program Merdeka Belajar. Nantinya, mahasiswa dari Unpad bisa mengambil mata kuliah dan terdaftar sebagai mahasiswa non reguler di ITB.

Dikutip dari Instagram resmi Unpad, program ini akan dilaksankan pada semester depan atau semester I 2021/2022. Namun, belum diketahui mata kuliah apa yang akan dibuka bersama.

"Pada semester I tahun akademik 2021/2022, Unpad dan ITB akan mengadakan kerjasama dalam program Kampus Merdeka - Merdeka Belajar," bunyi keterangan tersebut dikutip detikEdu, Jumat (24/6/2021).

Dihubungi detikEdu, Kepala Kantor Humas Unpad Dandi Supriadi juga membenarkan hal tersebut. Dijelaskan, program ini juga berlaku sebaliknya, di mana mahasiswa ITB juga bisa belajar di Unpad melalui program Merdeka Belajar.

"Ya, info tersebut benar. Ini bukan sekadar Unpad ingin ikut kuliah di ITB, tapi ITB juga pengen kuliah di Unpad. Ini program bersama. ITB juga bisa belajar di Unpad," terang dia.

Diketahui, mahasiswa Unpad juga akan mendapatkan berbagai manfaat dalam kerja sama antar dua kampus. Mulai dari belajar mata kuliah di ITB hingga berkesempatan memiliki relasi baru.

Manfaat Kerja sama Merdeka Belajar Unpad dan ITB

1. Mahasiswa Unpad dapat mengambil mata kuliah yang diselenggarakan oleh Dosen ITB

2. Terdapat pilihan mata kuliah dengan kelas bersama mahasiswa ITB

3. Mahasiswa Unpad akan terdaftar sebagai mahasiswa ITB non-reguler

4. Peluang membangun interaksi, relasi, dan kolaborasi dengan mahasiswa ITB

Bagaimana detikers, tertarik ikut program Merdeka Belajar Unpad x ITB nggak nih?

(pay/pal)

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Universitas Padjadjaran atau Unpad membuka kesempatan bagi calon mahasiswa jenjang Sarjana, Magister, dan Doktor untuk mendaftar skema beasiswa dari program Beasiswa Pendidikan Indonesia atau BPI Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atau  Kemendikbud-Ristek RI.

Direktur Pendidikan dan Internasionalisasi Unpad Mohamad Fahmi memaparkan, ada tiga jenis program Beasiswa Pendidikan Indonesia yang dibuka di Unpad.

Tiga program tersebut yakni Beasiswa Prestasi Talenta khusus Sarjana, Beasiswa Pendidikan Dosen Perguruan Tinggi Akademik, serta Beasiswa Pascasarjana untuk Seniman.

“Melalui tiga beasiswa ini membuka peluang bagi lapisan masyarakat yang sulit mengakses pendidikan tinggi untuk bisa berkuliah,” kata Fahmi, pada Jumat 4 Juni 2021.

Untuk Beasiswa Prestasi Talenta Sarjana diperuntukan bagi lulusan SMA/SMK yang ingin melanjutkan studi ke jenjang Sarjana.

Adapun syaratnya, calon penerima beasiswa merupakan peserta didik yang memiliki prestasi di bidang riset, teknologi, dan seni budaya, baik di level nasional maupun internasional.

Sementara untuk Beasiswa Pendidikan Dosen Perguruan Tinggi Akademik diperuntukan bagi dosen tetap suatu perguruan tinggi akademik yang ingin melanjutkan studi ke program Magister atau Doktor.

Adapun Beasiswa Pelaku Budaya merupakan program beasiswa  untuk jenjang Magister dan Doktor yang khusus diperuntukan bagi seniman atau pelaku budaya di Indonesia.

Beasiswa Pelaku Budaya diperuntukuan untuk program sosiohumaniora. Program beasiswa ini terbuka di dua fakultas Unpad, yakni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta pada Fakultas Ilmu Budaya.

Pendaftaran BPI dibuka pada tanggal 2 Mei hingga 30 Juni 2021 mendatang. Dalam proses pendaftaran PBI Unpad, calon peserta terlebih dahulu melakukan pendaftaran secara reguler di laman Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran atau SMUP.

Cara tersebut dapat dilakukan baik untuk program Sarjana maupun Pascasarjana.

Terkhusus untuk Program Sarjana, calon peserta dapat mendaftar melalui jalur prestasi. Persyaratan pendaftaran mengikuti persyaratan pendaftaran yang ditetapkan pada laman http://smup.unpad.ac.id/sarjana-jalur-prestasi/

Selanjutnya, kata Fahmi, Unpad akan melakukan seleksi internal. Seleksi internal dilakukan untuk mengeluarkan Letter of Acceptance (LoA) sebagai syarat utama untuk mendaftar Beasiswa Pendidikan Indonesia. 

Informasi mengenai teknis pendaftaran bisa dilihat di laman SMUP Unpad serta  laman Beasiswa Pendidikan Indonesia.

WILDA HASANAH

Diterbitkan di Berita

Neneng Zubaidah sindonews.com JAKARTA - The Times Higher Education (THE) telah merilis pemeringkatan THE Impact Rankings 2021 pada Rabu (21/4) lalu. Universitas Padjadjaran (Unpad) kembali masuk ke dalam 10 besar peringkat nasional.

THE Impact Rankings merupakan penilaian atas kinerja perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penilaian dilihat dari sejauh mana aktivitas tridarma perguruan tinggi memiliki relevansi dengan 17 tujuan yang ditetapkan dalam SDGs.

Kepala Kantor Internasional Unpad Ronny, dr. M. Kes., AIFO., PhD., menjelaskan, tahun ini, THE Impact Rankings menilai 1.115 perguruan tinggi dari 94 negara di dunia. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun lalu, di mana penilaian dilakukan kepada 766 universitas dari 85 negara.

“Pemeringkatan SDGs penilainnya semakin detail dari tahun ke tahun,” kata Ronny seperti dikutip dari laman resmi Unpad di unpad.ac.id, Kamis (22/4).

Matriks penilaian tahun ini terdiri dari sejumlah indikator. Utamanya terletak pada aspek penelitian sebesar 27 %. Indikator ini melihat bagaimana riset dan publikasi dari perguruan tinggi berkorelasi dengan 17 tujuan dari SDGs.

Ronny memaparkan, penilaian riset dinilai antara tahun 2014 hingga 2018. Hal ini dilakukan utnuk menilai performa konsistensi perguruan tinggi dalam melakukan riset dan publikasi terkait topik SDGs.

“Konsistensi dan kepedulian universitas terhadap SDGs point menjadi target penilaian,” tuturnya.

Selanjutnya, THE juga menilai data spesifik perguruan tinggi. Dua yang disorot adalah jumlah mahasiswa disabilitas (23%) dan jumlah mahasiswa dari negara berkembang (15,5%).

Hal ini menunjukan bagaimana perguruan tinggi yang bersangkutan merealisasikan pendidikan inklusif seperti yang menjadi tujuan dalam SDGs.

Terakhir, THE Impact Rankings menilai bagaimana komitmen perguruan tinggi dalam menerapkan SDGs melalui kebijakan yang dihasilkan.

Ronny mengakui, tahun ini peringkat Unpad pada THE Impact Rankings menurun dibanding 2020.

Namun, secara poin, hasil nilai Unpad tetap stabil seperti 2020, yaitu berada di angka 76. Pada tahun lalu, angka 76 tersebut membawa Unpad masuk peringkat 101-200 dunia, sedangkan pada tahun ini, dengan angka yang sama, Unpad berada pada posisi 201-300.

“Secara angka, angka kita tidak turun, tetapi persaingan dan keketatan semakin tinggi. Selain itu, tahun ini jumlah yang dinilai lebih banyak dari tahun lalu,” kata Ronny.

Dari hasil pemeringkatan tersebut, Unpad memiliki poin besar pada 4 goals, antara lain zero hunger (70,2), responsible consumption and production (74,4), life on land (66,7), dan partnership for the goals (73,5-83,8).

“Ini menjadi kekuatan Unpad untuk bisa terus dieksplor sehingga capaiannya baik dari tahun ke tahun,” kata Ronny.

Dari empat poin tersebut, Unpad punya keunggulan spesifik pada bidang responsible consumption and production. Hal ini menempatkan Unpad masuk ke dalam lima besar perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki keunggulan di bidang tersebut.

Ronny menilai, Unpad memiliki perhatian khusus dalam penerapan kampus hijau (green campus). Poin ini diharapkan mampu menjadi kekuatan Unpad ke depan untuk menggalakkan penelitian dan kebijakan terkait penerapan goals SDGs nomor 12 atau responsible consumption and production.

(mpw)
Diterbitkan di Berita

voi.id JAKARTA - Yuliandre Darwis, Ketua Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) menyatakan, perkembangan teknologi informasi di Indonesia sudah begitu maju. Hal ini menurutnya, tak terlepas dari keseriusan pemerintah dalam membangun infrastruktur teknologi hingga ke daerah 3 T (tertinggal, terdepan dan terluar).

"Infrastruktur teknologi informasi di Indonesia tidak ada yang tidak bagus. Ini terbukti dengan penggunaan internet oleh generasi milenial di Indonesia begitu tinggi. Generasi milenial seperti kita ketahui tidak bisa jauh dari penggunaan internet yang tentunya harus didukung infrastruktur yang mumpuni," ujar Yuliandre Darwis dalam webinar yang digagas Bakti Kominfo, Sabtu 13 Maret.

Bahkan menurut Yuliandre, konsumen terbesar penggunaan internet di Indonesia berasal dari generasi milenial. Peneliti Ericsson ConsumerLab beberapa waktu lalu juga menyebutkan tren produk teknologi muncul dengan mengikuti perilaku gaya hidup milenial.

"Produk teknologi mengikuti gaya hidup milenial. Orang-orang milenials tidak bisa lepas dengan Youtube, Facebook, Spotify, Instagram, TikTok dan sebagainya," jelasnya.

Namun demikian, lanjut Yuliandre, secara mengejutkan ada keamanan daring yang mengendur, di mana data menyebutkan ada 20 persen generasi milenial yang senang berbagi kata sandi. Ini tentu berpotensi mengorbankan keamanan daring mereka.

"Ini yang harus diperhatikan oleh milenial keamanan berselancar di internet, perlindungan terhadap data pribadi dan perilaku dalam berinternet akan menjadi sesuatu yang dikoreksi dan bahkan menjadi kelemahan dari seorang milenial ketika menggunakan teknologi," tutur Yuliandre.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fisip Universitas Padjajaran, Widya Setiabudi Sumadinata mengatakan perihal bonus demografi, di mana hal itu adalah peluang namun juga tantangan di mana jumlah penduduk yang memasuki usia produktif (15-65 tahun) menjadi mayoritas penduduk.

"Diperkirakan bonus demografi ini akan terjadi sekitar tahun 2020-2030," tuturnya.

Persoalannya menurut Widya adalah, bagaimana caranya bonus ini tidak menjadi beban. Angkatan kerja yang berlimpah, kata dia, harus diiringi dengan kualitas sumber daya manusia yang bagus.

"Siapa yang akan berperan dalam bonus demografi, mereka adalah kaum generasi  Y atau generasi milenial. Bonus demografi pertama mulai 2017-2019, yang kedua sekarang ya 2020-2035, dan puncaknya 2028-2032. Maka yang akan menjadi pemain utama pada saat Indonesia mencapai puncak bonus demografi itu adalah mereka yang lahirnya antara tahun 1980-1995. Mereka ini adalah generasi milenial atau generasi Y," paparnya.

Diterbitkan di Berita

Siti Afifiyah tagar.id Jakarta - Ikatan alumni Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor, berkolaborasi menginisiasi pengembangan human capital dan sumber daya Jawa Barat. Kolaborasi ikatan alumni empat perguruan tinggi di Jawa Barat ini ditandai penandatanganan para Ketua Ikatan Alumni di kantor Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM Jakarta, Senin, 1 Maret 2021. 

Hadir lengkap Ketua Umum ITB Ridwan Djamaluddin yang juga adalah Dirjen Minerba ESDM, Ketua Umum IKA Unpad Ira Hermawan, Ketua Umum ILUNI Andre Rahadian, dan Ketua Umum Himpanan Alumni IPB R. Fathan Kamil.

"Kerja sama ini adalah bukti nyata dukungan alumni perguruan tinggi di Jawa Barat dalam mengoptimalkan potensi besar Jawa Barat sebagai provinsi berpenduduk terbesar dengan sumber daya human capital unggul, ekonomi, dan daya tarik wisata yang kaya," ujar Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni ITB Bernardus Djonoputro.

Ketua Ikatan Alumni Unpad Ira Hermawan menkankan pentingnya kerja sama dalam membangun Jawa Barat dalam aspek budaya yang unggul. "Sejak digulirkan ide awal bersama IA ITB, diikuti ILUNI dan HA IPB, kegiatan ini diharapkan berdampak positif pada daerah melalui kerja sama jejaring alumni."

  

Ikatan Alumni ITB
Ketua Umum Ikatan alumni ITB, Unpad, UI, dan IPB, menandatangi kolaborasi menginisiasi pengembangan human capital dan sumber daya Jawa Barat, di kantor Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM Jakarta, Senin, 1 Maret 2021. (Foto: Tagar/Ikatan Alumni ITB)

 

Kolaborasi ini akan dilanjutkan dengan penyelenggaraan dua acara besar, yaitu Dialog Peradaban Jawa Barat dan kegiatan Festival Kebudayaan dan Pariwisata Jabar (Jabar Cultural and Tourism Festival). Rangkaian kegiatan berlansung 22-25 Maret 2021 di beberapa kota di Jawa Barat termasuk Bandung, Bogor, Cirebon, Garut, dan Lembang.

Penandatanganan MOU empat ikatan alumni ini akan diiikuti penyelenggaraan kegiatan di kota-kota Jawa Barat, baik dalam skala nasional maupun internasional. Panitia pusat dalam waktu dekat akan melansir jadwal kegiatan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. []

Diterbitkan di Berita