Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Taliban telah berhasil menguasai seluruh wilayah Afghanistan pada 15 Agustus 2021. UNESCO pun meminta situs-situs bersejarah atau warisan budaya di negara tersebut dilindungi dan dilestarikan. Dilansir India Today, UNESCO mengkhawatirkan kerusakan dan penjarahan warisan penting negara itu sejak pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban.
 
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis (19/8), UNESCO mengingatkan dunia saat ikon Buddha Bamiyan, sebuah situs warisan dunia di Lembah Bamiyan, sengaja dihancurkan pada 2001.
 
 
Taliban Kuasai Afghanistan, UNESCO Minta Situs Bersejarah Dilindungi (1)
Lembah Bamiyan di Afghanistan. Foto: Shutter Stock
 
"Kami menyerukan pelestarian warisan budaya #Afganisthan dalam keragamannya, dengan menghormati hukum internasional, dan untuk mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menyelamatkan dan melindungi warisan budaya dari kerusakan dan penjarahan," tulis Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay pada laman akun Twitter resminya.
 
 
Lembah Bamiyan merupakan salah satu Warisan Budaya UNESCO yang hilang setelah dihancurkan oleh Taliban. Di perbukitan tersebut terdapat sebuah patung Buddha yang berdiri tegak selama berabad-abad. Namun, patung tersebut sudah hancur setelah dibom oleh Taliban pada Maret 2001.
UNESCO pun mengukuhkan Lembah Bamiyan ke dalam Situs Warisan Dunia pada 2003. Situs ini juga langsung masuk dalam kategori bahaya yang perlu diselamatkan segera. 

Afghanistan Rumah Berbagai Situs Warisan Dunia

Taliban Kuasai Afghanistan, UNESCO Minta Situs Bersejarah Dilindungi (2)
Lembah Bamiyan di Afghanistan. Foto: Shutter Stock
 
Afghanistan sendiri diketahui menjadi rumah dari beberapa situs warisan dunia lainnya yang menjadi bagian dari sejarah dan identitas negara tersebut. Beberapa di antaranya seperti Kota Tua Herat, yang memiliki banyak bangunan bersejarah, salah satunya adalah Minaret, dan juga menara jam ikonik. Sayangnya, beberapa di antaranya rusak akibat konflik militer.
 
Selain itu, bangunan lainnya adalah Museum Nasional Afghanistan yang dibangun pada 1919 masa pemerintahan Raja Amanullah Khan. Negara tersebut pun berupaya untuk menyelamatkan ribuan benda-benda bersejarah yang dimiliki museum itu. Untuk itu, UNESCO menggarisbawahi bahwa diperlukan upaya konservasi yang nyata untuk melindungi situs-situs warisan dunia yang ada di Afghanistan.
 
"Afghanistan adalah rumah bagi berbagai warisan yang kaya dan beragam, yang merupakan bagian integral dari sejarah dan identitas Afghanistan, serta penting bagi umat manusia secara keseluruhan, yang harus dijaga," ujar pernyataan resmi UNESCO. "Sangat penting bagi masa depan Afghanistan untuk menjaga dan melestarikan landmark ini," tutupnya.
Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Ibu Negara Iriana Joko Widodo ingin salah satu makanan khas Indonesia dari Sumatra Barat, yaitu rendang, dapat dicintai dan diakui oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO) dan dunia. Hal itu disampaikan Ibu Negara dalam acara Memasak Rendang Se-Dunia secara virtual, pada Sabtu (21/08/21). 

"Kita memasak rendang bersama. Kita tunjukkan kepada dunia kekayaan kuliner Indonesia dan kita yakinkan kepada dunia bahwa rendang layak dicintai dan diakui oleh UNESCO dan dunia," tutur Ibu Negara dalam video conference dari Istana Kepresidenan Bogor. 

Acara memasak rendang se-dunia diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Barat bersama Lantamal II, Dharam pertiwi, Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Minang Diaspora, Dekranasda, Ikatan Ahli Boga, dan Bhayangkari Sumbar. 

Di acara itu, masyarakat juga diminta untuk memasak rendang lebih dahulu (kaliyo) dan saat pelaksanaan acara rendang ada di atas kuali dan kompor dengan api menyala sesaat sebelum rendang matang.  

"Pada tahun 2011 rendang telah dinobatkan sebagai hidangan terlezat dalam daftar 50 hidangan di dunia oleh CNN Internasional," ujar Ibu Iriana. 

Selanjutnya, rendang juga diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Sumatra Barat pada tahun 2013 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan menempati posisi ke-11 sebagai makanan terenak di dunia pada 2011 dan 2012 versi CNN Travel. 

Hanya saja, bagi Ibu Iriana ini masih belum cukup. "Tapi itu tidak cukup. Kita harus berjuang lebih. Target kita adalah rendang bisa dinobatkan Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia oleh UNESCO," tutur Ibu Iriana. 

Ibu Iriana juga berharap agar rendang dapat tersaji tidak hanya di Indonesia namun juga di dunia.  "Kita ingin rendang tersaji dan dicintai di dunia. Selamat memasak," pungkas ibu Iriana. 

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia - Sebanyak delapan masjid di Pantai Gading, yang gaya bangunannya diyakini berasal dari Kekaisaran Mali tujuh abad yang lalu, telah mendapatkan status Warisan Dunia dari Unesco.

Bangunan-bangunan tersebut adalah "saksi yang sangat penting bagi perdagangan trans-Sahara" yang memfasilitasi penyebaran agama Islam dan budaya Islam, kata lembaga PBB urusan kebudayaan itu.

Bentuk masjid-masjid tersebut merupakan perpaduan dari gaya arsitektur Islam dan arsitektur lokal.

 

Masjid bergaya Sudano-Sahelian di Kouto, Pantai Gading.

Masjid bergaya Sudano-Sahelian di Kouto, Pantai Gading. SUMBER GAMBAR,CORBIS/GETTY IMAGES

 

Masjid-masjid yang terletak kota Tengréla, Kouto, Sorobango, Samatiguila, M'Bengué, Kong, dan Kaouara adalah yang terlestarikan dengan paling baik di antara 20 masjid besar yang tersisa di Pantai Gading, tempat ratusan masjid pernah berdiri pada awal abad ke-20, menurut Unesco.

🔴BREAKING!

Sudanese style mosques in northern #CotedIvoire🇨🇮recognized as @UNESCO #WorldHeritage site.

Bravo!👏

ℹ️ https://t.co/X7SWIos7D9 #44WHC pic.twitter.com/POaqI2Wo09

— UNESCO 🏛️ #Education #Sciences #Culture 🇺🇳 (@UNESCO) July 27, 2021 ">
 
 
 

Menurut Unesco, mereka menampilkan interpretasi gaya arsitektur yang berasal dari abad ke-14 di Kota Djenné, bagian dari Kekaisaran Mali. Gaya itu menyebar ke Sudan pada abad ke-16 dan berkembang untuk menyesuaikan dengan iklim yang lebih basah.

Masjid-masjid di Pantai Gading memiliki gaya arsitektur khas Sudan, diduga dikembangkan antara abad ke-17 dan abad ke-19 ketika pedagang dan cendekiawan Muslim datang dari Kekaisaran Mali di selatan, memperpanjang rute perdagangan trans-Sahara.

 

Masjid di Kong, Pantai Gading utara

Masjid di Kong, Pantai Gading utara AFP/GETTY IMAGES

Dua jemaat Muslim bercakap-cakap di dalam masjid di Kong

Dua jemaat Muslim bercakap-cakap di dalam masjid di Kong, Pantai Gading. AFP/GETTY IMAGES

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, - Paus Fransiskus akan mengunjungi Irak pada 7 Maret mendatang. Salah satu agendanya bakal melihat gereja-gereja yang dihancurkan ISIS di Mosul.

Para pekerja pun sibuk membersihkan tempat-tempat yang bakal didatangi pemimpin umat Katolik itu. Salah satu yang terlibat adalah Anas Zeyad asisten koordinator situs untuk UNESCO di Irak.

“Sebagai seorang Muslim saya bangga membantu membangun kembali gereja-gereja ini,” kata Zeyad dikutip dari Reuters, Ahad, 28 Februari 2021.

Salah satu gereja yang sedang diperbaiki adalah gereja Katolik Suriah Al-Tahera dengan bantuan dari UNESCO, Uni Emirat Arab, dan mitra lokalnya. Gereja ini dirusak oleh ISIS dan dijadikan tempat pengadilan.

Kondisi gereja ini makin parah setelah terdampak serangan udara saat pasukan Irak mengusir para militan ISIS. Bagian atapnya hancur.

"Saya berharap kami melihat orang Kristen kembali ke tempat-tempat ini, sehingga kami hidup bersama lagi seperti yang kami lakukan selama berabad-abad," ucap Zeyad.

Ada empat gereja di Mosul yakni Gereja Katolik Suriah, Ortodoks Siria, Ortodoks Armenia, dan Katolik Kasdim. “Dulunya mirip dengan Yerusalem di dataran Niniwe,” kata Uskup Agung Mosul dan Akra Khaldea Najeeb Michaeel.

Michaeel menuturkan sebelum invasi AS pada 2003, umat Kristen Irak dari berbagai komunitas akan menghadiri kebaktian satu sama lain di festival keagamaan

Hari-hari itu telah berlalu. Hari ini hanya satu dari gereja Mosul yang masih hidup menawarkan kebaktian Ahad mingguan untuk populasi Kristen yang menyusut menjadi hanya beberapa lusin keluarga dari sekitar 50 ribu orang.

Dalam kunjungan ke Irak, Paus Fransiskus akan mengadakan doa untuk para korban perang di Hosh al-Bieaa, yang dikenal sebagai Alun-Alun Gereja, sebagai bagian dari perjalanan empat hari yang dimulai pada 5 Maret.

Sumber: REUTERS

Diterbitkan di Berita