Novi Christiastuti - detikNews Washington DC - Pemimpin senior Al-Qaeda di Suriah dilaporkan tewas dalam serangan drone Amerika Serikat (AS) pada Jumat (22/10) waktu setempat. Serangan itu dilancarkan dua hari setelah salah satu pangkalan militer yang digunakan koalisi pimpinan AS di Suriah diserang.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (23/10/2021), juru bicara Komando Pusat pada militer AS, Mayor Militer Johns Rigsbee, mengidentifikasi pemimpin senior Al-Qaeda yang tewas dalam serangan drone itu sebagai Abdul Hamid al-Matar.

"Serangan udara AS hari ini di Suriah bagian barat laut menewaskan pemimpin senior Al-Qaeda, Abdul Hamid al-Matar," sebut Rigsbee dalam pernyataannya pada Jumat (22/10) waktu setempat.

Disebutkan oleh Rigsbee bahwa tidak diketahui adanya korban jiwa lainnya dalam serangan drone itu. Dia menambahkan bahwa serangan dilancarkan dengan menggunakan pesawat tak berawak atau drone militer jenis MQ-9.

"Penghilangan pemimpin senior Al-Qaeda ini akan menganggur kemampuan organisasi teroris ini untuk merencanakan lebih lanjut dan melancarkan serangan global yang mengancam warga negara AS, mitra-mitra kita dan warga sipil tidak berdosa," tegas Rigsbee dalam pernyataannya.

Pada akhir September lalu, Pentagon atau Departemen Pertahanan AS menewaskan seorang komandan senior Al-Qaeda di Suriah, Salim Abu-Ahmad, dalam serangan udara di dekat Idlib.

Disebutkan bahwa dia bertanggung jawab atas 'perencanaan, pendanaan dan menyetujui serangan lintas-kawasan Al-Qaeda'.

"Al-Qaeda terus memberikan ancaman bagi Amerika dan sekutu-sekutu kita. Al-Qaeda menggunakan Suriah sebagai persembunyian aman untuk membangun kembali, berkoordinasi dengan afiliasi eksternal dan merencanakan operasi eksternal," sebut Rigsbee.

Serangan drone yang menewaskan pemimpin senior Al-Qaeda ini terjadi dua hari setelah pangkalan militer di Suriah bagian selatan, yang digunakan koalisi pimpinan AS dalam melawan militan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), diserang.

Rigsbee tidak menyebut lebih lanjut apakah serangan drone AS ini merupakan balasan dari serangan itu.

(nvc/idh)

Diterbitkan di Berita

medcom.id Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut ada ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang terhasut jaringan teroris global. Mereka semua dibawa ke Irak dan Suriah.

"Berdasarkan catatan keberangkatan itu setidaknya 1.500 warga negara kita telah berangkat ke sana," kata Kepala BNPB Boy Rafli Amar dalam rapat internal secara virtual dengan Media Group, Senin, 21 Juni 2021.

Boy mengatakan jaringan teroris yang membawa mereka terafiliasi dengan Al-Qaeda, ISIS, dan Taliban. WNI yang ikut ke Irak dan Suriah diiming-imingi sejumlah uang dan fasilitas.

"Mereka menjanjikan ketika berangkat akan mendapatkan sejumlah gaji, fasilitas pendidikan, dan fasilitas asuransi, dan sebagainya," ujar Boy.

Namun, fasilitas dan uang itu hanya omong kosong. Setibanya di Irak maupun Suriah mereka hidup sengsara.

"Sebagian besar dari mereka masih berada di camp-camp tahanan. Untuk yang pria, dan wanita, dan bahkan anak-anak berada di camp pengungsian," kata Boy.

BNPT juga mencatat sebagian dari mereka ada yang dideportasi dari Irak dan Suriah. Beberapa orang di antaranya dinyatakan meninggal.

"Ada yang telah meninggal dunia estimasi sekitar seratus dan kemudian melakukan relokasi ke negara-negara yang sedang konflik lainnya," ucap Boy.

Boy mengatakan mereka semua terhasut karena narasi propaganda yang disebar kelompok teroris. Narasi itu harus dimusnahkan agar warga negara tidak ada lagi yang tertipu dengan muslihat kelompok teroris.

Untuk itu, BNPT menggelar kerja sama dengan Media Group. Kerja sama itu diharap bisa menghapuskan narasi sesat dari kelompok teroris di Indonesia. BNPT juga ingin mengadakan acara terbuka dengan Media Group.

"Menurut hemat kami ini perlu perlibatan semua masyarakat agar masyarakat bisa tercerahkan, kemudian tentunya kita berupaya agar jangan sampai banyak lagi masyarakat yang terperdaya untuk berangka ke Irak dan Suriah tersebut," kata Boy.
 
(JMS)

Diterbitkan di Berita

Boy Rafli Amar: BNPT akan ke Suriah

Kamis, 27 Mei 2021 17:18

KBRN, Jakarta: Data warga negara Indonesia (WNI) menjadi teroris lintas batas atau foreign terrorist fighters (FTF) telah diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi III DPR RI, Jakarta, hari ini, Kamis (27/5/2021).

Bahkan, Boy menyatakan, BNPT akan melakukan kunjungan langsung ke Suriah guna melanjuti penanggulangan terorisme menimpa para WNI di luar negeri.

"Kami seharusnya ke Suriah dan Irak untuk assessment. Namun, menunggu sinyal karena kondisi pandemi Covid-19," kata Boy di Komisi III DPR RI, Jakarta, Kamis (27/5/2021).

Selain itu, kata dia, hasil peninjauan BNPT itu bakal dilaporkan kepada Presiden RI Joko Widodo.

“Terkait apakah layak dilakukan repatriasi ke Indonesia,” kata dia.

Hari ini, Boy juga menjelaskan data menjadi teroris lintas batas atau foreign terrorist fighters (FTF).

“Terdapat sekisar 1.500 warga negara Indonesia (WNI) telah menjadi teroris lintas batas atau foreign terrorist fighters (FTF). Sebanyak 800 orang di antara FTF belum pulang,” kata Boy.

RDP Komisi III DPR RI tersebut dipimpin Wakil Ketua Komisi III DPR RI Pangeran Khairul Saleh, dan diikuti para anggota Komisi III DPR yang hadir secara luring dan daring.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Tiga orang warga Indonesia eks napi teroris, yang pernah menjadi petempur kelompok militan ISIS di Suriah, menyadari kesalahannya dan berusaha menebusnya dengan menyebarkan narasi anti-ekstremisme di masyarakat.

Inilah kisah tiga pria asal Surabaya, Pasuruan dan Malang, Jawa Timur, yang terpapar gerakan ekstremisme yang menghalalkan kekerasan, dengan berangkat ke medan perang di Suriah dan bergabung dengan kelompok militan yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.

Mereka terpikat menjadi 'jihadis radikal' melalui propaganda di internet, persinggungan dengan seorang perekrut ISIS, serta proses panjang dan perlahan yang membuat mereka makin terdorong ke dalam ekstremisme.

Ujungnya, atas nama persaudaraan dan, tentu saja, petulangan adrenalin, Abu Farros (nama sebutan), Wildan Bahriza, dan Syahrul Munif, meninggalkan ayah, ibu, anak dan keluarganya.

Dihadapkan kekejaman perang di Suriah, kekejian ISIS, dan perangai negatif sang perekrut, kesadaran intelektual dan ruhani, juga situasi di Indonesia, mereka akhirnya memutuskan meninggalkan Suriah.

Apa yang terjadi setelah mereka diadili dan mendekam di penjara?

Di titik mana dalam kehidupan para eks jihadis ini sehingga mereka akhirnya berhasil keluar dari ideologi kebencian?

Bagaimana mereka beradaptasi di masyarakat ketika dihadapkan adanya stigma tentang latar belakang mereka sebagai mantan napi teroris?

Berikut kesaksian tiga orang itu dalam wawancara terpisah di Surabaya dan Malang:

'Ibu yang membuka mata saya, saya bersumpah tak ulangi kesalahan'

(Abu Farros, 43 tahun, pernah ke Suriah dan berbaiat kepada ISIS, sudah bebas dari hukuman penjara, berusaha aktif kampanye melawan ekstremisme )

Abu Farros, begitu dia minta dipanggil, memiliki sahabat bernama Husni. Persahabatan itu terjalin semenjak mereka belia dan tumbuh dewasa di kawasan Ampel, Surabaya — wilayah yang didiami warga peranakan Arab dan etnis lainnya.

Keduanya kemudian berkongsi dalam bisnis jual-beli baju koko. "Saya percaya sekali dengan Husni," akunya.

Sekitar 2013, ketika Suriah diguncang perang saudara, dua sahabat ini 'terhubung' dengan apa yang terjadi di sana setelah mengonsumsi antara lain berbagai film propaganda yang beredar di media sosial.

 

Abu Farros

Abu Farros saat mendekam di penjara. "Saya tidak bisa tidur selama dua bulan, suara anak saya terus menggaung, bagaimana masa depannya..." DOKUMEN PRIBADI

 

Atas nama persaudaraan (ukhuwah) sesama muslim, Husni dan Abu suatu saat saling bertanya "apa kontribusi kita terhadap mereka" — kata 'mereka' ini merujuk kepada orang-orang atau kelompok yang melawan rezim Bashar al-Assad.

Husni, yang usianya lebih tua lima tahun, lantas mengajak Abu — kelahiran 1978 — berangkat ke Suriah untuk "memberikan bantuan khusus".

"Ada teman yang bisa mengajak kita ke sana," ujar Husni, seperti ditirukan Abu. Lalu mereka yang besar dengan tradisi Sunni ini bertemu 'teman' itu di Kota Malang. "Saya ingat pertemuannya di rumah makan sate."

Dalam perjumpaan, Salim Mubarok Attamimi — nama 'teman' itu tadi kelak dikenal sebagai Abu Jandal, anggota ISIS yang bertugas merekrut orang-orang Indonesia untuk berangkat ke Suriah — akhirnya mampu membujuk Abu dan Husni.

 

Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal

Abu Jandal alias Salim Mubarok Attamimi, anggota ISIS, yang berhasil membujuk Abu Farros meninggalkan keluarganya dan berangkat ke Suriah untuk 'berjihad'. AL HAYAT

 

Keduanya kemudian diminta Salim — "kami memanggilnya Ustaz Salim," akunya — menyediakan paspor dan uang US$500. "Saya juga diminta tidak ngomong [rencana ke Suriah] kepada keluarga."

Akhirnya, pada Maret 2014, Abu Farros berangkat dari Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta, menuju Suriah. Mereka berangkat bersama 19 orang Indonesia untuk "berjihad" di Suriah.

"Tidak ada yang saya kenal, kecuali Husni dan Salim," ungkap Abu Farros saat ditemui BBC News Indonesia di rumahnya di Jalan Ampel Kembang, Surabaya, pertengahan April 2021 lalu.

Saat itu, Salim meminta Abu dan orang-orang itu menggunakan nama samaran. "Saya memakai nama Abu Farros. Itu nama anak sulung saya, Muhammad Farros."

Setelah transit di Kuala Lumpur, Malaysia, rombongan tersebut terbang ke Istanbul, Turki dan berlanjut ke Kota Gaziantep, sebelum menyeberang ke Suriah.

Abu, Husni, dan belasan orang Indonesia ditempatkan di sebuah wilayah pedesaan di luar Kota Aleppo — situasinya mirip "desa-desa yang hancur akibat lumpur Lapindo di Sidoarjo," kata Abu Farros.

Ketika rombongan itu tiba di lokasi tujuan, ISIS dan kelompok pemberontak lainnya berusaha dan bersaing satu sama lain untuk menguasai beberapa wilayah di dekat perbatasan dengan Turki.

Tujuh tahun kemudian, Abu Farros mengeklaim kehadirannya di Suriah semata untuk menolong anak-anak yang terlantar akibat perang saudara dan berharap ditempatkan di bagian logistik atau perbaikan bangunan.

 

Abu Farros

Abu Farros (kanan) bersama pengacaranya saat acara besuk di penjara. DOKUMEN ABU FARROS

 

Faktanya, mereka saat itu mengikuti latihan militer selama dua bulan di sebuah kamp di luar kawasan pedesaan.

Dua orang warga Ampel, Surabaya itu, bersama warga Indonesia lainnya, kemudian ditempatkan di pos penjagaan yang berjarak kira-kira 500 meter dari posisi musuh.

Mereka juga dipersenjatai dan melakukan baiat (bersumpah) mendukung ISIS. "Saya pegang AK-47, tapi saya bukan petempur utama," akunya.

Dalam perjalanannya, Abu Farros menggambarkan, "situasinya mencekam, sesekali kita dihujani mortir, peluru tank."

Ketika itu pesawat-pesawat pemerintah Suriah menjatuhkan bom di berbagai kawasan yang dikuasai kelompok pemberontak.

"Saya tidak bisa tidur selama dua bulan, suara anak saya terus menggaung, bagaimana masa depannya..."

Rupanya kekejaman perang yang dia saksikan sendiri membuatnya "tidak siap". "Nah, saya mulai sadar, saya memutuskan untuk pulang [ke Indonesia]," katanya dalam wawancara.

 

Kampung Ampel, Surabaya.

Abu Farros tinggal di kawasan Ampel, Surabaya, yang sebagian penduduknya adalah warga Indonesia peranakan Arab. BBC NEWS INDONESIA

 

Setelah empat bulan berada di Suriah, Abu mengaku untuk pertama kalinya mendapat akses internet saat berkunjung ke Kota Al-Bab, kira-kira satu jam perjalanan dari kamp.

"Lewat internet, saya jadi tahu situasinya [aktivitas ISIS dan perang saudara di Suriah] seperti ini," kata bekas mahasiswa Teknik Perkapalan ITS Surabaya ini. Dia juga menjadi tahu bagaimana sikap pemerintah Indonesia tentang keterlibatan WNI di Suriah.

Dihadapkan situasi seperti itu, dia memutuskan untuk menelpon istri, ibu dan keluarganya di Surabaya.

"'Pulang, pulang'... keluarga saya menangis. Saya pun menangis. Saya menyesal kenapa saya sudah sampai sini [Suriah]." Dia kemudian bertekad bulat untuk meninggalkan Suriah.

 

Abu Farros

Abu Farros saat diwawancarai di rumahnya di kawasan Ampel, Surabaya, April 2021. "Kita berbuat baik dan bersungguh-sungguh itu jihad." BBC NEWS INDONESIA

 

Namun masalahnya, paspornya ditahan Salim Attamimi alias Abu Jandal. Dia ditanya apa alasannya pulang. "Intinya, saya tidak boleh pulang."

Di titik inilah, Abu Farros teringat ibunya. Dia meminta ibunya untuk meyakinkan Abu Jandal — pria yang membujuknya berangkat ke negeri yang luluh-lantak akibat perang saudara itu.

"Salim, Abu Farros itu punya ibu, yang mana jihad itu tidak harus ke Suriah. Bakti ke ke orang tua itu termasuk jihad," Abu menirukan suara ibunya — melalui sambungan telepon — saat membujuk Salim agar mengizinkan anaknya pulang.

Singkatnya, Abu akhirnya berhasil pulang ke Indonesia sekitar Agustus 2014, namun sahabatnya, Husni, sejak awal ragu-ragu untuk pulang, karena takut ditangkap saat tiba di Indonesia.

Setelah sampai di Surabaya, Abu Farros mengetahui sahabatnya itu meninggal akibat bom. "Sampai sekarang, saya selalu memikirkan dia." Nada suara Abu Farros terdengar sedikit bergetar.

 

Kota Aleppo

Abu, Husni, dan belasan orang Indonesia kemudian ditempatkan ke sebuah wilayah pedesaan di sekitar Kota Aleppo. (Foto: Seorang bocah perempuan berdiri di sudut Kota Aleppo, Suriah, 13 Februari 2013). BRUNO GALLARDO/AFP

 

Di hadapan ibunya, istri, anak-anaknya, dan keluarga besarnya, Abu kemudian menyadari kesalahannya bergabung ISIS ke Suriah.

Kondisi ibunya yang sakit akibat memikirkan tindakannya juga membuat "matanya terbuka". Di hadapan ibunya dia bersumpah tidak mengulangi perbuatannya. "Saya janji kepada ibu saya."

Dia masih teringat perkataan yang diulang-ulang oleh ibu dan pamannya: "Jangan berlebihan dalam bersikap, jangan aneh-aneh. Ayahmu (yang meninggal saat dia masih kuliah), keluargamu, tidak ada yang aneh-aneh."

Tiga tahun kemudian ayah tiga anak ini ditangkap Densus 88 dan divonis 3,5 tahun penjara pada 2018 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena terbukti bergabung organisasi teroris ISIS.

 

Abu Farros

Kondisi ibunya yang sakit akibat tindakannya juga membuat "matanya terbuka". Di hadapan ibunya dia lantas bersumpah tidak mengulangi perbuatannya. "Saya janji kepada ibu saya." BBC NEWS INDONESIA

 

Dia hanya menjalani hukuman 2,5 tahun penjara, karena mendapatkan pembebasan bersyarat setelah menyadari kesalahannya di masa lalu dan menyatakan setia kepada NKRI.

"Ketika di dalam penjara, saya bertambah sadar bahwa setiap perbuatan, pasti ada pertanggungjawabannya," ungkapnya. Dia kemudian mengikuti program deradikalisasi.

Pada 29 Mei 2020, Abu Farros menghirup udara bebas dan dia mengaku sepenuhnya sudah berubah.

"Islam itu rahmatan lil alamin, tidak meneror. Islam itu memberikan akhlak. Jadi dakwah itu bisa lewat akhlak (berbuat baik), bukan lewat yang lain-lain," ujarnya.

Dia juga menerima Pancasila sebagai dasar negara dan semua aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Dan perlahan-lahan dia pun menekuni lagi bisnis baju koko yang dulu digelutinya.

 

Kota Aleppo

Pasangan suami-istri menyaksikan upaya evakuasi tim penolong di tengah reruntuhan akibat serangan bom di sudut Kota Aleppo, Suriah, 28 April 2014. ZEIN AL-RIFAI/AFP

 

Ketika saya bertanya apakah statusnya sebagai eks napi teroris menganggu aktivitas bisnisnya, Abu tak memungkiri. "Saya agak minder."

Dan, kebetulan rekanan bisnisnya beragama Kristen. Dia awalnya merasa rekanannya itu "lebih bersikap hati-hati" terhadap dirinya. Namun ketakutannya itu, ternyata, terlalu berlebihan.

Buktinya, "saya tetap dihutangi lagi, karena saya baik dengan dia, dan dia baik dengan saya." Abu Farros tertawa kecil.

"Kalau saya tidak menghormati mereka [rekanannya yang beragama Kristen], ngapain saya harus bayar hutang. Kewajiban saya [untuk bayar hutang] tetap kewajiban saya," katanya, memberikan contoh.

Namun tiba-tiba, sambil menarik napas panjang, Abu menyinggung nasib anak-anaknya. Dia sangat berharap apa yang terjadi pada dirinya tidak dialami oleh tiga anaknya. "Kasihan mereka."

Kepada anak bungsunya yang masih kanak-kanak, dia menutupi 'aktivitasnya' di masa lalu. "Saya bilang abi (ayah) mondok."

Sebaliknya dia menjelaskan lebih terbuka kepada anak sulungnya, Farros dan adiknya, bahwa ayahnya pernah dipenjara. Kebetulan anak pertamanya yang berusia 15 tahun itu pernah membesuknya di penjara.

Saat wawancara, dia lalu mengutarakan rencananya bersama eks napi terorisme lainnya, Syahrul Munif, untuk mendirikan organisasi Fajar Ikhwan Sejahtera.

 

Setia NKRI

Napi teorisme mengucap ikrar setia kepada NKRI di aula Sahardjo, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/04). ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO

 

Mereka menginginkan organisasi itu kelak dapat membantu para eks napi terorisme supaya "memiliki kesibukan dan tidak lagi berpikir aneh-aneh... Juga agar negara peduli kepada mereka."

Belajar dari pengalamannya dulu, dia berujar kepada siapapun agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial. "Harus benar-benar dipahami. Jangan sampai setelah berbuat, menyesali."

Termasuk memaknai jihad? Tanya saya. "Jihad itu artinya sungguh-sungguh. Kita berbuat baik dan bersungguh-sungguh itu jihad."

Jadi, apa jihad Anda sekarang? "Mengayomi keluarga sebagai kepala rumah tangga dan bertanggungjawab, itu namanya jihad."

'Saya insaf, setelah tahu perangai pendukung ISIS tak sesuai ucapannya'

(Wildan bin Fauzi Bahriza, ikut bertempur bersama ISIS di Suriah, menyadari kesalahannya dan kini mengampanyekan perdamaian)

Wildan Fauzi Bahriza masih berusia 22 tahun ketika bergabung dengan kelompok militan ISIS di Suriah pada Juni 2013 lalu.

Dia merupakan salah-satu generasi pertama dari Indonesia yang berangkat 'berjihad' ke negara itu.

"[Di usia muda] Semua orang pasti pernah merasakan bagaimana mengutamakan adrenalin daripada berpikir jernih," katanya kepada BBC News Indonesia, pertengahan April lalu. Kami menemuinya di pondokannya di pinggiran Kota Malang.

 

Wildan Bahriza

Wildan Bahriza berpose di depan kamera dari balik terali besi — saat masih dipenjara. DOKUMEN WILDAN BAHRIZA

 

Hal itu dia utarakan ketika saya bertanya apakah saat itu dia tidak menyadari kompleksitas di balik perang saudara di Suriah.

"Semangat itu meluap-luap, apapun akan aku lakukan untuk mencapai target itu," tambah sarjana strata satu bidang informatika di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang, Jatim ini.

Pria kelahiran Pasuruan, 17 Juni 1991 ini nekad berangkat ke Suriah setelah bertemu anggota ISIS asal Pasuruan dan tinggal di Malang, Abu Jandal.

Sepekan kemudian dia berangkat ke negara yang saat itu dilanda perang saudara. "Sesederhana itu malah."

Selain dorongan adrenalin, anak kelima dari enam bersaudara asal kota kecil Bangil, Jatim, ini mengaku semenjak kecil gampang tersentuh ketika bersentuhan dengan isu kemanusiaan.

 

Wildan Bahriza

Wildan Bahriza (tengah) — saat berada di dalam penjara — bersama dua orang petugas lembaga pemasyarakatan. DOKUMEN WILDAN

 

Dalam situasi seperti itu, Wildan mendapat informasi — yang sangat mungkin tidak utuh alias sepihak — seputar konflik Ambon, perang Afghanistan, Irak, hingga Suriah.

Dan mirip yang dialami eks napi teroris lainnya, yaitu Abu Farros, Wildan mengaku 'terpanggil' untuk berangkat ke Suriah atas nama persaudaraan sesama muslim.

"Rentetan peristiwa itu yang membuat aku ingin membantu mereka [di Suriah], setidaknya aku ingin berguna," katanya.

Dari mana Anda mengetahui kondisi di Suriah, saat itu? Tanya saya. Wildan tidak memungkiri dia mendapatkannya dari media sosial.

"Aku melihat video-video anak-anak kecil yang kehilangan orang tuanya."

 

Wildan Bahriza

Wildan Bahriza (tengah, berkacamata) bersama petugas lembaga pemasyarakatan dan anggota polisi. DOKUMEN WILDAN

 

Setelah tiba di Suriah pada September 2013, Wildan dan sekitar sembilan orang WNI — di antaranya Abu Jandal, yang merekrutnya — dikirim ke kamp militer, dua pekan kemudian. Mereka dipersenjatai.

"Dan kami ditaruh di front-front pertempuran," akunya. Jadi Anda ikut bertempur? Tanya saya. "Iya."

Ketika itu Wildan mengaku nyaris dimasukkan dalam rombongan 'bom syahid' alias bom bunuh diri. Dia mengaku sudah dikarantina, namun akhirnya batal.

Belakangan dia mengaku dipindahkan ke rumah sakit untuk menjadi petugas evakuasi. "Ini sesuai keinginanku [menjadi petugas medis]," akunya.

Selama bertugas di rumah sakit, Wildan mengaku menyaksikan anak-anak dan warga sipil yang menjadi korban kekejaman perang saudara.

 

Wildan Bahriza

"Tunjukkan dengan akhlak (berbuat baik), jangan balas dengan keburukan," Wildan mengutip ulang nasihat orang tuanya. Perkataan ini pula menguatkan dirinya untuk berubah. (Foto Wildan Bahriza saat diwawancarai pada pertengahan April 2021).

 

"Sampai sekarang, saya kesulitan tidur, saya selalu terbayang-bayang apa yang saya saksikan," Wildan menerawang, lalu menarik napas panjang. Matanya terlihat basah.

Dihadapkan situasi yang tidak terbayangkan itu, pada awal 2014, Wildan memutuskan kembali ke Indonesia dengan sikap ekstrim yang belum sepenuhnya berubah.

Dua tahun kemudian dia ditangkap Tim Densus 88, setelah sempat menikahi perempuan asal Indramayu, Jawa Barat, setahun sebelumnya.

Dia divonis bersalah karena terlibat organisasi teroris ISIS dan dihukum lima tahun penjara.

 

Aleppo

Dua orang dari kelompok pemberontak sedang berbincang dengan sebuah keluarga yang terjebak di lokasi pertempuran di pinggiran Kota Aleppo, Suriah, 5 Januari 2013. Mereka menunggu kabar ayahnya tak tak kunjung kembali. MAURICO MORALES/AFP

 

Di dalam penjara, Wildan semula menolak melakukan ikrar kesetiaan pada NKRI, karena dia mengaku "diancam keselamatannya oleh beberapa napi teroris ISIS".

Namun dia kemudian mengalami titik balik — melakukan ikrar setia kepada NKRI dan mengikuti program deradikalisasi — setelah mengetahui para pengancamnya itu disebutnya "akhlak dan sikapnya bertentangan jauh dengan apa yang diucapkannya."

Akhirnya dia mendapatkan remisi dan hukumannya diubah menjadi tiga tahun sembilan bulan. Dia dibebaskan pada 2 Oktober 2019.

Dalam wawancara, Wildan menyebut peran orang tuanya yang "sangat luar biasa" saat dirinya berada di titik nol dalam kehidupannya — mendekam di balik terali besi.

 

Aleppo

Zakia Abdullah, warga Distrik Tariq Al-Bab, Aleppo, duduk termenung di lokasi reruntuhan gedung yang hancur akibat perang, 23 Februari 2013. PABLO TOSCO/AFP

 

"Tunjukkan dengan akhlak (berbuat baik), jangan balas dengan keburukan," Wildan mengutip ulang nasihat orang tuanya. Perkataan ini pula menguatkan dirinya untuk berubah.

Ketika diberi kesempatan untuk membagikan pengalamannya keluar dari jeratan gerakan ekstrim di berbagai acara diskusi, Wildan selalu menyisipkan pentingnya memelihara kedekatan dengan orang tua.

Hal penting lainnya yang sering dia utarakan adalah menyadari pentingnya perdamaian. "Jadi selagi diberi nikmat perdamaian, kenapa kita harus berperang."

Wildan juga mengoreksi konsep 'jihad' yang dulu disebutnya identik dengan perang. Dia memahami jihad itu "banyak pintunya", di antaranya membantu fakir miskin dan anak-anak yatim yang terlantar.

 

Wildan Bahriza

Wildan saat ini bekerja sebagai tenaga kontrak fotografer dan videografer di Dinas Koperasi dan Perdagangan di Kota Malang. BBC NEWS INDONESIA

 

"Apalagi di negara kita banyak fakir miskin," ungkapnya. Kini Wildan aktif membantu memasarkan produk makanan sebuah yayasan yatim piatu di Malang.

Kritikan juga dia sampaikan kepada aliran-aliran di dalam kelompok Islam tertentu yang disebutnya "terlalu ekstrim". "Misalnya suka mengkafirkan sesama muslim. Saya pun dikafirkan juga."

"Mungkin itu yang memicu radikalisme yang begitu kuat karena kesalahan pemikiran seperti itu," kata Wildan. "Padahal Islam itu agama yang rahmat, dan tidak ada yang mengekstrimkan seperti itu."

Dia berharap nantinya dapat memiliki yayasan sendiri untuk membantu para yatim piatu yang terlantar.

"Karena semakin banyak berinteraksi dengan anak-anak itu membuat saya semakin merasa tenang," ujarnya.

Saat ini Wildan memulai menekuni aktivitas baru sebagai fotografer dan videografer di Kantor Dinas Koperasi dan Perdagangan Kota Malang.

"Yang lalu biarlah berlalu, case closed, aku sekarang membangun kehidupan yang baru."

'Kamu harus pulang, ayah-ibumu tak restui 'jihadmu' ke Suriah'

(Syahrul Munif, kelahiran 1982, bergabung ISIS di Suriah, dan setelah bebas dari penjara aktif menyuarakan nilai-nilai anti-radikalisme)

Dalam rentang sekitar tujuh tahun, Syahrul Munif, 39 tahun, yang dulu berangkat 'berjihad' ke medan perang Suriah dengan bergabung ISIS, dapat berubah seratus delapan puluh derajat.

Kini pria kelahiran Juli 1982 ini berulang-ulang menyebut ISIS sebagai "virus yang merusak citra Islam" — hal yang diakuinya tak "terpikirkan" saat dia bersumpah mendukung ISIS tujuh tahun silam.

Saya lantas bertanya kepada Syahrul — lulusan strata satu Fakultas Hukum di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang — perihal bagaimana dia bisa berubah dalam rentang tujuh tahun.

 

Syahrul Munif

Syahrul Munif saat diwawancarai pada pertengahan April 2021: "Saya tidak ingin generasi setelah saya itu akan lahir 'Syahrul-Syahrul yang salah' seperti saya." BBC NEWS INDONESIA

 

Berubah dalam artian, misalnya saja, dia tidak lagi menganggap jihad itu harus mengangkat senjata atau tentang ketegasan sikapnya yang menolak konsep kekhalifahan.

"Saat di dalam penjara saya mulai berpikir," ujarnya dalam wawancara dengan BBC News Indonesia di rumah kontrakannya di Singosari, Malang, pertengahan April 2021 lalu.

Selama mengikuti program deradikalisasi yang disponsori pemerintah Indonesia, mantan aktivis dakwah kampus ini mengaku "banyak belajar" tentang konsep keislaman secara lebih luas.

"Termasuk jihad di Indonesia seharusnya seperti apa, jihad sesungguhnya menurut syariah seperti apa," ungkapnya.

Lalu, apa yang terjadi pada Anda ketika disuguhi video-video propaganda tentang apa yang terjadi di Suriah oleh Abu Jandal alias Salim Mubarok Attamimi, sehingga nekad ke Suriah? Saya bertanya lagi.

"Saya tidak berpikir ke sana," jawab Syahrul, mencoba menggambarkan apa yang ada di benaknya, saat itu.

Dia menyebut posisinya saat itu sebagai murid yang "mencari ilmu" kepada Salim yang disebutnya sebagai ustaz alias guru.

"Dan saat itu, saya percaya kepadanya, berprasangka baik saja" — termasuk isi video itu.

 

Syahrul Munif

Syahrul Munif (nomor dua dari kanan) saat acara pengenalan produk bisnisnya. "Saya anggap itu dakwah saya. Bentuk koneksi jihad saya sudah berubah. Itu cocok buat di Indonesia yang merupakan negara damai," ungkapnya. DOKUMEN ARIF BUDI SETYAWAN

 

Mirip yang dialami Abu Farros dan Wildan, Syahrul juga menggunakan alasan persaudaraan sesama muslim dan alasan kemanusiaan yang membuatnya "berpikir sempit" untuk memberi penguatan makna jihadnya saat itu.

"Mungkin pikiran saya saat itu sempit dan berpikir, pokoknya saya bisa menolong dan bisa berarti bagi saudara-saudara saya di Suriah," katanya.

Kalimat inilah yang mengantarkannya dalam perjalanan berisiko dan berbahaya ke medan perang di Suriah pada Maret 2014.

Demi tujuan 'jihad' itulah Syahrul saat itu membohongi ibu dan ayahnya, dengan mengatakan bahwa kepergiannya itu untuk umroh dan ambisi belajar agama di Arab Saudi.

 

Napi terorisme

Narapidana tindak pidana terorisme mencium bendera Merah Putih usai mengucap ikrar setia kepada NKRI di Aula Sahardjo, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/04). ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO

 

Kepada istrinya, Syahrul hanya bercerita sekilas tentang rencana kepergiannya. Sang istri saat itu sudah mengingatkannya bahwa dirinya harus bertanggungjawab untuk membesarkan dua anaknya yang masih kecil.

Syahrul dan Abu Farros terbang ke Malaysia dan bertemu beberapa orang lainnya, sebelum terbang ke Turki dan akhirnya melintasi perbatasan menuju "penampungan" di Kota Tell Abyad, Suriah.

Setelah mengikuti latihan militer oleh ISIS di Kota Raqqa selama 25 hari, mereka kemudian ditempatkan di lokasi "perbatasan" dengan Kota Aleppo.

Dalam perjalanannya, Syahrul mengaku mulai bimbang atas pilihan 'jihadnya' ke Suriah, setelah mengetahui ada peristiwa deklarasi kekhalifahan apa yang disebut sebagai Negara Islam.

 

Terorisme

Personel kepolisian bersenjata berjaga di depan Gedung Mabes Polri, Jakarta, Kamis (01/04/2021). APRILLIO AKBAR/ANTARA FOTO

 

"Pemahaman saya khilafah itu rujukan seluruh muslimin di seluruh dunia, tahu-tahu kok ISIS deklarasikan khilafah. Ini menurut saya terburu-buru dan prematur," katanya belakangan.

Syahrul mengeklaim dirinya mulai sedikit berubah setelah mengetahui perangai Abu Jandal yang dianggapnya mulai memurtadkan kelompok Islam lainnya.

"ISIS kok seperti itu," ujarnya. Belum lagi informasi yang dia terima praktek kekejaman ISIS terhadap tawanan perang.

"Saya mendengar di alun-alun kota itu ada kepala-kepala [manusia] yang dipajang di pagar," katanya. Pada titik inilah, katanya tujuh tahun kemudian, dia memutuskan untuk segera meninggalkan Suriah.

Apakah sebelum Anda berangkat ke Suriah tidak menyadari hal itu, saya bertanya. Syahrul dulu mengaku 'mengidealkan' ISIS. "Tapi itu sebelum saya lihat faktanya saat di Suriah."

 

Syahrul Munif

"Kalau salah sebut virus takfiri mulai kelihatan dan neo-khawarijnya sudah kelihatan, itu yang membuat saya berpikir bahwa ISIS itu virus bagi umat Islam," katanya. BBC NEWS INDONESIA

 

Selama berproses mengikuti program deradikalisasi di dalam penjara itulah, Syahrul kemudian menyimpulkan bahwa "ISIS sudah melenceng dari konsep keislaman".

"Kalau salah sebut virus takfiri mulai kelihatan dan neo-khawarijnya sudah kelihatan, itu yang membuat saya berpikir bahwa ISIS itu virus bagi umat Islam," katanya.

Namun momen puncak yang menguatkan tekadnya untuk meninggalkan Suriah adalah saat dia memberanikan diri menelpon keluarga besarnya.

"Orang tua saya sangat terpukul ketika mengetahui saya berbohong untuk pergi ke Suriah, dan saudara-saudara saya bilang 'mas, pokoknya kamu harus pulang, karena umi dan aba tidak merestui kepergian mas'," katanya.

Pada momen itulah, dia merasa sangat berdosa. "Andaikata saya mati di Suriah, dan orang tua tidak merestui, itu sangat berdosa," tambahnya.

 

Pengungsi Suriah.

Warga Kota Raqqah, Suriah, melarikan diri untuk menghindari peperangan, dengan menunggu di perbatasan Turki-Suriah, 18 September 2014. HALIL FIDAN/GETTY

 

Itulah sebabnya, masih dalam tahun yang sama, Syahrul akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan berhasil.

Tiga tahun kemudian, yaitu pada 2017, Syahrul ditangkap oleh Densus 88 atas keterlibatannya bersama ISIS di Suriah. Dia divonis tiga tahun penjara dan dibebaskan pada 2019 setelah mendapat remisi.

Dalam wawancara, kehadiran ayah dan ibunya disebutnya sebagai faktor paling penting yang membuatnya menyadari kesalahannya bergabung dengan ISIS di Suriah.

"Keajaiban itu saya kira dari doa orang tua yang senantiasa mendoakan saya," katanya. Dia meyakini doa orang tua lah yang membuatnya berhasil kembali ke Indonesia.

 

Syahrul Munif

Setelah menghirup udara bebas, Syahrul (kiri) menjalankan bisnis yaitu menjual permen buah dan mendistribusikan lembar kerja siswa (LKS). BBC NEWS INDONESIA

 

Dan dua tahun setelah menghirup udara bebas, Syahrul belum menceritakan masa lalunya itu dengan tiga anaknya yang masih kecil. Kelak saat mereka sudah dewasa, Syahrul akan mengungkapkannya — tanpa menutup-nutupinya.

"Paling tidak setiap orang pernah melakukan kesalahan, barangkali abi (ayah) dulu pernah salah dengan berangkat ke sana [Suriah], dan abi sudah berusaha memperbaiki diri, dan bahkan mendidik anak-anak untuk hati-hati melangkah, supaya tidak seperti abi," kata Syahrul.

Saat ditemui BBC News Indonesia, Syahrul sedang menjalankan bisnisnya yaitu menjual permen buah dan mendistribusikan lembar kerja siswa (LKS).

"Saya anggap itu dakwah saya. Bentuk koneksi jihad saya sudah berubah. Itu cocok buat di Indonesia yang merupakan negara damai," ungkapnya.

Dari sisi pemahaman keislaman, Syahrul mengaku memperluas 'pergaulannya' dengan para ulama yang selama ini 'di luar' pemahamannya dulu tentang Islam.

"Yaitu ulama yang memiliki wawasan lebih longgar, luas dan luwes, karena Islam ternyata mengajarkan seperti itu," katanya.

 

Aksi menolak terorisme.

Seorang peserta aksi menolak aksi terorisme — tergabung Forum Rakyat Bersatu — memegang bunga saat aksi solidaritas di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (04/04). ABRIAWAN ABHE/ANTARA FOTO

 

Ketika saya bertanya apakah dirinya mengalami stigma dari masyarakat terkait status eks napi teroris yang dilekatkan padanya, Syahrul tidak terlalu memusingkannya.

Dia ingin menunjukkan kepada siapapun bahwa dirinya adalah "orang baik" dengan membuktikan dengan dakwahnya sekarang yang disebutnya lebih humanis.

"Itu semua akan menjawab dari sebuah stigma, dan itu akan hilang dengan sendirinya, yaitu dengan kita tunjukkan dengan amal nyata yang lebih baik," ujar Syahrul.

Saat ini Syahrul sedang menyelesaikan sebuah buku yang isinya tentang pengalamannya selama ini yang diharapkannya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dia juga rajin membagikan pengalamannya di berbagai kampus dan sekolah.

"Saya tidak ingin generasi setelah saya itu akan lahir 'Syahrul-Syahrul yang salah' seperti saya," tandasnya.

Diterbitkan di Berita

Novi Christiastuti - detikNews Moskow - Otoritas Rusia mengklaim telah menewaskan hingga 200 militan di Suriah dalam serangan udara yang ditargetkan ke markas 'teroris' di sebelah timur laut kota Palmyra, Provinsi Homs.

Militan di wilayah tersebut diduga merencanakan serangan menjelang pemilihan presiden (pilpres) bulan depan.

Seperti dilansir AFP, Selasa (20/4/2021), klaim tersebut disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataan terbaru pada Senin (19/4) waktu setempat. Rusia merupakan sekutu penting rezim Presiden Bashar al-Assad dalam konflik Suriah yang berlangsung sejak tahun 2011.

"Setelah mengonfirmasi data melalui berbagai saluran di lokasi fasilitas teroris, pesawat-pesawat Angkatan Udara Rusia melancarkan serangan udara," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.

"Dua tempat persembunyian dihancurkan, hingga 200 militan (tewas), 24 truk pikap dengan senapan mesin kaliber besar, juga sekitar 500 kilogram amunisi dan komponen untuk membuat alat peledak rakitan," imbuh pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut tidak menyebut secara spesifik soal tanggal pelaksanaan serangan maupun kelompok yang menjadi target serangan.

Disebutkan Kementerian Pertahanan Rusia bahwa targetnya merupakan 'pangkalan kamuflase' di mana 'kelompok-kelompok teroris' merencanakan serangan di Suriah dan merakit peledak.

"Mereka merencanakan serangan teroris dan serangan terhadap badan-badan pemerintahan di kota-kota besar untuk mendestabilisasi situasi di negara tersebut menjelang pemilihan presiden di Suriah," sebut Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataannya.

Pilpres Suriah dijadwalkan akan digelar pada 26 Mei mendatang. Pilpres ini merupakan yang kedua digelar sejak konflik Suriah pecah tahun 2011, dengan penindakan unjuk rasa antipemerintah menewaskan lebih dari 388 ribu orang. Diperkirakan Assad akan tetap berkuasa di negara yang dilanda konflik itu.

Rusia mulai meluncurkan operasi intervensi militer terhadap konflik Suriah sejak tahun 2015, demi membantu membalikkan gelombang pertempuran.

Pada Senin (19/4) waktu setempat, Kementerian Pertahanan Rusia menyebut para 'teroris' itu mendapat pelatihan di beberapa kamp yang ada di area Provinsi Homs yang tidak dikuasai rezim Suriah. "Termasuk di area Al-Tanf, yang dikuasai oleh militer AS (Amerika Serikat)," imbuh pernyataan itu.

Pada Februari lalu, Rusia mengecam serangan udara AS terhadap milisi yang didukung Iran di wilayah Suriah bagian timur. Rusia menuntut AS menghormati integritas wilayah Suriah. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, pada saat itu menyatakan Rusia ingin mengetahui rencana AS di Suriah.

(nvc/ita)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA (CAKAPLAH) - Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Satuan Tugas Foreign Terrorist Fighter (Satgas FTF), meminta masukan dari DPR melalui Komisi III yang membidangi masalah hukum, terkait upaya pemulangan 135 orang warga negara Indonesia (WNI), eks kelompok militan ekstremis ISIS kembali ke Indonesia yang berada di perbatasan Turki dan Suriah.

Hal itu disampaikan Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar, saat rapat kerja bersama Komisi III DPR.

Menurut Boy, pihaknya perlu terlebih dahulu melakukan asesmen atau pendataan dan verifikasi kepada sebanyak 20 WNI tersebut saat ini berada di daerah perbatasan Turki dan 115 WNI lainnya berada di perbatasan Utara Suriah.

"Kami rencananya setelah masa pandemi ini setelah jalur penerbangan terbuka dengan Satgas FTF yang terpadu dari berbagai instansi akan direncanakan berangkat ke daerah Irak and Suriah termasuk Turki dan sekitarnya untuk melakukan asesmen terhadap mereka," kata Boy dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Senin (22/3/2021).

Rencana itu disampaikan Boy, sebagai langkah persiapan untuk direalisasinya pemulangan para eks ISIS tersebut kembali ke tanah air.

"Tentu ini belum sampai kepada keputusan itu tapi tentu harus ada verifikasi dan asesmen terlebih dahulu oleh tim Satgas FTF, baru upaya pemulangan kembali ke tanah air dapat dilakukan," ucapnya.

Selain data di atas, disampaikan Boy, sejauh ini telah 272 orang WNI eks ISIS yang telah dikabarkan meninggal dunia.

"Kami duga 272 ini diantaranya telah meninggal dunia dan melakukan relokasi ke daerah-daerah konflik lainnya seperti Yaman Afghanistan dan Filipina Selatan," ungkapnya.***

Penulis: Edyson
Editor: Jef Syahrul
Diterbitkan di Berita

Tim Detikcom - detikNews Jakarta - Militer Rusia melancarkan serangkaian serangan udara di wilayah Suriah. Sejumlah jet tempur Rusia membombardir sebuah fasilitas gas, sebuah pabrik semen dan beberapa kota di wilayah Suriah sebelah barat laut, dekat perbatasan Turki. Gempuran dilancarkan Rusia saat militer Suriah melancarkan serangan artileri di area yang sama.

Seperti dilansir Reuters, Senin (22/3/2021), sejumlah saksi mata dan sumber pemberontak setempat menyebut serangan artileri Suriah itu mengenai sebuah rumah sakit dan menewaskan tujuh orang serta melukai 14 paramedis.

Sejumlah sumber menyebut gempuran rudal permukaan-ke-permukaan milik Rusia juga mengenai kota Qah, sedangkan serangan udara Rusia mengenai area di dekat kamp pengungsian yang padat penduduk di sepanjang perbatasan Turki.

Sebuah fasilitas gas yang ada di dekat kota Sarmada, Provinsi Idlib terkena gempuran Rusia itu. Puluhan trailer yang membawa barang di area parkir dekat perbatasan Bab al Hawa terbakar dalam serangan terbaru itu.

Juru bicara Tentara Nasional, aliansi pemberontak yang didukung Turki, menyebut Rusia yang mendukung rezim Suriah berupaya mendestabilisasi markas terakhir pemberontak di Suriah dan mengganggu aktivitas komersial.

Sumber-sumber intelijen Barat menyebut Rusia ada di balik serangan rudal balistik pada awal bulan ini, yang membakar puluhan kilang minyak lokal di dekat al-Bab dan Jarablus, yang dikuasai pemberontak di mana Turki memegang kendali dan mengerahkan militer secara signifikan.

"Serangan udara Rusia terus berlanjut. Rudal balistik juga menghantam daerah yang dekat dengan pusat-pusat sipil," tutur Mayor Youssef Hamoud kepada Reuters. "Mereka berusaha memicu kekacauan dan kebingungan," imbuhnya.

Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Turki menyatakan bahwa sebuah rudal yang ditembakkan pasukan pemerintahan Suriah menghantam wilayah Qah dan mengenai sebuah truk dan taman trailer di dekat Sarmada. Gempuran rudal itu disebut melukai tujuh warga sipil.

Kementerian Pertahanan Turki mengirimkan pernyataan kepada Rusia yang isinya meminta gempuran dihentikan segera dan memberitahu bahwa tentara Turki telah disiagakan. Belum ada komentar Rusia atas laporan serangan ini.

Pertempuran antara militer Suriah dan pemberontak mereda sejak kesepakatan tercapai setahun lalu untuk mengakhiri operasi pengeboman pimpin Rusia yang membuat 1 juta orang di dekat perbatasan Turki kehilangan tempat tinggal.

Penduduk setempat menyatakan meski tidak ada pertempuran besar, ketenangan kadang-kadang diganggu oleh gempuran Rusia terhadap pos pemberontak dan serangan milisi yang didukung Iran dan Suriah di area tersebut.

Suriah dan Rusia menyatakan mereka hanya menargetkan militan dan menyangkal adanya serangan tanpa pandang bulu di are-area sipil atau serangan disengaja terhadap rumah sakit dan infrastruktur sipil. 

(ita/lir)

Diterbitkan di Berita

Syaiful W Harahap tagar.id Jakarta - Konflik di Suriah memasuki babak baru setelah militer Turki melancarkan serangan terhadap posisi milisi Kurdi di timur laut Suriah. Inilah faksi-faksi yang berperang di Suriah. Elizabeth Schumacher dan Alexander Pearson menuliskannya untuk dw.com/id.

suriah1

Perang Tiada Akhir (Foto: dw.com/id)

 

Perang Tiada Akhir - Suriah telah dilanda kehancuran akibat perang saudara sejak 2011 setelah Presiden Bashar Assad kehilangan kendali atas sebagian besar negara itu karena berbagai kelompok revolusioner. Sejak dari itu, konflik menarik berbagai kekuatan asing dan membawa kesengsaraan dan kematian bagi rakyat Suriah.

suriah2

Kelompok Loyalis Assad (Foto: dw.com/id)

 

Kelompok Loyalis Assad - Militer Suriah yang resminya bernama Syrian Arab Army (SAA) alami kekalahan besar pada 2011 terhadap kelompok anti-Assad yang tergabung dalam Free Syrian Army. SAA adalah gabungan pasukan pertahanan nasional Suriah dengan dukungan milisi bersenjata pro-Assad. Pada bulan September, Turki meluncurkan invansi militer ketiga dalam tiga tahun yang menargetkan milisi Kurdi.

suriah3

Militer Turki (Foto: dw.com/id)

 

Militer Turki – Hampir semua negara tetangga Suriah ikut terseret ke pusaran konflik. Turki yang berbatasan langsung juga terimbas amat kuat. Berlatar belakang permusuhan politik antara rezim di Ankara dan rezim di Damaskus, Turki mendukung berbagai faksi militan anti-Assad.

suriah4

Tentara Rusia (Foto: dw.com/id)

 

Tentara Rusia - Pasukan dari Moskow terbukti jadi aliansi kuat Presiden Assad. Pasukan darat Rusia resminya terlibat perang 2015, setelah bertahun-tahun menyuplai senjata ke militer Suriah. Komunitas internasional mengritik Moskow akibat banyaknya korban sipil dalam serangan udara yang didukung jet tempur Rusia.

suriah5

Sekutu Barat (Foto: dw.com/id)

 

Sekutu Barat – Sebuah koalisi pimpinan Amerika Serikat yang terdiri lebih dari 50 negara, termasuk Jerman, mulai menargetkan Isis dan target teroris lainnya dengan serangan udara pada akhir 2014. Koalisi anti-Isis telah membuat kemunduran besar bagi kelompok militan. AS memiliki lebih dari seribu pasukan khusus di Suriah yang mendukung Pasukan Demokrat Suriah.

suriah6

Pemberontak Free Syrian Army (Foto: dw.com/id)

 

Pemberontak Free Syrian Army - Kelompok Free Syrian Army mengklaim diri sebagai sayap moderat, yang muncul dari aksi protes menentang rezim Assad 2011. Bersama milisi nonjihadis, kelompok pemberontak ini terus berusaha menumbangkan Presiden Assad dan meminta pemilu demokratis. Kelompok ini didukung Amerika dan Turki. Tapi kekuatan FSA melemah, akibat sejumlah milisi pendukungnya memilih bergabung dengan grup teroris.

suriah7

Pemberontak Kurdi (Foto: dw.com/id)

 

Pemberontak Kurdi - Perang Suriah sejatinya konflik yang amat rumit. Dalam perang besar ada perang kecil. Misalnya antara pemberontak Kurdi Suriah melawan ISIS di utara dan barat Suriah. Atau juga antara etnis Kurdi di Turki melawan pemerintah di Ankara. Etnis Kurdi di Turki, Suriah dan Irak sejak lama menghendaki berdirinya negara berdaulat Kurdi.

suriah8

Islamic State ISIS (Foto: dw.com/id)

 

Islamic State ISIS - Kelompok teroris Islamic State (Isis) yang memanfaatkan kekacauan di Suriah dan vakum kekuasaan di Irak, pada tahun 2014 berhasil merebut wilayah luas di Suriah dan Irak. Wajah baru teror ini berusaha mendirikan kekalifahan, dan namanya tercoreng akibat genosida, pembunuhan sandera serta penyiksaan brutal.

suriah9

Afiliasi Al Qaeda (Foto: dw.com/id)

 

Afiliasi Al Qaeda - Milisi teroris Front al-Nusra yang berafiliasi ke Al Qaeda merupakan kelompok jihadis kawakan di Suriah. Kelompok ini tidak hanya memerangi rezim Assad tapi juga terlibat perang dengan pemberontak yang disebut moderat. Setelah merger dengan sejumlah grup milisi lainnya, Januari 2017 namanya diubah jadi Tahrir al-Sham.

suriah10

Pasukan Iran (Foto: dw.com/id)

 

Pasukan Iran - Iran terlibat pusaran konflik dengan mendukung rezim Assad. Konflik ini juga jadi perang proxy antara Iran dan Rusia di satu sisi, melawan Turki dan AS di sisi lainnya. Teheran berusaha menjaga perimbangan kekuatan di kawasan, dan mendukung Damaskus dengan asistensi startegis, pelatihan militer dan bahkan mengirim pasukan darat (dw.com/id). []

Diterbitkan di Berita
Syarifudin sindonews.com MOSKOW - Komisaris Presiden Rusia untuk Hak Anak, Anna Kuznetsova, mengungkapkan negaranya telah memulangkan 145 anak Rusia mantan militan ISIS dari Suriah dan Irak sejak wabah Covid-19.
Kuznetsova mengatakan sejak awal tahun lalu, agensinya telah melakukan enam perjalanan untuk membawa anak-anak itu kembali ke Rusia, berkoordinasi dengan pihak berwenang Suriah dan Irak.
 
Tindakan pencegahan diambil setiap saat terkait virus corona. Dia menjelaskan sulit menentukan jumlah anak yang tersisa di Suriah dan Irak, tetapi sejauh ini ada dokumen yang disiapkan untuk mengembalikan 105 anak lagi. 
November lalu, Administrasi Otonomi Kurdi di timur laut Suriah menyerahkan 30 anak Rusia dari militan ISIS yang ditahan di Kamp Al-Hol, tenggara Hasakah.

Sebelumnya, Prancis telah memulangkan tujuh anak pejuang ISIS dari timur laut Suriah. Ini adalah upaya terbaru negara Eropa memulangkan warganya setelah bertahun-tahun enggan melakukannya.
Anak-anak itu berusia antara 2 dan 11 tahun. Mereka tinggal di kamp Al-Hol dan Roj yang dijalankan milisi Kurdi seperti Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG).

Menurut Kementerian Luar Negeri Prancis, anak-anak itu rentan dan telah dirawat di layanan sosial. Pemulangan terakhir ini membuat jumlah anak-anak yang dipulangkan ke Prancis menjadi 35 anak, yang sebagian besar adalah yatim piatu.

Banyak dari mereka yang ditahan di kamp adalah warga asing yang melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung ISIS beberapa tahun setelah revolusi Suriah pecah. Menurut Save the Children, lebih dari 9.000 anak warga asing tetap tinggal di wilayah tersebut dan banyak dari mereka adalah warga negara Eropa, termasuk Inggris.

Di kamp Al-Hol saja, dilaporkan ada 43.000 anak. Meskipun ada seruan organisasi hak asasi manusia dan Amerika Serikat (AS) agar Inggris dan negara Eropa lainnya memulangkan warganya serta mengadili mereka di negara asalnya, banyak yang menolak atau enggan melakukannya.
Pemerintah negara-negara Eropa berdalih risiko keamanan yang akan mereka hadapi jika mereka dipulangkan.
 
Diterbitkan di Berita
DAMASKUS, KOMPAS.com - Pesawat jet tempur Rusia meluncurkan puluhan serangan udara yang menargetkan posisi ISIS di Gurun Suriah. Melansir BBC pada Kamis (25/2/2021), serangan Jet itu mendukung operasi pasukan pro-pemerintah Suriah untuk mengamankan jalan antara Homs dan Deir al-Zour, menurut kelompok monitor.
 
Militan ISIS telah melakukan serangkaian penyergapan mematikan dan serangan tabrak lari di wilayah tersebut baru-baru ini. Terbaru pada Rabu (24/2/2021), serangan ISIS dilaporkan telah mengakibatkan terbunuhnya 9 tentara dan militan.
 
Observatorium Suriah untuk HAM yang berbasis di Inggris memantau perang di Suriah melalui jaringan sumber, mengatakan telah ada 3 orang lainnya tewas pada Selasa (23/2/2021), ketika ranjau darat yang ditanam oleh ISIS meledak di gurun dekat ak-Mayadeen, di tenggara Deir provinsi al-Zour.
 
Serangan udara Rusia pada Selasa (22/2021) membunuh setidaknya 10 militan ISIS di Deir al-Zour dan tenggara provinsi Hama. Sementara, tidak ada laporan tentang korban dari serangan pada Rabu (24/2/2021) di daerah al-Shawla dan lokasi yang disebut sebagai "segetiga Aleppo-Raqqa-Hama". 
Syria TV, saluran TV oposisi juga mengatakan bahwa jet Rusia menyerang posisi ISIS di gurun wilayah Badiya sebagai bagian dari perlawanan oleh pasukan dan militan.
 
Namun, media pemerintah Suriah tidak menyebutkan operasi yang dilaporkan tersebut.  ISIS pernah menguasai 88.000 Km persegi wilayah yang membentang dari Suriah barat hingga Irak timur dan memberlakukan aturan brutalnya pada hampir 8 juta orang.
 
Terlepas dari kekalahan teritorial ISIS di Irak pada 2017 dan Suriah pada 2019, para ahli PBB memperkirakan bahwa lebih dari 10.000 militan tetap aktif di kawasan itu. Mereka diatur dalam kelompok-kelompok kecil yang bersembunyi di gurun dan daerah pedesaan, dan dapat bergerak melintasi perbatasan yang tidak terlindungi.
 
Kepala anti-terorisme PBB, Vladimir Voronkov, memperingatkan pada pekan lalu "sisa-sisa (anggota ISIS) yang cukup besar ini dinilai sebagai ancaman besar, jangka panjang dan global".
 
Dalam perkembangan terpisah pada Rabu (24/2/2021), polisi Turki mengatakan mereka telah menangkap 2 anggota senior ISIS di Ankara dan membebaskan seorang gadis berusia 7 tahun dari minoritas Yazidi Irak yang ditahan. Salah satu tersangka diidentifikasi sebagai mantan perwira militer Irak.

Editor : Shintaloka Pradita Sicca

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2