Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, meminta Dinas Kesehatan tiap kabupaten/kota untuk kembali mengecek ulang data stok vaksin.
Sehingga, mereka tidak kehabisan stok yang dapat menghambat jalannya vaksinasi. "Pengiriman vaksin bagi kabupaten/kota dengan estimasi stok lebih dari 30 hari akan ditunda terlebih dahulu.
 
Kabupaten/kota diberikan waktu 2 hari untuk melakukan cross-check dan update terkait data stok yang telah disampaikan, untuk memastikan tidak ada kekurangan pada saat pelaksanaan vaksinasi karena ditundanya pengiriman vaksinasi," kata Nadia dalam keterangan pers virtual, Rabu (1/9). Nadia menjelaskan, pengiriman vaksin corona dapat diprioritaskan pada daerah yang stok vaksinnya lebih sedikit. Selama ini pun pengiriman vaksin dilakukan setiap minggu.
 
Untuk itu, pihaknya meminta kepada seluruh dinkes kabupaten/kota untuk memastikan stok vaksinnya paling tidak memenuhi paling sedikit sampai 7 hari ke depan. "Alokasi vaksin di kabupaten/kota mempertimbangkan laju penyuntikan pada minggu sebelumnya. Sehingga alokasi vaksin diharap dapat memenuhi kebutuhan dosis 1 dan 2 minimal 7 hari," ungkapnya.
 
Selain itu, dinkes provinsi juga dapat merealokasikan stok vaksin pada kabupaten/kota yang stoknya berlimpah kepada daerah lain yang stoknya menipis.
 
 
Kemenkes Tunda Distribusi Vaksin Corona ke Daerah yang Stoknya Cukup Sebulan (1)
Petugas kesehatan menyuntikan vaksinasi Pfizer. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
 
"Dinkes provinsi perlu didorong untuk mempercepat laju distribusi vaksin dari provinsi ke kabupaten/kota mengikuti laju pengiriman pusat terutama bagi daerah yang mudah dijangkau. Bila perlu pemerintah provinsi bisa realokasi pada kabupaten/kota yang masih memiliki stok vaksin yang cukup banyak untuk diberikan kepada kabupaten/kota lain yang tentu memiliki stok vaksin sedikit di minggu tersebut," jelas Nadia.
 
Dengan adanya pendistribusian vaksin ke daerah yang masih kekurangan stok, Nadia optimistis dapat mengejar target penyuntikan hingga 2 juta dosis sehari pada September ini. "Dengan distribusi vaksin sebanyak 15,2 juta di minggu ke-4 Agustus ini dan 20,3 juta di minggu ke 5 Agustus hingga awal September nanti. Maka kami yakin target 2 juta dosis per hari bisa dicapai," pungkasnya.
Diterbitkan di Berita

JAKARTA, HOLOPIS.COM  Pemerintah terus dorong program vaksinasi terus berjalan sampai masyarakat Indonesia secara keseluruhan telah rata mendapatkan.

Oleh karena itu ditegaskan Presiden Joko Widodo bahwa pemerintah daerah segera percepat program vaksinasi dan bukan malah ditimbun selama berhari hari.

“Jangan biarkan vaksin itu berhenti sehari-dua hari, langsung suntikkan kepada masyarakat,” kata Jokowi dalam rapat terbatas, Sabtu (7/8).

Jokowi kemudian malah memerintahkan agar pemerintah daerah langsung minta saja stok vaksin jika memang ketersediaan mereka telah habis. Padahal, selama ini sendiri masih banyak beberapa daerah yang belum mendapatkan pasokan vaksin secara merata.

“Habis, minta (pemerintah) pusat lagi. Jangan ada stok vaksin terlalu lama, baik di dinkes maupun di rumah sakit dan puskesmas,” tukasnya.

Jokowi juga memerintahkan agar program vaksinasi ini bisa dibuat secepat mungkin. Terlebih ketika saat ini menurutnya kondisi di luar Pulau Jawa dan Bali mulai mengalami peningkatan kasus harian yang cukup drastis.

“Perintahkan segera semua, segera suntikkan. Karena kecepatan ini juga akan memberikan proteksi pada rakyat kita. Akan saya ikuti terus, angka-angka harian ini,” tandasnya.

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengemukakan stok vaksin yang tersedia saat ini di fasilitas pemerintah pusat mencukupi untuk memenuhi permintaan daerah.

"Kita punya stok cukup vaksin. Tapi harus dipahami bahwa vaksin itu tidak bisa sekaligus vaksinasi semua sasarannya, karena dosis vaksin juga datang bertahap," kata Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), total kedatangan vaksin di Indonesia hingga Selasa (3/8) berjumlah 179,4 juta dosis vaksin terdiri atas 144,7 juta dosis berbentuk bahan baku dan 34,7 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

Sedangkan total vaksin jadi produksi PT Bio Farma berjumlah 152 juta dosis vaksin. Sebanyak 117,3 juta berupa bahan baku dan 34,7 juta berupa vaksin jadi. Bahan baku vaksin tersebut berjenis Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm dan Moderna.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes melaporkan hingga Senin (2/8), vaksin yang telah didistribusikan menuju 34 provinsi berjumlah 90.988.817 dosis. Sebanyak 68.641.750 dosis di antaranya telah digunakan.

Menurut Nadia Indonesia tidak ada masalah dengan stok vaksin. Tapi, masyarakat harus paham bahwa vaksin didistribusikan secara bertahap.

Kekosongan vaksin di beberapa daerah, kata Nadia, penyebabnya karena data stok vaksin tidak diperbarui, sehingga Kemenkes melihat stok vaksin di daerah masih aman.

Menurut Nadia, masalah ini sudah diperbaiki. Jutaan dosis vaksin sudah dan akan didistribusikan ke daerah.

"Kami sudah mendistribusikan pada pekan ketiga itu 3 juta untuk vaksin dosis kedua dan yang pekan keempat ini ada sekitar 6 juta. Nanti kami akan kirim lagi sekitar 6 juta," katanya.

Nadia mengatakan antusiasme masyarakat yang tinggi untuk mengikuti vaksinasi juga mempengaruhi persediaan vaksin di Tanah Air. Apalagi, sekarang usia sasaran vaksinasi semakin luas.

"Sekarang ini vaksinasi tidak ada batasan khusus, artinya siapapun, usia di atas 12 tahun bisa divaksin. Jadi tentu harus cermat mengatur kuota vaksinnya," ujarnya.

Nadia meminta masyarakat tidak perlu khawatir jika tidak menerima vaksin dosis kedua tepat pada tanggal yang sudah ditetapkan vaksinator. Masih ada waktu sampai 28 hari setelah dosis pertama disuntikkan.

Pemerintah juga memperluas kerja sama dengan swasta untuk menjangkau lebih banyak masyarakat yang divaksin. "Potensi swasta ini kan akan sangat banyak, bagaimana semakin banyak sentra-sentra vaksinasi yang kita buka," ujarnya.

Kemenkes juga berupaya menambah tenaga vaksinator mengingat Indonesia akan menerima sangat banyak dosis vaksin pada Oktober 2021.

"Oktober itu kemungkinan dua kali lipat dari yang saat ini kita terima jumlah vaksinnya. Tentunya kita harus segera menyuntikkan kepada masyarakat. Jadi memang harus segera diperluas (akses vaksin)," katanya.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Siang ini, Indonesia kembali kedatangan vaksin tahap ke-30 yang berjumlah 21.2 juta dosis vaksin bentuk bulk atau bahan baku produksi Sinovac.

Koordinator Komite Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang juga Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah selalu memastikan keamanan, kualitas atau mutu, dan khasiat atau efikasi untuk seluruh jenis vaksin yang diperoleh. 

Vaksin yang disediakan di Indonesia melalui proses evaluasi Badan POM atas rekomendasi dari ITAGI (Indonesia Technical Advisory Group on Immunization), WHO (Badan Kesehatan Dunia) dan para ahli. Warga masyarakat diminta tidak ragu atau khawatir untuk menerima vaksin.

"Bapak Presiden Joko Widodo menekankan bahwa vaksinasi COVID-19 game changer yaitu langkah krusial untuk menentukan kesuksesan kita untuk keluar dari pandemi ini," ujar Menko Airlangga, Selasa (27/7/2021).

Untuk mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok, lanjutnya, dibutuhkan sekitar 208 juta penduduk Indonesia yang divaksinasi. Jumlah ini meningkat setelah ditambahkan kelompok anak usia 12-17 tahun.  Saat ini, 718 ribu anak telah mendapatkan vaksin dosis pertama.

"Semakin cepat, tentunya akan semakin baik," kata Airlangga.

Setelah melakukan vaksinasi pada tenaga kesehatan, petugas publik, penduduk lanjut usia, menurut Airlangga, pemerintah bekerja keras untuk menjangkau masyarakat umum dan rentan. Hingga 26 Juli 2021, telah dilakukan vaksinasi sejumlah 64,13 juta dosis, yang terdiri dari suntikan dosis pertama mencapai 45.5 juta dosis dan dosis kedua 18.6 juta.

"Perlu ditekankan kembali, vaksinasi adalah salah satu strategi pemerintah untuk penanganan pandemi Covid-19," katanya.

Airlangga mengingatkan, vaksinasi tetap perlu didampingi kedisiplinan masyarakat dan dilakukan secara bersama. Karenanya, pemerintah juga terus mendorong kedisiplinan masyarakat menerapkan protokol kesehatan, memakai masker, menjaga jarak, dan cuci tangan. Pada saat yang sama, pemerintah juga berkomitmen terus meningkatkan kapasitas testing, tracing, dan treatment. 

Serta secara paralel menguatkan sistem kesehatan guna mengantisipasi lonjakan kasus dan mengambil kebijakan untuk perpanjangan PPKM hingga 2 Agustus 2021.

Dia berharap, kerja sama yang baik semua pihak untuk penanggulangan Covid-19, termasuk program vaksinasi. 

"Sehingga bangsa kita bisa mengendalikan pandemi Covid-19. Rakyat sehat, ekonomi bisa kembali bangkit," ujar Airlangga.

Pemerintah, kata Airlangga, masih akan terus berupaya mendatangkan vaksin melalui seluruh jalur yang ada guna memastikan ketersediaan stok vaksin untuk mencapai target sasaran vaksinasi.

Melalui kedatangan vaksin tahap 30 yang berjumlah 21.2 juta dosis vaksin bentuk bulk produksi Sinovac ini, membuat total vaksin bulk yang telah diterima Indonesia menjadi 144.7 juta dosis vaksin. Setelah diolah Bio Farma diperkirakan menjadi sekitar 117.3 juta dosis vaksin bentuk jadi. 

Ditambah vaksin jadi yang telah datang, total vaksin yang dimiliki Indonesia kombinasi vaksin dalam bentuk bulk dan vaksin jadi adalah sebanyak 173.1 juta dosis vaksin.

Diterbitkan di Berita

voi.id JAKARTA – Melalui keterangan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin terungkap bahwa ketersediaan vaksin COVID-19 di dalam negeri dalam kondisi terbatas.

Dia menyebut bahwa stok vaksin saat ini berada di angka 8 juta dosis. Dari jumlah tersebut, 3 juta diantaranya merupakan produksi dalam negeri melalui Bio Farma. Sementara sisanya merupakan pengadaan dari mancanegara dan sejumlah produsen.

Dalam hitung-hitungannya, laju penyuntikan vaksin sempat menyentuh angka tertinggi 500.000 dosis perhari. Namun, seiring dengan ketersedian stok yang mulai menipis dan periode Ramadan, kecepatan injeksi turun menjadi rata-rata penyuntikan sekitar 350.000 hingga 400.000 dosis perhari.

“Kalau 8 juta saat ini dan penyuntikan 400.000 sehari, kita punya stok 20 hari suntik,” ujar dia saat menggelar rapat virtual, Jumat, 23 April.

Artinya, jika dihitung 20 hari ke depan berdasarkan  momentum Ramadan sekarang, maka aktivitas vaksinasi diperkirakan bakal terhenti pada H+2 atau H+3 setelah Lebaran apabila pemerintah tidak mendapat pasokan baru.

Menkes menambahkan, salah satu rintangan yang menjadi kendala di lapangan adalah terkait dengan proses produksi vaksin yang cukup memerlukan waktu lama.

“Memang agak mepet (stok vaksin saat ini), karena siklus produksi vaksin Bio Farma itu sekitar satu bulan setelah menerima bahan baku,” tutur dia.

Lebih lanjut, mantan bankir tersebut menjelaskan bahwa hingga hari ini Indonesia telah memperoleh 26,2 juta dosis vaksin. Dari jumlah itu, 18 juta sudah disalurkan dalam program vaksinasi. Sedangkan sisanya merupakan stok saat ini yang masih terus disalurkan oleh pemerintah.

Secara total, Indonesia merencanakan pengadaan 426 juta vaksin COVID-19 lewat berbagai upaya. Adapun, jumlah yang telah disepakati oleh pihak produsen sebanyak 225 juta dosis.

Pemerintah disebut Menkes, terus mengupayakan berbagai langkah untuk bisa mengamankan pasokan vaksin agar bisa mencukupi target awal pengadaan.

“Tapi memang jadwal pengiriman bisa bergeser-geser tergantung dari masalah logistik, produksi, dan kadang-kadang persoalan prioritas dari negara produsen,” katanya.

“Kita juga masih menunggu opsi vaksin gratis dari Gavi yang sudah komitmen 11 juta dosis,” sambung Menkes.

Dukungan fiskal

Terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani pada Konferensi Pers APBN Kita yang digelar pada Kamis, 22 April menyebutkan anggaran Kesehatan yang terdapat dapat dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 berjumlah Rp176,3 triliun.

Adapun, realisasi hingga Maret 2021 sebesar Rp12,4 triliun atau sekitar 7 persen dari pagu yang disediakan.

Sementera itu, penggunaan anggaran untuk program vaksinasi COVID-19 hingga saat ini disebutkan telah menyedot uang uang negara tidak kurang Rp36 triliun.

Bio Farma kejar produksi

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito meminta masyarakat tidak khawatir dengan ketersediaan vaksin. Pasalnya, Bio Farma kini tengah bekerja ekstra keras untuk memproduksi vaksin yang didapat dari bulk (bahan baku) asal mancanegara.

"Akan ada tambahan sekitar 20 juta dosis vaksin COVID-19 hasil produksi Bio Farma, sehingga diharapkan program vaksinasi pada bulan April Mei 2021 dapat terus berjalan," katanya di saluran Youtube Sekretariat Presiden, Kamis, 22 April.

DPR ingatkan pemerintah

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah segera melakukan langkah taktis guna menjamin ketersediaan vaksin nasional tercukupi

"Kalau pemerintah lambat, maka tujuan herd immunity sulit untuk kita capai," ujar Netty.

Wakil ketua Fraksi PKS ini khawatir Indonesia tidak dapat mewujudkan target 1 juta dosis suntikan perhari karena mengalami kekosongan vaksin.

"Kalau vaksin kita kosong, maka proses vaksinasi tidak bisa dilanjutkan. Pastinya, ini akan berdampak pada tidak tuntasnya vaksinasi dalam waktu 15 bulan sebagaimana target dari pemerintah" katanya.

Impor vaksin tembus Rp6 triliun dalam tiga bulan

Badan Pusat Statistik (BPS) mengkonfirmasi bahwa Indonesia telah melakukan impor vaksin senilai 443,4 Juta dolar AS atau setara Rp6,49 triliun (kurs Rp14.625) pada sepanjang kuartal I 2021.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan angka tersebut melonjak 1.315 persen dibandingkan dengan kuartal I 2020.

“Tentu saja peningkatan ini berkaitan dengan kondisi pandemi yang belum terjadi pada awal tahun lalu,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis, 15 April.

Suhariyanto menambahkan untuk impor vaksin pada sepanjang Maret 2021 tercatat sebesar 178,7 juta dolar AS, atau melejit 102,5 persen dari realisasi pada Februari 2020. BPS sendiri menggolongkan vaksin dalam barang impor berkode HS 30022090.

“Perlu diingat bahwa ini merupakan angka realisasi impor vaksin secara keseluruhan dan tidak hanya sebatas pada vaksin COVID-19,” tuturnya.

Diterbitkan di Berita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, stok vaksin Covid-19 di bulan April terancam habis, akibat embargo dari India. Ia memprediksi, sisa vaksin yang ada kini akan habis sekira 15 hari ke depan.

"Di bulan April, laju penyuntikan kita sekarang udah 500 ribu per hari dan kalau kita punya cuma 7 juta itu artinya 14 hari (habis) dan sekarang sedang kita atur bagaimana vaksinasinya," ujarnya dalam diskusi, Minggu (28/3/2021).

Budi menuturkan, jika sesuai rencana Indonesia akan menerima 11 juta dosis vaksin Covid-19 dari COVAX GAVI yang akan diterima secara bertahap hingga Mei 2021. Dan, saat ini Indonesia memiliki stok vaksin jadi di Bio Farma hanya 7 juta dosis.

"Ini bulan April vaksin Sinovac cuma 7 juta. Saya pikir bisa dapat 7,5 juta (tambahan) dari COVAX, sehingga 15 juta jadi bisa untuk vaksinasi. Tapi sepertinya akan dapat cuma 1,1 juta, 10,6 juta vaksinya tertahan," ungkap mantan wakil menteri BUMN ini.

Sebelumnya Budi menyampaikan, program vaksinasi yang tengah genjar dilakukan pemerintah terkendala pasokan vaksin. Penyebabnya, India sebagai negara produsen vaksin terbesar sedang melakukan embargo, lantaran kasus Covid-19 di negara itu meningkat.

India disebut Budi, merupakan produsen untuk vaksin AstraZeneca, Novavax, maupun Pfizer. "Ini ada berita buruk. India ini sedang naik (kasus Covid-19), karena naik India embargo vaksin eggak boleh keluar lagi vaksinnya.

Enggak kirim ke COVAX GAVI, karena memang India adalah pabrik vaksin terbesar di dunia di luar Cina. Jadi Novavax, AstraZeneca, juga kabarnya Pfizer dibuat di sana," terang Budi.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Sanusi

 

Diterbitkan di Berita