VIVA – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo setuju usulan untuk membongkar jalur sepeda permanen yang dibuat oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan atau Pemerintah Provinsi DKI di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat.

“Prinsipnya, kami akan terus mencari formula yang pas. Kami setuju masalah permanen itu dibongkar saja,” kata Sigit saat rapat kerja dengan Komisi III DPR di Senayan pada Rabu, 16 Juni 2021.

Namun, Sigit mengatakan Polri akan melakukan study banding ke beberapa negara terdekat terkait jalur sepeda. Selain itu, pengaturan rute sepeda baik sepeda yang digunakan untuk kerja maupun olahraga.

“Nanti diatur terkait jam, pengaturan luas wilayah daerah mana saja,” ujarnya.

Tentu, kata Sigit, Polri akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Daerah Provinsi Jakarta. Namun, jalur sepeda untuk masyarakat harus tetap ada.

“Jam dibatasi sehingga tidak mengganggu para pengguna atau moda lain yang memanfaatkan jalur tersebut. Ini akan terus kami perbaiki, mudah-mudahan bisa kita laksanakan dengan sebaiknya,” ujarnya.

Diterbitkan di Berita

KBRN, Cirebon: Setiap tanggal 3 Juni, masyarakat dunia khusunya pesepeda memperingati Hari Sepeda Dunia atau World Bicyle Day. PBB meresmikan World Bicycle Day di New York, Amerika Serikat, pada 3 Juni 2018.

Peringatan ini disepakati dalam pertemuan rutin Majelis Umum PBB pada 12 April 2018 tersebut diadopsi oleh 193 negara anggota. Indonesia merupakan salah satu negara pendukung utama resolusi tersebut.

Mengenal sepeda tentu sudah tidak asing lagi bagi kita, alat transportasi ramah lingkungan ini ternyata juga mempunyai sejarah. Tentu saja bentuk sepeda pada zaman dahulu sangat berbeda dibandingkan dengan pada zaman sekarang. Semua itu tidak lepas dari kreativitas dan inovasi yang dikembangkan oleh para ahli dari berbagai bidang yang saling melengkapi satu sama lain.

Sepeda pertama kali ditemukan oleh Baron Karl Drais von Sauerbronn atau lebih dikenal dengan sebutan nama Karl Drais. Karl Drais lahir pada tanggal 29 April 1785 di Karlsruhe, tepatnya di Negara Jerman. Ia berprofesi sebagai kepala pengawas hutan. Munculnya ide sebenarnya lahir dari masalah yang kita hadapi.

Seperti masalah yang dihadapi oleh Karl Drais, untuk menunjang tugasnya sebagai kepala pengawas hutan, ia membutuhkan alat transportasi dengan mobilitas tinggi. Dari situlah muncul ide untuk menciptakan alat transportasi untuk menunjang pekerjaannya. Akhirnya terbentuklah sebuah alat transportasi bernama sepeda, bentuk awal dari sepeda yang diciptakan oleh Karl Drais adalah berbentuk sepeda beroda tiga tanpa pedal.

Karl Drais memulai perjalanan pertamanya pada 12 Juni 1817, dari kota Manheim ke kota Schwetzinger Relaishaus, kemudian ia melakukan perjalanan keduanya dari kota Gernsbach ke kota Baden pada tahun 1817, karena semua masyarakat masih belum mengenal sepeda, Karl Drais dilaporkan dapat melaju dengan cepat.

Berkat perjalanannya dengan sepeda buatannya tersebut, banyak media meliput. Media yang masih ngetren saat itu adalah Koran. Ia dimuat dikoran lokal Jerman pada tahun 1817.

Sepeda yang dibuat oleh Karl Drais sendiri diberi nama Draisienne, namun sayangnya popolaritasi Karl Drais tidak berlangsung lama. Munculnya sepeda dengan merk-merk terbaru dengan keunggulan masing-masing menggeser Karl Drais.

Munculnya sepeda pada zaman dahulu seperti mobil pada zaman sekarang, yang hanya orang-orang tertentu yang dapat membelinya. Seperti bangsawan dan para penguasa yang dapat menikmati alat transportasi ini.

Hari Sepeda Sedunia adalah kesempatan bagi orang-orang di seluruh dunia untuk memberi penghormatan kepada sepeda yang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat. Mengendarai sepeda bisa menjadi sebuah profesi, suatu bentuk hiburan, alat untuk kebebasan, atau bentuk ekspresi.

Sepeda bebas untuk dikendarai, tidak ada yang melarang orang naik sepeda, khususnya di Indonesia. Bersepad baik untuk kesehatan fisik dan mental, baik untuk lingkungan dan ekonomi, dan merupakan cara bebas stres untuk mencapai tujuan.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Beritasatu.com – Kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperbolehkan sepeda nonlipat masuk ke MRT Jakarta menimbulkan kontrovesi. Sejumlah pihak mendukung kebijakan tersebut karena menjadikan sepeda sebagai sarana tranportasi yang bebas polusi.

Sementara pihak lain menolak kebijakan tersebut karena dinilai akan mengganggu penumpang yang lain.

Menanggapi kritikan dan penolakan sejumlah pihak, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria memastikan bahwa keberadaan sepeda nonlipat tersebut tidak akan mengganggu pelanggan MRT Jakarta yang lain.

Pasalnya, waktu dan jumlahnya dibatasi serta ditempatkan pada gerbong terakhir dari MRT Jakarta.

“Jadi begini, kebijakan itu dibatasi jamnya, tidak pada jam-jam sibuk, sebelum jam 7, jumlahnya dibatasi, gerbong juga gerbong terakhir. Jadi sekali lagi pengguna MRT tidak akan terganggu,” ujar Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (25/3/2021).

Kebijakan tersebut, kata Riza, juga mendorong sepeda untuk dijadikan sebagai alat transportasi, bukan saja sebagai alat olahraga atau rekreasi. Selain itu, tutur dia, kebijakan ini juga mendukung kita agar lebih sehat jasmani dan rohani.

“Dan ini penting dalam rangka mendukung supaya kita lebih sehat jasmani dan rohani, kemudian agar polusi udara kita semakin baik, semakin biru langit kita, dan juga ramah lingkungan dan sebagainya.

Dan kita memberikan ruang sekarang teman teman tahu bahwa di Jakarta kita terus memperluas atau memperpanjang jalur sepeda yang ada. Setiap tahun akan kita tingkatkan dan sekarang kita juga memberikan kesempatan bahwa sepeda bisa masuk ke MRT,” jelas Riza.

Salah satu pengkritik kebijakan sepeda nonlipat bisa masuk di MRT Jakarta adalah anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP Gilbert Simanjutak yang menilai kebijakan tersebut aneh dan tidak prorakyat.

Menurut Gilbert, dengan menempatkan sepeda di MRT maka sepada bukan lagi menjadi alat transportasi tetapi menjadi beban transportasi.

“Saya tidak melihat kebijakan ini prorakyat, karena para pesepeda yang serius bukan untuk life style atau gaya-gaya-an, dan pasti merasa aneh naik MRT, karena tujuan mereka bersepeda untuk olahraga.

Aneh kalau di Jakarta sepeda masuk transportasi publik. Itu bukan alat transportasi lagi, tapi beban transportasi,” ujar Gilbert kepada wartawan, Kamis (25/3/2021).

Gilbert juga mengakui tidak pernah melihat di luar negeri sepeda nonlipat masuk transportasi publik dalam kota. Kalau antarkota, kata dia, biasanya ada gerbong khusus untuk menyimpan sepeda.

“Jadi, sebaiknya semua kebijakan diperhitungkan baik-baik, buat kepentingan seluruh masyarakat. Bukan kepentingan sekelompok orang. Pedagang yang bawa pikulan saja untuk keperluan hidup, sudah tidak bisa masuk KCI dari Bogor dan Bekasi, pesepeda dapat fasilitas.

Alasan KCI dulu karena mengganggu penumpang,” pungkas Gilbert.

Diterbitkan di Berita