Elshinta.com - Gereja Ortodoks berpengaruh di Rusia memperingatkan orang-orang yang menolak divaksin COVID-19, menyebutnya sebagai pendosa yang harus bertobat selama sisa hidup mereka, saat negara itu melaporkan lonjakan baru infeksi dan kematian.

Gereja meminta umatnya agar disuntik vaksin saat 24.353 infeksi baru COVID-19 dilaporkan pada Senin, termasuk 6.557 infeksi di Moskow, sehingga totalnya mencapai 5.635.294 infeksi.

Satgas COVID-19 pemerintah mengatakan dalam sehari 654 orang meninggal karena COVID-19, menambah total menjadi 138.579.

Badan statistik federal melakukan pendataan terpisah dan menyebutkan Rusia mencatat sekitar 270.000 kematian COVID-19 selama periode April 2020-April 2021.

Berbicara di stasiun TV pemerintah Metropolitan Hilarion, kepala departemen hubungan eksternal gereja Patriarkh Moskow, mengatakan mereka yang menolak divaksin melakukan "sebuah dosa yang harus mereka tebus seumur hidup mereka."

Ia menambahkan: "Setiap hari saya menyaksikan situasi di mana orang-orang mendatangi pendeta untuk mengakui bahwa mereka menolak untuk memvaksin diri mereka sendiri atau orang terdekat mereka dan akhirnya menyebabkan kematian seseorang.

"... Dosanya yakni memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain."

Sumber: Reuters

 
Diterbitkan di Berita

voi.id JAKARTA - Pengembang virus COVID-19 Sputnik lansiran Rusia, mengklaim vaksin tersebut mampu melindungi penerimanya dari berbagai jenis virus corona yang diketahui ada di dunia saat ini.

Kepala pengembangan vaksin, Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya, Alexander Gintsburg mengatakan, hal ini dimungkinkan seiring dengan antibodi yang dikembangkan oleh pihaknya. 

"Anti-bodi sebagai hasil penggunaan Sputnik V melindungi terhadap semua jenis varian COVID-19 yang dikenal saat ini, mulai dari jenis Inggris hingga jenis Delta Indian," kata Gintsburg kepada Rossiya-1 seperti dikutip dari TASS, Senin 21 Juni.

Lebih jauh Gintsburg menjelaskan, varian Delta COVID-19 yang pertama kali ditemukan di India, merupakan varian yang menyebabkan transisi lebih cepat dari gejala ringan ke jenis penyakit yang lebih serius. 

"Ini (strain India) lebih agresif, mengurangi waktu transisi dari gejala ringan ke bentuk penyakit yang serius, sehingga memotong waktu kemungkinan munculnya antibodi sendiri," ungkap Gintsburg.

Vaksin Sputnik V tidak hanya digunakan di Rusia, melainkan juga di berbagai negara di belahan dunia. Akhir bulan lalu, Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) menandatangani kesepakatan dengan Dana Darurat Anak Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), terkait pasokan vaksin COVID-19.

Total ada 220 juta dosis vaksin Sputnik V yang akan disiapkan untuk UNICEF. Sebelumnya, RDIF mengumumkan telah melamar ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk registrasi dan prakualifikasi Sputnik V pada Oktober 2020. Keputusan WHO diharapkan terbit dalam waktu dekat.

RDIF juga akan melakukan pembicaraan dengan Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI), untuk membahas kemungkinan memasukkan Sputnik V ke dalam portfolio COVAX vaksin virus corona. 

Untuk diketahui, Rusia mencatat 5.316.826 kasus COVID-19, sementara 4.869.972 orang telah pulih dan 129.361 meninggal sejak pandemi tahun lalu.

Diterbitkan di Berita

Novi Christiastuti - detikNews Moskow - Otoritas Rusia mengklaim telah menewaskan hingga 200 militan di Suriah dalam serangan udara yang ditargetkan ke markas 'teroris' di sebelah timur laut kota Palmyra, Provinsi Homs.

Militan di wilayah tersebut diduga merencanakan serangan menjelang pemilihan presiden (pilpres) bulan depan.

Seperti dilansir AFP, Selasa (20/4/2021), klaim tersebut disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataan terbaru pada Senin (19/4) waktu setempat. Rusia merupakan sekutu penting rezim Presiden Bashar al-Assad dalam konflik Suriah yang berlangsung sejak tahun 2011.

"Setelah mengonfirmasi data melalui berbagai saluran di lokasi fasilitas teroris, pesawat-pesawat Angkatan Udara Rusia melancarkan serangan udara," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.

"Dua tempat persembunyian dihancurkan, hingga 200 militan (tewas), 24 truk pikap dengan senapan mesin kaliber besar, juga sekitar 500 kilogram amunisi dan komponen untuk membuat alat peledak rakitan," imbuh pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut tidak menyebut secara spesifik soal tanggal pelaksanaan serangan maupun kelompok yang menjadi target serangan.

Disebutkan Kementerian Pertahanan Rusia bahwa targetnya merupakan 'pangkalan kamuflase' di mana 'kelompok-kelompok teroris' merencanakan serangan di Suriah dan merakit peledak.

"Mereka merencanakan serangan teroris dan serangan terhadap badan-badan pemerintahan di kota-kota besar untuk mendestabilisasi situasi di negara tersebut menjelang pemilihan presiden di Suriah," sebut Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataannya.

Pilpres Suriah dijadwalkan akan digelar pada 26 Mei mendatang. Pilpres ini merupakan yang kedua digelar sejak konflik Suriah pecah tahun 2011, dengan penindakan unjuk rasa antipemerintah menewaskan lebih dari 388 ribu orang. Diperkirakan Assad akan tetap berkuasa di negara yang dilanda konflik itu.

Rusia mulai meluncurkan operasi intervensi militer terhadap konflik Suriah sejak tahun 2015, demi membantu membalikkan gelombang pertempuran.

Pada Senin (19/4) waktu setempat, Kementerian Pertahanan Rusia menyebut para 'teroris' itu mendapat pelatihan di beberapa kamp yang ada di area Provinsi Homs yang tidak dikuasai rezim Suriah. "Termasuk di area Al-Tanf, yang dikuasai oleh militer AS (Amerika Serikat)," imbuh pernyataan itu.

Pada Februari lalu, Rusia mengecam serangan udara AS terhadap milisi yang didukung Iran di wilayah Suriah bagian timur. Rusia menuntut AS menghormati integritas wilayah Suriah. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, pada saat itu menyatakan Rusia ingin mengetahui rencana AS di Suriah.

(nvc/ita)

Diterbitkan di Berita

Tim Detikcom - detikNews Jakarta - Militer Rusia melancarkan serangkaian serangan udara di wilayah Suriah. Sejumlah jet tempur Rusia membombardir sebuah fasilitas gas, sebuah pabrik semen dan beberapa kota di wilayah Suriah sebelah barat laut, dekat perbatasan Turki. Gempuran dilancarkan Rusia saat militer Suriah melancarkan serangan artileri di area yang sama.

Seperti dilansir Reuters, Senin (22/3/2021), sejumlah saksi mata dan sumber pemberontak setempat menyebut serangan artileri Suriah itu mengenai sebuah rumah sakit dan menewaskan tujuh orang serta melukai 14 paramedis.

Sejumlah sumber menyebut gempuran rudal permukaan-ke-permukaan milik Rusia juga mengenai kota Qah, sedangkan serangan udara Rusia mengenai area di dekat kamp pengungsian yang padat penduduk di sepanjang perbatasan Turki.

Sebuah fasilitas gas yang ada di dekat kota Sarmada, Provinsi Idlib terkena gempuran Rusia itu. Puluhan trailer yang membawa barang di area parkir dekat perbatasan Bab al Hawa terbakar dalam serangan terbaru itu.

Juru bicara Tentara Nasional, aliansi pemberontak yang didukung Turki, menyebut Rusia yang mendukung rezim Suriah berupaya mendestabilisasi markas terakhir pemberontak di Suriah dan mengganggu aktivitas komersial.

Sumber-sumber intelijen Barat menyebut Rusia ada di balik serangan rudal balistik pada awal bulan ini, yang membakar puluhan kilang minyak lokal di dekat al-Bab dan Jarablus, yang dikuasai pemberontak di mana Turki memegang kendali dan mengerahkan militer secara signifikan.

"Serangan udara Rusia terus berlanjut. Rudal balistik juga menghantam daerah yang dekat dengan pusat-pusat sipil," tutur Mayor Youssef Hamoud kepada Reuters. "Mereka berusaha memicu kekacauan dan kebingungan," imbuhnya.

Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Turki menyatakan bahwa sebuah rudal yang ditembakkan pasukan pemerintahan Suriah menghantam wilayah Qah dan mengenai sebuah truk dan taman trailer di dekat Sarmada. Gempuran rudal itu disebut melukai tujuh warga sipil.

Kementerian Pertahanan Turki mengirimkan pernyataan kepada Rusia yang isinya meminta gempuran dihentikan segera dan memberitahu bahwa tentara Turki telah disiagakan. Belum ada komentar Rusia atas laporan serangan ini.

Pertempuran antara militer Suriah dan pemberontak mereda sejak kesepakatan tercapai setahun lalu untuk mengakhiri operasi pengeboman pimpin Rusia yang membuat 1 juta orang di dekat perbatasan Turki kehilangan tempat tinggal.

Penduduk setempat menyatakan meski tidak ada pertempuran besar, ketenangan kadang-kadang diganggu oleh gempuran Rusia terhadap pos pemberontak dan serangan milisi yang didukung Iran dan Suriah di area tersebut.

Suriah dan Rusia menyatakan mereka hanya menargetkan militan dan menyangkal adanya serangan tanpa pandang bulu di are-area sipil atau serangan disengaja terhadap rumah sakit dan infrastruktur sipil. 

(ita/lir)

Diterbitkan di Berita

Syaiful W Harahap tagar.id Jakarta - Konflik di Suriah memasuki babak baru setelah militer Turki melancarkan serangan terhadap posisi milisi Kurdi di timur laut Suriah. Inilah faksi-faksi yang berperang di Suriah. Elizabeth Schumacher dan Alexander Pearson menuliskannya untuk dw.com/id.

suriah1

Perang Tiada Akhir (Foto: dw.com/id)

 

Perang Tiada Akhir - Suriah telah dilanda kehancuran akibat perang saudara sejak 2011 setelah Presiden Bashar Assad kehilangan kendali atas sebagian besar negara itu karena berbagai kelompok revolusioner. Sejak dari itu, konflik menarik berbagai kekuatan asing dan membawa kesengsaraan dan kematian bagi rakyat Suriah.

suriah2

Kelompok Loyalis Assad (Foto: dw.com/id)

 

Kelompok Loyalis Assad - Militer Suriah yang resminya bernama Syrian Arab Army (SAA) alami kekalahan besar pada 2011 terhadap kelompok anti-Assad yang tergabung dalam Free Syrian Army. SAA adalah gabungan pasukan pertahanan nasional Suriah dengan dukungan milisi bersenjata pro-Assad. Pada bulan September, Turki meluncurkan invansi militer ketiga dalam tiga tahun yang menargetkan milisi Kurdi.

suriah3

Militer Turki (Foto: dw.com/id)

 

Militer Turki – Hampir semua negara tetangga Suriah ikut terseret ke pusaran konflik. Turki yang berbatasan langsung juga terimbas amat kuat. Berlatar belakang permusuhan politik antara rezim di Ankara dan rezim di Damaskus, Turki mendukung berbagai faksi militan anti-Assad.

suriah4

Tentara Rusia (Foto: dw.com/id)

 

Tentara Rusia - Pasukan dari Moskow terbukti jadi aliansi kuat Presiden Assad. Pasukan darat Rusia resminya terlibat perang 2015, setelah bertahun-tahun menyuplai senjata ke militer Suriah. Komunitas internasional mengritik Moskow akibat banyaknya korban sipil dalam serangan udara yang didukung jet tempur Rusia.

suriah5

Sekutu Barat (Foto: dw.com/id)

 

Sekutu Barat – Sebuah koalisi pimpinan Amerika Serikat yang terdiri lebih dari 50 negara, termasuk Jerman, mulai menargetkan Isis dan target teroris lainnya dengan serangan udara pada akhir 2014. Koalisi anti-Isis telah membuat kemunduran besar bagi kelompok militan. AS memiliki lebih dari seribu pasukan khusus di Suriah yang mendukung Pasukan Demokrat Suriah.

suriah6

Pemberontak Free Syrian Army (Foto: dw.com/id)

 

Pemberontak Free Syrian Army - Kelompok Free Syrian Army mengklaim diri sebagai sayap moderat, yang muncul dari aksi protes menentang rezim Assad 2011. Bersama milisi nonjihadis, kelompok pemberontak ini terus berusaha menumbangkan Presiden Assad dan meminta pemilu demokratis. Kelompok ini didukung Amerika dan Turki. Tapi kekuatan FSA melemah, akibat sejumlah milisi pendukungnya memilih bergabung dengan grup teroris.

suriah7

Pemberontak Kurdi (Foto: dw.com/id)

 

Pemberontak Kurdi - Perang Suriah sejatinya konflik yang amat rumit. Dalam perang besar ada perang kecil. Misalnya antara pemberontak Kurdi Suriah melawan ISIS di utara dan barat Suriah. Atau juga antara etnis Kurdi di Turki melawan pemerintah di Ankara. Etnis Kurdi di Turki, Suriah dan Irak sejak lama menghendaki berdirinya negara berdaulat Kurdi.

suriah8

Islamic State ISIS (Foto: dw.com/id)

 

Islamic State ISIS - Kelompok teroris Islamic State (Isis) yang memanfaatkan kekacauan di Suriah dan vakum kekuasaan di Irak, pada tahun 2014 berhasil merebut wilayah luas di Suriah dan Irak. Wajah baru teror ini berusaha mendirikan kekalifahan, dan namanya tercoreng akibat genosida, pembunuhan sandera serta penyiksaan brutal.

suriah9

Afiliasi Al Qaeda (Foto: dw.com/id)

 

Afiliasi Al Qaeda - Milisi teroris Front al-Nusra yang berafiliasi ke Al Qaeda merupakan kelompok jihadis kawakan di Suriah. Kelompok ini tidak hanya memerangi rezim Assad tapi juga terlibat perang dengan pemberontak yang disebut moderat. Setelah merger dengan sejumlah grup milisi lainnya, Januari 2017 namanya diubah jadi Tahrir al-Sham.

suriah10

Pasukan Iran (Foto: dw.com/id)

 

Pasukan Iran - Iran terlibat pusaran konflik dengan mendukung rezim Assad. Konflik ini juga jadi perang proxy antara Iran dan Rusia di satu sisi, melawan Turki dan AS di sisi lainnya. Teheran berusaha menjaga perimbangan kekuatan di kawasan, dan mendukung Damaskus dengan asistensi startegis, pelatihan militer dan bahkan mengirim pasukan darat (dw.com/id). []

Diterbitkan di Berita
Syarifudin sindonews.com MOSKOW - Komisaris Presiden Rusia untuk Hak Anak, Anna Kuznetsova, mengungkapkan negaranya telah memulangkan 145 anak Rusia mantan militan ISIS dari Suriah dan Irak sejak wabah Covid-19.
Kuznetsova mengatakan sejak awal tahun lalu, agensinya telah melakukan enam perjalanan untuk membawa anak-anak itu kembali ke Rusia, berkoordinasi dengan pihak berwenang Suriah dan Irak.
 
Tindakan pencegahan diambil setiap saat terkait virus corona. Dia menjelaskan sulit menentukan jumlah anak yang tersisa di Suriah dan Irak, tetapi sejauh ini ada dokumen yang disiapkan untuk mengembalikan 105 anak lagi. 
November lalu, Administrasi Otonomi Kurdi di timur laut Suriah menyerahkan 30 anak Rusia dari militan ISIS yang ditahan di Kamp Al-Hol, tenggara Hasakah.

Sebelumnya, Prancis telah memulangkan tujuh anak pejuang ISIS dari timur laut Suriah. Ini adalah upaya terbaru negara Eropa memulangkan warganya setelah bertahun-tahun enggan melakukannya.
Anak-anak itu berusia antara 2 dan 11 tahun. Mereka tinggal di kamp Al-Hol dan Roj yang dijalankan milisi Kurdi seperti Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG).

Menurut Kementerian Luar Negeri Prancis, anak-anak itu rentan dan telah dirawat di layanan sosial. Pemulangan terakhir ini membuat jumlah anak-anak yang dipulangkan ke Prancis menjadi 35 anak, yang sebagian besar adalah yatim piatu.

Banyak dari mereka yang ditahan di kamp adalah warga asing yang melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung ISIS beberapa tahun setelah revolusi Suriah pecah. Menurut Save the Children, lebih dari 9.000 anak warga asing tetap tinggal di wilayah tersebut dan banyak dari mereka adalah warga negara Eropa, termasuk Inggris.

Di kamp Al-Hol saja, dilaporkan ada 43.000 anak. Meskipun ada seruan organisasi hak asasi manusia dan Amerika Serikat (AS) agar Inggris dan negara Eropa lainnya memulangkan warganya serta mengadili mereka di negara asalnya, banyak yang menolak atau enggan melakukannya.
Pemerintah negara-negara Eropa berdalih risiko keamanan yang akan mereka hadapi jika mereka dipulangkan.
 
Diterbitkan di Berita
DAMASKUS, KOMPAS.com - Pesawat jet tempur Rusia meluncurkan puluhan serangan udara yang menargetkan posisi ISIS di Gurun Suriah. Melansir BBC pada Kamis (25/2/2021), serangan Jet itu mendukung operasi pasukan pro-pemerintah Suriah untuk mengamankan jalan antara Homs dan Deir al-Zour, menurut kelompok monitor.
 
Militan ISIS telah melakukan serangkaian penyergapan mematikan dan serangan tabrak lari di wilayah tersebut baru-baru ini. Terbaru pada Rabu (24/2/2021), serangan ISIS dilaporkan telah mengakibatkan terbunuhnya 9 tentara dan militan.
 
Observatorium Suriah untuk HAM yang berbasis di Inggris memantau perang di Suriah melalui jaringan sumber, mengatakan telah ada 3 orang lainnya tewas pada Selasa (23/2/2021), ketika ranjau darat yang ditanam oleh ISIS meledak di gurun dekat ak-Mayadeen, di tenggara Deir provinsi al-Zour.
 
Serangan udara Rusia pada Selasa (22/2021) membunuh setidaknya 10 militan ISIS di Deir al-Zour dan tenggara provinsi Hama. Sementara, tidak ada laporan tentang korban dari serangan pada Rabu (24/2/2021) di daerah al-Shawla dan lokasi yang disebut sebagai "segetiga Aleppo-Raqqa-Hama". 
Syria TV, saluran TV oposisi juga mengatakan bahwa jet Rusia menyerang posisi ISIS di gurun wilayah Badiya sebagai bagian dari perlawanan oleh pasukan dan militan.
 
Namun, media pemerintah Suriah tidak menyebutkan operasi yang dilaporkan tersebut.  ISIS pernah menguasai 88.000 Km persegi wilayah yang membentang dari Suriah barat hingga Irak timur dan memberlakukan aturan brutalnya pada hampir 8 juta orang.
 
Terlepas dari kekalahan teritorial ISIS di Irak pada 2017 dan Suriah pada 2019, para ahli PBB memperkirakan bahwa lebih dari 10.000 militan tetap aktif di kawasan itu. Mereka diatur dalam kelompok-kelompok kecil yang bersembunyi di gurun dan daerah pedesaan, dan dapat bergerak melintasi perbatasan yang tidak terlindungi.
 
Kepala anti-terorisme PBB, Vladimir Voronkov, memperingatkan pada pekan lalu "sisa-sisa (anggota ISIS) yang cukup besar ini dinilai sebagai ancaman besar, jangka panjang dan global".
 
Dalam perkembangan terpisah pada Rabu (24/2/2021), polisi Turki mengatakan mereka telah menangkap 2 anggota senior ISIS di Ankara dan membebaskan seorang gadis berusia 7 tahun dari minoritas Yazidi Irak yang ditahan. Salah satu tersangka diidentifikasi sebagai mantan perwira militer Irak.

Editor : Shintaloka Pradita Sicca

Diterbitkan di Berita

Nefan Kristiono MATA INDONESIA, JAKARTA – Mantan politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengingatkan kita betapa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah ancaman bagi negara, kedamaian dan perbedaan karena banyak negara membasmi induknya Hizbut Tahrir.

Terakhir dilakukan Rusia yang menangkapi anggota Hizbut Tahrir dalam sebuah operasi khusus.

“Hanya mental2 teroris yg merasa HTI bkn ancaman. HTI adalah musuh negara, ancaman bagi kedamaian dan perbedaan maka harus dibasmi di manapun,” begitu pernyataan Ferdinand yang diterima Mata Indonesia News, Minggu 21 Februari 2021.

Seperti diberitakan Kantor Berita TASS, melakukan penangkapan itu, Kamis 18 Februari 2021. Dinas Keamanan Federal (FSB), pengawal nasional dan Kementerian Dalam Negeri Rusia menggelar operasi tersebut di 10 wilayah Rusia.
 
Menurut keterangan FSB, anggota Hizbut Tahrir itu giat menggunakan saluran-saluran online menyebarkan ide-ide terorisme dengan menyebarkan intoleransi terhadap agama lain dalam upaya merekrut Muslim Rusia menjadi anggota organisasi teroris internasional.
Pemerintah Rusia telah menetapkan Hizbut Tahrir sebagai organisasi terlarang karena akan mendirikan kekhalifahan dunia dengan upaya menggulingkan pemerintahan yang sah di Rusia baik melalui kudeta militer maupun revolusi Islam.
Diterbitkan di Berita

DAMASKUS, KOMPAS.com – Rusia dilaporkan melancarkan serentetan serangan udara di sebuah gurun di Suriah dan menewaskan sedikitnya 21 anggota ISIS.

Laporan tersebut disampaikan oleh kelompok pemantau hak asasi manusia (HAM) Syrian Observatory for Human Rights sebagaimana dilansir dari AFP, Sabtu (20/2/2021). Kelompok tersebut menambahkan, Rusia melancarkan setidaknya 130 serangan udara selama 24 jam terakhir.

Serangan tersebut menyasar guru di tepi provinsi Aleppo, Hama, dan Raqqa. Serangan itu berlanjut hingga Sabtu. Pada Jumat (19/2/2021) ISIS melancarkan serangan terhadap pemerintah dan pasukan sekutu.

Sedikitnya, delapan anggota milisi pro- suriah tewas akibat serangan itu. Dalam beberapa bulan terakhir, gurun yang dikenal sebagai Badia tersebut telah menjadi tempat pertempuran yang semakin sering.

Baca juga: Israel Lancarkan Serangan Rudal ke Suriah, Ditangkis Sistem Pertahanan Udara

Bentrokan-bentrokan itu terjadi antara anggota ISIS melawan pasukan Suriah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia. ISIS memplokamirkan berdirinya sebuah “negara” dengan menduduki sebagian wilayah Suriah dan Irak pada 2014.

Namun, kelompok tersebut segera digempur oleh pasukan koalisi dari berbagai negara secara terus menerus. Baca juga: Pasukan AS Bantah Lindungi Ladang Minyak di Suriah Perlahan, wilayah kekuasaannya semakin menyempit dan posisi ISIS semakin terpojok.

Hingga akhirnya, ISIS dinyatakan kalah pada 2017 dan wilayah teritorialnya benar-benar habis pada awal 2019. Kendati demikian, ISIS masih memiliki sel-sel aktif dan anggotanya masih melancarkan serangan sporadis.

Di Suriah, anggota ISIS biasanya melancarkan serangan di gurun Badia, gurun yang yang membentang dari provinsi tengah Homs hingga perbatasan dengan Irak. Lebih dari 1.300 tentara pemerintah telah tewas akibat beberapa bentrokan dengan ISIS.

Selain itu, 145 anggota milisi pro-Iran dan lebih dari 750 anggota ISIS juga tewas, menurut Syrian Observatory for Human Rights. Sejak perang saudara Suriah meletus pada 2011, lebih dari 387.000 orang telah terbunuh dan jutaan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Editor : Danur Lambang Pristiandaru

Diterbitkan di Berita