BANDUNG, itb.ac.id--Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi meluncurkan program International Virtual Course (IVC) tahun 2021.

Program ini merupakan implementasi dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., meresmikan program International Virtual Courses tersebut pada Senin (26/7/2021) secara virtual.

Sebagai upaya memperkuat reputasi World Class University, ITB telah menyelenggarakan program summer school sejak 2017. Namun disebabkan pandemi Covid-19, program tersebut diubah menjadi International Virtual Course.

Dalam sambutannya, Rektor mengatakan bahwa program IVC menjadi solusi yang ditawarkan ITB untuk menyebarkan ilmu pengetahuan kepada publik baik internal maupun eksternal, terutama di masa pandemi.

Kegiatan tersebut akan tetap dijalankan secara berkualitas dengan dukungan oleh staf dan mitra akademik terbaik. “Program IVC-ITB telah kami selenggarakan selama dua tahun berturut-turut.

Tahun lalu, kami menawarkan 13 kursus dan menerima pelamar dari hampir seribu kandidat. 40% pendaftar adalah mahasiswa ITB, 40% mahasiswa asing, dan sisanya mahasiswa dari seluruh Indonesia," ujar Rektor.

 

 

Para mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia juga mengikuti program ini sejalan dengan Program Pertukaran Mahasiswa Permata Sakti dari Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Tahun ini program IVC ITB menawarkan 42 materi perkuliahan dengan jumlah peserta yang sudah mendaftar lebih dari 5.500.

Mereka yang sudah mendaftar di antaranya 1.700 mahasiswa ITB, sekitar 1.300 mahasiswa asing dan lebih dari 2.300 mahasiswa non-ITB dari seluruh Indonesia, serta 300 lainnya adalah profesional. 

Rektor berharap, para peserta yang mengikuti IVC dapat mengambil manfaat selama proses pembelajaran berlangsung.

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Pendidikan Berkelanjutan di Direktorat Pendidikan Non-Reguler ITB Dr. Mohammad Rachmat Sule menjelaskan, pengambilan mata kuliah IVC diambil secara nonreguler.

“Jadi seluruh peserta, apakah mahasiswa ITB dari berbagai prodi, mahasiswa asing, mahasiswa Non-ITB dari wilayah lainnya di Indonesia maupun kalangan profesional dari dalam dan luar negeri harus mendaftar untuk mengambil mata kuliah IVC ini di laman admission.itb.ac.id,” ujarnya.

Setelah itu, lanjutnya, proses seleksi dilakukan oleh tim admission ITB serta tim penyelenggara di suatu IVC. Jika aplikasi mereka diterima, maka mereka akan menjadi mahasiswa nonreguler ITB, mempunyai NIM dari ITB dan dapat mengakses sistem LMS Edunex yang dikembangkan oleh ITB.

“Bagi yang lulus semua proses kegiatan akademik di suatu IVC, maka kepadanya akan diberikan transkrip nilai dan sertifikat. Bagi mahasiswa ITB, nilai dari IVC tersebut akan muncul di Sistem SIX mahasiswa tersebut, sedangkan bagi mahasiswa non-ITB dapat digunakan untuk transfer kredit di host Perguruan Tinggi-nya,” jelasnya.

Informasi mengenai program IVC dapat diakses melalui https://ditdik-nr.itb.ac.id/international-virtual-course-2021/. Sementara pendaftarannya bisa dilakukan pada website Admission ITB (https://admission.itb.ac.id/home/summer-courses/list-ivc)

 

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id--Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., beserta jajarannya menerima kunjungan dari Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad, Senin (22/3/2021) di Gedung Rektorat ITB Jalan Tamansari No.64, Bandung. Kunjungan tersebut dilakukan MPR dalam rangka meminta masukan dari ITB terhadap salah satu bagian dari pokok-pokok haluan begara yang sedang dipersiapkan oleh MPR.

Dalam kunjungan tersebut, Fadel mengatakan salah satu pokok bahasan dalam pokok-pokok haluan negara adalah terkait pengembangan biosains di Indonesia. MPR dalam hal ini ingin membuat pokok haluan negara yang akan berlaku selama 25 tahun. Untuk itu MPR meminta pendapat dari anggota DPR, DPD, tokoh masyarakat, dan perguruan tinggi. Dijelaskan Fadel, masukan dari ITB akan menjadi bahan utama berhubungan dengan pokok-pokok haluan negara dalam bidang pengembangan industri dan teknologi ke depan.

"Ternyata ini merupakan 7 program utama dari ITB dan nomor 1 yang berhubungan dengan itu (pengembangan bioteknologi). Dalam waktu dekat ini ITB akan memberikan dukungan dalam bentuk masukan berupa makalah, paper, sehingga ini bisa melengkapi dukungan bahan yang ada di MPR," ujar alumni Teknik Fisika ITB angkatan 78 ini.

 

 

ITB menyambut baik atas rencana tersebut. Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., mengatakan, saat ini di ITB memiliki pusat-pusat penelitian dan Pusat Unggulan Iptek (PUI). Salah satunya adalah Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi. Dengan demikian harapan MPR dari ITB berupa hasil penelitian, paper, laporan senat akademik, dan seminar tentang pokok-pokok haluan negara yang nantinya akan menjadi produk pemerintah dalam realisasinya.

"Naskah akademiknya akan kita sampaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kita tidak melakukan dari nol karena kita sudah mempunyai kajian mengenai hal itu (biosains/nanosains). Tinggal mempertajam untuk kebutuhan nasional," ujar Prof. Reini.

Prof. Reini melanjutkan, bahwa pokok-pokok haluan negara ini akan digunakan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pihaknya mencoba mengidentifikasi bagaimana arah bagi Indonesia yang paling optimal di pokok-pokok haluan negara, di samping pemilihan topik juga kebutuhan pokoknya. "Seperti yang sudah disampaikan bagaimana tujuan kelembagaannya, programnya bagaimana, bukan hanya penentuan risetnya saja. Sehingga semuanya bisa ditata dan dijaga oleh pemerintah," ujar Prof. Reini.

 

 

Saat menerima kunjungan tersebut, Rektor ITB didampingi oleh Sekretaris Institut, Prof. Dr.-Ing. Ir. Widjaja Martokusumo, Kepala Biro Kemitraan, Prof. Taufiq Hidajat, dan Staf Ahli, Dr. Sonny Yuliar. Kunjungan tersebut diakhiri dengan sesi pemberian cinderamata di antara Rektor ITB dan Wakil Ketua MPR RI.

Diterbitkan di Berita