Jakarta, CNN Indonesia -- Pasukan perlawanan Anti-Taliban yang masih bertahan terus menggempur Taliban dan sejauh ini dilaporkan berhasil merebut tiga distrik di dekat Lembah Panjshir dari kelompok tersebut.

Lembah Panjshir terletak di utara Afghanistan dan menjadi tempat sisa pasukan pemerintah yang masih bertahan serta kelompok milisi lokal lainnya berkumpul.

Menteri Pertahanan Afghanistan, Jenderal Bismillah Mohammadi, menjadi salah satu pejabat pemerintah yang masih bertahan di negara itu. Mohammadi bersumpah akan melawan Taliban.

Melalui kicauan di Twitter, Mohammadi menuturkan bahwa distrik Deh Saleh, Baon, dan Pul-Hesar, di Provinsi Baghlan telah berhasil direbut dari tangan Taliban.

Meski begitu, tak kunjung jelas pasukan Anti-Taliban yang terlibat dalam aksi perlawanan terhadap Taliban tersebut.

Namun, bentuk perlawanan itu semakin memperjelas gerakan melawan Taliban yang  telah menguasai belasan ibu kota provinsi, termasuk ibu kota negara Kabul dan Istana Kepresidenan, selama beberapa pekan terakhir.

Sementara itu, mengutip seorang komandan polisi setempat, stasiun televisi lokal Tolo News melaporkan bahwa distrik Bano di Baghlan berada di bawah kendali pasukan milisi lokal. Media itu mengatakan banyak korban berjatuhan akibat pertempuran di distrik tersebut.

Dikutip Reuters, sejauh ini Taliban belum mengomentari perebutan ketiga distrik tersebut. Sebagian pejabat pemerintah Afghanistan, termasuk Presiden Ashraf Ghani, telah kabur ke luar negeri tak lama setelah Taliban menduduki Kabul.

Namun, beberapa petinggi negara yang masih bertahan, termasuk Wakil Presiden Amrullah Saleh, bersumpah akan melawan Taliban dan mengembalikan pemerintahan. Saleh bahkan telah mendeklarasikan diri sebagai penjabat presiden Afghanistan menyusul kepergian Ghani.

Menurut Saleh, berdasarkan konstitusi negara, dia yang berhak menjabat sebagai pemimpin tertinggi Afghanistan setelah presiden kabur.

Selain Saleh, putra mantan Komandan Mujahidin anti-Soviet Ahmad Shah Massoud, Ahmad Massoud, telah juga turut bersumpah akan menumpas Taliban di negara itu.

Sejumlah orang yang dekat dengan Massoud mengatakan bahwa sudah ada lebih dari 6.000 pejuang yang bergabung dengannya. Ribuan pasukan itu terdiri dari sisa unit tentara Afghanistan dan pasukan khusus negara itu hingga kelompok milisi lokal.

Pasukan anti-Taliban ini juga dilaporkan memiliki beberapa helikopter dan kendaraan militer lapis baja peninggalan Uni Soviet. Ribuan pasukan itu dikabarkan telah berkumpul di Lembah Panjshir untuk mempersiapkan perlawanan.

Pasukan Taliban sejauh ini belum mencoba memasuki Panjshir.

(rds/bac)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KANDAHAR - Para keluarga meninggalkan rumah mereka berbondong-bondong, bom-bom pesawat menghujani lingkungan dan mayat-mayat memenuhi jalan-jalan.

Itulah pemandangan memilukan ketika Taliban melancarkan perang mereka ke kota-kota Afghanistan selama akhir pekan lalu.

Pertempuran antara gerilyawan Taliban melawan pasukan pemerintah Afghanistan memulai babak baru berdarah dalam perang panjang negara itu.

Penduduk di kota selatan Lashkar Gah mengatakan bahwa Taliban berperang dari "jalan ke jalan" dengan pasukan keamanan Afghanistan dan telah mengepung markas polisi dan kantor gubernur.

“Pesawat itu membom kota setiap menit. Setiap inci kota telah dibom,” kata Badshah Khan, seorang penduduk Lashkar Gah, Ibu Kota Provinsi Helmand, kepada AFP melalui telepon.

“Anda bisa melihat mayat-mayat di jalanan. Ada mayat orang di alun-alun," ujarnya yang dilansir Senin (2/8/2021).

Pemerintah tetap mengendalikan Lashkar Gah hingga hari ini berkat rentetan serangan udara yang terus-menerus, tetapi masa depan ibu kota provinsi itu tampaknya menggantung dari seutas benang ketika gelombang demi gelombang pemberontak memasuki kota.

Kekerasan telah meningkat di seluruh Afghanistan sejak awal Mei ketika Taliban melancarkan serangan besar-besaran di sebagian besar negara itu ketika militer AS dan sekutunya memulai penarikan terakhirnya setelah hampir 20 tahun beroperasi.

Taliban melahap distrik pedesaan dengan kecepatan tinggi, yang seringkali tanpa perlawanan dari pasukan pemerintah Afghanistan.

Tetapi militer negara itu telah berusaha keras untuk mempertahankan serangkaian wilayah Ibu Kota Provinsi Helmand yang tersebar di Afghanistan—termasuk Lashkar Gah, Kandahar, dan Herat.

Setelah jeda singkat pertempuran selama liburan Idul Adha akhir bulan lalu, Taliban telah mengalihkan perhatian mereka untuk merebut kota-kota, meluncurkan serangan mematikan di beberapa ibu kota provinsi.

Situasi Memburuk

Di Lashkar Gah, warga setempat; Hazrat Omar Shirzad, sangat marah setelah Taliban memaksanya keluar dari rumahnya untuk berlindung dari serangan udara.

“Imarah Islam membakar bumi dan republik membakar langit. Tidak ada yang peduli dengan bangsa ini,” kata Shirzad. Imarah Islam adalah sebutan untuk kelompok Taliban di Afghanistan.

Pertempuran juga dilaporkan terjadi di Herat dekat perbatasan dengan Iran selama tiga hari berturut-turut, di mana gerilyawan Taliban mengerumuni pinggiran ibu kota.

“Semakin hari situasi keamanan semakin buruk,” kata Agha Reza, seorang pengusaha di Herat. “Ada kemungkinan 90 persen kota Herat akan runtuh ke tangan Taliban,” ujarnya, dengan menambahkan bahwa kota itu kekurangan pasokan listrik dan jalan-jalan utama diblokir karena bentrokan.

Seorang guru sekolah di Herat dengan syarat anonim mengatakan kepada AFP bahwa hanya beberapa sekolah yang buka di kota karena anak-anak lebih suka tinggal di dalam rumah.

"Tadi malam kami mendengar banyak pesawat terbang di atas kota... Hari ini, saya pergi ke sekolah dan hanya anak laki-laki yang berani datang," katanya.

Para pejuang dengan panglima perang veteran Ismail Khan yang milisinya membantu pasukan asing pimpinan AS menggulingkan rezim Taliban pada tahun 2001 telah berkumpul untuk menyelamatkan kota, berbaris bahu-membahu dengan pasukan keamanan Afghanistan di jalan-jalan menuju ke garis depan.

Dan di Kandahar, pertempuran berhari-hari telah membuat ribuan orang yang memadati pusat kota mengungsi untuk menghindari baku tembak di pinggir ibu kota provinsi.

Warga Kandahar, Khalid Hewadmal, mengatakan Taliban memaksa warga keluar dari rumah mereka saat mereka bergerak lebih dekat ke kota.

“Pada hari Jumat mereka telah memperingatkan warga untuk meninggalkan rumah mereka,” kata Hewadmal.

Kandahar adalah tempat kelahiran gerakan Taliban dan jatuhnya kota itu akan memberikan pukulan besar bagi pemerintah, yang secara efektif membelah negara itu menjadi dua sebelum musim dingin, ketika merebut kembali wilayah itu sangat sulit.

Pemerintah telah berulang kali menolak klaim kemenangan Taliban, tetapi sebagian besar pasukan pemerintah gagal membalikkan momentum mereka di medan perang.

(min)

Diterbitkan di Berita

Dalam beberapa bulan mendatang, pasukan Amerika Serikat (AS) di Irak akan mengakhiri misi tempurnya. Presiden Joe Biden mengumumkan hal itu pada Senin (26/7) dalam pertemuan di Gedung Putih dengan Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi.

Menanggapi pertanyaan wartawan di Oval Office, Biden yang didampingi pemimpin Irak itu mengatakan, peran baru pasukan Amerika di Irak adalah "terus melatih, membantu, menolong dan menghadapi ISIS jika bangkit, tapi menjelang akhir tahun ini, kita tidak akan lagi dalam misi tempur."

Biden menolak mengatakan berapa banyak dari sekitar 2.500 tentara AS yang akan tetap berada di Irak.

Dalam pernyataan bersama AS-Irak yang dikeluarkan pada Senin (26/7) setelah pertemuan teknis, kedua negara mengatakan, "Hubungan keamanan akan sepenuhnya beralih ke peran pelatihan, pemberian nasihat, bantuan, dan berbagi intelijen. Tidak akan ada pasukan AS yang melakukan peran tempur di Irak menjelang 31 Desember 2021."

"Ini adalah pergeseran misi. Ini bukan menarik kemitraan atau kehadiran kita atau hubungan erat kita dengan para pemimpin Irak," kata juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki, kepada wartawan sesaat sebelum pertemuan di Oval Office itu.

Pasukan AS di Irak "mampu melakukan banyak hal," kata Menteri Pertahanan Lloyd Austin kepada sekelompok wartawan di Alaska, Sabtu (24/7).

Ditanya oleh VOA apakah ia akan mengklasifikasikan pasukan Amerika yang saat ini berada di Irak sebagai pasukan tempur atau utamanya untuk melatih, memberi nasihat dan membantu, Austin menjawab: "Saya rasa sangat sulit untuk membuat perbedaan itu. Namun, saya akan mengatakan, kuncinya adalah apa tujuan kita, apa tugas yang diberikan kepada kita pada saat itu."

Para pejabat mengatakan penekanannya akan tetap pada mencegah terulangnya apa yang terjadi tujuh tahun lalu, ketika kelompok ISIS menyapu Mosul dan puluhan ribu pejuang asing mengalir ke Irak dan negara tetangga Suriah. Pasukan pemerintah Irak hampir tidak berdaya, dan puluhan serangan bom bunuh diri terjadi setiap bulan. [my/ka]

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Muscat - Lebih dari 400 prajurit Iran melompat ke laut ketika kapal perang mereka terbakar pada Rabu 2 Juni. Kondisi kapal kini tenggelam di Teluk Oman.

Dilaporkan Arab News, Kamis (6/3/2021), kapal yang terbakar adalah Kharg dengan panjang 207 meter. Kapal itu sedang melakukan latihan ketika api tersulut pada Rabu pagi. Para kadet dan kru kapal lompat ke laut dengan memakai life jacket.

Kharg adalah kapal perang terbesar Iran yang mulai dioperasikan sejak tahun 1970-an. Pada Januari 2021, statusnya sebagai kapal terbesar beralih ke kapal Makran yang dulunya oil tanker.

Kapal Kharg juga sempat datang ke Indonesia pada Februari 2020 untuk merayakan hubungan diplomatik Iran-Indonesia ke-50. Kapal itu berlabuh di Tanjung Priok.

 

 

Dugaan Sabotase

 

Beberapa jam setelah Kharg tenggelam, muncul kebakaran di kilang minyak di Iran, sehingga muncul spekulasi "shadow war" dengan Israel.

Namun, perusahaan BUMN Tondgooyan Petrochemical Company menepis dugaan sabotase, dan menjelaskan bahwa kilang minyak itu terbakar akibat masalah teknis. Tenggelamnya kapal Kharg menambah daftar kecelakaan maritim di Iran.

Pada 2020, sebuah misil tak sengajak menghantam kapal angkatan laut dekat kota Jask. Akibatnya, 19 pelaut tewas dan 15 lainnya terluka.

Pada 2018, kapal Iran juga ada yang tenggelam di Laut Kaspia. Pejabat Iran belum memberikan keterangan terkait kebakaran yang terjadi di Kharg.

Diterbitkan di Berita

Syaiful W Harahap tagar.id Jakarta - Konflik di Suriah memasuki babak baru setelah militer Turki melancarkan serangan terhadap posisi milisi Kurdi di timur laut Suriah. Inilah faksi-faksi yang berperang di Suriah. Elizabeth Schumacher dan Alexander Pearson menuliskannya untuk dw.com/id.

suriah1

Perang Tiada Akhir (Foto: dw.com/id)

 

Perang Tiada Akhir - Suriah telah dilanda kehancuran akibat perang saudara sejak 2011 setelah Presiden Bashar Assad kehilangan kendali atas sebagian besar negara itu karena berbagai kelompok revolusioner. Sejak dari itu, konflik menarik berbagai kekuatan asing dan membawa kesengsaraan dan kematian bagi rakyat Suriah.

suriah2

Kelompok Loyalis Assad (Foto: dw.com/id)

 

Kelompok Loyalis Assad - Militer Suriah yang resminya bernama Syrian Arab Army (SAA) alami kekalahan besar pada 2011 terhadap kelompok anti-Assad yang tergabung dalam Free Syrian Army. SAA adalah gabungan pasukan pertahanan nasional Suriah dengan dukungan milisi bersenjata pro-Assad. Pada bulan September, Turki meluncurkan invansi militer ketiga dalam tiga tahun yang menargetkan milisi Kurdi.

suriah3

Militer Turki (Foto: dw.com/id)

 

Militer Turki – Hampir semua negara tetangga Suriah ikut terseret ke pusaran konflik. Turki yang berbatasan langsung juga terimbas amat kuat. Berlatar belakang permusuhan politik antara rezim di Ankara dan rezim di Damaskus, Turki mendukung berbagai faksi militan anti-Assad.

suriah4

Tentara Rusia (Foto: dw.com/id)

 

Tentara Rusia - Pasukan dari Moskow terbukti jadi aliansi kuat Presiden Assad. Pasukan darat Rusia resminya terlibat perang 2015, setelah bertahun-tahun menyuplai senjata ke militer Suriah. Komunitas internasional mengritik Moskow akibat banyaknya korban sipil dalam serangan udara yang didukung jet tempur Rusia.

suriah5

Sekutu Barat (Foto: dw.com/id)

 

Sekutu Barat – Sebuah koalisi pimpinan Amerika Serikat yang terdiri lebih dari 50 negara, termasuk Jerman, mulai menargetkan Isis dan target teroris lainnya dengan serangan udara pada akhir 2014. Koalisi anti-Isis telah membuat kemunduran besar bagi kelompok militan. AS memiliki lebih dari seribu pasukan khusus di Suriah yang mendukung Pasukan Demokrat Suriah.

suriah6

Pemberontak Free Syrian Army (Foto: dw.com/id)

 

Pemberontak Free Syrian Army - Kelompok Free Syrian Army mengklaim diri sebagai sayap moderat, yang muncul dari aksi protes menentang rezim Assad 2011. Bersama milisi nonjihadis, kelompok pemberontak ini terus berusaha menumbangkan Presiden Assad dan meminta pemilu demokratis. Kelompok ini didukung Amerika dan Turki. Tapi kekuatan FSA melemah, akibat sejumlah milisi pendukungnya memilih bergabung dengan grup teroris.

suriah7

Pemberontak Kurdi (Foto: dw.com/id)

 

Pemberontak Kurdi - Perang Suriah sejatinya konflik yang amat rumit. Dalam perang besar ada perang kecil. Misalnya antara pemberontak Kurdi Suriah melawan ISIS di utara dan barat Suriah. Atau juga antara etnis Kurdi di Turki melawan pemerintah di Ankara. Etnis Kurdi di Turki, Suriah dan Irak sejak lama menghendaki berdirinya negara berdaulat Kurdi.

suriah8

Islamic State ISIS (Foto: dw.com/id)

 

Islamic State ISIS - Kelompok teroris Islamic State (Isis) yang memanfaatkan kekacauan di Suriah dan vakum kekuasaan di Irak, pada tahun 2014 berhasil merebut wilayah luas di Suriah dan Irak. Wajah baru teror ini berusaha mendirikan kekalifahan, dan namanya tercoreng akibat genosida, pembunuhan sandera serta penyiksaan brutal.

suriah9

Afiliasi Al Qaeda (Foto: dw.com/id)

 

Afiliasi Al Qaeda - Milisi teroris Front al-Nusra yang berafiliasi ke Al Qaeda merupakan kelompok jihadis kawakan di Suriah. Kelompok ini tidak hanya memerangi rezim Assad tapi juga terlibat perang dengan pemberontak yang disebut moderat. Setelah merger dengan sejumlah grup milisi lainnya, Januari 2017 namanya diubah jadi Tahrir al-Sham.

suriah10

Pasukan Iran (Foto: dw.com/id)

 

Pasukan Iran - Iran terlibat pusaran konflik dengan mendukung rezim Assad. Konflik ini juga jadi perang proxy antara Iran dan Rusia di satu sisi, melawan Turki dan AS di sisi lainnya. Teheran berusaha menjaga perimbangan kekuatan di kawasan, dan mendukung Damaskus dengan asistensi startegis, pelatihan militer dan bahkan mengirim pasukan darat (dw.com/id). []

Diterbitkan di Berita