JAKARTA, KOMPAS.TV Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bukhori Yusuf meminta pemerintah tidak perlu intervensi masyarakat soal pengeras suara masjid.

Hal ini terkait salah satu poin keputusan Itjima Ulama MUI soal pengeras suara masjid atau musholla agar diatur kembali penggunaannya untuk menjamin ketertiban di masyarakat. Salah satu poin rekomendasi itu adalah, meminta pemerintah untuk ikut membantu memberikan pengertian ke masyarakat terkait pengeras suara.

Anggota DPR RI dari Fraksi PKS ini lantas menuding pemerintah agar tidak ikut campur urusan pengeras suara ini. Kata dia, biarkan saja diselesaikan oleh masyarakat sendiri.

“(Soal pengeras suara) diselesaikan sesuai dengan kearifan lokal saja, enggak perlu pemerintah intervensi," kata Bukhori sebagaimana dilansir dari Tribunnews, Sabtu (13/11).

Salah satu poin penting yang membuat, kata Bukhori, pemerintah tidak perlu intervensi soal pengeras masjid ini adalah, jika pemerintah ikut bisa berpotensi bikin kisruh di tengah masyarakat, serta hal-hal yang tidak diinginkan.

“Akan menimbulkan kekisruhan di tengah-tengah masyarakat,” tambahnya.

Polemik tentang pengeras suara masjid/musholla ini mengemuka kembali usai muncul laporan dari media Prancis tentang pengeras suara di Jakarta yang teryata membuat sebagian masyarakat terganggu.

Salah satu respon yang muncul akibat laporan itu adalah, dalam gelaran Ijtima Ulama MUI dibahas lagi soal aturan penggunaan pengeras suara di Musholla/Masjid.  Hasilnya adalah, MUI merekomendasikan agar penggunaan pengeras suara ditinjau ulang.

Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Niam Sholeh mengatakan dalam laporan hasil Ijtima Ulama MUI, segala aktivitas ibadah, ada jenis ibadah yang memiliki dimensi syiar, sehingga membutuhkan media untuk penyiaran termasuk adzan.

“Dalam pelaksanaannya, perlu diatur kembali tentang pedoman penggunaan pengeras suara  di masjid atau mushalla untuk mewujudkan kemaslahatan dan menjamin ketertiban serta mencegah mafsadah yang ditimbulkan," ujar Asrorun dalam penutupan Ijtima Ulama di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (11/11/2021).

Penulis : Dedik Priyanto | Editor : Purwanto

 

Sumber: https://www.kompas.tv/article/231805/politikus-pks-melarang-pemerintah-mengintervensi-persoalan-pengeras-suara-masjid?page=all

 

Diterbitkan di Berita

Suara.comPemerintah Arab Saudi dikabarkan telah menahan seorang ulama setempat karena ia mengkritik kebijakan pemerintah yang memerintahkan masjid-masjid di seluruh negeri untuk mengecilkan volume azan.

Omar Abdullah al-Saadoun, seperti dilansir dari The Washington Post, Selasa (3/8/2021), dibui karena ia menulis sebuah opini berisi kritik atas kebijakan Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS) yang memerintahkan untuk mengecilkan volume pengeras suara masjid di Saudi.

Dalam opini yang dimuat sebuah media online, Al Saadoun mengatakan bahwa jika volume pengeras suara masjid dikecilkan, ia khawatir warga akan berkumpul di dalam masjid untuk mendengarkan kajian dan melanggar aturan pembatasan dari pemerintah untuk mencegah penularan wabah Covid-19.

"Rumah-rumah tak lagi mendengar kajian dan lantunan ayat-ayat Al Quran, dan yang lebih dikhawatirkan adalah kebijakan ini akan melemahkan motivasi orang untuk melaksanakan salat berjamaah," tulis Al Saaodun.

 

Omar Abdullah al-Saadoun,ulama yang dipenjara Arab Saudi karena mengkritik kebijakan mengecilkan volume pengeras suara masjid. [Twitter/omar_alsaadoun_]
Omar Abdullah al-Saadoun,ulama yang dipenjara Arab Saudi karena mengkritik kebijakan mengecilkan volume pengeras suara masjid. [Twitter/omar_alsaadoun_]

 

Al Saadoun bukan satu-satunya yang memprotes kebijakan Saudi ini. Tak lama setelah kebijakan ini diumumkan pada Mei lalu, warganet Saudi melontarkan protes via Twitter. Mereka menggaungkan seruan yang mengatakan bahwa "azan adalah tuntutan rakyat."

Tetapi pemerintah Saudi, lewat Menteri Urusan Agama Islam, Abdullatif Al as-Sheikh menuding bahwa kritik atas kebijakan pemerintah itu dilontarkan oleh "para musuh kerajaan yang ingin menggiring opini publik, meragukan keputusan pemerintah, serta mengoyak ikatan bangsa."

Al Saadoun bukanlah ulama besar di Saudi dan namanya kurang dikenal, kecuali karena opininya yang tersebar luas di internet itu. Tetai Ia tetap ditangkap dan akun Twitter-nya pun kini tak lagi mencuit.

Reformasi yang otoriter

Pemenjaraan atas Al Saaodun ini dinilai sebagai gejala yang umum di Saudi saat ini. Tidak hanya ulama konservatif, para aktivis liberal juga semakin sering dibui.

Muhammad bin Salman dinilai berusaha untuk melakukan reformasi, menjadikan Saudi sebagai negara yang lebih liberal tetapi dengan cara-cara otoriter.

"Kita tahu bahwa sejak MBS menempuh jalan ganda, melakukan reformasi dan sekaligus meningkatkan represi, pendekatan yang digunakan adalah top-down. Reformasi bukan mengikuti kehendak rakyat, tetapi semata-mata menuruti kemauannya sendiri," kata Hiba Zayadin, peneliti Saudi dari Human Rights Watch.

 

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. [Shutterstock]
Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. [Shutterstock]

 

"Siapa saja yang membuka suara akan menerima risiko besar, tidak saja untuk diri mereka sendiri tetapi juga untuk keluarga serta orang-orang dekat mereka," lanjut Zayadin, mengacu pada pemenjaraan atas keluarga serta rekan-rekan para pengkritik pemerintah di Saudi.

Sejak 2017, pemerintah Saudi gencar menangkap dan memenjarakan aktivis liberal maupun kelompok konservatif. Para cendikiawan, baik yang berhaluan garis keras maupun pendukung keterbukaan akan ditangkap selama mereka menentang kebijakan pemerintah.

Meski dipuji karena mengizinkan perempuan mengemudi, menonton pertandingan sepak bola di stadion, membuka bioskop, menggelar konser musik, dan menghapus pembagian ruangan berdasarkan gender di restoran, Saudi juga masih terus menangkapi para aktivis pejuang hak perempuan di negerinya.

 

Sejumlah perempuan Arab Saudi tampak tengah menonton pertandingan sepakbola di King Abdullah Sports City, Jeddah, Jumat (12/1/2018), yang mempertemukan klub Al-Ahli melawan Al-Batin. [AFP]
Sejumlah perempuan Arab Saudi tampak tengah menonton pertandingan sepakbola di King Abdullah Sports City, Jeddah, Jumat (12/1/2018), yang mempertemukan klub Al-Ahli melawan Al-Batin. [AFP]

 

Sementara aktivis HAM yang memperjuangkan pemenuhan hak-hak dasar publik juga masih dibungkam. Para jurnalis yang mengkritik pemerintah ditahan dan bahkan dibunuh.

Pada Desember 2020 lalu Saudi memecat sejumlah besar imam masjid karena tak mengikuti panduan pemerintah untuk mengecam kelompok Ikhwanul Muslimin di mimbar-mimbar masjid.

Arab Saudi secara resmi menyatakan Ikhwanul Muslimin, gerakan politik Islamis yang berawal dari Mesir, sebagai organisasi teroris.

Menteri Al as-Sheikh menegaskan bahwa meski para imam masjid itu tak mendukung Ikhwanul Muslimin, mereka akan tetap dipecat karena "tak mau mengikuti petunjuk pemerinetah atau terlalu lamban dalam melaksanakannya.

Mereka akan diganti oleh orang-orang yang siap melaksanakan perintah kerajaan."

Konsolidasi kekuasaan

Di bawah kendali Muhammad bin Salman, banyak perubahan terjadi di Saudi. Meski banyak warga Saudi yang menyambut positif perubahan tersebut, tetapi banyak pula kritik atas cara-cara kebijakan tersebut ditegakkan.

Paling mengemuka adalah tudingan bahwa perubahan yang dilakukan sang putra mahkota tak lain upaya konsolidasi kekuasaan dan upaya membungkam mereka yang menentangnya.

Raja Salman bin Abdulaziz, yang kini berusia 85 tahun, naik takhta sejak 2015 lalu dan di tahun yang sama ia mengangkat Bin Salman sebagai menteri pertahanan, menteri negara, dan sekretaris jenderal istana kerajaan.

 
Raja Salman didampinngi putra mahkota Pangeran Mohammed bin Salman. [AFP]
Raja Salman didampinngi putra mahkota Pangeran Muhammad bin Salman. [AFP]

 

Pada 2017, Raja Salman mengangkat Muhammad bin Salman, putera kesayangannya sebagai putra mahkota menggantikan keponakannya, Pangeran Mohammad bin Nayef dalam insiden yang disebut-sebut sebagai kudeta tak berdarah dalam Istana Saudi.

Adapun Pangeran Muhammad bin Nayef, setelah dicopot dari jabatan-jabatannya, kemudian dijadikan tahanan rumah. Bin Salman yang lahir pada 31 Agustus 1985 itu dikenal ambisius, sekaligus ceroboh. 

Intelijen Jerman pada 2015 lalu merilis peringatan yang mengatakan bahwa ambisi Bin Salman bisa mengganggu stabilitas Arab Saudi dan bahkan kawasan Timur Tengah.

Bin Salman sendiri disebut-sebut sebagai arsitek Perang Yaman yang hingga kini belum juga berakhir. Ia juga menggalang negara-negara Teluk untuk memblokade tetangganya yang tajir, Qatar pada 2017.

Pada 2017 ia menuding Turki sebagai bagian dari segitiga iblis yang baru bersama musuh bebuyutan Saudi, Iran dan Ikhwanul Muslimin. Ia juga dipercaya sebagai otak di balik pembunuhan wartawan Jamal Khasoggi pada 2018 di kantor Konsulat Saudi di Instanbul.

Tetapi Bin Salman juga dikenal ambisius. Pada November 2017 ia memerintahkan penangkapan atas 200 pangeran, menteri, petinggi militer, dan jutawan Saudi atas tudingan korupsi. Mereka ditahan di Hotel Ritz Charlton, Riyadh.

Penangkapan itu diduga merupakan bagian dari upaya menyingkirkan para penentang Bin Salman di dalam pemerintahan. Beberapa pejabat yang ditangkap kemudian dipecat dan digantikan oleh orang dekat sang pangeran.

Reformasi institusi keagamaan di Saudi juga gencar dilakukan untuk menggeser ulama-ulama yang berseberangan dengan Bin Salman. Sejak 2017 sejumlah kadi di Kementerian Hukum dicopot.

Sementara wewenang untuk mengeluarkan fatwa dicabut dari Kementerian Kehakiman dan diserahkan ke sebuah lembaga baru yang bertanggung jawab kepada Raja Salman seorang.

 

Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. [AFP]
Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. [AFP]

 

Selain itu wewenang Kementerian Urusan Agama Islam juga dipreteli, sehingga tak bersuara ketika para ulama penentang pemerintah ditahan. Sebagian wewenang kementerian itu kini diambil alih oleh Liga Muslim Dunia, yang berwenang mengurus aktivitas dakwah di dunia.

Di saat yang sama Saudi menerapkan beberapa peraturan baru yang dinilai lebih ramah pada bisnis, sesuai dengan Visi 2030 yang dicanangkan Bin Salman pada 2015 untuk mengurangi ketergantungan negara pada minyak dengan membuka sumber-sumber pendapatan baru.

Terbaru pada Juli lalu Arab Saudi mengizinkan restoran, pusat perbelanjaan, dan bisnis lain untuk tetap buka meski sudah saatnya salat 5 waktu.

"Hari-hari yang tidak nyaman itu kini sudah berakhir," tulis sebuah artikel di media online Arab News menyambut keputusan bersejarah tersebut.

Menurut The Post dengan melemahkan institusi-institusi keagamaan di Saudi, Bin Salman tidak saja sedang melibas lawan-lawannya, tetapi di saat yang sama dengan sangat ambisius mengubah konstelasi pembagian kekuasaan antara ulama dan umara yang menjadi dasar pendirian Kerajaan Saudi. [Reuters/BBC]

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Pihak berwenang di Arab Saudi menyatakan mendukung kebijakan pembatasan volume pengeras suara di masjid-masjid di negara itu.

Kementerian Urusan Islam Saudi mengumumkan pekan lalu semua pengeras suara harus disetel hanya sepertiga dari volume maksimum.

Menteri Urusan Islam Abdullatif al-Sheikh mengatakan tindakan itu sebagai tanggapan atas keluhan dari masyarakat.

Namun langkah itu memicu berbagai reaksi di media sosial.

Tagar yang menyerukan agar musik keras dilarang di restoran-restoran maupun kafe mulai menjadi trending.

Sheikh mengatakan keluhan itu di antaranya dilayangkan oleh para orang tua yang mengaku bahwa pengeras suara dari masjid itu mengganggu tidur anak-anak.

 

Menara masjid

Kementerian Urusan Islam Arab Saudi mengumumkan pekan lalu semua pengeras suara harus disetel hanya sepertiga dari volume maksimumnya. (Foto: Menara sebuah masjid di Kota Jeddah, Arab Saudi) ERIC LAFFORGUE/GETTY

 

Berbicara dalam video yang ditayangkan oleh televisi pemerintah, Sheikh mengatakan bahwa mereka yang ingin salat tidak perlu menunggu panggilan azan.

Dia menyebut orang-orang yang mengkritik kebijakan itu melalui online sebagai "musuh kerajaan" dan mengeklaim mereka "ingin menggerakkan opini publik".

Peraturan pembatasan volume pengeras suara masjid ini muncul ketika Putra Mahkota Mohammed bin Salman melanjutkan upaya guna membuat Arab Saudi lebih liberal dan mengurangi peran agama dalam kehidupan publik.

Kebijakan pembatasan sosial telah dilonggarkan, seperti diakhirinya larangan pengemudi bagi kaum perempuan. Tapi sang putra mahkota juga menindak kebebasan berekspresi di negara itu. Ribuan kritikus telah ditangkap dan dipenjarakan.

Tempat ibadah mulai dibuka dalam pengawasan ketat

Sementara itu, beberapa situs paling penting di dunia Islam telah dibuka kembali dua bulan setelah pandemi virus corona memaksa situs-situs itu ditutup.

Pembukaan ini memungkinkan para jamaah masuk ke dalamnya dengan aturan ketat.

Ratusan orang Muslim masuk ke Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem, situs tersuci ketiga bagi umat Islam, untuk salat subuh pada hari Minggu.

 

Palestinians perform the dawn prayer inside the Al-Aqsa mosque compound, Islam's third holiest site, in Jerusalem's Old City

Ratusan orang Muslim masuk ke Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem, situs tersuci ketiga bagi umat Islam, untuk salat subuh pada hari Minggu. GETTY IMAGES

 

Beberapa orang meneriakkan "Allah Akbar", sementara lainnya mencium lantai saat kerumunan orang memasuki kompleks suci itu.

Di dalam masjid, tindakan pencegahan dilakukan guna mengurangi risiko penyebaran virus Covid-19.

 

Worshippers, some wearing masks, hold up their mobile phones while entering the compound housing the Al-Aqsa Mosque

Beberapa orang meneriakkan "Allah Akbar", sementara lainnya mencium lantai saat kerumunan orang memasuki kompleks suci itu. REUTERS

 

Para jamaah diperiksa suhu tubuhnya, berdiri berjauhan satu sama lain, dan diminta mengenakan masker dan membawa sajadah sendiri.

"Setelah mereka membuka masjid, saya merasa bisa bernafas kembali. Alhamdulillah," kata Umm Hisham, seorang warga Yerusalem, terlihat emosional tatkala memasuki masjid.

 

A Palestinian man performs the morning prayer inside the Al-Aqsa mosque

Di dalam masjid, tindakan pencegahan dilakukan guna mengurangi risiko penyebaran virus Covid-19. GETTY IMAGES

 

Masjid Al-Aqsa, dan banyak tempat suci lainnya, dibatasi bagi jemaahnya semenjak pertengahan Maret lalu, yang berarti mereka tidak dapat melakukan salat setiap hari selama bulan Ramadan.

Kendatipun ancaman virus corona masih tetap ada, banyak negara melonggarkan pembatasan secara bertahap setelah berminggu-minggu dilockdown, dengan membuka tempat-tempat suci untuk para jemaah dan pengunjung yang dibatasi.

 

Muslim worshippers enter the Al-Aqsa Mosque compound in Jerusalem's old city

Masjid Al-Aqsa merupakan salah-satu situs paling penting bagi umat Islam. EPA

 

Di Arab Saudi pada hari Minggu, ada suasana serupa di Masjid Nabawi di kota Madinah, ketika para jamaah berkumpul untuk salat.

Masjid itu adalah salah satu dari sekitar 90.000 masjid yang tengah dipersiapkan untuk dibuka kembali oleh otoritas Saudi.

Menjelang pembukaan kembali masjid-masjid, jutaan orang diyakini telah dikirimi pesan tertulis dalam berbagai bahasa untuk memberi tahu mereka perihal aturan baru selama salat berjamaah.

 

Muslims pray at a mosque in Saudi Arabia

Menjelang pembukaan kembali masjid-masjid, jutaan orang diyakini telah dikirimi pesan tertulis dalam berbagai bahasa untuk memberi tahu mereka perihal aturan baru selama salat berjamaah. REUTERS

 

Dalam pesan tertulis itu, yang dikirim oleh Kementerian Urusan Islam, memerintahkan para jamaah untuk salat secara terpisah dalam jarak dua meter, dan menahan diri untuk tidak saling menyapa dengan pelukan atau jabat tangan.

Masyarakat diminta untuk melakukan ritual wudu di rumah, lantaran kamar mandi di masjid akan tetap ditutup.

 

Muslims perform prayers inside the Al-Rajhi Mosque while practicing social distancing in Saudi Arabia

Para jamaah diperintahkan salat secara terpisah dalam jarak dua meter, dan menahan diri untuk tidak saling menyapa dengan pelukan atau jabat tangan. REUTERS

 

Khotbah dan salat berlangsung tidak lebih dari lima belas menit.

Masjidil Haram di Mekah akan tetap ditutup sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Situs tersuci bagi umat Islam, yang biasanya dikunjungi jutaan jemaah setiap tahun, di mana kebanyakan dari mereka melakukan ibadah haji.

 

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Kementerian Urusan Islam dan Dakwah Arab Saudi mengeluarkan instruksi kepada masjid-masjid di seluruh negara kerajaan itu untuk membatasi penggunaan loudspeaker atau pengeras suara eksternal/ luar. Pengeras suara luar hanya untuk azan dan iqamat (KBBI: ikamah) saja. 
Keputusan ini diunggah di akun Twitter kementerian pada Minggu (23/5/2021). 
 
 
Dikutip dari Haramain Sharifain, sebelumnya tidak hanya azan saja yang memakai speaker eksternal, tapi juga pelaksanaan salat lima waktu berjemaah. Dengan adanya peraturan terbaru, maka salat hanya menggunakan speaker internal/dalam.
 
 
Arab Saudi Perintahkan Speaker Luar Masjid Hanya untuk Azan (1)
Suasana saat umrah kembali lagi dimulai di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Foto: Yasser Bakhsh/REUTERS
 
Selain membatasi penggunaan speaker luar, kementerian juga mengatur volume suara. Dijelaskan, tingkat kenyaringan/volume tidak melebihi sepertiga volume maksimal loudspeaker. 
“Tindakan hukum akan diambil terhadap mereka yang melanggar,” ujar kementerian.
Pembatasan speaker ini tidak berlaku pada masjid yang jemaahnya meluber hingga keluar terutama pada salat Jumat. Juga tidak berlaku untuk Dua Masjid Suci (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi).
Diterbitkan di Berita

Tim detikcom - detikNews Tangerang - Kompleks Perumahan Illago di Gading Serpong, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, digeruduk massa. Insiden ini terjadi setelah salah satu warga di perumahan tersebut memprotes pengeras suara di masjid. Namun situasi sudah kondusif setelah pihak kepolisian melakukan mediasi.

Kapolres Tangerang Selatan AKBP Iman Imanuddin membenarkan adanya kejadian itu. Iman memastikan situasi di lokasi kondusif, meski warga sempat berkumpul di depan perumahan warga tersebut.

"Sudah clear semalam. Sejak kejadian juga sudah kita amankan dan tidak ada masalah. Yang protes juga sudah bikin permintaan maaf," kata Iman saat dihubungi detikcom, Kamis (20/5/2021).

Iman menjelaskan peristiwa bermula ketika seorang sopir di Illago menyampaikan protes ke pengurus masjid soal pengeras suara. Sopir tersebut menyampaikan bahwa majikannya merasa terganggu oleh volume pengeras suara.

Protes ini disampaikan sopir tersebut beberapa hari yang lalu. Namun warga baru berdatangan ke Illago pada tadi malam.

"Dia cerita ke pengurus masjid itu setiap pulang kerja lelah, corong masjidnya ke tempat dia, dia minta agar digeserin. Tapi yang dia sampaikan ke pengurus masjid ini beda, dia bilang bahwa majikannya yang terganggu," jelasnya.

"Sebetulnya sudah beberapa hari yang lalu, tapi warga baru denger tadi malam, akhirnya pada datang," katanya.

Iman memastikan situasi di lokasi malam tadi kondusif. Tidak ada korban ataupun kerugian materi yang ditimbulkan.

"Nggak ada, itu cuma pada kumpul saja dan langsung dibubarkan tadi malam," katanya.

Dihubungi terpisah, Kapolsek Gading Serpong AKP Fredy mengungkapkan kejadian tersebut hanya kesalahpahaman. Polisi telah meminta keterangan kepada pihak terkait hingga pengurus DKM masjid tersebut.

"Masalah kesalahpahaman, infonya jadi kan ini yang diinikan (diprotes) masjid, (letaknya) ada di permukiman warga situ juga. Yang omong itu orang yang di cluster, jadi dibilangnya berisiklah," kata AKP Fredy saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (19/5/2021) malam.

Peristiwa ini terjadi pada Rabu (19/5) menjelang pukul 22.00 WIB. Bermula, ketika seorang sopir dari warga di cluster tersebut menyampaikan protes majikannya ke pihak masjid soal pengeras suara.

"Tapi kita konfirmasi ke majikannya bilang, 'Saya nggak merasa bilang gitu, Pak'," jelasnya.

Meski begitu, pernyataan yang disampaikan oleh sopir ini mengundang amarah warga. Sejumlah warga kemudian berdatangan ke gerbang Cluster Illago.

"Jadi sebetulnya warga yang datang ke situ juga nggak ngerti permasalahannya, hanya mereka ini terprovokasi saja," ucapnya.

Fredy mengungkapkan pihaknya telah datang ke lokasi dan membubarkan kerumunan warga. Ia mengatakan tidak ada korban jiwa maupun materi akibat kejadian tersebut.

"Nggak ada, nggak ada yang dianiaya, nggak ada perusakan juga. Mereka cuma kumpul-kumpul depan gerbang Illago itu," tuturnya.

Polisi juga telah meminta keterangan kepada pihak pengurus masjid. Fredy mengatakan saat ini situasi di lokasi kondusif.

"Suah kondusif, sudah kita bubarkan, karena kan ini sedang pandemi COVID, jangan sampai nanti bikin kerumunan," katanya.

Dalam rekaman video yang viral, terlihat kerumunan warga di depan Cluster Illago, Gading Serpong. Warga tampak berkumpul di depan gerbang, dan ada yang tidak memakai masker.

"Situasi sudah kondusif. Kami sudah imbau agar mereka bubar dan sudah bubar malam itu juga," katanya.

Penelusuran detikcom, masjid yang diprotes sopir warga Cluster Illago itu ada di RT 02 RW 01 Desa Curug Sangereng, Kecamatan Kelapa Dua. Posisi masjid dan rumah warga yang protes itu bersampingan. Antara masjid dan rumah warga yang protes itu dibatasi sebuah tembok pembatas.

Abdul Haer, selaku Ketua RT 02 sekaligus pengurus masjid, menjelaskan awal mula kejadian tersebut. Menurut Haer, warga tersebut merasa terganggu karena pengeras suara mengarah ke rumah tempatnya bekerja sebagai sopir.

"Jadi awalnya ada utusan dari cluster disuruh menggeser pengeras suara sedikit, itu juga nggak saya hiraukan, makanya memang berdirinya masjid sama cluster, cuma dia ngerasa agak keganggu, bukan keganggu, minta tolong digeser (Toa).

Cuma tadi juga udah klarifikasi, udah negosiasi, kesepakatan, kekeluargaan," jelas Haer di lokasi.

Haer menjelaskan pengurus masjid dengan warga yang protes sebetulnya sudah selesai. Namun cerita ini sampai ke masyarakat sehingga warga berdatangan ke Cluster Illago.

"Emang ramainya semalam itu cuma kesalahpahaman, omongan itu ada yang sedikit menyimpang, dari pihak masjid udah nggak ada masalah. Istilahnya pihak masjid udah aman. Jadi udah bereslah," katanya.

 

(mei/fjp)

Diterbitkan di Berita

Dian Firmansyah - detikNews Purwakarta - Masjid Al-Karomah, salah satu mesjid di Kabupaten Purwakarta nampak berdiri megah dan indah. Namun, siapa sangka masjid yang berdiri di Desa Cibogo Girang, Kecamatan Plered itu tak memiliki pengeras suara.

Indahnya kubah berwarna hijau menjulang di atas bangunan itu, bagian interior masjid dibangun layaknya bangunan masjid pada umumnya di zaman modern. Masjid ini juga menggunakan aliran listrik sebagai penerangan di malam hari.

Namun sejak berdiri puluhan tahun yang lalu, masjid ini tidak menggunakan fasilitas pengeras suara, baik untuk adzan, khutbah atau keperluan lain di dalam masjid ini.

Menurut pengurus masjid ini Arif Ghozali, warga dan pengurus masjid sepakat tetap memegang teguh ajaran dan aturan yang diterapkan para leluhurnya.

 

Masjid Al-Karomah Purwakarta
Masjid Al-Karomah Purwakarta Foto: Dian Firmansyah

 

"Pertama memang itu udah wasiat dari para sesepuh yang mendirikan mesjid ini, kedua karena memang dalil atau keterangan daripada kitab pengeras suara digunakan bilamana dibutuhkan," ujarnya saat ditemui di masjid Al-Karomah belum lama ini.

Arif mengatakan sejauh ini masyarakat sekitar tertib dalam melaksanakan salat sesuai waktunya. Tanpa mengumandangkan adzan, para jamaah datang tepat waktu.

"Mayoritas di sini para santri dan pernah jadi santri, jadi Insya Allah taat waktu ibadah. Mereka datang di waktu yang tepat meski tanpa pengeras suara. Tanpa pengeras suara, suara imam masih terdengar jelas hingga ke makmum paling belakang," katanya.

Masih kata Arif, ilmu yang masih dipegang teguh oleh warga dan para jamaah adalah ilmu tasawuf, terlebih tokoh ulama di wilayah sekitar sangat kental dengan ilmu itu.

"Mamah Sempur ikut mendirikan bangunan mesjid ini. Kita masih mengikuti aturan dan ajaran beliau," ungkapnya.

Untuk diketahui masjid ini digunakan untuk pengajian, shalat wajib, shalat Jumat dan shalat ied dengan kapasitas makmum cukup banyak.

 

(mso/mso)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah simpatisan Rizieq Shihab bertahan di dekat Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Soemarno meski telah diimbau dengan mobil pengeras suara milik polisi tepat di sebelah mereka pada Jumat (26/3/2021) siang.

Kencangnya suara pengeras dan memekakkan telinga tak membuat simpatisan Rizieq Shihab bubar. “Pergunakan masker selalu. Demi bapak-bapak dan adek-adek juga, kesehatan adalah segalanya,” ujar polisi lewat pemgeras suara.

Pantauan Kompas.com, mereka bergeming dan bersandar ke JPO Sumarno. Sesekali mereka menutup kuping saat suara imbauan keluar dari mobil pengeras suara tepat di sebelah para simpatisan Rizieq Shihab.

Polisi pun berjaga di depan mereka. Polisi sempat meminta langsung kepada simpatisan Rizieq untuk meninggalkan lokasi. Salah satu simpatisan Rizieq Shihab, Andi mengatakan, ia bersama teman-temannya datang dari Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Andi dan teman-temannya mengetahui adanya sidang yang dihadiri Rizieq Shihab dari media sosial. “Kami dari Bekasi Timur, ke sini mau pantau dan ngawal sidang. Kami pencinta Habib Rizieq,” ujar Andi saat ditemui di dekat JPO pada Jumat (26/3/2021) siang.

Andi mengatakan, datang bersama 20 orang teman-temannya. Mereka datang menggunakan transportasi umum berupa kereta api.

Saat diimbau terus menerus oleh polisi, sebagian simpatisan Rizieq Shihab sempat bergeser sedikit. Namun, sebagian lainnya tetap bertahan. “Lu ngapain mundur. Ya elah. Sini aja,” kata Andi.

Sebelumnya, persidangan Rizieq akan berlangsung tatap muka di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur pada Jumat (26/3/2021). Sebanyak 1.985 personel Polri dan TNI akan dikerahkan untuk menjaga persidangan mantan Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

Majelis Hakim PN Jaktim yang terdiri dari Suparman Nyompa, M Djohan Arifin, dan Agam Syarief Baharudin mengabulkan permintaan Rizieq hadir di ruang sidang. Rizieq berkali-kali menolak mengikuti sidang secara virtual.

Hal itu diputuskan majelis hakim dalam sidang yang digelar pada Selasa (23/3/2021).

Permintaan itu dikabulkan setelah tim kuasa Rizieq membuat surat jaminan bahwa tidak akan ada kerumunan orang di PN Jaktim saat sidang perkara Rizieq digelar. Kepada majelis hakim, Rizieq juga menjamin simpatisannya tidak akan hadir di lingkungan PN Jaktim.

Majelis hakim sebelumnya mengaku khawatir massa pendukung Rizieq akan mendatangi PN Jaktim jika sidang digelar offline. Kondisi itu berpotensi terjadi penularan Covid-19. Hakim sekaligus mengabulkan permohonan sidang tatap muka untuk dua perkara sekaligus.

Pertama, perkara nomor 222/Pid.B/2021/PN.Jkt.Tim terkait kasus kerumunan di Petamburan, Jakarta Pusat. Lalu, perkara 226/Pid.B/2021/PN.Jkt.Tim terkait kasus kerumunan dan pelanggaran protokol kesehatan di Megamendung Bogor, Jawa Barat.

Dengan dikabulkannya permohonan itu, Rizieq dalam sidang selanjutnya tak lagi mengikuti sidang virtual dari Rutan Bareskrim Polri. Ia bisa langsung hadir di PN Jakpus sebagaimana perintah hakim.

Penulis : Wahyu Adityo Prodjo
Editor : Sabrina Asril

Diterbitkan di Berita