KBRN, Jakarta: Nama Wali Kota Pariaman, Sumatera Barat, Genius Umar, baru-baru ini menjadi sorotan setelah dirinya menolak surat keputusan bersama (SKB) 3 Menteri tentang penggunaan seragam sekolah.

Genius Umar sendiri merupakan Wali Kota Pariaman periode 2018-2023. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota Pariaman pada periode 2013-2018. 

Saat ini, pria kelahiran Pariaman 24 Juli 1972  ini pun menjabat sebagai Co-President Tourism Promotion Organization Korea.

Genius juga tercatat pernah berkarier di sejumlah instansi pemerintahan, salah satunya sebagai Kasubag Kerja Sama Antar Lembaga Parlemen, Setjen Hubungan Luar Negeri DPD RI pada 2009-2010. 

Ia juga tercatat merampungkan S3 di Institut Pertanian Bogor. Dalam Pilkada 2020, Genius menjadi calon Wakil Gubernur mendampingi Fakhrizal. Pasangan ini diusung oleh Nasdem, Golkar, dan PKB. 

Saat mendaftar sebagai pasangan calon, mereka diantar ratusan pendukungnya ke KPU Sumatera Barat yang melanggar protokol kesehatan Covid-19.

Dalam segi pendidikan Genius merampungkan studi di Sekolah Dasar No 2 Pauh Pariaman, tahun 1985, lalu Sekolah Menengah Pertama No 4 Pariaman, tahun 1988, dan Sekolah menengah Atas No 2 Pariaman, tahun 1991. Dia lalu lanjut Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri pada 1994.

Selain itu, Genius juga mengenyam Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, Jakarta, Sarjana Jurusan Manajemen Pembangunan Daerah, tahun 1997. Dia menyelesaikan S2 Jurusan Kebijakan Publik di Universitas Gadjah Mada, Magister Kebijakan Publik pada. Sementara untuk program Doktor, dia menyelesaikannya di Institut Pertanian Bogor, program Manajemen dan Kebijakan Pengelolaan SDA dan Lingkungan.

Sebelumnya, Genius Umar mengatakan tak pernah ada kasus penolakan pemakaian seragam sekolah yang identik dengan agama Islam di kotanya. Dia menyatakan aturan berpakaian di sekolah yang telah ada di Pariaman tak akan diubah.

Genius berencana menyurati Nadiem untuk membicarakan aturan berpakaian di sekolah di daerahnya. Dia menegaskan siswa-siswi di Pariaman tak pernah dipaksa menggunakan seragam yang identik dengan agama tertentu. Meski demikian, katanya, para pelajar menggunakan seragam yang identik dengan Islam karena mayoritas penduduk di Pariaman adalah pemeluk Islam.

Diterbitkan di Berita