JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pascameninggalnya Ustaz Arifin Ilham, dikabarkan  muncul perseteruan dalam kehidupan istri yang ditinggalkan Sang Ustaz.

Di akun FB Mak Lembe Turah, dinukil NNC 23 Agustus 2021, banyak netizen malah menanggapi tentang praktik poligami yang dilakukan Ustaz Arifin.   

MLT: “Yang banyak sodara aja berantem, apalagi banyak istri....maklumlah kl ada sedikit berantem.... manusiawi lahh.”

Kun Hartawan: “….Ya sdh d jalani aja, namany pilihan punya 3 istri dan masing2 istri punya ego dan keinginan sendiri2….belum lagi kalu ada anak masing2 dri ketiga istri tsb…dan pastiny akan semakin besar masing2 keinginan dan ego nya .”

Wardhani: “Semua akibat t*t*t nakal..”

Rustiyani: “Semoga beliau yang sudah meninggal tidak menangis.”

Wee Jee: “Banyak teman saya yang jadi istri ke dua ke tiga ke satu. Ternyata tak seindah yang kita lihat di somed. Ngilu nda kalau denger curhat nya....”

Sebelumnya diberitakan, masalah yang mendera Alvin Faiz ikut menghantam keluarganya. Seusai bercerai dari Larissa Chou, sempat ada polemik di dalam keluarga.

Istri pertama Ustadz Arifin Ilham, Umi Yuni dikatakan sempat menjelekkan Larissa Chou lewat DM dengan menggunakan akun palsu.

Kini istri kedua Ustadz Arifin Ilham, Umi Rania Bawazier disebut turut melaporkan Umi Yuni ke pengadilan!

Selama ini Ustadz Arifin Ilham diketahui memiliki 3 orang istri dan hidup rukun. Bahkan ketiganya kompak menjaga Ustadz Arifin Ilham semasa hidup.

Namun kini setelah Alvin Faiz bercerai dari Larissa Chou, banyak masalah yang mencuat ke publik.

Itu diketahui dari unggahan Instagram Story Nazmi yang kakak kandung Umi Rania Bawazier, sebagaiman dikutip dari @nenk_update pada Kamis (19/8/2021) malam.

Awalnya dia mengunggah foto kuda dengan tulisan, 'Fokus aja main kuda #jangan main akun palsu'.

Dia menambahkan di bawahnya, 'oknum yg bikin nama islam buruk, yaitu oknum yg selalu berlindung dalam ayat atas kesalahannya.. tapi ketika bikin fake account dan sebarin fitnah, tiba-tiba lupa sama semua ayat dan hadits..'.

Kemudian dia juga mengunggah pintu Pengadilan Negara Jakarta Pusat sambil menandai Umi Rania dan juga Azzikra.

Banyak yang menduga Umi Rania diejek oleh akun palsu yang milik Umi Yuni.

Umi Yuni juga sebelumnya sempat tertangkap basah menggunakan akun palsu untuk menghujat Larissa Chou pasca bercerai dari Alvin.

Sebelumnya, hubungan pasangan ini sudah merenggang sejak bocornya sebuah postingan Instagram Story Larissa.

Di situ, Larissa mencurahkan seluruh keresahan hatinya menghadapi kelakuan Alvin selama menikah.

Namun tak lama setelah kejadian tersebut, Alvin dan Larissa sudah kembali berbalas komentar di sosial media.

Kini, giliran kelakukan ibunda Alvin Faiz yang dibeberkan oleh Larissa Chou.

Itu bermula saat adik ipar Alvin Faiz, Nadzira Shafa melakukan live di Instagram bersama Umi Yuni.

Larissa langsung menuliskan bahwa ia menunggu permintaan maaf Umi Yuni.

"Hello, ditunggu permintaan maafnya ibu Yuni," tulis Larissa, dikutip dari YouTube TRANS7 Lifestyle, Senin (28/6/2021).

Tidak hanya itu, Larissa Chou juga mengatakan bahwa hidupnya kini hancur karena Umi Yuni.

"Masih bisa tertawa habis hancurin hidup aku ini," sambungnya.

Lebih lanjut, Larissa Chou menjelaskan alasannya menuliskan kalimat menohok tersebut.

Menurutnya, ibunda Alvin Faiz masih memberikan tekanan yang membuatnya sangat lelah.

Bahkan, Larissa memergoki Umi Yuni menggunakan akun palsu (fake account) di Instagram untuk mengirim komentar jahat padanya.

"Hanya berada di titik sangat lelah, dan sudah tertekan banget, kayak mau teriak tapi enggak bisa."

"Hari ini aku diomongin lagi oleh fake account dari pihak keluarga mantan suami, ibunya," pungkasnya seperti dinukil Tribunnews.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P

 
Diterbitkan di Berita

suaraislam.co Beredar sebuah video pendek yang menayangkan sebuah rumah memasang bendera Palestina di depan rumahnya.

Video tersebut viral dan menjadi perbincangan di media sosial. Pasalnya, di hari kemerdekaan Republik Indonesia, warga tersebut tidak memasang sang saka Merah Putih, melainkan bendera negera lain.

Video tersebut diunggah pemilik akun twitternya @WagimanDeep212_ pada 11 Agustus 2021. “Ketika dibulan agustus ini warga sekitar menaikkan bendera Merah Putih, ada salah satu warga yang menaekkan bendera negara laen.. Atau pemilik rumah warga Palestina?….ndak punya Bendera Indonesia Merah Putih?”, tulis @WaqimanDeep

 

 

Menurut keterangan, video tersebut diambil di Beji Timur Depok.

“Pidio diambil lasekar ane baru aja, malah nampak smakin ditinggikan Lokasi : Jln kabel Beji timur depok”, imbuhnya

 

Video tersebut mendapat banyak hujatan dari warganet.

“Lahir hidup di indonesia, cari makan dan tinggal di indonesia, dapat bansos pula, tpi yg di junjung tinggi bendera negara lain, ini yg namanya penghianat bangsa”, tulis akun @bixghiend

“Kelewat batas tdk menghormati para pahlawan negara yg mengorbankan darah dan nyawa”, tambahnya

Salah satu warganet meminta aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian ini.

“Kalau ini kan cm bendera Palestina.. Ada apa??.. Knp tdk memasang bendera Merah Putih???.. Patut dipertanyakan & polisi bs minta pemilik rmh utk menurunkan bendera tsb.. Kpd pemilik rumah jgn lah mengusik euforia semangat Kemerdekaan bangsa Indonesia saat ini”, tambah satu warganet

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pernyataan Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari  mengejutkan publik karena membandingkan antara Presiden Joko Widodo dan Gubernur Anies Baswedan.

Bahlan, ia menyebut Jokowi sudah bagus namun kepada Gubernur Anies ia sempat menyebut: “Apa buktinya Bapak berhasil?”

Di akun FB Mak Lambe Turah, Rabu 11 Agustus 2021, sejumlah netizen mencuit keras.

MLT: “Laskar skuadroen yang kemaren2 memuja muji bu siti fadilah sepertinya bakal berbalik awokawokkk.”

Juniati Simbolon: “Tp gabener banyak kelebihannya buu. KELEBIHAN BAYAR MELULU.. buahahahahaha.” 

Denni Ny Hasan: “Si ibuk ny takut hilang.”

Sebelumnya diberitakan, Siti Fadilah Supari menyinggung kinerja dua pemimpin dalam penanganan Covid-19. Siti memuji Jokowi bagus dan mempertanyakan apa bukti Anies berhasil.

Penilaian Siti Fadilah ini konteksnya soal PPKM dan penurunan kasus Covid-19 di DKI Jakarta. Yuk simak dulu sampai selesai ya.

Mantan Menkes era Presiden SBY itu menyuarakan untuk fokus pada penekanan angka kematian Covid-19 saja kalau pemerintah tak bisa mengantisipasi dan memprediksi kapan pandemi akan terjadi lagi.

Siti Fadilah menyoroti soal klaim Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan soal angka kasus Covid-19 di DKI Jakarta yang belakangan menurun.

Siti nggak puas dengan penjelasan Anies, penurunan kasus Covid-19 di Jakarta itu dampak dari pemberlakuan PPKM. Menurutnya itu hanyalah asumsi Anies saja. Siti mengatakan untuk tahu angka kasus turun itu mestinya diteliti betul jangan pakai asumsi.

“Saya dengar kemarin Gubernur Anies, dia dengan happy-nya klaim berhasil. Sekarang bapak apa buktinya bapak berhasil. Kan turun katanya, apakah tracing Anda juga turun? iya turun. Kalau turun ya pasti itunya (kasus) turun. Nggak ada tracing, ya nggak ada kasus,” kata Siti dalam perbincangan di kanal Youtube Karni Ilyas Club, dikutip Selasa 10 Agustus 2021.

Nah di sisi lain, Siti Fadilah memuji langkah Jokowi yang putuskan tidak mengambil langkah lockdown. Menurutnya Jokowi tepat lho mengambil kebijakan pembatasan dengan skema PPKM atau PSBB.

Dia mengatakan orang nggak tahu saja, kalau Indonesia di-lockdown itu ada ada konsekuensi pemerintah tunduk pada kekuatan dan skenario global.

“Lockdown itu sakit lho untuk suatu negara maju sekalipun. Saya senang dengan pak Jokowi tak pilih lockdown walaupun didemo. Orang yang demo nggak tahu lockdown itu artinya kita 100 persen tunduk dengan mereka,” kata dia.

Mereka yang dimaksud Siti Fadilah adalah kekuatan global yang bisa mengendalikan ekonomi dan politik di masa pandemi ini.

Siti menjelaskan andai Indonesia lockdown, artinya Indonesia menyerah bertekuk lutut pada kekuatan tersebut. Jadinya Indonesia tak kuasa untuk menolak skenario yang diinginkan mereka.

“(Lockdwon) bukan hanya mencegah pergerakan orang tapi juga begitu lockdown, perintah dari mereka akan bersambungan terus,” katanya.

Dia melanjutkan Presiden Jokowi mengambil kebijakan pembatasan berupa PSBB itu justru layak kok bagi karakter rakyat Indonesia.

“Presiden ambil PSBB itu bagus, walaupun ada sebagian yang menilai itu karena pemerintah tak mau berikan uang ke rakyatnya karena lockdown, tapi rakyat Indonesia kan berbeda dengan bangsa lain. Paling pas menurut saya ya PSBB, PPKM. Itu cukup pas untuk orang Indonesia,” jelasnya.

Siti Fadilah Supari berpandangan virus Corona bisa menyebar secara alami dan juga direkayasa alias buatan. Nah kata Siti, kalau virus Corona terjadi secara alami, maka kejadiannya nggak seperti kasus ledakan corona di beberapa negara seperti saat ini.

Siti kok melihatnya ada yang nggak beres, kasus ledakan Covid-19 kok kompak beriringan gitu.

“Kalau natural, mestinya perjalanannya tidak seperti itu. Ini loh yang akhir-akhir ini, India, Indonesia, Singapura, nah itu rada aneh,” kata Siti di akun YouTube Karni Ilyas Club dikutip dari Suara.com, Senin 9 Agustus 2021.

Dia juga nggak tahu dan belum bisa membuktikan corona itu adalah rekayasa. Sebab kalau pemikirannya demikian, maka Amerika Serikat juga korban dari rekayasa Covid-19.

Makanya untuk memastikan karakter Corona itu asli atau buatan, Siti berpandangan perlu lho diteliti lebih dalam. Apalagi Indonesia punya sejumlah peneliti yang bisa membongkar hal itu.

Siti menjelaskan Indonesia memiliki sejumlah ahli yang bisa meneliti virus corona. Ia mengatakan keterlaluan virus yang memicu ledakan kasus Covid-19 di sejumlah negara itu sama. Kira-kira sama nggak sih karekter virus Covid-19 yang ada di Singapura, Amerika Serikat.

“Kalau sama ya kebangetan. Wong dunia segini lebarnya, hawanya berbeda, lah kok bisa agak sama. Dan mestinya kita manfaatkan itu virolog-virolog Eijkman, untuk mengeksplorasi virus pada waktu meledak itu berkarakter seperti apa, dari mana dia datang, ke mana dia pergi,” saran Siti.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pernyataan Rizal Ramli yang tanpa ada kesan menghormati Presiden Joko Widodo disorot warganet di sosial media. Rizal Ramli sampai menyebut gegara Jokowi negara sampai nyungsep.

Di akun FB Mak Lambe Turah, sejumlah netizen malah mengkritik apa yang dilakukan Rizal Ramli. 

MLT: “Emang kalo kepincut jadi presiden, hari2 kudu kowar kowar ngalahin emak.”

Luhut Tobing: “Bentuk mulut yg selalu mencibir orang lain..sementara dirinya sendiri miskin prestasi. Kalau hanya mampu nya nyinyir..beda2 tipis dgn permaisuri Cikeas...”

Tanu Shanja: “Masih sakit hati krn gagal nikah, koq malah nyinyirin orang lain.”

Untuk diketahui, Rizal Ramli yang kerap berseberangan dengan pemerintahan Jokowi tak jarang,  melempar kritikan tajam yang menyakitkan.

Baru-baru ini, Rizal mengatakan, prinsip kepemimpinan Jokowi yang mengutamakan kerja, kerja, dan kerja merupakan suatu kekeliruan. Sebab, dengan demikian, pemimpin negara tersebut sama saja mendorong rakyatnya untuk kerja keras fisik layaknya kuli.

“Awalnya Jokowi kabinet trisakti. Enggak lama diganti kabinet kerja, kerja, kerja. Itu, mah, suruh rakyat jadi kuli doang,” ujar Rizal Ramli dikutip dari Genpi, Kamis 29 Juli 2021.

Menurut Rizal Ramli, apa yang dilakukan Jokowi sangat bertentangan dengan apa yang telah diamanahkan Presiden pertama RI, Soekarno. Bahkan, dia tak sungkan-sungkan menyebut, Jokowi telah membuat kualitas negara menurun, alias ‘nyungsep’.

“Penikmat hasil kerja oligarki! Bertentangan dengan tema Bung Karno. Bikin lapangan kerja pun enggak bisa. Pantas nyungsep,” tuturnya.

Bukan hanya itu, Rizal Ramli juga mengakatan, the Founding Fathers atau para pendiri Republik Indonesia berpandangan maju. Hal tersebut berawal dari pernyataan jurnalis United Press Arnold Brackman yang mengaku dekat dengan para elit Indonesia tahun 40-an.

Seorang pendeta wanita yang memutuskan untuk alih profesi menjadi penari telanjang mengaku bahagia..

“Watak para pendiri Republik Indonesia umumnya berpandangan maju (enlightened),” terangnya.

Lebih jauh, dia memastikan, para pendiri bangsa juga gemar beramal untuk kepentingan kemanusiaan.

“Mereka umumnya tidak kikir, tidak pelit kepada rakyat,” tegasnya.

Sebelumnya, Rizal mengaku kecewa dengan upaya pemerintah Jokowi mendatangkan vaksin Sinovac dari China. Sebab, selain murah, vaksin tersebut diyakini memiliki evektivitas yang rendah.

Menurut Rizal, efektivitas vaksin Sinovac hanya berada di kisaran 50 persen. Itulah mengapa, dia berkesimpulan, senyawa tersebut tak mampu memberikan perlindungan optimal terhadap masyarakat Indonesia.

“Ada yang bilang vaksin enggak efektif. Tentu tidak efektif karena kita pakai vaksin sinovac yang kualitasnya rendah. Artinya dari 100 orang yang divaksin 50 itu efektif, 50-nya sama sekali tak efektif bisa kena lagi.”

“(Rakyat harusnya) Divaksin yang kualitasnya di atas 95-98, misalnya Pfizer Moderna dan lain-lain. Jadi bukan asal vaksin dengan kualitas yang rendah,” urainya.

Dia melihat, negara hanya separuh-separuh dalam menyelenggarakan vaksinasi nasional. Bahkan, dia menuding pemerintahan Jokowi terlalu pelit dalam mendatangkan vaksin ke Indonesia.

“Ini gara-gara pemerintahnya pelit. Ngapain sih lu pakai Sinovac? Pelit amat ama rakyat, nyawa rakyat dijadikan perjudian!” kata Rizal dinukil Hops.id.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita

ERA.id - Istri dari Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, yakni Annisa Pohan, dihujat warganet usai keliru menuliskan ayat dalam surah Al-Baqarah.

Sebelum menuliskan itu, ia memang mengeluhkan tentang banyaknya fitnah yang dialamatkan kepada Demokrat soal demonstrasi menolak perpanjangan PPKM Darurat, Satu (24/7/2021) lalu.

"Sungguh FITNAH kpd para kader demokrat sebenarnya bukan menyudutkan Partai Demokrat, tapi mengecilkan arti demokrasi. Sungguh ironis kawan-2 yg ingin menyampaikan aspirasi malah dituduh bergerak bukan dari pikiran & keinginan hati sendiri,ini adalah sebuah penghinaan kpd mereka," tulis Annisa.

Menantu SBY itu memang patut menulis begitu, sebab sejak kemarin, beredar flyer tentang tuduhan bahwa Demokrat menunggangi gerakan demonstrasi yang sempat memanas di beberapa daerah.

Tiga orang pun disasar oleh pembuat flyer tersebut, yakni Andi Arief, SBY, dan Rachland Nashidik. Tentunya itu semua masih sebatas dugaan.

 

 

Setelahnya, ibu dari Aira itu lalu berniat mengutip arti ayah Al-Qur'an yang artinya seperti ini, "Dan fitnah lebih besar daripada pembunuhan. (QS. Al-Baqarah [2]: 217)."

Setelah itu, ia menulis lagi dengan kata yang sama namun ada perubahan sedikit yaitu pada surahnya. "Dan fitnah lebih besar daripada pembunuhan. (QS. Al-Baqarah [2]: 291)."

Usai menulis hal tersebut, netizen pun langsung menghujatnya. Alasannya sederhana, surah tersebut ternyata hanya 286 ayat. Lalu dari mana Annisa bisa menulis cuitan seperti itu?

Tak lama, Annisa Pohan diduga langsung menghapus cuitannya tentang Al-Baqarah. Ia kemudian menulis soal surah Al-Hujurat. Di sana, netizen menumpahkan keheranannya.

Ia pun dituduh sedang menista Al-Qur'an. "Penistaan nih....perlu didemo," tulis @Agustok30271387.

Cuitan itu langsung dibalas, "Tar dimarahin papa gede loch," tulis @GME_Gun.

 

 

Diterbitkan di Berita

Eva Mazrieva VOA Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) hari Jumat (26/2) mengumumkan rencana pembentukan komite etika berinternet yang bertujuan untuk mendorong penataan di ruang digital yang lebih sehat. Sebelumnya juga marak diskursus pembentukan virtual police untuk mengawasi perilaku netizen di dunia maya.

Dalam konferensi pers virtual, Menteri Kominfo Johnny G. Plate mengatakan pembentukan komite itu merupakan bagian dari arahan Presiden Joko Widodo 15 Februari lalu agar dunia maya Indonesia menjadi lebih “bersih, sehat, beretika, penuh sopan santun, bertata krama, produktif dan mampu memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat.”

Johnny G. Plate juga menyebut hasil survei digital Microsoft yang menilai netizen Indonesia memiliki tingkat keberadaban (civility) yang rendah. Dari 32 negara yang disurvei, Indonesia ada di peringkat 29 atau yang terburuk di Asia Tenggara.

Microsoft pekan ini merilis “Indeks Keberadaban Digital” atau “Digital Civility Index” yang menunjukkan tingkat keberadaban pengguna internet atau netizen sepanjang tahun 2020.
 
 

Tingkat keberadaban netizen ini diukur dari persepsi netizen terhadap risiko yang mereka dapatkan di dunia maya, misalnya dari penyebarluasan berita bohong atau hoaks, ujaran kebencian atau hate speech, diskriminasi, misogini, cyberbullying, trolling atau tindakan sengaja untuk memancing kemarahan, micro-aggression atau tindakan pelecehan terhadap kelompok marginal (kelompok etnis atau agama tertentu, perempuan, kelompok difabel, kelompok LGBTQ dan lainnya) hingga ke penipuan, doxing atau mengumpulkan data pribadi untuk disebarluaskan di dunia maya guna mengganggu atau merusak reputasi seseorang, hingga rekrutmen kegiatan radikal dan teror, serta pornografi.

 

Monetisasi Platform Media Sosial

Diwawancarai melalui telepon Jumat malam (26/2), pakar komunikasi dan digital media di Universitas Indonesia Dr. Firman Kurniawan mengatakan memahami rencana pembentukan komite etika berinternet ini karena “media digital, khususnya media sosial, hari-hari ini semakin tidak nyaman untuk berelasi atau menjadi bagian dari medium komunikasi.

 

Aplikasi Social Media di sebuah telepon genggam. (Foto: ilustrasi)
Aplikasi Social Media di sebuah telepon genggam. (Foto: ilustrasi)

 

Media sosial yang pada awalnya dirilis untuk memudahkan berkomunikasi, mencari informasi dan berbisnis misalnya, kini semakin lama lebih menonjolkan aspek bisnisnya. Misalnya saja YouTube yang kini mendorong pengguna untuk memiliki subscriber yang banyak atau Twitter, Facebook, Instagram yang mendorong pengguna memiliki followers-nya sebanyak-banyaknya, yang kemudian akan menarik pemasang iklan dan menguntungkan kedua belah pihak, yaitu pemilik akun dan pengembang platform.

Platform media sosial ini lebih menonjolkan dimensi ekonomi sehingga berlomba-lomba menjadikan wahananya menjadi tempat menghasilkan uang, dan kadang-kadang dalam perlombaan itu terjadi kompetisi yang tidak sehat dan persoalan etika serta kenyamanan pengguna dilupakan.”

 

Penetrasi Internet Tinggi, Etika Tak Dijaga

Survei Asosiasi Jasa Penyelenggara Internet Indonesia tahun 2020 menunjukkan ada 196,7 juta orang di Indonesia yang menggunakan internet, atau berarti 73,7 persen dari total penduduk. Angka ini naik 8,9 persen atau sekitar 25,5 juta dibanding periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar menggunakan internet untuk berselancar di media sosial dan berkomunikasi.

 

Rapat Kerja Menkominfo RI Johnny G.Plate dengan Komisi I DPR RI pada 1 Februari 2021. (Foto: IG @johnnyplate)
Rapat Kerja Menkominfo RI Johnny G.Plate dengan Komisi I DPR RI pada 1 Februari 2021. (Foto: IG @johnnyplate)

 

Namun sebagaimana Menkominfo Johnny G. Plate, “sayangnya penggunaan ruang digital yang sedemikian masif, belum diikuti dengan perilaku pemanfaatan ruang digital yang beretika.”

Itulah sebabnya pembentukan komite etika berinternet dinilai perlu. Komite ini, menurut Johnny G. Plate, akan memiliki dua tugas utama yaitu “merumuskan panduan praktis terkait budaya serta etika berinternet dan bermedia sosial, yang berlandaskan pada asas kejujuran, penghargaan, kebajikan, kesantunan, dan penghormatan atas privasi individu lain dan data pribadi individu lain;” dan mendorong pelaksanaannya bersama seluruh pihak.

Pemerintah Diminta Juga Atur Perusahaan Medsos

Firman Kurniawan memuji langkah cepat ini, tetapi menilai pedoman seharusnya tidak saja dibuat untuk memagari netizen atau pengguna internet, khususnya media sosial, tetapi juga perusahaan teknologi raksasa dan pemilik platform media sosial.

 

Dr. Firman Kurniawan, pengamat komunikasi dan budaya digital. (Courtesy Photo)
Dr. Firman Kurniawan, pengamat komunikasi dan budaya digital. (Courtesy Photo)

 

“Kalau menurut saya, perusahaan teknologi raksasa dan pengembang platform, sebut saja Facebook, YouTube, Twitter, Instagram dan bahkan yang terbaru Clubhouse, harus juga dikenai aturan negara. Misalnya Facebook, yang sekarang tidak ada bedanya dengan stasiun televisi kita (RCTI, SCTV, Metro dll) yang diikat oleh aturan dari Komisi Penyiaran Indonesia KPI. Atau medium film-film kita yang diikat oleh Lembaga Sensor Film, dan seterusnya. Jadi setiap medium itu ada pengawas dan aturannya, baik untuk urusan konten, maupun monetisasinya,” jelasnya.

Ditambahkannya, saat ini seperti terjadi “kegagapan” di pihak otorita berwenang menghadapi perkembangan platform media sosial yang luar biasa cepatnya. Walhasil yang banyak disasar, menurut Firman, adalah para pengguna. “UU Informasi dan Transaksi Elektronik ITE itu menyasar publik, tetapi bagaimana dengan penyelenggara platformnya?.”

Merujuk beberapa kejadian yang berkelindan dengan peran platform media sosial, seperti kerusuhan di gedung Kongres Amerika 6 Januari lalu atau berita hoaks soal kecurangan pemilu di beberapa negara, Firman mengatakan platform media sosial sebagai perangkat, tidak sepenuhnya bebas dari kesalahan.

Menurut Firman, ada aspek struktural yang melekat pada platform, yang ketika digunakan seoptimal mungkin, kadang-kadang ada penyimpangan atau distorsi.

"Ketika platform mencatat aktivitas kita, disebut sebagai digital path dan mengumpulkan datanya sebagai algoritma, yang kemudian digunakan untuk mem-profiling perilaku orang. Perangkat ini digunakan untuk dalam tanda kutip 'memanipulasi pengguna platform yang bersangkutan agar berperilaku yang menguntungkan pengembang platform, dalam arti meraih iklan'," jelasnya.

"Soal apakah cara itu beretika atau tidak, tidak terlalu diperhatikan. Yang penting orang bisa memonetisasi dan menguntungkan pengembang platform, itu saja. Nah giliran kita menagih tanggung jawab para pengembang platform ini,” jelasnya. [em/es]

Diterbitkan di Berita