Deutsche Welle (DW) - detikNews Jakarta - Abida Ahmed, 27, mantan mahasiswa Universitas Muslim Aligarh (AMU) kehilangan tiga anggota keluarganya sejak gelombang COVID-19 melanda India pada April lalu.

Terlepas dari duka yang mendalam, Abida memberanikan diri untuk mendaftarkan suntikan vaksin pertamanya melalui aplikasi CoWIN yang dikelola pemerintah.

"Ribuan orang India sekarat setiap hari hanya karena mereka sulit mendapatkan oksigen. Banyak lagi yang bahkan tidak bisa dimakamkan dengan layak," kata Abida kepada DW.

"Bagaimana Anda menghibur atau memberi harapan kepada kami? Mengapa kami percaya kepada pemerintah ketika mereka tidak dapat berbuat apa-apa di saat orang-orang sekarat?" dia bertanya.

Amna Khatoon, seorang karyawan swasta, juga kehilangan pamannya karena COVID-19. "Banyak orang yang wafat akibat gelombang kedua, meskipun sudah disuntik vaksin. Tidak ada informasi yang jelas dari pihak berwenang tentang kemanjuran vaksin," kata Khatoon kepada DW.

"Ada ketakutan terhadap keraguan vaksin, karena orang berpikir itu akan menyebabkan efek buruk. Kecemasan ini adalah sesuatu yang perlu kita hilangkan," kata Ali Jafar Abedi dari departemen kedokteran komunitas kepada DW.

Keraguan terhadap vaksin COVID-19

Selama dua bulan terakhir, sebagian komunitas muslim merasa was-was terhadap inokulasi, terutama setelah kematian Maulana Wali Rahmani, Sekretaris Jenderal Dewan Hukum Pribadi Muslim Seluruh India.

Dia menerima suntikan pertama vaksin corona kurang dari seminggu sebelum dinyatakan positif.

Kematian Rahmani semakin menimbulkan keraguan di masyarakat tentang kemanjuran vaksin. Untuk mengatasi kesalahpahaman tersebut, beberapa pemimpin muslim pun meluncurkan kampanye untuk membujuk masyarakat agar mau disuntik vaksin COVID-19.

Wilayah yang dilanda krisis kesehatan parah

Infrastruktur kesehatan di Kota Aligarh dengan populasi lebih dari 1,2 juta penduduk, kebanjiran pasien sejak April dan Mei lalu. Penduduk di sejumlah kota tetangga seperti Kasganj, Hathras, dan Iglas juga mendatangi fasilitas medis di Aligarh untuk mendapatkan perawatan.

"Kondisi itu adalah mimpi buruk, pemerintah tidak membantu kami. Warga saling membantu, tetapi tidak ada tempat tidur di rumah sakit," Asha Devi, seorang ibu rumah tangga dari Hathras, mengatakan kepada DW.

Perlu meredam informasi yang tidak jelas

Wakil Rektor AMU Tariq Mansoor mengatakan keraguan terhadap vaksin telah berkontribusi pada penyebaran virus corona di kampus.

"Keraguan akan vaksin memainkan peranan penting dalam sejumlah besar kasus COVID-19 di antara karyawan universitas dan keluarga mereka," kata Mansoor dalam surat terbuka kepada komunitas AMU bulan lalu.

"Vaksinasi diperlukan untuk mengendalikan situasi saat ini, serta mencegah potensi gelombang ketiga di masa depan," katanya. Beberapa percaya bahwa keraguan vaksin juga merupakan akibat dari komunikasi yang buruk.

"Sejak awal, seharusnya ada pesan yang jelas untuk mengatakan bahwa vaksinasi akan melindungi warga dari penyakit serius, dan ini tidak pernah dicoba," kata seorang anggota fakultas senior kepada DW.

"Ada banyak desas-desus tentang vaksin, tetapi salah satu yang beredar di kalangan muslim adalah bahwa vaksinasi itu adalah taktik untuk mengendalikan populasi muslim," tambahnya.

Menghilangkan rumor dan teori konspirasi semacam itu sangat sulit, tetapi beberapa orang merasa bahwa masalah yang lebih besar adalah ketidakpercayaan mendasar terhadap pihak berwenang.

Dokter Saira Mehnaz mengatakan masyarakat bisa mengatasi masalah keragu-raguan vaksin. "Tetapi, yang sangat kami butuhkan adalah peluncuran vaksin yang cepat sehingga orang dapat disuntik dan aman." (ha/gtp)

(ita/ita)

Diterbitkan di Berita

Komunitas Tionghoa Muslim di Indonesia menjadikan Laksamana Cheng Ho sebagai salah satu tokoh pemersatu. Namanya bahkan diabadikan sebagai nama belasan masjid di Tanah Air.

Namun, ada dugaan pemahaman yang tidak tepat mengenai apa agama Cheng Ho sebenarnya.

Upaya untuk menelusuri agama Cheng Ho antara lain dilakukan oleh Novi Basuki. Dia adalah santri salah satu pesantren di Jawa Timur, yang kini sedang menempuh pendidikan S3 Politik Internasional di Universitas Sun Yat-sen, China.

 

Novi Basuki, penulis buku Islam di China Dulu dan Kini. (Foto: VOA/Nurhadi)
Novi Basuki, penulis buku Islam di China Dulu dan Kini. (Foto: VOA/Nurhadi)

 

“Saya tidak menampik, terus terang, bahwa Cheng Ho ini dilahirkan dari keluarga seorang muslim, sebagaimana epitaf tadi, ayahnya adalah seorang haji. Mungkin dia terlahir sebagai seorang muslim, tetapi saya curiga jangan-jangan setelah dia dewasa, dia mungkin mengubah keyakinannya,” kata Novi.

Muslim Konfusianis

Bahasan terkait itu ditulis Novi dalam buku berjudul "Islam di China Dulu dan Kini" yang belum lama diterbitkan. Buku itu dibedah oleh Pusat Penelitian Politik LIPI dan Penerbit Buku Kompas, Rabu (2/6).

Novi sendiri menempuh pendidikan S1 jurusan Bahasa dan Budaya China di Universitas Huaqiao, China dan melanjutkan studi S2 Hubungan Internasional, Universitas Xiamen. Dia juga duduk sebagai Sekjen Forum Sinologi Indonesia dan Pemimpin Redaksi di laman Aseng.ID.

Novi tentu saja tidak begitu saja mengambil kesimpulan. Dia memastikan telah membaca teks-teks berbahasa Mandarin, terutama literatur kedinastian klasik, yang masih memakai model penulisan kuno.

Dalam penelusurannya, Novi tidak menemukan bukti langsung yang menyatakan bahwa Cheng Ho seorang muslim.

 

Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

 

Selain itu, dalam sebuah naskah sutera Budhis yang dilelang di sebuah balai lelang di New York tahun 2015, Cheng Ho justru menyebut dirinya sebagai kasim Kaisar Ming yang menganut Budha dan mempunyai nama darma Fu Jixiang.

“Sementara yang menyebut Cheng Hho adalah muslim, hanya berdasar kepada satu bukti, yaitu satu epitaf atau batu nisan ayah Cheng Ho yang bermana Haji Ma. Epitaf ayah Cheng Ho ini sekarang ada di Yunan,” lanjut Novi.

Menurut silsilah, Cheng Ho memang lahir di tengah keluarga muslim. Dia masih keturunan Sayyid Ajal Syamsuddin Umar, gubernur pertama Provinsi Yunan.

Sayyid adalah julukan lain untuk Habib, atau keturunan Nabi Muhamamad. Nenek moyang Cheng Ho, berasal dari Bukhara, sebuah kota yang kini ada di wilayah Uzbekistan.

Kemungkinan pertama, Cheng Ho mengubah agamanya pada umur belasan tahun, setelah menjadi tawanan dalam era Dinasti Ming.

Ini adalah dinasti yang sangat anti pada segala sesuatu berbau asing, dan tentu saja tidak mudah bagi Cheng Ho untuk tetap menjadi muslim.

Kemungkinan kedua, kata Novi, jika Cheng Ho tetap muslim, maka dia mengamalkan juga ajaran Konfusianisme. Di China sendiri, Konfusianisme tidak dianggap sebagai agama, tetapi sebagai ajaran tata krama.

Praktik ini juga berlaku di sebagian muslim Indonesia, seperti Islam Kejawen, yang beragama tetapi tetap mempraktikan ajaran leluhurnya.

“Ketika Cheng Ho mau berangkat muhibah tujuh kali ke mancanegara, dia nyekar ke makam muslim, dan di waktu yang sama, dia juga melakukan ibadah di Kuil Mazu, yang dikenal sebagai dewi laut,” tambahnya.

Cheng Ho sendiri dianugerahi gelar Laksamana oleh Kaisar Zhu Di, yang kemudian memerintahkannya melakukan perjalanan internasional. Cheng Ho masuk ke perairan Nusantara pada 1405 dan singgah di sejumlah wilayah, mulai dari Aceh, Palembang, hingga Surabaya.

Banyak Versi Sejarah

Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam mengakui sejumlah versi terkait peran Cheng Ho dalam penyebaran Islam di Nusantara. Salah satu pertanyaan yang mengemuka misalnya adalah apakah benar Cheng Ho singgah di Semarang dan menyebarkan agama.

Ada pendapat lain yang meyakini, yang turun adalah salah satu anak buahnya.

“Wang jinghong yang turun di Semarang karena sakit. Dan karena sakit, dia ditinggal dan kemudian tidak mau ikut rombongan Cheng Ho dan menetap di Jawa. Dan Wang Jinghong yang kemudian disebut sebagai Kyai Juru Mudi Dampo Awang, yang menyebarkan agama Islam,” kata Asvi.

 

Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam. (Foto: VOA/Nurhadi)
Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam. (Foto: VOA/Nurhadi)

 

Menurut Asvi, ada banyak tarik menarik soal kebenaran sejarah peristiwa tertentu. Misalnya terkait buku karya sejarawan Slamet Muljono yang terbit 1968. Buku ini berjudul "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara Islam di Nusantara."

Buku ini, kata Asvi, dilarang terbit oleh Kejaksaan Agung. Alasannya, Slamet Muljono meyakini bahwa jika tidak semuanya, sebagian Walisongo berasal dari China.

Walisongo adalah sembilan tokoh agama Islam di Jawa, yang dianggap menjadi tokoh sangat penting dalam penyebaran agama.

Slamet sendiri mendasarkan pendapatnya pada tiga buku yaitu Serat Kanda, Babad Tanah Jawi dan buku Tuanku Rao. Buku yang disebut terakhir tersebut, mendasarkan datanya pada arsip-arsip yang hingga saat ini tidak dapat diakses kembali.

Terkait penyebaran agama, Asvi meyakini bahwa sebuah tanggal atau tahun tertentu tidak dapat dipastikan dalam sejarah sebagai acuan.

 

Lukisan dinding bergambar Muhammad Cheng Ho di Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Lukisan dinding bergambar Muhammad Cheng Ho di Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

 

“Karena masuknya agama itu paling tidak ada tiga hal. Ada utusan datang. Ada saudagar yang berkunjung kemudian pada waktu lain dia menyebarkan agama. Dan terakhir, ketika agama itu berkembang, misalnya ketika sultan ataupun raja sudah menganutnya,” ujar Asvi.

Tiga periode ini, tambahnya, adalah proses yang tidak terjadi pada saat yang sama. Karena itulah, masuknya suatu agama ke suatu wilayah, terjadi pada periode yang cukup panjang.

“Menurut Denys Lombard, yang mengambil dari catatan Ma Huan, ada seribu keluarga China di Tuban. Seribu keluarga, artinya cukup banyak orang China di Tuban ketika armada Cheng Ho datang kesana. Jadi artinya, sudah ada orang Islam sebelum kedatangan armada Cheng Ho ini di Jawa,” papar Asvi.

Menjadi Nama Masjid

Hamdan Basyar, peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI menyebut, salah satu persoalan terkait Cheng Ho ini adalah karena anggapan yang melekat padanya.

“Tokoh ini sudah terlanjur mashur di Indonesia, sebagai tokoh Islam dan ikut andil menyebarkan Islam di Nusantara. Saat ini, kita melihat ada beberapa masjid dengan nama Cheng Ho sebagai penghargaan,” kata Hamdan.

Mengutip beberapa contoh, Hamdan menyebut Masjid Cheng Ho ada di Surabaya, Palembang hingga Malang. Sebagian bahkan cukup besar dan diresmikan oleh pejabat setingkat menteri agama.

Menurut data yang ada, selain di tiga kota itu Masjid Cheng Ho setidaknya sudah berdiri di Semarang, Batam, Purbalingga, Banyuwangi, Gowa, Kutai, Samarinda, hingga Jambi.

 

Umat Muslim membawa barang-barang yang disumbangkan oleh konsulat China di Masjid Cheng Ho di Surabaya pada 6 Mei 2021, menjelang Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Umat Muslim membawa barang-barang yang disumbangkan oleh konsulat China di Masjid Cheng Ho di Surabaya pada 6 Mei 2021, menjelang Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

 

“Temuan Mas Novi tentang agama Cheng Ho ini mestinya akan menjadi sebuah diskusi yang menarik bagi kalangan sejarawan Islam di Indonesia,” tambahnya.

Hamdan bahkan merekomendasikan penelitian perlu dilakukan, dengan mendasarkan sejumlah pendapat yang sudah ada dalam buku-buku yang telah terbit di Indonesia.

Klaim yang ada harus disandingkan dengan temuan Novi Basuki, yang diperoleh dari naskah-naskah kuno berbahasa mandarin, agar fakta sejarah yang disimpulkan lebih pas. [ns/ab]

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Tiga perempuan muda Muslim membagikan pengertian mereka soal makna ibadah termasuk 'jihad' dalam konteks yang mereka pahami.

Pada bulan Maret dan April lalu, sejumlah anak muda yang masuk kelompok umur milenial disebut polisi sebagai pihak yang terlibat dalam serangan terorisme di Gereja Katedral Makassar dan rencana penyerangan di Mabes Polri.

Salah satunya Zakiah Aini, 26, yang dilaporkan hendak melakukan aksi teror demi apa yang dia sebut "jihad". Namun, tiga perempuan muda yang diwawancarai BBC tak sependapat dengan pemahaman jihad seperti itu.

Ajeng Satiti Ayuningtyas, 30, misalnya, memilih untuk berjihad dengan membagikan ilmu bagi para anak-anak jalanan.

"Saya sebagai perempuan, terlepas kita ibu atau bukan, kita punya rahim. Saya percaya Allah memberi kita kekuatan untuk menghidupkan peradaban, bukan mematikan peradaban. "Itu yang saya yakini, kita bisa melahirkan kebaikan di mana saja," ujarnya.

Jadi Kamtib hingga Satpol PP

Ajeng Satiti Ayuningtyas memahami jihad sebagai cara melakukan kebaikan di jalan Tuhan. "[Jihad] tidak melulu dilekatkan dengan permusuhan, peperangan. Jihad itu tidak berarti pakai pedang dan senjata, tapi bisa pakai ilmu," ujar Ajeng.

Ia memilih untuk berjuang dengan memberikan kesempatan bagi anak-anak jalanan untuk mengembangkan diri, melalui gerakan yang didirikannya Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci- sebelumnya bernama Sekolah Kolong Cikini).

 

sekoci

Menurut Ajeng, jihad bisa dilakukan melalui penyebaran ilmu. JENG AYUNINGTYAS

 

Di sekolah itu dia mencoba membuka mata anak jalanan bahwa mereka pun berhak bercita-cita tinggi. Jika di sekolah formal, anak-anak biasa bercita-cita menjadi dokter, arsitek, atau pilot, di Sekoci, cita-cita anak-anak yang diasuhnya lebih beragam.

"Ada yang mau jadi [petugas] kamtib, satpol PP, ada yang mau jadi kenek bus. Ya nggak bisa disalahkan, karena sehari-hari lekat dengan profesi tersebut.

"Jadi kami berikan perspektif berbeda. Ada berbagai profesi lainnya yang bisa kalian lihat. Harapannya mereka punya daya atau kemampuan untuk mencapai cita-cita itu," ujar Ajeng.

 

sekoci

Salah satu kegiatan Sekoci yakni membuat kubus, balok dan piramida dari karton. SEKOCI

 

Mereka yang diajar di Sekoci kebanyakan anak-anak pekerja informal di Jakarta, seperti pedagang asongan, supir kendaraan umum, hingga pemulung. Anak-anak ini menghabiskan waktu di jalanan, kebanyakan sebagai pengamen.

Meski tidak kalah pintarnya dengan anak-anak lain, mereka yang besar di jalanan seringkali tak bisa mencapai cita-cita yang tinggi karena sejumlah hal, salah satunya karena putus sekolah, kata Ajeng.

 

Sekoci

Kegiatan belajar mengajar Sekoci sebelum pandemi. SEKOCI

 

Salah satu anak didik Sekoci, misalnya, yang akan diikutkan olimpiade matematika di sekolahnya, tiba-tiba putus sekolah tanpa alasan jelas. "Kami sampai datangi sekolahnya. Ini anak kemana? Sekolahnya malah mau mengeluarkan anak ini. Kami cari anak itu kemana-mana," ujar Ajeng.

Baru belakangan, ia tahu anak seorang pengemudi bajaj itu dibawa oleh ibunya ke kota lain secara tiba-tiba. Alhasil, fasilitas pendidikan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang diterimanya putus. "Putus lagi sekolah… Ini seperti rantai yang tak putus," kata Ajeng.

 

sekoci

Selama pandemi, kegiatan Sekoci dilakukan secara jarak jauh. SEKOCI

 

Kini, anak itu telah kembali bersekolah, tapi Ajeng masih berupaya mengaktifkan kembali KJP anak itu. Ia juga berupaya membantu anak-anak putus sekolah lainnya mengikuti program kejar paket.

Sekoci, yang menyelenggarakan sejumlah kegiatan seperti membaca, menghitung, hingga bermain, didirikan Ajeng di tahun 2015. Sebagian besar dari anak didik Sekoci menjalani sekolah formal, sehingga kegiatan Sekoci diperuntukkan untuk melengkapi pendidikan anak-anak tersebut.

Gerakan itu juga memberi penekanan khusus pada perilaku, mengingat jalanan bukan tempat yang ramah anak. Ajeng bercerita Sekoci didirikannya karena ia merasa resah dengan apa yang didengarnya tentang anak jalanan.

 

Sekoci

Kegiatan membaca puisi yang diadakan sebelum pandemi Covid-19. SEKOCI

 

Ibunya dulu tinggal di kawasan padat penduduk di Jakarta Pusat yang kerap menyaksikan bagaimana anak jalanan terlibat kekerasan dan narkoba. Saudaranya sendiri pernah mengalami perlakuan kasar dari anak jalanan.

Atas dasar itu, ia memutuskan bergerak untuk menjangkau dan mengedukasi anak-anak jalanan. Di masa pandemi Covid-19, anak-anak itu menghadapi tantangan lebih berat karena Pembelajaran Jarak Jauh, khususnya yang orang tuanya tak memiliki ponsel.

Namun, meski sulit, belajar jarak jauh tetap dilakukan.

 

Sekoci

Kegiatan Sekoci sudah meluas ke pendidikan orang tua anak-anak yang besar di jalanan. SEKOCI

 

Kini, kegiatan Sekoci pun sudah diperluas ke pendidikan pengasuhan anak, atau parenting, yang diberikan kepada sejumlah pekerja informal di Jakarta, seperti tukang sapu, penjaga keamanan, hingga para pengamen.

Ajeng mengatakan meski penuh tantangan, ia yakin apa yang diperbuatnya adalah salah satu wujud ibadahnya.

"Di agama diajarkan berbuat baik nggak usah jauh-jauh, yang deket-dekat ini sudah ibadah," pungkasnya.

'Gigi bengkak bukan kutukan'

Bagi Gracety Shabrina, 28, jihad adalah perjuangan untuk melayani sesama. "Kita bisa berjuang sesuai kemampuan kita atas keilmuan dan kesempatan yang kita miliki, untuk dimanfaakan sebaik-baiknya untuk masyarakat.

"Untuk kebermanfaatan seluas-luasnya agar bisa menjadi amal jariyah kita," ujarnya. Sebagai dokter gigi, yang dilakukannya adalah mengupayakan kesehatan gigi masyarakat melalui program yang dibentuknya sejak kuliah, Dentist Day Out.

 

drg

Gracety Shabrina mendirikan Dentist Day Out saat ia masih berkuliah. GRACETY SHABRINA

 

Melalui program itu, dia telah bepergian ke sejumlah daerah pelosok di Indonesia untuk memberi penyuluhan terkait kesehatan gigi warga, juga pemeriksaan gigi warga secara gratis.

Salah satunya adalah ke Baduy Dalam, Provinsi Banten, yang warganya menyikat gigi dengan sabut kelapa. Yang mengejutkan, kata Grace, gigi mereka sangat baik.

Hanya, saja, katanya, ada beberapa warga yang giginya bengkak karena cara menyikat gigi yang tak benar.

 

drg

Dalam sejumlah kegiatan yang dilakukan Dentist Day Out, warga diberikan pemeriksaan gigi gratis. DENTIST DAY OUT

 

Di daerah itu pula gigi bengkak dipercayai merupakan sebuah kutukan, hal yang kemudian diluruskannya kepada warga.

"Kami tidak melakukan interfensi agar mereka menggunakan sikat gigi seperti yang kita lakukan karena ada adat yang melarang mereka untuk menggunakan hal-hal modern.

"Sehingga kami melakukan pendekatan, tidak masalah mereka gunakan sabut kelapa, tapi dengan teknik dan cara yang benar," ujarnya.

Di lain waktu, Grace dan kawan-kawannya menyambangi pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT), ke sebuah desa yang mayoritas beragama Kristen.

 

drg

Gigi warga yang difoto dalam kunjungan Dentist Day Out ke kawasan Ijen tahun 2016. GRACETY SHABRINA

 

Lulusan pesantren Santri Siap Guna Daarut Tauhiid, Bandung, Jawa Barat, ini mengatakan, ia tergerak untuk membuat gerakan itu setelah menyambangi Karimun Jawa di tahun 2012.

Di situ dia melihat sulitnya warga untuk mendapat pelayanan gigi. Bahkan, ada warga yang harus menyewa kapal ke Jepara untuk menuju fasilitas kesehatan.

Saat ini, di tengah pandemi, meski tidak seaktif dahulu menyambangi daerah-daerah terpencil, kegiatan penyuluhan tetap dilakukan Dentist Day Out, baik secara online, maupun offline.

Sejumlah anggota gerakan itu pun masih mengabdi di daerah terpencil di Maluku maupun Kalimantan.

 

gigi

Bagi Gracety Shabrina, 28, jihad adalah upaya berguna bagi sesama. DENTIST DAY OUT

 

Ia merasa apa yang dilakukannya kepada pasiennya adalah wujud ibadah dan caranya melaksanakan sumpah dokter. "Semua orang sama, pasien kita juga. Mau di kota, di desa, yang kaya yang miskin, Islam, Hindu, Kristiani tetap pasien kita juga ada di sumpah dokter kita.

"Kalau di agama di bahasnya muamalah jadi dibolehkan, disarankan malah," ujarnya.

'Tak mengganggu orang lain'

Bagi Nadia Rahmawati, 17, jihad seharusnya tidak mengganggu orang lain.

 

Nadia

Sebelum belajar agama secara mendalam, Nadia menganggap agama lain adalah musuh. NADIA RAHMAWATI

 

Sebelum dididik di Pesantren Roudhotus Sholihin, Demak, Jawa Tengah, Nadia memandang agama lain sebagai musuh.

"Sebelumnya, saya beranggapan bahwa agama saya yang paling benar dan seharusnya yang disembah adalah Allah, bukan batu, matahari, atau lainnya," ujarnya.

 

gereja

Bagi Nadia, masuk ke rumah ibadah lain terasa sebagai "masuk ke rumah saudara". NADIA RAHMAWATI

 

Namun, setelah mendalami ilmu agama, pandangannya berubah. "Pengurus pondok saya membekali santri-santrinya bahwa meski kita berbeda dalam kegamaan, tapi kita bersaudara. Berbuat baik tidak memandang agamanya apa," ujar Nadia.

Di pesantren itu juga Nadia mengikuti kegiatan kunjungan ke gereja dan tempat pendidikan pastor.

 

pondok damai

"Jihad itu artinya berpindah dari buruk ke baik. Kalau merusak orang lain, itu tidak diajarkan di agama kami," kata Nadia. NADIA RAHMAWATI

 

Di tahun 2019, dia bahkan pernah membacakan sebuah puisi di dalam gereja, tak lama setelah peristiwa pengeboman gereja di Sri Lanka. Saat itu, dia sudah tak merasa risih sama sekali masuk ke rumah ibadah agama lain.

"Rasanya seperti masuk ke rumah saudara," ujarnya. Nadia, yang sempat mengikuti kegiatan lintas agama- Pondok Damai 2021- mengatakan ia kini terus berupaya membagikan pemahamannya soal keberagaman pada junior-juniornya.

Baginya jihad adalah sesuatu yang tidak menyakiti orang lain, apalagi melakukan tindakan-tindakan yang disebut radikal.

"Jihad itu artinya berpindah dari buruk ke baik. Kalau merusak orang lain, itu tidak diajarkan di agama kami," katanya.

Perempuan, milenilal, gen Z sebagai sasaran

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2020 mengungkapkan bahwa perempuan lebih berpotensi terpapar paham radikalisme dibandingkan laki-laki. Selain itu, kelompok umur milenial dan gen Z juga disebut berpotensi besar terpapar.

Abdul Qodir, pengasuh Pesantren Roudhotus Sholihin, Demak, yang aktif mengadakan kegiatan keberagaman bagi para santrinya, mengatakan untuk mencegah radikalisme, anak-anak muda perlu diberi pemahaman soal makna jihad.

"Jihad bukan mati di jalan Tuhan, tapi hidup di Jalan Tuhan, itu justru lebih sulit.

"Remaja perlu diedukasi untuk mengakses pengetahuan keagamaan dan informasi dari ustad-ustad yang santun, tinggalkan ustad-ustad yg mengajarkan kebencian. Intinya, jangan salah pilih guru ngaji," ujarnya.

Pesantren yang diurusnya sempat viral di tahun 2019 karena turut menyambut jemaat dalam Misa Natal di Semarang dengan bermain rebana.

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Pada tahun 2007, gereja Philadelphia Praise Center (PPC) membuka pintunya untuk warga muslim Indonesia di Philadelphia yang waktu itu belum punya masjid. Kini, Masjid Indonesia Al-Falah kerap mengundang warga non-muslim untuk ikut menghadiri acara masjid.

Diterbitkan di Berita

Rizki Nurmansyah SuaraJakarta.idGereja Santo Laurensius Alam Sutera Serpong merupakan salah satu gereja terbesar dan megah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Di balik kemegahannya itu, ada cerita menarik soal toleransi beragama.

Terutama saat puasa Ramadhan saat ini. Itu lantaran, dari 31 pegawai yang ada sekira 12 orang diantaranya merupakan muslim.

Meski bekerja di lingkungan gereja, mereka tetap menjalankan puasa Ramadhan seperti biasa. Tak ada pelarangan apapun yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah mulai dari sholat hingga tadarus Al-Quran. Sikap toleransi beragama pun terbangun erat.

Dari belasan pegawai muslim di Gereja Santo Laurensius Tangsel itu, salah satunya adalah Firda Silvina. Dia sudah bekerja hampir dua tahun sebagai petugas kebersihan.

Silvi bercerita menjalankan puasa di lingkungan gereja sama saja seperti di tempat kerja lainnya. Justru dia terkesan dengan toleransi yang ada.

"Menjalankan puasa di sini sama kayak di rumah atau di mana-mana. Di sini tidak ada perbedaan sama seperti di tempat kerja lain. Bahkan di sini itu toleransi antar agama itu benar-benar terjaga. Nggak ada larangan apapun. Contohnya seperti saya. Saya menggunakan hijab dan nggak ada larangan. Hijab ini sebagai tanda bahwa saya muslim dan bekerja di gereja Katolik ini," katanya mulai bercerita kepada SuaraJakarta.id ditemui, Sabtu (17/4/2021).

 

Firdia Silvina, pegawai muslim yang bertugas sebagai petugas kebersihan di Gereja Santo Laurensius Alam Sutera, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), saat ditemui Sabtu (17/4/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]
Firda Silvina, pegawai muslim yang bertugas sebagai petugas kebersihan di Gereja Santo Laurensius Alam Sutera, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), saat ditemui Sabtu (17/4/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]

 

Silvi dalam waktu normal bekerja dari sekira pukul 07.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Sejak adanya pandemi Covid-19, dia dan para pegawai lainnya bisa pulang lebih awal pukul 14.00 WIB.

Untuk melaksanakan sholat dan tadarus Al-Quran, dia dan pegawai muslim lainnya diberi ruangan khusus. Hal itu lantaran tak bisa sembarang tempat di gereja bisa jadikan tempat sholat.

"Kalau misalnya aktivitas agama muslim di gereja itu nggak masalah. Kayak kita mau sholat, ngaji, dan lainnya boleh. Tapi tidak bisa disembarang tempat. Karena kita juga nggak bisa berdoa kalau ada tanda-tanda (salib) itu di sini. Jadi milih-milih tempat. Buat sholat kita dikasih satu ruangan khusus. Biasanya itu juga dipakai sama umat muslim lain yang berkegiatan di gereja. Bersih, nyaman juga," papar Silvi.

Silvi menceritakan awalnya sempat mengalami pergolakan batin. Dia tak menyangka akan bekerja di sebuah gereja.

Terlebih, ia belum pernah sama sekali masuk ke dalam gereja dan sehari-hari terbiasa berhijab. Sehingga, terasa aneh baginya ketika bekerja di tempat ibadah umat lain.

"Awalnya iya ada perasaan, kayak 'gue nggak pernah ke geraja. Karena tuntutan kerja gue harus ada di gereja'. Itu awal-awal mungkin sampai tiga bulan. Masih nggak nyangka dan nggak nyaman sih sebenarnya. Karena di sini berhubungan langsung sama umat non-muslim," tuturnya.

Silvi juga sempat mendapat ejekan dari temannya saat awal bekerja di Gereja Santo Laurensius. Namun ejekan itu tak dipedulikannya. Dia tetap bertahan.

"Kalau dari keluarga alhamdulillah aman. Dari teman kadang ada usilan-usilan atau ejekan. Tapi kembali lagi ke saya, saya kerja itu buat diri saya bukan buat mereka. Toh kalau ikutin apa kata mereka juga, mereka nggak biayain saya," tegasnya.

Cewek berkacamata itu juga mengaku, saat awal bekerja, hampir semua karyawan yang non-muslin dan umat yang akan beribadah bertanya lantaran merasa heran memakai hijab tapi bekerja di gereja.

"Hampir semua pada nanya, 'Kenapa kamu mau kerja di sini? Padahal pakai kerudung'. Saya jawab, 'karena saya muslim wajar kalau pakai hijab'. Gitu aja. Paling ada pertanyaan lain 'gimana kamu kerja di sini nyaman atau nggak?' Waktu awal hampir semua pada nanya," kata Silvi menirukan perkataan orang yang menanyainya.

 

Firdia Silvina, pekerja muslim yang bertugas sebagai petugas kebersihan di Gereja Santo Laurensius Alam Sutera, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), saat ditemui Sabtu (17/4/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]
Firda Silvina, pekerja muslim yang bertugas sebagai petugas kebersihan di Gereja Santo Laurensius Alam Sutera, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), saat ditemui Sabtu (17/4/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]

 

Seiring berjalannya waktu, wanita berusia 23 tahun itu akhirnya mulai terbiasa. Mendapat sikap ramah dari karyawan lain, pastur hingga dewan paroki gereja, membuatnya betah bekerja.

"Tapi sekarang sudah nyaman kerja di sini. Karena karyawannya, pasturnya, dewan parokinya, semuanya. Di sini nggak ada yang beda-bedain kita muslim mereka katolik itu nggak ada seperti itu. Dari situ akhirnya mulai merasa nyaman," ucapnya sambil bersyukur.

Sebagai petugas kebersihan, Silvi bertugas membersihkan seluruh area bagian Gereja Santo Laurensius yang terbagi dalam tim. Dia pun sudah terbiasa membersihkan altar ibadah serta patung-patung yang ada di dalam gereja.

Pegawai muslim lainnya, Warsih mengatakan, menjalani puasa Ramadhan di lingkungan gereja tak jauh berbeda dengan di rumah. Tak ada larangan apapun. Aktivitas sholat dan mengaji tetap diperbolehkan.

Warsih sudah 7 tahun bekerja sebagai petugas kebersihan di gereja megah bak istana itu.

"Puasa di gereja biasa aja, karena emang sudah biasa. Nyaman-nyaman aja," katanya sambil memegang sapu lidi di halaman gereja.

Senada diungkapkan pegawai muslim lainnya, Ismail. Pria 50 tahun itu menuturkan, selama Ramadhan, pihak gereja memaklumi pegawaian yang dilakukan tidak terlalu ekstra.

"Seperti biasa aja di rumah, dalam lingkungan karyawan juga seperti keluarga, nggak ada perbedaan. Pihak gereja juga mengerti kita lagi puasa, sampai Romo-nya pun memahami kalau kita lagi puasa. Dia tak terlalu menekan pegawaian, kerjain aja semampunya," katanya usai memetik daun kemangi.

 

Ismail, pegawai muslim yang bertugas sebagai petugas kebersihan di Gereja Santo Laurensius Alam Sutera, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), saat ditemui Sabtu (17/4/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]
Ismail, pegawai muslim yang bertugas sebagai petugas kebersihan di Gereja Santo Laurensius Alam Sutera, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), saat ditemui Sabtu (17/4/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]

 

Sama seperti Silvi, saat awal bekerja, Ismail sempat merasa canggung dan bingung. Lantaran lingkungan kerjanya merupakan tempat ibadah agama lain.

"Awalnya memang kita bingung. Karena saya muslim bekerja di lingkungan gereja. Saya melakukan ibadah selana Ramadhan juga bingung, takutnya ada salah paham bahwa masalah agama dibawa ke lingkungan gereja. Ternyata, nyatanya enggak seperti yang dibayangkan. Kita sama-sama mengetahui, kalau Ramadhan ya sama-sama menghargai," ungkapnya yang memakai ikat kepala dari kain sorban itu.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Paroki Gereja Katolik Santo Laurensius Tangsel, Fransiskus Hartapa menuturkan, pihaknya tidak pernah mempersoalkan aktivitas puasa yang dijalankan pegawai muslim di tempatnya.

"Untuk yang muslim ya enggak masalah, mereka tetap bisa menjalankan ibadahnya, sholat dan sebagainya secara bebas. Monggo, itu ibadah masing-masing. Bahkan kita saling mengingatkan kalau waktunya sholat dan waktu Jumatan pun di suruh Jumatan," katanya.

 

 
Gereja Santo Laurensius Alam Sutera, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Sabtu (17/4/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]
Gereja Santo Laurensius Alam Sutera, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Sabtu (17/4/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]

 

Bahkan, kata Hartapa, menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, biasanya ada beberapa umat yang membawa bingkisan THR dan memberikan kepada para pegawai muslim di sana.

"Sejak saya di sini pada 2007, kalau tiga minggu puasa itu biasanya banyak umat yang bawa bingkisan THR untuk para pegawai. Kalau saya perhatikan setiap tahunnya selalu begitu, kemungkinan tahun ini juga akan begitu," pungkasnya.

Kontributor : Wivy Hikmatullah

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, - Paus Fransiskus akan mengunjungi Irak pada 7 Maret mendatang. Salah satu agendanya bakal melihat gereja-gereja yang dihancurkan ISIS di Mosul.

Para pekerja pun sibuk membersihkan tempat-tempat yang bakal didatangi pemimpin umat Katolik itu. Salah satu yang terlibat adalah Anas Zeyad asisten koordinator situs untuk UNESCO di Irak.

“Sebagai seorang Muslim saya bangga membantu membangun kembali gereja-gereja ini,” kata Zeyad dikutip dari Reuters, Ahad, 28 Februari 2021.

Salah satu gereja yang sedang diperbaiki adalah gereja Katolik Suriah Al-Tahera dengan bantuan dari UNESCO, Uni Emirat Arab, dan mitra lokalnya. Gereja ini dirusak oleh ISIS dan dijadikan tempat pengadilan.

Kondisi gereja ini makin parah setelah terdampak serangan udara saat pasukan Irak mengusir para militan ISIS. Bagian atapnya hancur.

"Saya berharap kami melihat orang Kristen kembali ke tempat-tempat ini, sehingga kami hidup bersama lagi seperti yang kami lakukan selama berabad-abad," ucap Zeyad.

Ada empat gereja di Mosul yakni Gereja Katolik Suriah, Ortodoks Siria, Ortodoks Armenia, dan Katolik Kasdim. “Dulunya mirip dengan Yerusalem di dataran Niniwe,” kata Uskup Agung Mosul dan Akra Khaldea Najeeb Michaeel.

Michaeel menuturkan sebelum invasi AS pada 2003, umat Kristen Irak dari berbagai komunitas akan menghadiri kebaktian satu sama lain di festival keagamaan

Hari-hari itu telah berlalu. Hari ini hanya satu dari gereja Mosul yang masih hidup menawarkan kebaktian Ahad mingguan untuk populasi Kristen yang menyusut menjadi hanya beberapa lusin keluarga dari sekitar 50 ribu orang.

Dalam kunjungan ke Irak, Paus Fransiskus akan mengadakan doa untuk para korban perang di Hosh al-Bieaa, yang dikenal sebagai Alun-Alun Gereja, sebagai bagian dari perjalanan empat hari yang dimulai pada 5 Maret.

Sumber: REUTERS

Diterbitkan di Berita