INDOZONE.IDSebelum pasukan AS terakhir meninggalkan Kabul pada Senin (30/8) tengah malam, banyak pemandangan mencolok dan suara kehidupan kota di Afghanistan bahkan mulai berubah.Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan gaya tegas pemerintah baru mereka. 

Taliban sejauh ini telah berusaha menunjukkan wajah yang lebih menenangkan kepada dunia. Tak ada hukuman keras dipertontonkan di depan publik dan tak ada larangan menggelar hiburan rakyat seperti yang mereka terapkan saat berkuasa dulu.

Kegiatan budaya diperbolehkan, sejauh tidak melanggar hukum Syariat dan budaya Islam Afghanistan. Reklame warna-warni di depan salon-salon kecantikan sudah dicat ulang, jeans telah diganti dengan pakaian tradisional, dan stasiun radio dilarang memutar musik dan suara penyiar perempuan.

 

"Bukan karena Taliban memerintahkan kami mengubah apa pun, kami mengganti program sekarang karena kami tidak ingin Taliban memaksa kami berhenti siaran," kata Khalid Sediqqi, produser stasiun radio swasta di Kota Ghezni, dikutip dari Reuters, Rabu (1/9).

"Lagi pula tak seorang pun di negara ini berminat mencari hiburan, (karena) kami semua sedang syok," sambungnya.

Selama 20 tahun hidup di bawah pemerintah dukungan Barat, budaya populer tumbuh di Kabul dan kota-kota lain yang diwarnai kemunculan tempat kebugaran, minuman berenergi, gaya rambut kekinian dan lagu-lagu pop yang berdencing-dencing. Bagi petinggi Taliban perubahan itu dianggap sudah melampaui batas.

"Budaya kami telah teracuni, kami melihat pengaruh Rusia dan Amerika di mana saja bahkan pada makanan yang kami santap, sesuatu yang harus disadari oleh masyarakat dan perlu diubah," kata seorang komandan Taliban.

Meski petinggi Taliban berulang kali mengatakan pasukan mereka harus menghormati penduduk dan tidak sembarangan menghukum, banyak warga tidak percaya mereka mampu mengendalikan anggota-anggota yang ada di bawah. 

"Tak ada musik di seluruh Kota Jalalabad, orang ketakutan dan khawatir dipukul Taliban," kata Naseem, mantan pejabat di provinsi timur, Nangarhar.

Diterbitkan di Berita

okezone.com KABUL – Meski mengatakan akan menjamin perbaikan hak bagi wanita setelah mengambil alih Afghanistan, Taliban menyatakan tetap akan melarang mendengarkan dan memainkan musik di depan umum.

Dalam wawancara dengan New York Times, Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid membahas bagaimana kelompok itu akan menjalankan pemerintahan di Afghanistan setelah pengambilalihan beberapa pekan lalu.

Mujahid menepis kekhawatiran mengenai perlakuan Taliban terhadap perempuan dan kemungkinan pembalasan terhadap para kolaborator AS di Afghanistan.

Dia juga membahas masalah musik di depan umum, yang dilarang selama Taliban berkuasa antara tahun 1996 dan 2001. Mujahid mengatakan bahwa hal itu akan kembali dilarang dalam waktu dekat.

"Musik dilarang dalam Islam," kata Mujahid sebagaimana dilansir Newsweek "Tapi kami berharap kami dapat membujuk orang untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu, alih-alih menekan mereka," katanya.

Mujahid dipandang sebagai calon menteri informasi dan kebudayaan. Ketika Taliban berkuasa di Afghanistan pada 1996, mereka melarang hampir semua musik, karena dianggap sebagai dosa.

Kaset-kaset dihancurkan dan digantung di pohon, menurut The Associated Press. Pengecualian dibuat untuk beberapa lagu religius vokal. Stasiun radio dan TV Afghanistan hanya memutar lagu-lagu Islami di tengah pengambilalihan negara oleh Taliban.

Tidak jelas apakah perubahan itu diperintahkan oleh Taliban atau apakah stasiun-stasiun itu membuat keputusan dalam upaya menghindari potensi konflik dengan rezim baru. 

Ahli etnomusikologi Afghanistan Ahmad Sarmast, pendiri dan direktur Institut Musik Nasional Afghanistan, membahas sikap Taliban terhadap musik dalam komentarnya kepada Forbes pada Desember 2020, menunjukkan bahwa itu tidak ada hubungannya dengan Islam.

"Ini adalah orang-orang yang sama sekali tidak berpendidikan, sempit, dan hampir buta huruf yang salah menafsirkan ideologi Islam," kata Sarmast. "Tidak ada yang secara eksplisit tertulis menentang musik dalam Al Qur'an."

Posisi Taliban dalam musik didasarkan pada sebuah hadits, laporan dari sabda Nabi Muhammad, yang mengatakan "mereka yang mendengarkan musik dan lagu di dunia ini, pada Hari Pembalasan timah cair akan dituangkan ke telinga mereka."

Namun, hadits ini tidak diterima secara universal sebagai hadits yang shahih. Mujahid juga menjawab pertanyaan tentang perlakuan terhadap wanita dalam wawancaranya pada Rabu (25/8/2021), menunjukkan bahwa wanita Afghanistan akan dapat melanjutkan kehidupan normal mereka.

Dia juga menolak anggapan bahwa perempuan harus didampingi oleh wali laki-laki, atau mahram, setiap kali mereka meninggalkan rumah. Ini hanya berlaku untuk perjalanan tiga hari atau lebih.

“Kalau mereka ke sekolah, kantor, universitas, atau rumah sakit, mereka tidak perlu mahram,” kata Mujahid.

Dia juga membantah laporan bahwa Taliban sedang mencari penerjemah dan warga Afghanistan lainnya yang telah membantu pasukan AS, mengatakan mereka akan aman di Afghanistan dan mengkritik evakuasi orang-orang dari negara itu, menyebut langkah tersebut "menghabiskan sumber daya manusia Afghanistan."

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Menteri pendidikan Afghanistan mengatakan sedang menginvestigasi pernyataan baru-baru ini dari seorang direktur kementerian pendidikan di kota Kabul yang melarang perempuan berusia 12 tahun ke atas bernyanyi di depan publik.

Larangan ini mendapat kritik yang meluas di media sosial. Para perempuan membagikan video mereka sambil bernyanyi dengan menggunakan tagar #IAmMySong. Pro dan kontra ini datang di tengah kekhawatiran kemungkinan kesepakatan damai dengan Taliban.

Di bawah Taliban, remaja perempuan tak diberi pendidikan dan sebagian besar musik dilarang. Pernyataan dari Kabul, melarang remaja 12 tahun ke atas untuk bernyanyi dalam acara sekolah, dan juga melarang remaja perempuan memiliki guru musik laki-laki.

Menteri pendidikan mengatakan, kebijakan ini tidak mencerminkan posisi dirinya. Dia mengatakan akan mengkaji hal ini, dan mungkin mengambil langkah menegur atau korektif kepada bawahannya yang mengeluarkan kebijkan tersebut.

Larangan ini diumumkan beberapa hari lalu, yang menapat kritik di media sosial. Kalangan sastrawan dan aktivis mengatakan pelarangan bernyanyi menjadi langkah mundur dari hak-hak pendidikan.

"Maafkan kami Tuhan, manusia bisa begitu kejam, bahkan mereka melihat seorang anak dari sudut pandang berbasis gender," cuit penulis dan penyair Shafiqa Khpalwak, satu dari penulis perempuan terkenal di negara itu.

Sejumlah perempuan membandingkan larangan ini terhadap kehidupan di bawah Taliban - yang digulingkan pada 2001 - di mana remaja perempuan dilarang untuk pergi ke sekolah, dan kebanyakan musik dilarang. "Ini adalah Talibanisasi dari dalam republik," kata Sima Samar, seorang aktvisi HAM Afghanistan kepada kantor berita Associated Press (AP).

 

Afghan female musicians

"Musik adalah bagian besar dari budaya Afghanistan. Jika pelarangan berlanjut dan para perempuan muda dilarang bernyanyi, maka kami akan kehilangan bagian dari budaya Afghanistan," kata pianis konser Maram Atayee.

Remaja berusia 18 tahun dari Kabul itu adalah anggota orkestra Zohra yang semuanya perempuan. Ia kini belajar di Institut Musik Nasional Afghanistan. Seperti banyak anak muda Afghanistan, dia khawatir dengan arahan kementerian pendidikan baru-baru ini, yang melarang perempuan berusia di atas 12 tahun bernyanyi di depan umum ketika ada laki-laki.

 

Tanda peringatan

"Hari ini mereka melarang perempuan muda menyanyi - jika kami tidak melawan, mereka akan melarang musik sepenuhnya," kata Maram kepada BBC.

 
Maram Atayee performing in a concert

Ketakutannya bukan tanpa alasan - larangan tersebut membawa kembali kenangan menyakitkan semasa kekuasaan Taliban antara tahun 1996 dan 2001. Para militan percaya pada bentuk Islam yang keras, yang melihat bahwa musik tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan mereka sama sekali melarangnya.

"Itu sangat mengejutkan dan menyedihkan. Saya tidak menyangka orang akan melakukan ini di tahun 2021," katanya.

 

Peluang

Maram bergabung dengan orkestra Zohra empat tahun lalu dan mereka telah tampil dalam konser di banyak negara, termasuk Pakistan, India, China, Portugal, Azerbaijan, Inggris, Swedia, Slovakia dan Australia.

 

Afghan female musician playing with a dog

Peluang seperti ini sangat jarang bagi anak perempuan yang tumbuh di negara yang dilanda perang saudara selama empat dekade. "Orkestra memberi kami kesempatan untuk melihat dunia, bermain dengan musisi lain, dan merasakan budaya yang berbeda," kata Maram.

Afghanistan adalah salah satu negara termiskin di dunia, dengan pendapatan per kapita sekitar $ 500 (Rp7,1 juta) per tahun, dan jumlah perempuan yang bisa membaca di bawah 30 persen.

 

Keluhan-keluhan

Kementerian pendidikan mengatakan mereka mengambil keputusan tersebut setelah menerima keluhan dari orang tua, yang mengatakan pendidikan anak perempuan mereka terganggu oleh kegiatan bermusik yang mereka ikuti.

 

Dr Ahmad Sarmast surrounded by the members of his orchestra after a performance in Slovakia

 

"Ini tidak masuk akal," kata Dr Ahmad Sarmast yang gelisah dengan persoalan itu. Dia adalah orang yang mendirikan orkestra Zohra pada 2015 dan Institut Musik Nasional Afghanistan pada 2010. "Bahkan jika ada keluhan dari beberapa orang tua, itu tidak bisa menjadi alasan untuk membungkam semua perempuan muda Afghanistan," katanya kepada BBC.

Menyusul protes terhadap larangan tersebut, kementerian pendidikan Afghanistan mengeluarkan klarifikasi pada hari Kamis (11 Maret) yang mengatakan anak-anak sekolah dasar dapat berpartisipasi dalam kegiatan bernyanyi jika mendapat izin dari keluarga mereka.

 

Kebebasan berekspresi

Pemerintah mengatakan mereka yang melanggar arahan ini akan ditangani sesuai dengan aturan hukum, tetapi tidak menyebutkan tindakan hukuman apa pun. Dr Sarmast telah memulai kampanye daring menentang larangan tersebut.

 

Zohra concert in progress

"Saya mendesak orang-orang untuk merekam dan mengunggah lagu untuk menyuarakan perlawanan mereka," katanya. Dr Sarmast lolos dari kematian pada tahun 2014, ketika seorang pelaku bom bunuh diri Taliban meledakkan dirinya hanya beberapa meter darinya, saat dia tengah menonton drama yang dipentaskan oleh murid-muridnya di Kabul.

Dia kehilangan pendengaran di satu telinga dan harus menjalani beberapa operasi untuk mengeluarkan pecahan peluru dari kepalanya. Namun, dia masih mendedikasikan diri untuk bidang yang sama. "Para perempuan muda Afghanistan harus bisa bebas berekspresi lewat musik," katanya.

Komisi Hak Asasi Manusia Independen negara itu telah bergabung menentang langkah pemerintah itu. "Hak atas pendidikan, kebebasan berekspresi dan akses ke keterampilan artistik adalah hak dasar semua anak," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dr Sarmast sangat mengkhawatirkan masa depan. "Ini adalah upaya untuk membatasi perempuan dan anak perempuan secara sosial. Jika kita tidak menghentikan ini, lebih banyak pembatasan akan diberlakukan," katanya.

Perwakilan pemerintah Afghanistan saat ini sedang merundingkan kesepakatan damai dengan Taliban, yang dapat mengarah pada pembagian kekuasaan dengan militan dan penarikan pasukan Amerika. Taliban didorong keluar oleh invasi militer pimpinan Amerika pada akhir 2001. Tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk menghidupkan kembali musik Afghanistan.

 

Perjuangan awal

Kompetisi musik di televisi sekarang sangat populer di Afghanistan dan lagu-lagu, dari Turki hingga Bollywood dan sekitarnya, dapat didengar di radio. Tetapi penolakan terhadap musik tidak memudar sepenuhnya dengan jatuhnya Taliban.

 

Zohra orchestra performing in Slovakia

"Hanya orang yang sangat kuat yang bisa menjadi penyanyi atau musisi di Afghanistan," kata Maram. Dia memahami itu dari pengalaman. Kakek-nenek Maram menentang musik, begitu pula orang tuanya pada awalnya.

Namun setelah pindah ke Mesir pada tahun 2000, penentangan orangtuanya berkurang. Maram lahir pada tahun 2002 di Kairo dan mulai belajar piano saat berusia lima tahun. Dia tampil di konser pertamanya pada usia enam tahun. Perjalanan musik Maram mengalami gangguan ketika keluarganya pindah kembali ke Kabul ketika dia berusia 13 tahun.

"Ketika saya datang ke sini semuanya berubah. Ayah saya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada kami jika saya melanjutkan musik saya," kata Maram. Ayahnya bahkan memintanya untuk berhenti bermain piano di rumah.

 

Cinta pada piano

Maram merasa sulit untuk menurut.

 

Zohra concert in progress

"Saya benar-benar tidak tahu betapa berharganya musik bagi saya, hingga saya datang ke Afghanistan. Di sini orang dan budayanya berbeda. Ada begitu banyak kesulitan," kata Maram. "Satu-satunya hal yang tetap sama adalah musik saya." Dia menghubungi Dr Sarmast dan dia membantunya mendapatkan izin dari ayahnya untuk bermain piano dua kali seminggu.

"Dua jam itu paling penting bagi saya. Saya tidak pernah ingin meninggalkan piano," kata Maram. Dia segera bergabung dengan sekolah musik dan orkestra yang dia dirikan, dan menjadi pianis pada usia 14 tahun.

"Memilih musik adalah keputusan terbaik dalam hidup saya. Saya menjadi lebih dewasa dan guru saya mengatakan saya adalah panutan yang baik." Dia mengatakan timnya menginspirasi banyak pelajar untuk mempelajari musik.

 

Mimpi yang tinggi

Maram sekarang menghabiskan sebanyak delapan jam sehari untuk berlatih piano dan dia ingin melanjutkan studinya.

 

Maram pratising her music

"Tidak ada perguruan tinggi di Afghanistan yang menawarkan gelar di bidang musik, jadi saya ingin pergi ke luar negeri," katanya. Dia khawatir langkah terbaru pemerintah bisa menghancurkan aspirasi banyak orang. Untungnya dia mendapat dukungan penuh dari orang tuanya dan dia memiliki tujuan yang jelas.

"Saya ingin menjadi perempuan Afghanistan pertama yang melakukan konser piano solo di seluruh dunia."

Diterbitkan di Berita