PIKIRAN RAKYAT - Baru-baru ini masyarakat gencar menggalang dana untuk membantu Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut membeli kapal selam baru.

Penggalangan dana ini digelar usai berita KRI Nanggala 402 tenggelam di Perairan Bali.

Namun, dikabarkan TNI AL 'menolak' uang tersebut dan menjelaskan dana yang telah terkumpul ini tidak bisa digunakan untuk membeli kapal selam baru.

Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), Johanes Suryo Prabowo heran dengan keputusan dari pihak TNI tersebut.

Melalui akun Twitternya, ia kemudian menanyakan nasib dari uang Rp1,2 miliar tersebut.

"Jadi gimana nih," tanya Prabowo.

Hingga Jumat 30 April 2021, dana yang telah terkumpul untuk mengganti KRI Nanggala 402 digagas Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, telah terkumpul hingga mencapai Rp1,2 miliar.

"Sudah Rp1,2 miliar tadi pagi. Galang dana masih akan dibuka sampai sebulanan lagi," kata Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, M. Jazir.

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispen AL) Laksamana Pertama Julius Widjojono, terharu dan mengapresiasi kepedulian masyarakat guna membantu TNI membeli kapal selam.

"Kami bersyukur bahwa ternyata bangsa ini masih kuat empatinya, meskipun ada beberapa individu dan kelompok yang kering empatinya dengan indikasi gunakan momen ini untuk ambil keuntungan," katanya.

Namun, dengan berat hati, dana tersebut terpaksa ditolak karena ada persyaratan dan prosedur untuk membeli alutsista, termasuk kapal selam.

Dan di dalam undang-undang tidak ada ketentuan terkait masyarakat yang bisa turut serta membantu pembelian alutsista.

"Karena pembelian dilakukan melalui prosedur yang ada," ujarnya.

Aturan pembelian Alutsista Prosedur pembelian alutsista diatur dalam UU No. 34 tahun 2004 tentang TNI pada Pasal 11 (2) Postur TNI sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dibangun dan dipersiapkan sesuai dengan kebijakan pertahanan negara.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut saat ini hanya memiliki empat kapal selam yang bisa digunakan untuk menjaga seluruh wilayah perairan Indonesia.

Empat kapal ini adalah jumlah total setelah KRI Nanggala-402 readyviewed dinyatakan tenggelam di perairan Utara Bali.

Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Ahmadi Heri Purwono berharap pemerintah segera menambah kapal selam untuk TNI AL.

Dari empat kapal selam yang tersisa, satu di antaranya sedang diperbaiki atau overhaul di Korea Selatan. Kapal selam yang dimaksud yaitu KRI Cakra-401. Usia kapal ini tak jauh berbeda dengan KRI Nanggala-402, yakni kurang lebih 40 tahun.

Sementara tiga lainnya adalah kapal selam buatan Korea Selatan. Kapal-kapal itu yakni KRI Nagapasa-403, KRI Ardadedali-404, dan KRI Alugoro-405. Ketiga kapal buatan Korea Selatan terbilang baru. Saat ini hanya tiga kapal selam itu yang siap melaksanakan kegiatan operasi.

"Harapan kami alutsista ke depan kita bertambah, bayangkan kalau cuma tinggal empat dengan perairan seluas ini, ya tentu kita tidak bisa berbuat apa-apa," kata Ahmadi dalam keterangan, Rabu (28/4).

Dalam kesempatan itu, Ahmadi mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi dan antisipasi berkaitan dengan kecelakaan alutsista setelah KRI Nanggala-402 tenggelam di perairan utara Bali.

Hal ini dilakukan untuk menghindari kecelakaan serupa terjadi, apalagi hal itu masih berhubungan dengan faktor alam.

"Sembari kita mengevaluasi tindakan-tindakan ke depan untuk kapal perang, di mana harapan kita ke depan kita akan punya banyak kapal selam untuk menjaga kedaulatan NKRI," kata dia.

Dia menilai kapal selam adalah kebutuhan yang sangat penting dalam menjaga kedaulatan NKRI, selain memiliki nilai strategis yang sangat besar.

"Orang enggak ngerti tahu-tahu ada kekuatan di bawah air, menembakkan torpedo dan sebagainya, itulah kenapa kapal selam ini disebut sebagai monster bawah air," kata dia.

Pengamat militer Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia Beni Sukadis mengatakan Indonesia membutuhkan minimal 10 kapal selam untuk menjaga wilayah perairannya.

Beni menjelaskan kapal selam mampu mengawasi kawasan yang tidak bisa dijangkau oleh kapal patroli. Beni mencontohkan seperti laut lepas dalam 300 mil Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

Setidaknya terdapat tiga wilayah perairan yang mesti diawasi dengan kapal selam. Wilayah tersebut antara lain, perairan sekitar laut China Selatan atau Natuna Utara, Laut Hulu yang berbatasan dengan Filipina, dan sekitar kepulauan Maluku atau utara Papua.

(tst/pmg)

Diterbitkan di Berita
Muhaimin sindonews.com WASHINGTON - Waktu untuk menyelamatkan kapal selam KRI Nanggala-402 Angkatan Laut Indonesia beserta 53 awaknya, secara teori, sudah habis karena pasokan oksigen habis pada pukul 03.00 dini hari tadi (24/4/2021).
Mantan perwira kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) mengungkap penyebab kapal selam Indonesia itu sulit ditemukan.
 
KRI Nanggala-402 hilang kontak di perairan Bali sejak hari Rabu lalu. Pencarian hari ini, yang melibatkan aset-aset militer sejumlah negara, memasuki hari keempat.

Kapal selam, sebagai aset yang terendam di dalam laut, bisa jadi sulit ditemukan ketika terjadi kesalahan.

Bryan Clark, mantan perwira kapal selam Angkatan Laut AS, memandu Business Insider melalui apa yang dapat membuat penemuan kapal selam TNI AL itu begitu menantang.

"Kapal selam dirancang agar sulit ditemukan, yang bermasalah ketika salah satu tenggelam atau jatuh," kata Clark.

Menurutnya, kapal selam dibangun untuk secara diam-diam menyusup ke perairan musuh, dekat dengan dan melibatkan aset Angkatan Laut musuh, menembaki target darat dengan rudal jelajah dan balistik, dan bahkan memasukkan pasukan rahasia ke dalam wilayah musuh dari posisi terendam yang dilindungi.

Tidak setiap kapal selam dapat melakukan setiap misi, tetapi terlepas dari misi dan kemampuan kapal, teknologi siluman umumnya dianggap penting.

Karena usia kapal selam, kapal Nanggala-402 ini mungkin tidak memiliki lapisan dan fitur siluman seperti kapal baru, bahkan setelah reparasi tahun 2012. Hal itulah yang memberi tim pencari dan penyelamat sedikit keuntungan saat mereka mencoba menemukannya, tetapi tantangan lain mengimbangi keunggulan potensial apa pun.

Dalam keadaan darurat, kapal selam dapat mengaktifkan perangkat ping onboard atau mengirim pelampung yang memancarkan sinyal yang dapat dilacak, dengan asumsi kapal selam memiliki sistem ini, sistem berfungsi, dan kru kapal selam tahu cara menggunakannya dan belum dilumpuhkan.

Pinger, meskipun tidak selalu menjamin pemulihan kapal selam yang mengalami tragedi, sangat berharga karena memungkinkan tim pencari dan penyelamat menggunakan sonar pasif untuk memindai petak samudera yang lebih luas dilengkapi dengan alat lainnya.

Tidak ada indikasi bahwa KRI Nanggala-402 mengeluarkan suara yang dapat membantu pencarian. Clark, yang seorang ahli pertahanan di Hudson Institute, berspekulasi bahwa jika kapal mengeluarkan suara, kapal itu mungkin sudah ditemukan.

“Kalau bikin ribut, pasti jauh lebih mudah ditemukan,” ujarnya.

Tanpa ping yang mengganggu atau suara bising lainnya, tim pencarian dan penyelamatan dibatasi untuk menggunakan sonar aktif, mempersempit pemindaian dan memperpanjang waktu yang diperlukan untuk mencari suatu area.

Sementara sonar pasif melibatkan pendengaran suara yang datang dari objek di laut, sonar aktif mengacu pada suara ping dari objek di laut dan mendengarkan gema.

Angkatan Laut Indonesia menetapkan bahwa kapal selam tersebut menghilang di perairan utara pulau Bali. Tim pencari menemukan tumpahan minyak di awal pencarian mereka, mempersempit area yang diduga tempat kapal Nanggala-402 hilang kontak.

Di area umum ini, unit pencarian mendeteksi objek dengan "resonansi magnet yang kuat" yang mungkin berasal dari kapal selam yang hilang.

Meskipun perkembangan ini telah mengurangi ukuran keseluruhan area pencarian secara signifikan, masih banyak area perairan yang harus dilihat. Tapi Indonesia punya puluhan kapal dan pesawat, didukung aset internasional, yang terlibat dalam pencarian.

Angkatan Laut Indonesia mengatakan kapal itu mungkin tenggelam hingga kedalaman lebih dari 2.000 kaki, yang tentunya akan mempersulit pencarian lebih lanjut.

Kedalaman tersebut tidak hanya melampaui kedalaman maksimum kapal selam, berpotensi menempatkannya pada risiko runtuhnya lambung yang dahsyat, tetapi juga mungkin membuatnya berada di luar jangkauan opsi pemulihan yang tersedia.

Clark mengatakan mencari hal-hal di sekitar dasar laut juga agak menantang.

"Seperti yang kita lihat dengan berbagai kecelakaan pesawat, sulit menemukan sesuatu, bahkan yang besar, ketika turun ke dasar laut, karena tercampur dengan kekacauan di sana," katanya.

Sebagai perbandingan, kapal selam ARA San Juan Angkatan Laut Argentina hilang pada tahun 2017. Baru setahun kemudian tim pencari menemukan kapal tersebut, di mana 44 awaknya tewas, di dasar laut pada kedalaman sekitar 3.000 kaki.

"Jika kapal selam diesel kecil seperti milik Indonesia tenggelam di kedalaman 2.000 kaki air, itu tidak mungkin untuk bertahan," kata Clark.

Nasib kapal selam Indonesia itu masih belum diketahui, dan upaya untuk menemukannya berpacu dengan waktu meskipun secara teori pasokan oksigen sudah habis karena sudah lewat dari 72 jam.
(min)
 
 
Diterbitkan di Berita

Bhismo Dwi Pamungkas alinea.id 

Untuk pertama kalinya galangan kapal milik perusahaan nasional, PT PAL berhasil ikut serta dalam produksi kapal selam.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menghadiri acara serah terima Kapal Selam ke-3 KRI Alugoro-405, dari PT PAL kepada Menteri Pertahanan RI Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subiyanto, yang bertempat di Galangan DSME-Okpo Korea Selatan dan PT PAL Indonesia, Surabaya, Rabu (17/3).

Kapal Selam KRI Alugoro di Galangan DSME-Okpo Korea Selatan dan PT PAL Indonesia, merupakan kerja sama antara Korea Selatan dan Indonesia pada 26 Desember 2014 dan peletakan lunas dilakukan pada 30 Mei 2016.

Pengiriman section dari Korea Selatan ke Indonesia dilakukan pada 19 Maret-25 Mei 2017. Pemberian nama Alugoro pada 11 April 2019. Penyerahan kepada Pemerintah Republik Indonesia pada 17 Maret 2021.

Nama Alugoro diambil dan dibentuk dari salah satu senjata berbentuk Gada yang dimiliki Prabu Baladewa, yang merupakan tokoh wayang yang dikenal adil, tegas dan jujur. Nama Alugoro pernah digunakan untuk nama kapal selam yang didatangkan dari Uni Sovyet, yaitu RI Alugoro-406 yang merupakan bagian dari paket pengiriman 12 Kapal Selam Whiskey Class.

Dalam sambutannya Menteri Pertahanan Prabowo Subiyanto mengatakan, hal ini sebagai tonggak historis. Di mana untuk pertama kalinya galangan kapal milik perusahaan nasional, PT PAL berhasil ikut serta dalam produksi kapal selam.

“Kita sadari bersama betapa pentingnya pertahanan. Kita sedang membangun kemampuan pertahanan. Bukan karena ingin gagah-gagahan. Bukan karena ingin mengancam siapapun. Tidak. Berkali-kali, turun termurun dari pendiri bangsa, kita tegaskan bahwa bangsa Indonesia cinta damai tapi lebih cinta kemerdekaan,” tegas Menhan Prabowo dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/3).

Menhan Prabowo memaparkan bahwa alat pertahanan banyak yang sudah sangat tua dan sudah saatnya diremajakan. Untuk itu, peran dari industri pertahanan akan sangat menonjol.

“Kami harap peran serta, inisiatif, kerja keras teknolog-teknolog, sarjana-sarjana, cendekiawan, dari ahli-ahli. Kami harap semua bersatu untuk kerja keras,” tegasnya.

Pengadaan Kapal Selam Alugoro-405 merupakan salah satu program pembangunan kekuatan pertahanan khususnya Matra Laut. Sebelum Alugoro-405, Kemhan telah serahterimakan kapal selam pertama KRI Nagapasa-403 dan kapal selam kedua KRI Ardadedali-404 yang dibangun di Korea kepada TNI AL. Dengan telah diserahterimakannya Kapal Selam Alugoro-405 ini, Menhan Prabowo yakin bahwa kapal selam ketiga pesanan Kemhan tersebut dapat memperkuat Alutsista TNI khususnya di jajaran TNI AL.

Hadir pada acara tersebut, di antaranya Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono. Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid, Katimlak KKIP Letjen TNI (Purn) Suryo Prabowo, Deputi Bidang Hukum dan Perundang-Undangan Kementerian BUMN Carlo Tewu dan PLT Direktur Utama PT PAL Indonesia Persero Etty Soewardani.

Diterbitkan di Berita