bonauli detikTravel Jakarta - Siapa yang tak kenal pempek? Makanan khas Palembang ini tak boleh lagi menggunakan bahan ikan belida. Ikan ini sudah dilindungi oleh pemerintah!

Ikan belida memiliki nama ilmiah Chitalia. Hidup di perairan darat berupa sungai dan rawa, ikan belido tersebar di perairan Indonesia.

Mulai Januari lalu, pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan baru terkait dengan ikan belida. Mengalami penurunan drastis di alam, ikan ini masuk dalam kategori hewan yang dilindungi.

 

Berikut 5 fakta menarik tentang ikan belida.

1. Bukan hewan endemik

Ikan belida bukanlah hewan endemik. Karena ikan ini tersebar di Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Ikan belida juga ada di Singapura hingga Filipina.

Di Indonesia sendiri ada enam jenis genus ikan belida yaitu C. blanci (Indochina Featherback) C. borneensis (Indonesian Featherback) C. chitala (Clown Knifefish) C. hypselonotus, C. lopis (Giant Featherback) dan C. ornata (Clown Featherback).

2. Mulai langka

Kelangkaan ini dikonfirmasi dengan masuknya ikan belida dalam kategori hewan yang dilindungi. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nomor 1 tahun 2021.

Menurut Dr Dina Muthmainnah peneliti Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan, penurunan populasi ikan belida disebabkan oleh beberapa hal. Mulai dari aktivitas penangkapan lebih (overfishing), penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dan perubahan kondisi lingkungan perairan.

"Karena sistem, pendataan kita di perairan darat (sungai, danau dan rawa-red) itu belum bagus. Hanya mencatat apa yang terjual di pasar atau data produksi," ujarnya.

Tahun 2000 Ditjen perikanan mencatat produksi tahunan ikan belida di Indonesia terus mengalami penurunan. Tahun 1991 ada 8.000 ton ikan belida yang tercatat dalam penangkapan. Jumlah ini menurun menjadi 5.000 ton di tahun 1995 dan 3.000 ton di tahun 1998.

3. Maskot Sumatera Selatan

Ikan belida tersebar di perairan darat Indonesia. Namun hanya masyarakat Palembang-lah yang menjadikan belida sebagai maskot. Mulai dari masakan pindang, pempek hingga kerupuk.

Ukurannya besar sekitar 68 cm saat dewasa, tekstur dagingnya lembut sehingga menjadi favorit sebagai bahan baku makanan. Protein dan vitamin yang terkandung dalam ikan belida juga tinggi.

4. Bentuknya unik

Bentuk ikan belida unik. Ikan ini memiliki lengkungan di bagian kepalanya. Sementara badannya memiliki warna yang berbeda-beda. Ada yang hitam mengkilap dan totol-totol. Ikan ini sudah dijadikan sebagai ikan hias di Singapura.

5. Habitat ikan belida rusak

Selain adanya overfishing, kelangkaan ikan belida juga dipengaruhi oleh penurunan kualitas air atau degradasi habitat. Sampah, sedimentasi, polusi industri rumahan di pinggir sungai menjadi masalah utama yang harus diselesaikan.

Larangan dan denda

Larangan penangkapan belida diatur dalam Pasal 100 juncto Pasal 7 ayat 2 huruf C Undang-undang RI Nomor 45 tahun 2009, tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan.

Bagi yang menangkap akan dikenakan pidana denda paling banyak Rp 250 juta. Sedangkan untuk yang pengepul penadah distribusi dikenakan sanksi pasal SIUP yakni, Pasal 92 juncto Pasal 26 ayat 1 tentang Perikanan dengan denda Rp 1,5 miliar.

(bnl/ddn)

Diterbitkan di Berita

Merdeka.comIndonesia memiliki sumber daya ikan yang melimpah, bahkan memiliki wilayah dengan sumber ikan tuna terbesar di dunia. Sumber daya yang melimpah ini membuat pemerintah memetakan 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), dan sudah didaftarkan ke Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Sjarief Widjaja, mengatakan pemetaan wilayah tersebut dilakukan karena masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Misalnya, di wilayah Timur yaitu Papua yang melekat dengan Australia sehingga lautannya rata-rata dangkal dan berpasir.

Sementara wilayah Sulawesi dan Maluku merupakan lautan teduh dan dalam. Di sana, terdapat sumber ikan tuna terbesar. "Sulawesi dan Maluku lautannya teduh, jadi lautnya mesti dalam. Di situ ada sumber bridging tuna terbesar di dunia, ada di Laut Banda.

Jadi ini peluang," kata Sjarief dalam Rapat Kerja Nasional Hipmi 2021 Forum Bisnis III pada Sabtu (6/3).

Dia menilai para pengusaha Tanah Air bisa memanfaatkan potensi sumber daya ikan yang besar di Indonesia. "Kita mungkin memang sedikit keluar dari Jakarta, karena bisnis maritim tidak ada di Jakarta tapi ada di ujung-ujung," tuturnya.

Sjarief mengatakan, total potensi ikan Indonesia saat ini sebanyak 12,54 juta ton per tahun. Ada peluang bisnis ratusan triliun.

"Kalau dikalikan dengan harga 30 ribu per kg, misalnya, kita bisa bayangkan berapa yang bisa kita dapatkan. Hampir Rp 375 triliun yang bisa kita olah," jelasnya.

Diterbitkan di Berita