My Childhood My Country: 20 Years in Afghanistan (“Masa Kecilku, Negeraku: 20 Tahun di Afghanistan”) adalah film dokumenter terbaru oleh pembuat film pemenang penghargaan Phil Grabsky dan Shoaib Sharifi.

Grabsky berbicara dengan Penelope Poulou dari VOA tentang film 20 tahun yang memaparkan kehidupan di Afghanistan melalui mata seorang pemuda Afghanistan dari masa kecilnya hingga hari ini.

Lensa Phil Grabsky mulai mengikuti kehidupan Mir muda sejak pasukan Amerika dan sekutu menginvasi Afghanistan pada 2001 setelah serangan 11 September.

Beberapa bulan sebelum serangan 9/11 di Amerika Serikat pada tahun 2001, Taliban telah menghancurkan patung-patung Buddha Bamiyan di Afghanistan, salah satu situs arkeologi paling signifikan di dunia.

Grabsky terbang ke Kabul untuk merekam bagaimana peristiwa-peristiwa tersebut mempengaruhi negara itu.

 

Phil Grabsky, filmmaker "My Childhood My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)
Phil Grabsky, filmmaker "My Childhood My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)

 

Ketika berkeliling di reruntuhan patung-patung itu, dia bertemu dengan Mir muda dan keluarganya yang tinggal di gua dalam kemiskinan.

“Dengan energi itu, kelincahan itu, keingintahuan itu, saya tiba-tiba berpikir, ‘tentu saja, film adalah apa yang akan dibuat dalam setahun ke depan mengenai kehidupan anak muda ini karena itulah yang kemudian memproyeksikan kepada penonton tentang masa depan Afghanistan," jelas Phil Grabsky.

Secara bertahap, kata Grabsky, kegembiraan dan optimisme Mir sebagai anak memudar di bawah beban kemiskinan dan tanggung jawab keluarga. “Saya sedang libur sekolah. Jika kami tidak membajak, kami tidak makan.”

Setelah bertahun-tahun di depan lensa kamera, Mir sendiri, yang kini menjadi ayah dari dua anak, bekerja sebagai juru kamera di Kabul.

Pada 31 Mei 2017, sebuah bom meledak di Kabul, menewaskan lebih dari 250 orang dan melukai ratusan lainnya. Ledakan itu meleset dari Mir karena keberuntungan belaka.

 

Salah satu adegan dalam film dokumenter besutan Phil Grabsky "My Childhood, My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)
Salah satu adegan dalam film dokumenter besutan Phil Grabsky "My Childhood, My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)

 

“Kami harus memeriksa bagian bawah kemudi mobil kami setiap kali kami akan melakukan perjalanan karena Taliban memasang bom dan meledakkan mobil jurnalis, hakim, dan pejabat pemilu. Itu mengerikan, sangat mengerikan,” jelas Phil Grabsky.

Grabsky mengatakan belakangan dia tidak pernah pergi ke Afghanistan karena tidak lagi aman bagi orang Barat untuk membuat film di sana. Shoaib Sharifi, rekannya sesama pembuat film di Afghanistan terus berkarya dengan syuting di sana tetapi baginya itu pun tidak aman.

Mir Husein, yang kini menjadi kamerawan mengatakan, “Akan ada perang karena Taliban tidak dapat dihentikan. Dengan adanya pasukan asing, konflik dapat dicegah, keamanan tetap terjaga.

 

Salah satu adegan dalam film dokumenter besutan Phil Grabsky "My Childhood, My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)
Salah satu adegan dalam film dokumenter besutan Phil Grabsky "My Childhood, My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)

 

Sementara itu, istri Mir menimpalinya, “Perempuan dihukum jika Taliban menganggap mereka tidak menjaga kesantunan. Taliban percaya bahwa mereka adalah Muslim sejati. Mereka akan sangat kejam dan menindas.”

Mengenai nasib kaum perempuan, Phil Grabsky mengatakan, “Saya telah bertemu dengan banyak perempuan pemberani, tetapi perempuan Afghanistan berbeda dengan yang lain, dan bahkan sekarang mereka keluar untuk berdemonstrasi. Itu sulit dipercaya. Mereka layak mendapatkan dukungan sepenuh hati kita.”

Grabsky mengatakan “Masa Kecilku, Negaraku: 20 Tahun di Afghanistan” adalah karya cinta yang berlangsung hampir 20 tahun. Film ini menceritakan berbagai kekuatan yang membentuk Afghanistan dan rakyatnya. [lt/uh]

Diterbitkan di Berita

Callistasia Wijaya BBC News Indonesia

De Oost (The East) adalah film fiksi Belanda pertama yang menggambarkan sosok Raymond Westerling. Film itu dipuji sebagai "simbol keberanian anak muda Belanda" yang jujur melihat sejarahnya sendiri.

Di sisi lain, sejumlah pihak, termasuk putri Westerling, mengkritik film itu yang disebutnya "memutarbalikkan fakta" dan "menyebarkan kebohongan".

Westerling adalah pemimpin Depot Speciale Troepen (DST), satuan khusus militer Belanda yang terlibat aksi pembantaian di Sulawesi Selatan pada 1946 hingga 1947.

Sejumlah sejarawan Indonesia menyebut ada sekitar 40.000 korban pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan. Sementara di Belanda, jumlah korban yang dilaporkan adalah sekitar 3.000 orang.

Di Indonesia, keluarga korban Westerling berharap film ini bisa menjadi medium yang menceritakan peristiwa pembantaian masa lalu.

 

Film untuk 'sosok antagonis ideal'

De Oost menceritakan sosok protagonis Johan De Vries (diperankan Martijn Lakemeier), seorang tentara muda Belanda yang menjadi anak buah Raymond Westerling (diperankan Marwan Kenzari) dalam operasi melawan pasukan anti-gerilya di Sulawesi Selatan.

Dalam film yang tayang di Belanda pada pertengahan Mei lalu itu, penonton dapat melihat gejolak emosi Johan saat menyaksikan pembantaian oleh Westerling, yang dalam film hanya disebut sebagai Raymond atau 'De Turk'.

Julukan itu klop dengan tempat kelahiran Westerling, yaitu Istanbul, Turki.

Tembakan demi tembakan kepada warga kampung yang dituding sebagai pemberontak meninggalkan trauma dan rasa bersalah pada Johan.

 

de oost

De Oost menceritakan sosok protagonist, Johan De Vries (diperankan Martijn Lakemeier), yang mengalami pergolakan batin saat menjadi anak buah Westerling. MILAN VAN DRIL

 

Film ini digarap sutradara Jim Taihuttu, seorang warga Belanda keturunan Maluku.

Sander Verdonk, asal Belanda, dan Shanty Harmayn, asal Indonesia, bersama-sama memproduseri film ini.

Sander menceritakan bahwa di Belanda, perang di Indonesia ini jarang diketahui.

"Di Indonesia, semua orang tahu tentang Perang Kemerdekaan. Di Belanda, tak ada yang tahu atau hanya sedikit orang yang tahu. Mereka bahkan tak menyebutnya perang, tapi aksi polisional.

"Saya pikir perspektif historis ini menarik. Kakek buyut Jim meninggal dunia dalam perang ini, tapi dia tak pernah mendengar tentang peristiwa ini," kata Sander.

Dalam riset film selama sekitar empat tahun, tim ini mengenali sosok Westerling, yang disebut Sander layaknya "antagonis ideal".

Film itu, katanya, memang fiktif. Tapi penggambaran Westerling di film itu, disebutnya "sangat sedikit sisi fiktifnya."

"Yang dilakukannya di dunia nyata sangat dramatis dan tragis. Kami hanya menunjukkan sedikit dari itu, tak sejahat dan seburuk yang terjadi sebenarnya.

"Tapi ini cara yang baik menunjukkan dua sisi dari perang ini. Orang Belanda tak mau membicarakan ini atau tidak tahu, apalagi mengetahui kejahatan perang yang terjadi," kata Sander.

 

de oost

"Di Indonesia, semua orang tau tentang Perang Kemerdekaan. Di Belanda, tak ada yang tahu atau hanya sedikit orang yang tahu." MILAN VAN DRIL

 

Dalam wawancara yang sama, Shanty mengatakan, di Indonesia sejarah terkait Westerling memang diajarkan di sekolah, tapi tidak secara detil.

"Yang menarik adalah ini film dari negara, yang pada dasarnya, mau menceritakan kejahatan perang yang mereka lakukan.

"Saya pikir 'wow, ini berani' dan ini adalah bagian dari sejarah kita," kata Shanty.

 

Apa prajurit Westerling merasa bersalah?

Sosok Johan de Vries digambarkan mengalami pergolakan batin setelah terlibat dalam pembantaian Westerling.

Namun, di dunia nyata, dalam komunitas prajurit dan veteran, rasa bersalah itu tak nampak, menurut Maarten Hidskes, putra seorang mantan prajurit Westerling yang menulis buku Thuis gelooft niemand mij (Di rumah [Belanda] tidak ada yang mempercayai saya).

Buku ini menjadi salah satu sumber riset film De Oost.

Ayah Maarten yang meninggal sekitar 30 tahun lalu, tak pernah menceritakan apa yang dialaminya selama perang kepada keluarganya.

 

de oost

Foto pasukan Westerling yang diambil pada Januari tahun 1947. M. HIDSKES

 

Yang diketahui Maarten, ayahnya pernah mengalami depresi dan dirawat di rumah sakit jiwa selama beberapa waktu.

"Di dalam film, yang menarik adalah Johan tidak hanya berpikir tentang apa yang dia lakukan, dampaknya, juga justifikasi moral dan militer. Tapi dia bertindak dan menerima konsekuensi dari kompas moralnya.

"Sikap Johan ini adalah cermin yang baik bagi sejarah Belanda," ujar Maarten, yang telah menulis novel De Oost, berdasarkan film karya Jim Taihuttu.

 

de oost

Sutradara film ini, Jim Taihuttu, adalah warga Belanda keturunan Maluku. MILAN VAN DRIL

 

Sejarawan Indonesia, Bonnie Triyana, memuji film itu, yang disebutnya berani melihat sejarah masa lalu dengan terbuka.

"Film ini menurutku simbol keberanian pembuat film Belanda, generasi muda Belanda, yang berani melihat sejarahnya sendiri dengan jujur dan terbuka. Ini progresif," ujar pemimpin redaksi majalah Historia itu.

"Ini juga harus membuat kita memikirkan ulang sejarah kita di Indonesia dan berani melihat masa lalu kita yang berdarah-darah juga. Memang, habis perang, kita nggak perang di kalangan diri sendiri? Ada peristiwa '48, '65," kata Bonnie.

Ia merujuk pada peristiwa Madiun 1948 dan Gerakan 30 September 1965, yang memakan banyak korban.

Bonnie menambahkan film De Oost layaknya "pukulan telak" dan "tamparan keras" bagi mereka yang disebutnya "kelompok kanan" dan "retrogresif" di Belanda.

 

Tudingan memutarbalikkan fakta

Meki dipuji sejumlah pihak, film ini jadi kontroversi karena dikritik beberapa kalangan, termasuk putri Westerling, Palmyra. Dia tak sepakat dengan penggambaran sosok ayahnya dalam film itu.

Dalam sebuah surat terbuka, Palmyra mengatakan sejarah kolonial Belanda yang kompleks.

Namun, menurutnya, generasi saat ini kerap mencoba menceritakan sejarah tanpa penyelidikan yang tepat, cenderung melakukannya secara sepihak, dan dengan pendekatan yang subjektif.

 

Westerling

Warga diminta berkumpul untuk menyaksikan eksekusi di Sulawesi Selatan tahun 1947. NETHERLANDS INSTITUTE OF MILITARY HISTORY (NIMH)

 

Palmyra mengutip dokumen sejarawan Belanda untuk memperkuat argumennya bahwa apa yang dilakukan ayahnya dalam periode itu adalah sesuatu yang diperlukan.

Ia mengeklaim, sejumlah pihak yang bisa bercerita langsung terkait periode 'Bersiap', atau antara tahun 1945-1947, mengatakan bahwa ayahnya banyak dipuji dan bahkan disebut sebagai 'Ratu Adil'.

Maka itu, ia menyebut film De Oost sebagai fantasi yang memutarbalikkan fakta dan menyebarkan kebohongan.

Westerling sendiri tak pernah diadili di Belanda hingga akhir hayatnya di tahun 1987.

Pemerintah Indonesia pernah mengupayakan ekstradisi Westerling dari Singapura dan Belanda, tapi tak berhasil.

 

Westerling

Mantan Presiden Soekarno menyebut 40.000 orang menjadi korban pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan. ULLSTEIN BILD/ULLSTEIN BILD VIA GETTY IMAGES

 

Sebuah kelompok di Belanda, Federatie Indische Nederlanders atau FIN, yang menyebut diri sebagai generasi ketiga warga Belanda keturunan Indonesia, menggugat film ini di pengadilan.

Mereka mendesak hakim untuk mengharuskan pembuat film mencantumkan keterangan di awal film bahwa cerita itu fiktif.

Pembuat film sudah mencantumkan keterangan itu di akhir, bahwa film itu terinspirasi dari kisah nyata, dengan adegan hingga dialog yang didramatisasi. Namun, bagi FIN, ini tak cukup.

Bagaimanapun, gugatan ini ditolak oleh hakim pengadilan karena hal tersebut dianggap bisa menyiratkan pembatasan kebebasan berekspresi.

Dalam situs resminya, Ketua FIN, Hans Moll, menilai film itu adalah propaganda anti-Belanda dan menyatakan penggambaran tentara Belanda menyiratkan kemiripan dengan Nazi, sesuatu yang melukai hati sejumlah veteran.

Menteri Pertahanan Belanda, Ank Bijleveld, ikut berkomentar. Ia menyayangkan film ini menyebabkan keresahan pada veteran.

"Mereka dikirim ke Hindia atas nama politisi dan dengan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Hal paling utama adalah bahwa mayoritas telah bertugas di sana tanpa menggunakan kekerasan ekstrem," cuit Bijleveld.

Pada tahun 2020, dalam kunjungannya ke Indonesia, Raja Belanda meminta maaf atas kekerasan berlebihan yang dilakukan dari pihak Belanda di masa-masa setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

 

Raja dan ratu Belanda

Pada tahun-tahun segera setelah Proklamasi, pemisahan yang menyakitkan terjadi, yang menelan banyak korban jiwa, kata Raja Belanda. ANTARA

 

Harapan keluarga korban Westerling

Juga di tahun 2020, pemerintah Belanda menyatakan akan menawarkan ganti rugi kepada anak-anak dari warga Indonesia yang dieksekusi oleh serdadu Belanda dalam periode itu, meski banyak ahli waris yang hingga kini masih kesulitan mengakses skema ganti rugi yang ditetapkan.

Salah satunya adalah Abdul Halik, warga Bulukumba, yang mengaku sebagai anak Becce Betta, korban pembantaian Westerling di tahun 1947.

Hingga kini, ia masih belum mendapat kompensasi.

Putra Abdul Halik, Syamsir Halik, 52, berharap melalui film ini lebih banyak masyarakat Belanda yang mengetahui kejadian pembantaian di wilayahnya dan ayahnya bisa segera mendapat kompensasi.

 

Abdul Halik; Westerling

Abdul Halik meminta audiensi dengan Dubes Belanda untuk menyatakan penolakan terhadap kedatangan Raja-Ratu Belanda di tahun 2020. BBC INDONESIA/CALLISTASIA WIJAYA

 

Ia sendiri belum menonton film itu, yang belum bisa disaksikan secara luas di Indonesia, tapi sudah membaca berbagai berita mengenai film tersebut.

"Baik sekali karena film itu memperlihatkan kekejaman yang dilakukan di Indonesia tahun '46-47. Dia (Abdul Halik) tetap menuntut pemerintah Belanda agar bisa memenuhi tuntutan para anak dan janda korban," ujar Syamsir.

 

Ruang perdebatan yang terbuka

Meski jadi pro dan kontra, produser film Sander Verdonk, ia mengatakan puas karena film berdurasi sekitar dua setengah jam ini telah membuka ruang diskusi soal masa lalu di Belanda.

Hal ini menunjukkan bahwa apa yang disebutnya sebagai 'narasi satu arah' tak lagi berlaku.

"Saya sangat bersyukur. Debat ini... tidak akan bisa dihentikan lagi. Langkah ke depannya yang bisa dilakukan, menurut saya, adalah diskusi yang lebih banyak antara pihak Belanda dan Indonesia," ujarnya.

Film ini rencananya tayang untuk publik di Indonesia di tahun 2021.

Diterbitkan di Berita

Sejak diumumkan ke khalayak tahun 2019, Raya and the Last Dragon (selanjutnya disebut Raya) telah didengungkan sebagai film animasi yang terinspirasi budaya Asia Tenggara. Di samping Kelly Marie Tran – aktris Amerika keturunan Vietnam pemeran Raya, kedua penulis skenario, Adele Lim dan Qui Nguyen, juga berdarah Asia Tenggara.

Di sepanjang film, penonton Indonesia dimanjakan berbagai tampilan audio-visual dengan referensi budaya yang tidak asing, seperti kesenian wayang kulit, gamelan, buah kelengkeng, struktur atap rumah gadang, hingga pedang menyerupai keris yang jadi senjata andalan Raya.

Kemunculan elemen-elemen tersebut nyatanya tidak lepas dari peran sejumlah konsultan budaya asal Indonesia yang terlibat dalam film besutan Disney itu.

 

Kumandra, negeri dongeng yang diwarnai unsur-unsur budaya Asia Tenggara. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)
Kumandra, negeri dongeng yang diwarnai unsur-unsur budaya Asia Tenggara. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)

 

“Saya bagian bahasa,” kata Juliana Wijaya, ahli bahasa sekaligus Presiden Dewan Pengajar Bahasa-Bahasa Asia Tenggara di AS, saat diwawancarai VOA melalui Zoom (11/3).

Ini pertama kalinya ia dilibatkan sebagai konsultan budaya untuk proyek sebesar Raya. Juliana bercerita, dirinya dihubungi tim Disney pada April 2019, “Mungkin karena saya di UCLA dan terlibat di Centers for Southeast Asian Studies UCLA.”

 

Juliana Wijaya. (Foto: Dok Pribadi)
Juliana Wijaya. (Foto: Dok Pribadi)

 

Juliana dilibatkan untuk memastikan kesesuaian istilah-istilah yang dipakai film fantasi itu dengan konteks budaya di Asia Tenggara.

“Mereka punya tim kreatif yang menciptakan bahasa,” ujarnya. “Mereka mengirim ke saya, ‘ini ada beberapa pilihan (kata), yang mana yang paling baik?’ Saya bisa melakukan riset untuk melihat apakah kata-kata itu ofensif atau tidak.”

Perannya tidak hanya sampai di situ, ia juga membantu tim Disney menciptakan aksara fiktif yang muncul dalam Raya. Ia memberikan pemahaman kepada tim kreatif tentang perbedaan goresan dan lekuk huruf asal negara-negara di Asia Tenggara dengan aksara dari wilayah lain.

Satu hal yang ia jadikan pedoman selama memberikan konsultasi tersebut: “Mereka bilang, ‘jangan lupa bahwa ini fantasi.’” Meski terinspirasi budaya Asia Tenggara, elemen-elemen yang muncul dalam Raya diminta agar tidak secara jelas merujuk pada satu kebudayaan tertentu.

 

Emiko Susilo. (Foto: Dok Pribadi)
Emiko Susilo. (Foto: Dok Pribadi)

 

Hal yang sama menjadi pegangan dua sosok Indonesia lainnya yang terlibat dalam proyek Raya: Emiko Saraswati Susilo dan Dewa Putu Berata.

“Saya masih ingat sekali waktu Osnat (produser Raya, Osnat Shurer -red) bilang, ‘film ini harus tidak menunjukkan satu tempat,’” ungkap Dewa dalam wawancara Skype dengan VOA, Jumat (5/3).

Dewa dan Emiko adalah pasangan seniman dari Sanggar Seni Çudamani, yang berbasis di California, AS, dan Gianyar, Bali. Dewa dikenal dengan keahliannya menciptakan komposisi gamelan. Ia juga telah membawa sanggar yang didirikannya tampil di berbagai panggung dunia.

Sementara Emiko, yang lahir dan besar di Los Angeles, California, telah mendalami seni tari Bali dan Jawa sejak lama. Kini, dirinya ikut memimpin Sanggar Çudamani sebagai pengajar dan koreografer.

“Filmnya fantasi, seperti petualangan fantasi golongannya. Jadi, seperti Pak Dewa katakan tadi, memang saya kira dia mencari benang merah antara (budaya-budaya di) Asia Tenggara,” timpal Emiko dalam wawancara yang sama.​

 

Observasi Budaya Indonesia

Dewa Putu Berata. (Foto: Dok Pribadi)
Dewa Putu Berata. (Foto: Dok Pribadi)

 

Tugas pertama Dewa dan Emiko, setelah bergabung dengan tim konsultan budaya Raya pada Februari 2019, adalah mengorganisasi kunjungan tim Disney ke Bali. Keduanya lantas membawa kru film itu ke kampung halaman Dewa di Banjar Pengosekan, Gianyar, di mana mereka mengikuti berbagai kegiatan – dari upacara adat, demo pencak silat hingga lokakarya gamelan.

“Mereka melihat tingkatan-tingkatan kejadian, dari yang paling sakral di dalam pura, di tengah hingga di luar. Saya kira mereka melihat bagaimana orang menempatkan diri,” kenang Dewa.

Para kru, kata Dewa, tak lupa untuk melukis apa yang mereka lihat selama kunjungan tersebut. Mereka yang ikut dalam rombongan itu, antara lain sutradara John Ripa dan Paul Briggs, pengarah artistik Helen Chen dan Shiyoon Kim, serta head of story Fawn Veerasunthorn.

Emiko menuturkan, “Mereka mengunjungi Bali untuk mengetahui budaya, merasakan bagaimana kehidupan (warga), upacara dan keluarga di Bali.”

 

Konsultan budaya Raya, Dewa Putu Berata, dan anggota sanggar Çudamani mengajarkan gamelan kepada kru Raya saat berkunjung ke Bali.
Konsultan budaya Raya, Dewa Putu Berata, dan anggota sanggar Çudamani mengajarkan gamelan kepada kru Raya saat berkunjung ke Bali.

 

Setelah menyelesaikan observasi di Pulau Dewata serta dua negara lainnya, Kamboja dan Laos, Dewa dan Emiko kembali membuat lokakarya gamelan dan kecak bagi tim yang terlibat di studio animasi Disney di Burbank, Los Angeles. Di sana, keduanya juga memeragakan berbagai gestur khas orang Indonesia dalam kehidupan sehari-hari untuk kembali direkam dan dilukis sebagai referensi, selain tentunya memberikan konsultasi di sepanjang proses pembuatan film.

“Kadang-kadang mereka menunjukkan sekelumit adegan, menanyakan ‘Apakah ini sesuai dengan sopan santun?’ atau ‘Apakah benar cara memegang senjatanya?’” tutur Dewa.

Yang jelas, Emiko terkesan dengan keseriusan tim yang terlibat untuk memastikan keakuratan referensi budaya dengan animasi yang mereka garap.

“Gerakan badan kita juga (mengandung) banyak komunikasi, kan? Dan gerak-gerik orang Indonesia berbeda dengan gerak-gerik orang Amerika,” paparnya. “Sering kita bicarakan detil yang sangat kecil, ya lewatnya (di depan layar) hanya 2-3 detik, tapi penting sekali bagi saya – bagi kita semua saya kira. Akan ada rasa, ‘Itu asli Asia Tenggara atau gambaran saja?’”

Pemilihan Nama ‘Raya’ dan Indonesia

Seperti Emiko, Juliana Wijaya juga kagum dengan upaya studio film raksasa yang terkenal dengan karakter para putrinya itu dalam membuat kisah dan penggambaran Raya yang dekat dengan budaya Asia Tenggara, meskipun tidak spesifik mengangkat budaya Indonesia.

“Kalau kita pikirkan hanya Indonesia saja – sementara banyak sekali negara-negara di Asia Tenggara – kapan kita masuk?” ujarnya.

 

Karakter Boun disuarakan Izaac Wang, aktor cilik keturunan Tionghoa-Laos. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution).
Karakter Boun disuarakan Izaac Wang, aktor cilik keturunan Tionghoa-Laos. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution).

 

Pemilihan kata ‘Raya’ – yang familiar di telinga orang Indonesia – sebagai nama karakter utama dalam film animasi itu sendiri tak lepas dari peran Juliana.

“Mereka memberi saya beberapa kata, lalu saya mengatakan, ‘OK, kalau ini artinya ini… ini kemungkinan artinya dekat dengan ini.’ Lalu, saya memilih ‘Raya’,” ungkapnya. “Karena, pertama… ya saya orang Indonesia.”

Selain ‘Raya’, terdapat beberapa kata lain yang dipertimbangkan Disney untuk menamai karakter utama film itu, termasuk ‘Kaya’, “Aduh… kalau ‘Kaya’ ini artinya rich ya, jadi tidak menjangkau banyak orang,” jelasnya.

Meski demikian, perlu waktu berbulan-bulan hingga akhirnya Disney resmi menjatuhkan pilihan pada nama ‘Raya’ – sebuah momen yang amat berkesan bagi Juliana.

 

Konsultan budaya Raya, Emiko Susilo, beserta putrinya, Dewa Ayu Larassanti, menunjukkan gerakan tarian Bali di Studio Animasi Walt Disney di Burbank, California.
Konsultan budaya Raya, Emiko Susilo, beserta putrinya, Dewa Ayu Larassanti, menunjukkan gerakan tarian Bali di Studio Animasi Walt Disney di Burbank, California.

“Saya waktu itu lagi di Indonesia, baru sampai, lagi jetlag, masih jam tiga pagi, saya ditelepon,” ungkapnya. “Scott (penasihat produksi Raya, Scott Sakamoto -red) mengatakan, ‘Juliana, dewan (pimpinan Disney) akan menggelar pertemuan dalam satu jam untuk menentukan nama karakternya. Apakah kamu setuju dengan nama ‘Raya’?’”

Ia bercerita bahwa dirinya sulit berkonsentrasi dini hari itu, pasalnya Scott tidak sadar bahwa Juliana tidak sedang berada di Amerika.

 

Poster Raya and the Las Dragon. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)
Poster Raya and the Las Dragon. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)

 

“Saya masih jetlag, ‘Ini siapa ya? Terus yang mau dibicarakan itu siapa? Naganya ya?’” kenangnya. Lalu, Scott menjawab, “‘Bukan. Karakter utama: Raya.”

Juliana lantas tersadar, “Oh ya, ‘Raya’!” dan mengatakan, “Ya, saya approve!”

Ia senang bukan main karena nama pilihannya terpilih menjadi nama karakter utama animasi itu, karena “memang artinya paling bagus.”

“’Raya kan ‘merayakan’, saya bilang begitu. Jadi, raya itu kalau di Indonesia artinya grand, kemudian merayakan itu to celebrate,” paparnya, “Dan penulis skenarionya kan dua, Qui Nguyen dan Adele Lim – Adele kan orang Malaysia, dia bisa bahasa Melayu – dia juga setuju.”

 

Terinspirasi Rasa Kebersamaan di Indonesia

Wawancara VOA melalui Skype dengan Adele Lim. (Foto: VOA)
Wawancara VOA melalui Skype dengan Adele Lim. (Foto: VOA)

 

Dalam perbincangan melalui Skype dengan VOA, Kamis (11/3), Adele Lim, penulis skenario Raya yang berasal dari Malaysia, sangat senang mendapatkan kesempatan untuk menulis sebuah cerita dengan nuansa Asia Tenggara yang sangat kental.

“Terkadang mudah bagi kita yang tumbuh di Malaysia atau Indonesia untuk merasa bahwa dunia mungkin tidak benar-benar memahami atau melihat kita. Maka itu, rasanya selalu menyenangkan ketika mereka datang melihat langsung dan memahami keindahan dan kekayaan kita,” ujar Adele yang sebelumnya menulis skenario film Crazy Rich Asians.

Kekayaan yang ia maksud, terutama, adalah rasa kebersamaan yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hal itu jelas ia lihat saat mengikuti lokakarya gamelan yang digelar Dewa dan Emiko di studio Disney.

 

Pencak silat menginspirasi keahlian bela diri karakter Raya. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)
Pencak silat menginspirasi keahlian bela diri karakter Raya. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)

 

“Ketika mereka membawa masuk gamelan, para pemain dan penarinya, yang kita lihat bukan hanya tentang kesenian yang mereka pertunjukkan ke dunia, tetapi juga tentang bagaimana mereka sebagai sebuah keluarga saling terhubung satu sama lain, bagaimana mereka dan para penampil saling terkait satu sama lain, dan bagaimana mereka benar-benar mampu menciptakan keselarasan antara eratnya hubungan sebagai sebuah keluarga, sebuah komunitas, dengan bagaimana Anda tampil sebagai sebuah kesatuan,” paparnya.

Rasa kebersamaan itu juga Adele rasakan dalam visualisasi kisah Raya, yang ia sebut dikerjakan oleh banyak seniman Disney keturunan Asia Tenggara, termasuk mereka yang berdarah Indonesia, yang tumbuh dalam lingkungan rumah tangga khas Asia Tenggara.

“Seringkali tim pengembangan visual – tim ahli kami – melibatkan diri, tapi banyak di antara sentuhan yang muncul juga berasal dari para storyboard artist, banyak di antaranya dari Indonesia, baik itu Griselda Sastrawinata atau Luis Logam, yang bisa menuangkan jati diri mereka seutuhnya ke dalam bentuk visual, bahkan tanpa harus diminta dulu sebelumnya melalui naskah,” jelas Adele.

Rasa kebersamaan itu jugalah yang menjadi tema utama kisah Raya, yang dipandang Disney sebagai nilai utama yang menjadi benang merah beragam budaya di Asia Tenggara.

 

Raya kecil bersama sang ayah, Chief Benja, yang bercita-cita mempersatukan kembali negeri Kumandra. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)
Raya kecil bersama sang ayah, Chief Benja, yang bercita-cita mempersatukan kembali negeri Kumandra. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)

 

Adele mengatakan, “Yang kami cari bukan sekadar tampilan luarnya – mengambil apa yang kelihatan indah dan menggunakannya dalam film, tapi lebih mendalam dari itu. Yang kami benar-benar ‘baca’ dari banyak negara dan budaya di Asia Tenggara adalah rasa kebersamaannya.”

Raya and the Last Dragon menceritakan petualangan Raya di negeri Kumandra, sebuah negeri dongeng yang dahulu kala ditinggali manusia dan para naga secara berdampingan. Sambil ditemani – dan menunggangi – hewan peliharaannya yang tampak seperti percampuran anjing dan serangga armadillo (pillbug) bernama Tuk-Tuk, Raya mencari naga terakhir yang bisa membantunya menyatukan kembali warga Kumandra yang terpecah belah dan menyelamatkan mereka dari kawanan monster tak berwajah, yang telah mengubah ayah Raya dan banyak warga lainnya menjadi arca.

Raya tayang di bioskop sejak awal Maret lalu. [rd/ab]

Diterbitkan di Berita