Refleksi Akhir Pekan - Menenun Hening di Ruang yang Bising Pilihan

Sabtu, 28 Februari 2026 16:16
(1 Pilih)

Kita hidup di era yang memuja kecepatan. Dunia kita hari ini laiknya  panggung besar, yang jika kita  berhenti sejenak, sering kali dianggap sebagai kekalahan. Di sisi lain kesunyian dipandang sebagai kesepian yang menakutkan.

Kita dipaksa untuk terus berlari, mengejar bayang-bayang kesuksesan yang standarnya ditentukan oleh layar-layar digital di genggaman tangan.

Namun, di tengah riuh rendah ambisi itu, ada satu pertanyaan yang sering kali, baik disadari atau tidak, kita  bungkam: Ke mana perginya kedamaian yang dulu pernah menetap di dada?

Di bawah ini pendapat seorang sahabat yang juga pengamal tarekat menyikapi hal tersebut. Kami berbincang sambil ngabuburit di teras masjid kompleks perumahan kami.

Sejatinya hidup manusia adalah sebuah perjalanan pulang yang panjang. Namun, ironinya, kita sering kali tersesat justru saat kita merasa sedang melaju paling kencang.

Kita,  membangun gedung-gedung tinggi, namun kehilangan mezbah atau altar ketenangan di dalam hati.

Kita memiliki ribuan koneksi digital, namun merasa asing saat harus berhadapan dengan cermin dan menatap mata kita sendiri.

Ketidaktenangan itu sebenarnya sinyal—sebuah alarm dari jiwa yang merindukan oase. Kita sering kali mencari pelarian ke luar: liburan yang mahal, pengakuan orang lain, atau tumpukan harta yang tak kunjung memuaskan.

Padahal, ketenangan tidak pernah berada di tempat yang jauh. Ia tidak terletak pada angka di saldo bank atau tepuk tangan penonton.

Ketenangan adalah sebuah keputusan untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan.

Ada keberanian yang luar biasa saat seseorang berani berkata "cukup".

Cukup untuk tidak membandingkan langkah kaki sendiri dengan lari orang lain. Cukup untuk menerima bahwa luka-luka di masa lalu bukanlah beban yang harus disembunyikan, melainkan garis-garis sejarah yang membentuk karakter kita saat ini.

Seperti tanah yang harus retak agar benih bisa tumbuh menembus permukaan, jiwa kita pun sering kali harus mengalami guncangan agar cahaya kebijaksanaan bisa masuk ke celah-celahnya.

Dengan demikian, menenun hening di dunia yang bising berarti belajar untuk mendengarkan bisikan nurani di antara teriakan ekspektasi.

Ia adalah kemampuan untuk tetap tegak saat badai datang, bukan karena kita lebih kuat dari badai tersebut, melainkan karena kita telah menemukan "jangkar" yang tertanam kuat di kedalaman iman dan penerimaan diri.

Pada akhirnya, hidup yang bermakna bukanlah hidup yang tanpa masalah, melainkan hidup yang memiliki makna di setiap masalahnya.

Ketika kita berhenti mencari validasi dari dunia yang fana ini, kita mulai menyadari bahwa kita sudah cukup, kita berharga, dan kita dicintai oleh Sang Pemilik Nafas tanpa syarat apa pun.

Mari kita belajar untuk "pulang" setiap hari. Bukan ke sebuah bangunan, melainkan ke sebuah ruang di dalam diri di mana hanya ada kejujuran, rasa syukur, dan ridho atas segala ketetapan-Nya. Karena di sanalah, dan hanya di sanalah, kita benar-benar menemukan kebahagiaan yang tak mampu dicuri oleh waktu. Allahu a'lam.

Demikian hasil simakan saya dari sahabat saya  pengamal tarekat tersebut. Kami  mengakhiri perbincangan, karena memang  waktu berbuka puasa akan tiba.  (Kholid Harras)***

Baca 57 kali
Bagikan: