PALU, KOMPAS.com - Pengejaran terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur ( MIT) pimpinan Ali Kalora masih terus dilakukan satuan tugas (satgas) Madago Raya.

Di pekan terakhir Februari 2021, Satgas Madago Raya sempat kontak tembak dengan kelompok Ali Kalora di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso mengatakan, kontak tembak terjadi pada Selasa (23/2/2021).

Dari kontak tembak tersebut, dua orang DPO tertembak, namun berhasil kabur ke hutan. "Pengejaran masih dilakukan Satgas Madago Raya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kelompok ini bisa kita tangkap," kata Kapolda Abdul Rakhman Baso, Senin (1/3/2021).

Dia menambahkan, kelompok MIT saat ini tidak tengah kelaparan. Selain itu, persenjataan yang dimiliki tinggal dua pucuk pistol dan satu pucuk senjata api laras panjang. "Itu yang sementara terdata. Dan kita juga berusaha untuk tidak bertambah," ujarnya.

Terkait dengan Operasi Madago Raya, kata dia, operasi ini bukan semata mengejar kelompok yang hanya menyisakan 11 orang ini. Tetapi, bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada aparat dan pemerintah.

Penulis : Kontributor Palu, Erna Dwi Lidiawati
Editor : Dony Aprian

Diterbitkan di Berita

Berlianto sindonews.com LONDON - Pengantin ISIS , Shamima Begum , sangat marah, kesal dan menangis setelah dilarang kembali ke Inggris untuk memperjuangkan kewarganegaraannya. Begum saat ini terjebak di kamp tahanan di Suriah setelah Mahkamah Agung Inggris dengan suara bulat menolak permintaannya untuk kembali ke negara itu beberapa hari lalu.

Begum, yang saat ini tinggal di kamp al-Roj Suriah utara, menolak untuk berbicara dengan wartawan atas nasihat pengacaranya.

"Dia sangat marah. Dan dia sangat kesal dan menangis. Dia tidak ingin berbicara dengan kita," kata teman-temannya kepada Sky News yang dikutip Metro, Minggu (28/2/2021).

Menyatakan bahwa lima hakim Mahkamah Agung telah dengan suara bulat menolak permintaan Begum untuk kembali ke Inggris, Ketua MA Inggris Robert Reed berkata: "Hak atas persidangan yang adil tidak mengalahkan semua pertimbangan lain, seperti keselamatan publik."

Keputusan Mahkamah Agung Inggris menuai kritik dari lima kuasa hukum Begum karena membuat penilaiannya sendiri terhadap persyaratan keamanan nasional dan mengabaikan Menteri Dalam Negeri meskipun tidak ada bukti yang relevan sebelumnya, atau temuan fakta yang relevan oleh pengadilan di bawah ini.

Menteri Dalam Negeri Priti Patel menyambut baik putusan itu, dengan mengatakan itu menegaskan kembali otoritasnya untuk membuat keputusan keamanan nasional yang vital.

Pendahulunya Sajid Javid juga mendukung keputusan Mahkamah Agung, mengatakan bahwa setiap pembatasan hak dan kebebasan yang dihadapi Begum adalah akibat langsung dari tindakan ekstrimnya.

"Tidak ada solusi sederhana untuk situasi ini tetapi setiap pembatasan hak dan kebebasan yang dihadapi oleh individu ini adalah konsekuensi langsung dari tindakan ekstrim yang dia dan orang lain telah lakukan, yang melanggar pedoman pemerintah dan moralitas bersama," Javid menambahkan.

Tetapi kelompok hak asasi manusia Liberty, yang ikut campur dalam kasus Begum, mengatakan keputusan itu menetapkan preseden yang sangat berbahaya.

"Hak atas pengadilan yang adil bukanlah sesuatu yang harus diambil oleh pemerintah yang demokratis, dan juga bukan kewarganegaraan Inggris seseorang," ucap salah satu pengacara Begum, Rosie Brighouse.

"Jika pemerintah diizinkan untuk menggunakan kekuatan ekstrim seperti pengusiran tanpa perlindungan dasar dari pengadilan yang adil, ini akan menjadi preseden yang sangat berbahaya," imbuhnya.

"Badan keamanan telah dengan aman mengatur pemulangan ratusan orang dari Suriah tetapi pemerintah telah memilih untuk menargetkan Shamima Begum," ujarnya.

Direktur kelompok hak asasi manusia Reprieve, Maya Foa, mengatakan melarang Begum masuk adalah taktik sinis untuk menjadikannya tanggung jawab orang lain.

"Seperti banyak negara Eropa lainnya, Inggris lebih dari mampu membawa pulang tahanan Inggris di Suriah, banyak dari mereka pergi saat remaja setelah diperdagangkan atau dipersiapkan secara online," ucapnya.

"Meninggalkan mereka dalam lubang hitam hukum - dalam kondisi seperti Guantanamo - tidak sejalan dengan nilai-nilai Inggris dan kepentingan keadilan dan keamanan," tegasnya.

Pemerintah Inggris sejauh ini telah mencabut kewarganegaraan sekitar 150 warga negaranya dengan alasan keamanan nasional.

Begum berusia 15 tahun ketika dia dan dua siswi sekolah dari London Timur lainnya melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok Negara Islam (IS, sebelumnya ISIS) pada Februari 2015.

Kewarganegaraan Inggrisnya kemudian dicabut dengan alasan keamanan nasional tak lama setelah dia ditemukan dalam kondisi hamil sembilan bulan di sebuah kamp pengungsi Suriah pada Februari 2019.

Pada Juli tahun lalu, Pengadilan Banding Inggris memutuskan Begum, yang sekarang berusia 21 tahun, harus diizinkan kembali ke negara itu agar dia memiliki banding yang adil dan efektif terhadap keputusan tersebut.

Namun pada bulan November, Kantor Dalam Negeri Inggris menolak keputusan tersebut di Mahkamah Agung, dengan alasan kembalinya Begum akan menciptakan risiko keamanan nasional yang signifikan dan mengekspos publik pada peningkatan risiko terorisme.

Sejak bepergian ke Suriah, Begum memiliki tiga anak bersama suaminya Yago Riedijk, seorang terpidana militan ISIS dari Belanda yang saat ini ditahan di kamp penjara yang berbeda.

Mereka memiliki tiga anak bersama, dua di antaranya meninggal karena kekurangan gizi dan penyakit dan satu lagi karena pneumonia pada usia kurang dari tiga minggu.

(ian)

Diterbitkan di Berita

SURABAYA, KOMPAS.com - Penangkapan terduga teroris ternyata tidak hanya terjadi di Surabaya. Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Gatot Repli Handoko menyebut, penangkapan terduga teroris juga dilalukan di sejumlah daerah, seperti Malang, Sidoarjo, dan Mojokerto.

"Beberapa terduga teroris ditangkap di Mojokerto, Surabaya, Malang, dan Sidoarjo oleh tim Densus 88 Mabes Polri," kata Gatot saat dikonfirmasi, Jumat (26/2/2021) sore.

Sampai saat ini kata dia, tim Densus 88 Mabes Polri masih mendalami dan mengembangkan kasus dugaan terorisme tersebut. "Masih dilalukan pendalaman dan pengembangan," terangnya.

Sebelumnya, anggota Densus 88 Antiteror menangkap terduga teroris di sebuah rumah di Jalan Raya Medokan Sawah 121, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (26/2/2021) pagi.

Rumah tersebut juga dijadikan sebagai konter penjualan pulsa. Kanit Reskrim Polsek Rungkut, Iptu Djoko Soesanto membenarkan adanya penggerebekan tersebut.

"Betul, pagi tadi ada dari Densus 88," ujar Djoko, dikutip dari Surya, Jumat. Dari penangkapan itu, Tim Densus 88 Antiteror Polri mengamankan sejumlah barang bukti seperti panah, samurai serta alat-alat tinju atau taekwondo. 


Penulis : Kontributor Surabaya, Achmad Faizal
Editor : Dheri Agriesta

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- 

Mukarram alias Sungoh bin Sabirin (24) mencium Sang Merah Putih sambil menghirupnya dalam-dalam. Diikrarkannya sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) setelah sebelumnya sempat bersumpah setia kepada negara Islam Irak-Suriah (ISIS).

Begitulah prosesi yang dijalani mantan terpidana kasus terorisme eks tentara ISIS, Mukarram, sebelum keluar dari Lapas Kelas 1 Surabaya pada Kamis (25/2). Pria asal Aceh itu sempat mendekam di Lapas selama 2 tahun lebih.

Ia mengaku mulai memasuki dunia terorisme saat mempelajari Daulah Islamiyah melalui aplikasi Telegram selama kurang lebih satu tahun pada medio 2017. Pria kelahiran Mon Alue, Aceh, itu lantas di-baiat atau diambil sumpah setianya kepada pimpinan ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi.

"Saat itu setelah sholat IduI Adha, saya dibaiat dua kali," kisah Mukkarram. Dikutip dari direktori putusan Mahkamah Agung, Mukarram mulai mengenal 'Daulah' dari imam musala di Mon Alue, Muhammad Yusuf Amin alias TGK SUH.

Nama terakhir mengajaknya untuk mengikuti kajian di pondok milik kawannya, Abu Nuh, di Aceh Besar. Keikutsertaannya dalam kajian terhenti karena kuliah.

Rekannya, Irfan, kemudian mengenalkan Mukarram kepada kanal Telegram Abdillah Assyami, Millahtu Ibrahi, dan Guroba, yang berisi tentang tauhid, jihad, dan video-video perang Suriah. Pada Iduladha 2017, Mukarram, di Gubuk milik Ustaz Aulia Mukarram melakukan baiat kepada ISIS. Hal itu diulanginya dua pekan kemudian di tempat yang sama.

Atas saran Ustaz Aulia, Mukarram yang ingin berhijrah memutuskan untuk berangkat ke Afghanistan, sebagai salah satu negara yang diklaim dikuasai oleh ISIS. Berangkatlah ia melalui penerbangan dari Bandara Kualanamu ke Bangkok dengan menggunakan paspor resmi. Sesampai di Bandara Don Mueang, Bangkok,  12 Juni 2019, Imigrasi setempat menginterogasi Mukarram bersama rombongannya.

Keesokan harinya, mereka dideportasi ke RI oleh pihak Imigrasi Thailand karena kedapatan hendak ke Afghanistan untuk bergabung dengan ISIS. Dia dan rombongan kemudian diperiksa kepolisian di Medan terkait kasus terorisme.

Rombongannya dipulangkan ke Indonesia dan menjalani pengadilan kasus terorisme. Selama persidangan, Mukarram dianggap kooperatif, sopan, dan berterus terang.

Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur kemudian memvonisnya 3 tahun 8 bulan penjara dikurangi masa tahanan lantaran melanggar Pasal 15 juncto Pasal 12 A ayat (1) UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Yakni, terkait persiapan, percobaan tindak pidana terorisme di negara lain. 

Usai menjalani masa tahanan yang dipotong remisi di Lapas Kelas 1 Surabaya, Mukarram kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Disaksikan oleh Danaramil Porong, Wakapolsek Porong, Bhabinkamtibnas Kebon agung, Babinsa Kebon Agung, dan Kepala Lapas Kelas I Surabaya Beserta Pejabat Struktural, ia berucap setia kepada NKRI.

Kepala Lapas Klas 1 Surabaya Gun Gun Gunawan meminta Mukarram selalu menjaga diri dan setia kepada NKRI. Dia menganggapnya dan warga binaan pemasyarakatan (WBP) lainnya adalah keluarga sehingga harus saling menjaga satu sama lain.

"Kami berharap momen ini bisa menjadi inspirasi bagi WBP kasus terorisme lainnya di seluruh lapas/rutan se-Indonesia agar kembali setia kepada NKRI," harapnya.

Keberangkatan WNI ke luar negeri untuk bertempur sebagai tentara ISIS sendiri sudah menjadi kasus kronis sejak lama. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar mengungkap hingga 2021 ada 1.250 WNI terpapar radikalisme dan berangkat ke Irak dan Suriah.

 

Insert Infografis Artikel ISIS
Insert Infografis Artikel ISIS. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

 

"Jadi tercatat dalam data keberangkatan itu ada 1250-an orang," kata dia, Jumat (5/2).

Seribuan WNI yang bertolak ke Irak dan Suriah ini kata dia terdiri dari berbagai usia; pria dewasa, perempuan dewasa, remaja, hingga anak-anak.

Nasib mereka kini beragam. Ada yang masih tinggal di pengungsian, namun tak sedikit juga yang telah meninggal dunia saat ikut berperang.

"Sebagian mereka sudah mati, sebagian mereka ditahan. Ada wanita di dalam camp pengungsian. Anak-anak juga demikian," jelas Boy Rafli.

ISIS Tak Hilang

Cendekiawan muslim Azyumardi Azra mengatakan boleh jadi pergerakan ISIS mundur usai kekalahannya atas tentara AS dan sekutunya di Irak dan Suriah. Akan tetapi, ide-ide mereka tetap berkembang.

Pengikutnya juga tidak menjadi hilang, apalagi sekarang berbaiat ke ISIS bisa cukup melalui media sosial. "Buktinya ISIS kalah beberapa tahun ini, tetap saja selnya ada di Indonesia," kata dia, dikutip dari Antara.

Direktur Penegakan Hukum BNPT Brigjen Pol. Edy Hartono menyebut lebih dari 2.000 orang ditangkap dalam kasus terorisme sejak era Reformasi. Pemerintah juga sudah menetapkan Jamaah Islamiyah dan Jamaah Ansharut Dualah (JAD) sebagai organisasi terlarang. Tokoh-tokoh dua organisasi itupun ditangkap.

Akan tetapi, kata Edy, penyebaran paham radikal tidak putus.

 

Insert Infografis Artikel ISIS
Insert Infografis Artikel ISIS. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

 

"Mereka terus melaksanakan dakwah, menyebarkan paham radikal dan terorisme, mereka juga memperbarui pedoman umum dan strategi operasi. Bagaimana cara menghindar dari kejaran aparat, sampai mereka merekrut seksi pendanaan. Terakhir terungkap kotak amal sebagai modus pendanaan," ucap Edy, kemarin, dikutip dari Antara.

Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2020-2024 pun diterbitkan untuk menanggulangi strategi kelompok terorisme itu.

"Perpres ini menyinergikan program kementerian/lembaga untuk bersama menanggulangi terorisme sejak hulu. Jadi, bukan untuk mengekang," kata Edy. 

 

(frd/Antara/arh)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Satgas Madago Raya yang merupakan gabungan TNI-Polri terlibat kontak tembak dengan terduga anggota kelompok kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

"Kemarin, Selasa (23/2) sekitar pukul 11.30 WITA, kami kontak tembak dengan kelompok DPO (daftar pencarian orang) Mujahidin Indonesia Timur di wilayah Salubanga, Kabupaten Parigi Moutong," kata Komandan Resor Militer (Danrem) 132/Tadulako Brigjen TNI Farid Makruf, di Palu, Kamis (25/2) dikutip dari Antara.

Ia mengatakan dalam kontak tembak tersebut diduga dua orang DPO dari MIT Poso mengalami luka. Hal itu diketahui berdasarkan ceceran darah di lokasi tempat terjadinya kontak tembak.

"Kami menduga ada dua orang yang tertembak dan sampai saat ini kami masih melaksanakan pencarian dan pengejaran," kata Wakil Komando Operasi Madago Raya 2021, Poso, Sulawesi Tengah ini.

Ia mengatakan para terduga anggota MIT Poso ini sempat melakukan perlawanan dengan melempar benda yang diduga bom lontong kepada aparat Satgas Madago Raya.

"Mereka lempar bom lontong terhadap aparat, kita tembak mereka dan kena, yang kena diseret oleh temannya dan mereka kabur," katanya.

"Saya dengan bapak Kapolda menyampaikan kepada seluruh masyarakat tidak perlu takut lagi dengan kelompok MIT ini, mereka sudah lemah kekuatannya," katanya.

Selain menembak dua terduga DPO MIT Poso, katanya, Satgas Madago Raya juga berhasil mengamankan sejumlah peralatan diduga milik kelompok MIT Poso, di antaranya solar sel, bom lontong, parang, dan beberapa perlengkapan lainnya.

Danrem pun berharap kepada masyarakat untuk tidak membantu kelompok tersebut, baik memberi informasi maupun kebutuhan logistik demi terwujudnya keamanan di wilayah Sulawesi Tengah.

"Karena itu masyarakat tidak perlu takut lagi, kita akan dampingi masyarakat kalau ingin pergi berkebun menggiatkan ekonomi," tandasnya.

(Antara/arh)

Diterbitkan di Berita
DAMASKUS, KOMPAS.com - Pesawat jet tempur Rusia meluncurkan puluhan serangan udara yang menargetkan posisi ISIS di Gurun Suriah. Melansir BBC pada Kamis (25/2/2021), serangan Jet itu mendukung operasi pasukan pro-pemerintah Suriah untuk mengamankan jalan antara Homs dan Deir al-Zour, menurut kelompok monitor.
 
Militan ISIS telah melakukan serangkaian penyergapan mematikan dan serangan tabrak lari di wilayah tersebut baru-baru ini. Terbaru pada Rabu (24/2/2021), serangan ISIS dilaporkan telah mengakibatkan terbunuhnya 9 tentara dan militan.
 
Observatorium Suriah untuk HAM yang berbasis di Inggris memantau perang di Suriah melalui jaringan sumber, mengatakan telah ada 3 orang lainnya tewas pada Selasa (23/2/2021), ketika ranjau darat yang ditanam oleh ISIS meledak di gurun dekat ak-Mayadeen, di tenggara Deir provinsi al-Zour.
 
Serangan udara Rusia pada Selasa (22/2021) membunuh setidaknya 10 militan ISIS di Deir al-Zour dan tenggara provinsi Hama. Sementara, tidak ada laporan tentang korban dari serangan pada Rabu (24/2/2021) di daerah al-Shawla dan lokasi yang disebut sebagai "segetiga Aleppo-Raqqa-Hama". 
Syria TV, saluran TV oposisi juga mengatakan bahwa jet Rusia menyerang posisi ISIS di gurun wilayah Badiya sebagai bagian dari perlawanan oleh pasukan dan militan.
 
Namun, media pemerintah Suriah tidak menyebutkan operasi yang dilaporkan tersebut.  ISIS pernah menguasai 88.000 Km persegi wilayah yang membentang dari Suriah barat hingga Irak timur dan memberlakukan aturan brutalnya pada hampir 8 juta orang.
 
Terlepas dari kekalahan teritorial ISIS di Irak pada 2017 dan Suriah pada 2019, para ahli PBB memperkirakan bahwa lebih dari 10.000 militan tetap aktif di kawasan itu. Mereka diatur dalam kelompok-kelompok kecil yang bersembunyi di gurun dan daerah pedesaan, dan dapat bergerak melintasi perbatasan yang tidak terlindungi.
 
Kepala anti-terorisme PBB, Vladimir Voronkov, memperingatkan pada pekan lalu "sisa-sisa (anggota ISIS) yang cukup besar ini dinilai sebagai ancaman besar, jangka panjang dan global".
 
Dalam perkembangan terpisah pada Rabu (24/2/2021), polisi Turki mengatakan mereka telah menangkap 2 anggota senior ISIS di Ankara dan membebaskan seorang gadis berusia 7 tahun dari minoritas Yazidi Irak yang ditahan. Salah satu tersangka diidentifikasi sebagai mantan perwira militer Irak.

Editor : Shintaloka Pradita Sicca

Diterbitkan di Berita

Arfandi Ibrahim Liputan6.com, Gorontalo - Densus 88 AT Mabes Polri yang didampingi Forum Kerukunan Penanggulanan Teroris (FKPT) Provinsi Gorontalo, serta Ormas Keagamaan Muhammadiyah dan NU, bertemu Wakil Gubernur (Wagub) Idris Rahim.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut mengantisipasi paham radikalisme masuk di wilayah Gorontalo. Selain itu, tentunya kedatangan Tim [Densus 88 Mabes Polri]( 4416522 "") ini juga membahas tentang upaya pencegahan terorisme.

"Mengingat baru-baru ini ada 7 warga Gorontalo yang ditangkap, karena diduga terlibat paham dan aksi terorisme," kata Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim.

Menurutnya, pemerintah perlu akan mengambil bagian dalam upaya pencegahan paham radikalisme dan terorisme di Gorontalo. Dengan cara menggerakkan stakeholder terkait, termasuk menggandeng Ormas keagamaan.

Sebagai daerah yang dikenal sebagai Bumi Serambi Madinah yang memiliki penduduk 97 persen beragama Islam, maka, kata Idris, patut diwaspadai ada oknum yang menyebar paham tersebut.

"Dengan tertangkapnya 7 orang teroris di Pohuwato, upaya koordinasi dengan berbagai pihak akan terus diintensifkan, agar paham radikalisme bisa teratasi,” jelas Idris.

Saat ini, upaya pemerintah sedang melokalisasi keluarga dari 7 orang terduga teroris yang ditangkap Densus 88 AT Mabes Polri di Kabupaten Pohuwato belum lama ini.

"Dengan harapan menjadikan daerah Gorontalo ini aman dan tidak terjadi lagi masalah menyangkut radikalisme dan terorisme," ia menandaskan.

Diterbitkan di Berita

detiknews Berlin - Penceramah terkenal asal Irak, Abu Walaa dijatuhi hukuman penjara 10 tahun 6 bulan penjara oleh pengadilan Jerman pada Rabu (24/2). Abu Walaa dijatuhi hukuman setelah dituduh sebagai pemimpin de facto kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Jerman.

Seperti dilansir AFP, Rabu (24/2/2021) pria berusia 37 tahun itu diadili bersama tiga pria lainnya dalam persidangan berpengamanan tinggi yang dimulai pada 2017 di kota Celle, Jerman utara.

Abu Walaa didakwa atas keanggotaannya di ISIS, sementara tiga terdakwa lainnya didakwa mendukung organisasi teroris itu.

"Putusan itu menandai akhir dari 'kasus khusus' yang sangat panjang dan sangat kompleks", kata hakim Frank Rosenow saat dia menjatuhkan putusan setelah 245 hari pemeriksaan. Tiga rekan terdakwa dijatuhi hukuman penjara mulai dari empat hingga delapan tahun karena mendukung ISIS.
Abu Walaa memiliki nama asli Ahmad Abdulaziz Abdullah Abdullah dan dituduh menjadi "perwakilan ISIS di Jerman". Ia disebut melakukan radikalisasi kaum muda di Eropa dan membawa mereka untuk berangkat ke Irak dan Suriah.Sebelumnya, jaksa menuntut hukuman penjara 11,5 tahun untuk Abu Walaa.

Namun pihak pembela menuntut pembebasannya. Abu Walaa sendiri menolak untuk membuat pernyataan penutup minggu lalu.

Tuduhan terhadap Abu Walaa didasarkan atas kesaksian seorang informan dinas keamanan Jerman. Informan itu menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan bukti. Ia dibebaskan dari kesaksian langsung di depan pengadilan guna menghindari bahaya yang mengancam dirinya.

Informan kunci lainnya adalah seorang bekas militan yang setuju bekerja sama setelah kembali ke Jerman dari wilayah yang dikuasai ISIS. Ia memberi tahu penyidik bagaimana dia telah menjadi bagian dari jaringan Abu Walaa sebelum melakukan perjalanan ke Suriah.

Pengacara Abu Walaa, Peter Krieger, bersikeras bahwa kesaksian dua informan itu tidak dapat dipercaya. Dia mengatakan kepada pengadilan bahwa saksi kunci adalah seorang "pembohong terkenal".

'Penceramah Tanpa Wajah'

Abu Walaa tiba di Jerman sebagai pencari suaka pada 2001, dan ditangkap pada November 2016 setelah penyelidikan panjang oleh Dinas Keamanan Jerman.

Berbasis di sebuah masjid di Hildesheim, Lower Saxony, dia diduga telah merekrut sedikitnya delapan orang - kebanyakan dari mereka "masih sangat muda" - ke ISIS, termasuk sepasang saudara kembar Jerman yang melakukan serangan bunuh diri di Irak di 2015.

Ia dijuluki "penceramah tanpa wajah" karena semua video ceramahnya dilakukan dengan membelakangi kamera. Abu Walaa juga dituduh menggaungkan jihad di masjid Hildesheim, yang sejak saat itu ditutup.

Teroris terkenal lainnya yang diduga terkait dengan Abu Walaa adalah Anis Amri, warga Tunisia yang menewaskan 12 orang ketika dia mengendarai truk ke pasar Natal Berlin pada tahun 2016. Amri terbunuh oleh polisi di Italia saat melarikan diri.

Abu Walaa diduga dibantu oleh satu dari tiga remaja yang dihukum karena serangan bom tahun 2016 di sebuah kuil Sikh di Essen, Jerman barat.

Meski begitu, hubungan antara Amri dan Abu Walaa masih belum terbukti. Menurut Kementerian Dalam Negeri Jerman, pasukan keamanan telah mencegah 17 serangan ISIS sejak 2009, mayoritas sejak serangkaian serangan yang berhasil pada 2016.

(izt/ita)

Diterbitkan di Berita

Muhaimin sindonews.com  DEIR EZZOR - Aksi pemenggalan kepala dan pemboman bunuh diri oleh sisa-sisa militan ISIS kembali terjadi di Deir Ezzor, Suriah , dan memicu kekhawatiran bahwa kelompok teroris itu telah bangkit lagi.

Pada 2014 lalu, sekitar 10.000 fanatik ISIS [Islamic State of Iraq and Syria] yang haus darah berkumpul di Irak utara dan Suriah untuk melepaskan jenis kekerasan yang disaksikan dunia ketika mereka mengamuk di kedua negara itu.

Belakangan ini, kekerasan ISIS meningkat di provinsi gurun Deir Ezzor—juga dikenal sebagai Deir al-Zour—dan kota dengan nama yang sama, di timur laut Suriah.

ISIS pada tahun lalu dilaporkan telah menguasai wilayah di gurun sekitar 24 km dari pusat kota Deir Ezzor—tanah pertama yang dikuasainya sejak akhir “kekhalifahan” kelompok tersebut.

Seorang peneliti Suriah bernama Ali, yang bekerja untuk organisasi non-pemerintah The Syria Observatory for Human Rights, mengatakan kepada BBC bahwa teror ISIS terjadi dalam berbagai bentuk.

”Pemenggalan kepala, pemboman, [pemboman] bunuh diri sepeda motor, pembunuhan, dan penculikan—dan kami hanya berbicara tentang area kecil di timur kota Deir al-Zour,” katanya, yang dilansir Selasa (23/2/2021).

Dalam serangan baru-baru ini, 40 orang tewas ketika sel tidur ISIS menyergap sebuah bus dan warga sipil yang jarang keluar setelah gelap ketika para “jihadis” muncul.

Dia mengatakan pada malam hari orang-orang "ketakutan" dan "di tangan" milisi ISIS ketika penduduk mulai mengungsi.

“Mereka dulu pergi ke pihak berwenang tapi tidak ada yang menanggapi. Mereka selalu bilang kami tidak punya cukup senjata untuk melawan mereka, jadi mereka mengungsi,” katanya.

ISIS pernah menguasai sebagian besar wilayah di Irak dan Suriah, direbut dalam serangan yang mengerikan pada tahun 2014, yang berpuncak pada pemimpinnya Abu Bakr al-Baghdadi mendeklarasikan “Kekhalifahan Islam” versinya sendiri di sebuah masjid di Mosul.

Para “jihadis” yang haus darah memerintah dengan sangat brutal sebelum koalisi pasukan Kurdi yang didukung oleh kekuatan udara Barat mendorong mereka ke kantong terakhir wilayah mereka di Baghouz, Suriah, pada tahun 2018.

Tetapi sejak kekalahannya, sisa-sisa kelompok ISIS perlahan-lahan bangkit lagi, meskipun al-Baghdadi tewas oleh serangan pasukan khusus Amerika Serikat.

Sirwan Barzani, seorang komandan pasukan Kurdi Peshmerga yang ditempatkan di dekat kota utara Erbil mengatakan para teroris telah memanfaatkan jeda operasi terhadap mereka.

Pasukannya memperkirakan ada sekitar 7.000 milisi ISIS yang siap menyerang—meskipun PBB menempatkan angka tersebut lebih tinggi, yaitu 10.000 milisi.

Aktivitas ISIS telah meningkat di seluruh dunia, dari Afrika hingga Filipina. Pada akhir tahun lalu, para “jihadis” ISIS memenggal kepala lebih dari 50 orang dan memotong tubuh korban dalam serangan brutal di Mozambik utara.

Serangan mereka di negara Afrika timur semakin mendekati cadangan minyak negara tersebut.

Para “jihadis” melancarkan serangan berani Desember lalu hanya 13 mil dari instalasi yang dijalankan oleh perusahaan Perancis; Total, di provinsi Cabo Delgado.

Tahun lalu, ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas pemboman yang memuakkan di Sri Lanka yang menewaskan 321 orang pada Minggu Paskah.
 
Diterbitkan di Berita

Reza Gunadha | Stephanus Aranditio Suara.comDetasemen Khusus 88 Antiteror Polri mengungkapkan, kelompok teroris memanfaatkan pandemi covid-19 untuk memperkuat sumber daya untuk mempersiapkan serangan selanjutnya.

Analis Utama Intelijen Densus 88 Antiteror Polri Brigjen Pol Ibnu Suhendra mengatakan, kondisi ketidakpastian selama pandemi dimanfaatkan oleh teroris untuk menarik pengikut baru.

"Kelompok teroris melihat krisis pandemi itu sebagai peluang untuk mendapatkan lebih banyak perekrutan, dukungan, simpatisan untuk menyerang lebih keras," kata Ibnu dalam webinar The Habibie Center, Senin (22/2/2021).
 
Selain itu, momen orang-orang yang banyak menggunakan internet selama pandemi juga dimanfaatkan oleh teroris untuk menyebarkan propaganda melalui internet dibalut informasi Covid-19.

Ibnu mengungkap, modus seperti itu juga dimanfaatkan sejumlah kelompok teroris terafiliasi ISIS di Indonesia seperti Jamaah Ansharut Khilafat (JAK), Mujahidi Indonesia Timur (MIT), Al Jama'ah Al Islamiyah (JI), serta JAD, Eks Napi Teroris, dan Deportan.

"Kelompok Ansharut Khilafat (JAK) saat ini memulangkan siswanya karena corona, akhirnya mereka memanfaatkan platform online zoom untuk melaksanakan kajian," jelasnya.

Selain itu, masih ada kelompok Jama'ah Ansharut Syariah (JAS) yang pada masa pandemi, masuk ke aktivitas politik dan misi medis kemanusiaan.

"Nah sekarang banyak bencana ini, nah mereka bahu membahu dengan dalih kemanusiaan menyumbang untuk merebut simpati masyarakat, beberapa jamaah Ansharut Syariah masih melakukan suro online," ungkap Ibnu.

Bahkan, Ibnu menyebut sudah ada perintah dari pemimpin ISIS Abu Ibrahim al-Hashimi al-Quraishi kepada pengikutnya di seluruh dunia untuk melakukan aksi lebih keras di negara masing-masing.

"Dia menyampaikan lakukan serangan lebih keras di setiap negara masing-masing, nah ini yang menjadi fatwa ini menjadi dasar kelompok teror indonesia untuk melakukan aksi teror di dalam negeri," kata Ibnu.
Diterbitkan di Berita