JAKARTA, REQnews - Kelompok wanita Afghanistan dengan tegas mendesak PBB tidak memberikan kursi kepada perwakilan pemerintahan Taliban.

Salah satu mantan politisi perempuan Afghanistan, Fawzia Koofi berkata, Taliban adalah kelompok ekstremis yang tak pernah mendengarkan dan menampung aspirasi kaum wanita, namun ingin berkuasa penuh atas negara.

“Ini sangat sederhana. PBB perlu memberikan kursi itu kepada seseorang yang menghormati hak semua orang di Afghanistan," kata Koofi, seperti dikuti Jumat 22 Oktober 2021.

"Kami banyak dibicarakan, tetapi kami tidak didengarkan. Bantuan, uang, pengakuan, semuanya adalah pengaruh yang harus digunakan dunia untuk inklusi, untuk menghormati hak-hak perempuan, untuk menghormati hak semua orang," ujar dia menambahkan.

Sementara eks mantan politikus lainnya Naheed Fareed menyebut, Taliban sudah ingkar janji, dari apa yang mereka kampanyekan bahwa perempuan diizinan bekerja dan mendapatkan pendidikan.

“Ketika Taliban merebut Afghanistan, mereka mengatakan akan memberikan izin kepada perempuan untuk bekerja dan kembali ke sekolah, tetapi mereka tidak menepati janji itu,” kata Fareed. Seperti diketahui, Taliban merebut kekuasaan Afghanistan pada pertengahan Agustus 2021 lalu. 

Setelah berkuasa, Taliban berjanji akan memenuhi serta menghormati hak-hak perempuan sesuai dengan hukum Islam. Namun, kenyataannya, masih terjadi banyak diskriminasi, bahkan Kementerian Urusan Perempuan Afghanistan dihapuskan.

Diterbitkan di Berita

KABUL, KOMPAS.TV - Pekerja perempuan Afghanistan, khususnya pekerja kesehatan, guru, dan para pembela hak perempuan, mendesak masyarakat internasional untuk melanjutkan bantuan keuangan kepada Afghanistan, Selasa (28/9/2021).

Mereka mengatakan, penghentian bantuan kepada Afghanistan telah berdampak tidak proporsional terhadap perempuan.

Aqela Noori, seorang guru, mengatakan pada konferensi pers di Kabul bahwa 120.000 pendidik perempuan dan hampir 14.000 petugas kesehatan perempuan belum mendapatkan pembayaran gaji selama dua sampai tiga bulan terakhir.

“Kami menyerukan kepada masyarakat internasional, Bank Dunia dan badan-badan kemanusiaan internasional untuk tidak menghentikan bantuan kemanusiaan mereka kepada Afghanistan,” katanya. “Jangan tinggalkan Afghanistan sendirian di masa sulit ini,” tambahnya.

Sejak Taliban menyerbu Kabul pada 15 Agustus dan menguasai negara itu, dunia terus memperhatikan apakah Taliban akan memberlakukan kembali aturan keras yang mereka jalankan seperti pada akhir tahun 1990-an.

Menurut laporan Bank Dunia, bantuan asing menyumbang hampir 75% dari pengeluaran publik Afghanistan, sebelum Taliban mengambil alih negara itu bulan lalu. Namun dana bantuan asing itu kini telah dibekukan, dan krisis ekonomi pun membayangi negara tersebut.

Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional menghentikan pembayaran kepada pemerintah Afghanistan, sementara AS membekukan miliaran dolar aset yang disimpan di rekening Amerika oleh Bank Sentral Afghanistan.

Perempuan yang bekerja di daerah pedesaan sangat terpengaruh dengan terjadinya penunggakan gaji mereka selama beberapa bulan terakhir. Noori, mendesak agar pembayaran gaji mereka diprioritaskan.

Selain itu, gaji untuk pria dan wanita di seluruh lembaga negara tidak dibayar oleh pemerintah sebelumnya di bawah Presiden Ashraf Ghani, beberapa bulan sebelum pengambilalihan Taliban.

Bank Dunia mengatakan dalam sebuah pernyataan hari Selasa, bahwa mereka sangat prihatin tentang gangguan pada layanan kesehatan kritis dan mengatakan pihaknya memantau dan menilai situasi dengan cermat.

“Kami terus mengamati dan setelah situasi menjadi lebih jelas, kami akan dapat menilai langkah selanjutnya,” katanya. Noori mengatakan, tidak dibayarnya pekerja kesehatan perempuan telah merusak pemberian layanan, terutama di daerah pedesaan.

Hal ini berdampak pada tingkat kematian ibu dan bayi yang lebih tinggi. Menurut Noori, gaji sebanyak 8.400 orang dari total 14.000 petugas kesehatan telah dibayarkan langsung oleh Bank Dunia di masa lalu, tetapi alokasi itu berhenti dua bulan lalu.

Yalda Hamishi, seorang dokter kandungan, mengatakan penghentian dana telah menyebabkan "bencana" di daerah pedesaan dan sebagian besar dokter wanita berhenti bekerja karena mereka belum menerima gaji.

Sementara itu, para guru berbicara langsung kepada pimpinan baru Taliban. Mereka meminta pekerjaan alternatif bagi sekitar 16.000 guru perempuan yang dilarang mengajar di sekolah menengah oleh Taliban, sampai keputusan baru tentang status mereka ditetapkan.

Sebagian besar dari mereka merupakan satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga. Mereka mendesak Taliban untuk memastikan lingkungan yang aman bagi anak laki-laki dan perempuan untuk bersekolah dan membuka kembali sekolah untuk anak perempuan sesegera mungkin.

Sekolah putri dari kelas 7-12 hingga kini masih ditutup.

Penulis : Tussie Ayu | Editor : Fadhilah

Diterbitkan di Berita

KABUL, KOMPAS.TVAnak perempuan usia remaja Afghanistan dilarang kembali ke sekolah menengah oleh pemerintah Taliban. Dilaporkan pada Sabtu (18/9/2021), penguasa baru di negara itu hanya memerintahkan anak laki-laki dan guru laki-laki kembali ke kelas.

Kelompok Islam garis keras menggulingkan pemerintah yang didukung Amerika Serikat (AS) bulan lalu. Taliban menjanjikan pemerintahan yang lebih lembut daripada pemerintahan represifnya pada 1990-an, ketika sebagian besar perempuan dilarang bersekolah dan bekerja.

Namun diktat dari kementerian pendidikan merupakan langkah terbaru dari pemerintahan baru untuk mengancam hak-hak perempuan, seperti dilansir Straits Times, Sabtu.

"Semua guru dan siswa laki-laki harus kembali berkegiatan di sekolah-sekolah mereka," kata sebuah pernyataan menjelang kelas dimulai kembali pada hari Sabtu. Pernyataan itu, yang dikeluarkan pada Jumat malam, tidak menyebutkan guru atau siswa perempuan.

Sekolah menengah di Afghanistan, dengan siswa-siswi yang biasanya berusia antara 13 dan 18, sering dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Selama pandemi Covid-19, mereka menghadapi penutupan berulang kali dan penutupan permanen sejak Taliban merebut kekuasaan.

Sejak invasi pimpinan AS menggulingkan Taliban tahun 2001, pendidikan anak perempuan mencapai kemajuan signifikan.

Jumlah sekolah menjadi tiga kali lipat, dan tingkat melek huruf murid perempuan hampir dua kali lipat, yang persentasenya mencapai 30 persen dari jumlah seluruh perempuan di Afghanistan. Namun, perubahan itu sebagian besar terbatas di kota-kota.

PBB menyatakan "sangat khawatir" akan masa depan sekolah perempuan di Afghanistan.

"Sangat penting bahwa semua anak perempuan, termasuk anak perempuan yang lebih tua, dapat melanjutkan pendidikan mereka tanpa penundaan lebih lanjut. Untuk itu, kami membutuhkan guru perempuan untuk melanjutkan mengajar," kata badan anak-anak PBB, UNICEF.

 

Perempuan Afghanistan diperbolehkan bersekolah, namun harus terpisah dari pria. (Sumber: AP Photo/Felipe Dana)

 

Sekolah dasar telah kembali beroperasi, dengan anak laki-laki dan perempuan kebanyakan duduk di kelas terpisah dan beberapa guru perempuan kembali bekerja.

Rezim baru Taliban juga mengizinkan perempuan untuk kuliah di universitas swasta, meskipun dengan pembatasan ketat pada pakaian dan pergerakan mereka.

Taliban juga dilaporkan menutup kementerian urusan perempuan pemerintah dan menggantinya dengan departemen yang terkenal karena menegakkan doktrin agama yang ketat selama pemerintahan pertamanya.

Ini merupakan pertanda buruk mengerasnya kebijakan Taliban terhadap kaum perempuan. Di Kabul pada Jumat (17/9/2021), para pekerja terlihat memasang tanda untuk Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan di gedung lama Kementerian Urusan Perempuan di ibukota Kabul.

Video yang diunggah ke media sosial memperlihatkan pekerja perempuan dari kementerian melakukan protes di luar setelah kehilangan pekerjaan. Sejauh ini, belum ada komentar dari pejabat Taliban.

Meski masih terpinggirkan, perempuan Afghanistan berjuang untuk dan mendapatkan hak-hak dasar selama 20 tahun terakhir, menjadi anggota parlemen, hakim, pilot dan polisi.

Ratusan ribu perempuan telah memasuki dunia kerja. Ini merupakan suatu keharusan. Lantaran, dalam beberapa kasus, banyak perempuan menjadi janda dan kini harus menghidupi keluarga karena suami mereka cacat akibat konflik selama beberapa dekade belakangan.

Taliban dilaporkan menunjukkan sedikit kecenderungan untuk menghormati hak-hak perempuan. Ini terlihat dari tidak adanya perempuan yang dimasukkan dalam pemerintahan dan banyak yang dihentikan untuk kembali bekerja.

Penulis : Edwin Shri Bimo | Editor : Vyara Lestari

Diterbitkan di Berita
Tim Detikcom - detikNews Jakarta - Kelompok Taliban yang berkuasa di Afghanistan dilaporkan menutup Kementerian Urusan Perempuan. Kementerian itu kini diganti dengan Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan yang dikenal sebagai "kementerian polisi moral".

Kantor berita Reuters, Sabtu (18/9/2021) melaporkan, simbol-simbol di gedung Kementerian Perempuan itu telah diganti dengan tanda polisi moral Taliban. Sementara para karyawan wanita di kementerian itu dilarang masuk ke gedung saat mereka datang untuk bekerja.

Menurut foto-foto, sebuah penanda di gedung itu bertuliskan, "Kementerian Doa dan Bimbingan dan Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan". "Saya satu-satunya pencari nafkah di keluarga saya," kata seorang wanita yang bekerja di kementerian itu.

"Ketika tidak ada lagi kementerian itu, apa yang harus dilakukan seorang wanita Afghanistan?" dia bertanya. Taliban sebelumnya telah menyatakan bahwa perempuan Afghanistan tidak akan diizinkan bekerja di kementerian-kementerian pemerintah bersama-sama pria.

Kini, para karyawan perempuan di Kementerian Urusan Perempuan mengatakan bahwa mereka tidak diizinkan untuk melapor ke tempat kerja, dan disuruh pulang ke rumah setiap kali mereka datang.

Sebelumnya, saat pengumuman susunan anggota kabinet pada 7 September, Taliban tidak menyebutkan penunjukan Menteri Urusan Perempuan, sementara Plt Menteri untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan disebutkan.

Selama pemerintahan pertama Taliban tahun 1996-2001, kaum perempuan sebagian besar tidak diberi akses ke kehidupan publik, termasuk dilarang meninggalkan rumah mereka kecuali ditemani oleh kerabat laki-laki.

Anak perempuan juga tidak diizinkan bersekolah dan kaum perempuan dilarang bekerja dan kuliah. Saat itu, Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan bekerja sebagai polisi moral Taliban yang memastikan penegakan hukum Syariah.

Awal pekan ini, seorang pemimpin senior Taliban mengatakan bahwa perempuan Afghanistan tidak akan diizinkan bekerja bareng laki-laki di kementerian-kementerian pemerintah.

(ita/ita)

Diterbitkan di Berita

DELHI, KOMPAS.TVSeorang mantan polisi perempuan Afghanistan mengungkapkan bagaimana penyiksaan sadis yang dilakukan Taliban padanya. Oleh sebab itu, ia juga tak yakin mereka akan berubah setelah mengaku lebih moderat ketika kembali menguasai Afghanistan.

Khatera Hashmi, yang merupakan seorang mantan polisi perempuan mengaku disiksa oleh anggota Taliban pada tahun lalu. Hashmi mengungkapkan ia ditembak beberapa kali, bahkan mata kanannya dirusak oleh mereka.

Hashmi mengatakan penyiksaan itu terjadi ketika mereka menculiknya. Apalagi, penyiksaan tersebut terjadi ketika Hashmi masih dalam keadaan hamil. “Bagi Taliban, dosa terbesar seorang perempuan adalah jika ia keluar dari rumahnya untuk bekerja,” katanya kepada India Today.

“Apa yang terjadi pada saya, juga terjadi pada perempuan lainnya. Namun, mereka tak bisa berbicara, karena merasa takut,” tambah Hashmi. Hashmi yang kini tengah berada di India, mengaku masih gemetar dan menangis saat mengingat apa yang terjadi padanya di Afghanistan.

Ia mengatakan, dengan memakai nama Islam, Taliban telah meneror warga Afghanistan. “Suatu hari saat saya pulang bekerja, tiga anggota Taliban menunggu di dekat rumah saya. Mereka menyeang saya, menusuh saya sekitar delapan atau 10 kali dengan pisau,” ujarnya.

“Mereka menembak saya. Saya kehilangan kesadaran saat peluru mengenai kepala. Tak puas, mereka bahkan merusak mata saya,” tambahnya. Hashmi bahkan mengaku dirinya telah dikhianati oleh ayahnya, yang diketahuinya terlibat dengan Taliban setelah penyerangan kepadanya.

Ayahnya memang menentang keputusan Hashmi untuk bergabung dengan kepolisian. Bahkan menurutnya, ayahnya mengetahui apa yang akan terjadi padanya dan tak melakukan apa-apa.

Setelah serangan tersebut, Hashmi langsung dibawa ke rumah sakit, dan dokter berhasil menyelamatkan nyawanya. Namun, mereka tak mampu melakukan apa pun terhadap matanya, yang membuat ia kehilangan penglihatan selamanya.

“Saya menjadi seperti mayat hidup. Saya bernapas, tapi tiap hari saya harus berjuang. Melakukan hal mudah, bahkan seperti tantangan bagi saya,” tambahnya. Saat Taliban kembali ke Afghanistan, Hashmi sedang melakukan perawatan lanjutan di India.

Hashmi pun mengaku khawatir mengenai anak-anaknya yang berada di Afghanistan. Namun, ia mengaku tak bisa pulang karena Taliban tengah mencarinya setelah mengetahui ia masih hidup.

“Terakhir kali saya bicara dengan anak-anak saya di Afghanistan sekitar 9 atau 10 har lalu,” ujarnya. “Mereka mengatakan Taliban mengetuk pintu bai siang atau malam, menanyakan kapan saya dan suami akan kembali,” lanjutnya.

Hashmi pun mengungkapkan Taliban telah mengancam mereka dengan mengatakan akan menyakiti mereka jika ia dan suaminya tak kembali. “Sejak itu saya belum berbicara dengan anak-anak saya. Mungkin mereka pergi dari rumah atau bersembunyi. Saya tak tahu mereka masih hidup atau sudah mati,” tuturnya.

Penulis : Haryo Jati | Editor : Purwanto

Diterbitkan di Berita

Sejumlah guru dan staf perempuan lain yang dipekerjakan oleh sekolah-sekolah di dua provinsi di Afghanistan, Selasa (24/8), melaporkan terjadinya pelecehan yang dilakukan militan Taliban.

Hal tersebut terjadi meskipun juru bicara Taliban berjanji kelompok itu akan menetapkan kebijakan yang melindungi keamanan perempuan.

Perempuan di Provinsi Takhar, di timur laut negara itu, dan di Provinsi Kabul, mengatakan kepada VOA bahwa ada pembatasan baru mengenai cara mereka berpakaian dan bekerja.

“Taliban sangat agresif dengan perempuan di sini. Mereka ingin perempuan memakai chadari,” ujar seorang guru perempuan pada VOA. “Chadari” adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh perempuan, dan hanya memiliki lubang sangat kecil di bagian wajah agar pemakai dapat melihat.

 

Perempuan Afghanistan dengan burqa dan anak-anak berjalan di jalan di Kabul, Afghanistan, Minggu, 22 Agustus 2021. (Foto: AP)
Perempuan Afghanistan dengan burqa dan anak-anak berjalan di jalan di Kabul, Afghanistan, Minggu, 22 Agustus 2021. (Foto: AP)

 

Selain itu Taliban mengharuskan perempuan hanya keluar rumah dengan “mahram,” atau laki-laki yang tidak perlu disembunyikan wajahnya oleh perempuan.

Dalam pemikiran Islam konservatif, mahram dapat mencakup semua kerabat dekat laki-laki – seperti ayah, suami atau saudara laki-laki.

“Perempuan memiliki banyak masalah di sini. Setiap orang tentunya perlu pergi ke luar rumah untuk melakukan sesuatu, dan kita tidak memiliki mahram yang bersama dengan kita setiap saat,” ujarnya.

Guru itu menjelaskan bahwa Taliban di provinsi di mana ia berada sangat ketat sehingga mereka bahkan tidak mengizinkan perempuan mengenakan burqa atau gaun hitam panjang dengan syal yang menutupi seluruh tubuh dan wajah.

 

Ubah Kurikulum Pendidikan, Pisahkan Siswa Sesuai Jenis Kelamin

Ditambahkannya, Taliban juga melarang guru mengajar siswa dari lawan jenis. “Taliban memerintahkan agar siswa laki-laki dan perempuan dipisahkan. Dan mereka mengubah kurikulum pendidikan.”

Perubahan kurikulum itu mencakup penghapusan subyek kebudayaan dan hal-hal terkait olahraga, dan menambahkan lebih banyak pengajaran Islam, seperti kajian Al Quran dan kehidupan Nabi Muhammad SAW, meskipun subyek itu sudah menjadi bagian dari kurikulum sebelum pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban.

Di Kabul, Taliban mengatakan kepada staf perempuan di sedikitnya satu rumah sakit untuk memisahkan tempat kerja mereka dari laki-laki, atau tinggal di rumah. Seorang wartawan perempuan VOA yang keluar rumah dengan mengenakan burqa, diminta Taliban untuk juga menutup wajahnya.

 

Perempuan Afghanistan berpakaian burqa dan seorang gadis berjalan melewati kantor polisi setempat di kota Kandahar, Afghanistan selatan, 22 Maret 2010. (REUTERS/Shamil Zhumatov)
Perempuan Afghanistan berpakaian burqa dan seorang gadis berjalan melewati kantor polisi setempat di kota Kandahar, Afghanistan selatan, 22 Maret 2010. (REUTERS/Shamil Zhumatov)

 

Perempuan Tinggal di Rumah Dulu

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, Selasa (24/8), mengatakan militan kelompok itu “belum dilatih untuk berbicara dengan perempuan.” “Itulah sebabnya mereka meminta perempuan untuk sementara waktu tinggal di rumah, tetapi akan tetap menerima gaji.

Segera setelah seluruh sistem berfungsi, perempuan dapat kembali ke tempat kerja,” ujarnya. Ia berbicara terutama tentang perempuan yang bekerja di kantor-kantor dan kementerian pemerintah.

 

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, kiri, berbicara pada konferensi pers pertamanya di Pusat Informasi Media Pemerintah, di Kabul, Afghanistan, Selasa, 17 Agustus 2021. (Foto: AP)
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, kiri, berbicara pada konferensi pers pertamanya di Pusat Informasi Media Pemerintah, di Kabul, Afghanistan, Selasa, 17 Agustus 2021. (Foto: AP)

 

Ketika ditekan oleh seorang wartawan perempuan yang khawatir dengan keselamatannya, Mujahid mengatakan ia tidak perlu khawatir. “Anda warga sipil. Tidak ada salahnya menjadi wartawan. Anda tidak perlu khawatir. Anda dapat kembali ke provinsi Anda dan bekerja,” ujarnya.

Mujahid mengakui ada sejumlah insiden aksi kekerasan atau pelecehan sporadis, dan berjanji akan menyelidikinya. Taliban telah berupaya menyajikan wajah yang relatif moderat pada dunia untuk meraih legitimasi internasional.

Perempuan – khususnya perempuan muda – mengatakan telah mendengar dari anggota-anggota keluarga mereka tentang kisah-kisah pemerintahan Taliban sebelumnya pada 1990an.

Saat itu perempuan dipukuli karena tidak menutup tubuh mereka secara benar, dan anak-anak perempuan tidak diizinkan bersekolah. Hal ini menyulitkan mereka untuk mempercayai janji Taliban. [em/lt]

Diterbitkan di Berita

Nationalgeographic.co.idDalam sejarah dunia, berbagai perdaban membuat budaya pakaian tradisionalnya dan memiliki penutup kepala. Mulai dari kebudayaan Mesopotamia, Yahudi, dan Arab yang kini dikenal seperti hijab, hingga yang dimiliki masyarakat Nusantara.

Pada kebudayaan masyarakat Nusantara, rupanya penutup kepala ini memiliki ragam bentuk dan nama. Tetapi seiring dengan adanya penyeragaman pakaian, penutup kepala perempuan perlahan-lahan tergerus.

"Masing-masing dari tutup kepala ini merupakan simbol dan atribut dari budayanya, dan muatan filosofis yang sungguh kaya," papar Andy Yantriyani dari Komnas Perempuan dalam sambutannya di webinar Pembukaan Penyelenggaraan Festival Penutup Kepala Nusantara 2021, Selasa (18/08).

"Sayangnya, pengetahuan tentang ini di Indonesia—di antara kita bahkan—sangat terbatas."

Tengkuluk

Tengkuluk misalnya, penutup kepala perempuan yang berasal dari Sumatera Barat dan Jambi. Penutup kepala ini di Jambi memiliki tiga jenis berdasarkan kegunaannya, untuk sehari-hari, kegiatan seni dan budaya, dan upacara adat.

Tengkuluk Jambi juga mengidentifikasi status seorang perempuan lewat juntaiannya. Apabila juntaiannya berada di sisi kiri, menandakan perempuan itu belum menikah, dan sebaliknya bila berada di sisi kanan.

Sedangkan tengkuluk di budaya Minangkabau, lebih disebut sebagai tikuluak. Jumlah jenisnya lebih beragam dari segi bentuk dan daerahnya, contohnya tengkuluk yang memiliki sisi tanduk yang tumpul dari Lima Puluh Kota.Ada pula yang berbentuk sederhana dan ada yang menyerupai cerobong yang bisa digunakan secara ikat dari Tanah Datar dan Solok.

Bahan yang menjadi kain tengkuluk bisa dari kain tenun, kain bugis, telekung, kain ludru, kain mukena, kain batik, hingga pasmina.

"Menurut pandangan kami, sebenarnya menggambarkan kedaulatan perempuan di Minangkabau dan hiasan kepala perempuan," ujar Yefri Heriani yang memperkenalkan tikuluak di forum itu.

"Tingkuluak melambangkan kekuatan hati, mempunyai kemauan yang tinggi untuk mencapai yang baik, gigih tidak pernah berputus asa, berani, ramah tamah dan tidak ingin melukai hati, keseimbangan, bersifat adil sesuai kebutuhan."

Sedangkan di Jambi, tengkuluk masih dipakai dan diwajibkan oleh pemerintah daerah sejak 2010 untuk digunakan dalam instansi pemerintahan.

 

Ibu Negara Iriana Jokowi menggunakan Bulang Simalungun di kepalanya. via Facebook

 

Bulang

Bagi perempuan adat Simalungun di Sumatera Utara, Bulang sebagai penutup kepala perempuan juga memiliki jenis berdasarkan kegunaannya: bulang sulappei untuk adat atau pesta, bulang siteget untuk pengantin, bulang gijang untuk yang berusia tua, dan bulang salalu untuk dipakai sehari-hari. Semua bisa dibedakan dengan cara melipatnya.

Penutup kepala ini hanya dikhususkan bagi perempuan yang sudah menikah. Bulang akan diberikan oleh mertua kepada menantunya sebagai tanda memasuki keluarga baru.

Bulang berbahan kain tenun yang panjangnya 1,5 meter dan lebarnya 30 sentimeter, dengan rumbai sepanjang 18 sentimeter. Yang membuatnya berbeda dari semua jenis. Dalam coraknya terdapat simbol alat kelamin perempuan dan laki-laki di sisi yang berbeda.

Perempuan yang menggunakan bulang harus menonjolkan simbol perempuan itu, tetapi bagian simbol laki-laki harus dimasukkan atau disembunyikan.

"Artinya secara filosofi, perempuan Simalungun itu mengangkat harga diri suaminya, sehingga kalau ada kekurangan itu harus ditutupi," ujar Anita Martha Hutagalung yang memperkenalkan bulang. "Kendalanya sekarang tergerus oleh zaman, perempuan zaman sekarang mulai berkurang yang mau memakai."

Jong Bayan

Penutup kepala ini khas dari Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Bahannya terbuat dari kain tenun berbentuk persegi empat yang luasnya sekitar 40 sentimeter dengan paduan benang warna-warni.

Pemakaiannya cukup sederhana, dengan membagi dua hingga membentuk segitiga untuk diikatkan ke kepala. Selanjutnya, benang diujung kain yang merupakan tali pengikat harus dibalutkan ke depan kepala sampai habis.

"Segitiga itu bermakna melambangkan sebuah gunung adalah sumber dari makhluk hidup di Bumi ini. Jong digunakan sejak turun temurun dan sering digunakan pada acara ritual antara lain: 1.  Maulid adat bayan; 2. Ritual menumbuk padi; 3. Ritual mencuci beras di saat kami ingin melaksanakan ritual adat," papar Sarbini Wati yang mengenalkan jong.

Agar kuat tidak lembek berdiri di kepala, jong bisa ditambahkan kertas manila dalam lipatan segitiga sebelum dikenakan.

 

 

Jong Bayan, penutup kepala perempuan khas Lombok Utara. Desa Karang Bajo
 

Tatupung Dayak Maanyan

Ada tiga jenis tatupung sebagai penutup kepala perempuan Dayak Maanyan, yakni tatupung balik, tatupung rebe, dan tatupung bahuru. Tatupung balik bertujuan untuk mempercantik dan merapihkan penampilan perempuan saat acara adat seperti kematian dan hajatan.

Tatupung rebe lebih digunakan untuk melindungi kepala perempuan dari serangan terik matahari. Jenis tatupung ini biasa digunakan untuk kegiatan menanam, menumbuk, hingga memanen padi, yang dapat melingungi kepala, wajah, punggu, hingga kaki.

 

 

Dua gadis dayak sekitar tahun 1930 menggunakan penutup kepala tatupung. KITLV

Sama dengan tatupung rebe, tatupung bahuruk biasanya digunakan untuk melindungi kepala. Biasanya tatupung ini digunakan oleh perempuan yang bekerja di perkebunan seperti karet, sehingga fungsinya lebih melindungi diri dari percikan getah, dan membawa benda berat di kepala.

"Secara kesluruhan, apabila perempuan Dayak menggunakan tatupung itu sudah siap bekerja dan membantu aktivitas masyarakat adat Maanyan. Artinya yang menutup wajah sampai punggung itu adalah sifat yang harus  pantang mundur," Mama Endek dari Kalimantan Tengah menjelaskan.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kerena latar belakang masa lalu Taliban yang kelam dan pernah kejam terhadap perempuan, Eko Kuntadhi menilai kaum perempuan yang bela Taliban maka perlu dibawa ke psikiater.

“Jika ada lelaki Indonesia punya ibu, punya istri, punya anak perempuan, atau punya kekasih mendukung Taliban. Mereka golongan aneh,” kata Eko Kuntadhi, Sabtu 21 Agustus 2021.

“Jika ada perempuan Indonesia mendukung Taliban, mereka perlu ke psikiater...,” imbuhnya.

Sementara sebelumnya diberitakan, sebelum digempur Amerika Serikat (AS) pada 2001, rezim Taliban disorot punya perlakuan buruk terhadap hak-hak kaum perempuan. Kini, Taliban balik lagi menguasai Afghanistan. Mereka menaburkan janji-janjir manis untuk para perempuan.

Dulu, di bawah pemerintahan Taliban dari tahun 1996-2001, kaum perempuan tidak diperbolehkan keluar rumah tanpa didampingi muhrimnya, serta diharuskan mengenakan burqa yang menutup wajah hingga ujung kaki. 

Perempuan tidak diperbolehkan bekerja dan anak perempuan tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan setelah melewati usia 10 tahun.

Harapan hidup perempuan naik dari 57 menjadi 66 tahun. Angka-angkanya masih relatif buruk, tetapi sudah ada perbaikan. Namun sekarang hanya ada ketakutan bahwa angka-angka itu akan kembali turun.

15 Agustus 2021 waktu setempat, Taliban masuk Ibu Kota Kabul dan menduduki Istan Kepresidenan. Presiden Ashraf Ghani kabur ke Tajikistan dan mengakui Taliban sudah menang.

Dilansir detik.com dari AFP, Rabu (18/8), Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan rezim baru akan 'berbeda secara positif' dari masa kepemimpinan mereka pada 1996-2001, yang terkenal dengan kematian rajam dan melarang perempuan bekerja dengan laki-laki.

"Kalau soal ideologi, keyakinan, tidak ada bedanya, tapi kalau kita hitung berdasarkan pengalaman, kedewasaan, dan wawasan, pasti banyak perbedaannya," kata Mujahid.

Dia juga mengatakan Taliban berkomitmen untuk membiarkan perempuan bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Tapi dia tidak menjelaskan aturan spesifik.

Seorang juru bicara kelompok itu di Doha, Suhail Shaheen, mengatakan kepada Sky News Inggris bahwa wanita tidak diharuskan mengenakan burqa yang menutupi semua. Tapi, dia juga tidak mengatakan pakaian apa yang dapat diterima.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan pihaknya bakal menagih janji Taliban.

"Jika Taliban mengatakan mereka akan menghormati hak-hak warganya, kami akan mencari mereka untuk menegakkan pernyataan itu dan membuat pernyataan itu baik," ucapnya.

Perempuan-perempuan Afghanistan benar-benar khawatir dengan kembalinya Thaliban di kursi kekuasaan negara tanpa laut itu. Wali Kota perempuan pertama di Afghanistan, yakni Wali Kota Maidan Shahr bernama Zarifa Ghafari merasa hidupnya tinggal menghitung hari.

"Saya duduk di sini menunggu mereka untuk datang. Tidak ada seorang pun yang datang membantu saya atau keluarga saya. Saya hanya duduk bersama keluarga saya dan suami saya. Dan mereka akan datang ke orang-orang seperti saya dan membunuh saya," tutur Zarifa Ghafari dilansir The Sun, Rabu (18/8)

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli

Diterbitkan di Berita

DW Indonesia

Larangan bernyanyi itu dianggap mempromosikan kebijakan yang mirip Taliban. Kementerian Pendidikan Afghanistan mencabut keputusan yang melarang remaja perempuan berusia di atas 12 tahun bernyanyi di depan umum.

Larangan tersebut sebelumnya diprotes keras oleh para aktivis hak-hak perempuan yang menuduh bahwa pejabat Afghanistan memperkenalkan nilai-nilai fundamentalis Islam ke dalam sistem pendidikan.

Kementerian Pendidikan mengumumkan pada pekan ini, cabang regional Kabul mengeluarkan larangan tersebut tanpa konsultasi. Kementerian menambahkan bahwa tujuan melarang bernyanyi di depan umum adalah untuk mencegah penyebaran virus corona, yakni dengan mencegah anak perempuan dan laki-laki bernyanyi dalam kelompok.

"Arahan yang dikeluarkan oleh kepala cabang pendidikan Kabul tidak mewakili posisi dan kebijakan resmi Kementerian Pendidikan Afghanistan," menurut pernyataan itu. Kementerian Pendidikan akan melakukan penyelidikan ke cabang Kabul.

"Pimpinan Kementerian Pendidikan berkomitmen untuk mendukung hak pendidikan, dan pilihan semua anak perempuan dan laki-laki untuk ikut serta dalam kegiatan budaya, seni dan olahraga," tambah pernyataan itu.

 #IAmMySong

Aktivis hak-hak perempuan meluncurkan kampanye media sosial untuk mengecam fundamentalisme di Afghanistan.

 

 

Di bawah tagar #IAmMySong, perempuan Afghanistan dan aktivis hak sosial berbagi klip video remaja perempuan yang menyanyikan himne dan lagu, bersama dengan pertunjukan musik oleh perempuan Afghanistan.

"Alasan utama protes kami adalah bahwa lagu dan himne adalah suara perempuan. Membungkam suara perempuan berarti memberantas perempuan dari ruang publik. Arahan ini persis seperti aturan yang dikeluarkan Taliban selama supremasi mereka," ujar aktivis hak perempuan Afghanistan, Vida Saghari, kepada DW.

Saghari mengatakan lebih lanjut, larangan menyanyi bukanlah menandai pertama kalinya Kementerian Pendidikan mengeluarkan aturan "bergaya Taliban". Menjelang akhir tahun 2020, kementerian mengumumkan akan mendukung madrasah Islam yang hanya mengajarkan Alquran. Saghari menambahkan, kementerian pendidikan juga mendukung rencana untuk hanya mengizinkan anak perempuan dari kelas satu hingga tiga untuk menghadiri kelas di masjid.

Kementerian Pendidikan mencoba menarik kembali keputusan tersebut dengan berkilah, pembelajaran di madrasah dan masjid dimaksudkan sebagai solusi untuk kawasan terpencil yang tidak memiliki akses ke sekolah modern.

Catatan tragis hak-hak perempuan Afghanistan

Selama beberapa dekade, perempuan Afghanistan berjuang untuk diakui sederajat di negara yang marak dilanda arus fundamentalisme itu. Saghari mengatakan Afghanistan memiliki sejarah panjang yang tragis dalam hal hak-hak perempuan. Pada 1980-an di era Mujahidin Islam, penyanyi perempuan sering dibungkam dan kemudian dibunuh.

Posisi fundamentalis juga dimiliki oleh Taliban, meskipun kelompok militan tersebut mengklaim bahwa pendiriannya terhadap hak-hak perempuan agak melunak.

Samira Hamidi, juru kampanye Asia Selatan di organisasi pembela hak asasi Amnesty International, menolak gagasan bahwa Taliban telah berubah.

"Posisi Taliban tidak berubah terkait perempuan, hak kebebasan berekspresi, media dan pendidikan anak perempuan," kata Hamidi kepada DW. "Mereka mengizinkan perempuan untuk mendapat pendidikan, tetapi hanya menurut kaidah Islam dan Syariah, dan mereka tidak pernah menjelaskan apa yang mereka maksud dengan itu," katanya. 

Bagaimana Taliban pengaruhi kehidupan perempuan Afghanistan?

Aktivis hak asasi Afghanistan Robina Shahabi mengatakan kepada DW, Taliban akan memperkenalkan kembali struktur tradisionalis dan fundamentalis ke Afghanistan.

Shahabi menafsirkan larangan bernyanyi remaja perempuan sebagai langkah pertama ke arah itu.

Banyak warga Afghanistan takut akan kembalinya Taliban.

"Pandangan pribadi saya dan teman-teman yang saya ajak berdiskusi, adalah bahwa ini [larangan menyanyi remaja perempuan] adalah bagian dari kesesuaian dengan Taliban dan pandangan mereka," pungkas Shahabi. (pkp/as)

Koresponden DW Shakeela Ebrahimkhail turut berkontribusi dalam laporan ini.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Menteri pendidikan Afghanistan mengatakan sedang menginvestigasi pernyataan baru-baru ini dari seorang direktur kementerian pendidikan di kota Kabul yang melarang perempuan berusia 12 tahun ke atas bernyanyi di depan publik.

Larangan ini mendapat kritik yang meluas di media sosial. Para perempuan membagikan video mereka sambil bernyanyi dengan menggunakan tagar #IAmMySong. Pro dan kontra ini datang di tengah kekhawatiran kemungkinan kesepakatan damai dengan Taliban.

Di bawah Taliban, remaja perempuan tak diberi pendidikan dan sebagian besar musik dilarang. Pernyataan dari Kabul, melarang remaja 12 tahun ke atas untuk bernyanyi dalam acara sekolah, dan juga melarang remaja perempuan memiliki guru musik laki-laki.

Menteri pendidikan mengatakan, kebijakan ini tidak mencerminkan posisi dirinya. Dia mengatakan akan mengkaji hal ini, dan mungkin mengambil langkah menegur atau korektif kepada bawahannya yang mengeluarkan kebijkan tersebut.

Larangan ini diumumkan beberapa hari lalu, yang menapat kritik di media sosial. Kalangan sastrawan dan aktivis mengatakan pelarangan bernyanyi menjadi langkah mundur dari hak-hak pendidikan.

"Maafkan kami Tuhan, manusia bisa begitu kejam, bahkan mereka melihat seorang anak dari sudut pandang berbasis gender," cuit penulis dan penyair Shafiqa Khpalwak, satu dari penulis perempuan terkenal di negara itu.

Sejumlah perempuan membandingkan larangan ini terhadap kehidupan di bawah Taliban - yang digulingkan pada 2001 - di mana remaja perempuan dilarang untuk pergi ke sekolah, dan kebanyakan musik dilarang. "Ini adalah Talibanisasi dari dalam republik," kata Sima Samar, seorang aktvisi HAM Afghanistan kepada kantor berita Associated Press (AP).

 

Afghan female musicians

"Musik adalah bagian besar dari budaya Afghanistan. Jika pelarangan berlanjut dan para perempuan muda dilarang bernyanyi, maka kami akan kehilangan bagian dari budaya Afghanistan," kata pianis konser Maram Atayee.

Remaja berusia 18 tahun dari Kabul itu adalah anggota orkestra Zohra yang semuanya perempuan. Ia kini belajar di Institut Musik Nasional Afghanistan. Seperti banyak anak muda Afghanistan, dia khawatir dengan arahan kementerian pendidikan baru-baru ini, yang melarang perempuan berusia di atas 12 tahun bernyanyi di depan umum ketika ada laki-laki.

 

Tanda peringatan

"Hari ini mereka melarang perempuan muda menyanyi - jika kami tidak melawan, mereka akan melarang musik sepenuhnya," kata Maram kepada BBC.

 
Maram Atayee performing in a concert

Ketakutannya bukan tanpa alasan - larangan tersebut membawa kembali kenangan menyakitkan semasa kekuasaan Taliban antara tahun 1996 dan 2001. Para militan percaya pada bentuk Islam yang keras, yang melihat bahwa musik tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan mereka sama sekali melarangnya.

"Itu sangat mengejutkan dan menyedihkan. Saya tidak menyangka orang akan melakukan ini di tahun 2021," katanya.

 

Peluang

Maram bergabung dengan orkestra Zohra empat tahun lalu dan mereka telah tampil dalam konser di banyak negara, termasuk Pakistan, India, China, Portugal, Azerbaijan, Inggris, Swedia, Slovakia dan Australia.

 

Afghan female musician playing with a dog

Peluang seperti ini sangat jarang bagi anak perempuan yang tumbuh di negara yang dilanda perang saudara selama empat dekade. "Orkestra memberi kami kesempatan untuk melihat dunia, bermain dengan musisi lain, dan merasakan budaya yang berbeda," kata Maram.

Afghanistan adalah salah satu negara termiskin di dunia, dengan pendapatan per kapita sekitar $ 500 (Rp7,1 juta) per tahun, dan jumlah perempuan yang bisa membaca di bawah 30 persen.

 

Keluhan-keluhan

Kementerian pendidikan mengatakan mereka mengambil keputusan tersebut setelah menerima keluhan dari orang tua, yang mengatakan pendidikan anak perempuan mereka terganggu oleh kegiatan bermusik yang mereka ikuti.

 

Dr Ahmad Sarmast surrounded by the members of his orchestra after a performance in Slovakia

 

"Ini tidak masuk akal," kata Dr Ahmad Sarmast yang gelisah dengan persoalan itu. Dia adalah orang yang mendirikan orkestra Zohra pada 2015 dan Institut Musik Nasional Afghanistan pada 2010. "Bahkan jika ada keluhan dari beberapa orang tua, itu tidak bisa menjadi alasan untuk membungkam semua perempuan muda Afghanistan," katanya kepada BBC.

Menyusul protes terhadap larangan tersebut, kementerian pendidikan Afghanistan mengeluarkan klarifikasi pada hari Kamis (11 Maret) yang mengatakan anak-anak sekolah dasar dapat berpartisipasi dalam kegiatan bernyanyi jika mendapat izin dari keluarga mereka.

 

Kebebasan berekspresi

Pemerintah mengatakan mereka yang melanggar arahan ini akan ditangani sesuai dengan aturan hukum, tetapi tidak menyebutkan tindakan hukuman apa pun. Dr Sarmast telah memulai kampanye daring menentang larangan tersebut.

 

Zohra concert in progress

"Saya mendesak orang-orang untuk merekam dan mengunggah lagu untuk menyuarakan perlawanan mereka," katanya. Dr Sarmast lolos dari kematian pada tahun 2014, ketika seorang pelaku bom bunuh diri Taliban meledakkan dirinya hanya beberapa meter darinya, saat dia tengah menonton drama yang dipentaskan oleh murid-muridnya di Kabul.

Dia kehilangan pendengaran di satu telinga dan harus menjalani beberapa operasi untuk mengeluarkan pecahan peluru dari kepalanya. Namun, dia masih mendedikasikan diri untuk bidang yang sama. "Para perempuan muda Afghanistan harus bisa bebas berekspresi lewat musik," katanya.

Komisi Hak Asasi Manusia Independen negara itu telah bergabung menentang langkah pemerintah itu. "Hak atas pendidikan, kebebasan berekspresi dan akses ke keterampilan artistik adalah hak dasar semua anak," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dr Sarmast sangat mengkhawatirkan masa depan. "Ini adalah upaya untuk membatasi perempuan dan anak perempuan secara sosial. Jika kita tidak menghentikan ini, lebih banyak pembatasan akan diberlakukan," katanya.

Perwakilan pemerintah Afghanistan saat ini sedang merundingkan kesepakatan damai dengan Taliban, yang dapat mengarah pada pembagian kekuasaan dengan militan dan penarikan pasukan Amerika. Taliban didorong keluar oleh invasi militer pimpinan Amerika pada akhir 2001. Tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk menghidupkan kembali musik Afghanistan.

 

Perjuangan awal

Kompetisi musik di televisi sekarang sangat populer di Afghanistan dan lagu-lagu, dari Turki hingga Bollywood dan sekitarnya, dapat didengar di radio. Tetapi penolakan terhadap musik tidak memudar sepenuhnya dengan jatuhnya Taliban.

 

Zohra orchestra performing in Slovakia

"Hanya orang yang sangat kuat yang bisa menjadi penyanyi atau musisi di Afghanistan," kata Maram. Dia memahami itu dari pengalaman. Kakek-nenek Maram menentang musik, begitu pula orang tuanya pada awalnya.

Namun setelah pindah ke Mesir pada tahun 2000, penentangan orangtuanya berkurang. Maram lahir pada tahun 2002 di Kairo dan mulai belajar piano saat berusia lima tahun. Dia tampil di konser pertamanya pada usia enam tahun. Perjalanan musik Maram mengalami gangguan ketika keluarganya pindah kembali ke Kabul ketika dia berusia 13 tahun.

"Ketika saya datang ke sini semuanya berubah. Ayah saya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada kami jika saya melanjutkan musik saya," kata Maram. Ayahnya bahkan memintanya untuk berhenti bermain piano di rumah.

 

Cinta pada piano

Maram merasa sulit untuk menurut.

 

Zohra concert in progress

"Saya benar-benar tidak tahu betapa berharganya musik bagi saya, hingga saya datang ke Afghanistan. Di sini orang dan budayanya berbeda. Ada begitu banyak kesulitan," kata Maram. "Satu-satunya hal yang tetap sama adalah musik saya." Dia menghubungi Dr Sarmast dan dia membantunya mendapatkan izin dari ayahnya untuk bermain piano dua kali seminggu.

"Dua jam itu paling penting bagi saya. Saya tidak pernah ingin meninggalkan piano," kata Maram. Dia segera bergabung dengan sekolah musik dan orkestra yang dia dirikan, dan menjadi pianis pada usia 14 tahun.

"Memilih musik adalah keputusan terbaik dalam hidup saya. Saya menjadi lebih dewasa dan guru saya mengatakan saya adalah panutan yang baik." Dia mengatakan timnya menginspirasi banyak pelajar untuk mempelajari musik.

 

Mimpi yang tinggi

Maram sekarang menghabiskan sebanyak delapan jam sehari untuk berlatih piano dan dia ingin melanjutkan studinya.

 

Maram pratising her music

"Tidak ada perguruan tinggi di Afghanistan yang menawarkan gelar di bidang musik, jadi saya ingin pergi ke luar negeri," katanya. Dia khawatir langkah terbaru pemerintah bisa menghancurkan aspirasi banyak orang. Untungnya dia mendapat dukungan penuh dari orang tuanya dan dia memiliki tujuan yang jelas.

"Saya ingin menjadi perempuan Afghanistan pertama yang melakukan konser piano solo di seluruh dunia."

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2